Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-12-22
Words:
1,013
Chapters:
1/1
Kudos:
5
Hits:
61

Samu, hari ini bulannya cantik.

Summary:

Hanya Atsumu, bulan, dan Osamu yang terbaring. /untuk event HQFamilyTree/

Notes:

prompt hujan tengah malam

selamat membaca

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

“Lihat, Samu. Bulannya cantik,” ujar Atsumu melihat ke arah langit yang dipenuhi asap. Udara di sekitarnya berbau seperti daging terbakar. Dedaunan di sampingnya jatuh tak berdaya tanpa ada seorang pun yang bersedia memikirkan untuk membersihkannya. 

Hujan yang deras membawa bau besi yang berkarat tatkala menyentuh tanah. Angin dan air membuat seluruhnya menguar dari balik tabir, biarkan semua orang menutup pintu. Pun tak hanya hujan yang membuat mereka tak ingin saling bertemu.

Satu sosok manusia melihat kepada Atsumu, yang berwajah tenang. Di balik hujan yang terkadang berwarna kehitaman itu, sosok manusia itu berlari ke arahnya dengan pandang nyalang seperti hewan buas. Seperti ingin melahapnya hingga ke tulang.

Atsumu bergeming, lantas membiarkan. Apartemen ini berada di lantai lima dan ia skeptis manusia itu mampu menaiki tangga. Sekalipun jendelanya rusak dan coak di bagian tengah, patahannya yang runcing rasanya sudah cukup untuk menghalangi siapa pun yang berniat masuk melaluinya.

Tidak sampai enam meter sebelum manusia itu sampai di pintu masuk apartemen, suara tembakan menghentikannya. Sang manusia terkapar dengan kepala pecah dan sedikit bagian matanya hancur. Darahnya menggenangi lapangan parkir yang hanya tersisa mobil-mobil bekas terbakar.

“Di sini cukup aman,” dia menggumam dengan senyum tanpa arti. Kemudian menolehkan kepala kepada Osamu, masih dengan senyum yang sama. “Mereka tak akan mengganggumu lagi, Samu.”

Kembarannya itu sama sekali tidak menjawab. Dia berbaring sembari melihat kepada Atsumu dengan tajam. Seluruh wajahnya basah oleh keringat dan air mata, kilat di matanya penuh dengan rasa sakit, penyesalan, juga kebingungan.

Wajahnya kotor dan penuh debu, begitu pula Atsumu. Pakaiannya berbau seperti asap dan bercak darah di sana-sini. Sayangnya Atsumu tak bisa meninggalkan Osamu untuk mengganti bajunya.

Terakhir kali Atsumu meninggalkan adiknya seorang diri, Osamu segera lari dan membuat kekacauan. Atsumu tidak bisa membiarkannya berkeliaran lagi. 

Osamu telah berada dalam keadaan seperti itu sejak dua puluh empat jam terakhir. Tadi malam, sekelompok manusia yang mereka sebut mayat hidup mengejar mereka. Awalnya Osamu mampu menghindar dengan baik, tetapi dia kembali untuk menyelamatkan Atsumu.

Seharusnya Atsumu lah yang mendapatkan luka gigitan itu. Dialah yang seharusnya berbaring di atas tandu hari ini. Namun Osamu, sama sepertinya, tidak akan pernah membiarkannya menderita.

Dia melinting tali, membuatnya terikat erat. Tali itu tersambung ke sebuah tandu tempat Osamu berbaring sejak semalam. Wajahnya memerah dan napasnya putus-putus. Namun Atsumu dan keputusasaannya justru mengikat Osamu di atas tandu itu, berharap dengan begitu Osamu yang dia kenal akan kembali.

Belahan jiwanya Atsumu telah mengeringkan air mata. Sejak pagi, dia sudah banyak sekali bergelung dengan kesedihan yang mendalam. Melihat Osamu yang terbaring dengan tubuh seperti itu, membuatnya ikut terluka.

Atsumu melirik kepada bahu kiri Osamu yang menghitam. Itu adalah luka yang ditinggalkan seorang mayat hidup padanya semalam. Tadinya Osamu berbohong soal luka itu, tak ingin membuat Atsumu cemas berlebihan. Tetapi dagingnya yang membusuk serta perlakuannya yang semakin lama semakin tak wajar membuatnya terpaksa mengaku.

Pun, Osamu sendirilah yang menyarankan agar Atsumu mengikatnya. Bahkan mengajarkan kakak kembarnya cara mengikat tali yang mereka siapkan untuk kabur supaya tak mudah terlepas. Atsumu, walaupun tak tega, tetap mengikatkan tali itu untuknya. 

“Jangan biarkan aku terlepas, Tsumu. Biarkan aku mati sebagai manusia,” dan Atsumu membiarkan kalimat itu membayanginya tiap detik. Osamu, sampai kapan pun masih manusia di matanya. Sekalipun para penjaga di bawah akan membunuhnya bila menemukan kondisi Osamu.

Adik kembarnya itu berusaha meliat dengan kasar. Tangan dan kakinya yang tak bebas menghentak-hentak ingin dilepaskan. Setiap kali dia mengerang, Atsumu menarik tali di tangannya, mengeratkan seluruh belenggu di tubuh Osamu hingga kembali berbaring.

Atsumu memperhatikan mata adiknya yang sekelilingnya semakin lama semakin dibayangi warna merah. Ada jejak-jejak tangis yang mengering di pipinya. Warna mata yang selalu identik dengan Atsumu itu perlahan memudar, menatapi Atsumu dengan garang tanpa cahaya.

Maka Atsumu bersenandung, seperti yang telah dia lakukan sejak mereka masih di pangkuan ibu. Tangannya yang kotor akan darah kering membelai halus rambut-rambut Osamu. Warna kelabunya luntur karena keringat dan darah, juga kusam akibat debu. 

Osamu mengerang, mulutnya mengeluarkan suara seperti hewan yang kelaparan. Ah, Atsumu baru ingat adik kecilnya belum makan sejak kemarin. Sebenarnya, dia pun juga, tetapi Atsumu tak memiliki apa pun untuk dimakan.

Lagipula, dia tak bisa meninggalkan Osamu seorang diri di sini.

“Grrggrrhh… Tsumu…” Osamu memanggil di tengah-tengah erangan yang putus-putus. Seketika membuat Atsumu melompat karenanya. Ia mendekati wajah Osamu yang basah dan panas, menciumi dahinya.

“Tak apa, Samu. Aku di sini. Kamu nggak sendirian,” bibir Atsumu mengecupi kening adik kembarnya sebanyak mungkin. Hidungnya membaui lumpur dan darah yang bercampur keringat, tetapi dia tak pedulikan. Fokusnya terpaku kepada Osamu yang semakin lama semakin meninggalkan kemanusiaannya.

Sebulir air mata kembali turun di pipi Atsumu, sekalipun ia yakin telah mengeluarkan semuanya sejak pagi. Tak sanggup tangannya menarik tali belenggu Osamu, hanya agar dia memiliki cukup kesiapan.

Atsumu menarik talinya lagi, sedari tadi hanya menggunakan tangan kanannya. Sela-sela ibu jarinya lengket akan darahnya sendiri akibat berjam-jam menarik tali. Dia menggenggam erat dengan penuh rasa sakit sebuah revolver di tangan kiri.

Sekelibat bayangan merasuki otaknya. Masa kecil mereka, tahun-tahun mereka menemukan voli dan menjadi juara bersama. Osamu yang memutuskan untuk berhenti dan membuka kedai onigiri. Dirinya yang berpindah kesana-kemari karena pertandingan voli.

Itu, dan semuanya. Atsumu bersumpah akan melakukan apa pun agar hari-hari itu kembali. Ia akan menukar bakat dan latihannya seumur hidup hanya agar dapat bersama Osamu. Osamu yang sehat. Osamu yang tersenyum. Osamu yang mendukungnya dari depan layar televisi dan yang melihat pertandingannya melalui tribun.

Pelan-pelan ia memindahkan tali itu ke tangan kiri, dan revolvernya ke tangan kanan. Atsumu gemetaran menarik pemicu, memutar senjata itu agar dapat memindahkan peluru ke laras. Tangannya sedikit licin dan terasa begitu berat tatkala mengarahkan ujung laras revolver ke dahi Osamu.

Atsumu tidak pernah menggunakan senjata seumur hidupnya.

Dirinya tak menyangka ketika pertama kali menggunakannya, adalah saat ia harus membunuh kembarannya.

Oh, betapa Miya Atsumu begitu merindui saudaranya Osamu. Bahkan ia kini berbaring di samping Osamu, menciumi tangannya. Tak ia pedulikan bau busuk yang menjalar dari bahu kiri dan kerongkongan kembarannya itu.

Osamu belahan jiwanya, separuh nyawanya, lahir bersama, mati bersama.

Di kamar apartemen terbengkalai itu, dibayangi angin dan rintik hujan yang ramai, bunyi tembakan kedua terlepas.

Darah dari kepala Atsumu mewarnai rambut kelabu Osamu yang kotor.

Tidak ada bulan yang bersinar malam ini.

Notes:

haikyuu punya Furudate Haruichi

terima kasih telah membaca :)