Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 5 of Songfic
Stats:
Published:
2025-06-21
Completed:
2025-06-21
Words:
4,504
Chapters:
4/4
Comments:
2
Kudos:
4
Bookmarks:
2
Hits:
55

Kurelakan (namun jangan hari ini)

Summary:

Kadang-kadang, takdir punya cara untuk bercanda lebih dari yang seharusnya.

Notes:

Song to play: O, Tuan by .Feast

Chapter 1: kenangan di rumah sakit (dan ketakutan akan kematian)

Chapter Text

 

Changbin sangat membenci bau dan udara rumah sakit — menurutnya terlalu kelam dan menunjukkan aura kematian. Waktu dia mengatakannya pada Chan, yang lebih tua hanya tertawa — meski tak begitu lama, sebab setelahnya Chan memegangi kepala, pening karena tertawa agak terlalu keras.

Hari itu, Changbin menambah satu hal lagi yang ia benci ke dalam list-nya yang kian panjang. Dia dengan mudah membenci semua hal yang bisa berpotensi menyakiti Chan, meski Chan kerap kali bilang tingkahnya agak kekanakan; dia tak perlu begitu. Tapi mana bisa, Jisung akan dengan ceria mengambil alih sambil tersenyum, sebab kami terlalu sayang sama Kakak.

Dan Changbin membenci dirinya sendiri karena tidak bisa menjadi lebih dewasa daripada adik kecil mereka yang tahun depan akan memasuki kelas dua SMA. Changbin membenci dirinya untuk banyak hal, dan membenci banyak hal lain karena Chan — dia dengan sukarela mengatakan kalau perannyalah untuk membenci, sebab Chan terlalu baik dan menerima semua yang digariskan dunia untuknya.

Rumah sakit membuatnya jengah, sebab di sudut-sudut yang dia lewati untuk mencapai kamar Chan, pemuda itu bisa melihat pemandangan menyedihkan di berbagai lantai dan ruangan — yang ditinggalkan, yang mengenang, yang tidak mau menerima berita kematian. Dia tahu dia selalu akan punya kemungkinan untuk menjadi salah satu dari mereka yang menangis tersungkur di lantai atau menatap kosong dinding seberang — tapi jauh dalam lubuk hatinya, Changbin selalu berdoa semoga dia bisa menjadi satu dari beberapa yang bersorak saat operasi keluarga atau kerabat mereka berhasil dilakukan; saat pasian dinyatakan bisa pulang dan sembuh total.

“Makan.” Jisung mendorong piring makanan kantin rumah sakit padanya. “Jangan sampai Abang sakit juga. Operasinya besok, kita harus nyambut kesembuhan Kak Chan dengan kondisi sehat.”

Keduanya tahu ucapan barusan lebih seperti manifestasi ketimbang hal yang pasti, namun Changbin menelan fakta itu tanpa membantah dan mengambil piringnya, “Maaf,” katanya.

“Duh, buat apa lagi sih?” Jisung melambai tak sabar, “Abang pasti stres karena sebentar lagi ujian juga, ‘kan? Nggak apa-apa, sekarang jadi tugasku buat gantian nyemangatin Abang! Pasti capek selama ini nyoba jadi kuat demi aku, ‘kan?”

Tidak, Changbin ingin membantah, tapi satu sudut hatinya tahu ucapan Jisung barusan adalah kebenaran.

“Karena Abang pasti ke gereja lagi dan berdoa sendirian sampai pagi,” kata Jisung bijak. “Aku nggak bisa biarin perut Abang kosong selama itu. Tuhan juga nggak mau kalau Abang doanya kelaperan, pasti disuruh ke kantin dulu,” candanya, mau tak mau membuat Changbin tertawa kecil.

“Kamu bener nggak mau Abang anter pulang?”

Yang lebih muda menggeleng mantap, “Aku takut jadi nggak tenang kalau pulang. Gereja nggak begitu jauh dari sini. Walau tetep makan waktu, Abang bisa sampai kapan aja kalau… kalau Kakak kenapa-kenapa. Tapi aku harus nunggu ada yang nganter atau pesen ojek, itu kelamaan.”

Changbin mengangguk paham. “Kabarin kalau ada apa-apa, ya. Jangan sampai baterai handphone-mu habis.”

“Abang juga.”

“Kenapa sama Abang?”

“Jangan…” Jisung memainkan sendoknya ragu, “Jangan sampai kenapa-kenapa.”

Changbin mengerjap, terpekur sejenak mendengarnya. “Abang nggak akan nyerah, Jisung. Kenapa Abang harus nyerah kalau Kakak punya kesempatan buat hidup lebih lama? Lagipula, Abang ‘kan masih punya kamu.”

Jisung menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal, “Cuma… ngomong aja. Besok, ini semua selesai, jadi ayo kita sama-sama kuat buat satu hari lagi.”

“Kak Chan masih harus nginep selama kurang lebih sebulan habis operasi.”

“Tapi besok puncaknya,” bisik Jisung nyaris tak terdengar. Dia menengadah, menatap Changbin dengan sudut mata berair. “Operasinya bakal berhasil ‘kan, Abang?”

Dan sekali lagi, Changbin membenci dirinya yang tak bisa menjawab pertanyaan itu dengan pasti.


 

 

***

 

Changbin tidak mau mengingat sejak kapan penderitaan ini mulai menjalar di hidupnya dan Jisung — bahkan di hidup Chan sendiri, dan dia sepenuhnya yakin kedua saudaranya sama-sama tak ingin mengingat. Mengingat kapan tepatnya gejala-gejala aneh itu menampakkan diri pada tubuh Chan yang memang tak bisa diajak beraktivitas terlalu berat sejak dulu. Yang bisa dia ingat waktu itu adalah Chan sengaja mengabaikan beberapa mimisan dan memar yang kadang muncul, beralasan akan cepat sembuh cukup dengan minum obat dari apotek terdekat.

“Nggak perlu dirawat, nanti siapa yang jaga kamu dan Jisung kalau Kakak nggak ada?” katanya waktu Changbin mengusulkan, meski dia sudah berkeras kalau dirinya seorang diri dapat menjaga Jisung dan Chan tidak perlu mengkhawatirkannya.

Sekeras apa pun Chan menahan dan meyakinkan dunia kalau dia baik-baik saja, pada akhirnya tubuh yang sudah tak lagi sanggup menahan rasa sakit itu terkapar di lantai kamar, sesak dan demam tinggi. Susah payah tanpa membawa Jisung yang masih kecil, Changbin berhasil membawa tubuh lemah kakaknya ke pusat kesehatan terdekat dari tempat tinggal mereka, hanya untuk memperoleh fakta bahwa kondisi Chan tampaknya cukup serius dan perlu tes lebih lanjut di rumah sakit yang lebih besar.

Changbin masih ingat wajah belianya sendiri yang dihadapkan pada banyak berkas dan tes yang harus dilalui; yang sampai sekarang tak bisa ia lupakan, sebab baginya waktu itu, beragam tes itu terlalu asing untuk masuk ke telinganya.

Setelah semua tes yang terasa berjalan sangat lambat dan informasi tentang penyakit sesungguhnya yang diderita Chan ia terima, Changbin ingat betul reaksinya saat itu: dia menolak percaya.

Dua sampai enam kasus per satu juta populasi, jadi kenapa kakaknya harus jadi salah satu yang menyandang gelar pasien dengan diagnosa anemia aplastik itu?

“Nggak apa-apa, Changbin. Masih ada kesempatan.”

“Kalau terlambat sedikit lagi aja, mungkin bener-bener nggak akan ada kesempatan lagi,” kata Changbin putus asa kala itu, sebab itu salahnya — jika dia memaksa Chan lebih awal, setidaknya dia tidak akan merasa sebersalah ini.

“Kamu nggak tahu. Aku juga nggak tahu. Nggak ada yang salah di sini — kalaupun ada, itu aku. Berhenti nyalahin dirimu, ya? Jisung katanya pulang cepet ‘kan, hari ini? Cukup aku aja yang kelihatan nggak semangat.”

Chan selalu memikirkan mereka lebih daripada dirinya sendiri. Selalu dan tidak pernah berubah, pun setelah tahun-tahun mereka lalui bersama; melalui berbagai terapi dan sekian obat yang rutin ia minum untuk membuat tubuhnya membaik. Perkembangannya ada, meski setelah dirasa cukup ‘dewasa’ untuk tahu informasinya sendiri, Changbin tahu satu hal: jika ingin sembuh total, diperlukan transplantasi sumsum tulang yang cocok untuk menggantikan milik Chan yang tak lagi berfungsi.

Terang waktu itu dia langsung mengajukan diri sebagai pendonor, walau hasilnya lagi-lagi mengecewakan: sampel miliknya tak cocok. Pencarian demi pencarian dilakukan dengan Chan yang terus melewati terapi dan minum obat — sesekali, pemuda itu akan tinggal di rumah selama beberapa hari meski ujung-ujungnya harus berakhir di bangsal rumah sakit lagi. Belakangan ketika kondisinya terus memburuk, seperti ada sinyal yang terus-menerus dikirim Chan padanya; seakan waktunya memang sudah tak lama lagi.

Changbin menolak percaya. Changbin tak mau percaya. Dia lebih baik mati daripada harus percaya kalau Chan memang lebih berkemungkinan meninggal ketimbang hidup lebih lama.

“Kalau takdirnya begitu, kita bisa apa?” tanya Chan waktu itu.

“Jangan,” bantah Changbin serak, “Kakak itu orang pertama yang harus percaya kalau Kakak bisa sembuh. Jadi…”

Jadi tolong, tolong…

Pemuda itu menengadah, menatap langit kelabu yang tak juga menjadi cerah seharian ini, seakan —

tidak, tidak lagi. Dia harus percaya kalau ada jalan untuk Chan. Pendonornya ditemukan, operasinya sudah dijadwalkan. Sisa perawatan yang harus dilalui sebelum operasi juga sudah Chan lewati, jadi semuanya akan berjalan baik, dan mereka akan kembali bersama-sama lagi.

Pelan, pemuda itu memasuki bangunan gereja yang sudah tampak agak lusuh dan sepi. Gereja ini sudah tak lagi sering digunakan karena ada satu bangunan lain yang dibangun lumayan jauh dari sana, lebih megah dan layak untuk berdoa — tapi jaraknya terlalu jauh, dan Changbin tidak mau ambil resiko terlalu banyak seandainya terjadi apa-apa nanti.

Pemuda itu menutup pintu di belakangnya, berusaha tak bersuara meski tak ada siapa pun di sana. Dia berjalan ke arah salah satu bangku, duduk setelah menghela napas panjang.

Sudah menjadi kebiasaannya untuk terus berdoa di sini tiap kali dia memiliki waktu luang dan Chan sedang dirawat, jadi dia sudah terbiasa dengan kesendirian dan atmosfer ruangan sepi ini. Dia bisa menghabiskan berjam-jam, bahkan berhari-hari berdoa dalam ruangan ini, tidak diganggu oleh siapa-siapa dan hanya memanjatkan doa pada Tuhan agar malapetaka yang menimpa kakaknya segera berlalu. Dia bahkan pernah berdoa agar penyakit sialan itu dipindahkan saja padanya, meski Changbin tahu Chan tidak akan suka dengan doanya yang seperti itu.

Memejamkan mata, pemuda itu menggenggam kedua tangan, khusyuk meski dia tidak tahu lagi harus berdoa seperti apa kali ini. Sudah sepuluh tahun lebih, setiap hari dalam jangka waktu itu, setiap detik tanpa pernah terhenti, jadi kenapa? Kenapa kakak sulungnya tidak kunjung membaik setelah minum sekian banyak obat dan melalui terapi yang tak terhitung jumlahnya? Jika besok — jika besok — harapan terakhir mereka masih gagal, apa yang harus dia lakukan?

“Kalau nggak ada Kakak, kamu harus bisa jaga Jisung, ya?”

Persetan, dia tidak mau sok jadi kakak yang kuat bagi bungsu mereka, tidak saat dia sendiri sama lemah dan takutnya akan ditinggalkan. Detik terakhir sebelum dia meninggalkan Chan di ruangannya tadi, pesan itu dibisikkan lagi di telinganya, seolah benar-benar adalah sebuah pesan terakhir yang kali ini tidak bisa Changbin abaikan.

Dia harus rela, dia harus menerima.

Iya, katanya pada Chan waktu itu, tapi nggak hari ini. Nggak besok juga. Nggak lusa. Tolong bertahan satu hari lagi buat kami, tolong bertahan dengan pikiran itu setiap harinya.

Dengan begitu kita akan bisa bersama lebih lama lagi

Selalu begitu akhirnya. Dia pasti harus merelakan, dia pasti akan berusaha merelakan, tapi tidak hari ini, tidak besok, tidak lusa.

Tidak akan ada sehari pun di mana dia bisa hidup tanpa kakaknya, jadi tolong, teriaknya pada hening yang mengelilingi, tolong beri kakak kami satu kesempatan lagi.


 

 

***

 

Doanya terkabul.

Doanya terkabul.

Dia jadi bagian dari mereka yang berbahagia meski sama-sama tersungkur di lantai, sebab ucapan dan senyum dokter yang barusan masuk ke telinganya rasanya terlalu indah untuk jadi nyata. Changbin memeluk Jisung yang sudah terlihat sangat mengantuk di sisinya, berkali-kali membisikkan rasa syukur yang tak terhitung jumlahnya.

Mereka akan kembali ke keseharian mereka yang biasa sebelum Chan didiagnosa sakit dan memerlukan perawatan setiap harinya. Mereka akan kembali.

Doanya terkabul.

Changbin mendengarkan dengan khidmat saat dokter yang bertugas menyampaikan beberapa prosedur yang harus dilakukan setelah Chan sadar nanti, tentang berapa lama lagi pemuda itu harus dirawat di rumah sakit untuk memastikan tidak ada efek samping yang berbahaya. Dia masih harus khawatir setidaknya di seratus hari pertama, ucap si dokter, untuk sepenuhnya yakin bahwa tidak ada graft rejection alias penolakan cangkok dari proses transplantasi yang dilakukan.

Changbin mengangguk paham — dia masih terlalu dilanda euforia bahwa kakaknya benar-benar akan membaik. Kakaknya akan pulang. Kembali pada mereka, kembali seperti dulu.

“Abang…”

Changbin menoleh, dan netranya berserobok tepat dengan mata Jisung yang sudah kepalang basah.

“Ini bukan mimpi, ‘kan?”

Kali ini, Changbin dengan senang hati menggeleng — kali ini, dia bisa berikan jawaban pasti: ini memang bukan mimpi.