Work Text:
Alisa menekan gumpalan tanah cokelat keabuan itu dengan antusias. Liat dan basah. Ia menepuk-nepuknya, cipratan air mengenai monogram sweater putihnya, meninggalkan noda bintik yang tidak membuatnya menyesal. Alat pun berputar, di sisinya Tetsuro mendengarkan penjelasan dengan saksama, dan mulai membasahi gumpalan tanah liatnya dengan lebih banyak air.
Pengajar mereka memberikan contoh, hanya dengan menyentuhnya dia seolah-olah bisa membuat keajaiban: tanah liat tersebut berubah bentuk menjadi menara kerucut yang agak tinggi, kemudian dia memberi sedikit tekanan untuk membuatnya menjadi bulat nyaris sempurna, lantas membuat cekungan di tengah-tengahnya sebagai lubang besar. Seperti stadium mini, pikir Alisa.
Alisa mencoba melakukannya. Keningnya mengernyit, tangannya jelas belum terbiasa dengan hal seperti ini. Gumpalan tanahnya menjadi bentuk aneh, bahkan ia membuat cipratan yang lebih banyak, mengenai wajahnya. Tetsuro menoleh, tetapi dia tenggelam dalam keasyikannya sendiri. Bentuk tanahnya hampir mengikuti contoh dari pengajar.
Alisa mencoba untuk lebih lembut. Ia menekan seperti yang diarahkan oleh pengajar, tetapi gumpalan tanahnya tidak bisa menjadi mulus seperti yang diarahkan. Milik pengajarnya telah bisa menjadi sebuah gelas tinggi yang besar, Alisa semakin kebingungan dan merasa tertinggal. Tanah liat Tetsuro telah membentuk menjadi silinder besar yang lebih kurus, tetapi setidaknya mendekati.
Pengajar memberikan sedikit tekanan di bagian bawah keramik, membuat bentuk gelas tersebut menjadi lebih kecil daripada di atasnya. Dia juga membuat bagian atasnya menjadi lebih tipis dan rapi. Ketika dia memasukkan tangannya ke dalam lubang di dalam bentuk itu pun, seketika tanah liatnya bisa memperlihatkan bentuk lekuk yang berbeda. Ketika Alisa mencobanya, ia hanya bisa membuat sebuah tumpukan tanah abstrak dengan lubang yang tidak simetris.
Oh Tuhan, lima belas menit di sini dan Alisa merasa seperti orang paling payah di muka bumi.
Tetsuro berhasil membuat sebuah gelas kecil, dan dicat dengan warna putih dan garis hijau zamrud yang mengelilinginya sebagai motif tunggal. Alisa mengangkatnya ke cahaya, menatapnya sambil duduk di bangku panjang dekat alun-alun kota Kopenhagen. Gelas keramik Tetsuro cukup rapi untuk pemula yang baru mencoba, dan Alisa sedikit kurang percaya bahwa tangan besar Tetsuro tersebut bisa membuat gelas mungil yang menggemaskan ini. Ia akan memajang gelas ini di apartemen mereka, tidak ingin menggunakannya untuk minum, terlalu lucu.
Sekarang yang ia pikirkan adalah bagaimana membawa benda ini di dalam koper mereka ….
“Lucu.” Sementara Alisa mengamati gelas keramik Tetsuro, pria itu memegang hiasan kucing yang gempal, yang dicat hitam dengan mata hijau cemerlang, mengamatinya di bawah cahaya matahari yang masih malu-malu karena mendung.
Alisa putus asa di bagian terakhir kursus kilatnya, dan tanah liatnya benar-benar nyaris tak berbentuk. Pengajar mereka akhirnya mengakali gumpalan tanah milik Alisa menjadi seekor kucing dalam posisi duduk, ekornya melengkung rapi di depan tubuhnya. Satu-satunya bagian menyenangkan adalah ketika ia mengecat kucing tersebut dengan warna hitam seluruhnya, dan membubuhkan warna hijau pada matanya.
Kalau dilihat-lihat lagi, kucing itu mengingatkannya pada seseorang ….
Enam ratus lima puluh krona, kurang lebih sama dengan empat belas ribu yen untuk benda seperti ini saja? Konyol, pikir Alisa, walaupun ia sadar ini bukan cuma sekadar ‘membeli’ suvenir biasa. Yang terpenting adalah pengalamannya, di hari-hari terakhir mereka di Denmark di awal musim semi yang masih dingin. Kapan lagi ia bisa bebas mencoba tanpa berusaha memenuhi tuntutan orang-orang? Di Jepang, ada lebih banyak orang yang mengenalnya, yang berarti ada lebih banyak mata yang mengawasi dan mengharapkan lebih darinya.
Tetsuro mengembalikan kucing itu pada Alisa, dan Alisa menukarnya dengan gelas Tetsuro. Namun tiba-tiba pria itu menangkap wajahnya, ia nyaris saja memberontak.
“Diam sebentar.” Tetsuro menggenggam kedua sisi wajahnya, ibu jari kanannya menggosok bagian atas pipinya dengan agak keras. “Bekas tanahnya masih belepotan. Sudah kering, pula.”
“Oh.” Alisa tidak menyadarinya. Rupanya ia berjalan dari tempat kursus keramik hingga ke sini dengan coretan tanah memanjang di pipinya. Bagus sekali. Untung saja di sini ia bukan siapa-siapa.
“Kamu bawa peralatan dandanmu ?”
Alisa mengambil tote bag- nya dan mengeluarkan sebotol kecil micellar water dan selembar kapas bundar. Tetsuro menuangkan pembersih tersebut pada kapas, dan menggosokkannya di pipi Alisa. Pria itu tidak malu-malu. Alisa pun tidak akan pernah malu.
Tetsuro memandangi wajahnya sambil menjauh untuk memastikan bahwa dia telah membersihkannya dengan benar. Dia pun mengangguk. “Sudah.” Cengirannya lebar, dan Alisa melihat kemiripan yang tidak mengherankan dengan kucing di tangannya.
“Ke mana lagi?” Alisa bertanya sambil mematut wajah di cermin kecil pada cushion- nya.
“Makan?” tawar Tetsuro. “Tapi nggak apa kalau kamu mau retouch dulu.”
Alisa sontak menggeleng, lantas berdiri. “Nggak perlu. I’m all set.”
“Yakin?” Tetsuro mendongak padanya.
“Kamu mau aku dandan atau nggak?” Secara pribadi, Alisa merasa tidak perlu. Ia tidak berusaha untuk memberikan kesan apapun pada siapapun di sini.
“Terserah kamu,” Tetsuro diplomatis.
“Nggak,” Alisa yakin, dan mengulurkan tangannya. Tetsuro pun menyambutnya dan mereka menyusuri trotoar bersama, Alisa melihat-lihat sekeliling sementara Tetsuro mengecek tempat makan terdekat di peta ponselnya.
“Ada diner yang ulasannya bagus lima ratus meter di sebelah sana,” Tetsuro menunjuk ke arah kanan dari jalur mereka berjalan. “Mau?”
“Boleh.”
Tetsuro mengajaknya ke sebuah restoran yang menyediakan makanan dari Asia. Mereka duduk di kursi depan, tepi jalan, dan Alisa mengamati sekarang Tetsuro lebih senang memesan makanan tanpa gluten. Dia, bagaimanapun, masih atlet dari dalam hatinya yang terdalam. Menjaga tubuhnya, makan makanan yang sehat, masih berolahraga dengan rutin setiap dua hari sekali.
Alisa sedang menikmati makanannya ketika ponsel kerjanya, yang akhirnya ia nyalakan lagi di menjelang kepulangannya ke Jepang, berdering. Ia menjawabnya dengan cepat dan singkat.
“Kerjaan?” tanya Tetsuro setelah Alisa selesai dengan telepon tersebut.
“Iya. Kita landing tanggal tujuh, kan? Sorenya aku harus ikut briefing buat proyek baru sama brand yang bakal kuiklankan mulai bulan depan.”
“Sama. Kita landing sekitar jam 8, kalau on time,” Tetsuro bicara sambil mengunyah, “Jam 12 aku ada undangan rapat.”
Alisa tertawa masam. “Selamat datang di kehidupan nyata.” Ia mengangkat bahu. “Selamat datang kembali, model Alisa.”
Tetsuro melihat kerutan pada wajah Alisa dan tersenyum. Lagi-lagi Alisa teringat pada kucing keramik hitamnya. “Kenapa? Kayaknya kamu nggak senang.”
“Aku harus jadi Alisa depan kamera lagi, Sayang.” Alisa melambatkan makannya, daging panggang itu lebih terasa bumbunya ketika ia makan dengan lebih tenang. “Yang tentu saja harus berbeda dari diriku sendiri setiap hari.”
Tetsuro menopangkan kepala pada tangannya. “Pensiun saja.”
Tawa pahit Alisa meledak. “Lalu, aku ngapain?”
“Merajut?” Tetsuro menjawab sekenanya sambil tertawa. “Atau bikin keramik. Kayak barusan. Kamu sudah belajar, kan?”
Alisa menggeram, pura-pura marah. “Kamu mengejek, ya?”
Tetsuro tertawa tanpa pikir panjang lagi.
Alisa cemberut sambil makan, tapi itu tidak bertahan lama. Melihat Tetsuro bisa menyelesaikan makannya sampai piringnya kosong entah kenapa membuatnya tenang dan damai seketika. Alisa mengerti dirinya sendiri: ia tidak punya pilihan, dan ia telah melakukan ini bertahun-tahun. Ia merasa tidak lagi mampu memulai sesuatu yang baru dari nol. Ia pun melanjutkan makan dengan cepat, tidak ingin membuat Tetsuro menunggu terlalu lama.
“Mau kue-kue buat dimakan di hotel?”
“Mau,” sambar Alisa, segera tergiur dengan bayang-bayang kue manis sebagai kudapan.
“Kamu di sini saja. Aku yang belikan,” Tetsuro berdiri, mengedikkan dagu ke arah toko roti dan kue di seberang jalan, di balik punggung Alisa. “Mau muffin?”
“Ya!” Mata Alisa berbinar cerah.
Tetsuro pun menyeberang, Alisa menatapnya hingga pria itu masuk ke dalam toko kue tersebut. Ia tersenyum kecil, hanya untuk alasan yang terlalu sederhana.
Alisa mendadak terbangun di tengah malam karena lampu kamar hotel mereka dimatikan seluruhnya. Ia tidak bisa tidur jika terlalu terang, tetapi ia masih perlu cahaya temaram. Ketika cahaya hilang seluruhnya, ia biasanya akan secara naluriah terbangun.
“Sayang?”
Seberkas cahaya muncul dari sudut ruangan, wajah Tetsuro terlihat remang-remang di balik cahaya lilin tersebut. Alisa tersadar sepenuhnya ketika Tetsuro, dengan suara yang sedikit sumbang, mulai menyanyikan lagu selamat ulang tahun, mendekatinya di tempat tidur sambil membawa sebuah muffin berukuran agak besar di dalam kotak, beserta seekor kucing hitam yang seolah-olah juga sedang tertawa ke arahnya.
“Oh ….” Alisa tertawa kecil. “Kupikir hari ini masih tanggal empat ….”
Tetsuro duduk di atas tempat tidur dan Alisa menyambut kotak kue tersebut, kue yang rupanya dibelinya bersama dengan kue camilan yang dia beli tadi siang dan tidak Alisa sadari karena Tetsuro yang membawa goodie bag- nya di sepanjang jalan.
Namun Tetsuro tidak melepaskan kotak tersebut, dan tangan mereka saling menggenggam ketika Alisa menutup mata dan membisikkan doa. Alisa baru menarik tangannya dan menepukkannya untuk mematikan lilin tersebut, sadar bahwa lilin tersebut bukan lilin yang bisa padam dengan tiupan, ia telah belajar dari pengalaman setelah sekian lama bersama Tetsuro.
“Tahun kedua kepala tiga, hm?” Tetsuro kadang suka sekali menggoda perbedaan umur mereka yang tak seberapa. “Apa harapanmu kali ini?” tanyanya sambil menyalakan salah satu lampu kamar.
“Hmmm, kenapa yang berulang tahun yang selalu ditanyai? Aku ingin tahu apa harapanmu buatku. Kita kan selalu bersama. Kamu pasti menginginkan sesuatu dariku di usiaku yang baru.” Binar di mata Alisa tidak bisa bersembunyi. Ia mengerjap dengan setengah menggoda.
“Selalu jadi dirimu sendiri,” ucap Tetsuro, tidak begitu sulit menemukan kata-kata, seolah telah memikirkannya sejak awal. “Siapapun itu. Alisa sang model, Alisa pasanganku, Alisa kakak Lev, Alisa kesayangan semua orang. Kamu bisa jadi siapa saja, tapi jangan lupa menjadi Alisa yang mendengarkan kata hatimu sendiri.”
Alisa tersenyum lembut, menatap Tetsuro hingga ia lupa sudah berapa lama waktu berlalu. Ia masih terharu, tetapi sulit baginya untuk sungguh-sungguh menghayati suasana ketika di hadapannya Tetsuro nyengir seolah masih punya stok candaan untuk menggodanya. Alisa pun mencolek krim yang sedikit beku di bagian atas muffin tersebut, menjawil hidung Tetsuro dengan jari penuh krim. “Kalau begitu,” ucapnya, “kamu jangan pergi dariku. Selamanya. Karena separuh dari diriku ada di kamu. Kalau kamu pergi, bagaimana aku bisa jadi diriku sendiri, ketika setengahnya pergi?”
Tetsuro, yang sudah setengah jalan mencolek krim untuk membalas dendam pada Alisa, malah berhenti dan menatap perempuan itu dengan sorot mata yang sulit diterjemahkan. Dia bergerak cepat, menggenggam wajah Alisa dan lantas menciumnya sampai Alisa terjatuh, kuenya tak lagi dipedulikan, mereka sama-sama terjungkal ke bantal.
“Hei, tentu saja. Ini adalah kado seumur hidup dariku.”
“Ini apa maksudmu, Tetsu?”
Tetsuro menunjuk dirinya sendiri, mengundang gelak tawa Alisa yang kemudian mencubit hidungnya, seraya menarik Tetsuro ke rengkuhan tangan dan kakinya.
