Work Text:
Busur itu terasa berat pagi ini. Lebih berat dari biasanya. Lebih berat dari latihan rutin jam 5 pagi yang ia jalani selama bertahun-tahun. Lebih berat dari embusan angin yang menusuk melalui kaus ketat berlogo tim nasional yang kini melekat di kulit basahnya.
Seokmin berdiri di garis tembak, nafasnya pelan namun tidak stabil. Suara dari speaker lapangan mengumumkan giliran tembak ke-10. Tepuk tangan menggema samar, tapi bukan itu yang membuat tengkuknya dingin.
Bukan medali. Bukan pelatih. Bukan publik.
Tapi pria itu.
Pria berjas hitam, duduk dengan santai di kursi VIP paling belakang. Kacamata gelap menutupi matanya, tapi Seokmin tahu tatapan itu tertuju padanya. Tatapan yang menuntut. Menyuruh. Mengancam dan menjanjikan sekaligus.
“Kalau kau menang hari ini, kau boleh tidur di tempat tidur malam ini,” bisik pria itu semalam, dengan jari menggurat lembut punggungnya. “Kalau tidak—kau tahu di mana harus berlutut. Di depan cermin. Tanpa suara.”
Seokmin menggigit bibir. Ia tidak boleh gagal.
Nafas ditarik panjang. Busur ditarik perlahan. Otot punggungnya menegang, dan satu titik fokus mengunci di tengah lingkaran kuning.
“Tembak aku dengan baik, sweetheart. Daddy sedang melihat.”
Suara itu seperti gema, bergema dalam pikirannya sendiri, bukan dari siapa-siapa. Tapi ia mendengarnya. Selalu mendengarnya.
Lepas.
Anak panah melesat, dan suara khas “thwack” menancap di papan. Tepuk tangan berdengung, tapi Seokmin tidak mendengarnya. Ia hanya mendongak perlahan, memutar kepala sedikit… dan melihat anggukan pelan dari pria itu.
Senyuman tipis. Tidak puas, tapi mengizinkan.
Sore harinya, saat mobil hitam dengan kaca gelap berhenti di depan apartemennya, Seokmin tahu bahwa tubuhnya bukan miliknya malam ini.
“Kau gugup?” tanya pria itu, membuka pintu belakang dan membiarkan Seokmin masuk.
Seokmin hanya mengangguk pelan, tubuhnya masuk dengan cara seperti hafalan—lutut dulu, lalu punggung lurus, lalu tangan rapi di atas pangkuan.
“Baju tim-mu masih basah. Menang, tapi tidak sempurna.”
Nada suara itu rendah. Tidak marah. Tapi itu justru lebih menegangkan.
“Maaf, Daddy,” ucap Seokmin, pelan. Jemarinya mencengkeram sisi kursi. “Saya… sempat goyah di tembakan ke-7.”
Pria itu meliriknya. Satu alis terangkat.
“Kau tahu artinya, kan?”
Seokmin menelan ludah.
“Iya, Daddy. Saya siap dihukum.”
Apartemen pria itu seperti galeri—dingin, bersih, mewah. Tidak ada tempat untuk ketidaksempurnaan. Dan Seokmin tahu tubuhnya malam ini akan menjadi medium koreksi, tempat di mana kesalahan di lapangan akan ditebus dengan peluh dan gesekan.
Ia berdiri di tengah ruangan seperti patung. Kaus dibuka pelan, memamerkan garis tubuhnya yang ramping, dada yang sedikit bergetar karena udara AC yang dingin, dan paha yang merapat.
“Posisi,” perintah pria itu pendek.
Seokmin berlutut perlahan. Tangan ke belakang. Dagu terangkat. Tatapan tunduk.
“Kau tahu kenapa Daddy marah?” tanya pria itu sambil berjalan memutar.
“Karena saya tidak sempurna,” jawab Seokmin.
“Karena kau menahan orgasme di latihan semalam—dan kau kira Daddy tidak tahu,” gumam pria itu di telinganya, napasnya hangat. “Dan kau gagal tembakan ke-7. Kau keras kepala.”
Sebuah tangan membelai paha bagian dalam Seokmin, membuat tubuhnya menegang seketika.
“Daddy tidak suka menahan. Jadi malam ini kau tidak akan menahan apapun.”
Suara itu menyayat pelan seperti pisau yang diasah dengan sabar.
Apa yang terjadi malam itu bukan tentang seks. Itu tentang kekuasaan. Tentang disiplin. Tentang membongkar kepercayaan diri Seokmin hingga ke akar—kemudian merangkainya kembali.
Tangisan Seokmin terdengar lembut, tertahan, namun putus-putus. Bukan karena sakit. Tapi karena terlalu banyak. Terlalu lama. Terlalu dalam. Overstimulation yang dikemas dengan bisikan-bisikan manis.
“Aku tidak kuat, Daddy… ahh…”
“Oh, sweetheart,” suara itu mendesah lembut, “Tapi Daddy bilang belum selesai.”
“Tubuhku… rasanya… bergetar… semua...”
Tangan besar itu menahan pinggangnya, dan suara ciuman panjang mendarat di tulang punggungnya.
“Kau anak yang sangat baik… tapi perlu belajar lebih keras untuk menjadi sempurna.”
Terlalu banyak. Terlalu lama. Terlalu penuh.
Boypussy-nya basah, berdenyut, dan tidak ada jeda untuk menyembunyikan rasa.
Setelahnya, Seokmin terbaring di ranjang besar dengan tubuh penuh peluh, napas tersendat, namun wajahnya damai.
Lengan besar memeluknya dari belakang, dan suara itu berubah hangat, menenangkan.
“Kau berhasil, Seokmin. Daddy bangga. Tapi Daddy tidak ingin kau hanya menang. Daddy ingin kau mencintai rasa kalah, agar kau lebih menghargai kemenangan.”
Seokmin memejamkan mata. Suara itu seperti selimut.
“Terima kasih, Daddy… Aku akan menang lagi… Besok.”
“Bagus,” bisik pria itu. “Karena Daddy punya hadiah.”
Seokmin membuka mata, lelah namun penasaran.
“Apa hadiahnya?”
Pria itu tersenyum kecil, mencium lembut tengkuknya.
“Malam ini, kau boleh tidur di pelukan Daddy. Tanpa tali. Tanpa perintah. Hanya dirimu… dan cintaku yang diam-diam kejam.”
