Work Text:
Seperti semua percakapan dalam persahabatan mereka, kali ini juga tanpa basa-basi, tanpa pembukaan.
“Iya, gue suka sama Haechan.” Kekeh Jeno, tangannya erat di kemudi mobil, matanya nanar menatap titik jauh yang hanya ia seorang yang lihat. “Kaget gak?” tolehnya ke sosok sahabatnya yang sejak tadi diam menyimak di kursi penumpang. Sayup radio berusaha sekuat tenaga memecah kecanggungan, namun, alas , kalah telak tanpa perlawanan.
Malam itu pinggiran Bandung terasa sunyi.
“Kaget napa dah?”
“Kaget gak gue suka sama cowok?”
Jaemin tertawa, “Jujur, gak tau. Dibilang kaget, nggak juga, mau bilang I expected it… ya enggak juga. Tapi gak ada masalah sama itu sih, kalo gue.” Ia meremas pelan bahu Jeno, menyampaikan ulang dukungannya.
Malam terasa semakin sunyi.
“Thanks, Jam.”
“Gausa pake makasih lah, gue yang makasih lo udah percayain gue untuk denger cerita ini.” senyumnya, “Jadi selama ini teh galauin ecan toh…”
Jeno tertawa, menggumamkan sesuatu soal betapa memalukannya naksir sahabat sendiri. Jaemin hanya bisa memutar bola matanya, terkekeh mengamini celotehan Jeno. Konsep naksir sahabat sendiri, mah, bukan hal baru untuknya.
Begitu pun tercekat gatal karena biji randa tapak memenuhi trakeanya.
Just another tuesday.
*
Saat pertama Jaemin sadar bahwa kelopak kuning randa tapak —dan biji bunga gatalnya yang memenuhi rongga dada, adalah karena Jeno, rasanya ia ingin pindah rumah. Bagaimana mungkin ia bisa mengontrol kondisinya jika Jeno sendiri ada di kehidupannya dari Senin hingga Minggu? Tidur pun ia lebih banyak menumpang di kosan Jaemin. Makan pun sering mematuk bekal Jaemin, baik tanpa maupun dengan izin.
(Benalu berkedok sahabat, Jeno sering dijuluki Renjun.)
But yeah, that’s bad. Real bad.
Salah-salah, Jaemin diangkut ke puskesmas karena batuk lama. Disangka pengidap tuberkulosis. Buyar sudah image pemuda bugar awal 20-tahunan yang ia pertahankan meskipun biaya keanggotaan gym semakin melambung. Soalnya, nggak mungkin kan, seorang Jaemin, batuknya memuntahkan kelopak bunga?
Hanahaki?
Karena siapa?
“Jaemin kan nggak pernah suka siapa-siapa. ”
Tapi itu empat tahun yang lalu.
Dari empat tahun ini Jaemin belajar bahwa peribahasa “ alah bisa karena biasa ” memang benar adanya, dan ia sudah semakin mahir menyembunyikan sesak dadanya setiap kali ia melihat Jeno, dan jatuh cinta lagi, dan patah hati lagi.
*
Haechan sempurna, dan Jeno hebat, namun beberapa orang memang lebih cocok jadi sahabat. Kesimpulan itu diutarakan Chenle saat nongkrong sabtu malam bersama Jaemin, Jeno, dan Renjun. Sedikit kaget dan banyak bahagia ketika akhirnya Haechan mengumumkan hubungan barunya dengan seorang selebgram idola kampus, gadis yang “cantik banget kaya karakter Genshin” kalau kata Jisung.
Jeno dan Haechan memang pernah mencoba menjadi lebih dari sekadar teman dekat, sebuah usaha yang hanya bertahan kurang dari lima bulan sebelum mereka memutuskan bahwa memang beberapa hal tidak bisa dipaksakan. Mereka nggak berantem, no, tapi nggak bahagia juga.
Itu tahun lalu, kok.
“Sekarang beneran udah gapapa, bang?” Tanya Chenle
“Dari setahun yang lalu juga gapapa, Le.”
“Batuk bunga ga tuh?”
Jeno tertawa, berpura-pura hendak melayangkan pukulan kecil di kepala adik tingkatnya,
“Nggak lah, kan dulu mah gayung bersambut, masa batuk bunga.”
*
Sejujurnya, Jeno kadang lelah juga mengurut dadanya yang terasa perih tiap kali ia memuntahkan kelopak-kelopak delphinium. Ia kadang ingin menjadi seperti Jaemin. Pasti enak tidak perlu berurusan dengan cinta bertepuk sebelah tangan kalau jatuh cinta saja mungkin tidak pernah.
Lagipula, kalaupun Jaemin jatuh cinta, orang bodoh mana yang tidak akan tergesa-gesa membalas perasaannya? That lucky bastard .
One lucky bastard that has been the reason for Larkspur in Jeno’s throat for over five years now.
Diantara kelopak biru, Jeno kadang membayangkan betapa bahagianya jika suatu saat perasaannya berbalas dan ia bisa berhenti tercekat tiap kali Jaemin tertawa. Atau tersenyum. Atau bernyanyi. Atau termenung. Atau bahkan meringis terbentur kanopi kosannya yang usang.
Jeno harus mengakui, perasaannya kepada Jaemin, meskipun tersimpan erat dan dijaga baik-baik, terus tumbuh dari hari ke hari. Bahkan episode-episode naksir Haechan, naksir Lia, naksir Felix kemarin sore tidak lebih dari iklan sesaat di cerita kasih tak sampainya terhadap Jaemin. Sebuah cerita yang ujungnya belum juga terlihat.
*
Kalau ditanya apa bunga kesukaan Jeno, ia selalu menjawab “Delphinium.” lalu kemudian Renjun akan memutar bola matanya dan terkekeh mengatai Jeno pretentious . Memang contoh sahabat yang aneh, dia yang bertanya tapi dia yang menghakimi.
Delphinium, Larkspur .
Sampai sekarang Jeno belum menemukan padanan bahasa Indonesia untuk bunga jangkung biru yang mengisi rongga dadanya itu. Ia bahkan tidak yakin bunga itu tumbuh di Bandung. On brand sekali dengan Jaemin, yang menurut Jeno terlalu out of this world untuk jadi tetangga kosannya di jalan sempit dekat biofarma itu.
Larkspur juga menyimbolkan first love , itu dari hasil pencarian google Jeno kemarin dulu.
On brand .
“Kalo lo suka bunga apa?” Jeno curi dengar Renjun menanyakan pertanyaan yang sama kepada Jaemin.
“Randa Tapak.”
“Naon?”
“ Dandelion .”
“Halah. Sama aja kaya Jeno, nyastra.”
Jeno terkekeh, ia terlambat memberi tahu Jaemin untuk nggak usah jawab pertanyaan Renjun biar nggak di-judge.
*
Jika ada yang memperhatikan, Jaemin dan Jeno sebenarnya tidak sejago itu menyembunyikan apa yang terjadi. Sayang memang sepertinya tidak ada yang begitu memperhatikan bagaimana Jaemin lebih sering sibuk dan absen dari kegiatan kumpul bujang tidak jelas di kosan Jisung saat Jeno sedang berpacaran (atau naksir) seseorang. Tidak ada pula yang memperhatikan bagaimana Jeno mencuri pandang ke arah sahabatnya itu sedikit terlalu sering untuk standar teman dekat.
Chenle, God bless his attentiveness, pernah sempat curiga. Sedikit. Beberapa hari sebelum Jeno akhirnya jadian dengan Haechan. Hipotesisnya patah sebelum ia bahkan sempat bercerita ke Jisung.
Lalu kemudian Chenle lupa. God bless his smooth brain .
*
Pagi itu, menyobek lembar kalender bulan Mei yang penuh dengan coretan jadwal sidangnya (juga jadwal sidang Jaemin, jadwal sidang Renjun, dan tanggal ujian-ujian besar Jisung dan Chenle) Jeno tersenyum. Menghela napas lega. Lewat juga akhirnya bulan-bulan sibuknya, bulan-bulan penentu nasib kelanjutan kuliahnya (dan keselamatan tabungannya, karena Ayah jelas-jelas mewanti-wanti bahwa jika ia tambah semester, UKT bayar sendiri.)
Now what?
Berbekal keberanian yang entah muncul dari mana—mungkin dari euforia kelulusan, mungkin dari fakta bahwa akhirnya ia bisa tidur nyenyak tanpa dihantui revisi—Jeno mengatur napas. Tangannya sudah mengetik dan menghapus pesan ke Jaemin belasan kali sebelum akhirnya ia menyerah pada insting yang lebih primitif: ketuk pintu kosan sahabatnya langsung.
Jaemin membukakan pintu dengan kaos lusuh dan rambut acak-acakan. Matanya masih setengah terpejam, sisa-sisa tidur siangnya jelas terganggu, “Kenapa?” suaranya serak.
Jeno mengerjap. Tiba-tiba semua rangkaian kata yang sudah ia susun di kepalanya luntur begitu saja.
“Lo tahu gak… delphinium sama randa tapak gak bisa tumbuh berdampingan?”
Jaemin mengerutkan kening. “Hah?”
Jeno menarik napas, menelan ludah. “Gue suka sama lo. Like.. like. Suka yang gitu, bukan kaya Chenle ke cuanki. Tapi sayang, bukan sayang kaya lo ke Jisung, tapi–”
Jaemin diam. Sunyi sejenak. Radio di kamar memutar lagu pop mellow dari era yang entah kapan. Suara kipas angin berdecit di pojokan ruangan. Jeno berusaha mengisi keheningan itu, berharap Jaemin akan mengasihaninya dan memberi reaksi. Apa saja.
“Gimana, Jen?” tanyanya akhirnya.
“Gue suka sama lo,” ulang Jeno, kali ini lebih yakin.
Jaemin menatapnya lama. Seperti sedang memilah-milah reaksi yang paling masuk akal.
Lalu, ia tertawa, “Kok konyol?”
Jeno mengernyit. “Hah?”
Jaemin menenggelamkan wajahnya di balik lengan, bersandar ke kusen pintu kosannya yang lapuk, “Kayaknya gue juga suka sama lo, eh, bukan kayaknya. Gue juga suka sama lo. Suka yang suka, bukan kaya Renjun sama Haidilao.”
Hening lagi. Tapi kali ini bukan hening canggung. Lebih seperti hening kebingungan, seperti dunia baru saja me-reset ulang dengan satu kalimat sederhana.
Jeno tertawa kecil. Dadanya masih sesak, tapi kali ini bukan karena kelopak bunga.
“Terus, gimana sekarang?”
*
Pertanyaan final di olimpiade fisika tempo dulu, saat Jaemin masih SMA, pertanyaan final penentu nasibnya dan warna medali yang akan ia bawa pulang, terasa jauh lebih mudah dari ini. Saat itu ia ingat keringatnya bergulir sebesar biji jagung. Ia lupa koefisien penting untuk hitungan rumusnya. Rasanya ingin teriak.
Tidak ada apa-apanya dibanding saat ini.
Saat Jeno menyatakan perasaan padanya, hal terakhir yang ia inginkan adalah jawaban yang saat itu bergulir keluar dari mulutnya tanpa sempat ia cegah. Jaemin berkali-kali mengutuk lidahnya yang terlalu cepat menyerah, terlalu lelah menahan kata-kata yang sudah lama bercokol di pangkalnya.
Dari yang Jaemin tahu soal waktu, waktu bisa memperdalam semua perasaan. Menakutkan.
Ia sudah terbiasa jatuh cinta pada Jeno dalam diam. Terbiasa mengunci perasaan dalam ruang yang sempit, meredamnya dengan tawa dan candaan, menekan jauh-jauh setiap kali jantungnya berdetak sedikit terlalu cepat. Terbiasa membangun tembok supaya perasaannya tidak tumbuh liar, supaya ia bisa bertahan di sisi Jeno tanpa rasa sakit yang berlebihan.
Tapi sekarang?
Sekarang Jeno berdiri di depannya, mengulurkan tangan, menawarkan sesuatu yang selama ini Jaemin pikir tidak akan pernah jadi miliknya. Sekarang tidak ada tembok yang perlu ia pertahankan, tidak ada alasan untuk berpura-pura lagi.
Harusnya ini mudah, kan? Harusnya ini bagian di mana ia bilang “Ayo, kita jalani saja.”, lalu semuanya manis seperti akhir cerita di film-film romantis. Tapi kenapa rasanya seperti ia berdiri di tepi jurang, melihat ke bawah dan hanya melihat kosong yang menganga?
Kalau mereka jadian , apa yang akan terjadi?
Apa ia bisa berhenti merasa takut bahwa suatu hari semuanya akan runtuh? Bahwa akan ada hari di mana Jeno bangun dan menyadari bahwa semua ini adalah kesalahan? Bahwa perasaan yang sekarang terasa begitu besar bisa memudar, berubah, atau lebih buruk lagi— menghilang ?
Kalau mereka harus berpisah nanti, bukankah lebih baik berhenti sekarang, sebelum semuanya terlalu dalam?
Tapi… bukankah ia juga sudah terlalu dalam?
Jaemin menatap Jeno, yang masih menunggu. Masih ada di sini. Mata itu tidak pernah melihatnya dengan cara seperti ini sebelumnya. Atau mungkin selalu begitu, hanya saja Jaemin terlalu takut untuk memperhatikan.
Tangannya mengepal di sisi tubuhnya.
Ia bisa mundur sekarang. Bisa melindungi dirinya dari kemungkinan sakit hati yang lebih besar di masa depan.
Tapi ia juga bisa melangkah maju.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Jaemin tidak tahu jawaban yang benar.
And so he ran.
*
Juli bergulir, sudah berapa bulan berlalu?
Entahlah, sepertinya sudah lama. Kelopak kuning randa tapak —dan biji bunga gatalnya, yang dulu tidak absen memenuhi rongga dadanya adalah karena Jeno, sudah lama hilang bagai disiram pestisida. Rasa tercekik di ujung belakang tenggorokannya, berontak ingin dibatukkan, sudah lama tidak menyambangi Jaemin.
Sembuh sudah penyakit batuk lamanya. Ia tidak lagi perlu khawatir diduga pengidap tuberkulosis.
Hari-hari bertepuk sebelah tangan itu sudah lama menjadi memori.
Namun mengapa nyeri tumpul di sudut hatinya tidak kunjung mereda? Malah sepuluh kali berlipat dan berkembang. Ia tertawa getir, memandang ujung air yang melebur di horizon, percik air muntahan merlion sesekali membuyarkan fokusnya.
(Pindah negara karena patah hati, terlalu klise.)
Manusia memang senang sekali mencari penyakit.
Fin
(or should it?)
