Work Text:
"You should stop staring at me with those eyes, Kim,"
Mingyu tersentak mendengar suara yang tiba-tiba muncul di belakangnya. Terlebih dengan cara suara yang sangat familiar itu menyebut namanya. Dalam dan berat.
Jeon Wonwoo.
Netra mereka bertemu di cermin. Tidak ada siapapun di bilik toilet lantai 3 itu kecuali dua anak adam itu.
"Shit. You're startling me, Jeon. Bisa loh kasih aba-aba."
Pria berkacamata itu hanya diam kemudian bersandar di sekat bilik 2 dan 3, ujung bibirnya naik menyunggingkan senyum tipis.
Mingyu tidak suka ini. Jantungnya berdegup lebih cepat dari sebelum ia kabur setelah rapat selesai. Bagaimana tidak? Alasan dia kabur sedang memerangkapnya di sini.
"Why you're here?"
"Why were you?"
"Um? Taking a piss?"
Lalu Jeon Wonwoo tertawa. Bukan tertawa sinis atau merendahkan. Dia tertawa seperti ada lelucon yang benar-benar lucu di hadapannya.
"Of course you are, Mr. Bobpul69,"
Itu, dan Mingyu bisa merasakan keringat dingin mengalir di punggungnya.
Fuck.
"H-how did you-"
"How do I know? Harusnya lo jangan pake nama anjing lo buat username. I have a pretty good memory, you know."
Kepanikan Mingyu sekarang berubah menjadi rasa malu. Ia menghela napas sambil menutupi wajahnya yang mungkin bak kepiting rebus saat ini.
"Shit, my bad."
"Makasih buat donasi-donasinya loh."
"Fuck you, Jeon." Cecar Mingyu yang sekarang sudah jongkok di samping wastafel masih sambil menutupi wajahnya. Ia yakin sekarang telinganya juga sudah merah.
"Lo nggak kepo gue beli apa pake donasi lo?"
Mendengar hal itu, Mingyu terperanjat dan menatap Wonwoo yang masih menyunggingkan senyum. Mingyu terdiam, masih menatap mata Wonwoo lekat-lekat.
"What do you want?"
"Can you fulfill it if I tell you?" Jeon Wonwoo membuka suara.
Mingyu kemudian berdiri. Jantungnya berdegup semakin cepat.
Wonwoo berjalan mendekat perlahan dan berhenti tepat di depan Mingyu. Sangat dekat. Mingyu bisa merasakan napas Wonwoo di wajahnya. Mata mereka masih tertaut, menunggu, tidak tahu siapa yang akan memulai atau apa yang harus dimulai. Or it's just Mingyu and his cowardly ass.
Karena kemudian dia bisa merasakan hangat di bibirnya. Namun kehangatan itu hilang secepat dia datang. Dan Mingyu bisa melihat sang finance manager itu tersenyum ketika bibir mereka berpisah.
It's his cue.
Tanpa menunggu lama, bibir mereka bertemu lagi. Kali ini lebih panas, lebih basah, lebih kotor. Mingyu yang memulai. Lidah mereka saling beradu, saliva mereka saling menyatu. Semakin Wonwoo membuka mulutnya, semakin Mingyu menunjukkan dominasi.
Suara kecipak basah meraung di toilet lantai 3.
Tangan pria berkacamata itu sudah terkatung di leher pria yang lebih besar. Sedangkan Mingyu? Sudah menggerayangi seluruh tubuh pria berkacamata itu.
Tangan Mingyu yang tadinya tidak berhenti memindai seluruh lekuk tubuh pria dihadapannya, kini berhenti di bagian belakang Wonwoo dan meremasnya pelan. Menimbulkan suara keenakan dari sang empu.
Ketika mereka akhirnya memutuskan kalau keduanya sama-sama membutuhkan oksigen, Mingyu menatap Wonwoo yang kini bibirnya sudah membengkak kemerahan. Kacamatanya miring, dahinya mulai basah karena keringat.
"Fuck, Jeon... gila lo," ucap Mingyu masih sambil meremas dua bilah sintal milik Wonwoo.
"Wanna continue?"
Mingyu menjawab dengan kembali merengkuh pinggang Wonwoo hingga menimbulkan friksi pada kedua bagian selatan mereka yang hanya dipisahkan oleh kain celana masing-masing. Lenguhan pelan yang menyelinap dari bibir Wonwoo menyalurkan aliran listrik ke penisnya yang mulai sesak.
Mingyu kembali melumat bibir ranum Wonwoo sambil menikmati gesekan dari kucing birahi di pelukannya. Sangat memabukkan.
Bibir mereka masih bertaut, mengejar satu sama lain ketika Mingyu perlahan mengarahkan Wonwoo menuju salah satu bilik, mencari privasi di dalam kubik yang sempit itu.
"Fuck, you're as hot as how you look," ucap Mingyu di sela-sela ciuman panas mereka.
Kemudian Jeon Wonwoo mendorong Mingyu hingga terduduk di atas kloset sebelum ia membuka sabuknya dan menurunkan celananya.
Mingyu tanpa sadar menelan ludahnya saat dia melihat anggota kemerahan Wonwoo yang sudah berdiri di antara paha putih yang tanpa cela.
Dan apa itu?
"Fuck me," ucap Mingyu ketika dia sadar bahwa bukan hanya Wonwoo tidak menggunakan apa-apa di balik celana panjangnya, namun juga ada alat yang terpasang di sana. Menempel di dua sisi kejantanan Wonwoo dan satu lagi berkilau, menutup lubang analnya.
"No, fuck me, Kim Mingyu."
Wonwoo menyanggakan satu kakinya yang jenjang ke dinding dan mendesah ketika ia menarik perlahan benda itu dari lubangnya sendiri. Mingyu menelan ludah sambil melihat keindahan yang bisa-bisanya ia saksikan di kubik kecil toilet lantai 3. Penisnya berkedut.
"Liking the view?" Rambut Wonwoo berantakan, menempel kesana kemari, and yet it makes him look hotter. Tanpa sadar, Mingyu menelisikkan tangannya di antara surai lembut Wonwoo.
"Yes," Mingyu menggumam, memperhatikan Wonwoo yang masih sibuk dengan bekalnya.
"You clean?" Tanya Wonwoo setelah dia menggantungkan plug nya di hanger.
"Bersih, udah mau setahun," ucap Mingyu. Mengingat bagaimana dia menyibukkan diri setahun belakangan daripada tidur sana sini. Alis Wonwoo naik, tidak percaya.
"Gue juga bersih, but gue punya kondom kalo lo-"
"Let's do it raw, gue ada surat dokter from last week." Mingyu menyela.
"That's what I thought," ucap Wonwoo sambil menyunggingkan seringai.
Kemudian dia membungkuk sedikit, meludahi penis Mingyu, menjilatnya sedikit, menghasilkan geraman rendah dari pemiliknya, dan kembali berdiri.
Wonwoo mendekat, menggoda kepala Mingyu junior di depan lubangnya. Mingyu hanya bisa tertegun dan terduduk diam di atas kloset. Pupilnya sudah melebar penuh dengan nafsu. Yang ada di pikirannya saat ini hanya Jeon Wonwoo dan segala keindahannya.
Kemudian Wonwoo mendudukinya perlahan. Seluruh milik Mingyu masuk dengan mudah karena si pemilik goa hangat itu sepertinya sudah mempersiapkannya entah sejak kapan. Keduanya mendesah merasakan kehangatan satu sama lain. Wonwoo terengah.
Shit. Jadi dia tadi rapat pake vibrator sama buttplug? Gila! Pikir Mingyu.
"Mmmhhhh.." erang Wonwoo.
"Fuck.. ketat banget lo, anjing." Mingyu mendesah.
"Lo yang gede banget sih," ucap Wonwoo yang bisa merasakan kepunyaan Mingyu makin membesar di dalam sana.
Setelah beradaptasi dengan ukuran monster Mingyu, Wonwoo mulai bergerak naik turun. Awalnya perlahan, kemudian ia mempercepat temponya, mencari kenikmatannya sendiri.
Tangan Mingyu mencengkram pinggul Wonwoo, membantunya menghentak naik turun.
"Shit.. Wonwoo.. lo enak banget," erang Mingyu.
Wonwoo menyunggingkan senyum bangga seolah dia telah memenangkan lotre.
"Nnggh, you're cuter than you look.."
Mingyu yang tadinya memejamkan mata dan menikmati Wonwoo yang menungganginya, kini membukanya. Dia tidak salah dengar? Cute?
Mingyu punya banyak sebutan di kantor. Cool, hot, handsome, you name it. Tapi tidak pernah ada yang memanggilnya dengan sebutan cute. Cukup menampar egonya.
"Shut up, just keep moving,"
"Or else?"
"I'll fuck your brain out."
Wonwoo menghentikan gerakan naik turunnya dan memutar pinggulnya, menggoda rekan kerja yang kini menatap Wonwoo dengan tajam seolah tidak sabar ingin menerkam.
"Tempting."
Alis Mingyu naik, "nantangin lo?"
Kemudian, dengan gerakan yang cepat, Mingyu memindahkan kaki Wonwoo ke sisi kirinya dan memutar posisi tubuhnya menjadi membelakangi Mingyu. Keduanya mengerang merasakan sensasi yang panas ketika mereka berganti posisi tanpa mengeluarkan milik Mingyu dari lubang Wonwoo.
Mingyu berdiri dan mendorong Wonwoo hingga wajahnya menempel ke pintu bilik toilet. Kedua tangan Wonwoo digenggam erat di atas kepalanya oleh tangan kuat Mingyu.
"Ah!! Why so rough!"
"Just feel it, baby."
Itu, dan Mingyu mulai menggenjot Wonwoo dengan brutal.
"Fuck fuck fuck! Ituhhngg! Mingyuuu! Ah! disituuu.. enakhh... ah!"
Ia bisa merasakan penis besar Mingyu menonjol di perutnya. Terlebih, Mingyu seolah tau sudut yang tepat untuk menyodok prostatnya. Setiap hentakan membuat Wonwoo hilang akal.
"Gimana kontol gue? Lebih enak dari dildo lo kan?"
"E-enak hnnng, phhlease ah! Ah!"
"Shh... jangan berisik sayang, ini kantor," ucap Mingyu yang kemudian mengangkat kemeja Wonwoo dan menyuruhnya untuk menggigit bajunya sendiri.
"Mmmmmppphhhh!"
"Jadi lo pake donasi gue buat beli ini?" Mingyu kemudian menarik kontroler vibrator Wonwoo di pahanya dan memutarnya perlahan menjadi getaran yang paling kencang.
"Mph! Mmmmmhhh!" Wonwoo menggeleng-geleng dengan cepat. Namun mulutnya hanya menghasilkan suara tidak jelas. Lubangnya semakin sempit karena stimulasi.
"Jadi gini rasanya Jeon Wonwoo yang biasanya coli di kamera,"
"Mmhhhh! Mmphhh.." air mata Wonwoo mulai keluar mengalir di pipinya. Keenakan.
"Gila lobang lo lacur banget, enak.. ssshhh."
Kaki Wonwoo merapat dan mulai bergetar hebat. Penisnya mendapatkan stimulasi kuat dari getaran alat yang dia bawa, dan lubangnya digenjot tanpa ampun oleh Mingyu. Jika bukan karena tangan besar Mingyu yang lain yang menopangnya, dia tidak yakin dia masih berdiri.
"Enak dikobelin kontol gue?"
Mata Wonwoo mengabur. Tangannya berusaha untuk lepas dari genggaman Mingyu, namun tentu saja usahanya percuma. Ia merasa sangat lemah, sangat terdominasi. Dan dia menyukainya.
Lalu tiba-tiba mereka mendengar pintu toilet terbuka.
Keduanya menghentikan kegiatan mereka, kaget. Mingyu berhenti menghujam lubang panas Wonwoo dan mematikan vibratornya. Napas mereka tercekat, sama-sama berusaha untuk bernapas sepelan mungkin.
Jantung keduanya berdegup dengan cepat. Ada perasaan panik yang bercampur dengan excitement. Jika ada yang memergoki mereka berdua, habislah. Bukan hanya karir, namun rasa malu seumur hidup akan mereka tanggung.
Seseorang itu kencing di urinoir sambil bersenandung.
Mingyu yang terengah merasakan lubang Wonwoo tiba-tiba berkedut, memijat, dan mempersempit miliknya. Menggoda Mingyu yang akal sehatnya hampir terputus.
Fuck. Fucking Jeon Wonwoo. Gila lo.
Mingyu berusaha dengan keras untuk tidak bersuara, menikmati rematan dan pijatan yang dilakukan oleh goa rekan kerjanya itu.
Merasa tertantang, Mingyu memutar remot kontrol vibrator Wonwoo lagi.
Mata Wonwoo mendelik. Kaki yang tadi lemas, kini kembali bergetar. Tubuhnya menggelinjang keenakan. Lubangnya semakin sempit meremat kepunyaan Mingyu. Mingyu menggeram pelan di telinga Wonwoo kemudian mencium, menjilat, menggigit, dan menghisap leher belakang pria berkacamata itu.
Pinggul Mingyu perlahan bergerak lagi. Sangat pelan, sangat lembut. Namun seluruh syaraf di tubuh Wonwoo justru menjadi lebih sensitif. Dia semakin bisa merasakan tekstur benda yang keluar-masuk di lubangnya. Kepala yang keluar hampir seluruhnya, kembali masuk perlahan.
Mereka bisa mendengar suara wastafel menyala di luar bilik.
Tangan Mingyu akhirnya melepaskan genggamannya di pergelangan tangan Wonwoo yang masih berusaha dengan kuat untuk tidak mendesah. Tangannya turun mengelus lengan Wonwoo, kemudian lehernya, kemudian menelisik ke dada berisi Wonwoo dan mencari benjolan keras di sana.
Ia memelintir, mencubit, dan memainkan puting Wonwoo yang ia yakin sudah memerah sekarang, masih sambil memaju-mundurkan pinggulnya perlahan. Wonwoo merem-melek keenakan. Penisnya yang sangat merah dan keras sudah mengeluarkan cairan bening.
Ketika mereka bisa mendengar suara pintu toilet terbuka lalu tertutup, Mingyu menarik puting Wonwoo sambil menghentakkan miliknya masuk dengan kasar.
Plak!
"Aaahhhhnnnggg!!!!" Wonwoo akhirnya melepaskan sumpalan di mulutnya dan mendesah kencang. Matanya mendelik ke atas. Tubuhnya mengejang beberapa kali diiringi dengan muncratan cairan putih yang mengotori pintu bilik. Vibrasi di Wonwoo junior diturunkan intensitasnya oleh Mingyu.
Penis Mingyu perlahan mundur.
"You did good not making any noise.."
Wonwoo mencoba mengambil napas setelah orgasmenya usai. Namun tiba-tiba Mingyu kembali menghentakkan miliknya kencang.
"M-Miiinhnng!"
Pinggulnya perlahan mundur.
"Yes?"
Hentakan lagi.
"Hngg!!! Sth-sto-"
Muncrat lagi.
"Gimana, Won?"
Wonwoo menggeleng kuat.
"Uh-udahhhhh! Gue baru ke-keluarrhhh!"
Kali ini Mingyu justru menyalakan vibrator Wonwoo lagi. Tubuh Wonwoo tersentak, tangannya sudah akan mengejar penisnya yang distimulasi dengan brutal. Namun, Mingyu lebih cepat. Tangannya meraup penis Wonwoo ke dalam genggamannya yang besar. Wonwoo hanya bisa mencengkram tangan Mingyu.
"Min!! Minnnhhhng!! Pipis!! Mau pipis!!" Ucap Wonwoo gelagapan, tubuhnya mengejang dan bergetar.
Kali ini Mingyu mulai menggenjot pinggulnya dengan cepat. Satu tangannya sibuk menahan tubuh Wonwoo agar tidak jatuh dan tangan lainnya mengocok milik Wonwoo yang masih keras meski baru saja keluar.
"Fuuuuccck, enak banget, anjing.. Sshhhh.."
Wonwoo tidak bersuara. Kesadarannya sudah di ujung. Tubuhnya merasakan terlalu banyak hal sekaligus. Napasnya tercekat, air matanya mengalir deras, kakinya mengatup dan mengejang.
Kali ini Wonwoo memuncratkan cairan bening yang meluruhkan bercak putih di pintu bilik. Mata Wonwoo terbalik, dia mengejang dan pipis di tangan Mingyu.
"I'm close too, baby."
Kemudian dengan sisa-sisa kesadarannya, Wonwoo bisa merasakan semprotan hangat di dalam lubangnya.
"Mmmmhhhhhh!" Mingyu mengerang, mengeluarkan semua muatannya di dalam.
Wonwoo sudah sedari tadi hanya bertumpu pada tangan Mingyu karena kakinya sudah tidak kuat menopang berat tubuhnya sendiri. Tubuhnya masih bergetar.
Mingyu kemudian menarik Wonwoo ke belakang untuk dia pangku di atas kloset. Penisnya masih di dalam lubang Wonwoo ketika mereka sama-sama terengah tanpa suara. Punggung lengket Wonwoo menempel di dada bidang Mingyu. Kepalanya mengadah ke belakang, bersandar di pundak Mingyu.
Keduanya terengah dalam diam. Teralihkan dengan pikiran masing-masing. Namun satu yang pasti, mereka sama-sama tahu ini tidak akan menjadi yang terakhir.
