Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-12-25
Words:
5,120
Chapters:
1/1
Comments:
7
Kudos:
120
Bookmarks:
17
Hits:
4,681

Cellbound — Markhyuck

Summary:

Lee Donghyuck adalah sipir muda yang berdedikasi tinggi pada pekerjaannya, sehingga hanya butuh 3 tahun untuk pemuda itu berhasil pindah ke pusat penahanan paling besar di kota Seoul. Sebagaimana mestinya, hari pertama Donghyuck bekerja dilewati dengan perasaan gugup dan canggung, meski dalam urusan pekerjaan semuanya berjalan normal. Namun, apa yang disebut normal itu harus berakhir setelah kunjungan singkatnya ke sel isolasi nomor 9. Setelah dia berkenalan dengan seorang narapidana paling berbahaya.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

“Oh? Aku anggap ini sambutan dari alam."

Pemuda manis itu terkikik geli hingga mata bulatnya menyipit. Tangan menengadah, menampung kelopak bunga yang beterbangan dibawa hembusan angin kencang. Sisi Wajahnya mengembang seiring senyum tersungging di bibir ranumnya. Wangi semerbak bunga memanjakan hidung, membuat perasaan takut— yang dua hari belakangan membelenggu hati— perlahan memudar.

Dia Lee Donghyuck, sipir muda berusia 25 tahun yang baru saja dipindah tugaskan ke lembaga pemasyarakatan paling besar di kota Seoul. Langkahnya gontai, seakan enggan memasuki kawasan yang akan jadi tempat tinggal keduanya dalam beberapa tahun ke depan. Rumah tahanan didepannya tampak menakutkan. Sangat luas, dan tentunya lebih keras dibandingkan rumah tahanan tempat dia bekerja sebelumnya— tempat Donghyuck menghabiskan tiga tahun pertamanya sebagai sipir junior.

Bangunan beton tebal, dinding tinggi menjulang yang dikelilingi gulungan kawat berduri, suram dan menguarkan aura dingin mengintimidasi, membuat siapapun ingin segera berbalik pergi dari tempat ini. Dari balik gerbang besi yang berat dan berkarat, Donghyuck bisa merasakan suasana yang berbeda. Lebih gelap, lebih mencekam, dan tentunya penuh dengan tekanan.

Seorang sipir berperawakan tinggi kurus menyambut kedatangan Donghyuck di pintu masuk gedung administrasi. "Lee Donghyuck, bukan? Selamat datang di pusat penahanan kota Seoul. Perkenalkan namaku Lee Taeyong, sipir senior yang sudah 10 tahun bekerja di sini." Serunya sambil menyunggingkan senyum ramah . “Di sini, kamu harus lebih dari sekadar penjaga. Kamu harus tegas, adil, dan selalu waspada."

Donghyuck mengangguk-anggukkan kepala. Memilih untuk tidak berbicara sebab masih merasa canggung.

"Sudah, hentikan. Ikuti aku. Aku akan menemanimu berkenalan dengan rekan sipir yang lain." Lee Taeyong tak tahan berlama-lama melihat tingkah bodoh Donghyuck.

"Baik." Sambut Donghyuck, dengan punggung membungkuk dan kepala masih saja mengangguk-angguk.

Hari pertama Donghyuck dimulai dengan pengenalan lingkungan penjara. Pemuda itu dengan teladan mencatat penjelasan mengenai peraturan-peraturan tertulis maupun tidak tertulis. Lee Taeyong berbaik hati meluangkan waktu menemani Donghyuck berkeliling. Mengenalkan Donghyuck pada semua petugas, menunjukkan berbagai area seperti blok sel, ruang makan, bengkel kerja, hingga lapangan olahraga. Setiap langkah terasa sangat berat bagi Donghyuck, terutama ketika dia melewati lorong-lorong sel yang dipenuhi tatapan menyelidik para narapidana. Beberapa dari mereka mengamati Donghyuck dengan wajah datar, sementara yang lain memberikan senyum sinis. "Hai anak manis, mau bermain dengan kami?" Ujar seseorang dari balik jeruji besi, tak ayal membuat bulu kuduk Donghyuck merinding.

Tugas pertama Donghyuck hari ini adalah mengawasi para tahanan ketika mereka keluar untuk kegiatan pagi di lapangan. Bersama beberapa petugas lain, Donghyuck berdiri dengan postur tegap, meski merasa sedikit canggung berdiri di hadapan orang-orang yang baru dia temui pagi ini. Seorang tahanan bernama Lee Jeno— yang tampaknya cukup dihormati di kalangan penghuni penjara —tiba-tiba datang mendekati Donghyuck. "Kamu petugas baru, ya?" Tanyanya beramah-tamah. Donghyuck mengangguk kecil, menjaga wajahnya tetap tegas. "Jangan khawatir. Kalau kamu bersikap adil pada kami, kami tidak akan mempersulit pekerjaanmu." Lanjut narapidana itu sebelum kembali bergabung dengan kelompoknya.

Ketika siang menjelang, Donghyuck membantu mengawasi bengkel kerja— di mana para tahanan belajar membuat kerajinan tangan sekaligus menghasilkan uang di dalam penjara. Pandangannya bergulir ke sana kemari mengamati sekolompok orang yang tampak sibuk dengan dunia sendiri. Donghyuck terlalu fokus pada tugasnya, sampai tak sadar seseorang dengan seragam serupa datang menghampiri.

Sipir muda dengan senyum lebar itu berdeham pelan, lalu dekatkan bibirnya ke cuping telinga Donghyuck. "Sangat membosankan, bukan?" Bisiknya, yang sukses buat Donghyuck terperanjat kaget.

"Astaga, Na Jaemin!" Donghyuck mengusap dada, berupaya menormalkan kembali detak jantungnya.

"Ya ampun, berlebihan sekali." Na Jaemin menggeleng pelan, bibirnya mencebik sebab reaksi yang dia terima.

"Kamu! Sejak kapan kamu berdiri di sini? Terakhir kulihat kamu masih ada di sana." Telunjuk Donghyuck mengarah ke sisi barat bengkel kerja.

“Wow, kamu memang pekerja yang tekun, Hyuck. Aku iri padamu.”

Donghyuck yang tak dapat menangkap maksud perkataan Jaemin hanya diam dengan kening berkerut dalam. "Aku akan berkeliling. Permisi." Ucapnya tanpa basa-basi. Kemudian pergi meninggalkan sosok dengan senyum menyebalkan itu. Donghyuck hanya takut mendapat teguran di hari pertama bekerjanya, omong-omong.

Di sore harinya, Donghyuck diminta bergabung dengan tim patroli untuk menyisir sel-sel tahanan— agenda rutin sebelum pergantian shift. Tidak ada apapun yang janggal di sel-sel itu, para tahanan juga bersikap kooperatif sehingga semuanya berjalan lancar tanpa ada kendala. Donghyuck juga sempat berkenalan dengan beberapa dari mereka, hal itu dilakukan demi meringankan pekerjaannya di kemudian hari. Lee Taeyong yang memberinya saran.

Ketika bel pergantian shift berbunyi, Donghyuck tak dapat menahan diri menghembuskan napas lega. Sial, hari ini sangat melelahkan. Pekerjaannya berjalan lancar memang, tapi fisiknya tak bisa bohong, dia kelelahan. Terlebih kakinya yang seharian ini dipaksa terus berjalan, menyusuri tempat seluas 2× lapangan sepakbola, atau bahkan lebih? Entahlah.

“Donghyuck, tunggu!”

"Ya Tuhan! Kenapa suka sekali mengagetkanku, Na Jaemin?!" Donghyuck lepas berteriak. Tak masalah, mereka hanya berdua di sana.

“Kamu harus membantuku! Ini gawat. Ini sangat gawat, Donghyuck!”

"Ada apa?!" Sahut Donghyuck tidak kalah panik.

“Aku harus memeriksa sel isolasi sebelum pulang tapi perutku—”

Pruutttt

“Tidak bisa, tidak bisa! Eomma!! Lee Donghyuck, aku mohon! Gantikan tugasku mengecek keadaan Tuan Lee. Sel isolasi nomor 9 ada di lantai 4 gedung timur. Jangan lupa kembalikan kuncinya jika kamu sudah selesai memeriksa. Semoga beruntung, kamu pahlawanku hari ini, Lee Donghyuck. Aku berhutang budi padamu!”

“Hei, aku harus pulang, Na Jaemin! Hei! Kenapa harus aku??! Aku ingin pulang! Aku ingin cepat-cepat beristirahat...”

Percuma Donghyuck berteriak sekuat tenaga dan merengek ingin Jaemin kembali. Pemuda murah senyum itu tak akan kembali meski Donghyuck mengancam akan menghabisi nyawanya. Lagipula tidak ada alasan untuk Donghyuck menolak permohonan Jaemin, jelas-jelas hidungnya menangkap bau busuk yang keluar dari anus rekan kerjanya itu. Sial.

"Bau sekali, uh! Apa dia makan bangkai?" Donghyuck bersungut-sungut kesal sambil mengibas-ngibas tangannya di depan muka, menghalau bau busuk yang sekiranya masih tertinggal.

Pada akhirnya Donghyuck gagal pulang tepat waktu. Ingatkan dia untuk meminta imbalan pada Jaemin nanti. Napasnya berhembus gusar, bersahut-sahutan dengan derap langkah kaki menyusuri lorong-lorong menuju sel isolasi. Tidak ada sedikitpun kebingungan di wajah Donghyuck, terus berjalan penuh keyakinan, bermodalkan ingatan ketika Lee Taeyong mengajaknya berkeliling tadi pagi. Donghyuck tanpa ragu menekan angka 4 pada tombol lift, lantas kembali mengantongi kedua tangannya yang mulai kedinginan. Dia harus menyelesaikan tugas tambahan ini secepat mungkin. Lalu pulang, lalu berendam di air hangat, lalu menutup hari dengan satu mangkuk besar ramyeon serta kimchi jiggae sebagai pendamping. Uh, pasti sangat lezat.

Setibanya di lantai 4, Donghyuck dengan cepat mengayunkan kaki keluar dari lift. Rasa tidak nyaman seketika mengusik hati. Entah perasaannya saja, udara di lorong itu terasa lebih dingin dan lembab. Pencahayaan di sana juga cukup buruk sehingga Donghyuck harus menggunakan senter ponsel untuk melebarkan jarak pandang. Sunyi, setiap ayunan langkahnya terdengar menggema di telinga, menciptakan suasana yang cukup dramatis. Tiba di depan sel isolasi nomor 9, Donghyuck seketika menghembuskan napas lega. Setidaknya dia menemukan tempatnya dengan cepat, tidak tersesat.

Donghyuck mengambil waktu sejenak sekadar menarik napas, sekaligus menyiapkan diri menghadapi seseorang di balik tembok tebal itu.

"Tuan Lee?" Seru Donghyuck akhirnya. Suaranya dibuat setegas mungkin.

Tidak ada sahutan dari dalam sel isolasi. Donghyuck juga tidak melihat siapapun saat dia mengarahkan cahaya ponsel ke bagian dalam sel. Sel sempit itu kosong seolah tak berpenghuni.

"Apa aku sedang dipermainkan? Na Jaemin keparat— oh?!" Hampir saja dia menghubungi seseorang jika cahaya ponselnya tak sengaja mengarah ke lantai dekat pintu. Matanya menyipit, memastikan penglihatannya tidak keliru.

"Tuan! Apa Anda baik-baik saja?!" Donghyuck menggedor-gedor jeruji besi sepetak di badan pintu. Namun, pria dengan tatto yang hampir memenuhi punggungnya itu tetap bergeming, sedikitpun tidak bergeser dari posisinya. Tidak terganggu dengan suara melengking Donghyuck.

Donghyuck begitu kalut memikirkan kemungkinan buruk sedang terjadi pada sang tahanan. Maka dengan kesadaran penuh, tanpa memikirkan apapun, dia tergesa-gesa masuk setelah susah payah membuka pintu, sebab kunci berkarat yang dititipkan Jaemin padanya. Setelah berhasil masuk, pintu pun kembali dikunci dari dalam sesuai peraturan yang berlaku.

"Tuan, bangunlah. Kembali ke ranjangmu, di sini terlalu dingin. Aku akan segera mencari bantuan setelah berhasil membawamu berbaring di atas dipan— akkhhh!!"

"Serahkan kuncinya padaku."

"A-apa yang akan k-kau lakukan." Donghyuck pikir sebuah pertanyaan bodoh akan memberinya waktu sekadar mencari jalan keluar, tapi respon sang lawan bicara justru mempersulit otaknya untuk bekerja. "T-tuan... A-aku tidak b-bisa bernap—passs!" Ucapnya susah payah.

"Berikan kuncinya, sialan! Aku tidak punya waktu untuk bermain-main dengan bocah bodoh sepertimu."

"Tidak— hei! Hentikan!" Tubuh Donghyuck kembali dibanting saat dia hendak menjauh dari pria bertubuh besar itu.

Minimnya cahaya semakin memperburuk keadaan, mengacaukan penglihatan sang narapidana dan Donghyuck. Keduanya sama-sama tidak dapat melihat dengan jelas. Alhasil, tubuh Donghyuck digerayangi demi menemukan kunci yang tersimpan di saku celananya. Donghyuck mati-matian menepis tangan Tuan Lee meski hasilnya nihil, sebab alih-alih menepis tangan narapidana itu, Donghyuck justru mendapati udara kosong.

"Wow."

"Hei, ini pelecehan!" Donghyuck dibuat murka ketika tangan Tuan Lee menyelinap masuk ke bagian belakang celananya.

"Kamu sangat berisik." Balas pria itu sambil memainkan bongkahan daging dalam genggamannya.

Donghyuck tertegun, sulit untuk berpikir jernih dalam situasi ini. Terlebih ketika sadar tubuhnya terbaring lemah tak berdaya di bawah Kungkungan sang lawan. "Ja-jangan s-seperti ini..." Gagunya.

Tuan Lee cekikikan mengejek Donghyuck. Entah mengejek responnya yang terkesan lugu, atau justru mengejek diri sendiri sebab berpikir untuk menunda rencana kaburnya. "Orang bodoh mana yang mempekerjakan bocah ingusan di tempat seperti ini?" Katanya.

"A-aku bukan bocah..." Protes Donghyuck. Jantungnya berdegup kencang ditatap sedemikian lekat dari jarak dekat. "Bisakah kamu menjauh? Aku tidak nyaman." Dia kembali bersuara. Tak ada kebohongan di sana, Donghyuck betulan tidak nyaman dengan posisi mereka.

Namun, bukannya mengindahkan permintaan Donghyuck, Tuan Lee justru makin merapatkan tubuhnya. Wajahnya perlahan maju hingga ujung hidungnya menyentuh garis rahang yang lebih muda. "I like your smell." Ungkapnya lantas menjilat dagu Haechan.

Alarm imajiner tanda bahaya sontak berputar-putar di atas kepala Donghyuck. Ia meronta-ronta agar dilepaskan. Sekujur tubuhnya menggigil memikirkan jenis kejahatan yang membawa Tuan Lee ke sel isolasi. Donghyuck merasa bodoh karena tidak mencari tahunya lebih dulu. Bagaimana jika dia sedang berhadapan dengan pembunuh berdarah dingin yang gemar memperkosa korbannya? Matilah dia.

"T-tuan, aku membawa senjata. Aku bisa menembakmu kapan saja." Gertaknya, tapi suaranya terdengar ragu.

"Benarkah? Aku juga punya senjata, sayangku. Dan kurasa, kamu akan lebih menyukai senjataku dibanding senjatamu yang kecil itu." Balas Tuan Lee. Pria itu tersenyum miring ditengah-tengah aksinya mencumbui garis wajah Donghyuck.

"Sial— jangan! Aku mohon..."

"Ya, memohon lah. Aku suka mendengar seseorang memohon."

Donghyuck merasakan tubuhnya melemah saat bibir dan lidah Tuan Lee ikut serta dalam aksi bejatnya. Pada titik ini tampaknya Donghyuck mulai menyerah, gerak-geriknya tidak lagi defensif, bahkan pinggulnya dengan berani menggeliat menikmati sentuhan Tuan Lee di belahan pantatnya. Betapa cepat dan mudahnya dia tunduk pada nafsu birahi.

Sadar jika target sudah berhasil ditaklukkan, Tuan Lee tentu tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu.  Dia segera bangkit hanya untuk menarik turun celananya dan membebaskan penisnya yang sudah lumayan keras— bukti gairah yang membuncah. "Kamu akan menyukai ini." Katanya sambil beri pijatan di batang penisnya, besar dan panjang.

"Hmm, ya, itu... besar sekali." Nyali Donghyuck sedikit menciut memperhatikan kesejatian pria di depannya. Terlalu gemuk untuk masuk ke lubang analnya yang masih perawan. Uh, pasti sangat menyakitkan, pikirnya.

"Kemarilah." Tuan Lee menepuk pahanya meminta Donghyuck untuk duduk di sana. Dia akan memberi stimulasi sebelum masuk ke kegiatan inti. Meski terlihat ragu, tapi Donghyuck tidak perlu diminta dua kali untuk segera naik ke pangkuan Tuan Lee. Jakunnya bergerak naik-turun sebab perasaan gugup. Donghyuck sama sekali gagal menepis perasaan itu, karena demi Tuhan, situasi ini seperti kisah Stockholm syndrome yang sangat populer di kalangan pencinta romansa gelap.

"Biar kubantu." Tuan Lee berbaik hati menawarkan diri membantu Donghyuck melepas seluruh kain yang menempel di tubuhnya. Tangan besar itu bergerak lihai meloloskan pakaian seragam hingga dalaman si pemuda sipir, diam-diam mengambil kesempatan membelai kulit lembut bak lelehan madu segar itu. "Sangat menggemaskan." Ungkapnya.

"Uhh!" Haechan kaget hingga matanya membelalak. Puting kecilnya dipelintir tanpa aba-aba.

"Aku tebak benda ini super sensitif."

"Jangan banyak bicara, aku— ohh!" Belum selesai Donghyuck berbicara, Tuan Lee tiba-tiba meraup habis dadanya yang tak seberapa besar itu. Putingnya dijilat lalu digigit. Bagian dada yang lain tak dibiarkan terbengkalai begitu saja, menjamahnya dengan sensual. Meremas, menekan-nekan, memelintir putingnya dengan kencang hingga Donghyuck dibuat menggelinjang. 

Ini sangat memabukkan. Donghyuck pikir kepalanya akan meledak sebentar lagi saking nikmatnya. Kakinya terasa kram, otaknya memanas, pun lubang analnya berdenyut-denyut tidak sabar menunggu giliran. "T-tuan..." Matanya terpejam rapat merasakan jari telunjuk Tuan Lee berputar-putar di lubang analnya.

"Mark."

"Hm, ya?"

Tuan Lee berhenti sejenak hanya untuk berkata, "Namaku Mark Lee, panggil aku Mark." Kemudian lanjutkan kegiatannya.

"B-baiklah a—ahhh Mark!" Daya hisap mulut Mark naik 3 kali lipat mendengar namanya terlontar dari belah bibir Donghyuck. Setelah kurang lebih 10 hisapan dia kemudian pindah mencicipi bibir si sipir. Sesuai dugaan, belah bibir itu terasa lembut dan manis, amat sangat lembut sampai rasanya meleleh di mulut. Mark melumat bibir Donghyuck bergantian atas dan bawah, meloloskan lidahnya untuk menyapa semua benda di rongga mulut sosok sipir— yang mulai hari ini dia nobatkan sebagai sipir favoritnya. 

Segala perlakuan Mark Lee tidak urung melepaskan lenguhan dari celah bibir Donghyuck. Pemuda itu mabuk kepayang sampai lupa daratan. Tanpa sadar pinggulnya bergerak maju-mundur di atas pangkuan Mark. "Lihatlah, jalang kecil ini." Mark berbisik pelan di telinga Donghyuck.

"Aku tidak punya banyak waktu. Seseorang mungkin akan mencariku sebentar lagi." Sahut Donghyuck. Kepalanya menengadah sebab dihantam gelombang tak kasat mata.

Sekonyong-konyong Mark Lee berdiri tanpa melepas tubuh Donghyuck terlebih dahulu. Untunglah dia sempat mengaitkan kedua kaki Donghyuck di pinggangnya, jika tidak, kekacauan mesti terjadi di sana. Mark Lee membawa Donghyuck ke sudut ruangan di samping pintu, hal itu dilakukan demi mencegah seseorang menangkap basah kegiatan mereka. Dia hanya tidak ingin sipir favoritnya di mutasi apalagi sampai dipecat.

"Berpeganglah pada tembok di depanmu."

Plak!

"Oh!"

"Angkat pantatmu."

"Bisakah aku mendapatkan pengalaman pertama tanpa rasa sakit?"

Pertanyaan Donghyuck disambut gelak tawa Mark Lee. Donghyuck sudah dewasa, tidak mungkin dia tidak pernah mendengar tentang betapa menyakitkan proses penetrasi awal, terlebih untuk seseorang yang tidak berpengalaman. "Itu mustahil, sayang. Tapi aku jamin rasa sakit itu akan segera tergantikan dengan rasa nikmat yang begitu luar biasa." Mark berucap sambil menekan-nekan penis kerasnya di belahan pantat Haechan.

"Mhhh..." Lenguh Donghyuck. Bibirnya mengulum guna menahan teriakan yang bisa lolos kapan saja. "Bagaimana jika aku— oh!" Untuk ke sekian kalinya kalimat Donghyuck gagal mencapai ujung, sebab perbuatan tak senonoh Mark Lee. Jari-jari Mark mulai beraksi, mengelus lubang anal Donghyuck, bahkan menggaruknya main-main. Mark tersenyum remeh merasakan lubang Donghyuck berkedut-kedut seolah tak sabar ingin dimasuki penis besarnya.

"Aku ingin mencobanya." Mark tidak bermaksud minta izin pada Donghyuck. Dia hanya ingin memberitahu Donghyuck tentang apa yang akan dia lakukan. Maka bukan salah Mark jika Donghyuck kaget ketika analnya dijamah oleh bibir dan lidah hangat Mark Lee.

"Mark— arrgghh!" Pekik pemuda sipir itu. Pandangannya buram, kepalanya jatuh ke belakang merasakan hangat lidah Mark keluar-masuk di lubangnya. Bergerak sangat cepat, persis seperti jarum pada mesin jahit— menusuk-nusuk lubang Donghyuck dengan kecepatan tinggi.

"Ini gila..." Dia mulai meracau. Dengan posisi menghadap tembok setidaknya Donghyuck tidak perlu khawatir tubuhnya akan luruh ke lantai yang dingin.

"Sepertinya kamu sudah sangat siap."

"Iya! ya! ya! aku siap!" Sahut Donghyuck semangat. Kepalanya mengangguk-angguk cepat.

"Tidak ingin mencoba penisku?" Goda Mark.

"Lain kali saja. Kita tidak punya banyak waktu, ingat?"

"Baiklah. Kali ini aku menurutimu. Tapi lain kali—" Mark menggantung kalimatnya sebab ancang-ancang untuk kembali berdiri. "Kupastikan kamu akan menuruti semua kemauanku." Lanjutnya, kemudian merundukkan kepala, melumat tengkuk Donghyuck yang tampak mengkilap sebab cucuran keringat.

"Kulum." Dua jari Mark mengetuk-ngetuk belah bibir Donghyuck. Oleh Donghyuck, kedua jari itu dikulum dengan perasaan senang. Jari Mark tak kalah panjang dengan sesuatu yang melambai di bawah sana, dan Donghyuck menemukan dirinya tersedak saat langit-langit mulutnya bersentuhan dengan ujung kuku pria berpenis besar itu. "Cukup." Titah Mark, jarinya ditarik keluar untuk kemudian pindah ke lubang anal Donghyuck. Mereka tidak punya banyak waktu, bukan?

Deru napas Mark memenuhi gendang telinga Donghyuck. Rasanya seperti pria itu sengaja membuang napasnya di sana. Donghyuck mengerang tertahan, tenggorokannya penuh dengan gumpalan saliva sehingga sulit untuknya bersuara. Dia meringis, perih mulai mengusik lubangnya. Sementara di balik punggungnya, Mark sedikit kesusahan mendorong penisnya masuk ke lubang Donghyuck. Lubang itu masih sangat sempit, minimnya cahaya juga semakin mempersulit proses penetrasi mereka.

"Ssi-siapa namamu." Matanya terpicing erat merasakan kepala penisnya dijepit sedemikian kuat. Mark masih berusaha menanamkan penisnya masuk lebih dalam, tidak mudah, tetapi dia tidak akan menyerah.

"Dong— Donghyuck!!" Balasan Donghyuck lebih seperti jeritan.

"Ssstt... tenanglah. Ini sudah masuk. Katakan jika aku sudah bisa begerak."

Satu hal yang Donghyuck sadari dari sikap Mark Lee, pria ini terlalu sopan untuk seseorang yang menyandang status kriminal. Atau sikapnya itu hanya akal-akalan demi memperoleh keuntungan? Meski demikian, persetan dengan kepalsuan. Akal-akalan atau bukan, Donghyuck tetap menginginkan penis pria itu.

"Lanjutkan, obrak-abrik lubangku dengan— ohh!" Gerakan Mark berhasil membungkam mulut Donghyuck. Jika Donghyuck ingin lubangnya diobrak-abrik, maka tidak ada alasan untuk Mark bergerak seperti siput.

"Astaga! Inihh... sangathh nikmat!" Heboh Donghyuck.

"Kamu menyukainya, bukan?"

"Iya! iya! Ohh Tuhan— ahhh... yahhh ahhh..."

Tumbukan penis di lubangnya menimbulkan guncangan yang begitu luar biasa. Tubuh Donghyuck nyaris kolaps jika saja Mark tidak segera menangkapnya. Mark melingkarkan kedua lengannya di tubuh Donghyuck— memeluk pinggang ramping Donghyuck sambil terus memompa penisnya di lubang pemuda itu. Sesekali Donghyuck menoleh ke belakang guna menyatukan bibir mereka.

"Sebentar." Tautan keduanya terputus sebab Mark tiba-tiba memutar tubuh Donghyuck hingga keduanya saling berhadapan. Dia lantas mengangkat tubuh Donghyuck, melingkarkan tungkai jenjang Donghyuck di pinggangnya, sebelum kembali menancapkan penisnya ke lubang pemuda itu. Dengan posisi ini dia pun sukses melesatkan penisnya lebih jauh.

"Eunghh... yeahhh... ahhh... astaga—ahhh! Terlalu dalam!"

"Tidak perlu protes. Jelas-jelas kamu menyukainya." Seduktif Mark.

"Iyahhh tapi— ohhh! Ya ampun..." Donghyuck menyerah, sadar jika protesannya tidak akan didengar. Lagipula Mark sepenuhnya benar, Donghyuck menyukai tumbukan penis di lubangnya, lantas untuk apa protes?

"Putingmu sangat indah."

Slurp

Mark menjilati puting dada Donghyuck selepas melayangkan pujian. Dia serius dengan kalimatnya, puting Donghyuck memang sangat indah dan menggoda. Mekar, keras, mancung, coklat muda, dan melaparkan mata.

"Markhh..."

"Ya, mendesahlah, sayang."

"K-kamu tidak merasakannya? Aku hampir sshh ahhh... hampir sampaihh..."

Sayangnya Mark tidak peduli. Dia ingin mereka keluar bersama. Dengan demikian, ritme permainan pun naik sampai ke level maksimal. Penis besarnya memompa lubang Donghyuck dengan keras, menumbuk-numbuk prostat pemuda itu dengan brutal. Donghyuck menjerit keenakan, akal sehatnya tercerai-berai, tak peduli lagi dengan keadaan di sekitar. Bagaimana jika seseorang menangkap basah perbuatan mereka?

"Kamu sangat cantik, Donghyuck." Mark memandangi wajah Donghyuck dengan tatapan berkabut nafsu.

"Ahhhh yahhh... ahhh..." Sebagaimana mestinya, pujian dari Mark sama sekali tidak mendapat sambutan.

Keduanya sama-sama terbakar api gairah, menghanguskan setiap saraf yang sekiranya bisa membawa mereka kembali ke jalan yang benar. Baik Mark maupun Donghyuck sudah sangat jauh tersesat, Mark dengan sodokannya yang brutal dan menghujam titik nikmat Donghyuck, membuat Donghyuck serasa melayang di atas awan.

Tubuh Donghyuck terhentak-hentak bersamaan dengan hujaman penis Mark di lubangnya. Donghyuck sudah tidak berdaya, bahkan cairan klimaksnya mulai memberontak keluar, sudah tidak bisa dicegah lagi.

"Argghhh!" Mark mengerang frustasi dalam upayanya mengejar klimaks. Bersyukur dia segera mendapatkannya. Setidaknya Donghyuck tak perlu khawatir Mark akan sakit hati sebab ditinggalkan.

Air mani Mark membanjiri lubang hingga selangkangan Donghyuck. Hangat dan lengket, membuat Donghyuck tersenyum dalam momen menikmati pelepasannya. Sementara itu, Mark tampak terengah-engah seperti habis lari maraton sejauh 100 km. Kepalanya terkulai di perpotongan leher Donghyuck, hidungnya bergerak mencari kelenjar yang menghasilkan wangi alami tubuh.

"I like your smell, Donghyuck." Lirih Mark.

"Kamu sudah mengatakan itu sebelumnya."

"Aku tahu. Dan aku mendapatkan penisku di lubangmu setelahnya."

Donghyuck tidak dapat menahan kekehannya. Itu benar. Dia sedikit lemah dengan kata-kata rayuan yang diikuti sentuhan menggoda. "Lalu, apa yang Tuan Lee inginkan kali ini."

"Kamu, bergerak liar di atas penisku." Ungkap Mark Lee. Pria itu berbisik menggoda di atas bibir Donghyuck.

"Hmmm... aku akan melakukan itu esok hari."

"Esok?"

"Ya, esok hari. Saat semua orang sedang sibuk menikmati makan siang, kamu akan mendapatkan diriku bergerak liar di atas penismu."

Maka pada keesokan harinya, ketika semua tahanan sedang berkumpul di ruang makan, Donghyuck diam-diam mengedarkan pandangan mencari keberadaan Mark. Kabarnya pria itu sudah dikeluarkan dari sel isolasi pagi ini, maka besar kemungkinan dia berada di tengah-tengah lautan manusia di depan Donghyuck, kecuali jika pria itu mendapat kunjungan, tapi Donghyuck sudah lebih dulu memastikan hal itu tidak terjadi.

"Ada apa?"

Seseorang secara mengejutkan menyentuh pundak Donghyuck. Adalah Na Jaemin, sosok yang paling bertanggung jawab atas kejadian kemarin. "Kamu selalu mengagetkanku." Sungut Donghyuck.

"Kenapa harus kaget? Kamu tidak sedang berada di tempat sepi. Lihat, di depanmu ada ratusan manusia yang bisa dilihat dengan mata telanjang." Jaemin mengoceh dengan cara bicaranya yang khas.

"Tinggalkan aku sendiri."

"Aigoo, sangat sensitif." Donghyuck memutar matanya malas, tanpa mengatakan apapun segera menjauh dari Jaemin. Dia punya agenda rahasia yang harus segera dilaksanakan— agenda rahasia yang sebenarnya sangat beresiko menghancurkan karir sipirnya.

Di ruang makan yang lebih seperti aula itu, Donghyuck celingak-celinguk mencari sosok Mark. Pandangannya menyisir seluruh bagian ruang makan, dari kiri ke kanan lalu depan ke belakang, agak kesulitan sebab wajah Mark masih samar-samar dalam ingatannya. Salahkan pencahayaan buruk di sel isolasi, gara-garanya dia jadi tidak bisa melihat wajah Mark dengan jelas.

"Mencariku?"

"Astaga!" Donghyuck dibuat kaget untuk kedua kalinya.

"Lee Donghyuck! Tuan Lee harus ke toilet. Ikuti dia!" Belum sempat Donghyuck melontarkan makian, senior Lee Taeyong tiba-tiba berteriak dari sisi lain. Pria itu melotot sebab Donghyuck hanya diam tidak menyahuti perintahnya.

"Donghyuck?!" Tegur Lee Taeyong.

"Ya, senior Lee!" Balas Donghyuck akhirnya. Kemudian tergesa-gesa mengikut Mark yang sudah menghilang di balik tembok menuju toilet— tidak terlalu jauh dari tempat Donghyuck berdiri sebelumnya.

Dengan hati dipenuhi rasa dongkol, Donghyuck pun berlari mengejar Mark Lee. Donghyuck kesal, bukan pada Lee Taeyong, melainkan pada dirinya sendiri. Bibirnya bersungut-sungut merutuki kebodohannya, betapa malunya dia sebab sudah memamerkan kebodohan di depan ratusan penghuni penjara.

"Sepertinya kamu sudah berubah pikiran." Mark berkata tepat setelah Donghyuck melewati pintu toilet. Pria itu berdiri angkuh, berpangku tangan di depan bilik toilet. "Kamu yakin ingin bercinta hari ini?" Tanyanya memastikan.

"Aku memikirkan penismu semalaman, asal kamu tahu." Balas Donghyuck dengan wajahnya yang polos.

Sudut bibir Mark samar-samar berkedut mendengar penuturan Donghyuck. Sedikit mengejutkan mendengar kata-kata tak bermoral keluar dari mulut seorang sipir. Tapi Mark maklum mengingat Donghyuck masih baru di sini. Jika pemuda itu sipir lama, jangankan diajak bercinta, sepuluh menit bernapas di ruangan yang sama pun rasanya dia tidak mungkin sanggup.

"Kemari." Mark melambaikan tangan, meminta Donghyuck mendekat.

"A-apa di sini aman?"

"Lee Taeyong akan memastikan semuanya aman."

Heol!

"Tidak perlu kaget. Dunia ini bukan hanya hitam dan putih."

Donghyuck sepenuhnya setuju dengan hal itu. Dia sangat paham. Namun, fakta bahwa Mark Lee bersekongkol dengan Lee Taeyong— yang notabenenya sipir panutan bagi para junior —tetaplah mengejutkan. Mulut Donghyuck menganga dengan kedua mata membulat sempurna. Dan reaksi berlebihan itu sukses menggelitik hati sosok di depannya, Mark tidak kuasa menahan gelak tawa memandangi wajah konyol Donghyuck.

Fakta lainnya tentang Mark Lee, pria itu sangat tampan, luar biasa tampan dan menawan. Juga sangat berkharisma. Donghyuck mulai bertanya-tanya tentang kehidupan macam apa yang dijalani pria itu sebelum terjebak di sini. Sayang sekali, padahal dengan wajah seperti itu, harusnya Mark bisa menjalani hidup dengan mudah, tapi dia justru berakhir di tempat menakutkan ini.

"Jangan terlalu lama memandangiku, bocah." Tutur Mark tiba-tiba, yang sukses membuyarkan lamunan Donghyuck.

"A-aku tidak."

"Apa yang sedang kamu pikirkan. Katakan."

Donghyuck menggeleng sebagai jawaban. Dia bahkan tidak sanggup menatap langsung ke mata Mark saking tajamnya tatapan pria itu. "Aku akan memuaskan penismu." Cicitnya.

"Benarkah?" Mark menangkup wajah Donghyuck, sedikit mengangkatnya agar mereka bisa saling pandang. "Lihat mataku, Donghyuck." Titah pria itu. Mudah untuk Mark Lee menjatuhkan bibirnya di atas bibir Donghyuck saat jarak di antara mereka sudah terkikis habis. Adegan saling melumat bibir pun tidak dapat dihindarkan. Pagutan panas itu berlangsung cukup singkat, sebab bibir Mark tak tahan untuk tidak berlarian di perpotongan leher Donghyuck.

"Eunghh." Donghyuck melenguh pelan. Selagi Mark sibuk mencumbu dan menggerayangi tubuhnya, tangannya merayap membuka resleting celana Mark, membebaskan benda keramat yang ada di dalamnya. "Aku ingin mencobanya." Tepat setelah kata-kata itu terlontar, Donghyuck merasakan otot wajah Mark menegang, pun bibir pria itu mendadak berhenti bergerak. "Mark... Aku ingin merasakan penismu di dalam mulutku." Ulang Donghyuck, sedikit merengek.

"Lakukan." Sambut Mark akhirnya. Kedua tangannya menekan pelan bahu Donghyuck, mengarahkan pemuda itu untuk berlutut di depan kejantanannya.

Sebagai permulaan, Donghyuck meremas pelan batang penis Mark, lalu mengecup ringan puncaknya. Telapak tangan Mark mengepal kuat, menekan sensasi yang mulai menginvasi. Menyadari hal itu, Donghyuck pun tidak bisa menahan seringainya. Donghyuck memang masih pemula, tapi dia tidak polos-polos amat, adegan seperti ini sudah jadi tontonan wajib sebelum dia menutup hari.

Untuk langkah selanjutnya, Donghyuck menggunakan kedua tangannya memijat batang penis Mark. Naik-turun dengan gerakan meremas, menyebabkan si empunya penis gemuk nan berurat itu mengerang frustasi.

Sebab tidak ingin mengulur-ulur waktu lebih lama, Donghyuck segera membawa mulutnya menyelimuti puncak penis Mark. Mengulum benda yang mirip kepala jamur itu dengan sangat rakus, tanpa mengurangi tempo pijatan pada batang penis yang uratnya sudah mencuat di mana-mana. Dan di titik ini, hasrat Mark sudah tidak terkendali lagi. Pahanya bergetar hingga dia harus berpegangan pada kusen bilik toilet. Dadanya bergemuruh hebat, gelombang panas menghantam otaknya secara membabi buta.

"Demi Tuhan, Donghyuck!" Racaunya dengan wajah menengadah ke atas.

Donghyuck tak terpengaruh oleh kondisi mengenaskan pria itu. Dia asyik meremas, melumat, menjilat, bahkan menghisap kuat puncak penis Mark, selayaknya es krim vanilla favoritnya. Penis besar itu dia kocok seirama dari bawah ke atas, selagi puncaknya dilumat dan dihisap rakus.

"Oh!" Heboh Mark saat Donghyuck menggodanya dengan gigitan main-main. Namun, Mark sangat menyukainya. Senyumnya mengembang seolah dia baru saja memenangkan pertaruhan senilai satu juta dolar di meja judi.

"Kamu luar biasa, Donghyuck." Pujinya. Tatapannya jatuh ke bawah, beradu dengan mata rusa Donghyuck yang sayu. "Mhhh! Aku bisa gila!" Begitulah akhirnya dia menyentak keras penisnya agar masuk lebih dalam.

Meski sudah memprediksi hal ini akan terjadi, Donghyuck tetap tidak sempat untuk bersiap. Tahu-tahu penis besar Mark sudah bergerak kasar di rongga mulutnya, mendesak tenggorokannya sampai dia berpikir akan pingsan sebentar lagi.

Shibal.

"Oh, Donghyuck sayang, sepertinya kamu tidak menyukai ini."

Mark cukup peka dan pandai membaca situasi. Kondisi Donghyuck yang tampak mengenaskan serta-merta buatnya tersadar dan berhenti bertingkah seperti penjahat kelamin. Dia tidak suka mendapati lawan bercintanya menangis kesakitan, seolah-olah semua ini terjadi karena sebuah keterpaksaan. Setiap tetes airmata yang jatuh mestilah sebab kenikmatan, bukan kesakitan.

"Kemari lah."

"K-kamu nyaris membunuhku..."

"Maafkan aku, sayangku. Aku tidak bermaksud seperti itu." Mark menarik lembut tangan Donghyuck, membawa pemuda berurai airmata itu masuk ke bilik toilet yang ada di balik punggungnya.

"Bajingan sialan." Maki Donghyuck.

"Jangan menyulut emosiku, sayang. Aku bukan orang yang bisa kamu ajak bermain-main."

"Benarkah?" Donghyuck menyeringai menggoda. Ruang yang terbatas tidak bisa menghentikannya untuk menyerang Mark— sebuah serangan yang sukses pertemukan bokong Mark dengan toilet yang kering. "Aku masih lelaki kalau kamu lupa." Bisiknya di atas bibir tipis Mark. Donghyuck mengambil posisi duduk mengangkangi selangkangan pria itu. Pantatnya yang sintal bergerak nakal, selayaknya penari erotis yang sedang menggoda Tuannya.

"Jalang satu ini sangat berani." Sarkas Mark Lee. Tersenyum miring dalam aksinya melepas pakaian Donghyuck satu-persatu. Liurnya menetes memandangi puting susu yang siap untuk disantap itu. Menggoda sekali.

"Eunghhh..."

"Kamu sangat cantik, Donghyuck." Mark berkata sambil mengusap-usap puting susu Donghyuck dengan jempolnya yang besar dan bertekstur kasar.

"Kamu juga— uhhh... Sangathhh tampanhhh..."

Kepala Mark jatuh ke belakang sebab ulah Donghyuck. Donghyuck baru saja menabrakkan penisnya dengan penis sekeras batu milik sang dominan. Rasanya seperti tersengat aliran listrik, membuat kaget dan linglung sejenak.

"Butuh bantuan?"

"Tidak. Aku sudah mempersiapkannya dengan baik." Donghyuck mengedip centil, lantas pelan-pelan masukkan penis besar Mark ke lubang analnya. "Uhh... Besar sekali." Rintihnya.

"Katakan jika kamu butuh bantuanku."

"Tidak, aku yakin bisa. Lubangku sudah siap, hanya saja.... Ini— ahhh... Terlalu besarhhh!" Pemuda itu mendesah di akhir kalimatnya. Dia benar-benar berhasil menancapkan penis besar Mark di dalam lubangnya.

Donghyuck mendesah, Mark mendesah. Keduanya sama-sama terbakar dalam kubangan hasrat yang membara. Semakin Donghyuck bergerak, semakin jauh pula mereka tersesat. Mark memang gila, tapi Donghyuck jauh lebih gila. Sebagai seorang sipir, tidak sepantasnya dia bercinta dengan narapidana. Kali pertama masih bisa dianggap kekhilafan, tapi untuk yang kedua, apa masih bisa dianggap demikian? Sepertinya tidak.

"Ahhh Markhhh... Ahhh ahhh yeahh enakhhh..." Pantat Donghyuck bergerak naik-turun di atas penis Mark. Maju dan mundur, membuat gerakan memutar, siklus itu terus berulang-ulang tanpa jeda, membuat Mark tak berhenti melolong nikmat.

Sialan, Lee Donghyuck.

"Kamu sangat nikmat, Donghyuck— yeahhh ssshhh ohhh!" Celetuk pria itu. Betapa frustasinya dia saat ini, terlihat dari kedua matanya yang terpejam kuat, serta geletuk giginya yang terdengar keras.

Cup

Bibir Donghyuck mendarat di pipi tirus Mark, pun satu tangannya bergerak membelai rahang pria itu. Agak kasar sebab ditumbuhi bulu-bulu halus. Mark tersenyum tipis merasakan sentuhan lembut itu. Dia suka, terlebih ketika Donghyuck dengan berani mengulum garis rahang hingga dagunya.

Sementara di bawah sana— tepatnya pada pusat tubuh paling sensitif keduanya —penis Mark masih konstan keluar-masuk di dalam lubang anal Donghyuck. Kendali tak lagi sepenuhnya berada di tangan Donghyuck, sebab Mark sudah mengambil alih permainan. Kedua tangan Mark mencengkram pinggang Donghyuck, berupaya membantu bocah itu bergerak lebih brutal. Mark juga menyentak keras penisnya tiap kali pantat Donghyuck mendarat. Alhasil, Donghyuck pun kehilangan daya untuk memimpin permainan. Kakinya lemas, sekadar menapak pun ia kesulitan.

"Toiletnya— ahhhh! Toiletnya akan rusak Markhhh!" Histeris pemuda itu.

"Aku tidak peduli. Lubangmu sangat nikmat." Mark berucap tanpa mengurangi laju permainan. Klimaks sudah di depan mata, bergerak pelan hanya akan membuat penisnya menderita.

"Ya Tuhan..." Alih-alih kembali protes, Donghyuck memilih menyandarkan tubuhnya sepenuhnya di dada bidang Mark. Dia menyerah, lubangnya diobrak-abrik, prostatnya ditumbuk berkali-kali. Disodok sedemikian brutal buatnya hilang kemampuan berpikir dan berbicara.

"Lihatlah penis menyedihkan ini." Kalimat berkonotasi mengejek itu ditujukan pada penis Donghyuck yang diam-diam mengeluarkan cairan. Mark berbaik hati mengurut penis Donghyuck— yang ukurannya tampak menyedikan saat bersanding dengan miliknya. Mark membantu mengeluarkan sisa-sisa cairan yang mungkin terjebak.

"Ahhh!" Jerit Donghyuck ketika batang penisnya dikocok.

"Ssshh-sebentar lagi— arrrghhh!" Mark juga tidak kalah mengenaskan. Puncak penis yang membengkak seperti gejolak yang mendesak ingin dilepaskan. Kepalanya panas, darahnya mendidih, serasa hendak meledak.

"Markhh— ahhh! Penismu sangat besar—"

"Jangan terlalu menjepitnya, Donghyuck— Arggghh! Aku kesakitan." Protes yang lebih tua.

Kondisi di balik bilik toilet nomor 1 itu sangat jauh dari kata tenang. Terlampau gaduh hingga suara di luar sana sama sekali tak terdengar. Entah apa yang akan terjadi setelah mereka keluar dari sini. Mungkinkah Mark Lee akan dikembalikan ke sel isolasi? Entahlah. Yang pasti Donghyuck tak akan dipecat dari pekerjaannya.

"Aku... Emhhhh sampai!" Tepat setelah Mark berucap demikian, cairan orgasme pun meluber keluar dari lubang Donghyuck. Seperti sebelumnya, sperma pria itu luar biasa lengket dan banyak. Bahkan Donghyuck harus menampung cairan itu agar tak mengotori celana kerjanya.

"Sepertinya aku harus sering-sering membuat kesepakatan dengan Lee Taeyong."

"Kamu berpikir untuk menggunakan tubuhku lagi, benar?" Tebak Donghyuck, yang sama sekali tepat sasaran.

"Aku bisa memberimu kekayaan, bahkan membuatmu naik pangkat dalam waktu satu malam."

"Hei, jangan membodohiku!"

"Apa penawaranku masih kurang?"

Donghyuck memicing, mencoba temukan kebohongan di manik mata sehitam jelaga itu. Pernyataan Mark terdengar konyol, tapi wajah pria itu tampak serius dan meyakinkan. Ayolah, apa itu masuk akal?

"Aku akan menunggu sampai besok."

"So, it's a deal?" Balas Mark, mengulurkan tangannya ke hadapan Donghyuck.

"Deal." Sambut Donghyuck sambil menjabat erat tangan Mark Lee.

Bukannya Donghyuck bodoh dan naif, dibohongi atau tidak, penis besar Mark adalah sesuatu yang tidak bisa dia tolak. Penis dambaan yang sayang untuk dilewatkan. Ingatlah, penis Mark Lee yang utama, uang dan jabatan hanyalah bonus belaka.

• FINISH •

Notes:

Hi mhist, this is my first fanfic here. I’m a bit nervous but I hope you enjoy it 💕