Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-10-14
Words:
1,354
Chapters:
1/1
Kudos:
33
Bookmarks:
2
Hits:
298

Entrée

Summary:

Masa iya sih melihat senyum Tristan bisa diklasifikasikan sebagai penyebab nyeri dada?

Notes:

Mingyu as Gema
Minghao as Tristan

Work Text:

“Ikut ngadem bentar ya, Pak,” ucap Gema sambil tersenyum pada kedua bapak-bapak security di pos satpam belakang kantor. 

 

“Mari, Mas, silakan.”

 

Gema menganggukkan kepala lalu bergegas duduk di teras pos satpam yang juga berfungsi sebagai smoking area dadakan setiap kali jam istirahat tiba. Dia mengeluarkan gawainya dari dalam saku, mengeceknya sebentar barangkali ada notifikasi penting, lalu memasukkannya kembali dalam saku kemejanya sembari menghela napas panjang. Terkadang, menjadi manusia yang mampu menyelesaikan pekerjaan dengan cepat itu menyebalkan.

 

Hanya karena Gema sudah menyelesaikan bagiannya dua hari lebih cepat dari yang ditentukan, ia jadi diberi tugas tambahan untuk mengerjakan bagian rekan-rekan tim lainnya. Tadinya dia merasa tak keberatan dengan hal ini, sampai akhirnya Gema menyadari bahwa sebetulnya ia sedang dijebak oleh ketua timnya untuk mengerjakan bagian tersulit dari keseluruhan proyek ini tanpa persetujuannya.

 

Gema marah, tentu saja. Akan tetapi jika dia meledak marah begitu saja, yang ada malah ketua timnya akan memutar balikkan fakta sedemikian rupa sampai Gema yang harus mengalah, makanya dia memutuskan untuk melewatkan makan siang dan berpikir dengan kepala dingin bagaimana caranya dia bisa berkelit dari sesuatu yang bukan merupakan tanggung jawabnya. 

 

Tangannya sedang membuka bungkus rokok ketika ekor matanya menangkap sosok Tristan yang berjalan mengendap-endap sambil memeluk belasan (atau mungkin puluhan, Gema juga tidak yakin) cup agar-agar berwarna hijau. Gema mengangkat kepala dan matanya berserobok dengan mata Tristan. Keduanya bertukar pandangan dalam diam selama beberapa detik dan Tristan menelan ludahnya sebelum berdeham dengan kikuk, “mm, anu…”

 

Sebelum sempat Tristan menjawab, datang seorang bapak-bapak berusia lanjut dengan langkah tergesa sembari menenteng kresek hitam. Mendengar suara langkah kaki yang cukup berisik itu, Tristan lalu menoleh ke arah bapak itu, “Mas! Mas! Astaga ya ampun, Mas, akhirnya kekejar juga…”

 

“Loh, Bapak kenapa nyusulin saya?”

 

“Ini kreseknya ketinggalan Mas. Saya lupa kalo ternyata saya nyelipin kresek cadangan di tas pinggang. Masukin dulu aja agernya ke kresek ini sambil saya cariin kresek lain yang lebih gede biar Masnya lebih enak bawanya.”

 

“Eh, gak usah, Pak, gak apa-apa. Ini saya tinggal jalan ke dalam gedung aja kok.”

 

“Nanti jatoh loh Mas, kan kasian nanti teman-temannya ndak kebagian.”

 

“Beneran Pak, gak usah,” tolak Tristan sehalus mungkin. Lelaki itu menoleh ke arah Gema, seolah meminta bantuannya supaya bapak penjual agar tak perlu mencarikan kresek tambahan untuknya.

 

Gema mengangguk kecil lalu mengantongi rokoknya ke saku celana. Dia berdiri dan menghampiri Tristan, “gak usah, Pak. Gak apa-apa. Saya aja yang bantuin bawa agernya sampe dalem.”

 

Bapak penjual terlihat ragu namun setelah melihat Gema mengambil sebagian cup dari tangan Tristan, akhirnya beliau berkata, “Oalah, ya sudah kalau begitu. Sehat-sehat ya Mas-Mas sekalian, terima kasih sekali lagi sudah mborong jualan saya.”

 

“Sama-sama Pak. Hati-hati pulangnya.”

 

Bapak itu mengangguk dan berjalan menjauh dari gerbang belakang. Tristan menoleh ke arah Gema lalu mengucap, “sori, jadi ganggu waktu istirahatnya.”

 

“Santai aja,” jawab Gema ringan, “mau langsung ke atas?”

 

“Iya kayaknya, soalnya agak ribet juga kalo mau mampir-mampir bawa banyak barang. Eh, tapi kalo lo masih mau nyantai di sini, taro aja agernya di pos satpam biar gue minta tolong Pak Robi ke bawah buat bantuin.”

 

“Gak apa-apa, Tan. Lagian kasian Pak Robi lagi enak-enak istirahat malah digangguin.”

 

“Ya udah kalo gitu,” jawab Tristan pasrah sambil berjalan kembali menuju gedung tempat kantor mereka berada. “Makasih ya, Gema.”

 

“Sama-sama.”

 

Keduanya kembali terdiam sampai akhirnya mereka tiba di lobi. Tristan melirik sebentar ke arah Gema sebelum bertanya, “lo gak penasaran kenapa gue ngeborong ager? Biasanya kan orang-orang kalo liat ada yang jajan sebanyak itu, pasti muncul pertanyaan apakah ada occasions tertentu yang mengharuskan gue ngabisin dagangan orang.”

 

Gema mendengus dan mengangkat bahu, “gue gak sekepo itu sih, Tan, untungnya. Lagian kalo pun gue memang sepenasaran itu, kayanya gue bisa nebak sendiri kalo alasan lo begitu sesimpel karena gak tega sama yang jualan.” Ia menoleh pada Tristan yang memandangnya ingin tahu, “bener gak?”

 

“Yah, gak salah sih…”

 

Don’t get me wrong, ya, karena gue juga pernah ada di posisi lo. Waktu itu gue lagi milih minggir di salah satu halte buat neduh karena hujan tiba-tiba dan kebetulan gue gak bawa jas hujan di motor. Gak lama setelah gue neduh, ada bapak-bapak penjual siomay yang juga lupa gak bawa payung. Karena gak tega liat beliau gak bisa jualan keliling, akhirnya gue beli beberapa porsi, sekalian traktir sesama pemotor yang juga kehujanan,” jelas Gema panjang lebar sembari balas memandang Tristan lurus-lurus. “Beli karena gak tega itu gak salah kok, Tan. Justru karena kita udah beli, penjual-penjual yang tadinya pesimis sama nasib mereka hari ini malah bikin mereka yakin kalo pada akhirnya semesta pasti akan mengulurkan bantuan pada siapapun yang gak pernah lelah berusaha.”

 

“Iya, gue paham kok.”

 

Pintu lift berdenting membuka sebelum Tristan bisa membuka percakapan lebih lanjut. “Yuk?” ujar Gema sambil mengedikkan kepala ke arah lift, “keburu anak-anak bubar dari pantry?”

 

Tristan mengangguk. Lelaki itu tak berusaha membuka percakapan kembali dengan Gema hingga akhirnya Tristan disambut dengan seruan tak percaya teman-temannya setibanya mereka di pintu pantry.

 

“Buset, Tan, beneran ngidam jajanan SD ya? Sampe ngeborong gini?”

 

“Nemu dimana ini, Tan? Bukannya yang jualan ager gini udah jarang ya?”

 

Tristan meletakkan cup agar-agar dari pelukannya ke atas meja lalu menjawab, “hehe, iya lagi ngidam. Tadi iseng jalan ke SD itu loh, yang kalo kita dari warteg Bu Sari masih jalan lagi nyusurin gang. Kebeneran pas mau jajan cilor gak sengaja liat yang jualan ager gitu, terus waktu mau beli bapak penjualnya gak punya kembalian jadi ya udah deh aku jajan aja seharga sama uang yang aku kasih. Ternyata harganya murah banget sampe gak sadar kalo jadinya malah ngeborong.”

 

“Ya ampun, Kak, ada-ada aja.”

 

“Namanya juga ngidam, Dimi,” sahut Tristan yang lantas mencebik, pura-pura tak terima. “Eh, ini abisin ya guys. Mau ambil banyak juga gak apa-apa. Yang mau makan ager pake fla ala-ala, nih gue juga udah beli susu kental manisnya.”

 

“Niat amat, Tristan…”

 

“Namanya juga ngidam?” ulang Tristan sambil berkacak pinggang, “ayo, guys, bantuin abisin keburu selesai istirahatnya.”

 

Teman-teman Tristan dan beberapa coworker lainnya dengan segera menyerbu agar-agar di meja dan berebut susu kental manis. Tristan tertawa puas, senang melihat agar-agar Bapak diperebutkan oleh teman-temannya. Tanpa sadar, sudut bibir Gema melengkung ke atas melihatnya. 

 

Gema menarik napas lalu diam-diam mengambil dua cup agar-agar dari meja. Sebisa mungkin, dia tak mau terlihat oleh Tristan. Akan tetapi saat dia hendak berbalik menjauh, matanya tak sengaja bertatapan dengan mata Tristan. Lelaki itu tersenyum, manis sekali sampai dada Gema terasa sakit, lalu mengucap tanpa suara, “makasih ya Gema.”

 

Ia tak sebodoh itu untuk memahami ucapan terima kasih Tristan dimaksudkan kemana, namun entah kenapa kepalanya mulai bermonolog seru, membuat asumsi tak masuk akal yang Gema tahu ujungnya kemana. Sebelum akhirnya dia gila karena kepalanya sendiri, Gema buru-buru mengangguk, berpamitan pada Tristan sebelum keluar dari pantry dan melesat kembali menuju ruangannya.

 

“Lah, gak istirahat?” seru Sena dari pintu ruangan saat lelaki itu hendak kembali ke ruangannya.

 

Gema menggelengkan kepala tanpa menoleh ke arah Sena, yang lantas berjalan mendekati mejanya karena curiga atas reaksinya yang begitu datar, “Gem, lo sakit ya?”

 

“Sakit dari mana sih, orang sehat bugar begini.”

 

“Dih, mana ada orang sehat mukanya merah begitu. Demam itu.”

 

“Ngaco banget lo, Sen, sumpah.”

 

“Lah?” balas Sena tak terima, “ngaca sono kalo gak percaya!”

 

Gema meraih gawainya dan membuka kamera depan, memastikan dengan mata kepala sendiri apakah warna mukanya benar-benar merah seperti perkataan Sena.

 

“Kan, merah! Mau gue bawain paracetamol gak? Kayanya gue masih ada stok di laci,” tawar Sena ketika melihat Gema memegang wajahnya tak percaya.

 

“Gak usah, Sen. Bukan merah demam kok ini.”

 

Sena mengangkat sebelah alisnya tak percaya. Mulutnya membuka hendak melemparkan pertanyaan namun Gema dengan cepat memotong niatnya dengan berkata, “pokoknya ada deh.”

 

Lelaki di hadapannya itu masih betah memasang ekspresi tak percayanya sehingga Gema hanya bisa berkata pasrah, menutup pembicaraan, “ntar gue cerita deh kapan-kapan.”

 

Sena terdiam selama beberapa detik menimbang-nimbang janji semu Gema. Tetapi setelah melihat bahwa Gema sudah enggan melanjutkan percakapan, Sena akhirnya mengalah dan membalas, “oke.”

 

Gema melambaikan tangan pada Sena, mengusir lelaki itu secara terang-terangan. Dia mengawasi Sena yang berbalik keluar dari ruangannya lalu menghela napas panjang setelah lelaki itu betul-betul menghilang dari pandangannya. Entah kenapa Gema yakin sekali jika sudah tiba saatnya untuk bercerita, Sena pasti akan meledeknya habis-habisan sampai wajahnya naik satu tingkat melebihi kemerahan yang dia alami barusan.