Work Text:
Aglaea tidak paham dengan Anaxa. Begitu juga Anaxa tidak paham dengan Aglaea. Kalau saja komunikasi ada dalam kamus mereka, mungkin hubungan mereka tidak akan selalu tegang?
Anaxagoras atau kerap dipanggil Anaxa, meskipun sang pemilik nama tidak begitu menyukainya, adalah kekasih dari Aglaea. Keduanya kini duduk di bangku kelas 12 SMA. Kelas yang cukup riskan lantaran tak jarang sepasang kekasih putus di waktu ini.
"Kak, tadi kayaknya dicariin kak Anaxa deh?" celetuk Hyachine saat bertemu Aglaea di perpustakaan.
Aglaea menoleh dengan ekspresi tak peduli, "oh iya?"
"Iya. Lagi berantem kah?" Hyachine mengambil tempat duduk di sebelahnya.
Aglaea menghela napas dengan ekspresinya yang dingin lalu fokus pada buku catatan dan buku latihan di depannya, "biasanya juga gini, Hyachine."
Hyachine hanya mendengarkan, tidak berani berkomentar dan mengganggunya lagi. Barangkali memang mereka sedang ada masalah? Bukan ranah Hyachine untuk bisa ikut campur.
Namun, sebenarnya apa yang dikatakan Hyachine itu benar. Beberapa saat yang lalu Anaxa mencari Aglaea untuk memberikan roti dan susu. Lelaki itu paham kalau Aglaea tidak akan memakan apapun dari pagi, tetapi ia akan langsung pergi belajar untuk ujian perguruan tinggi.
Oleh karena itulah, biasanya Anaxa akan menjemput Aglaea sekaligus membawakannya roti saat berangkat sekolah. Namun, pagi ini berbeda. Aglaea sudah terlebih dahulu berangkat saat Anaxa sampai di rumahnya.
"Sial. Pasti karena semalam," pikirnya saat mengetahui Aglaea telah pergi.
Ia berusaha untuk menghubungi sang gadis. Namun, tidak ada satu panggilan maupun pesan yang dibalas. Meskipun terlihat tenang, tapi pikirannya kini berantakan karena sang gadis tak ada kabar.
Sesampainya di sekolah, ia segera menuju kelas Aglaea. Ia perhatikan meja biasa tempat Aglaea duduk sekilas dari pintu, tapi tidak ada. Sikapnya tetap tenang sampai orang yang tidak memahaminya tidak akan tahu kalau ia sedang mencari sang kekasih.
Anaxa hanya bisa menghela napas di lorong sekolah. Hyachine kebetulan lewat lorong tersebut dan menghampirinya, "kakak nyariin Kak Aglaea?"
Anaxa menoleh dan menjawab dengan tidak jujur, "enggak."
Namun, Hyachine bukanlah orang biasa. Ia paham dengan kebiasaan sepasang kekasih ini.
"Tadi kayaknya kak Aglaea pergi bawa buku tebel gitu deh habis dari kelasnya."
Anaxa menerima informasi tersebut dengan anggukan, "oke makasih," dan kemudian pergi.
Ia memang tidak langsung menghampiri sang gadis meskipun ia tahu kira-kira ada di mana Aglaea berada. Ia memilih untuk menenangkan diri terlebih dahulu sebelum bertemu Aglaea.
Semalam, adalah penyebab dari semua ini. Saat itu, Anaxa dan Aglaea tengah duduk bersama di sebuah kafe sembari belajar bersama hingga pukul 8 malam.
"Aglaea," panggil sang lelaki.
Aglaea menoleh, "iya?"
"Kayaknya aku mau ambil universitas di luar kota."
Sebaris kalimat itu berhasil membuat Aglaea terdiam menatap Anaxa tak percaya.
"Luar kota?"
"Iya," Anaxa balas menatap Aglaea. Sorot matanya penuh keyakinan.
Berkebalikan dengan Aglaea. Sorot matanya tampak meredup. Seakan ribuan benang yang sedang disatukan putus secara bersamaan. Lidahnya kelu, pikirannya berusaha memproses informasi yang ia terima.
Berbagai macam kemungkinan melintas bersamaan dalam pikirannya, yang tentu ia tak mau kemungkinan itu terjadi karena merupakan hal yang buruk.
Melihat hal itu, Anaxa berusaha menggapai tangan kiri Aglaea yang berada di seberangnya. Namun, sang gadis menghindarinya.
"Aglaea-"
"Luar kota, ya? Mungkin memang itu yang terbaik," komentar sang gadis.
Aglaea segera membereskan buku dan alat tulisnya lalu memasukkannya dalam tas.
"Di mana? Grove?" lanjut sang gadis dengan nada datar karena ia menahan perasaannya.
Sang lelaki mengangguk perlahan. Ia tahu, pasti kekasihnya akan tidak terima dengan keinginan yang ia sebutkan secara mendadak.
Sang puan lalu tersenyum paksa, "bagus kok, cocok sama kamu". Kemudian ia berdiri dan berpamitan, "udah jam 8, aku pulang dulu, ya."
"Aku anter-"
"Gak perlu," jawab sang puan secepat mungkin sebelum akhirnya pergi.
"Haah.. kebiasaan gak mau denger lebih lanjut," batin sang lelaki.
Itulah yang terjadi semalam.
Kembali pada saat ini, jam istirahat. Aglaea masih berada di perpustakaan. Anaxa tahu itu karena Phainon melihat dan memberitahunya.
Dirinya sudah lebih tenang saat ini. Ia bahkan sudah siap kalau nanti sang gadis akan memukulnya atau melempar sesuatu ke arahnya, meskipun Aglaea bukan tipe yang seperti itu.
Tangannya membuka pintu perpustakaan, kakinya perlahan melangkah masuk, menemukan sang gadis berambut pirang sedang menidurkan kepalanya di meja.
Perlahan ia dekati sang gadis, meletakkan tangannya pada rambut pirang dan perlahan mengelusnya. Kepalanya mendekat pada kepala sang gadis.
"Aglaea," panggilnya dengan suara lembut yang bisa ia tunjukkan pada sang kekasih.
"Ngapain ke sini?" balas Aglaea masih dengan menidurkan kepalanya, "mending belajar aja sana," suaranya sedikit serak.
Anaxa mengernyitkan dahi, "Aglaea?"
Perlahan Aglaea membangunkan kepala, melihat sang kekasih dengan mata sendu. Ia tidak menangis, tapi jelas di matanya ia merasa kesal dan sedih.
Anaxa meletakkan plastik yang berisi beberapa macam jajanan untuk sang gadis di meja lalu mengambil tempat duduk di sebelahnya.
"Meskipun aku ke luar kota, bukan berarti kita berpisah, Aglaea," ujar sang lelaki meyakinkan.
"Tapi kamu jadi jauh," bantah Aglaea.
"Iya, memang. Tapi bukan berarti aku gak bisa balik ke Okhema, kan?"
Aglaea terdiam. Ia terlalu fokus pada kondisi ia akan ditinggalkan sampai tak terpikirkan solusi pada dirinya.
Anaxa menyeringai sedikit, "nggak kepikiran ya?" lalu melanjutkan perkataannya, "aku bakal balik seminggu sekali."
Aglaea menatap Anaxa, secercah harapan tampak pada matanya meskipun wajahnya tidak berekspresi apapun.
"Tenang aja-"
"Tapi jadi harus seminggu sekali. Sekali doang," Aglaea merengut sedikit.
"Since when you being so needy like this, hm?"
"Ah, udahlah males," Aglaea ingin segera berdiri namun ditahan untuk tetap duduk oleh sang lelaki.
"Tunggu dulu. Aku serius. Aku bakalan balik seminggu sekali. Aku nggak pernah main-main, Aglaea," tatapan matanya serius.
Ia melanjutkan perkataannya, "aku memutuskan hal ini juga dengan pertimbangan. Aku nggak mungkin nggak mikirin kamu, tapi aku juga punya keinginan sama kayak kamu di sini. Jadi, kamu tenang aja."
Aglaea paham maksudnya. Aglaea paham juga, Anaxa bukan tipe yang suka bercanda dalam hal ini. Ia bahkan akan lebih memilih penelitiannya ketimbang yang lain. Itu artinya suatu keputusan yang ia perbuat selain dari penelitian sudah masuk dalam perhitungannya.
Keputusan itu adalah Aglaea. Sebanyak apapun mereka beradu argumen, mereka akan perlahan kembali menemukan solusi.
Kini keduanya saling bertatapan. Tatapan Anaxa melembut, sedikit menenangkan sang gadis. Anaxa sangat memahami Aglaea jauh di dalam hatinya tanpa harus Aglaea mengatakannya secara verbal. Namun, bukan Anaxa namanya kalau ia mengumbar kepedulian secara terang-terangan.
Tangan kanannya mendarat lembut pada pucuk kepala sang gadis, "makanya kalo orang ngomong didengerin dulu sampai selesai."
Wajah Aglaea sedikit memerah entah karena malu atau kesal, mungkin keduanya. Lantas segera menyingkirkan tangan sang lelaki dari kepalanya.
"Ya," balas sang gadis singkat sambil memutar matanya. Anaxa tersenyum melihatnya.
Perlahan Aglaea melembut, mengizinkan dan menerima bila nanti Anaxa harus pergi. Toh nanti juga akan kembali, tidak selamanya pergi.
"Baikan?" tanya Anaxa meyakinkan.
"Baikan."
Semenjak saat itu, Aglaea belajar untuk mendengarkan perkataan Anaxa dan menyampaikan perasaannya agar tidak terjadi kesalahpahaman lagi. Meskipun sulit, tetapi keduanya tetap berusaha untuk menjaga hubungan satu sama lain. Siapa yang tahu mungkin nanti akan berlanjut sampai jenjang yang lebih tinggi?
