Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-05-17
Words:
1,320
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
13
Bookmarks:
4
Hits:
108

di penghujung anjangsana

Summary:

“Dongbaek… andaikata aku mati….”

“Yi Sang, ayolah. Kubilang pikirkan masa depan kita, tapi jangan kejauhan lah.”

Notes:

Limbus Company (c) ProjectMoon.
[Tidak ada keuntungan materiil yang diperoleh dalam proses/hasil pembuatan fiksi ini.]

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

“Setelah kita pergi dari sini, kamu mau kemana?”

Pandangannya kembali terfokus, dan Yi Sang mengedipkan matanya. Langit malam tanpa bintang menjadi kanvas tempatnya berandai. Ia mengangkat tubuhnya dari posisi berbaring dengan tangan terbentang, sejenak lalu membayangkan dirinya melesat di antara bintang-bintang di atas sana.

“Kemana…?”

Dongbaek menganggukkan kepalanya, pandangannya ia hempaskan pada kaki bukit, lokasi beberapa koleganya yang sedang sibuk mengepang tali murang hingga setiap ujungnya berakhir menjadi satu—kesemua murangnya terhubung pada kotak berisi kembang api, siap dilesatkan ke luar angkasa. 

“Entah.” Ia berdehem. “Aku akan pergi ke mana angin bertiup—”

“Yi Sang.”

“M-mungkin ke suatu tempat lain dengan rumput yang jauh lebih hijau dari ini. Bersama kalian semua.” Yi Sang mengusap tengkuknya. Di bawah sana, Dongrang memegang pemantik yang moncongnya sudah diarahkan pada ujung murang, membuat semua koleganya tergesa berlari naik ke atas bukit, membalap satu sama diikuti gelegar tawa nyaring.

“Aku… aku tidak terlalu memikirkan hal itu. Alangkah baiknya bila kita tidak terlalu terobsesi pada apa yang mungkin akan terjadi. Masa kini adalah fokus utamaku.”

Tak lama, Dongrang pun menyusul. Beberapa dari koleganya tiba mandi keringat, aroma segar tanah dan embun melekat pada pakaian mereka.

“Tapi Yi Sang,” Dongbaek mendekap kakinya, matanya memandang Yi Sang tanpa sedikitpun cela, “Kapan kamu bisa bertumbuh andai kamu pun tidak peduli—”

Lantas kembang apinya meledak di atas langit. Emas yang mencolok di langit malam, terangnya mengalahkan bintang-bintang. Yi Sang melihat bola apinya mengembang dan surut hingga melebur dengan gulita malam, sebelum satu lagi kembang api meledak di atas langit dengan debuman yang membisingkan telinga.

“Yi Sang!”

“...selamat atas satu tahun lagi kehidupanmu, Dongbaek….” ia tersenyum pada wanita di sisinya. “Semoga jiwamu semakin mekar layaknya kembang di musim semi yang pantang mengenal layu. Semoga idealmu terus berbunga, merekah dari retakan tanah di distrik ini.”

Dongbaek memandangnya dengan ekspresi sulit. Wanita itu merengut. Dengan pencahayaan yang buruk, ia tidak bisa melihat jelas rona pada pipinya.

“Yi Sang, aku tidak bisa mendengarmu.”

Ia menghela napas, pipinya merona.

“...maka biarlah hanya semesta yang mendengar.”

“Loh—kamu niat ucapin selamat ulang tahun apa nggak, sih?!”

 


 

Cinta pertamanya adalah rangkaian mesin dan gerigi.

Gubo bilang, hatinya yang rapuh tidak mungkin kuat apabila dihadapkan pada tekanan ekstrim. Hari ini, hanya itu satu-satunya kebenaran yang keluar dari mulut pria itu. Tangannya kebas. Ia tidak pernah menyukai konfrontasi; ia adalah seorang yang pragmatis.

Cintanya pada teknologi dan pengetahuan adalah hal yang simplistis. Hati manusia adalah hal yang kompleks.

Saat batangnya patah dan rumpun bunga berguguran merebakkan sari pada seisi ruangan tempat mereka berada, Yi Sang teringat pada Dongbaek. Ingatan ini bukan miliknya; wanita dalam ingatannya mati di atas rumpun bunga camelia berwarna kuning, kembali pada kampung halamannya. Senyum merekah pada bibir pucatnya seperti kembang api yang amat ia kagumi; memesona dan bercahaya. Ia hidup dan mati menurut ideal tanpa tentangan.

Hatinya lantas disapa pilu yang karib dengan jiwanya kala ia mengingat apa yang dahulu merupakan sesuatu yang menjadikannya utuh, dan ia kembali terjerumus, jauh lebih dalam pada jurang kesedihan.

(Cinta pertamanya adalah rangkaian mesin dan gerigi; ia membiarkan kakinya pergi kemana hatinya memanggil, namun hatinya hanya mendambakan kehancuran diri dan pilu tak berkesudahan.)

Hatinya terjatuh kala melihat Dongbaek di hadapannya tumbang, semerbak bunga keemasan menjadi alas di bawah tubuhnya. Amis memabukkan bercampur dengan darah yang familiar; ia mengingat ruangan putih dan lensa yang memantulkan refleksi kidal dirinya yang amatlah ideal. Lagi dan lagi—apabila hanya ini yang hati rapuhnya konstan cari, mengapa ia terus ikut pergi ke mana hatinya berkehendak?

Dongrang memandang apatis, tidak ada lagi binar simpatik dalam pancaran matanya di balik lensa kacamata yang jauh lebih tebal dibanding terakhir kali Yi Sang bersua dengannya. Hatinya menebal; tidak ingin lagi merasa hidup, hanya ingin bertahan hidup.

“K. Y. S.” Ryoshu menyudahi usia linting rokok yang baru saja ia selipkan di antara bibirnya. Senyumannya bengis kala ia mengangkat odachi-nya. “Selagi wanita itu masih diberi kesempatan untuk hidup.”

Perlahan kakinya melangkah mendekati Dongbaek.

Wanita dalam ingatannya mati dalam tidurnya, wanita dalam pandangannya mati seperti binatang jalanan. Tubuhnya dibalut kelopak bunga keemasan, seperti masa muda mereka; masa kejayaan mereka—ranting dan batang yang menyeruak dari permukaan kulitnya membuka luka yang memberi jalan pada darah segar untuk mengalir.

“Yi Sang—”

Dongbaek memanggilnya, suaranya gemetar. Selama ini ia menaruh kepercayaan bahwa Dongbaek tidak takut pada apapun. Ia adalah wanita yang kuat, jauh lebih kuat daripada dirinya yang sensitif. Tapi kali ini, ia dapat mendengar ketakutan wanita itu dari suaranya.

“Yi Sang….”

Langkahnya terhenti tepat di hadapan Dongbaek. Tubuhnya tercium harum seperti kematian; kelopak bunga keemasan bercampur darah tergilas di bawah sol sepatunya. Ia masih harum, seperti terakhir kali mereka bertemu.

“Aku tidak pernah bilang—” ia bertelut, tangannya ingin meraih Dongbaek. Nyaris mati hatinya dirundung pilu, rasionalnya jatuh-bangun memaksa kakinya untuk berdiri tegak menghadapi kenyataan bahwa kelompok kecil mereka di masa lalu hanyalah bagian kecil sejarah yang nirguna.

“Yi Sang, aku—sebenarnya aku….”

Wanita itu terisak, sedang Dongrang terdengar melangkah meninggalkan mereka, apatis.

 


 

“Yi Sang, berkarya lagi?”

Ia menutup buku catatannya, tidak membiarkan Dongbaek mengintip.

“Jangan lihat; karyaku belum beres.”

“Hahah, siapa juga yang mau lihat.” Dongbaek menghela napas, tangannya meraih moncong sapi yang menjadikan sandaran mereka. Dongbaek tahu Yi Sang selalu lari kemari andai ada sesuatu yang mengusiknya, dan Yi Sang tahu seseorang menyadari keabsenannya seharian ini dari perkumpulan kecil mereka.

Kecil.

Semenjak Young-ji jarang menghadiri konferensi mereka….

“—kamu melamun lagi, Yi Sang.”

Melihat Dongbaek, jelas wanita itu mengkhawatirkannya. Berbeda dengannya, Dongbaek sudah terlalu banyak dipusingkan dengan masalah lain di luar kendalinya. Ia tidak perlu memberikan wanita itu hal baru yang harus ia pusingkan.

“Dongbaek,” ia membuka bukunya pada halaman terakhir. Kosong, terlepas dari sketsa burung pipit dengan sayap terkembang di bawah catatan kaki lembaran itu.

“Hm? Apa ini?” ia terkesiap, lantas mendorong buku itu kembali pada Yi Sang, cepat mencerna apa tujuan Yi Sang yang menyodorkan buku itu padanya. “Malu-maluin ah. Aku tidak mungkin bisa merangkai kata sepertimu.”

Yi Sang tersenyum. Ia membuka bukunya, kembali pada halaman awal tempatnya menulis sebelum Dongbaek tiba.

“Aku berpikir tentang masa depan.”

“Oh?”

“Mhm.” Dongbaek mendekatinya, bahu mereka bersentuhan. Kali ini, ia membiarkan Dongbaek mengintip. Matanya melirik sekilas, melihat Dongbaek mencerna tiap kalimat yang tertulis pada kertas, ia menambahkan, “Jangan beri masukan, aku tidak berkenan.”

Dongbaek tidak membalas.

 


 

Harumnya masih tertinggal dalam ingatan, perihnya masih meninggalkan luka. Yi Sang berjalan terus, meninggalkan rumpun bunga keemasan; apa yang tersisa dari idealnya. Ranting-rantingnya membusuk, semerbak bunganya layu. Tapi harumnya masih tertinggal.

<”Apa yang ia bisikkan padamu, Yi Sang?”>

Ia menelan salivanya, tidak tahu harus membalas seperti apa agar air matanya tidak mengalir.

“Aku tidak bisa mendengarnya.” 

Semua koleganya menahan napas mereka, seolah mereka tahu ada hal lain yang ia timbun selain apa yang Dongbaek sampaikan padanya. Ia memandang Dante, dan mendapati dirinya tidak mampu membohongi managernya, sama seperti dirinya yang tidak mampu membuat Dongbaek mengkhawatirkannya. Hatinya terlalu sensitif untuk menyebabkan cemas yang tak perlu.

“Tapi kurasa Dongbaek pun tahu… bahwa roh kita batal berbunga, walau sudah menempuh badai dan kering tak berkesudahan… kita tetap layu karena tidak ada ruang yang tersisa untuk kita bertumbuh.”

 


 

 

“Dongbaek… andaikata aku mati….”

“Yi Sang, ayolah. Kubilang pikirkan masa depan kita, tapi jangan kejauhan lah.”

Ia tersenyum, hanya itu yang tersisa dari dirinya.

Sapi dibelakangnya melenguh, dan mereka mendengar langkah kaki mendekati tempat persembunyian mereka. Mereka saling tatap, sadar bahwa waktu mereka singkat.

“Tapi jangan khawatir, Yi Sang.” Dongbaek mendorong bahunya, main-main, diikuti kekeh manis yang masih terngiang dalam ingatannya, membara seperti murang yang melesatkan kembang api di angkasa pada hari itu. Berkasnya masih tersisa pada jiwanya yang terluka, mata batinnya yang memandang ke masa depan, dan sayapnya yang mengepak seperti layar yang terkembang, mengikuti kemana hatinya ingin pergi.

Menuju masa depan yang lebih baik, tanpa kompromi.

“Bila kau mati karena satu atau lain hal, aku akan tetap—mengasihiku. Jadi, saat aku mati, kuharap kau tidak melupakanku.”

Walau suaranya agak serak, wanita itu tersenyum lebar, seolah beban hidupnya terangkat dari bahunya. Lalu matanya terbuka; cinta pertamanya bukanlah mesin dan gerigi.

(Lantas, di buku catatannya, Yi Sang menulis: Akan kucintai segala hal yang merindukan ajalnya.)

 

Notes:

Kalimat terakhir adalah terjemahan puisi Yun Dong-ju, Prologue. Sempat terpikir untuk cari terjemahan yang sudah dikenal luas, tapi keburu malas.