Actions

Work Header

nothing even comes close to half of you

Summary:

Donghyuck suka laki-laki jenaka. Tapi tidak semua laki-laki jenaka bisa membuat jantungnya berdetak secepat ini; hanya Jeno.

Donghyuck suka Jeno.

Notes:

posted this once on my old twitter account and now that i want to get rid of it for good, i think this jendong should be accessible for those who love to read them still!! so please do enjoy :D any feedbacks and comments are greatly appreciated <3

all the love,
h.

Work Text:

I

“Habis dari mana?”

“Sumpah kaget!”

Membalikkan tubuhnya, Donghyuck refleks melempar kunci digenggamannya ke arah sumber suara selagi punggungnya membentur pintu sehingga menciptakan bunyi tabrakan yang cukup keras. Lumayan sakit, meskipun perasaan terkejutnya lebih mendominasi. Donghyuck pikir bayarannya setimpal dengan ekspresi wajah temannya yang kelewat komikal karena benda tersebut mendarat tepat di dahinya. Sebelum lawan bicaranya sempat mengomel, dia dengan cepat memotong, “Habis bantuin tetangga sebelah!”

Yangyang mengerutkan dahinya, “Yang baru pindahan kemarin?” Donghyuck mengangguk. “Ngapain?”

Yang ditanya hanya membuat gestur tangan kepada Yangyang untuk memberikan ruang agar ia bisa melewati koridor dengan mudah. Meraih kunci yang jatuh kemudian menaruhnya di meja dekat rak sepatu, Donghyuck sedikit meraba dinding untuk menghindari benturan karena pencahayaan hanya bersumber dari televisi yang ia sadari sedang menayangkan episode terbaru serial Netflix yang ditunggu-tunggu sejak minggu lalu.

Dengan malas Donghyuck membawa tubuhnya ke ruang kecil yang disulap menjadi studio musik miliknya. (Bonus yang bagus, meskipun akhirnya mereka tidak memiliki gudang.) Tolong ingatkan dirinya kembali kalau inilah alasan mengapa dia tidak pernah keluar dari kamarnya; bersosialisasi dengan orang selain Yangyang dan Renjun itu melelahkan.

“Lee Donghyuck.”

“Apa?”

“Jawab dulu sih, kerjanya nanti aja.”

“Nggak penting banget kalau kamu tau juga…”

Bertentangan dengan balasannya, Donghyuck pada akhirnya tetap menghampiri Yangyang ke ruang tengah. Meskipun bentuk apartemennya cukup minimalis, tapi tempat ini terlewat luas untuk ditinggali sendiri, jadi Donghyuck pikir tidak ada salahnya untuk membagi tempat tinggal dengan orang lain. Yang tidak ia pikirkan adalah bagaimana bodohnya dia mengajak teman satu kampusnya dulu itu untuk tinggal bersama ketika ia jelas-jelas memiliki opsi yang lebih baik daripada instruktur tari yang satu ini.

“Tadi dia minta telur,” Donghyuck memulai ketika ia sudah berada di posisi yang menurutnya nyaman, “Katanya mau bikin makan malam. Terus dia diem sebentar, kayaknya sadar kalau dia nggak bisa masak soalnya dia langsung nanya cara bikin panekuk yang gampang kayak gimana.”

Yangyang mencoba menahan tawanya, namun gagal dan terlepas dalam bentuk kekehan kecil. Omong kosong, pikirnya. Di seberang apartemen jelas ada toko konvensional yang buka 24 jam sehari. Lagipula di zaman yang sudah maju ini, opsi layanan pesan antar sudah bukan sesuatu yang aneh. Tapi Yangyang menutup rapat-rapat mulutnya dan melihat ke mana semua ini akan berakhir.

“Sekarang dia udah tau gimana cara masaknya?”

Donghyuck menjatuhkan kepalanya ke sandaran sofa, “Udah. Meskipun kemampuan masaknya lebih payah dari kamu, seenggaknya dia tau cara mecahin telur biar cangkangnya nggak kebawa. Jadi acara masak tadi nggak buruk-buruk banget.”

Yang lebih muda tidak tersinggung. Walaupun dia bukan orang yang mengambil alih dapur di antara mereka berdua, dia melakukan semua pekerjaan di luar apartemen dengan baik: Laundry mingguan, belanja bulanan, atau hal kecil seperti mengambil paket dari lobi bawah karena temannya yang satu ini terlalu sibuk membuat lagu sebagai pekerjaan utamanya.

(Lebih ke arah terlalu malas, menurut Yangyang. Sibuk hanya label untuk membenarkan kebiasaan tidak sehatnya saja.)

“Selain resep untuk pilihan makan malam yang buruk, kamu ngasih tau dia apa lagi?”

“Nomor teleponku.” Donghyuck menyetel siaran dari ulang. Terdengar umpatan kecil dari lawan bicaranya, entah karena jawaban darinya atau karena fakta bahwa ia harus menonton serialnya dari bagian awal; Donghyuck tidak peduli. “Dan panekuk bukan menu makan malam yang buruk, kamu tau itu.” Kemudian dia menambahkan, “Sedikit aneh, mungkin. Tapi nggak buruk.”

“… Kamu bilang kayak gitu gara-gara dia menarik, kan?!” Yangyang menuduh.

“Koreksi,” Donghyuck meraih keripik kentang yang ada di tangan Yangyang, “Kebalikannya, justru karena dia terlihat menyedihkan. Mukanya merah dan keliatan nggak fokus.”

Sejauh ini Yangyang menemukan dua kemungkinan: tetangga baru mereka memang bencana berjalan atau dia hanyalah salah satu dari banyaknya korban yang jatuh pada pandangan pertama kepada komposer ini.

Menurutnya, Donghyuck memang tidak seburuk itu. Meskipun hidup berdampingan dengan manusia aneh ini tidak lebih dari dua tahun lamanya, jumlah bukti yang telah dikumpulkan sudah lebih dari cukup untuk mengesahkan teori penelitian abalnya ini.

Tapi, entah kenapa, temannya ini sepertinya sedikit bodoh dalam urusan percintaan. Dilihat dari trek bersih dalam daftar nama yang tidak sengaja Yangyang temui dalam folder lagu To All The Boys I’ve Loved Before, ditulis di bawah nama pena Haechan dan diunggah ke akun Soundcloud ketika ia puas dengan karyanya. (Hanya dua nama, bayangkan! Dengan wajah dan personalitas seperti itu ... disayangkan sekali.)

Donghyuck menaikkan sebelah alisnya, heran dengan diamnya Yangyang. “Kenapa?”

“Nggak apa-apa. Aku kira, karena dia punya wajah yang lumayan— tolong jangan ngeliatin kayak gitu. Ibu Kim, yang unitnya dekat lift, kamu ingat? Bilang kalau tetangga kita yang baru ... Jisoo? Jinwoo?”

“Jeno, Lee Jeno.” Donghyuck menginterupsi.

“Iya. Itu. Jeno. Ibu Kim bilang dia adalah keturunan dewa Apollo—” Donghyuck menatap Yangyang dengan pandangan jengkel, hampir seperti semua hal yang keluar dari mulut Yangyang adalah skandal terbesar abad ini. “Hyuck, aku juga nggak tau kenapa Ibu Kim bisa tau mitologi Yunani, oke? Mungkin dia penggemar berat seri Percy Jackson atau apa lah. Intinya, dia bilang kalau kebanyakan penghuni unit lantai ini setuju kalau Jeno tampan.”

Jeno memang tampan. Donghyuck sedikit bisa paham kenapa dia dikaitkan dengan Apollo. Donghyuck jelas bukan dokter kecantikan, pun ahli bedah plastik. Tapi dia seorang komposer, dan dia sudah bertemu begitu banyak idola hingga seniman saat proses rekaman untuk mengatakan kalau presensi Jeno memanglah melewati standar rata-rata. Donghyuck pikir, kalau Jeno mau, dia tidak perlu berusaha terlalu keras untuk mengawali karir di dunia hiburan.

Donghyuck memilih untuk memejamkan matanya daripada mengonfirmasi pernyataan Yangyang.

 

 

 

II

Kedua kalinya Jeno berada di depan pintu apartemen Donghyuck adalah tiga hari kemudian, dengan keadaan yang tidak jauh berbeda dari sebelumnya; baju tertutupi noda tepung, kucing corak tiga warna (yang Donghyuck pelajari namanya adalah Seol saat dia membantu Jeno kemarin) sedang bergelung di lengannya, dan—

“Aku butuh bantuan kamu. Temanku bilang dia akan mampir nanti malam dan aku harus memasak sesuatu buat dia tapi Seol lagi nggak bisa diajak kerja sama. Jadi apartemenku sedikit berantakan sekarang.”

“Uh,” Donghyuck tertegun karena, demi Tuhan, perkataan Yangyang tentang Ibu Kim, dewa Apollo, dan Jeno berhasil mengonsumsi pikirannya beberapa waktu terakhir. Bahkan disaat berpenampilan kacau seperti ini, Jeno tetap terlihat keren.

Ketika tidak mendapatkan respons lebih lanjut, Jeno dengan cepat menambahkan, “Maaf kalau ganggu. Tadi aku coba telpon kamu tapi nggak ada jawaban?”

“Ponselku mati…”

“Ah, masuk akal.” Jeno mengusap belakang kepalanya dengan satu tangan. Seol menggeliat tidak nyaman karena posisinya diubah sang majikan. “Jadi?”

“Apa?”

“Tentang bantuanmu.”

“Oh.” Lelaki berambut hitam itu berpikir sebentar. “Aku bisa bantu, asal bukan ...” Donghyuck menunjuk Seol dengan dagunya. “Menjaga dia. Aku nggak pernah punya peliharaan sebelumnya.”

Jeno tertawa dan Donghyuck berani bersumpah kalau suara miliknya lebih indah daripada vokalis utama grup yang sedang tenar di kalangan penduduk Korea Selatan sejak akhir tahun lalu. Nada tinggi empat oktaf Seungkwan tidak bisa mendekati betapa candunya tawa lelaki yang memiliki wajah menggemaskan ini.

“Kamu punya penghisap debu, ‘kan?”

“Punya!” Donghyuck berharap bumi bisa menelan tubuhnya sekarang. Apa-apaan, tidak seharusnya dia menjawab secepat itu dengan antusias yang kelewat tinggi. Memalukan. Dia terdengar terlalu gembira. Donghyuck batuk untuk menutupi kegugupannya. “Sebentar, aku cari dulu. Kamu bisa masuk, kalau kamu mau.”

Butuh waktu sekian detik bagi Donghyuck untuk sadar kalau dia tidak pernah menyentuh peralatan bersih-bersih di apartemen ini. Satu-satunya tempat yang ia hafal di luar kepala selain kamarnya sendiri adalah dapur, dan kalau ingatannya tidak salah, dia tidak pernah melihat mesin penghisap debu di sana.

Donghyuck mengekor di belakang Jeno dan Seol, dengan panik mengundurkan diri ketika Jeno sudah aman di ruang tengahnya. Lelaki yang lahir di puncak musim panas ini mencabut ponsel dari pengisi daya yang terletak di sebelah kasurnya, mengeluarkan umpatan karena ponselnya terasa berjalan lebih lambat dari biasanya; atau memang waktu suka berlalu dengan cepat ketika ada lelaki yang menarik di dalam hari-harinya?

“Halo?” Donghyuck segera berkata ketika telepon tersambung. “Hei, Liu, kamu naruh penghisap debu di mana?”

“Sebelah studio, deket tempat aku naruh sepeda.” Kata Yangyang di sela-sela napas pendeknya. Pasti dia menjawab di tengah latihan, pikir Donghyuck. Kalau saja dia tidak dikejar waktu, dia akan meminta maaf dengan instan. Mentraktir satu paket samgyeopsal nanti sebagai ganti sepertinya akan lebih dari cukup.

“Oke oke, terima kasih! Aku berhutang banyak sama kamu.”

Panggilan ditutup saat Yangyang belum sempat menjawab. Bukan sebuah masalah, setidaknya untuk Donghyuck. Ada prioritas yang harus diutamakan.

Ketika Donghyuck kembali ke ruang tengah, Jeno sedang melihat deretan buku-buku di rak yang terletak di pojok ruangan. Dia tampak terkejut ketika menangkap bayangan Donghyuck di salah satu piala penghargaan miliknya. Lucu.

“Maaf lancang, aku nggak bermaksud buat liat-liat tanpa izin.”

“Nggak masalah.” Donghyuck melirik Seol yang setia menempel pada bahu lebar Jeno. Terlihat nyaman. Sepertinya Donghyuck harus membuat daftar tentang hal-hal kecil dari Jeno yang bisa membuktikan kalau dia, memang pada faktanya, adalah keturunan Apollo. Tapi sebelumnya, ada urusan pinjam-meminjam yang harus diselesaikan. “Kamu bisa pakai yang jenis ini nggak?”

Jeno menyengir. Sempurna. Hal pertama yang harus ditulis oleh Donghyuck di daftar itu adalah senyum Jeno yang membutakan. Suara tawanya menyusul di nomor dua. “Bisa.” Jawab Jeno mantap.

Saat tuan rumah ingin menutup pintu apartemen setelah penghisap debu itu berpindah tangan, Donghyuck sadar kalau Jeno seperti menahan diri untuk mengatakan sesuatu. “Ada masalah?”

“Uh, aku nggak bisa bikin kukis?”

Jadi di sinilah Donghyuck menghabiskan waktu sorenya; apartemen Jeno. Membuat kukis cokelat dan pastei apel untuk teman Jeno yang hampir seluruh bahannya ia ambil dari kulkas apartemennya, dengan Seol yang memperhatikan mereka dari balik sofa, seakan-akan bersikap waspada penuh atas adegan ini.

Donghyuck membuat catatan mental untuk menambahkan bagaimana menggemaskannya wajah merah Jeno selama mereka bereksperimen dengan adonan di urutan ketiga pada daftar yang rencananya akan ia tulis di bagian paling belakang buku liriknya. Agar Yangyang tidak mengusik dirinya tentang ini, tentu saja.

 

 

 

(Donghyuck, secara tidak mengejutkan, gagal. Keteledorannya dalam meninggalkan buku tersebut di sebelah televisi membuat dia rugi seratus ribu won karena harus lagi-lagi menyogok Yangyang untuk tutup mulut. Donghyuck membuat pengingat di ponselnya untuk menambah bahan blackmail agar dia terhindar dari pemerasan berkepanjangan.)

 

 

 

III

“Biar aku ulangi,” Renjun membenarkan kacamatanya, berkata sedikit terlalu keras karena kafe di pinggir Gangnam ini sedikit lebih ramai daripada biasanya. “Kamu diajak Jeno liburan akhir tahun di Incheon, benar?” Donghyuck mengangguk. “Incheon, dalam artian, rumah keluarga besarnya?”

Donghyuck bisa merasakan pipinya memanas. Dia menyalahkan suhu di bulan Desember yang kelewat dingin. “Kalau boleh jujur, aku juga nggak tau kenapa dia ngajak aku. Maksudku, kamu ingat ceritaku tentang karnival musim gugur kemarin? Aku dan dia emang ngabisin banyak waktu bersama setelah acara itu. Tapi ... entahlah.”

“Aku saksinya.” Yangyang membawa pesanannya ke meja mereka. “Sebagai contoh, minggu lalu aku liat mereka kencan di apartemen; bikin kue pastri berdua untuk kesekian kalinya di bulan ini, terus lanjut nonton film-film Disney.” Renjun meringis. “Mereka terlalu domestik, Renjun. Aku ngerasa kayak aku yang jahat di sini karena momen kencan mereka jadi keganggu. Harusnya mereka kencan di apartemen Jeno aja, ‘kan? Toh dia tinggal sendiri.”

“Pertama-tama, itu semua bukan kencan. Jeno cuma minta diajarin masak. Kedua, aku udah bilang kalau apartemen dia penuh sama tabung sketsa—”

“Ketiga, Seol terlalu suka apartemen kita. Yadda-yadda. Aku udah hapal sama semua alasan nggak masuk akal kamu.”

“Kamu nyebelin.”

“Tapi Yangyang ada benarnya,” Sambar Renjun saat ia sadar kalau ledekan Yangyang tidak akan berhenti dalam waktu yang dekat. Donghyuck melihat dia dengan tatapan tolong-jangan-kamu-juga, jadi Renjun menguatkan argumennya. “Hyuck, aku nggak pernah ketemu Jeno, tapi ocehan kamu selama empat bulan terakhir bikin aku mikir kalian emang kayak orang yang baru nikah.”

Donghyuck hampir saja berhasil menghapus cengiran Yangyang dengan lemparan kentang goreng kalau saja bunyi lonceng pintu tidak mengalihkan perhatiannya. Speak of the devil, titisan dewa Yunani andalannya baru saja masuk ke dalam kafe langganan Renjun ini. Dari banyaknya kafe di Seoul…

“Jangan ngomong yang aneh-aneh, oke?” Kata Donghyuck pelan saat sadar kalau Jeno berjalan ke arah meja mereka sekarang.

“Hyuck!” Sapa Jeno. Ah, inilah kenapa senyuman Jeno masih setia berada di urutan pertama dalam daftarnya. Menurut Donghyuck, dibanding 36 bagian yang lain, ekspresi Jeno yang satu ini adalah yang terbaik dari yang terbaik.

“Padahal ada aku juga ... kenapa cuma Donghyuck yang disapa.” Gumam Yangyang. Donghyuck mengabaikannya; setengah bersyukur karena Jeno terlihat tidak mendengar perkataan Yangyang.

“Jeno! Kebetulan banget kita ketemu di sini.”

“Ah, iya.” Jeno mengusap belakang kepalanya. Kebiasaan yang Donghyuck sadari selalu dilakukan ketika lelaki berambut biru itu sedang malu. “Aku inget kamu pernah bilang kalau kamu suka kesini sama temen-temen kamu, dan aku lagi butuh asupan kafein buat kerja, jadi aku pikir sekalian aja ke sini.”

Siulan Renjun berhasil mengalihkan perhatian Jeno. Donghyuck tidak tahu apa tujuan sahabatnya, tapi dia yakin kalau itu bukan sesuatu yang bagus. “Aku Renjun, teman Donghyuck. Kamu Jeno, ‘kan? Donghyuck banyak cerita tentang kamu.”

“Oh, iya kah? Ini menarik.” Jeno memalingkan wajahnya ke arah Donghyuck. “Aku harap dia nggak cerita hal-hal yang memalukan.”

“Tenang aja, dia cuma ngasih tau bagian terbaik.” Renjun beranjak dari kursinya, menarik Yangyang untuk ikut berdiri. “Kamu lucu, Jeno. Aku pikir kita berempat harus kumpul bersama di lain waktu. Tapi sekarang aku dan Yangyang harus balik ke kantor.”

Tunggu-tunggu, ini tidak ada di dalam rencana mereka. Seharusnya, mereka di sini sampai sore, lalu lanjut pergi ke bioskop nantinya.

“Titip Donghyuck ya, Jen!” Sahut Yangyang yang berhasil membuat beberapa orang melirik mereka. Yangyang dan Renjun sudah hampir sampai di pintu keluar ketika Renjun menambahkan: “Nikmati kencan kalian!”

Donghyuck menjatuhkan kepalanya ke meja. Sial, sial, sial. Teman-temannya tidak seharusnya mempermalukan dirinya di muka umum seperti ini.

“Gemes banget.”

Donghyuck menaikkan kepalanya. “Apa?”

“Kamu. Kamu gemes banget.”

“Nggak usah ngeledek.”

Jeno hanya tertawa mendengar jawaban Donghyuck. Ah, dia sepertinya sedang dalam suasana yang baik hari ini.

“Jen,” panggil Donghyuck. “Habis ini ada acara?”

Jeno hampir saja menjawab ada, mengingat ada satu desain mobil yang masih setengah rampung. Tapi jalan berdua dengan Donghyuck di hari secerah ini bagaimanapun terdengar lebih baik daripada mengurung diri di ruang kerja (sekaligus kamar Seol). Jadi dengan hati-hati dia menjawab, “Nggak ada. Kenapa?”

Melihat wajah berseri Donghyuck sedikit membuat rasa bersalahnya berkurang.

“Nonton film, yuk? Di bioskop. Setauku ada film bagus yang baru keluar.”

“Boleh,” cara bicara Jeno agak mencurigakan, membuat detak jantung Donghyuck jadi tak terkendali. “Satu syarat, yang terakhir sampai ke tempat parkir, dia yang traktir!”

Laki-laki yang jenaka, pikir Donghyuck. Donghyuck suka laki-laki yang jenaka. Tapi tidak semua laki-laki jenaka bisa membuat jantungnya berdetak secepat ini. Hanya Jeno. Donghyuck suka Jeno.

 

 

 

IV

Pada akhirnya, Donghyuck menerima ajakan Jeno untuk pergi ke Incheon.

Setelah mengalami perdebatan batin yang berhasil diakhiri ketika Yangyang mengatakan kalau dia akan menyusul ke sana.

(“Jaemin, sepupu Jeno, ngajak Renjun buat dateng.” Yangyang berkata sambil membuka pintu kulkas.

“Apa hubungannya sama kamu?”

“Dia terlalu pengecut buat ngajak Renjun jalan berdua. Jadi aku, berdasarkan perkataan Jaemin, harus ikut.”)

Hari ini mataharinya cukup terik, tapi udara dingin yang menusuk kulit membuat keduanya tetap memilih menggunakan pakaian yang dilapisi dengan mantel ketimbang bertahan hanya dengan sweater.

“Ini mungkin agak aneh,” Jeno memulai percakapan ketika mobilnya sudah memasuki tol. “Tapi kayaknya aku nggak pernah denger lagu-lagu kamu sebelumnya.”

“Aku juga nggak pernah liat desain-desain mobil kamu?”

“Uh,” Jeno menutupi kegugupannya dengan menaikkan volume siaran radio. “Kamu lagi naikin hasil karya aku sekarang.”

BMW X5, salah satu unit terlaris di kalangan papan atas Korea. Donghyuck tidak bisa menyetir, lebih mengandalkan Kakaotaxi untuk pergi dari satu tempat ke tempat yang lain. Tapi teman-temannya cukup sering membahas tipe mobil ini, jadi dia tau sedikit. Jadi untuk mengatakan kalau Donghyuck terkejut bukanlah reaksi yang berlebihan.

“Kamu pasti bercanda.”

“Aku bakal tunjukin ke kamu pas kita balik dari Incheon.”

Donghyuck diam, mencoba untuk mencerna seluruh informasi ini. Seakan tidak cukup untuk menjatuhkan satu bom, Jeno menambahkan, “Oh iya, aku lupa. Maaf, maaf, tapi kalau saudaraku ada yang nanya yang aneh-aneh, diemin aja, oke?”

“Pertanyaan aneh kayak gimana?”

“Tergantung,” Jeno mengetuk jari-jarinya di pegangan setir, “Tapi menurut prediksiku, seenggaknya bakal ada satu orang yang nanya udah berapa lama kamu deket sama aku.”

“Hah?”

“Aku nggak pernah ngajak temen ke rumah. Terus, kebetulan, kamu tahun ini dateng. Jadi pasti ada aja yang mikir macem-macem? Dianggap pacar aku, misalnya.”

“Jadi pacar beneran juga nggak apa-apa.” Gumam Donghyuck. Semburat di pipinya terlihat jelas, Dongyuck sadar akan itu karena ia bisa merasakan pipinya memanas. Dalam hati ia merapalkan terima kasih entah kepada siapa karena Jeno harus fokus memerhatikan jalan sehingga tidak melihatnya kesulitan mengontrol diri.

Di sisi lain, kali ini Jeno yang kehabisan kata-kata. “Beneran?”

“Apanya yang beneran?”

“Kamu mau jadi pacar aku.”

“Yang jelas aku nggak bercanda. Terserah kamu mau nganggep aku beneran atau nggak.”

Jeno menepikan mobilnya, dia tidak mungkin bisa melanjutkan perjalanan kalau tangannya gemetar seperti ini. “Hyuck,” Jeno memulai.

Donghyuck dengan cepat memotong, “Maksudku, kamu baik, sopan, lucu. Aku nggak ngeliat ada masalah dari mengencani kamu?”

“Oke, oke. Sial. Oh, aku gugup sekarang. Aku nggak ngira kamu bakal bilang gini. Sial, sial. Hyuck, harusnya aku bisa lebih romantis dari ini.”

“Hei,” Donghyuck meraih tangan Jeno, mengusapnya agar lelaki itu tenang, meskipun kenyataannya dia sendiri harus mengumpulkan keberanian yang besar. “Nggak apa-apa. Seenggaknya kita nggak terjebak di satu tempat dan diem aja. Aku sadar kita tertarik satu sama lain, tapi belum siap. Aku rasa sekarang waktu yang tepat.”

“Poin yang bagus.” Jeno masih berusaha menenangkan dirinya. “Apa ini artinya kita pacaran sekarang?”

Balasan berbentuk senyuman dari Donghyuck memberikan jawaban yang lebih dari cukup untuk Jeno. Kemudian, seperti bahan bakar yang memberikan tenaga pada api, Donghyuck dengan jahilnya berkata, “Abis liat sketsa kamu, aku janji bakal ngasih kamu demo lagu-lagu aku. Dan hal-hal lain yang mungkin ingin ketahui tentang aku. Tentang seberapa hebatnya aku berciuman, misalnya.”

Ah, Jeno rasanya tidak ingin pergi dan langsung kembali ke apartemen.

Atau tidak. Memberitahu keluarganya kalau ia berkencan dengan Lee Donghyuck, si Sempurna Donghyuck, terdengar lebih mengesankan. Dirinya bisa memiliki Donghyuck sepenuhnya nanti.