Actions

Work Header

love in between

Summary:

Dalam dua dekade terakhir, Jaehyun belum terpikirkan hal lain lagi yang bisa ia asosiasikan dengan musim dingin.

Sebelum ia bertemu dengan malaikat dunia; yang membangkitkan lagi keinginannya untuk memuja, berlutut di ubin altar sambil memanjatkan ribuan doa.

(Malaikat itu bernama Park Sungho.)

Notes:

this fic is written for #winterMYstery event, held by @daengsunghome on Twitter/X.

happy reading! <3

Work Text:

Ada beberapa hal yang selalu Jaehyun asosiasikan dengan musim dingin. Satu, hari bertambahnya usia. Kehadirannya di dunia selalu dirayakan di penghujung tahun, di tengah dinginnya suhu dan kristal salju yang jatuh menutup jejak-jejak kaki. Awalnya Jaehyun kecil tidak terlalu suka musim dingin — karena ia gampang sakit dan merepotkan sekali harus memakai sekian layer pakaian hanya untuk main. Tapi setelah melewati tahun-tahun penuh kejutan dan hadiah berkesan, musim dingin perlahan naik pangkat menjadi musim favoritnya.

Dua, syal rajut dari ibu yang sudah ia miliki sejak bertahun-tahun. Warnanya sudah memudar dan ada beberapa bagian yang melar. Tapi Jaehyun masih suka memakainya — dari zaman bolak-balik bimbel, merantau kuliah di kota lain, berangkat part-time, sampai sekarang menyandang status sebagai pekerja kerah putih. Jaehyun punya kebiasaan memberi arti pada benda-benda yang ia terima dari orang lain; dan ia menganggap syal itu sebagai curahan kasih sayang dan dukungan jarak jauh dari keluarganya.

Tiga, hari natal. Seperti yang jutaan orang lain di luar sana pikirkan ketika bulan kedua belas tiba. Jaehyun selalu berusaha merayakannya bersama orang-orang yang ia anggap berharga, meski di waktu yang terbatas. Bahkan jika ada kesempatan, ia akan menyiapkan bingkisan kecil yang bisa dibagikan pada tetangga, rekan kerja, atau petugas layanan publik yang ia temui di jalanan. Semua karena ia menganggap natal sebagai momen untuk mengembalikan semua kebaikan yang ia rasakan sepanjang tahun.

Dalam dua dekade terakhir, Jaehyun belum terpikirkan hal lain lagi yang bisa ia asosiasikan dengan musim dingin.

— Sebelum ia bertemu dengan malaikat dunia; yang membangkitkan lagi keinginannya untuk memuja, berlutut di ubin altar sambil memanjatkan ribuan doa.

 

 

"Hei, udah saatnya bangun."

Terdengar suara lembut yang menggelitik telinga, seiring dengan mata Jaehyun yang sedikit demi sedikit terbuka.

Saat kesadarannya sudah setengah utuh, Jaehyun mendapati dirinya sedang terbaring di atas seprai putih dengan posisi bantal dan selimut yang sudah tidak karuan. Tangannya otomatis menghalau area muka, begitu cahaya menelusuk dari celah-celah tirai. Ia pun mengerang, mencari-cari alasan agar mendapat perhatian ekstra dari sosok yang berdiri tak jauh dari ranjang.

"Pleaseee mau tidur lebih lama lagi."

Beberapa detik kemudian, Jaehyun merasakan ada jemari yang menepuk-nepuk pipi, lalu bergerak menarik ujung hidungnya.

"No kisses kalau nggak mau nemenin aku jalan-jalan pagi dan belanja bahan masak buat dinner spesial minggu ini."

Hah?!

Seperti robot yang baterainya baru saja terisi penuh, Jaehyun langsung bangkit dari kasur dan memegang tangan lawan bicara yang masih menempel di area wajah. Senyumnya tersungging lebar saat mata mereka bertemu, walau dalam sekejap lawan bicara mengalihkan pandangannya ke arah lain dan menggerutu.

"Barusan ... nggak salah denger, kan?" tanya Jaehyun penuh harap. Tiap silabel yang ia ucapkan berikutnya terdengar sangat percaya diri. "Janji mau cium kalau aku nurut?"

Satu anggukan pelan cukup untuk membuat Jaehyun berlari cepat menuju kamar mandi dan mempersiapkan diri dalam waktu kurang dari 15 menit. Padahal dulu saat hari-hari libur begini, ia lebih suka menghabiskan waktu di atas kasur sampai matahari ada di atas ubun-ubun. Mode hibernasinya baru berakhir saat ia benar-benar merasa lapar.

Tinggal bersama orang lain membuat pola hidup berubah, they said. Bukannya Jaehyun tidak punya pengalaman tinggal beramai-ramai di satu atap; ia cukup kenyang dengan pengalaman tertendang dari kasur, makan sambil nonton film genre berbahaya, dan sesi mendongeng bersama kawan-kawannya semasa kuliah. Tapi tentu saja, ada perbedaan antara tinggal dengan teman-teman (bentuk jamak) dan tinggal bersama teman (bentuk tunggal). Apalagi teman yang dimaksud bukan sekedar teman main, tapi (calon) teman hidup.

Yang Jaehyun selalu sebut sebagai titisan langit:

The one and only Park Sungho.

 

Ada kehangatan yang menyelip dalam dada Jaehyun ketika Sungho membantunya memilih setelan baju, merapikan bagian rambutnya yang kusut, atau mengoleskan sunscreen dan di wajah sampai tangan — menyentuh celah di tiap jemarinya dengan sangat hati-hati. Jaehyun bisa melakukan semua itu sendiri, mestinya. Tapi ia biarkan lelaki tersebut mengambil alih tanpa mengucap banyak kata.

Sebaliknya, Jaehyun (berusaha) membalas dengan melingkarkan syal pada leher Sungho, menepuk-nepuk belakang coat-nya yang terlipat, dan menyelipkan hot pack di dalam saku. Ia bisa merasakan Sungho menatapnya sesekali, tapi ia pura-pura tidak sadar saja karena tahu pipi Sungho akan langsung memerah saat tatapannya bersambut. Itu adalah satu dari banyak hal manis yang Jaehyun pelajari semenjak memilih untuk mengikat komitmen.

(— Ia bersumpah tak akan bosan untuk mengumpulkan arti dari gestur kecil dan celetukan yang terkasih, sampai ia bisa menerbitkan ensiklopedi sendiri.)

 

"Ini bukannya syal kesayangan kamu?" Sungho memecah hening dengan menunjuk syal berwarna merah yang sedang ia kenakan.

"Iya, rajutan ibuku," jawab Jaehyun, diikuti dengan penjelasan singkat kalau syal tersebut sudah menemaninya selama lebih dari 10 tahun dan berkelana ke wilayah yang berbeda-beda. Mata Sungho terbelalak, karena ini informasi yang baru pertama ia dapatkan — meski sudah beberapa kali melihat Jaehyun memakai syal yang sama.

"Nggak apa-apa nih aku pakai?"

"Well," Jaehyun mengendikkan bahu. "Kamu juga kesayanganku, sih. Of course it's fine."

Kata-kata barusan sama sekali di luar prediksi, membuat Sungho mematung di tempat selama beberapa menit. Belum sempat memulihkan diri dari sudden damage, Sungho kemudian harus mendengar celetukan Jaehyun kalau ia cocok sekali memakai baju atau aksesori berwarna merah.

"It makes your angelic features stand out." Dengan kesadaran penuh, Jaehyun mengambil beberapa helai rambut Sungho di bagian samping dan menyisipkannya ke belakang telinga. Si empunya rambut spontan mundur selangkah ke belakang, tapi tak menghentikannya untuk bertanya-tanya dengan suara sedikit bergetar. 

"E-excuse me, angel what?"

"Udah mirip protagonis drama Goblin,” seru Jaehyun jahil, tak lupa menarik tangan Sungho untuk digandeng sampai ke depan pintu apartemen. "Like a Newton's apple, I dropped and rolled to you without stopping."

"Sumpah Myung Jaehyun, bisa diem nggak?" adalah yang dikatakan Sungho sebelum (akhirnya) memukul-mukul lengan Jaehyun dengan kencang.

Apakah protes dari Sungho cukup membuat Jaehyun akan tutup mulut selama mereka berjalan ke luar dan melakukan aktivitas belanja? Tentu saja tidak. Jaehyun selalu bisa memanfaatkan kesempatan untuk memuji kekasihnya, dari yang blak-blakan sampai yang tersirat. Pilihan kata dan timing dadakan sukses membuat yang mendengarkan merasa seperti direbus dalam panci air sekaligus kejar-kejaran dengan mobil polisi. Hingga kini, Sungho sepertinya belum sadar kalau reaksi lucunya lah yang membuat Jaehyun semakin bersemangat untuk menggoda.

Gerak-gerik canggung namun berujung pasrahnya sama persis dengan Sungho yang Jaehyun temui tiga tahunan lalu.  

 

Kalau di novel-novel romantis, pembukanya semacam: 'Setiap pertemuan kita seperti terhubung dalam satu garis takdir'. Walau Jaehyun berprinsip teguh bahwa garis-garis tersebut harus dihubungkan oleh manusia itu sendiri. Sebagaimana ia membalikkan badan untuk menghampiri Sungho dan memberanikan diri untuk meminta kontaknya, padahal ia harus segera masuk boarding gate

Jaehyun ingat saat itu tepat tanggal 3 Desember, sehari sebelum ulang tahunnya yang ke 25. Ia bersiap-siap berangkat ke Jepang untuk liburan sekaligus mengunjungi sepupunya yang tinggal di sana. Tak ada sepintas pikiran untuk mencari kenalan baru apalagi kekasih, setelah merasakan patah hati hebat semasa awal-awal kuliah. Ia cukup bahagia dengan kehidupannya; tak sedang menanggung ekspektasi berat dan bisa menghadiahi dirinya sendiri dengan tabungan yang susah payah ia kumpulkan.

Siapa sangka akan ada adegan ia terjungkal dengan tidak elegan, sampai passport holder-nya ikut terlempar — hanya gara-gara matanya menangkap sosok indah yang sibuk memotret dekorasi natal sambil tersenyum.

Rentetan kejadiannya begitu memalukan, tapi setidaknya berhasil menjadi jembatan interaksi. Sosok yang membuatnya terdistraksi itu menghampiri Jaehyun yang sedang berusaha berdiri, lalu membantunya merapikan passport holder dan perintilannya yang tercecer di lantai. As cheesy as it might sound, saat sosok itu membuka suara dan menatapnya khawatir, Jaehyun yakin 100% ia sedang mengalami momen jatuh cinta pada pandangan pertama. 

Tiap ia dan Sungho membicarakan tentang pertemuan mereka di bandara, Jaehyun diam-diam merutuk diri sendiri karena hei, siapa juga yang impulsif mengucapkan "You look so pretty..." pada lelaki asing? Beruntung Sungho tipe yang ramah dan punya pemikiran terbuka. Daripada memberi lirikan penuh penghakiman, Sungho malah mengajaknya basa-basi dan mengubah suasana canggung menjadi lebih nyaman.

Mereka bisa saja berakhir sebagai random strangers yang ditemui sekali seumur hidup. Tapi lewat percakapan singkat tentang destinasi wisata dan persamaan selera musik (ternyata mereka sama-sama suka mendengarkan Hip hop dan R&B), Jaehyun mempercayai dorongan hatinya untuk mengenal Sungho lebih jauh.

Butuh berbulan-bulan sampai akhirnya mereka bisa bertatap muka lagi dalam situasi yang lebih kasual. Butuh lebih dari setahun juga sampai mereka saling mengenal lebih dari nama, profesi, dan tempat tinggal. Untungnya bukan hanya satu pihak saja yang berusaha tetap menyambung komunikasi. Kalau keinginan besar Jaehyun menjadi 'teman dekat' Sungho bertepuk sebelah tangan, mereka jelas tak akan sampai di titik ini.

Jaehyun yang sekarang tak akan bisa membayangkan hidup tanpa Sungho di sisinya. Ditinggal oleh kekasihnya business trip selama dua minggu saja sudah mengikis tawa dan membuat hari-harinya terasa hampa. Apalagi jika membayangkan harus dipisahkan dua kontinen berbeda. 

 

"Jaehyun?"

"—Sayang?

Panggilan terakhir dari Sungho membuyarkan kaleidoskop yang terputar di kepala Jaehyun. Ia langsung menoleh pada Sungho yang sedang memiringkan kepalanya dengan penuh tanda tanya. Kalau ini tidak di jalanan umum, Jaehyun akan menangkup pipi dan mencium bibirnya yang sedikit manyun itu detik ini juga.

"Lagi bayangin apa?"

"Hmm... bayangin gimana kalau aku nggak minta nomor kamu waktu di bandara. Kayaknya aku bakal nyesel seumur hidup deh." Sambil meracau, Jaehyun mendekatkan badannya pada Sungho, lalu menyelipkan sebelah tangannya ke dalam saku samping coat Sungho. Kebiasaan yang ia lakukan saat mereka berjalan di tengah hawa dingin.

"Masih aja bayangin skenario what if?" komentar Sungho sambil terkekeh. "Kamu bisa bikin buku sendiri deh kalau nulisin semua skenario itu." 

"Ide bagus, 101 skenario Myung Jaehyun dan Park Sungho bertemu di semesta yang berbeda-beda." Jaehyun memeragakan gestur menulis sok-sok serius dengan satu tangan. "Mungkin ada semesta di mana kita adalah member idol group populer, aku jadi leader-nya dan kamu adalah sobat sekaligus pillar of the group."

"Mulai, deh." Sungho memutar bola matanya ke samping, tapi tak berusaha menghindar saat tangan Jaehyun yang semula menyelip di saku, bergerak untuk memainkan jemarinya. 

Mereka bukannya tidak berani bergandengan tangan di depan umum. Kadang kalau sedang mood, Jaehyun malah melingkarkan tangannya pada pundak atau pinggang Sungho tanpa khawatir dipandang aneh oleh orang-orang sekitar. Banyak hal seru yang terlewat kalau terus dibayang-bayangi sesuatu yang belum tentu akan terjadi; Jaehyun ingin fokus pada hal bahagia yang bisa ia lalui bersama Sungho, saat ini juga.  

Awalnya Jaehyun kira Sungho tipe yang akan menolak keras perhatian apapun yang ia berikan di tempat umum, karena dasarannya ia bukan orang yang mudah melakukan sentuhan fisik. Tapi setelah menghabiskan banyak waktu berdua, Jaehyun menyadari Sungho diam-diam menikmati limpahan afeksi. Meski ia butuh waktu untuk membiasakan diri; menyesuaikan temponya dengan tempo Jaehyun, seperti menyesuaikan langkah kaki. 

Begitu menemukan ritme yang pas, Sungho bahkan bisa mengembalikan afeksi itu sampai berkali lipat.  

"Aku lupa udah pernah cerita ini atau belum, tapi misalnya kamu nggak minta kontakku waktu itu ... I would still looking for you dengan usahaku sendiri." 

Jaehyun mengedip-ngedipkan mata, campuran antara bingung dan kaget. Selama ini ia mengira dirinya saja yang terpesona di hari pertama dan terang-terangan menunjukkan ketertarikan. Namun ternyata … kesimpulannya salah?

"Kamu bakal nyari semua nama Myung Jaehyun di negara ini, gitu?" 

"Mungkin," ucap Sungho singkat. Ia sepertinya salah tingkah sendiri dengan apa yang baru saja ia ucapkan. Terlepas dari serius tidaknya, di mata Jaehyun, Sungho kini terlihat sangat endearing. Berusaha membuktikan kalau ia tak kalah tertarik sejak hari pertama.

"I told you, you were so cute that day." Suara Sungho semakin mengecil, tapi karena posisi jalan mereka yang masih sangat dekat, Jaehyun bisa menyimaknya dengan baik.

"And deep down i really wanted to wish you a happy birthday." Sungho menatap ke langit seperti sedang mengingat-ingat sesuatu. "Bener, kan? Kita ketemuannya sehari sebelum ultah kamu?" 

"Yeah." Jaehyun tersenyum, semakin mengeratkan genggamannya pada tangan Sungho.

Inilah satu di antara ribuan momen yang membuat Jaehyun menganggap Sungho sebagai malaikatnya. Walau tak selalu terlihat secara gamblang, bukan hanya dirinya yang menyimpan banyak cinta dan ingin meluapkannya. 

 

Rasa hangat kembali menjalar di dada Jaehyun saat mereka sudah berada di supermarket. Ia tak sengaja memergoki Sungho mengambil beberapa snack favorit Jaehyun dan memasukkannya ke dalam keranjang tanpa berpikir dua kali. Kekasihnya itu juga kembali menanyakan apakah ada makanan spesifik yang ingin ia nikmati untuk malam natal, karena ia bertekad untuk memasak sendiri daripada memesan online

Tahun ini Sungho ingin all out menyiapkan Christmas dinner, karena kebetulan mereka belum merayakan ulang tahun Jaehyun dengan proper karena sama-sama sibuk bekerja. Ini juga akan jadi pertama kalinya mereka merayakan sesuatu sejak tinggal seatap. Jaehyun sempat bercanda kalau ia sudah merasa dapat grand prize dengan melihat Sungho di sampingnya tiap bangun tidur, tapi Sungho menonjok perutnya dan bilang kalau cinta saja tak akan membuat kenyang.

“Aku mau bikin cookies juga. Nanti bantu aku ngolah adonannya,” ujar Sungho (yang terdengar seperti sebuah perintah mutlak).

“Banyak banget kayaknya yang mau dibikin, buat dibagi-bagi ke tetangga atau gimana?” tanya Jaehyun sambil menggaruk kepala dan melirik troli belanja yang isinya sudah menggunung. Ia tidak meragukan kemampuan memasak kekasihnya, toh ia sudah sering mencicip hasil trial dan error-nya selama mereka saling mengenal. Tapi ia ragu selera makan mereka setinggi itu, dan perut mereka punya kapasitas untuk bisa menghabiskan semuanya.

“Kamu ngomong gitu kaya nggak pernah ngabisin belasan piring sama adikmu di Haidilao.”

Waduh. Jaehyun meringis, itu bisa terjadi saat ia benar-benar lelah karena pekerjaan dan partner makannya punya brankas sendiri di perutnya. 

“Tapi bener, kok. Kalau kebanyakan bakal dibagi-bagi,” jawab Sungho pada akhirnya, sambil tetap sibuk mengecek harga susu dan mencari-cari merk yang biasa ia beli.

“Kamu juga biasanya bagi-bagi bingkisan natal sebagai bentuk terima kasih, kan.”

Padahal Sungho tidak sedang menatap Jaehyun atau mengucapkan sesuatu yang sangat romantis. Tapi untuk pertama kalinya pada hari itu, Jaehyun tersipu malu sampai hampir menjatuhkan diri ke lantai. Ia yakin mukanya sekarang merah padam, tak kalah dengan sekotak tomat yang ada di tumpukan atas belanjaan.

Selama ini ia dikenal sebagai sosok yang tak ragu meluapkan afeksi pada orang lain, baik dengan sentuhan fisik atau kata-kata manis. Tapi jarang-jarang ada yang memperhatikan kalau ia punya sisi yang sangat apresiatif; tak ragu juga meluapkannya dalam bentuk afirmasi dan kado kecil yang dipikirkan matang-matang. Ia tidak terlalu pusing memikirkan semua yang ia berikan akan disadari atau dibalas dalam bentuk yang sama, karena ia percaya kebaikan itu berbalik padanya di masa depan. 

Namun tentu saja, semua pasal bisa berubah saat ia berhadapan dengan kekasihnya. Kepalanya kembali memutar kilas balik, saat mereka berdiskusi random soal alternatif ‘I love you’, apabila kata tersebut dihapuskan di dunia. Jaehyun menyebutkan banyak pilihan, mulai dari ‘I cherish you’, ‘I care about you’, dan ‘I have so much affection for you’. Sungho sempat berpikir lama — kebiasaannya untuk memikirkan sesuatu secara mendalam padahal sedang membahas topik sederhana. Sampai akhirnya ia menyimpulkan diskusinya dengan diri sendiri dalam satu kalimat:

I remember.’ 

(Mengingat hal-hal kecil tentangmu, bahkan sesuatu yang tak pernah secara sengaja kamu ceritakan atau bagikan padaku, adalah bentuk sederhana dari keinginanku untuk selalu bersamamu.)

 

 

Dalam dua dekade terakhir, Jaehyun belum terpikirkan hal lain lagi yang bisa ia asosiasikan dengan musim dingin.

— Sampai ia bertemu dengan malaikat dunia; yang ia temui sehari sebelum ulang tahunnya. Yang kini memakai syal rajutan kesayangannya dan mengajaknya bersiap-siap merayakan natal bersama. 

Yang mengingat hal-hal kecil tentangnya dan menyadari sesuatu yang mungkin orang lain (atau dirinya sendiri) tidak ketahui, yang selalu menyambut genggaman tangannya dengan canggung, namun tak ragu memberinya dekapan hanya untuk membuat Jaehyun merasa lebih hidup.

 

 

“Aku udah boleh cium kamu, belum?” adalah hal pertama yang Jaehyun tanyakan pada Sungho begitu ia meletakkan belanjaan di lantai dan menutup pintu apartemen mereka.

Jaehyun pikir Sungho akan langsung mundur teratur atau malah kabur, seperti yang kerap ia lakukan kalau tiba-tiba diajak bermesraan. Tapi kali ini kekasihnya tetap berdiri di tempat dan mengulurkan tangannya ke depan, seolah menyuruh Jaehyun untuk segera menangkap dan menariknya ke manapun ia ingin.

Benar saja, yang Sungho lakukan berikutnya adalah tersenyum tipis dan mengucapkan sepatah kata yang membuat Jaehyun ingin pingsan saat itu juga. 

Isn’t that your job?

(Mencium dan memujaku. Berlutut sambil memanjatkan ribuan kata cinta.)

 

— end.