Actions

Work Header

The Sweetest Taste

Summary:

Kenakalan Soobin si hybrid besar, yang membuat sang pemilik menderita.

Work Text:

"H-Hey, hyung! Tunggu dulu, jangan lari kesana—"

Suara keras jatuhnya Kamal bersama mejanya itu memenuhi ruang tamu, yang saat ini kondisinya sangat berantakan. Si rambut hitam itu meringkuk di lantai sambil memegangi lututnya yang baru saja menabrak meja, lalu menghantam lantai dengan keras. Ringisannya terdengar samar, ditemani suara langkah kaki yang berlarian disekitar apartemennya itu. Setelah beberapa saat meresapi rasa sakitnya, Kamal beranjak bangkit secara perlahan, baru dapat dilihat sekarang bahwa tubuhnya setengah basah. Kamal memandangi sekitarnya dengan sangat pasrah, ada jejak kaki basah dimana-mana, tetesan air di lantai serta mengenai sofa, bahkan ada beberapa perabotan yang jatuh dan berposisi miring.

Ah, ini semua benar-benar hancur. Padahal Kamal hanya ingin memandikan hybrid peliharaannya di minggu pagi yang cerah ini? Namun, semuanya menjadi kacau dalam sekejap mata saja. Ketika Kamal berusaha memandikan hybrid peliharaannya itu, ia kesulitan melakukannya karena mendapatkan perlawanan keras dari si hybrid. Sampai ujungnya, ia terjatuh masuk ke dalam bak mandi berisi air bersama hybridnya, yang tak lama kemudian langsung kabur dari kamar mandi untuk mengacau sebagai bentuk protesnya. Itulah asal muasal kenala Kamal dan hybrid tersebut sama-sama basah bahkan nyaris kuyup.

Yang jelas, memandikan seekor hybrid dewasa, memang tidaklah mudah. Kamal tidak punya tenaga untuk merapikan apartemennya, apalagi menangkap si hybrid yang saat ini sedang berlarian tanpa busana dan berkeadaan basah. Untuk sekarang, ia perlu mengganti pakaian di tubuhnya yang sudah basah ini dan mengeringkan diri sejenak. Urusan kekacauan di apartemennya, bisa ditunda sebentar. Ia melangkahkan kakinya menuju ke kamar, berkeinginan untuk mengganti pakaiannya yang basah itu.

Terkadang, Kamal menyesali keputusannya untuk mengadopsi hybrid anjing dengan ras Golden Retriever itu. Seharusnya ia mengadopsi ras Border Collie saja yang pintar, atau ras lain yang lebih tenang tidak seperti Soobin. Awal mula Kamal memutuskan untuk mengadopsi seekor hybrid adalah untuk menjaganya di apartemen dan menemaninya. Kamal hidup sendirian setelah merantau jauh dari Amerika ke Korea untuk bekerja. Hidupnya bisa dibilang cukup berada setelah bekerja tapi ia agam kesepian di apartemennya, kekasihnya juga tidak selalu bisa menemaninya, kan? Teman-temannya juga memiliki kesibukan lain, maka dari itu ia mengadopsi Soobin, seekor hybrid Golden Retriever yang berusia dua tahun lebih tua darinya.

Sejujurnya, Soobin adalah hybrid yang sangat penyayang dan hangat, ia sangat suka kepalanya diusap dan dimanja oleh Kamal. Ia juga sudah beberapa kali melindungi sang pemilik dari orang jahat, jadi Kamal sangat mempercayainya. Namun, Soobin sangat hiperaktif, menggebu-gebu dan nakal, Kamal tak selalu bisa mengimbanginya. Seringkali, Soobin akan bertanya banyak hal pada Kamal tanpa henti, mengajaknya bermain bola dan berjalan-jalan keluar. Kamal yang energinya tak banyak itu bisa sesekali menurutinya, tak jarang juga menolak. Soobin juga sering membuat rumah berantakan hasil dari ulahnya bermain sendiri selama Kamal bekerja, mau tak mau, sang pemilik harus membereskannya. Biarpun begitu, Kamal sebenarnya sangat amat menyayangi Soobin.

Sesampainya di kamar, Kamal segera menanggalkan pakaian basahnya dan memasukkannya ke dalam keranjang pakaian kotor. Kini, Kamal hanya mengenakan celana dalamnya saja, yang ternyata juga basah terkena air. Ugh. Mau tak mau, Kamal benar-benar harus mengganti seluruh pakaiannya. Dengan santai, Kamal melepaskan celana dalamnya, ia lalu melilitkan handuk di pinggangnya untuk menutupi setengah tubuhnya. Si rambut hitam itu mulai membuka laci pakaiannya, untuk mencari pakaian dan celana dalam untuk ia kenakan, sebelum memandikan hybrid sinting itu lagi.

Namun, ketika Kamal sedang sibuk memilih pakaiannya, ia tak sadar ada derap langkah yang mendekat ke arahnya dengan laju. Sewaktu si rambut hitam itu hendak memasang celana dalamnya, tubuhnya tiba-tiba ditubruk oleh sesuatu yang besar. Kamal terjatuh ke lantai dengan cukup keras, cukup untuk membuatnya meringis untuk kedua kalinya. Handuk yang melilit di pinggangnya itu terlepas, beserta celana dalam yang hendak dipakainya tadi terlempar entah kemana. Mata Kamal yang terpejam karena menahan sakit itu terbuka, saat ia merasakan ada sebuah nafas panas dan kencang yang menerpa wajahnya. Ia langsung bertatapan dengan sang hybrid peliharaannya, Soobin, yang tua dua tahun darinta. Hybrid itu tersenyum sumringah dengan lidah terjulur dan liur menetes-netes, ekornya panjang berbulu cokelat itu bergerak lincah saking antusiasnya.

Hybrid itu menindihnya, dengan tubuh yang jauh lebih besar dari Kamal, membuatnya tidak bisa bergerak atau melepaskan diri. Belum sempat Kamal mencerna situasi, lidah Soobin yang terjulur basah itu langsung menjilati pipinya. Tak hanya pipi, jilatan itu bergerak ke leher Kamal beberapa kali sebelum turun ke dadanya. Lidah Soobin melumuri dada berisi sang pemilik itu dengan salivanya, ia menjilatinya dengan bersemangat bersama goyangan ekornya yang bahagia. Ketika hendak menjilati kedua puting yang terpampang jelas itu, mulut Soobin ditahan oleh Kamal.

"Hyung! Hentikan! J-jilat tubuhku!" Pekik Kamal dengan panik, ia sendiri tak paham kenapa si hybrid tiba-tiba menjilatinya seperti sedang kerasukan. Bukannya berhenti, Soobin malah semakin menjadi dan menjilati telapak tangan sekaligus sela jari Kamal.
"Aku mengendus aroma manis, Kamal! Aromanya berasal dari kamar ini, aku yakin aromanya ada di tubuhmu." Jawab si hybrid dengan bersemangat, masih menjilati tangan Kamal. Jawaban itu jelas membuat Kamal sangatlah bingung. Memangnya aroma manis apa yang tubuhnya keluarkan?
"Tidak, tidak! Hidungmu salah, aku tidak— Hey, berhenti! Jangan!" Si rambut hitam itu tambah panik ketika Soobin mulai menjilati salah satu putingnya. Bahkan ketika ia berusaha mendorong kepala si hybrid itu untuk menjauh, usahanya tak berbuahkan hasil.

Lidah Soobin terus menjilati puting Kamal, kali ini keduanya namun secara bergantian, melumurinya dengan saliva. Gesekan lidah si hybrid pada kedua putingnya itu membuat tubuh Kamal memberi reaksi yang aneh. Tiap kali lidah Soobin mengenai putingnya, tubuh Kamal seperti dikenai sengatan listrik menyeluruh. Ia juga tak sadar, sedikit demi sedikit dadanya mulai membusung, seolah memberi Soobin lebih lagi. Nafas Kamal sedikit terasa berat, ia juga malah memandangi Soobin yang sibuk menjilat. Ia memperhatikan lidah Soobin yang bergerak memutar di sekitar putingnya lalu menjilatinya lagi seperti es krim.

Rasanya geli dan sedikit nikmat? Kamal sadar kedua putingnya mulai sedikit menonjol akibat jilatan-jilatan tersebut. Oh, tidak. Tidak mungkin Kamal merasa terangsang hanya karena jilatan dari hybridnya itu, kan? Tapi, Kamal sendiri sadar tubuhnya sensitif dan mudah terlena. Hanya saja, rasanya tak etis jika ia merasa terangsang karena hybrid peliharaannya sendiri, sebagai pemiliknya. Apa yang Kamal harus lakukan? Tubuhnya tak cukup kuat untuk melengserkan Soobin dari posisinya, ia benar-benar ditindih walau tanpa ditahan.

Situasi mereka saat ini sangatlah, intens dan cukup menyulitkan bagi Kamal. Mereka berdua sama-sama telanjang bulat, dengan kulit yang saling bersentuhan tiap kali bergerak. Rasanya agak canggung tapi menimbulkan sensasi yang tidak asing di tubuh Kamal. Sensasi itu benar-benar merangsangnya saat ini, Kamal tidak dapat menahan diri biarpun ia sebenarnya tak mau. Kamal memalingkan wajahnya ke arah lain, tak ingin semakin terangsang jika terus melihat Soobin yang menikmati kedua putingnya tersebut.

Selagi Kamal lengah, si hybrid itu dengan sumringah, langsung menghisap salah satu puting sang pemilik dengan kuat. Kamal lalu memekik dengan dada membusung, sembari tangannya mencengkram rambut Soobin. Hisapan itu menjadi sangat kuat, sembari lidah Soobin kembali bergerak untuk memainkan puting Kamal. Tak ingin membiarkan puting satunya menganggur, Soobin menaikkan satu tangannya untuk meremas-remas dada berisi Kamal sebelum mencubit dan menarik-narik putingnya secara kasar. Desahan terbata dan nafas Kamal yang memburu itu terdengar, ia kesulitan untuk menyadarkan diri dari situasi yang tak diinginkannya tersebut.

Setelah puas menghisap puting yang pertama sampai agak bengkak, Soobin berpindah ke puting Kamal yang kedua. Mulutnya menghisapi puting sang pemilik seperti bayi yang kelaparan, sangat kencang dan kuat. Cengkraman Kamal pada rambut Soobin pun mulai melemah, tubuhnya gemetar beberapa kali menerima rasa nikmat itu. Kedua puting Kamal kini sama-sama bengkak, memerah dan berlumuran saliva hangat. Soobin membenamkan wajahnya di leher Kamal lagi, mengendus aroma tubuh sang pemilik sebelum menjilati lehernya lagi. Tangan Soobin beralih meremas dan mengusak-usak dada Kamal.

Sorot mata Kamal berubah menjadi sayu, ia menatap langit kamarnya dengan kosong. Apa yang sedang terjadi sebenarnya? Kenapa hybrid ini tiba-tiba memggerayangi tubuhnya? Sebelumnya hal ini tidak pernah terjadi, Soobin memang hiperaktif dan nakal tapi ia tidak pernah berani menyentuh Kamal secara asal. Lucunya, Kamal merasa tubuhnya enggan menolak sentuhan si hybrid, malah adanya semakin terlena. Kamal hanya bisa sesekali menahan suara vulgar yang ia keluarkan, dengan cara menutup mulut dengan tangannya.

Secara tiba-tiba, Soobin merubah posisinya tetapi tetap menindih sang pemilik yang berada di lantai. Dengan mudah, ia melebarkan kedua kaki Kamal sampai mengangkang, lalu menahannya agar menetap pada posisi tersebut. Kini wajah Soobin berhadapan langsung dengan vagina Kamal yang terekspos, memamerkan warna merah mudanya yang menggiurkan. Di sisi lain, Kamal membulatkan kedua matanya ketika penis berukuran raksasa dan panjang itu menjuntai tepat di depan wajahnya. Posisi macam apa ini? Kamal menjadi panik untuk kedua kalinya, tapi kali ini Soobin benar-benar menahannya. Hidung Soobin mendekati vagina sang pemilik yang ia ekspos itu, ia mengendusinya beberapa kali sebelum ekornya bergerak riang, seakan ia telah menemukan sesuatu. Bulu roma Kamal mendadak berdiri tegak seluruhnya saat merasakan hidung Soobin mendekati kemaluannya.

"Ini dia! Aroma manis yang aku endus berasal dari sini, Kamal!" Seru Soobin dengan bersemangat.
"Aroma manis apa yang kau maksud, hyung? Tolong berhenti berbuat konyol seperti ini." Pinta Kamal dengan memelas, tubuhnya sudah terlanjur lemas karena sentuhan si hybrid tadi. Kamal tidak bisa banyak melawan saat ini.
"Aroma manis yang tiba-tiba muncul. Aku tidak tahu kenapa baru sekarang bisa mengendusnya, padahal aku sudah lama bersamamu, Kamal." Celoteh Soobin menjilati sekitar selangkangan Kamal. Tindakan itu membuat sang pemilik merasa tak nyaman dan gelisah.
"Aroma manis seperti ap— Ahhh!" Jilatan tiba-tiba Soobin pada vagina Kamal itu membuat mengerang secara spontan. Baru kali ini, hybrid itu merasakan sebuah manis yang unik, berbeda dari rasa manis yang pernah ia rasakan dari makanan atau minuman. Rasa manis itu membuat Soobin ingin lebih, ingin lebih lagi.

Soobin sempat terdiam selama beberapa saat, ia memandangi lama vagina Kamal yang ada di hadapannya tanpa halangan itu. Vagina Kamal sangat mempesonanya sekaligus mengundang nafsunya, berlumuran lendir tak berwarna yang membuatnya mengkilap, klitoris mungil yang seolah meminta untuk dimainkan dan lubang vagina yang sempit. Cukup memandang saja, Soobin dapat merasakan penisnya mulai ereksi. Si hybrid itu memang sudah tahu pemiliknya sejak awal memiliki vagina tapi ini pertama kalinya ia melihat vaginanya secara nyata dan dekat. Padahal Soobin sudah pernah juga menyaksikan vagina dari hybrid lain, bahkan melakukan seks dengan hybrid yang memiliki vagina juga pernah. Namun, entah kenapa, vagina manusia benar-benar menghipnotisnya saat ini.

Kenapa aroma dan rasa vagina Kamal sangat manis? Lalu apa benar aroma dan rasa manis tersebut berasal dari vagina Kamal? Soobin menjilat vagina itu lagi untuk memastikannya, dan memang benar, asalnya dari sana. Terpicu oleh rasa manis itu, lidah Soobin menjilati vagina Kamal dengan liar dan bersemangat. Lidahnya bergerak naik dan turun menjilati vagina Kamal berkali-kali, terkadang ia berhenti untuk menghisap rasa manis yang menguasai nafsunya tersebut. Soobin juga mengulum klitoris Kamal sambil memainkannya dengan lidah, sebelum ia menggesek-gesekannya. Lendir tak berwarna yang muncul di vagina Kamal juga ia telan sampai habis. Kali ini, vagina Kamal benar-benar telah ditutupi oleh saliva hangat Soobin.

Karena gemas, Soobin menggigit kecil klitoris Kamal dan menarik-nariknya, ia lalu menghisapinya dengan kencang. Ketika hisapannya terlepas, klitoris itu membengkak dengan warna merah padam. Ujung lidah Soobin memainkan klitoris bengkak tersebut, menekan-nekan dan mengusaknya. Soobin membenamkan bibirnya di vagina Kamal yang basah itu, ia mengendus aroma manis tersebut berlama-lama sambil terkekeh. Sebelum akhirnya, ia mengusak-usakan bibirnya di vagina Kamal sembari menjilatinya. Saliva muncrat ke sekitar selangankan Kamal sekaligus ke lantai, bahkan kini sekitar bibir Soobin pun berantakan karena saliva tapi ia tak begitu perduli. Ia hanyalah seekor anjing bodoh yang sedang birahi karena aroma manis dari vagina pemiliknya.

Lidah Soobin terus menerus menjilati vagina itu tanpa berkeinginan untuk memberi jeda, apalagi berhenti. Ia sangat menikmati vagina Kamal, seolah sedang menikmati sebuah hidangan pencuci mulut terbaik di dunia. Selain menjilat, lidah Soobin kini juga mulai menggangu lubang vagina Kamal yang dari tadi hanya permukaannya saja terkena jilatan. Karena penasaran dengan lubang kemaluan itu, Soobin membuka bibir vagina Kamal lebih lebar dan memperlihatkan lubang vagina itu lebih jelas. Awalnya, Soobin terlihat bingung melihat lubang sempit berwarna merah muda yang sudah basah itu. Lubang kemaluan Kamal lebih kecil dari lubang hybrid yang pernah ia temui dan rasakan.

Namun, daripada berlarut di kebingungan, Soobin segera mendorong lidahnya masuk ke dalam lubang vagina Kamal. Sang pemilik segera memekik nikmat dengan tubuh yang bak disengat listrik, dari reaksi itu, Soobin tahu rasanya luar biasa nikmat. Walau rasanya agak sempit karena kecil, Soobin tetap menjelajahi lubang vagina Kamal dengan cara menggerakan lidahnya keluar dan masuk. Ia dapat merasakan dinding vagina Kamal yang basah itu berkedut-kedut, meremas lidahnya beberapa kali. Lidah Soobin juga menggesek dinding vagina Kamal, dengan maksud untuk menyesap lendir yang muncul dan menelannya karena manis.

Desahan demi desahan mengisi kamar itu, Kamal tak mampu lagi menutup mulutnya. Dirinya hanya bisa merintih keenakan sambil mencakar-cakar lantai, tubuhnya gemetar tiap kali rasa nikmat menjamah. Pinggul Kamal terangkat ketika lidah Soobin bergerak sangat pandai di lubang vaginanya. Peluh mulai membasahi pelipis Kamal, tubuhnya benar-benar membara karena nafsu. Ia dapat merasakan pergerakan lidah Soobin yang bergerak di lubang vaginanya itu dengan jelas, hal itu malah membuat Kamal tambah terangsang. Kamal masih merasa tak etis untuk menikmati perlakuan itu dari hybridnya sendiri, tapi tubuhnya enggan menolak.

Karena merasa tak puas hanya setengah lidah saja yang masuk, Soobin lalu mendorong seluruh lidahnya jauh ke dalam vagina sang pemilik. Si rambut hitam itu terkesiap ketika merasakan lidah panjang dan gemuk Soobin mendalami lubangnya. Dengan mudahnya, Soobin menemuman gundukan lunak yang merupakan titik nikmat Kamal. Ia menekan-nekan pelan gundakan itu, membuat sang pemilik merengek agak kencang. Tentunya, ia sudah tak asing dengan titik nikmat, karena hybrid yang memiliki vagina juga punya hal yang sama. Ingin segera merasakan lendir manis Kamal lebih lagi, Soobin beralih menjilati lubang vagina Kamal dengan laju, bergerak keluar dan masuk, menggesek kesana kemari dan tak lupa juga menekan titik nikmat tersebut.

Tubuh Kamal bergerak gelisah karena rasa nikmat yang begitu banyak mengenai saat ini. Kamal dapat merasakan perutnya mulai kram, mendekati orgasme yang tertumpuk sejak awal. Ia bahkan sampai tak memperhatikan lagi penis mengeras Soobin yang menjuntai di hadapan wajahnya tersebut. Pinggul Kamal terangkat lagi ketika hybrid itu mengusak-usak titik nikmatnya dengan lidah, membentuk sebuah lengkungan di tubuhnya yang berkeringat. Mulut Kamal terus menyanyikan desahan dan erangan nikmat yang tiada henti.

Tanpa butuh waktu lama, Kamal mencapai orgasmenya yang begitu meledak-ledak kali ini. Tubuh Kamal menggelinjang sesaat, sebelum vaginanya memuncratkan kencing dan lendir secara bersamaan, mengenai lidah dan sekitar mulut Soobin, sekaligus membasahi selangkangannya sendiri. Soobin sempat terkejut akan datangnya orgasme tersebut, namun ia segera menelan tiap tetes kencing dan lendir Kamal yang keluar. Manis, rasanya sangat manis dan Soobin menyukainya. Ia menghisap semua cairan yang vagina Kamal keluarkan sampai habis, bahkan sempat mencari sisanya di lubang vagina tersebut.

Kamal terkapar lemas di lantai, sembari mengatur nafasnya perlahan. Wajahnya memerah padam, dipenuhi peluh dan sorot matanya jauh lebih sayu dari sebelumnya. Si rambut hitam itu belum pernah merasakan orgasme yang meledak-ledak seperti tadi, rasanya terlalu intens. Bahkan waktu melakukan seks dengan kekasihnya, orgasmenya tidak seperti ini. Entah apa yang berbeda dari Soobin, tapi yang jelas Kamal benar-benar dibuatnya lemas hanya dengan menjilat vagina saja.

Soobin beralih merubah posisinya, ia duduk berlutut di hadapan Kamal yang terkapar itu, bersama penisnya yang berdiri tegak karena ereksi. Pandangan si hybrid tersebut melekat pada vagina Kamal yang berantakan karena cairannya sendiri, dengan lubang vagina yang masih berkedut-kedut. Tanpa sadar, mulut Soobin mulai digenangi oleh salivanya sendiri, ia menjilat bibirnya beberapa kali sambil menatap vagina Kamal terus. Hal itu membuat penis Soobin semakin minta diperhatikan juga, ia sudah ereksi sejak awal. Mata Soobin turun untuk melihat penisnya sendiri, sudah mengeras dan sedikit memerah. Penisnya ereksi dan vagina Kamal, sang pemilik, saat ini terbuka untuknya, apa yang harus ia lakukan? Seks. Benar, Soobin harus melakukan seks jika penisnya ereksi, memang sudah secara alami harus seperti itu.

Di kesempatan yang ada, Soobin segera menindih tubuh Kamal lagi, ia memposisikan penis ereksi yang berukuran raksasa miliknya di hadapan vagina tersebut. Kamal yang tadinya hanya terkapar lemas itu dibuat terkejut, ia dengan panik berusaha mendorong tubuh Soobin tapi jelas tak berhasil. Si hybrid itu mencengkram kuat paha Kamal agar tetap mengangkang, sekaligus menahan tubuhnya. Keduanya sempat bergumul sesaat, saling tarik dan mendorong, sampai akhirnya Kamal tidak punya tenaga lagi untuk melawan.

"Kamal, maafkan aku karena harus melakukan ini, tapi aku tidak tahan lagi. Karena vaginamu terlalu manis, penisku juga menginginkannya." Ucap Soobin sembari menahan kedua tangan Kam di lantai. Tangisan anjingnya yang tak asing itu terdengar, seolah ia sedang memelas akan sesuatu.
"Omong kosong macam apa itu, Choi Soobin. Aku benar-benar akan mengirimmu ke penampungan hybrid setelah ini. Kau berusaha memperkosaku!" Lawan Kamal dengan sebal, melontarkan ancaman berniat untuk membuat Soobin mundur.
"T-Tidak! Aku tidak berusaha memperkosamu, aku hanya bertindak sesuai naluriku saja. Hybrid harus melakukan seks jika sudah terangsang, tidak ada cara lain." Jelas Soobin lagi, kali ini sambil menggesekkan kepala penisnya di selangkangan Kamal, membuat mata si rambut hitam terbelalak.
"Ini pemerkosaannya namanya! Aku bisa menghubungi seseorang untuk membawa seekor hybrid lain kemari, agar kau bisa melakukan seks sepuasnya. Ini bukan berarti kau harus melakukan seks denganku. Hentikan ini, oke? Sudah cukup sampai tadi, hyung." Pinta Kamal secara baik-baik, tidak ingin hal ini berlanjut ke yang lebih lagi. Soobin sempat terdiam selama beberapa saat, sedang memikirkan sesuatu. Si hybrid itu menggoyangkan ekornya perlahan, sebelum ia melirik sang pemilik.
"Hey, Kamal. Jika tadi adalah pemerkosaan, kau tidak seharusnya menikmati hal tersebut, kan?" Pertanyaan Soobin itu, sempat membuat Kamal tertegun sebelum akhirnya sadar.
"Apa maksud pertanyaanmu, hyung?" Sahut Kamal, amarahnya mulai muncul dengan kurang ajarnya perilaku Soobin.
"Maksudku, jika kau menikmatinya, tadi itu bukan pemerkosaan, kan? Kau mendesah, kau tidak melawan, kau orgasme. Kau menikmatinya, kan?" Lanjut Soobin sambil menyeringai kecil.
"Hybrid sialan. Aku tidak ingin menikmatinya sama sekali! Tubuhku bertindak secara alami saja, aku tidak menikmatinya! Kau juga menahan tubuhku sejak awal, bukannya aku tidak ingin melawan!" Maki Kamal, mengeluarkan amarahnya yang tertumpuk semenjak tadi. Bisa-bisanya Soobin berkata seperti itu padanya?
"Shh, tenang saja, Kamal. Aku akan membuatmu lebih menikmatinya kali ini~" Kata Soobin diiringi senyum sumringah dan kibasan riang ekornya.

Tubuh Kamal spontan membeku dengan mulut terbungkam, ketika ia merasakan batang penis raksasa itu bernyaman di atas vaginanya. Benda itu benar-benar besar, jauh lebih besar ukuran penis manusia biasa. Nafas Kamal kembali terasa berat, saat penis Soobin bergerak menggesek di vaginanya. Mau tidak mau, tubuh Kamal untuk kesekian kalinya, memberi respon pada sentuhan Soobin. Kamal memejamkan matanya, berharap semua itu segera berakhir dengan cepat, karena tidak ada gunanya melawan hybrid bertubuh besar tersebut.

Soobin menjilati sekitar dada Kamal lagi, sembari menggesek-gesekan penisnya ke vagina si rambut hitam itu. Tubuh Kamal terasa begitu manis di lidahnya, Soobin tak bisa berhenti membiarkan lidahnya untuk terus menjilat. Ia merintih pelan ketika merasakan hangatnya vagina basah Kamal yang mengenai batang penisnya. Rasanya sangat nikmat bagi Soobin, apalagi ketika penisnya masuk ke dalam lubang sempit itu nanti. Memikirkannya saja Soobin sudah merasa tak sabar lagi.
Penis raksasa Soobin kini berlumuran lendir vagina Kamal, ia merasa hal tersebut cukup untuk jadi pelumas alami. Hybrid itu diam-diam mengarahkan kepala penisnya ke depan lubang vagina Kamal, ia mulai mengambil ancang-ancang.

Dalam hitungan detik, Soobin menjebloskan masuk seluruh penis raksasanya itu secara paksa, ke dalam. lubang vagina Kamal yang sempit. Kamal berteriak sejadi-jadinya saat merasakan penis berukuran tak normal tersebut masuk, tubuhnya terasa seperti dibelah dua, rasa sakit yang agak tajam muncul. Melihat sang pemilik kesakitan, Soobin malah terlihat bingung, bukankah seharusnya terasa nikmat? Penis tersebut ia dorong semakin dalam, menyentuh prostat Kamal yang tadinya sedang beristirahat. Tubuh si rambut hitam itu gemetar hebat, merasakan penis Soobin menindih dan menekan prostatnya yang masih sensitif.

Lubang vagina Kamal benar-benar sangat sempit, Soobin merasa sangat sesat di dalam sana. Namun kedutan vagina Kamal memijit-mijit batang penisnya, membuat Soobin merasakan nikmat. Karena ingin lebih merasakan nikmat, Soobin tak pikir panjang, ia langsung menggerakan penis raksasanya itu dengan sangat laju di lubang vagina Kamal. Batang penis beruratnya bergesekkan dengan dinding vagina tersebut, penisnya juga melebarkan lebih lagi lubang vagina yang sesak itu dan kepala penisnya menghentak prostat Kamal berulang kali.

Tubuh Kamal terhentak kencang, mengikuti tempo penis Soobin yang tidak memberinya celah untuk membiasakan diri. Kamal mengerang keenakan dengan keras, nyaris seperti menjerit saking nikmatnya penis Soobin yang memanjakan lubang vaginanya itu. Kepalanya memaling ke arah lain berkali-kali, seolah ia tak sanggup menerima rasa nikmat yang begitu intens. Sejujurnya, Kamal memang merasa kewalahan di permulaan ini, tapi ia tidak bisa berbuat banyak. Prostatnya yang sensitif terus ditekan, ditindih dan digesek oleh kepala penis Soobin, manik Kamal mulai membendungkan air mata dengan pandangannya yang tak bisa fokus.

Di sisi lain, Soobin sedang menikmati dirinya sendiri, sedang menggunakan vagina sang pemilik sebagai alat pemuas nafsu. Ekornya mengibas dengan cepat, selagi pinggulnya bergerak tanpa henti untuk menghentak penisnya di lubang vagina tersebut. Soobin sempat mendongak sesaat sambil mendesah, membiarkan rasa nikmat mengalir ke seluruh tubuhnya. Setelah itu, ia memutuskan untuk mendekatkan wajahnya ke wajah Kamal dan mulai menjilati bibir si rambut hitam itu. Kamal mengunci bibirnya dengan rapat, menolak niat ciuman yang ingin Soobin lakukan padanya.

Namun, Soobin adalah seekor hybrid yang pandai, ia bisa memecahkan teka-teki sederhana itu. Dengan sengaja, Soobin menarik keluar seluruh penisnya, lalu menghentaknya dengan sangat kuat ke prostat Kamal, sampai membuat si rambut hitam tersebut mengucurkan kencingnya dan menjerit. Ketika Kamal menjerit dengan mulut terbuka agak lebar, Soobin segera mendorong lidahnya masuk. Lagi-lagi, Kamal tidak bisa mengalahkan hybrid yang sedang dimabuk birahi itu. Ia membiarkan Soobin membelit lidahnya dan menghisapnya kencang. Lidah Soobin bergerak menjelajahi mulutnya dengan bersemangat, hybrid tersebut bahkan sampai menelan saliva Kamal.

Tempo penis Soobin bergerak tambah brutal saat ini, ia menghentak-hentakannya kencang di prostat Kamal. Kedua kaki dan paha si rambut hitam itu sampai gemetar hebat di tiap hentakan. Kamal melenguh di sela ciuman tersebut, ia juga terpaksa menelan saliva Soobin yang tentunya masuk ke dalam mulutnya. Soobin memperdalam ciuman tersebut sambil mendesah, ia benar-benar menikmati tubuh Kamal sesukanya. Lidahnya mempermainkan lidah Kamal, ia menjilat lidah tersebut disela hisapannya. Saliva sampai menetes dari sudut bibir Kamal saking panasnya ciuman paksa tersebut. Ciuman yang hanya dinikmati Soobin itu, akhirnya dilepaskan olehnya karena ia sadar bahwa Kamal mulai kehabisan oksigen. Si rambut hitam itu segera bernafas dengan serakahnya karena ciuman tadi. Soobin mendekatkan wajahnya lagi ke Kamal, sampai hidung keduanya bersentuhan dan ia memandangi sang pemilik dengan penuh cinta. Cinta atau nafsu, Kamal tidak dapat membedakan tatapan tersebut saat ini.

"Oh, Kamal, seks denganmu sangat nikmat. Jauh lebih nikmat dari hybrid manapun yang pernah aku kawini. Seks dengan manusia nikmat. Seks dengan Kamal sangat nikmat." Racau Soobin sembari melenguh, dengan pinggulnya yang terus bergerak brutal. Kamal berusaha terlihat marah atau kesal, tapi tindakannya terhalang oleh rasa nikmat. Wajahnya hanya mampu membentuk ekspresi cemberut saja. Cemberut yang sayu.
"Un-Unghh....aku pastikan, kau tidak akan lolos s-setelah ini- Mmphh!" Celoteh Kamal segera terhenti karena Soobin dengan sengaja lagi, menghentak prostatnya.
"Jangan terlalu banyak berpikir soal hal lain, nikmati saja." Balas Soobin sebelum tersenyum.

Ah, anjing ini benar-benar berubah menjadi psikopat haus nafsu hanya karena aroma vagina manusia. Kamal tidak habis pikir, karena Soobin terus menerus tersenyum dan berperilaku riang gembira seperti layaknya seekor Golden Retriever yang sedang diajak pemiliknya bermain. Namun tidak, hybrid anjing itu malah sedang menyetubuhi pemiliknya secara paksa, dengan sangat riang. Biarpun Kamal menolak untuk menikmati seks tidak etis ini, tapi ia tidak bisa memungkiri bahwa penis besar Soobin benar-benar terasa fantastis. Begitu besar dan gemuk, mengisi tiap sela vagina sempitnya yang haus akan seks. Penis kekasih Kamal yang ia kira berukuran paling besar dan nikmat itu, ternyata kalah dengan penis seekor hybrid bodoh.

Pikiran Kamal segera teralihkan oleh fakta bahwa penis Soobin mulai bergerak membabi buta di lubang vaginanya. Lebih kencang dan lebih laju, mengguncang tubuh Kamal lebih dari sebelumnya. Suara yang mampu dikeluarkan si rambut hitam itu hanya berupa rintihan kecil dan nafas yang memburu saja. Suara becek yang familiar juga mulai terdengar mengisi kamar tersebut, diiringi suara kulit keduanya bertemu dengan cukup keras. Kamal memalingkan wajahnya lagi, saat Soobin menjilati dan mengecupi lehernya.

Rasa kram yang berlandaskan dekatnya orgasme itu sudah mulai mendekati perut keduanya. Si rambut hitam itu menggeram pelan, ia tidak ingin orgasme lagi karena tubuhnya sudah kelelahan. Ia yakin orgasme kali ini akan lebih intens dari sebelumnya. Belum lagi, Kamal terpikir soal penis Soobin yang kemungkinan besar akan menyemburkan sperma di dalam lubangnya. Kamal sangat tidak ingin hal itu terjadi, karena kehamilan antar hybrid dan manusia bisa terjadi. Hanya saja, untuk saat ini, Kamal tidak harus menghindarinya dengan cara apa. Berbicara dengan Soobin pun, tidak ada gunanya karena hybrid birahi itu hanya sedang fokus mengejar nafsunya sendiri.

Hentakan demi hentakan Kamal terima di prostatnya, penis Soobin bergerak tak berampun. Nafas si hybrid itu juga memburu di sela lenguhannya, ia membenamkan wajahnya ke leher Kamal sambil menghentak penisnya terus menerus. Penis raksasanya itu benar-benar dimanjakan oleh lubang sempit Kamal, Soobin rasa ia bisa mengubur penisnya semalaman penuh d lubang tersebut. Kedutan di dinding vagina Kamal juga mulai terasa lebih jelas, seirama dengan kedutan penisnya yang mendekati orgasme.

Setelah menerima banyaknya hujaman penis raksasa itu di lubangnya, Kamal mencapai orgasme hebatnya. Tubuh Kamal menggelinjang selama beberapa saat, ditemani muncratnya air kencing dan lendir vaginanya lagi, kali ini sedikit lebih banyak dan menggenangi lantai. Soobin sendiri juga mencapai orgasmenya, penisnya menembakkan sperma yang begitu banyak ke dalam lubang vagina Kamal, saking banyaknya sampai merembes keluar. Kamal benar-benar nyaris pingsan setelah mengalami orgasme untuk kedua kalinya, tubuhnya terlalu lelah dan ia hanya bisa terbaring di lantai itu sembari mengambil nafasnya. Hybrid tersebut juga ikut mengambil nafas, karena nafsunya yang menggebu-gebu tadi. Keduanya menetap pada posisi itu selama beberapa saat, mengumpulkan energi masing-masing.

Saat energinya sudah terkumpul, Soobin beralih menarik keluar penisnya dari lubang vagina Kamal. Ia segera disambut oleh lelehan spermanya sendiri, bercampur dengan genangan kencing Kamal. Pemandangan erotis tersebut membuat penisnya berdiri lagi dalam hitungan detik. Apa ia harus memasukkan penisnya dan menyetubuhi Kamal lagi? Soobin sempat tenggelam di pikirannya sejenak, sebelum ia tiba-tiba dialihkan oleh sebuah penemuan baru di selangkangan Kamal. Ia tiba-tiba mengangkat paha si rambut hitam itu lagi, kali ini sedikit lebih tinggi sampai memperlihatkan jelas lubang pantat Kamal.

Oh, ada satu lubang lagi yang bisa Soobin pakai ternyata. Hybrid itu tersenyum sumringah, lalu dengan bersemangat ia membalik tubuh Kamal menjadi tengkurap. Kamal sempat terkejut karena posisinya berubah, apalagi ketika pinggulnya dibuat menungging. Namun saat Kamal merasakan kepala penis gemuk itu bernyaman di permukaan lubang pantatnya, ia menjadi panik. Si rambut hitam itu berusaha merangkak kabur, tapi tentu saja Soobin menariknya balik dan menahan pinggulnya dengan kuat.

Dengan kesempatan yang ada, Soobin langsung menghentak seluruh penis raksasanya itu masuk ke dalam lubang pantat Kamal. Si rambut hitam tersebut meringis kesakitan, merasa lubang pantatnya dilonggarkan paksa oleh penis Soobin. Penuh dan sesak, lubang pantat Kamal terasa seperti itu saat ini, ia sesegukan menangis sambil mencakar-cakar lantai. Soobin malahan sedang menikmati diri, lubang pantat Kamal jauh lebih sempit dari lubang vaginanya. Penis raksasa itu benar-benar dijepit dan diremas-remas oleh dinding rektum Kamal. Tanpa kesulitan, Soobin langsung menemukan dimana letak prostat Kamal.

"Tidak, tidak! Kau tidak boleh menyentuh lubang pantatku, keluarkan penismu! Keluarkan penismu sekarang!" Racau Kamal di sela tangisnya, merasa sudah lelah karena diperkosa tanpa henti oleh hybrid peliharaannya sendiri. Bukannya merasa iba, Soobin malah beralih mengambil handuk yang tadi Kamal pakai untuk ia jejalkan ke mulut pemiliknya itu.
"Nah, dengan begini, kau tidak berisik." Ucap Soobin dengan puas. Kamal hanya bisa dengan pasrah, menggigit handuk yang berada di mulutnya tersebut.

Merasa masalah utama diselesaikan, Soobin beranjak menggerakan penisnya dengan tempo yang lagi-lagi tidak berampun, di lubang pantat Kamal. Hentakan demi hentakan kuat itu menimbulkan suara kedua kulit yang bertemu terdengar keras, diiringi nafas memburu Soobin. Kamal hanya bisa melenguh dan meringis saja, membiarkan handuk itu dibasahi oleh salivanya sendiri. Pantat Kamal bergetar mengikuti tiap hentakan penis Soobin yang begitu kuat.

Akibat hentakan yang begitu kuat dan sangat nikmat, lendir vagina Kamal menetes-netes ke lantai, ditemani air kencingnya yang mengucur lagi tanpa peringatan. Kamal tidak sedang orgasme, hanya saja vaginanya seolah sudah bocor karena tidak bisa mengontrol cairan yang keluar. Soobin mendesah banyak karena pijitan dinding rektum Kamal yang lebih terasa dibandingkan dinding vaginanya tadi. Urat batang penis Soobin bergesekkan lagi secara kasar dengan dinding rektum Kamal. Hybrid anjing itu tak sadar bahwa lidahnya terjulur keluar dengan saliva yang menetes-netes, selagi ia sedang menggerakan penisnya.

Kamal memekik kencang dengan nafas yang terengah-engah saat Soobin menekan prostatnya dengan kuat. Si rambut hitam itu nyaris pingsan karena benar-benar dibuat kewalahan oleh Soobin. Tubuhnya masih sangat sensitif sampai detik ini, tapi Soobin terus menerus memaksakan dirinya. Tak hanya sibuk menggerakan penisnya saja, Soobin beralih mendekatkan wajahnya ke punggung mulus Kamal. Lidahnya menjilati punggung si rambut hitam itu, sesekali mengecupinya perlahan.

Karena gemas dengan kulit lembut Kamal, Soobin memamerkan seluruh gigi runcingnya. Ia lalu menggigit bahu si rambut hitam itu dengan giginya, tidak begitu keras, namun cukup untuk meninggalkan bekas dan membuat Kamal meringis. Setelah menggigit, Soobin menjilati bekas gigitannya sendiri, ia beralih mengecupi tengkuk Kamal. Tangan Soobin kini juga berpindah ke pantat Kamal yang begitu berisi dan empuk. Soobin memainkan dan meremas singkat pantat si rambut hitam itu dengan kencang.

Setelah puas memainkan pantat empuk tersebut, Soobin mengalihkan kedua tangannya untuk memegangi kedua dada berisi Kamal yang sedikit terguncang akibat penisnya. Ia mencubit kedua puting itu lalu menarik-nariknya kencang, membuat Kamal sempat terkesiap dengan mulut yang penuh. Soobin meremas-remas dada Kamal layaknya payudara hybrid betina yang pernah ia kawini. Deru nafas Soobin terdengar agak kencang karena ia bernafas dengan mulut terbuka dan lidah terjulur saat ini. Posisi mereka berdua benar-benar seperti kedua anjing yang sedang berada di panasnya musim kawin saat ini.

Pergerakan penis Soobin tambah laju dan sedikit lebih kasar dari sebelumnya. Penis raksasa itu menggesek kencang dinding rektum Kamal, tanpa perduli bisa luka karenanya. Soobin benar-benar menekan penisnya lebih dalam lagi, sampai ke ujung dalam lubang pantat tersebut. Tubuh Kamal bak disengat listrik bertegangan tinggi, ia gemetar diiringi dengan mengucurnya air kencingnya lagi. Sepertinya ia baru saja orgasme untuk kesekian kalinya, ia tidak dapat mengontrol dirinya sendiri kali ini. Tubuh si rambut hitam itu semakin lemas, ia ingin segera pingsan saja rasanya.

Penis Soobin mulai berkedut-kedut kencang, ditemani oleh kedutan dinding rektum Kamal. Orgasme keduanya semakin mendekat, Soobin menggerakan penisnya lebih laju dari sebelumnya namun tetap stabil mengenai prostat Kamal. Hybrid itu menggeram tepat disamping telinga Kamal, ia lalu menggigit kencang bahu si rambut hitam tersebut. Dinding rektum Kamal juga ikut berkedut-kedut, mendekati orgasme lagi. Soobin mendesah merdu ketika dinding rektum berkedut Kamal itu seirama dan memijit-mijit penisnya.

Tanpa butuh waktu lama, penis Soobin menembakkan spermanya ke dalam lubang pantat Kamal, mengisinya penuh sampai muncrat ke pantat dan selangkangan. Soobin mengeluarkan penisnya dan menyemburkan sisa spermanya ke punggung Kamal, bahkan sampai mengenai rambutnya. Kamal sendiri melewati orgasmenya sambil sesegukan menangis, air kencingnya mengalir ke lantai beserta lendir vaginanya. Pinggul si rambut hitam itu segera ambruk ke lantai setelah Soobin berhenti memeganginya. Wajah Kamal lebih memerah dari sebelumnya, juga basah karena tangis, ingus dan salivanya sendiri.

Soobin melepaskan handuk yang ia sumpal ke mulut Kamal tadi, si rambut hitam itu segera mengambil nafas sebanyak-banyaknya. Akhirnya, sudah selesai, Kamal sudah tidak sanggup lagi melalui seks yang begitu intens dan kasar seperti tadi. Bahkan saat dengan kekasihnya, mereka melakukannya dengan berhati-hati. Sedangkan hybrid itu, memperlakukannya seperti sebuah boneka seks yang tidak ada harganya. Kamal benar-benar akan memasukkan hybrid sialan tersebut ke sekolah pendisiplinan atau mungkin mengembalikannya ke penampungan hybrid. Kamal benar-benar akan membalas perlakuannya.

Namun ketika Kamal hendak berusaha bangkit, Soobin mendorong tubuhnya kembali terebah lalu membaliknya agar mereka saling berhadapan. Penis raksasa berlumuran sperma dan mengkilap karena kencing itu memenuhi pandangan Kamal. Penisnya ereksi lagi...? Soobin tidak berbicara apa-apa, ia melebarkan kedua kaki Kamal sampai mengangkang lalu menahannya, sama seperti di awal. Tidak, tidak, Kamal tidak mau melakukan seks lagi, sudah cukup. Si rambut hitam itu berusaha menendang Soobin dan merangkak kabur.

Sayangnya, usaha Kamal terkalahkan karena energinya yang sudah habis. Tubuhnya yang sempat menjauh itu ditarik oleh Soobin dan ia dipaksa mengangkang lagi. Tanpa aba-aba, penis raksasa itu terjeblos masuk ke dalam lubang vagina Kamal dalam sekali hentakan yang kuat. Kamal menjerit kencang, entah menjerit keenakan atau kesakitan, Soobin tak begitu perduli jika ada tetangga yang mendengar. Tidak ingin menunggu, Soobin segera menggerakan penisnya lagi dengan sangat laju, temponya begitu liar dan brutal. Kamal terus menggelengkan kepalanya sambil menangis, ia memukul-mukul dada Soobin.

"Kau pikir kita sudah selesai? Aku masih ingin bermain denganmu, Kamal. Ayo bermain denganku!" Seru Soobin setelah terkekeh, di sela hentakannya yang begitu. Kamal tidak mampu bersuara, tubuhnya terasa sakit karena sangat sensitif setelah orgasme beruntun. Soobin benar-benar tidak berhenti, ia gila-gilaan menggerakan penisnya di lubang vagina Kamal. Suara becek mulai terdengar beriringan dengan suara kulit keduanya bertemu lagi. Lantai kamar itu kini dibasahi dengan sperma, air kencing dan lendir vagina Kamal, dan Kamal sendiri berlumuran semua cairan tersebut.

Hentakan demi hentakan Kamal terima semampunya, dengan kesadarannya yang berada diambang pingsan. Seks tersebut terus berlanjut, dan berlanjut dan berlanjut sampai seharian lalu semalaman penuh. Parahnya lagi, tidak hanya berlanjut pada hari itu saja, tetapi kepada keesokan harinya juga. Soobin sama sekali tidak berniat berhenti, ia terus memompa penisnya di kedua lubang Kamal secara bergantian, memandikan sang pemiliknya itu dengan sperma dan memenuhi tiap lubang, juga dengan spermanya.

Ketika Kamal tidak sadarkan diri karena kelelahan pun, Soobin tidak berhenti mengejar nafsunya. Ia terus menerus menyetubuhi Kamal, untuk jeda makan atau minum saja tidak bisa terpikirkan oleh Soobin. Hybrid itu tidak merasa haus atau lapar, ia hanya merasa penuh nafsu, nafsu yang begitu besar dan memenuhi tiap celah tubuhnya. Staminanya begitu tinggi untuk urusan seks, tidak bisa diimbangi oleh manusia biasa seperti Kamal. Usai melalui lebih dari lima orgasme, Soobin masih belum kelelahan juga.

Merasa cukup lama melakukan seks di lantai, Soobin memindahkan tubuh Kamal ke atas kasur, lalu melanjutkan seksnya lagi. Selain lubang vagina dan pantat, Soobin juga bisa menggunakan mulut Kamal sebagai lubang untuk ia memompa penisnya sampai orgasme. Semua lubang yang Kamal punya, Soobin jamah habis-habisan dengan penis raksasanya. Kamal terkadang bangun, terkadang juga pingsan di sela semua seks yang tak berujung tersebut. Selain tubuhnya, wajahnya juga lengket karena dihiasi sperma Soobin. Mulut Kamal juga terdapat sisa-sisa sperma hybrid itu.

Entah sampai kapan, seks tersebut akan berlangsung, Kamal hanya bisa memasrahkan diri sampai Soobin akhirnya bisa merasa puas dan berhenti menjamah tubuhnya.

———————————————————

Ekspresi cemas di wajahnya tidak kunjung sirna, bahasa tubuhnya yang tak berbeda jauh itu juga memperjelas situasinya. Beomgyu saat ini, sedang merasa dihinggapi rasa cemas, karena menghilangnya seseorang yang ia sayangi secara tiba-tiba. Seseorang itu adalah kekasihnya sendiri, yang sudah selama satu minggu tidak ada kabar. Ia sekarang sedang berdiri di lobi kantor tempat kekasihnya bekerja, menunggu kedatangan seseorang yang bisa jadi memiliki informasi tentang kekasihnya itu. Sesekali, Beomgyu melirik kesana kemari, melihat karyawan kantor yang berlalu-lalang melewatinya dengan kesibukan masing-masing. Seseorang yang ia tunggu akhirnya muncul sambil membawa beberapa dokumen di tangannya.

"Choi Beomgyu?" Celetuk pria paruh baya itu dengan perlahan menepuk bahu Beomgyu. Si brunette itu segera membungkuk kepadanya sebagai salam hormat.
"Ya, benar, itu aku, Pak." Sahut Beomgyu bersama senyum kecil.
"Aku adalah ketua tim di bagian Kamal bekerja, panggil saja aku Pak Jung. Kau kemari untuk mencari Kamal, kan?" Sambar Pak Jung, sudah dapat memastikan tujuan kedatangan Beomgyu.
"Benar, Pak Jung. Dia sudah tidak memberiku kabar selama satu minggu. Apartemennya seolah tidak dihuni ketika aku datangi. Ia tidak bisa dihubungi. Aku pikir, mungkin saja Kamal ada kemari." Tutur Beomgyu dengan penuh harapan.
"Kau sudah mencarinya dengan benar, nak. Sejujurnya, Kamal sendiri sudah tidak datang kerja selama dua minggu." Jawaban Pak Jung membuat Beomgyu sempat melongo. Kamal sudah selama itu tidak muncul ke kantornya?
"D-Dua minggu lebih?" Ulang Beomgyu, seolah masih tak percaya.
"Iya, sama seperti kasusmu, ia tidak bisa dihubungi oleh siapapun. Kami terpaksa memutus kontrak kerjanya secara sepihak minggu kemarin, karena tidak ada kabar tentangnya." Jelas Pak Jung dengan tegas namun lembut.
"Ah, benarkah, Pak Jung...? Aku baru kembali dari urusan pekerjaanku di luar kota, jadi aku tidak tahu soal hilangnya Kamal. Kami juga berkomunikasi tidak setiap hari, jadi aku pikir dia tidak membalas pesan atau panggilanku karena sibuk bekerja. Aku tidak tahu kenapa ia bisa menghilang seperti itu." Ujar Beomgyu sebelum menghela nafasnya sebentar, ia terdengar pasrah dan lelah. Pak Jung jadi merasa iba padanya.
"Umm, apa kau sudah coba menghubungi ponsel hybridnya?" Timpal Pak Jung.
"Ponsel hybridnya? Maksudmu Soobin?" Balas Beomgyu, mengingat soal keberadaan hybrid bertubuh besar itu di apartemen Kamal.
"Aku tidak tahu soal namanya tapi Kamal pernah memberikanku kontak ponsel milik hybrid peliharaannya untuk keadaan darurat. Kami tidak menghubungi hybridnya karena kami pikir tidak perlu. Hybrid itu tidak ada urusan dengan kantor kami, jadi tujuan kami hanyalah Kamal." Lanjut Pak Jung.
"Aku tidak memiliki nomor ponsel Soobin, bisakah aku memintanya darimu, Pak Jung?" Pinta Beomgyu.
"Tentu saja bisa, Beomgyu. Sebentar aku tuliskan di kertas." Sahut Pak Jung sambil mengambil pena dari saku kemejanya dan secarik kertas dari dokumen yang ia bawa. Setelah menuliskan beberapa angka, Pak Jung menyerahkan kertas tersebut kepada Beomgyu.
"Terima kasih banyak, Pak Jung. Kau sangat membantuku!" Ucap Beomgyu lalu membungkuk berkali-kali kepada Pak Jung.

Keduanya berpisah di lobi kantor tersebut usai Beomgyu menerima nomor ponsel Soobin. Pak Jung kembali ke pekerjaannya dan Beomgyu beranjak keluar dari gedung kantor tersebut. Beomgyu mencari-cari tempat yang sepi untuk bisa fokus menghubungi hybrid tersebut, ia berujung masuk ke sebuah gang kecil yang buntu. Dengan terburu-buru, Beomgyu memasukkan nomor ponsel Soobin dan langsung menyambungkannya ke panggilan. Beberapa kali, panggilan tersebut tidak terjawab tapi tersambung, yang artinya panggilan Beomgyu diabaikan. Entah sengaja atau tidak sengaja, tapi Beomgyu tetap bersikeras menghubungi hybrid tersebut. Karena satu-satunya harapan yang ia miliki saat ini adalah Soobin, hybrid peliharaan Kamal.

Beomgyu berdecak kesal ketika panggilan kelima juga tidak terjawab. Ia tidak mungkin menghubungi Kamal lagi karena ponsel kekasihnya itu benar-benar tidak tersambung. Si brunette terus mencoba menghubungi nomor tersebut. Jantungnya berdegup kencang, berharap panggilan tersebut akan segera dijawab. Ia sangat merindukan kekasihnya dan sangat amat khawatir.

Di sisi lain, getaran dan nada dering ponsel itu membuat Kamal menggeram kesal. Posisinya sekarang ini sedang menungging, tubuh terhentak karena masih ada penis yang bergerak mengobrak-abrik lubang vaginanya. Ia mengangkat wajahnya yang basah dan bersorot sayu itu untuk menatap ponsel Soobin yang berada di nakas samping kasur. Lebih tepatnya, berada di dekat posisi Kamal saat ini. Karena ponsel itu sangat menganggu, mau tak mau, Kamal meraihnya. Dengan mata setengah terpejam, Kamal menatap nomor asing yang muncul di layar ponsel tersebut. Kamal berniat mematikan panggilan itu sekaligus memblokir nomornya, tapi ia tanpa sengaja memencet terima panggilan karena tubuhnya terhentak-hentak tak beraturan oleh penis Soobin.

"H-Halo?! Soobin hyung? Kau disana?" Ketika terjawab, Beomgyu sempat terbelalak kaget, ia langsung menyambar. Ah, Kamal mengenali suara itu, sudah cukup lama tidak ia dengar.
"Hmm? B-Beomgyu hyung..?" Cicit Kamal lemas dan serak dari seberang panggilan.
"Kamal? Kamal kaukah itu? Kau ada dimana sekarang? Apa kau baik-baik saja?" Sahut Beomgyu dengan panik bercampur lega ketika ia mendengar suara kekasihnya.
"Eunghhh~ Kau berisik sekali, hyunghh~ Nghh! Ha..h..Ahh.." Jawab Kamal sembari mendesah. Penis Soobin memang sangat tidak memberi ampun padanya, bahkan ketika mereka sudah bercinta selama beberapa hari, bahkan dalam hitungan minggu.
"Kamal, apa yang..." Beomgyu seolah tak percaya ketika mendengar desahan Kamal dari seberang panggilan. Apa Kamal sedang melakukan seks dengan seseorang?
"Ah! M-Mh-Mhh! Jangan cari aku lagi! Uhhh, sial, aku tidak sanggup..." Ujar Kamal, ia bersusah payah menjawab selagi dirinya memproses rasa nikmat yang bertubi-tubi.
"Tidak, kau selama ini kemana saja? Kenapa kau menghilang? Kau ada dimana? Apa kau sedang berselingkuh, huh?" Lanjut Beomgyu, berusaha tidak memperdulikan jelasnya desahan Kamal di panggilan tersebut.
"Ahhh! Angh! Soobingh hyung, penismu sangat nikmat- Mnghh~ Lagi, lagi, hentak penismu lebih kencang!" Pekik Kamal, genggamannya pada ponsel itu melemah dan tak sengaja ia jatuhkan ke kasur. Kamal mendengkram kuat sprei kasur tersebut sambil mendesah.
"Soobin? Kamal, apa kau sedang melakukan seks dengan hybrid brengsek itu?" Cetus Beomgyu bersama amarahnya yang mulai bangkit. Kamal berdecak kesal, ia mendekati ponsel tersebut.
"Eung! Kau benar, aku sedang melakukan seks bersama Soobin hyung, aku sangat menikmati penisnya! Aku ingin dihamili olehnya! Jadi, jangan cari aku lagi, Beomgyu hyung." Racau Kamal dengan lantang di panggilan itu. Apa ini benar-benar terjadi? Apakah yang Kamal ucapkan itu memang benar?
"Kamal, apa kau sudah gila? Apa yang dia perbuat padamu? Katakan kau ada dimana sekarang?" Balas Beomgyu berusaha mendesak Kamal agar segera mengaku. Namun, yang Beomgyu terima hanyalah desahan dan teriakan nikmat dari Kamal.
"Ahhh~ Ah! Ah! A-Ahhmm~ Tolong penuhi lubangku dengan spermamu, Soobin hyungh!" Ucap Kamal semakin kencang. Secara tidak sengaja, Kamal menyenggol ponsel tersebut sampai terjatuh ke bawah kasur. Mendengar suara dentuman kecil dari panggilan seberang, Beomgyu terkejut.
"Kamal?! Hey, Kamal, jawab aku! Kamal?" Seru Beomgyu berulang kali, berusaha mendapatkan jawaban dari Kamal. Usahanya sia-sia karena yang Beomgyu dengar hanyalah desahan Kamal yang tiada henti.

Dengan berat hati, Beomgyu mematikan panggilan tersebut dan tertegun selama beberapa saat. Kemanakah Kamal saat ini? Apa yang terjadi kepadanya? Beomgyu tidak bisa menemukan alasan kenapa Kamal menghilang bersama Soobin, bahkan bercinta dengannya seperti tadi. Selama ini mereka berdua saling mencintai begitu dalam dan nyata, pernikahan juga sempat menjadi diskusi antar keduanya. Lalu kenapa...? Beomgyu sendiri tidak paham. Si brunette itu menghela nafas panjang, sebelum memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Tidak ada gunanya berpikir banyak soal Kamal. Toh, Kamal sendiri yang memint jangan dicari. Hati Beomgyu terasa sangat nyeri saat ini, tapi semua diluar kendalinya.

Kekasihnya benar-benar sudah hilang dari genggamannya, berkat hybrid sialan tersebut.