Actions

Work Header

bonne chance

Summary:

Dalam tugasnya untuk menyusun sebuah buletin khusus untuk Washington Daily, Alfred Jones bertemu dengan seorang penari balet yang begitu menarik di Palais Garnier.

Penari itu ditemukannya lagi pada hari yang berbeda dengan setumpuk buku yang terlihat asing, dan lebih dari lima bahasa pada lidahnya.

(Perempuan-Perempuan Babel: Bagian III.)

Notes:

hetalia © hidekazu himaruya.
babel: an arcane history © rebecca kuang.
penulis tidak mengambil keuntungan komersial apapun dari pembuatan cerita ini. cerita ini adalah murni fiksional, tidak ada kaitannya dengan orang-orang di dunia nyata—jika terjadi persamaan maka hal itu adalah hal yang tidak disengaja.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Indah sekali; para penari itu muncul seperti kelopak bunga yang beterbangan dari balik tirai panggung. Mereka bergerak bergantian dengan gestur halus, seolah-olah mereka diterpa bisikan angin yang lembut. Musik milik Tchaikovsky mengalun, mengiringi para penari untuk berayun dan melompat-lompat anggun di panggung. Alfred mengangkat kameranya, dan kilatan serta letupannya mengejutkan penonton di depan dan di sampingnya. Dia mendapat rengutan dan gerutuan dari mereka yang tidak terbiasa, tetapi dia hanya mengangguk-angguk sambil terkekeh, maaf, maaf—akan kulanjutkan lagi.

Palais Garnier sungguh megah. Alfred sudah memotret fasadnya, dan yakin potret itu akan sungguh-sungguh menarik perhatian jika diletakkan di halaman pertama. Namun, interior dari gedung tersebut juga tak kalah indahnya. Ukiran megah menghiasi kubah langit-langit, kandelir sebening kristal menggantung menyinari seluruh ruangan. Panggung dibingkai oleh ukiran bak emas, dan balkon-balkon tempat penonton naratama dipagari kisi-kisi dengan pahatan sulur-sulur yang memantulkan cahaya kandelir dengan mewahnya. Tirai panggung tampak lembut seperti beledu, melatari penataan yang sangat apik dan menggambarkan suasana yang sempurna dari sebuah Danau Angsa. Bisakah dia bertugas di sini setiap hari saja?

Sekali lagi, Alfred mengangkat kamera besarnya. Dia mengikuti gerak-gerik seorang penari yang sejak pertunjukan pertama kemarin telah menarik perhatiannya. Rambut pirang platinanya tergelung rapi di puncak kepalanya, dia yang paling mencolok di antara para penari lainnya. Ia melompat dengan anggunnya ketika tempo musik semakin cepat, memasuki babak yang cukup menegangkan, dan Alfred pun bersiaga dengan kameranya. Perempuan itu lantas membuat pose arabesque yang indah, bersisian dengan bebungaan hutan yang berwarna putih. Alfred tidak ingin kehilangan momen, dan segera menyambar tombol kameranya.

Dia tersenyum puas, tak peduli dengan orang-orang yang mengumpat dalam bahasa Prancis, dan dia pun duduk kembali. Saatnya kembali pada pengamatan untuk isi liputan, dan dia mulai menulis beberapa hal. Tentang pertunjukan hari ini, suasana di dalam Palais Garnier, para penonton yang bagaimana cara mereka berpakaian, dan Alfred pun melengkapinya dengan sebuah gambar yang dia corat-coret kasar karena dia sudah cukup bosan—musik klasik selalu membuatnya mengantuk: salah satu dari pemeran angsa-angsa yang anggun yang melekat kuat di ingatannya.

 


 

Alfred masih bertahan bahkan hingga seluruh penonton telah membubarkan diri, para kru telah membersihkan panggung, dan lampu-lampu telah diredupkan. Dia perlu menulis beberapa paragraf tambahan agar dia bisa merampungkan liputan ini secepatnya, dan dia bisa menggunakan waktu yang tersisa untuk berkeliling di sekitar Paris sebelum tugasnya berakhir.

Satu hal lagi tentang panggung: mereka membuat set yang begitu besar dan detail, membuat cerita lebih mudah dinikmati karena para penari leluasa dan ada lebih banyak ruang tercipta untuk menghidupkan cerita—

Seorang pemain keluar dari balik tirai. Seorang kru berhenti mengepel lantai. Mereka berbicara, dan Alfred berhenti menulis. Penari itu adalah pemain yang dipotretnya saat pertunjukan—si penari yang begitu anggun, posturnya tegak dan dagunya terangkat seperti bahasa tubuh seorang putri sungguhan. Alfred lupa berkedip sampai mereka berdua bersitatap dan kening perempuan itu mengerut tipis. Ia pun mengakhiri pembicaraannya dengan kru, dan kembali ke belakang panggung.

Alfred hanya sempat tersenyum di detik-detik terakhir adu tatap mereka tanpa sempat mendapatkan balasan.

 


 

Anehnya, perempuan itu terlihat seperti orang yang berbeda. Ia memakai jubah gelap dan membaca seperti seorang kutu buku, buku itu begitu dekat dengan wajahnya dan keningnya berkerut terus-menerus. Rambutnya tergerai, sedikit kusut dengan helai-helai tipis yang mencuat, dan ia mengenakan pita putih yang bertengger cantik di kepalanya. Sesekali ia mencatat, melupakan roti manis dan secangkir minuman yang mendingin di meja. Alfred berulang kali mencuri pandang, mulai berasumsi bahwa gadis ini adalah seorang pelajar, jika bukan hanya seorang penari balet.

“Aku tahu kau ingin memotretku.”

Alfred terkesiap, menyembunyikan lagi kamera yang akan dia keluarkan dari tasnya. Dia menoleh ke meja seberang, nyengir lebar sambil menggaruk pipi. “Ah, instingmu cukup tajam, rupanya.”

Perempuan itu tak menggubris. Alfred pun mengangkut tasnya, menjepit sisa rotinya di antara gigi-gigi depannya, menarik kursi di meja bundar tersebut, tepat di hadapan gadis itu. Ia terlihat sangat tidak senang, keningnya berkerut dalam dan bibirnya mencebik masam.

Alfred mengulurkan tangan setelah menelan potongan rotinya bulat-bulat. “Alfred Jones. Wartawan dari Washington Daily. Aku mendapat tugas untuk membuat liputan khusus untuk buletin bulan depan, bonus bulanan yang kami selipkan untuk pelanggan setia.”

Cukup lama sampai akhirnya gadis itu menerima uluran tangan Alfred, jabatan tangannya pun terasa ogah-ogahan dan tidak hangat. “Natalya Arlovskaya.”

“Tidak kusangka kita bertemu di sini lagi.” Alfred memangku tas kameranya, dia antusias seperti anak kecil yang sedang berbicara dengan idolanya. “Kau penari di pertunjukan kemarin di Palais Garnier, kan?”

Natalya cuma mengangguk singkat, cuek, sibuk menandai beberapa bagian di bukunya.

“Boleh aku mewawancaraimu soal Palais Garnier?”

Tatapan tajam mata violetnya membuat Alfred tersentak mundur, tetapi tak sampai membuatnya gentar. “Kau salah orang.”

“Eh? Aku mewawancarai seorang penari yang tampil di sana, bagaimana mungkin aku salah?”

“Aku cuma pemain sementara. Menggantikan saudaraku, sekaligus untuk penelitian lapangan yang kuperlukan. Aku tidak bisa memberimu informasi.” Ia membalik beberapa halaman bukunya sekaligus. Ia juga bergumam pelan dalam bahasa yang Alfred kira adalah bahasa Rusia, walaupun dengan variasi yang terdengar seperti bukan bahasa tersebut.

“Tapi kau pernah berada di belakang panggungnya! Berikan aku informasi tentang kehidupan penari, dan aku akan menyebutkan namamu di artikel! Orang-orang akan mengenalmu, dan siapa tahu kau mendapat tawaran—”

“Sudah kubilang, aku bukan pemain tetap. Aku tidak butuh publikasi seperti itu.”

“Lantas … kau apa?”

Natalya menutup bukunya dengan keras, alisnya melengkung tajam dan ia seolah-olah siap untuk membuat kepala Alfred benjol dengan buku bersampul tebal tersebut.

Alfred mengerjap. “Ini bisa menjadi bagian liputan yang menarik! Palais Garnier menerima seorang penari magang, bukankah begitu? Dan aku membutuhkan kesan dan pemikiran dari seorang penari sementara. Aku bisa menceritakannya sebagai poin yang menarik. Aku peliput, aku bisa memoles cerita yang indah untuk menarik perhatian!”

“Aku tidak butuh yang seperti itu.”

“Tapi kantorku membutuhkannya—aku membutuhkannya.”

“Atas dasar apa aku harus membantumu?”

“Tentu saja karena kita manusia!”

Natalya seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi rahangnya menggantung bingung. Ia lebih terlihat seperti ingin muntah.

“Manusia harus saling tolong-menolong, kan? Aku bisa menawarkan bantuan apapun yang kau inginkan, yang setara dengan informasi yang kubutuhkan darimu.”

Natalya meletakkan bukunya dengan keras ke atas meja. Alfred masih sempat mengamati judulnya: Sastra dan Budaya Prancis dan Pengaruhnya pada Rumpun Slavik. Gadis itu pun mengangkat alis. “Kalau aku memberimu informasi, apakah kau akan segera pergi dariku?”

Alfred mengangguk cepat.

Natalya memutar matanya bosan. “Cepat tanyakan apa yang ingin kau ketahui.”

Alfred mengeluarkan buku catatan dan pensilnya. Dia tersenyum lebar, “Apa yang membuatmu datang ke Palais Garnier?”

“Aku harus menyelesaikan penelitianku tentang bahasa Prancis, dan terjebak di situasi di mana kakakku cedera dan aku harus menggantikannya.”

“Oh, untuk apa kau meneliti bahasa Prancis?”

“Tidak bisa kukatakan.”

“Jadi kau bukan orang Prancis asli—sudah kuduga! Dialekmu agak berbeda! Kau berasal dari mana?”

“Apakah itu penting untukmu?”

“Tentu saja!”

Natalya pun menjawab sekenanya, “Sungai Volga.”

Alfred mengerjap-ngerjap. “Kau bersekolah di sana, yang mewajibkanmu untuk meneliti sampai ke sini?”

“Bukan urusanmu. Pertanyaan selanjutnya.”

“Kau bisa menari balet dengan sempurna,” Alfred memperhatikan catatannya sambil mengetukkan pensil di dagunya. “Padahal kau bilang kau hanya menggantikan?”

“Aku pernah menari balet saat kecil.”

“Ooh! Lantas, lantas, bagaimana mereka memperlakukanmu sebagai pemain pengganti? Apakah memasuki Palais Garnier membuatmu merasa terhormat?”

“Biasa saja.”

“Jawaban untuk pertanyaan kedua?”

Natalya mendengus bosan, “Sama saja.”

Alfred mencatatnya dengan cepat. “Apakah agensi tempatmu berada—maksudku, kakakmu berada—memang berasal dari Prancis?”

“Iya.”

“Dan mereka selalu mengumpulkan banyak penonton setiap kali menyelenggarakan pentas di Palais Garnier?”

“Kurasa begitu.”

“Dan bagaimana kesanmu tentang Palais Garnier?”

Natalya mengangkat bahu, “Megah. Indah.”

“Dan apakah, dengan kesan seperti itu pada Palais Garnier, kau ingin tampil lagi di sana?”

Natalya menggeleng. “Sebentar lagi aku harus kembali ke Akademi. Kemarin adalah pertunjukan terakhirku.”

Gerakan pensil Alfred berhenti. Dia lantas mengangkat kepala, dan Natalya tampak tak peduli. Natalya menutup buku-buku tipis lain yang berserakan di atas meja, lantas memandang Alfred seolah-olah berkata, apalagi? Masih kurang?

“Kau tidak akan tampil lagi? Sayang sekali, tarianmu sangat indah!”

“Itu gerakan yang standar untuk pemain balet. Tidak ada yang istimewa.”

“Tapi kau—”

Natalya memakai tasnya, lantas beranjak, “Kurasa sudah cukup. Selamat siang.”

Alfred termangu, pensilnya nyaris jatuh dari genggaman. Jubah gelap Natalya mengibar, membuatnya benar-benar seperti orang lain alih-alih penari anggun yang mempesona kemarin.

 


 

Alfred hampir-hampir tidak mempercayai penglihatannya.

Dia hanya iseng menengok melalui jendela penginapannya yang berada di lantai tiga, dan di seberang sana, di tempat dia biasa menghabiskan waktu sarapan hingga matahari setinggi ubun-ubun, perempuan itu terlihat lagi di sana. Membuka buku-buku besarnya, mengerjakan sesuatu di bawah kanopi teduh kedai yang menjual berbagai macam roti tersebut, persis seperti posisinya dua hari yang lalu. Alfred semringah, dan segera menyiapkan barang-barang yang dia perlukan. Dia menunggu selama beberapa saat, membiarkan gadis itu belajar seperlunya sebelum dia menyerbu turun dan tidak akan membiarkan Natalya tenggelam dalam keheningan.

Setengah jam kemudian, ketika dia menghampiri Natalya, gadis itu seperti baru saja melihat hantu. Ia ingin segera kabur, tetapi Alfred sudah terlalu dekat dengannya dan ada terlalu banyak buku yang harus ia bereskan di atas meja.

Bonjour, Mademoiselle.” Alfred duduk dengan riangnya di hadapan Natalya. Dia, tanpa basa-basi, menaruh dua foto di atas meja, menutupi buku-buku Natalya. “Aku baru selesai mencucinya tadi malam.

Jika bukan ekspresi kagum; maka Alfred tidak memahami apa itu. Natalya termangu di hadapan selembar foto yang menampilkan seorang penari balet yang anggun, tangkapan momen yang sempurna. Ia memandang foto itu dan Alfred bergantian, dan dengan malu-malu dia mengangkat foto itu.

“Ambil saja.” Alfred mengedikkan dagunya. “Aku punya yang lain untuk kusetorkan ke kantorku.”

“Tapi, ini ….”

“Sebagai ucapan terima kasihku karena menjawab pertanyaan-pertanyaanku kemarin.”

Natalya menatap foto itu tanpa berkedip, dan akhirnya ia meletakkannya di dekat buku tulisnya. Ia mengangguk, ucapan terima kasihnya terdengar sungkan.

Perhatian Alfred tertuju pada buku-buku di atas meja, dan dengan cepat dia bisa menangkap makna salah satunya, “Etimologi! Wah, kau belajar sesuatu tentang bahasa?”

“Kurang lebih begitu.” Natalya mengambil pensilnya, mencoba untuk menyelesaikan tugas meski rona di pipinya tak bisa berbohong. Ia menulis sesuatu, berusaha berkonsentrasi, tapi tak satupun gesturnya yang lolos dari pengamatan Alfred. Tentang bagaimana ia menyelipkan rambut ke belakang telinganya, kerut halus pada keningnya ketika ia memikirkan jawaban selanjutnya, dan bagaimana ia mengetukkan pensil ke bibirnya ketika berpikir.

“Analisis rumpun Slavik dan jejak menuju Proto-Indo-Eropa … apa itu?”

“Bukan urusanmu,” jawab Natalya, pelan dan setengah berbisik. Tidak setajam tempo hari.

“Sepertinya apa yang kau pelajari? Bukan hanya tentang bahasa, kan? Buktinya kau bisa berbahasa Prancis, bicara denganku, padahal kau berasal dari daerah Volga!”

Natalya hanya mengerling sebentar sebelum menggarisbawahi sesuatu dari bukunya. “Lintas bahasa. Murid Akademi datang dari berbagai tempat.”

“Sepertinya akademi itu menarik.”

“Tunggu sampai kau masuk ke dalamnya.”

“Aah, bagaimana aku bisa mencari tahu kalau kau tidak mau bilang tempatnya seperti apa.”

“Bukan informasi yang harus kubagi untukmu.”

Alfred mencebik. “Kau takut aku akan mempublikasikannya di koran?”

“Tidak juga.”

“Hmmm, jadi, kau sedang meneliti sesuatu?”

Natalya tidak menjawab, meski Alfred mendekat dan berusaha menatap matanya sambil bertopang dagu.

“Aku mengerti, aku mengerti!” Alfred akhirnya mengangkat kedua tangannya, “Aku juga tidak suka diganggu kalau aku harus menyelesaikan sebuah artikel. Jadi aku tidak akan mengganggumu, oke? Tapi biarkan aku duduk di sini.”

“Apa yang kau inginkan dariku?”

“Tidak ada—oh, ada! Aku hanya ingin tahu.”

“Aku sudah berhenti dari Palais Garnier, aku tidak lagi berguna untuk liputanmu.”

“Tapi aku bukan cuma ingin meliput.”

Natalya menghela napas panjang. “Tidak bisakah kau jujur saja?”

“Aku sudah jujur!”

Natalya meraih sesuatu dari balik jubahnya. Ia bergumam, Alfred hanya bisa menangkap isyarat gerak bibirnya dan bisikan seperti embusan napas yang  yang seolah membentuk kata, honest — honor, dan sekelebatan mata, seolah-olah ada cahaya keperakan yang membutakan penglihatannya.

Namun, ketika dia mengerjap, tidak ada apa-apa di sekitar, seperti halusinasi yang cepat tersingkir. Alfred pun mendapati dirinya berucap, “Aku tertarik padamu. Aku suka tarianmu—kuharap kita bisa bicara lebih lama.”

Natalya membeku, bergeming sambil memegang sebuah silinder perak yang tak lebih besar dari kelingkingnya.

Alfred terkekeh canggung, sambil menggaruk tengkuknya dia bertanya, “Jadi … aku berada di sini sampai lusa. Bolehkah aku menghabiskan waktu lebih banyak denganmu?”

Mata Natalya membulat dan bibirnya terkatup rapat.

“Bicara saja padaku, Natalya! Apapun itu! Aku adalah orang yang bisa mengimbangi bicaramu, aku banyak membaca karena aku jurnalis!”

Natalya memijat pangkal hidungnya, menghela napas panjang. “Aku akan pergi besok. Kita tidak punya banyak waktu, apa yang kau inginkan?”

Alfred tersenyum lebar, berharap banyak lewat kalimatnya selanjutnya yang meluncur begitu saja dari mulutnya, “Tidak apa-apa. Aku ingin membuat lebih banyak kenangan bersamamu di waktu yang singkat ini.”

Natalya menunduk, sengaja sibuk dengan tugasnya. “Kuharap kau tidak mengganggu. Aku harus menyelesaikannya sebelum pulang. Analisis dan laporan.”

“Kau membuat analisis kata-kata?” tembak Alfred sekenanya.

“Bisa disebut begitu.”

“Oh, dan pertunjukan baletmu adalah bagian dari itu?”

“Tidak langsung.”

Jawaban yang singkat-singkat membuat Alfred sengaja membiarkan Natalya mengerjakan tugasnya selama beberapa saat. Perhatiannya lantas tertuju pada silinder perak yang menggelinding di meja, terhenti karena sebuah buku menghalanginya. Alfred memicingkan mata saat mengamati tulisan yang terpahat pada perak tersebut: dua kata yang dia dengar dari Natalya sebelumnya. Honest — honor. Keduanya dalam bahasa Inggris—setahunya, kecuali jika ada bahasa Latin yang mirip dengannya dan Alfred tidak mengerti apa korelasinya. Dia bisa semakin percaya pada cerita Natalya tentang akademinya; bahasa adalah sesuatu yang dipahami Natalya jauh dari yang dia ketahui.

“Kau bisa bicara berapa bahasa?” Alfred memulai lagi.

“Belarusia, Rusia, Inggris, Prancis, Latin, Yunani … dan sedikit Skotlandia.”

“... Kau gila?”

“Rata-rata dari kami menguasai paling tidak empat bahasa. Latin dan Yunani adalah wajib, karena banyak kata yang berakar dari sana.”

“Oh.” Alfred menopang dagunya, menatap Natalya dengan mata berbinar. “Kedengarannya luar biasa.”

“Bahasa adalah warisan yang selalu berubah. Tapi kau selalu bisa menemukan jejaknya, bahkan di lidahmu sendiri.”

Alfred mengerjap-ngerjap. “Aku suka pemikiran itu.”

Natalya mengerling sebentar, tetapi kemudian kembali lagi ke tugasnya. Dia menulis beberapa kalimat, lantas menutupnya, dan memejamkan mata sesaat. “Aku harus pergi.”

“Secepat ini?”

“Aku harus bersiap-siap, besok aku harus berangkat pagi-pagi.”

“Pulang? Ke Akademi?” Alfred menegakkan punggungnya. “Kau masih belum mau memberitahuku di mana letaknya? Aku akan berkunjung kalau aku sempat! Aku sering meliput ke berbagai negara, aku mungkin akan mendapatkan tugas ke akademimu suatu saat nanti!”

Natalya menggeleng. “Aku—tidak mungkin.” Ia berkemas dengan cepat, menghindari kontak mata dengan Alfred. “Kurasa aku tidak bisa.” Ia pun membawa tasnya di bahu kirinya. Dengan terburu-buru, nyaris tersaruk karena kaki kursi, ia pun berjalan cepat.

“Natalya, tunggu! Hei!”

Namun Natalya sudah telanjur pergi, berbelok di persimpangan yang dekat dengan persinggahan trem. Alfred termangu, bergeming di mejanya, dan baru menyadari bahwa Natalya meninggalkan sesuatu: batang peraknya.

Ketika dia mengangkat kepalanya, Natalya telah menghilang, tenggelam di antara kerumunan sibuk, yang dengan cepat menyembunyikan jejaknya.

 


 

Besok aku harus berangkat pagi-pagi—kalimat itu terngiang di kepala Alfred yang mengumpat tanpa henti ketika mendapati dirinya bangun terlalu siang, ketika matahari baru terlihat, dan jadwal kedatangan trem pagi ini seharusnya sudah berlalu. Dia menggenggam batang perak tersebut, mencoba untuk bertaruh dengan peruntungannya sendiri; jika Natalya berbelok di bagian sana maka penginapannya mungkin berada di sekitar sana, dan ia akan naik trem di persimpangan tersebut.

Silinder perak itu terasa dingin di genggamannya. Dia berlari cepat di tangga penginapan, menyeberang jalan dan nyaris terjerembap, terengah-engah menunggu di persimpangan tersebut. Tidak ada tanda-tanda trem yang bersinggah, mungkinkah Natalya telah pergi? Dia, dengan nekat, memasuki blok tersebut dan mencari-cari bangunan penginapan. Pasti tidak jauh dari sini, pasti tidak jauh—

Trem telah datang, dan Alfred mendengarnya dari kejauhan. Dia menoleh, dan menemukan Natalya keluar dari gang kecil di bagian depan blok, berjalan cepat menyusul kedatangan trem.

“Natalya! Natalya!” Alfred berlari secepat kilat, melambai-lambaikan tangan.

Perempuan itu telah memasuki trem, dan Alfred nyaris tidak punya kesempatan lagi. Dia mengangkat tinggi-tinggi perak tersebut, berteriak sekuat tenaga, “Milikmu, ketinggalan!”

Natalya bertahan di depan pintu, termangu, beberapa penumpang lain mendesaknya untuk segera masuk karena menghalangi jalur masuk. Alfred sudah mendekat, tetapi penumpang lain menghalangi jalannya. Dengan cepat, trem tersebut penuh, dan Natalya tidak akan mendapat tempat duduk jika ia tetap bertahan di sana. Ia pun menggeleng, “Ambil saja, untukmu!”

Alfred berhenti, trem mulai bergerak, Natalya telah masuk untuk mencari tempat duduk. Dia masih bisa melihat gadis itu di dalam trem, dan mereka bersitatap untuk terakhir kalinya. Natalya mengangguk padanya, mengizinkan, dan bibirnya sekali lagi menggumamkan, ambil saja. Sampai jumpa. Bonne chance.

Jubah hitamnya tenggelam di antara para penumpang trem lainnya. Kendaraan itu pun menjauh, perak itu begitu dingin di tangan Alfred.

Notes:

a/n: honor: istilah latin yang merupakan asal-muasal dari kata "honest" atau jujur. definisi ini diperoleh dari telusur pada wiktionary. natalya menggunakannya karena somehow dia takut dengan orang baru yang kemudian mendorong dia buat menggunakan itu supaya si orang baru ini jujur.

Series this work belongs to: