Chapter Text
Minghao Xu tidak memahami euforia Turnamen Triwizard.
Mungkin karena dia merupakan murid tingkat enam, tahun di mana mereka baru bernafas lega dari O.W.L tetapi juga harus mempersiapkan diri untuk N.E.W.T. Benar kata celetukan para seniornya saat ia di tingkat tiga dulu: ‘puas-puasin mainnya sebelum tingkat lima’ . Karena mulai dari tingkat lima, mereka sudah harus memikirkan masa depan.
Di tahun 2010 ini, Triwizard kembali diselenggarakan di Hogwarts. Artinya? Ada ruang-ruang dalam kastil yang dipersiapkan untuk menampung para tamu undangan, dan para tamu ini tidak berjumlah sedikit. Minghao menyukai ketenangannya, atau setenang yang bisa didapatkannya dalam lingkup Hogwarts. Kini, pada ceruk kastil dan lorong yang dianggapnya mati sekalipun, akan ada kelebat biru langit Beauxbatons maupun merah rubi Durmstrang yang mengusik ekor matanya.
“Kamu kan nggak ikutan, tinggal nonton aja. Jangan senewen gitu lah.”
Komentar Saerom Lee membuat bibir Minghao mengerucut dari balik cangkir tehnya. “Aku bahkan nggak ngomong apa-apa.”
“Nggak ngomong sih, tapi kerasa kok.”
Sejak tahun lalu, ia dan teman perempuannya itu kerap mengadakan upacara minum teh sebagai pelepas penat. Namun sejak para tamu itu menginvasi sekolahnya, keduanya kesulitan mencari ruang kelas kosong untuk menggelar piranti teh mereka. Pasalnya, kegiatan minum teh yang mereka lakukan jelas berbeda dengan jamuan teh di dunia sihir. Saerom akan membawa tungku kecil untuk memanaskan teko teh milik Minghao, dan isi cairannya berakhir di set gelas pendek untuk minum teh khas Tiongkok–alih-alih cangkir keramik berlengan. Jenis teh yang mereka seduh pun kebanyakan berasal dari Asia Timur, meskipun mereka tengah bersekolah di negeri yang juga terkenal akan kebiasaan minum tehnya.
“Jadwal belajarku jadi berantakan,” keluh pemuda berasrama Slytherin itu. Bagi sebagian besar murid, kelonggaran terhadap kegiatan belajar selama periode Triwizard merupakan sebuah anugerah. Akan ada hari-hari yang dikosongkan bagi para kandidat untuk berlatih, juga hari-hari bagi civitas akademika lainnya–seperti Minghao dan Saerom ini, jelas–untuk menonton para kandidat berlaga.
Turnamen ini mirip dengan event Olimpiade di dunia Muggle. Dilangsungkan setiap lima tahun, dan ketiga sekolah akan bergantian menjadi penyelenggara. Meskipun tidak berpartisipasi secara langsung sebagai peserta, ada kebanggaan dalam mendukung utusan sekolah mereka untuk bertanding. Ia dan Saerom sebagai murid Hogwarts di tahun pelaksanaan itu bahkan bisa dibilang beruntung, karena dapat menyaksikan turnamen legendaris ini secara langsung; setidaknya sekali seumur hidup.
Paham, acara ini penting. Event besar. Namun selain ketenangan, hal lain yang juga disukai Minghao adalah rutinitas dan kepastian.
“Masa jadi nggak bisa belajar sama sekali? Di asrama?”
“Gelap gitu, hawanya lebih enak buat tidur,” seloroh Minghao.
Saerom memutar matanya, malas. Gadis Hufflepuff itu memutuskan untuk mengganti topik obrolan. “Pengumuman peserta tuh nanti malam kan ya?”
Minghao mengangguk sebelum menyesap tehnya dan bertanya, “kenapa? Mau taruhan siapa delegasi Hogwarts?”
“Enggak lah, mana seru taruhan begitu sama kamu? Paling kamu udah tau duluan dari ramalan–entah jalur yang mana.”
Pemuda itu mendengus geli. Seandainya memang semudah itu, Minghao mungkin sudah dapat nilai Outstanding di semua mata pelajaran karena menerawang bahan ujiannya sendiri. Namun Minghao tidak perlu merasa memberi klarifikasi, karena keduanya sama-sama tahu bahwa tuduhan tadi hanyalah gerutuan kosong dari seorang teman.
“Kalo jagoan gitu, ada?” Minghao mengorek, walau sebenarnya ia tak begitu peduli siapa saja seniornya yang sudah mengajukan kepesertaan ke Piala Api.
Dengan aturan usia minimum peserta, banyak murid di angkatan Minghao yang menyayangkan ‘kenyarisan’ mereka untuk turut berpartisipasi. Syarat usia tujuh belas tahun bagi murid Hogwarts hanya memungkinkan murid tahun ketujuh dan segelintir murid tahun keenam menyetorkan nama mereka ke dalam Piala Api. Minghao sendiri bukan bagian dari yang menyayangkan aturan tersebut; karena setelah mempelajari riwayat turnamen di tahun-tahun sebelumnya, kecelakaan adalah hal yang tak sulit dielakkan bagi para peserta (dan di beberapa kasus, penonton pun bisa kena getahnya).
Jika Slytherin dikenal memiliki stereotip egois, biarlah Minghao egois dengan kedamaian hidupnya.
“Hmm, senior Yoon nggak sih? Otaknya encer, atletis, pendukungnya juga banyak.” Saerom tersenyum, jelas menyatakan dukungan yang sama pada nama yang baru disebut. Rasanya tidak ada anak Hogwarts yang tidak tahu ketenaran Jeonghan Yoon, mantan Kapten Quidditch Slytherin yang memutuskan untuk fokus studi di tahun terakhirnya dan tidak memegang jabatan apapun. Konon, kepala sekolah mereka sempat menawarkan posisi Ketua Murid padanya; namun ditolak yang bersangkutan.
“Menarik. Bakal seru sih kalau dia beneran kepilih,” respon Minghao. Obrolan mereka berlanjut dengan topik yang sama hingga teh yang mereka seduh dalam teko telah habis, dan keduanya berpisah untuk melanjutkan aktivitas mereka masing-masing di hari itu.
== 🐉 ==
Kalau boleh memilih, Minghao akan sukarela mengantar murid tingkat satu dan dua asramanya kembali ke kamar pada malam pengumuman peserta Triwizard. Jadwalnya memang sedikit larut; pukul sepuluh malam, sehingga murid yang lebih muda tetap harus mengikuti aturan jam malam. Namun, lengan kekar seorang Kim Mingyu menahannya untuk hengkang dari bangku.
Sejak kapan pula pemuda Gryffindor itu duduk di bangku anak Slytherin; dan menempel di sisinya?
“Kamu tuh, antusias dikit kek.” Mingyu menggerutu dengan lengan yang menggamit lengan Minghao lebih erat. Kalau kekuatannya ditambah lagi, mungkin Minghao akan bermalam di bangsal penyembuh usai pengumuman.
“Ngantuk tau, Gyu.” Seolah ingin memberikan bukti nyata, Minghao menguap setelahnya. “Lagian kita berdua nggak ada yang daftar, kamu nungguin siapa emang?”
“Ada deh…” Kaki panjang Mingyu menjejak gelisah di bawah meja–atau justru bersemangat? Pipi yang memerah menjadikan hipotesis Minghao condong ke yang kedua. Si pemuda Slytherin hanya mengernyit, sebab ia tak lagi mampu mengingat siapa gebetan terbaru Mingyu. Pemuda itu terlalu mudah untuk jatuh cinta–dan sedihnya, mudah juga untuk patah hati. Sebagai salah satu teman baik Mingyu, Minghao memilih diam dan memasrahkan nasibnya yang masih tertahan menunggu pengumuman.
Kasak-kusuk di seantero aula besar menjadi senyap ketika Profesor Changmin Shim selaku kepala sekolah Hogwarts berdeham. Mata ratusan siswa tertuju pada Piala Api yang berkilauan di atas podium khususnya. Malam ini, malam yang dinantikan, di mana tiga peserta Turnamen Triwizard akan diumumkan.
“Selamat malam, anak-anakku tersayang, dan juga para tamu kami yang terhormat” sapa Shim dengan suara lantang. Ia berdiri di sisi piala yang berkobar lembut. Bila ada yang mempermasalahkan prioritas dalam sambutannya, diam menjadi pilihan bijak. “Malam ini adalah malam yang sangat istimewa. Piala Api telah memilih tiga juara yang akan mewakili tiap sekolah dalam Turnamen Triwizard yang legendaris.”
Gemuruh tepuk tangan menyambut ucapan Shim. Semua siswa sangat antusias menantikan siapa saja yang akan terpilih–termasuk Mingyu yang melepaskan gamitan lengannya untuk bertepuk tangan heboh. Setelah beberapa saat, Shim kembali melanjutkan.
“Kandidat pertama, yang akan mewakili Hogwarts…”
(“Hah, Hogwarts duluan?” Minghao berbisik.
“Shh, diem dulu,” desis Mingyu seraya menyikut pelan karibnya.)
Semua mata terpaku pada Piala Api yang meludahkan secarik kertas bertuliskan sebuah nama.
“John Jun Suh!”
Sorakan gemuruh menggema di seluruh aula. Murid Gryffindor tahun ketujuh yang akrab dikenal dengan nama Johnny itu berdiri dari mejanya dan berjalan menuju kepala sekolahnya dengan langkah penuh percaya diri. Para siswa Gryffindor bersorak paling keras, termasuk Mingyu yang terdampar di meja Slytherin.
Minghao menengok, “Dia, jagoanmu?”
“Bukan sih…” Bahkan di tengah keriuhan aula, Mingyu tetap dapat mendengar pertanyaan Minghao padanya. Tepuk tangannya sendiri belum berhenti. “Tapi dia kan seniorku juga, jadi ikut ramein aja.”
Jika diperhatikan lekat, namun, Minghao dapat menemukan kekecewaan dalam senyum Mingyu. Hm, apa sebenarnya ini bukan soal gebetan, tapi soal taruhan? pikir Minghao. Mingyu yang ia kenal rasanya bukan tipe yang mau diajak taruhan soal ini, tapi siapa tahu ada tekanan sebaya dari anak-anak asramanya sendiri.
“Selamat, Suh.” sambut Profesor Shim. “Kau akan mengharumkan nama Hogwarts.”
Setelah tepuk tangan mereda, Shim melanjutkan pengumumannya. “Peserta kedua berasal dari Akademi Sihir Beauxbatons. Piala Api telah memilih…”
Piala Api kembali bersinar terang, dan sebutan nama berikutnya terdengar jelas.
“Gabriela Dalcin!”
Seorang gadis berparas tegas dengan rambut hitam panjang terikat bangkit dari meja tamu Beauxbatons. Ia berjalan anggun menuju sisi podium, diiringi dengan tepuk tangan meriah. Siswa-siswi Beauxbatons melambaikan bendera sekolah mereka dengan penuh semangat. Pada bangkunya, Minghao dan Mingyu ikut bertepuk tangan ringan.
“Cakep banget yak,” celetuk Mingyu
Minghao mengamini, “Anak Beauxbatons kayaknya nggak ada yang nggak cakep, deh.”
“Selamat datang di Hogwarts, Miss Dalcin,” ucap Shim. “Kami sangat senang memiliki Anda di sini.”
Gabriela mengangguk sopan sebelum akhirnya berdiri di sebelah Johnny, bersama-sama menantikan pengumuman peserta terakhir.
“Dan peserta ketiga, yang berasal dari Institut Durmstrang, adalah…”
Hening kembali menyelimuti aula. Semua orang penasaran siapa yang akan menjadi wakil Durmstrang. Minghao menggulirkan pandangannya pada rombongan seragam merah yang konon beroperasi seperti akademi militer alih-alih sekolah sihir.
“Jihoon Lee!”
Seorang pemuda dengan rambut hitam pendek dan mata yang tajam berdiri dari mejanya. Ia berjalan dengan langkah tenang menuju panggung. Para murid Durmstrang bersorak dengan keras. Tepukan tangan Minghao melambat ketika tatapannya memicing pada sosok pemuda yang baru saja dipanggil.
Sudah cukup umur, dia?
“Selamat, Lee,” ucap Shim. “Semoga keberuntungan menyertai Anda.”
Ketiga juara berdiri berdampingan di atas panggung. Johnny dengan popularitasnya; Gabriela dengan kecantikannya; dan Jihoon, dengan aura misteriusnya. Mereka adalah representasi terbaik dari masing-masing sekolah mereka.
“Selamat kepada ketiga peserta kita!” seru Shim. “Tantangan pertama Turnamen Triwizard akan diumumkan secepatnya. Semoga keberuntungan menyertai kalian semua.”
Tepuk tangan meriah kembali menggema di seluruh aula. Di tengah itu semua, Minghao menggigit bibir sebagai upaya menahan kuapan kesekian di malam itu. Akhirnya, dia bisa bernafas lega dan tidur nyenyak karena tidak ada rekan dekatnya yang akan menantang maut.
== 🐉 ==
Di malam yang sama, Minghao bermimpi tentang seekor naga.
