Work Text:
"Jenar sekarang udah jadi ningrat tau, Hen. Makanya jadi jarang pulang ke desa,"
Srekk srekk srekk
Bunyi kelapa terparut yang menggaung memenuhi dapur rumah Rayi menjadi pengiring pembicaraan si nyonya rumah.
" Huh… Jenar itu… Ngakunya jatuh cinta sama prajurit kawedanan , tapi ternyata sama Kanjeng Romo . Tenan kok, besok-besok pas pulang, tak ceples pantatnya! Masa aku dibohongin!" Seru Rayi yang saat ini sedang duduk di dingklik sambil memarut kelapa bersama sang sahabat, Heni.
Di ember tempat mereka memarut kelapa sudah terkumpul setumpuk cukup tinggi kelapa serut. Tapi kegiatan mereka tak juga selesai. Karena mereka harus membuat cukup banyak santen untuk masak sore ini. Untuk acara syukuran atas kelahiran seorang anak perempuan kurang lebih sebulan yang lalu.
Srekk srekk srekk
Perut Rayi tak lagi buncit lantaran jabang bayi yang ia kandung selama 9 bulan— 8 bulan kalau ngakunya sama Bapak, Ibu, dan Simbok, sudah lahir 40 hari yang lalu dengan bantuan dukun beranak tepat di rumah ini. Seorang bayi perempuan yang mewarisi paras ayu milik sang ibu, juga dekik — lesung pipit di kedua pipi milik sang bapak telah lahir, dengan kondisi yang baik dan tanpa cacat. Bayi ayu nan sehat yang dinamai Juwita.
Kini, mantan kembang desa itu sudah pulih total, dan bisa melakukan kegiatan-kegiatan yang selama kehamilan tidak boleh dilakukan. Memasak bersama sahabatnya, salah satunya.
Srekk srekk srekk
"Pasti hidupnya Jenar jadi enak ya, Hen. Tiap hari diadusi pake kembang tujuh rupa, njur diisik-isik sama Kanjeng Romo , njuk yo dimasakin sama kacung-kacung kerajaan. Pagi, siang, sore, malam ndak perlu khawatir harus kerja apa. Trimo jadi, trimo dirabi . Wes jan, pinuk tenan uripe ," Penuturan Rayi itu Heni diamkan begitu saja— entah dengar, entah juga tidak. Meski begitu, celotehan Rayi tentang Jenar tetap berlanjut. Sedang tangan si kembang desa yang masih melajang tetap setia memarut kelapa yang makin lama makin pendek di tangannya.
Jujur, Heni sendiri juga kurang tahu tentang berita Jenar. Tiba-tiba saja di suatu malam, berita bahwa Jenar akan diperistri orang asing dari kawedanan tersiar di seluruh penjuru desa. Heni boro-boro tahu orang seperti apa yang berhasil meminang sahabatnya, bertemu Jenar untuk terakhir kalinya saja dia tidak sempat. Larinya, yang meski malam itu sudah menjadi lari tercepat di seumur hidupnya, tidak mampu membuat sang perawan bersua dengan sahabatnya sebelum dimasukkan ke dalam delman yang mewah dengan ukiran emas kuningan di sekujur permukaannya. Sekarang pun, Heni tahu nihil bab berita Jenar.
"Sekarang cuma kamu lho yang belum nikah. Ayo gek ndang cari suami! Jangan mau kalah, Hen. Sama aku, sama Jenar,"
Srekk—
" Aw! " pekikan Heni membuat Rayi buru-buru menghentikan kegiatannya.
" Eh lha dhalahh… Heni!" Pekik sang Ibu muda sembari melempar kelapanya yang setengah terparut secara asal di ember, lalu bergegas meninggalkan dapur. "Mas Jamal, tolong ambilkan godong sirih! Heni kebleret ,"
" Halah yung, yungg… kok iso kebleret ki lho , Hen, Hen…" celoteh Rayi yang gedubrasan sendiri keluar dapur buat cari kain bersih, air bersih, apapun itu yang bisa digunakan untuk membantu sang teman seraya menunggu Mas Jamal rampung memetik daun sirih di kebun depan rumah.
" Mbok kalo lagi marut kelapa ki ojo karo ndomblong ! Kamu disini tak suruh bantu marut kelapa yoo , bukan marut tanganmu!" Celotehan sang sahabat menggaung di seluruh sudut rumah Jamal dan Rayi. Tapi gadis perawan yang kini masih terduduk di dingklik lagi-lagi tidak mendengarkan omongan Rayi. Pikiran Heni melayang. Dan gadis itu malah melihat nanar ke arah jarinya yang meneteskan darah merah.
Heni menyalahkan dirinya sendiri akan musibah yang menimpanya saat ini.
Ya, sedikit sisi dirinya juga menyalahkan Rayi yang kenapa tiba-tiba membawa topik sensitif yang mampu membuat perawan itu tak bisa berfikir jernih.
Sebenarnya, topik bicaraan barusan sudah sebulan lebih menghantui pikiran perawan yang sebentar lagi menginjak usia ke 17. Kata-kata Bapak yang bilang kalau 17 tahun adalah usia yang sudah kelewat matang untuk mencari suami memenuhi pikiran si gadis hingga tak satu dua kali Heni melukai tubuhnya saat berkegiatan. Pikiran Heni selalu melalang buana, meninggalkan tubuhnya sendirian menghadapi risiko bekerja.
Cepat nikah, karena usianya sudah matang.
Cepat nikah, karena semua sahabatnya sudah dipinang.
Cepat nikah, karena sang Bapak semakin renta .
Terlalu renta sang Bapak untuk menghidupi diri sendiri maupun sang anak. Ya… meskipun Heni sendiri sudah bisa mencari uang melalui panggilan-panggilan untuk menari di acara tasyukuran warga desa. Tapi bagi Bapaknya Heni, selama anaknya belum mendapat suami, adalah pantangan untuk beliau berhenti bekerja, serta membiarkan anaknya seorang diri menghidupi keluarga.
Happ…
Heni mengemut jari berdarahnya sendiri. Di telinganya masih jelas terdengar celotehan Rayi yang tak ada henti dari kejauhan, menasihati ini itu. Tapi seakan menuli, kuping sang kembang perawan hanya dapat mendengar nada nyente-nyente milik sahabatnya tanpa menangkap maksud sepatah kata yang diucapkan Rayi.
Sedari dulu, sahabatnya, si Rayi itu memang paling cerewet kalau lihat Heni terluka. Sifat Rayi juga 11-12 mirip Jenar, sahabat Heni lainnya. Mereka nggak akan takut-takut buat maju atau marah duluan kalau tahu Heni tersakiti!
Pokoknya, dua orang itu seakan memiliki misi bersama untuk melindungi Heni dari pahitnya kehidupan di sekitar gadis manis berkulit sawo matang tersebut. Seakan Heni itu permata yang paling berharga, yang harus dilindungi baik-baik. Hal itu jelas membuat Heni merasa nyaman dan aman saat bersama kedua temannya itu. Heni seakan mendapatkan 2 ibu yang tidak pernah ia miliki.
Tapi, sekarang 2 ibu Heni itu sudah memiliki keluarga sendiri. Meninggalkan si manis pemalu melajang seorang diri disaat kedua sahabatnya merintis keluarga kecil masing-masing.
Fakta itu pula yang membuat Heni galaunya minta ampun akhir-akhir ini. Heni, si gadis perawan kembang desa, satu-satunya yang tersisa dari 3 bersahabat itu, galau, karena merasa sendirian. Tidak punya kekasih, ataupun sahabat untuk bertukar gulana.
Pun sodoran daun sirih menarik gadis manis itu kembali ke kesadarannya.
Heni yang duduk di dingklik dengan jari yang masih diemut menatap sosok yang menyodorkan lembaran sirih itu. Mas Jamal .
Beberapa saat keduanya mematung, kaku, dan canggung akan satu sama lain. " M-Mas —,"
Heni melepaskan emutan jarinya. Seuntai liur ikut terlepas dari mulut sang perawan. Sang pria beristri itu masih terdiam. Mata Jamal seakan tak bisa lepas dari Heni. Tatapan pria itu jatuh mengikuti untaian liur yang sialnya malah menetes ke dagu, lalu ke jatuh ke buah dada yang terlihat bundar, mengkal, dan menyembul dari sudut pandangnya saat ini.
"Daun sirihnya sudah, Mas?"
Jamal yang mendengar pertanyaan istrinya itu mendekat ke arah dapur, buru-buru melempar daun sirih di tangannya secara asal. Lalu tanpa berucap, beranjak meninggalkan Heni yang masih bingung dengan kejadian barusan.
"Mas?— eh, eh! Adek masih bawa air loh!" Rayi yang hendak memasuki dapur dengan segayung air untuk membasuh luka sang sahabat ditarik oleh sang suami. "Mas, Mas!"
Blamm…
Heni jenggirat usai mendengar pintu kamar yang tertutup dengan kencang. Pun yang makin membuat perawan itu terkejut adalah desahan erotis sang teman yang melengking hingga ke dapur tak lama setelah bantingan pintu itu.
"Mas, ada Heni loh disini~,"
Lirihan sang sahabat tertangkap oleh indera pendengaran Heni. Ia yang sedikit paham akan apa yang tengah dilakukan sepasang suami-istri itu segera bangkit dari dingklik nya dan memungut daun sirih yang dilempar Jamal barusan.
"Ndak akan dengar!"
Woo.. gendheng!
Ya jelas dengar lah! Wong rumah Rayi dan Jamal itu dindingnya terbuat dari kayu putih yang disusun tipis sebagai sekat masing-masing ruang. Bisik di ruang tamu saja bisa terdengar sampai ke dapur. Apalagi teriakan birahi Rayi!
"Ah, Mas~ kok tiba-tiba loh… Adek masih seret,"
Heni berniat untuk berpura-pura tuli dengan pembicaraan senonoh pasangan pengantin muda. Heni sadar persis bahwa saat ini ia sedang berada di rumah Rayi dan Jamal. Ia tidak punya hak untuk melarang sang tuan rumah melakukan kegiatan di rumah mereka sendiri— ya, meskipun kegiatan mereka agaknya kurang layak dilakukan saat sedang ada tamu di rumah itu.
Tapi jawaban Jamal yang menembus tembok kayu tipis kamar Rayi dan Jamal tertangkap pendengaran Heni membuat sang perawan merona merah. "Sini Mas lamotin dulu pepekmu biar ndak seret,"
Sekon kemudian eluan birahi Rayi yang ganti menggaung di seluruh penjuru rumah. "Mas, ouhh— Mas Jamal, aduh~,"
Heni bisa merasakan kakinya melemas. Raungan nikmat Rayi secara bertubi-tubi mau tak mau membuatnya ikut menerka-nerka apa saja yang dilakukan Jamal sampai sang istri melolong kenikmatan. "Mas~ Mas, aduhh~ lidah Mas enak banget di pepek Adek~"
Heni meneguk liurnya yang perlahan memenuhi rongga mulutnya hingga nyaris menetes keluar. Tangan Heni meremas kuat daun sirih yang ada di tangannya, satu-satunya cara yang bisa ia lakukan agar tidak semakin dalam terhanyut kepada kubangan birahi yang diciptakan pengantin muda itu.
"Mas itu loh… nakal banget, kok ya bisa tiba-tiba birahi sih?"
"Gara-gara kamu to. Disuruh Mas jangan pakai daster gelembreh ini lagi, tapi kok ngeyel. Lihat ini susumu jadi tumpah-tumpah! Bikin Mas pengen nyusu aja,"
Heni dengar semua. Heni dengar semua!
Gadis perawan yang barusan terperangkap di penjara pandangan vulgar suami temannya memerah legam. Jelas ia ikut merasa dengan sindiran tak langsung milik Jamal. Tangan gemetaran Heni melepaskan rematan sirih, lalu bergerak menyentuh puncak jariknya. Gadis lugu itu membenahi posisi kain kembennya, agar tidak gelembreh seperti sindiran sang pria beristri.
"Ouh, Mass~ pelan-pelan nyusunya, nanti anak kita ndak kebagian,"
Tangan Heni yang belum sempat turun usai membenahi jariknya membeku setelah mendengar pekikan sang sahabat.
"Mas, aduhh~ iya iya, susu Adek ndak akan kemana kok. Hihihi, dasar bayi besar! Ngghhh~,"
Heni diam-diam mendapatkan dirinya membayangkan kondisi di dalam kamar Rayi saat ini. Bayangan bagaimana suami sahabatnya itu menyusu di nenen Rayi yang masih membengkak penuh ASI memenuhi pikiran Heni. Pun desahan-desahan yang terus menyahut berirama dengan sedotan atau remasan Jamal di nenen itu— menurut perkiraan Heni, membuat sang perawan secara tidak sadar ikutan meremas nenennya sendiri.
"Mas~ nyeri to nenen Adek kalo Mas nyusunya gitu. Ngh— jangan pakai gigi, pentil adek nyeri, Mas~,"
Heni menggigit bibirnya. Nye-nyeri yang dirasain Rayi sekarang gimana ya?
Jemari lentik Heni kemudian bergerak mencubit putingnya yang masih tidur di balik balutan jariknya. "Ah!" Heni buru-buru menutup mulutnya. Ia yang terkejut dengan desahannya sendiri menoleh ke sekitarnya. Takut malu kalau ternyata sepasang suami-istri tersebut sudah selesai melakukan kegiatan laknat mereka dan menemukan kalau si perawan juga ikut birahi dan penasaran dengan rasanya permainan dewasa mereka.
Heni yang mendapati bahwa tak ada siapapun di dapur selain dirinya, juga masih mendengar suara desahan suami-istri yang terdengar samar, akhirnya dapat menghela nafas lega.
Perawan itu melongok ke nenennya sendiri. Secuat pentil yang menegang hasil cubitannya membuat sang perawan merona malu.
"Nurut sama suamimu. Kalau suamimu mau ngenthu kamu sekarang, ya sekarang,"
"Tapi Mas, Juwita masih 40 hari loh. Adek belum siap hamil lagi,"
Heni yang mendengar percakapan sepasang pengantin baru itu menoleh. Rayi mau dikawin lagi?
Pun kaki polos sang perawan membawanya yang penasaran dengan percakapan sahabat serta suami sahabatnya itu ke depan pintu kamar Rayi dan Jamal. Perawan lugu itu serta-merta menempelkan telinganya di daun pintu kamar suami-istri itu. Khawatir akan sahabatnya, juga penasaran tentang apa yang diperbuat suami sahabatnya.
"Tapi, Mas~ nghh—,"
"Ck! Tugas istri itu layani suaminya, Dek! Nurut kalau dibilang Mas! Nungging kamu, biar Mas bisa ngenthu pepek ngowohmu!"
Benturan cukup keras di pintu kamar Rayi dan Jamal membuat Heni mundur cepat-cepat. Khawatir di hati Heni makin membuncah. Rasa ingin mendobrak pintu dan menyelamatkan sahabatnya melunjak. Kalau saja desahan nikmat Rayi tidak menyahut setelahnya. "Mass~ ouh! Kacuk Mas gedhe, pelan-pelan, Mas. Nanti pepek Adek bisa lecet!"
Dan seruan nikmat lainnya terucap dari bibir sang sahabat yang membuat rasa khawatir Heni meluruh. "Mulutmu, Dek, Dek. Ra maido. Nyatane ya pepekmu makin licin. Seneng to kamu dikenthu Mas mu kayak gini?"
Pok… pok… pok…
Suara persenggamaan Rayi dan Jamal terdengar nyaring. Sahabat sang istri itu kembali dibalutkan oleh rasa penasaran akan kegiatan yang dilakukan Rayi dan Jamal di dalam kamar mereka. "Seneng, seneng, Mas. Ohh— Ayo kenthuin adek yang cepet!"
Lantunan kekehan tawa Jamal menalukan jantung Heni. Kembang perawan itu meneguk liurnya.
Tubuh Heni terasa ricuh. Semua desakan rangsangan yang mampir di kepalanya entah mengapa membuat kakinya bergerak saling menghimpit satu sama lain. Si perawan lugu yang belum pernah mendapatkan sentuhan— terlebih sebanyak apa yang Rayi dapatkan sekarang, hanya bisa membayangkan dan mengandai. Membayangkan jika ada pria yang mampu membuatnya melolong nikmat sebagaimana Jamal kepada Rayi. Mengandai jika ia telah bersuami.
Licin . Heni menggigit bibirnya. Seluruh desahan dan erangan pasangan pengantin muda, juga himpitan kaki Heni sendiri membuat gadis perawan itu merasakan licin di selangkangannya.
Si lugu yang belum tahu reaksi-reaksi aneh apa saja yang dapat ia rasakan saat mendengar atau menyaksikan kegiatan saru pria dan wanita itu hanya bisa bergerak gusar merasakan licin di selangkangannya. Licin, juga berkedut hebat. Oh ! Tidak nyaman, juga geli yang ia rasakan di selangkangannya semakin membuncah.
Pun Heni dengan segala kepolosan yang ia miliki menghimpit, juga menggesekkan kedua kakinya bersamaan. Mungkin— mungkin dengan cara itu rasa tidak nyaman dan geli yang Heni rasakan bisa mereda. Mungkin…
"Ah, Mas—,"
Semakin gencar teriakan Rayi, semakin gencar pula gerakan kaki Heni. Hingga—
"Oekkk… Oekkkk…" Tangisan bayi Jamal dan Rayi menggaung seiring dengan desahan nikmat sang istri. Membuat Heni terlonjak kaget, menghentikan kegiatannya, dan menoleh ke arah kamar datangnya suara tangis bayi itu.
"Mas, Juwita nangis," lirih Rayi. "Sebentar, biar Adek tengok dulu dia kenapa," bujuk sang istri di tengah suara tepukan persenggamaan suami-istri tersebut.
"Bentar! Mas belum bucat! Biar Heni yang urus,"
Sontak perawan itu gelagapan mendengar namanya ikut terpanggil di tengah kegiatan suami-istri. Gadis lugu itu dengan tergopoh berlari menuju kamar sang jabang bayi. Mematuhi penuturan sang tuan rumah.
Tangan Heni meranggeh bayi Juwita yang menangis. Mungkin karena kesepian, mungkin juga karena terganggu tidurnya oleh suara laknat percintaan bapak dan ibunya.
" Cupp, cupp, cupp… Sayang~," Tangan cekatan Heni segera menimang bayi itu. Menggantikan tugas sahabatnya sebagai ibu, karena tengah sibuk menjalani kewajibannya sebagai istri.
Heni berdiri melamun di dapur dengan bayi Juwita yang sedikit demi sedikit menenang di timangannya. Suara percintaan Jamal dan Rayi sudah lama mereda, tapi baik Bapak dan Ibu sang bayi belum juga keluar dari kamar. Pun sunyi yang datang ke rumah Rayi dan Jamal usai terlewatinya riuh puncak percintaan sang pengantin muda, menjadi satu-satunya teman Heni saat ini.
" Ngg !" Rengekan bayi Juwita menyadarkan Heni dan memancing kembang perawan itu untuk menepuk-nepuk pantat sang bayi.
"Tak lelo, lelo, lelo ledung. Cep menengo aja pijer nangis~" Sebuah tembang merdu melantun dari bibir Heni. Mungkin suara merdu Heni berhasil menghibur Juwita hingga kerutan di dahi sang bayi melemas. "Anakku sing ayu rupane, yen nangis ndhak ilang ayune~"
Mungkin… mungkin begini ya, rasanya setelah menikah?
Di tengah upayanya menenangkan sang bayi, pikiran Heni malah ribut memikirkan bermacam hal.
Tugase wong wadon kuwi mung masak, macak, lan manak.
Selama hidupnya, Heni sudah mampu menguasai dua tugas utama perempuan, masak dan macak .
Masak . Hidup berdua dengan Bapaknya sejak bayi memaksa si gadis untuk mau tak mau suka memasak. Sejak kecil ia dengan giat belajar memasak. Niatnya adalah untuk membantu si Bapak yang sudah kelelahan meladang atau nukang seharian, agar bisa makan dengan enak dan mudah. Berbagai lauk pauk, sayur mayur, hingga berbagai macam jajanan pasaran, semuanya sudah Heni pelajari, dan kini bisa Heni masak!
Macak . Selain suka memasak, Heni juga suka menari. Sejak kecil pula ia mengikuti sanggar tari Nyi Sardah. Talenta serta giatnya dalam menari menjadikan dia satu-satunya murid kesayangan Nyi Sardah. Heni diajari banyak hal oleh Nyi Sardah. Selain menari, wanita paruh baya itu juga mengajari Heni cara memoles wajahnya dan tubuhnya sendiri. Kini, macak menjadi hal awam yang dilakukan oleh Heni sendiri, terlebih kalau dia diundang untuk menari di acara tasyukuran .
Tapi ada satu tugas utama perempuan yang belum dia pelajari. Manak .
"Hen, maaf yoo , aku jadi ngerepotin kamu," ujar Rayi yang berjalan mendekati sahabatnya.
Heni mengangguk pelan. Mata si kembang perawan mau tak mau jatuh ke kaki sahabatnya yang jalan dengan pelan dan mengangkang. Belum lagi tercium aroma amis dan pesing yang kuat menempel pada tubuh Rayi. Kembang desa yang seketika mengingat kegiatan saru Rayi dan Jamal barusan segera memalingkan pandangannya malu.
"Sini, mana anakku," pinta Rayi yang segera dikabulkan oleh Heni. "Maafin Ibu ya, Nduk . Kamu pasti laper ya?" Ujar Rayi yang berhasil mengambil bayinya dari timangan sang sahabat. Pun Ibu muda yang sudah paham akan apa yang harus ia lakukan saat bayinya menangis segera melorotkan daster gelembreh yang ia kenakan dan menyodorkan puting susunya ke mulut sang bayi. Susu yang tadinya dibuat nyusuin Jamal…
"Ya gini ini, Hen. Jadi istri harus bisa bagi waktu nyusuin bapak sama anak,"
Aduhh… segala diingatkan lagi sama Rayi. Wajah Heni jadi memerah padam. "Besok ya kalau pas kamu nikah, bakalan kayak gini juga, Hen,"
"M-menurutmu, aku bakalan nikah kapan Ray?" pertanyaan polos gadis perawan itu membuat Rayi menoleh dan terkekeh. " Yo ndak tau no… kok nanyanya ke aku, kan kamu yang mau nikah," gurau Rayi. Heni menggigit bibirnya dengan malu.
"Memangnya, kamu udah ada calon?" tanya Rayi menyelidik. Pun kembang desa itu menggeleng.
"Kalau Bapakmu, sudah ngomongin calon?" Lagi-lagi Heni menggeleng.
Rayi menimang bayinya yang kini mulai terlelap sembari meminum susu yang keluar dari puting sang Ibu. " Lha kamu maunya nikah cepet atau lama?"
" Ndak tau," lirih Heni.
"A-aku mau nikah kapan aja. Cuma kok…" Heni menggigit bibirnya karena ragu menjawab, "Aku ndak yakin mau sama orang-orang desa sini,"
"Ya cari yang dari luar desa to, Hen. Makanya kalau diajakin nari di luar desa sama Nyi Sardah jangan nolak," Rayi yang dulunya juga seorang penari di sanggar Nyi Sardah, tahu persis kalau Heni tidak pernah mau keluar dari desa, berasalan Bapaknya .
Dulu pun Rayi sempat beberapa kali keluar desa untuk menari di acara tasyukuran desa sebelah. Karena Simbok Rayi peduli setan dengan pekerjaan sang anak, ditambah Mas Jamal yang saat itu juga bekerja sebagai penabuh gendang, Rayi jadi lebih bebas kalau mengiyakan ajakan Nyi Sardah. Berbeda dengan sang sahabat.
"Ya kan, kamu tau sendiri Bapak harus ditemenin,"
Rayi menggelengkan kepalanya dan tertawa. "Ya sudah, kalau kamu ndak bisa keluar desa, ya tunggu orang luar masuk desa kita. Siapa tahu nasibmu bakalan sama kayak Jenar. Yang namanya jodoh, ndak bakalan kemana, to ?"
"Heni pulang," ucap sang gadis perawan yang membawa satu besek berisikan makanan yang dia dapatkan dari rumah Rayi yang tengah memperingati kelahiran anaknya. Bau kayu lapuk berpadankan dengan aroma minyak gosok yang kuat menyapa indera penciuman Heni saat ia memasuki rumah reyotnya.
" Ohok, ohok, sudah pulang, Wuk ?" tanya Bapak Heni yang tertatih keluar dari kamar.
"Bapak! Kan Heni udah bilang. Jangan keluar-keluar dari kamar! Bapak haus? Laper? Biar Heni yang ambilkan, Bapak di kamar aja," Kembang perawan itu buru-buru menaruh besek yang ia bawa di atas meja makan, lalu memapah sang Bapak menuju kamar kembali. "Bapak mau lenggah di kursi, Wuk . Mau bicara dulu sama kamu. Sudah lama to , Bapak ndak kasih wejangan buat cah ayu nya Bapak?"
Tubuh Heni seakan terguyur air es. Langkah kakinya terhenti. Dengan sangsi Heni menoleh ke arah Sang Bapak. Tangan yang telah renta itu mengusap kepala Heni dengan lembut. "Bapak mau ngunjuk kopi pait, kamu buatkan yo ?"
Pria tua itu kemudian berjalan tertatih meninggalkan anaknya yang masih mematung di tengah jalan, lalu menuju kursi bambu di ruang tengah. Degup jantung Heni melambat, nafasnya seakan tercekat. Tanpa ia sadari air mata mengalir turun dari kedua bola matanya.
" Ndak perlu panas-panas ngedang nya. Ben Bapak bisa langsung ngunjuk ,"
" N-nggih , Pak," Buru-buru Heni usap air mata yang menetes.
Gadis itu segera bergegas menuju dapur rumahnya untuk merebus air, untuk ngedang kopi hitam pahit kesukaan sang Bapak. Pikiran ricuhnya ia coba tekan kuat-kuat agar tak lagi berpikir yang tidak-tidak.
"Bapak mau coba cenil bikinanku sama Rayi?" Tawar Heni yang membawa satu nampan berisikan kopi hitam pahit kesukaan sang Bapak, juga satu piring berisi kue-kue cenil berwarna merah muda dan hijau. Senyuman sang Bapak yang terduduk di kursi kesukaan orang tua Heni lagi-lagi mampu menghentikan degup jantung Heni. Anak semata wayang itu dengan berhati-hati meletakkan nampan di meja hadapan sang Bapak, lalu bersimpuh di bawah kaki orang tuanya.
"Sudah pasti enak masakan cah ayu ku," ucapan lugas sang Bapak terdengar tegas dan berhati-hati di saat yang bersamaan. Tangan tremor milik Bapak dengan amat pelan meraih cenil berwarna merah muda dari atas piring. Sayang, tangan lemah itu terlalu ringkih untuk membawa barang satu kue, sehingga jatuhlah cenil itu ke lantai. Pun pria tua itu masih mencoba membungkuk guna meraih kue yang ia jatuhkan. "Jangan diambil Pak, sudah, sini biar Heni saja,"
Gadis manis berkulit sawo matang itu segera mengambil kue yang terjatuh di lantai, lalu menyisihkannya. Ia juga segera mengambilkan kue yang baru— dengan warna serupa, lalu menyuapkannya kepada sang Bapak. "Enak, Pak?" tanya Heni dengan lirih.
Terlihat jelas di garis wajah sang gadis bahwa ia menahan tangis pilu. Dan senyum hangat di bibir sang Bapak yang tertoreh usai mengicip kue cenil buatan sang anak membuat Heni semakin gencar menahan air matanya. "Enak, Wuk ," Jawaban itu terdengar susah payah saat diucapkan oleh Bapak.
Heni meneguk ludahnya dengan kasar. "Bapak mau ngunjuk kopi?" tanya Heni. Anggukan kepala sang Bapak menjadi isyarat bagi sang anak untuk mengabulkan permintaan orang tuanya.
Dengan berhati-hati Heni bawa gelas kopi hitam pahit yang panasnya hanya suam-suam kuku ke mulut pria tua itu. Tegak demi tegak Heni perhatikan baik-baik. Lalu setelah rampung, gadis itu kembali meletakkan gelas kopi itu ke atas meja.
" Cah ayu, anak wedok ayune Bapak lan Ibu saiki wis gedhe ," Ucapan lirih Bapak Heni yang mau tak mau memanggil sang gadis untuk menoleh dan termangu menatap wajah sayu sang Bapak. Wajah pria tua itu nampak lelah. Wajah yang dulunya menggambarkan ketegasan itu kini layu.
" Cah ayu, nek ditinggal Bapak lan Ibu aja pijer nangis ,"
"P-Pak?—,"
"Doa Bapak dan Ibu selalu ikut," Hirupan nafas si pria tua terdengar nyaring di telinga Heni.
"Bapak minta maaf, Wuk . Sudah banyak merepotkan kamu,"
Gelengan kepala Heni kuat menolak mendengar pesan-pesan yang perlahan terurai dari mulut sang Bapak. "Heni yang merepotkan Bapak," sanggah sang anak, "Heni yang sering nakal, sering bikin Bapak marah,"
Senyuman hangat Bapak Heni lagi-lagi menggores hati anak semata wayang itu bak ribuan pisau kecil. "Tugas orang tua itu membuat hidup anak sejahtera, sedang tugas anak itu berbakti kepada orang tua,"
Tangis histeris yang hampir pecah itu Heni tahan semaksimal mungkin dengan rematan kuat di tangan sang Bapak. "Bapak belum jadi orang tua yang baik, karena Bapak belum bisa menjadikan hidup kamu sejahtera. Tapi kamu, kamu, Wuk . Sudah jadi anak yang baik karena bakti kamu untuk Bapak. Bapak minta maaf, dan Bapak berterima kasih, Wuk ,"
Heni mengecup tangan Bapaknya. Kalah gadis itu pada perlombaan menahan tangis yang ia susun sendiri di dalam benaknya. Kalah gadis itu dengan dirinya sendiri. Bulir demi bulir air mata mengalir deras di pipi sang gadis. Kecup demi kecup Heni berikan pada tangan keriput sang Bapak. Tangan coklat legam penuh dengan kapalan hasil jerih payah sepanjang hayat itu basah dengan air mata anaknya.
"Kejar mimpi kamu. Jadi penari kebanggaan Bapak, jadi penari kebanggaan desa. Tidak usah khawatirkan Bapak lagi,"
Tangan lawas sang Bapak membalas rematan tangan sang anak dengan kuat-kuat. Tangis histeris Heni tak lagi dapat terelakan. Kepala gadis itu layaknya hampir meledak. Semua ucapan yang terdengar seolah jadi wasiat untuk sang anak semata wayang.
"Tidak usah khawatirkan Bapak lagi, Wuk . Tidak usah,"
Usapan lembut tangan keriput pada pipi Heni membuat gadis itu makin histeris. Histori akan didikan dan ajaran Bapaknya menerjang ingatan Heni. Membuka gerbang air mata yang terkunci sejak pertama Bapak jatuh sakit. Terkunci guna tampak kuat dihadapan sang Bapak, terkunci guna tak memancing kesedihan sang Bapak. Di tengah sungkeman kepada Bapak, gadis itu mencurahkan seluruh tangis haru dan tragis yang ia simpan rapat-rapat sendirian.
Pun semuanya tak berlangsung lama, lantaran rematan tangan tua itu semakin lama semakin lemah, hingga jatuh terlepas dari genggaman tangan sang anak.
"Pak… Pak… Bapak…" panggilan pilu gadis lugu itu meraung di dalam rumah usang itu, memanggil orang tua yang tak lagi bernyawa, memanggil Bapak yang telah pergi meninggalkan dunia.
"Udah 100 hari, Hen," ujar Rayi membuka pembicaraan. "Udah 100 hari Bapak
sedo
,"
Alih menimpali ucapan sang sahabat, Heni bungkam sembari terus melinting kue-kue cenil di tangannya. Tatapan kosong milik gadis dengan pipi yang tak segembul 100 hari lalu membuat Rayi iba.
Hari ini, Rayi berhasil mengajak Heni keluar dari rumah reyot yang kini ia tinggali sendiri usai kepergian sang Bapak, dan membawanya ke kediaman Jamal dan Rayi. Beralasan mengajak membuat kue cenil untuk dijual dan dititipkan di gerobak keliling Mang Unda. Padahal maksud Rayi secara terselubung, adalah mengajak Heni berkegiatan agar tidak terus mengurung diri di dalam rumah usang peninggalan sang Bapak.
"Bapak dhahar ini sebelum sedo , Ray…"
Rayi menghela nafasnya dengan berat. Kepergian Bapak Heni 100 hari yang lalu membuat temannya yang mulanya diam karena memiliki watak pemalu, menjadi makin diam. Kalau Rayi tidak berusaha mengundang temannya untuk melakukan aktivitas bersama seperti umbah-umbah di kalen , masak ini itu, atau bahkan bermain bersama Juwita, dapat dipastikan tidak ada kabar yang terdengar di telinga Rayi tentang Heni.
"Kata Bapak, kue cenilnya enak, Ray," Dari sisi Rayi, ibu satu anak itu dapat melihat air mata Heni mulai mengumpul di pelupuk matanya, "Sekarang mau seenak apa aku bikin cenilnya, Bapak ndak bisa icip lagi,"
Sang sahabat yang iba dengan tangisan Heni bergegas bangkit berdiri dan memeluk sahabatnya erat-erat. "Hen, sudah to . Jangan ditangisin terus. Kasian arwah Bapak nanti jadi ndak tenang," Namun nasihat Rayi seakan angin yang berhembus menyapu telinga kanan lalu keluar di telinga kiri. Isakan Heni lagi-lagi pecah di rumah keluarga Rayi.
"Hen. Aku tau kamu sayang sama Bapak. Aku juga tau kamu lagi sedih habis ditinggal Bapak. Aku yo sedih, Hen. Lihat kamu nelongso , cuma golar-goleran di rumah aja, ndak ngapa-ngapain kalau ndak aku ajak ngapa-ngapain," ucap Rayi, "Tapi kamu yo ndak bisa gini terus dong, Hen. Uang tinggalan Bapakmu itu ndak banyak. Padahal kamu butuh makan, butuh uang. Kamu ndak bisa andalin uang warisan Bapak kamu aja sampai besok nikah, kamu juga perlu kerja untuk kamu sendiri,"
"Kalau aku kerja, Hen. Sudah pasti aku bantu kamu makan setiap hari, tak angkat anak wes , aku ndak masalah," canda Rayi di seling ucapannya, "Tapi masalahnya sekarang cuma Mas Jamal yang kerja. Buat ngehidupin aku sama Juwita, Mas Jamal mati-matian. Apalagi kalau ketambahan kamu,"
"Kerja, Hen. Selagi belum ada rumah yang harus kamu urus, selagi belum ada suami yang hidupin kamu. Kerja," Nasihat Rayi menjadi penutup tangis Heni. Gadis perawan itu mengusap air matanya dengan kasar.
"Aku yakin Bapak di alam sana yo gelo, mirsani anake nangis wae ,"
"Nari lagi, Hen. Sudah lama to kamu ndak ke sanggar? Nari. Lanjutin impianmu buat jadi penari kebanggaan Bapakmu,"
Gadis perawan itu terenyuh oleh perkataan sang sahabat. Pesan terakhir Bapaknya kembali terputar di pikirannya. Wasiat terakhir yang berucap, "Jadi penari kebanggaan Bapak, jadi penari kebanggaan desa,"
"Nyi, Heni mau menari lagi," perkataan yang keluar dari murid emas sanggar Nyi Sardah sontak membuat wanita paruh baya itu berlonjak kegirangan. Wanita dengan paras elok serta tubuh yang masih
kenceng
di usianya yang tak lagi muda itu memeluk tubuh sang murid dengan erat.
"Boleh, boleh, boleh, Wuk !" seru sang Guru dengan semangat.
"Kamu yang ditunggu-tunggu Nyi. Kamu juga yang ditunggu-tunggu anak-anak untuk menari bersama. Nyi seneng akhirnya kamu mau nari lagi," Heni meletakkan kepalanya yang terasa berat sedari peninggalan sang Bapak di bahu sang Guru, "Bapakmu ya bakal seneng lihat kamu mau nari lagi,"
Usapan lembut yang Heni rasakan di punggungnya membuat sang penari termangu. Lembut usapan orang tua selaras usapan Bapaknya dulu membuat anak yatim piatu itu diserang rindu.
Heni rindu sang Bapak. Rindu dipeluk sang Bapak, rindu direngkuh sang Bapak. Gadis manis itu membalas pelukan sang Guru guna menyalurkan rindunya kepada Bapak.
"Sudah, ndak perlu banyak dipikirkan," gema suara Nyi Sardah yang terdengar di kuping sang gadis menenangkannya, " Wong mati kapendem, wong urip kalampah . Kamu itu masih muda, masih hidup, Wuk . Maka jalani hidupmu,"
" Yu Heni? Besok Jumat Legi mau ada pesta. Kamu mau ikut nari ndak ? Duitnya besar loh, 100 gulden buat satu penari . Tapi mulai pestanya malem ,"
*Yu— panggilan untuk seorang perempuan, singkatan dari Ayu / Mbak Ayu. Ayu juga bisa berarti cantik.
Heni yang tengah duduk di depan cermin dan memoles bibirnya dengan gincu menoleh ke arah gadis cantik di sampingnya. "Pesta apa, Yu ? Syukuran? Kok Nyi Sardah ndak ada bilang ke aku?"
"Jelas ndak bilang, wong ini pesta bukan sembarang pesta, Yu ," Ucap salah seorang teman penari Heni sedikit berbisik dan mendekat ke arah kembang desa yang tengah macak itu, "yang tadi dibilang Yu Tinem, duit 100 gulden itu, itu cuma upah kita dateng aja ke pestanya. Kalau sudah mulai menari, duh… bisa makin banyak! Kemarin itu aku pulang bawa 500 gulden !"
Heni menurunkan gincunya dan menoleh kepada temannya yang lain. Mata bundar Heni membelalak lebar, "Kok banyak nemen ?"
"Iya makanyaa…" Timpal teman penari Heni yang lain, "Ini kami mau kesana lagi, Yu Heni mau ikut ndak ? Kemarin itu kan Yu Heni kehalang kesripahan Bapaknya sampeyan , to ? Sekarang Yu Heni udah bisa nari lagi, ayo ikut kita aja. Lumayan duitnya," Bujuk sang teman yang kini tengah membenarkan sanggulnya.
Bagi Heni, tawaran uang 100 gulden terdengar sangat menggiurkan. Terlebih, tadi pagi gadis manis itu tidak bisa makan karena habisnya pasokan pangan di rumahnya. Ditambah lagi, Heni terlalu malu untuk meminta makan ke rumah temannya.
Meski Rayi sudah sering berpesan agar jangan ragu datang ke rumah Rayi hanya untuk sekedar numpang makan, Heni tetep pekewoh . Rayi sudah banyak memberi kepada Heni. Bagi gadis yatim piatu itu, meminta sesuap nasi di pagi hari agaknya berlebihan, dan merepotkan sahabatnya.
"Memangnya, kita mau nari apa, Yu ? Kan kemarin itu aku ndak ikut. Masa aku ndak latihan dulu,"
"Halah, ndak perlu bingung-bingung latihan. Lha wong cuma nari ronggeng ,"
Hiruk pikuk suara tabuhan gendang yang dipadukan dengan petikan rebab menyamarkan degup jantung sang Gadis lugu. Beberapa kali Heni melirik ke sekelilingnya dengan was-was. Tubuh sekalnya kini terbalutkan kain batik berwarna jambon yang dililitkan sebagai atasan sebatas dada, juga kain batik berwarna coklat yang dililitkan sebagai bawahan sebatas dengkul. Di pinggul lebarnya juga terikat sampur jambon dengan ujungnya berhias puluhan payet berbentuk daun keemasan yang jika digoyangkan akan bersuara gemerincing.
Maksud hati mencari uang lantaran kepepet lapar, tapi sang Gadis malah sampai ke pelataran rumah termewah di kampungnya yang memiliki aksen kuat 'rumah bikinan londo' .
Gadis itu tahu persis rumah siapa yang dijadikan tuan rumah pesta malam itu.
Siapa lagi kalau bukan sinyo bernama Mardi.
Pestanya meriah. Tapi entah mengapa, menginjakkan kaki barang sedetik pun membuat Heni ingin berlari pergi menjauh. Pasalnya, tamu pesta tersebut semuanya laki-laki, dan masing-masing membawa botol bir entah baru setengah, atau baru membuka botol lagi setelah botol sebelumnya ludes. Bau alkohol menyengat di indera penciuman sang gadis.
Kalau ada Rayi disini, bisa dipastikan pesta itu diobrak-abrik sampai tak bersisa di sana sini. Kalau ada Jenar disitu, bisa dipastikan Heni diseret keluar dari peradaban nir-etik pemuda-pemuda desa itu. Tapi tak ada Rayi, atau bahkan Jenar disini. Hanya satu gadis manis nan lugu, yang kalau menolak saja malu-malu.
Gadis perawan itu sekali lagi mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Perasaan tidak nyaman dan tidak aman tertangkap di hati Heni saat matanya bersibobrok dengan si Sinyo Tuan Rumah.
Sinyo tersebut nampaknya menatap Heni dengan tajam di bawah sinaran sang rembulan. Pun saat Heni meneguk ludahnya ketakutan, sang Gadis dapat menangkap Sinyo itu menjulurkan lidahnya, lalu membasahi setiap jengkal bibirnya layaknya singa kelaparan yang tengah mengintai mangsanya. Belum purna memandangi mangsanya, Sinyo itu meneguk botol minuman air keras dengan kasar. Lalu setelah habis, ia menyeka air keras yang mengalir turun di ujung janggutnya.
Nggak nyaman, Heni merasa bahwa ia dalam bahaya!
Butuh waktu sedetik gadis itu memutuskan untuk bersiap meninggalkan pesta. Namun sayang, geretan di tangannya membuatnya gagal melarikan diri. " Yu Heni, ayo to ! Sampeyan itu dipanggil-panggil ndak denger. Ayo, sudah waktunya kita nari!"
Si gadis manis berusaha melepaskan genggaman temannya yang menyeretnya ke tengah pelataran rumah Mardi, ke tengah pusat perhatian, ke tengah lantai tari. Pun saat tangan sang teman penari melepaskan genggaman, dendang gendang dan petikan rebab seakan memenjara Heni. Lantunan yang membuat teman-temannya berada di posisi tari, memaksa Heni untuk juga ikut ambil posisi.
Gadis manis itu meneguk ludahnya keras-keras. Wes, pokoknya, malam ini Heni nari cepet-cepet, terus mulih cepet-cepet. Yang penting, sudah ada 100 gulden yang dijanjikan usai menari nanti. Si gadis manis kemudian mundak mendak, dan njimpit sampurnya, sembari menunggu jatuhnya tembang penanda awal tarinya.
100 gulden dapat membuat Heni hidup hingga 4 purnama kedepan. 100 gulden dapat menambal genteng bocor rumah peninggalan Bapak. 100 gulden dapat mengganti uang Rayi yang selama ini Heni pinjam. Hanya seberapa besar kekuatan uang 100 gulden memenuhi pikiran Heni. Memaksa sang gadis untuk tetap tahan dan menari di tengah kerumunan yang tak henti menyerukan godaan nir-etik.
Tenggorokan Heni terasa kering. Siulan dan lecehan yang menggaung dari arah kerumunan penonton melantun bersama alunan musik gendang dan rebab.
'Walah, walah, Yu… ayu ne to mesam-mesem'
'Delokno galo, megal-megol pantate!'
'Kene, nyedak rene! ben Mas iso iruh seko cedak!'
Mual menerjang dada Heni. Semua godaan serta siulan senonoh yang terdengar mendesak air mata sang gadis untuk mengumpul di pelupuk matanya. Sembari melenggok dan memutar sesuai alunan musik, Heni menggigit bibirnya kuat-kuat agar tak ada satu pun rengek tangis yang keluar.
Demi 100 gulden. Demi bisa makan. Demi bisa memperbaiki genteng bocor rumah Bapak. Demi membayar hutang kepada Rayi. Demi 100 gulden.
Pun usai satu putaran, Heni dikejutkan dengan salah satu teman penari di kirinya tiba-tiba didekati oleh seorang dari kerumunan. Pria yang mendekati temannya itu tampak mabuk. Jalannya yang sedikit miring sempoyongan membuat Heni was-was. Pun makin was-was saat pria itu sampai tepat di depan teman kiri Heni, menyeringai lebar, dan membuka kedua tangannya lebar-lebar sebagai tanda mengajak menari bersama. Meski bingung— dan takut , tangan dan badan Heni tetap menari.
Lirikan mata si Manis tak lepas dari teman sisi kirinya yang tengah dipepet oleh seorang pria. Harusnya gendang dan rebab di belakang sana berhenti saat ada orang asing memasuki panggung mereka. Harusnya semua penari berhenti saat ada orang asing mengganggu tarian mereka. Harusnya.
Namun suara cekikikan si Penari yang dipepet, juga tabuhan gendang yang semakin bersemangat, membuat Heni membelalakkan matanya.
Pun hal yang selanjutnya terjadi lah yang membuat penari lugu itu semakin keheranan. Dua pria lain yang Heni yakini sama mabuk nya ikut naik ke atas undakan pelataran yang mereka pakai seolah panggung, lalu mendekat kepada dua teman penari di belakang Heni.
Teman di kanan Heni juga seakan tak mau kalah usai melihat hampir semua temannya— selain Heni dan dia, sudah memiliki pasangan untuk menari bersama. Teman kanan itu melepas ikatan sampur nya dan berjalan menuju salah satu pria yang berdiri di ujung pelataran tari, lalu menyampirkan sampur itu di leher sang pria, sebelum menariknya masuk ke panggung tari mereka.
Heni bingung. Lagi-lagi sorakan kerumunan menjadi semakin ricuh. Tak disangka teman-teman Heni melenggokkan pinggulnya ke sana dan sini, menggoda pria yang mencoba merengkuh mereka di atas panggung. Mereka dengan sengaja menempelkan tubuh elok mereka ke tangan dan badan pria-pria mabuk di atas panggung. Mereka dengan sengaja menggoyangkan tubuh elok mereka di atas pasangan nari mereka.
Seolah gagal bekerja, otak Heni diam. Tak ada pesan untuk sang gadis berhenti menari, tak ada juga pesan untuk melarikan diri. Heni ndomblong melihat teman-temannya.
Hal lain yang membuat otak lugu itu purna bekerja, adalah pemandangan pria-pria di dekat temannya yang saling mengeluarkan lembar uang gulden , dan memainkannya di depan wajah teman penari Heni! Seolah memancing para penari dengan uang gulden yang dikeluarkan secara cuma-cuma. Memancing para penari untuk menari lebih senonoh di atas mereka!
Ini udah nggak bener! Gadis manis itu dengan segera menyadarkan dirinya.
Heni dengan segera menegakkan dirinya dari posisi mendak , lalu bersiap meninggalkan pelataran tari. Tapi sayang, cekalan tangan kuat menghentikan langkah sang gadis. "Mau kemana, Cantiik?" Heni rasanya ingin menangis usai mendengar lantunan tanya beraksen kental khas londo yang terdengar menjijikkan di telinganya. "Temenin Mas menari dulu,"
Bau alkohol yang sangat kuat menyengat hidung Heni hingga membuat gadis itu limbung, nyaris jatuh. Kalau saja tangan Sinyo yang sedang mabuk itu tidak merengkuh pinggulnya dari belakang.
"Lepas!" bentak Heni seraya memberontak dari pelukan erat Mardi.
Tenaga terkuat gadis lugu itu nyatanya tidak mampu menggerakkan Mardi barang sesenti pun. Malahan, pria keturunan setengah londo itu semakin menempelkan dirinya kepada belakang Heni, " Hush, hush , ndak perlu teriak-teriak gitu, Cantik. Nari aja sini sama, Mas,"
Cengkraman kuat tangan Mardi pada pinggul Heni membuat pantat sang gadis mau tak mau mengikuti arah maunya Mardi. Pantat montok itu secara tanpa setuju bergerak melenggak-lenggok di tubuh Mardi— selangkangan Mardi lebih tepatnya.
Tidak nyaman, tidak aman!
Heni terisak usai merasakan benjolan keras yang menempel pada pantatnya.
"Lepas! Lepas! Tolong!" Raungan malang sang gadis mengudara. Namun, tidak ada satu orang pun yang membantunya. Malahan teriakan dan sorakan para lelaki amoral di pelataran rumah Mardi semakin ricuh, mengelukan birahi masing-masing, juga meredam teriakan gadis menangis.
Kekehan menjijikan Mardi terdengar di telinga Heni. Lalu—
Srettt!
Susu mengkal Heni melonjak naik turun usai terekspos akibat kain batik jambon atasannya ditarik turun oleh makhluk bejat di belakangnya. Raungan nanar Heni semakin terdengar menyayat hati. Namun, alih mengundang iba, malah semakin mengundang birahi bajingan-bajingan liar disana!
Siulan dan sorakan makhluk najis itu menyayat hati Heni lebih dalam. Cucuran air mata Heni tak terelakan lagi.
Tangan kurang ajar Sinyo itu meremas kedua bongkah susu Heni dari belakang. Dan layaknya anjing jantan birahi , Mardi menggesekkan kacuk nya dengan cepat dan menuntut di pantat Heni yang bahkan masih tertutup kain jarik coklat. Tangis Heni semakin menyalang histeris. Gadis itu takut. Pun badan ciliknya yang tidak seberapa besar dari badan Mardi tak mampu menyangga kedua orang itu ambruk .
Heni dengan menyedihkan jatuh ke pelataran tanah, dengan Mardi di belakangnya yang masih mencoba mengawininya bak anjing kesetanan . Gadis perawan yang tengah dicabuli itu menangis sejadinya.
Pikirannya melayang ke Bapaknya yang jika beliau masih hidup, beliau akan membunuh bajingan bejat di belakangnya.
Pikirannya melayang ke sahabatnya— Rayi yang jika dia menemani Heni disini, dia tidak akan takut-takut menggorokkan pisau dapur ke leher anjing setan di belakangnya.
Pikirannya juga melayang ke sahabatnya yang satu lagi— Jenar.
Jenar…
"Besok lagi tuh bilang kalau dinakalin orang, jangan kamu simpen sendiri," Di tengah isak tangisnya, pesan Jenar kala terakhir mereka bertemu kembali mengudara di pikiran Heni.
"Kalau bisa juga yang berani. Tapuki orangnya, dorong sampe kejungkel. Ndak usah takut dia siapa,"
Heni merasakan sakit di tubuhnya. Mardi yang terus-terusan meremas susunya, juga menggesekkan kacuk di pantatnya membuat tubuh gadis itu makin nyeri.
"Rela aku, kamu jahatin mereka, yang penting kamu ndak digodain lagi,"
Berpegang pada pesan dari sang sahabat, penari yang tengah dicabuli itu berpikir keras akan apa dan bagaimana yang akan dilakukan Jenar kalau gadis itu di posisinya. Kalau Jenar di posisi ini, pasti Jenar akan memukul Mardi kuat-kuat hingga membuat si bajingan pingsan!
Dengan inspirasi itu, dan dengan sekuat tenaga, Heni menyikut kepala Mardi kencang-kencang. Membuat pria mabuk itu teler dan lemas. Ia yang merasa ada secercah pintu keluar dari situasi traumatis itu bangkit berdiri dan langsung berlari kencang meninggalkan pelataran rumah Mardi.
Pikirannya yang perlahan kembali normal dengan cepat menuntunnya ke rumah sahabatnya, satu-satunya yang ia punya tersisa di desa, Rayi.
Gedoran kuat di pintu rumah Rayi memecah kesunyian malam itu. Heni dengan histeris menggedor pintu kayu tempat tinggal sahabatnya.
"Rayi, Rayi, tulung !" Raungan tangis Heni ikutan mendesak si penghuni untuk bangun dari tidur. Untuk segera membukakan pintu untuknya.
Dokk… dokk… dokk…
"Rayi, Rayi—,"
Dokk… dokk… dokk…
Gedoran dan panggilan Heni terhenti saat sahabatnya yang terlihat berantakan akibat barusan bangun tidur membuka pintu rumahnya. Rayi terlihat setengah mengantuk. Matanya pun masih separuh memejam. Mukanya belum seutuhnya hidup .
Sepersekon Rayi melihat siapa tamu yang menggedor pintu rumahnya, sepersekon kemudian matanya terbelalak lebar. "Heni?!" Ibu satu anak yang menyaksikan temannya setengah telanjang menangis dengan riasan luntur itu segera memeluk tubuh Heni erat-erat. " Ya Gusti Nung Agung… Kamu kenapa Heni?!"
Heni memeluk tubuhnya dengan erat. Tangisnya masih belum juga purna. Tubuh lemahnya didudukkan oleh Rayi di kursi di dalam rumah.
"Siapa, Nduk ?" tanya Jamal yang keluar dari kamar dengan membawa bayi di tangannya. Mungkin karena ribut yang baru saja terjadi, bayi malang anak pertama Jamal dan Rayi itu ikut terbangun. Pun saat sang Suami mendapati Heni yang setengah telanjang duduk di ruang tamunya, Jamal tidak perlu menunggu jawaban sang istri. Ia cepat-cepat memutar tubuhnya agar tidak melihat sahabat istrinya itu.
"Heni, Mas. Aku juga ndak tau kenapa. Dia belum cerita," Jelas Rayi sembari masuk ke kamar tidur pasangan suami istri itu, lalu membuka lemari pakaian disana. Sejujurnya, Jamal ikut penasaran dengan kondisi Heni sekarang ini. Tapi mengingat penampilan Heni yang seperti itu , juga menurut Jamal akan kurang ajar jika dia mengintip sahabat istrinya sendiri, Jamal tahan-tahan rasa penasarannya. "Selimut yang baru dimana, Mas?"
"Kananmu. Tadi siang habis kamu gosok , Mas masukkan situ," ujar Jamal. Rayi yang mendengar segera membuka lemari di sebelah kanannya dan mengambil selimut hasil jahitannya sendiri. "Makasih ya, Mas," ujar Rayi.
Sebelum ibu muda itu melewati suaminya, ia mengusap kepala sang Suami. "Pinternya, sekarang udah bisa bantu istrinya beres-beres rumah," Puji Rayi dengan jenaka.
Lesung pipit Jamal langsung merekah usai mendengar pujian itu. Timangan bayinya juga semakin kuat seolah menunjukkan kepada sang istri kalau dia sekarang juga pintar nimang bayi, dan Rayi wajib memuji. Tawa Rayi menggelegar, "Suamiku pinter, sudah bisa bantu istrinya," puji Rayi. Ibu beranak itu mengecup bibir suaminya, lalu mengecup dahi anaknya.
Istri Jamal yang telah memuaskan hati suaminya dengan lantunan pujian itu buru-buru melenggang menuju sang teman yang masih mematung dan memeluk tubuhnya sendiri di kursi. Jamal kemudian memberikan waktu beberapa saat agar istrinya usai menutupi sahabatnya dengan selimut yang ia bawa.
"Sudah, kamu ndak papa, Hen. Kamu aman disini," Setelah mendengar istrinya mulai berbicara untuk menenangkan Heni, barulah Jamal membalikkan tubuhnya.
Heni tampak sangat mengenaskan. Tubuhnya seolah menciut kecil di balutan selimut jahitan Rayi. Wajah lesu, juga berantakan akibat gincu yang meleber sampai ke segala sisi pipi, serta bekas tetesan air mata yang menyapu dempul di pipinya menunjukkan bahwa gadis itu habis menangis histeris. Entah kenapa—
"A-aku hampir diperkosa, Ray," lirih Heni yang membuat baik Rayi dan Jamal membelalakkan mata mereka. " Apa?! Sama siapa?!"
Bentakan Rayi yang tiba-tiba itu membuat baik Juwita dan Heni kembali menangis kejar. " Nduk , jangan teriak-teriak. Sudah malam," ujar Jamal memperingati. Tangan sang suami kembali menimang bayinya yang kembali menangis gara-gara ulah ibunya sendiri.
Heni menangis sejadinya. Ingatannya akan kejadian barusan kembali memenuhi rongga pikirannya. Rayi yang iba, juga menanti jawab, segera memeluk tubuh sang sahabat. "A-aku hampir diperkosa—," isaknya lagi-lagi.
"Hen," isak tangis Heni memancing Ibu satu anak itu untuk ikut menangis.
Nasib malang sang sahabat yang habis ditinggal pergi Bapaknya, dan sekarang ini hampir diperkosa membuat Rayi ikut menangis.
Heni, heni… malangnya to hidup kamu .
Rayi dalam tangisnya mengusap punggung Heni dengan perlahan. Malam itu Rayi putuskan untuk menangis bersama sang sahabat.
"—sama Mardi,"
" BAJINGAN TENGIK !!!" Seru Rayi sambil bangkit berdiri.
Jelas seruan itu mengejutkan semua orang di rumah Jamal dan Rayi. "Tak pateni tenan ya kowe, Mardi! Bajingan !" Sumpah Rayi dengan berapi-api.
Jamal kepanikan mendengar sumpahan serapah istrinya. Ditambah raungan tangis Juwita yang membuat rumah itu semakin ricuh .
" Nduk , diem dulu. Biar Heni cerita dulu lengkape gimana,"
Heni yang terkejut dengan ajakan komunikasi dari Jamal yang tiba-tiba terjadi— setelah hampir dua tahun agaknya saling menjaga jarak, diam tak menyapa, dan bahkan seolah menyusun tembok menjulang tinggi diantara keduanya (mungkin demi menjaga hati Rayi, juga hati bersama), melongo bingung.
" Piye to , Mas! Lha itu lengkape !" Gerutu Rayi yang tidak sabaran dengan suaminya. Tidak cepat tanggap di saat yang tepat!
" Nduk , nurut sama Mas, diem dulu," Ujar Jamal menenangkan Rayi.
"T-tadi aku diajakin nari sama temenku. Katanya ada pesta. Bayarannya besar," jelas Heni dengan perlahan, "Aku iyain. Soalnya aku kira cuma nari tok . Tapi ternyata disawer . Terus— terus aku udah nolak. T-tapi—," Heni kembali terisak. Jelas Heni kembali menangis, otak lugunya dituntut untuk mereka kejadian traumatis barusan!
"S-sakit, Ray," isak Heni. Rayi yang lagi-lagi iba dengan sahabatnya, kembali duduk dan memeluk tubuh gemetaran milik Heni. "A-aku udah nolak, tapi di-dipaksa," tangis Heni memuncak. Sepasang suami-istri itu terdiam, membiarkan Heni bercerita, juga meluapkan rasa sedihnya.
"A-aku terus nyikut kepalane Mardi. Terus dia pingsan. Terus aku lari kesini,"
Mata Jamal terbelalak mendengarnya. Wajah suami itu memucat. Berbeda dengan wajah sang istri yang layaknya bersorak girang, "Bagus! Mbok tendang kacuknya juga ndak ?" Antusiasme Rayi memenuhi ruang tamunya.
" Mbok apake, si Mardi?" tanya Jamal dengan berhati-hati, mengabaikan seruan pujian istrinya kepada sang sahabat yang mulai berani membela diri. Wajah serius Jamal yang terhias dengan rasa takut itu menatap Heni, menunggui jawaban atas pertanyaan retoris yang terucap. "Si-sikut,"
"Pingsan?" Tanya Jamal lagi.
"Pingsan,"
"Ambil mas-masan mu, uang kita semua, sama baju sing akeh sekalian. Kita pergi sekarang, Nduk ,"
Perintah Jamal yang secara tiba-tiba itu membuat Heni dan Rayi kompak melongo bingung. "Cepetan!" Sentak Jamal. Suami Rayi itu segera masuk ke kamar bayi Juwita dan mengepak barang kebutuhan bayinya. "Kenapa sih, Mas? Ndak tiba-tiba gini dong, kan aku jadi bingung,"
" Nurut , Nduk, sama Mas. Mas cuma mau ngelindungi keluarga kita. Nurut , buruan ambil semua yang Mas suruh tadi!" Perintah Jamal, "Kamu, Heni, nek mau ganti baju, ndang ganti baju pakai punyanya Rayi. Bawa bajunya Rayi aja. Jangan pulang rumahmu!"
Kedua sahabat itu saling bertukar pandang, lalu bergegas masuk ke kamar suami-istri itu. Rayi membungkus semua mas-masan dan uang yang keluarga itu miliki. Sedang Heni mengganti pakaian dengan baju Rayi, lalu membantu mengepak baju Rayi dan Jamal.
"Mas, masih sejauh apa lagi?" Tanya Rayi.
Di gendongan Ibu satu anak itu hanya ada Juwita, bayi Jamal dan Rayi, yang kini kembali tidur karena hangat balutan kain tebal. Sedang di punggung dan tangan Jamal dan Heni ada banyak bawaan yang Rayi sendiri tidak tahu untuk apa membawa itu semua keluar rumah, malam-malam pula. Sudah malam, sudah ngantuk, sudah lelah. Tapi suami yang memimpin jalan ketiga orang itu tak henti-hentinya melangkah.
"Sebenernya kita mau kemana sih, Mas? Akunya jangan dicuekin ih ," decak Rayi yang kesal lantaran tak juga mendapat perhatian dari sang suami.
"Ke rumah temen Mas, di desa sebelah," ujar Jamal. Tangan Jamal sibuk menyibakkan dedaunan ringkut hutan pembatas desa mereka dengan desa sebelah, serta beberapa kali membantu Rayi dan Heni melompati akar-akar pohon tinggi yang menjuntai di bawah kaki.
"Ya siapa? Terus juga ngapain loh ya malem-malem gini," gerutu Rayi. Ibu anak satu itu mencincing jariknya guna melompati bebatuan di depannya, menyusul Jamal yang sudah lebih dulu menyebrang batu itu.
"Jono," jawab Jamal singkat. Ia menoleh ke arah Rayi lalu membantu sang istri turun dari batu. " Ohhh , Mas Jono…" setidaknya satu pertanyaan Rayi sudah terjawab. Istri yang sudah menuruni batu itu ganti menoleh ke arah Heni yang gantian menaiki batu. Tangan Rayi menjulur guna membantu Heni turun.
"Tapi kenapa harus kesana? Terus kenapa harus malem-malem?" Pertanyaan itu yang membuat Rayi penasaran bukan main.
"Tadi Heni bikin Mardi pingsan to ?" Tanya Jamal sembari memperhatikan jalan yang mereka pilih. Agar jangan sampai jalan yang nanti istrinya pijak terlalu licin dan membahayakannya juga anaknya. "Loh ya kan memang pantes Mardi dibikin pingsan!" Seru Rayi.
"Iya, tapi lanjutnya bisa bikin bahaya," Jelas Jamal dengan perlahan. " Nduk , Mas dulu juga dekat dengan Mardi dan teman-temannya. Mas juga tahu sifat Mardi dan teman-temannya. Mas tahu, siapa aja orang yang berani nolak maunya Mardi, bakalan dihabisi! Kalau kita tetap disana, melindungi Heni disana. Kita juga kena,"
Heni yang juga mendengar ucapan Jamal cepat-cepat menundukkan kepalanya. Apa mungkin seharusnya Heni tadi diam saja? Menerima saja? Pasrah saja? Daripada ia harus membawa bahaya ke keluarga temannya. Mungkin memang ini semua salah Heni.
"Aku ndak bilang ini salah Heni," Ujaran Jamal itu menyentakkan lamunan si gadis lugu. "Cuma, buat bebas dari komplotan Mardi memang susah. Dan harus perhitungan, ndak bisa gegabah kayak Heni tadi. Dulu aku juga susah keluarnya. Digebugi sek, lagi dientukke metu, Nduk ,"
"Tapi yo ndak masalah. Mas lakuke itu semua buat lindungi kamu, buat lindungi pernikahan kita. Mas yo ndak mau to kalau harus mbagi kamu sama Mardi, sama orang lain," Ucapan Jamal itu lagi-lagi membuat Heni tersentak. Pun kejut yang datang dari tubuh sahabatnya kurang lebih menggambarkan bahwa hal itu juga baru kali pertama ini di dengar Rayi. "Mas? Maksudnya apa?" Tanya Rayi.
Pertanyaan sang istri mau tak mau menghentikan langkah sang suami. Jamal mengambil nafas dalam-dalam dulu sebelum mengungkapkan rahasia yang ia simpan rapat-rapat setahun penuh. "Mas dulu disuruh bawa kamu ke rumah Mardi sebelum kita menikah. Katanya buat dicobain dulu sama Mardi. Mas ndak mau," Kilat marah terlihat di netra Suami Rayi, mungkin akibat bernostalgia dengan memori buruknya, "Kamu punya Mas, dan Mas punya kamu. Dari awal memang ndak seharusnya Mas gabung komplotan itu. Mas jadi ketularan bejatnya mereka,"
Diamnya Rayi adalah sesuatu yang paling ditakuti oleh Jamal. Pun sekarang istrinya diam, memeluk anak bayi mereka erat-erat.
Heni disisi lain yang ikut menyaksikan runyamnya rahasia keluarga berumur jagung milik Rayi dan Jamal jadi ikut was-was. "Mas cinta sama kamu, Nduk . Kalau kamu satu-satunya perempuan yang bisa pegang Mas, Mas juga mau jadi satu-satunya laki-laki yang bisa pegang kamu,"
"I-itu kenapa Mas babak bundhas waktu kita siraman?" Pertanyaan lirih yang terucap dari rapuhnya mulut Rayi ikut menyayat hati Heni.
Heni ingat betul kejadian setahun lalu dimana Rayi mencak-mencak usai melihat calon suaminya babak belur saat acara siraman yang jelas-jelas mengharuskan mempelai pria bertelanjang dada. Tubuh Jamal dari wajah sampai pinggang dipenuhi dengan warna biru lebam. Saat itu Jamal mengaku kalau dia dituduh mencuri ayam di desa seberang. Tapi sekarang semuanya jadi terjelaskan.
"Iya," aku Jamal, "dan Mas ndak mau itu keulang di Heni— sama keluarga kita lagi,"
Setetes air mata turun dari mata Rayi yang buru-buru diusap oleh Jamal. "Sekarang ndak papa. Mas ndak papa," Jamal merengkuh istri dan bayinya dengan perlahan, "Sudah, ndak papa. Sekarang ada temen kamu yang perlu kita lindungi to ?" Rayi mengangguk dalam tangisnya.
"Komplotan itu memang bejat, Nduk . Mas njaluk ngapura . Mas keikut bejatnya mereka. Tapi Mas janji, buat kamu, dan buat bayi kita, Mas akan perbaiki diri," Ucap Jamal sekali lagi menenangkan sang istri.
Pikiran Heni jadi campur aduk. Banyaknya kejadian di malam itu membuat sang gadis lugu menjadi pusing. Pun ucapan lanjutan Jamal membuat Heni tertegun, "Aku yo njaluk ngapura yo , Hen,"
Heni yang tahu persis maksud ucapan Jamal mengangguk. Mungkin, Kang Mas nya Jenar tidak akan seburuk itu kalau tidak berteman dengan orang yang salah.
"Jon! Jon!"
Subuh itu keempat orang yang barusan melarikan diri dari desa asal mereka sampai di rumah yang Jamal dan Rayi kenal sebagai rumah Jono. Karena sang teman belum juga keluar dari tempat tinggalnya, Jamal kembali mengetuk pintu, "Jon? Jono!"
"Iyooo, kosik!"
Jamal yang sudah yakin temannya sedang berjalan menuju pintu segera menghentikan ketukan pintunya. Sekilas ia memandang sang istri yang menimang bayinya. "Capek, Nduk ? Mau gantian Mas bawa bayinya?"
Rayi tersenyum tipis mendengar tawaran sang suami. Pun ia menggeleng. Bagaimana pun juga, Jamal lebih lelah dibanding semua orang disini. Dan kalau dipikir-pikir kembali, semuanya memang lelah. Lelah badan dan lelah batin.
Alih memberikan bayi mereka kepada Jamal, dan menambah beban lelah kepada suaminya, Rayi memilih untuk menyandarkan tubuh lelahnya pada bahu sang Suami. Jamal yang memahami kelelahan Istrinya, merangkul tubuh mungil itu, lalu mengusapnya dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki.
" Nopo ?— Loh , Jamal?" Pria berbadan tinggi pemilik rumah itu melongok keluar rumah usai mengetahui siapa tamunya yang pagi-pagi subuh mengetuk rumahnya. "Jon," sapa Jamal dengan tersenyum.
" Ndhelik ning omahmu dilit, entuk ora? "
"Jono ini temen
ngendangku
dulu, Hen," ujar Jamal mengenalkan Heni kepada temannya. Heni adalah satu-satunya orang yang belum berkenalan dengan Jono. Jamal, Jono, dan juga Heni sekarang tengah duduk bersama di ruang tamu pemuda desa sebelah. Sedang Rayi, tengah sibuk menyusui anaknya di kamar tamu rumah Jono. "
De'e kenalanku sing paling jago ngendang
,"
" Lho too , mulai. Ojo merendah ngono to , Mal, Mal," Jenaka yang tergores di wajah Jono mengundang senyum di bibir Heni. "Loh memang tenan ," Jamal mengambil kopi hitam di meja tamu lalu menyesapnya, "Aku malah yang diajari, Hen sama dia,"
Heni yang tak tahu mau menimpali apa untuk ikut bergabung dengan pembicaraan itu hanya mampu mengangguk-angguk. "Kowe ronggeng, yo?" Tanya Jono yang ikut mengambil gelas kopi jatahnya kepada Heni. "Eh, eum— leres, Mas,"
"Aku sudah pernah diceritakan Rayi kalau ada ronggeng handal dari desanya, Heni namanya. Tapi kita jarang yo , ketemu. Padahal sanggar tari desa kita kan sering main bareng tahun lalu," Pria berumur sepantaran Jamal itu meletakkan kopinya kembali di atas meja. "A-aku yang jarang ikut acara di luar desa, Mas," jelas Heni. Mendengar pujian terselubung dari ujaran Jono membuat wajahnya merona. Pun Jono mengangguk paham dengan ucapan gadis itu.
" Terus awakmu nopo mrene, Mal? Arep ono pagelaran meneh, po? " Pagelaran, sebuah pagelaran tari yang dulunya sempat menjadi kegiatan tahunan dua desa. Pagelaran yang membuat Jono dan Jamal saling mengenal. Pagelaran yang membuat dua pengendang itu akrab. Jamal menggeleng.
"Kalau boleh, kami mau numpang nginep di rumahmu, Jon. Sampai situasinya tenang,"
Ucapan Jamal itu membuat dahi Jono mengerut bingung.
"Sini, biar aku yang masakkan, Mas," Usul Heni sembari mengambil alih tumpukan sayur bayam yang ada di tangan Jono.
Terhitung sudah 2 minggu Heni, Rayi, Juwita, dan Jamal hidup berdampingan dengan Jono. Terhitung 2 minggu pula Heni dan Jono saling mengenal.
Pria yang baru saja kembali dari ladangnya membawa beberapa sayur mayur, cabai, juga kacang kedelai mengangguk patuh. Pun saat Heni mencoba mengambil alih seluruh bawaan Jono, pria itu menolak, "Jatuh nanti, tangan kecilmu itu ndak akan muat,"
"Huh!" Kesal Heni sembari melenggang masuk ke dapur Jono. Kekehan Jono di belakang sana semakin membuat gadis perawan itu mencak-mencak.
Baru 2 minggu saling mengenal, nyatanya bukan menjadi tolak ukur kedekatan mereka. Jono yang sedari awal memiliki watak usil, dan jenaka, menjadi cepat akrab dengan Heni yang memiliki watak pemarah, dan kekanakan! Kombinasi pas untuk membuat dua sejoli cepat dekat.
" Ojo mbok usili wae , nangis nanti," Tegur Jamal sambil terkekeh. Jujur, melihat kedekatan Jono dan Heni membuat pria beristri itu bernostalgia akan hubungannya dengan sang adik, Jenar. Saling adu kalau bertemu, tapi saling rindu kalau jauh. " Ben nangis, ngko kan raine dadi tambah nyempluk ,"
" Heh! Aku denger ya!" Seru Heni yang tidak terima dengan ejekan Jono dari dapur.
Kekehan kedua pria itu menggelegar di seisi rumah, menertawakan gerutuan Heni. Jamal berani bersumpah. Jono dan Heni itu persis seperti saudara kandung yang baru bertemu saat besar!
"Sudah pulang, Mas?" Tanya Rayi yang baru saja keluar dari kamar. Melihat setampah berisi ayam sembelihan dan telur di tangan Jamal, istri itu segera mengambil alih, "Hari ini sembelih ayam lagi?"
Tanpa mendapat jawaban, Rayi pun sepertinya tahu apa yang akan diucapkan Jono. "Kok lagi sih? Terakhir kan 3 hari lalu,"
Rayi tersenyum tipis. "Mas, ndak perlu repot-repot cuma karena kami disini. Ini kan ayamnya Mas, masa kami ikut habisin,"
"Aku ndak repot-repot, Yi. Toh tadi itu ayamnya kejepit pintu. Aku mesakno jalannya pincang. Yo wis , sekalian disembelih wae ,"
Sejenak ibu satu anak itu menatap ayam di tampah dengan penuh selidik, lalu menatap suaminya untuk meminta saksi. Anggukan kepala Jamal membuat Rayi sedikit tenang.
Jono itu kelewat baik bagi Rayi. Selain menyediakan tempat berlindung, semua orang disana diajak untuk bekerja di ladang dan kandang milik Jono. Tak hanya itu, jamuan bahan makan yang disediakan tidak main-main. Setiap hari Jono dan Jamal membawa pulang ayam atau ikan untuk dimakan bersama. Rayi jadi pekewoh — sungkan sendiri. Merasa kalau dirinya membebani teman sang Suami. Itu mengapa kedua perempuan di rumah itu berusaha sekuat tenaga untuk membuat kondisi rumah yang cemepak, dan makanan nikmat untuk dihidangkan kepada si Tuan Rumah.
"Ya sudah, Mas Jono mau dimasakin apa? Kita ikut Mas Jono mau makan apa,"
Pria lajang itu tampak berpikir keras, lalu setelah tahu apa yang dia mau, "Rica ayam buatannya Heni aja. Dari kemarin aku kepikiran itu terus,"
" Ohh! Ngidam kali! Hamil po?! " Celetukan sinis Heni yang juga mendengar dari dalam dapur membuat Jono terkekeh. " Hush , ngawur ya kamu!" Balas Jono sambil berjalan mendekati dapur, mengantarkan bahan makanan yang masih tersisa di tangannya kepada Heni.
"Mal, besok pagi aku mau ke kawedanan.
Nek kowe tak tinggal ning omahku, ra popo to
?"
Ucapan Jono di tengah-tengah acara makan bersama mereka sontak membuat seluruh orang menoleh ke arah sang empunya rumah. " Arep ngopo ning kawedanan ?" tanya Jamal penasaran.
" Golek duit ,"
Pengakuan singkat Jono sontak membuat Rayi membelalakkan mata, "Mas uangnya habis? Gara-gara kita disini ya?"
Jono segera terkekeh mendengar lugunya istri Jamal. "Emang bener yo katamu itu dulu, Mal. Istrimu emang paling cerewet kalau ngomongin uang,"
" Endak , Yi. Uang ku masih ada, kae lho isih akeh rajakaya ku ning kandang ," Ucap Joni menenangkan, "Kerjaanku memang ngendang di Kawedanan setiap satu purnama sekali. Maksudku golek duit , ya memang karena golek duit ku gini ini caranya. Bukan karena kepepet ada kalian,"
"Aku ke Kawedanan ndak ada seminggu, kok. Paling mung golek konco sing iso nari , terus tampil ning acara padang bulan , terus mulih ," Jelas Jono, "Aku malah untung ada kalian disini, jadi aku ndak perlu keluar uang buat manggil orang ngurus ladang sama kandang pas aku lungo ,"
Rayi mengangguk-angguk mendengarnya. Ya… kalau si pemilik rumah sudah berpesan, para tamu harus mematuhi, kan?
" Mmm — Mas," Ucap Heni malu-malu. Pun dijawab dehaman oleh Jono yang sedang menyuap makanannya ke mulut, rica ayam dan sayur bayem masakan Heni. "Aku boleh ikut? Biar Mas ndak perlu repot-repot nyari ronggeng,"
"Jangan suka mblandang dewe. Jangan suka ndomblong dewe. Ikutin terus Mas Jono. Aku ndak mau ya kamu ilang di kawedanan!"
Pesan Rayi yang terngiang di kepala Heni membuat gadis itu tersenyum geli. Sekali menjadi bayi di mata Rayi, akan selamanya tetap menjadi bayi.
Heni itu sudah dewasa. Yaa… meskipun di beberapa sisi dia masih kelewat lugu untuk menghadapi kerasnya dunia. Setidaknya sekarang Heni sudah cukup tahu, dan cukup belajar dari kesalahannya di masa lalu. Heni sudah cukup paham untuk tidak meninggalkan sisi Jono, bahkan sedetik pun. Kawedanan itu luas, jauh lebih luas dari desanya. Kawedanan itu ramai, jauh lebih ramai dari desanya. Kalau Heni kesasar, dapat dipastikan susah untuk bertemu kembali dengan Jono.
"Habis ini kita cari penginapan yang murah, tapi yo tetep pantes," Ujar Jono. Heni yang mengikuti di belakang mengangguk patuh.
Bagaimana pun juga, ini kali pertama gadis manis itu menginjakkan kakinya di Kawedanan. Hiruk pikuk kota dan banyaknya orang yang berkumpul jelas membuat gadis itu kagum. Terlebih, pasar yang saat ini tengah mereka lewati, sedang ramai-ramainya dipenuhi orang yang sibuk berbelanja ini dan itu. Membuat sang gadis, yang meskipun memang tidak membawa barang berharga— karena semuanya Jono yang bawa, tetap was-was dengan barang bawaannya sendiri.
Tangan Heni memeluk erat-erat satu-satunya barang berharga di dirinya, sampur jambon kesukaannya. Karena dilanda gugup, tangannya mulai nggratil memainkan payet di ujung sampur itu.
Angan gadis manis itu melayang. Oh betapa menakjubkannya hidup gadis itu jika Heni diberi kesempatan untuk menjadi penari Kawedanan.
Hidup di tengah keramaian dan kemajuan kawedanan, menari di pendopo-pendopo kaningratan, bersolek anggun dengan perhiasan keemasan, serta tentu saja dengan perlindungan pantas dari tentara-tentara Kawedanan. Heni rasa, semua impiannya tentang menjadi Penari Kebanggaan Bapak, Penari Kebanggaan Desa , akan dengan mudah terkabul jika semesta telah puas bercanda, lalu memberinya nasib bagus sebagai penebusan dosa.
Brukk…
" Ngapunten, njih ," Ucapan maaf bersuara rendah itu membangunkan lamunan gadis yang barusan terdorong badan orang lain di jalan pasaran. Aduh… lagi-lagi Heni si tukang ndomblong itu bukannya berjalan mengikuti Jono dengan benar, malah terlarut di angannya sendiri. Heni mengaduh, tapi karena tidak mau repot berargumentasi, ia cukup mengangguk.
Pun lagi-lagi Heni terdorong orang lain di sisi lain. Membuat gadis itu mau tak mau menyingkir ke sisi awal. Tapi desakan orang yang sudah memenuhi sisi awal Heni berada, mendorong si gadis untuk kembali menjauh. Begitu terus yang terjadi saat kerumunan orang seketika menyerbu jalan si gadis. Gadis lugu itu akhirnya terpaksa untuk terombang-ambing di lautan orang yang berkumpul di pasar itu. "Aduh, aduh, nuwun sewu, aku mau lewat dulu," Lirih Heni yang mencoba meloloskan diri dari perangkap manusia itu.
Brukk!
"Aw!" Pekik Heni kesakitan. Lagi-lagi tubuhnya terhantam badan orang dengan cukup keras. "Ngapunten, njih, Dek," Suara rendah yang lagi-lagi terdengar itu membuat Heni mendongak. Ia yang tadinya enggan memperhatikan siapa yang menabraknya, kini jadi getol ingin melihat orang mana yang menabrak tubuhnya untuk kedua kalinya.
Pun usai mendongak, pandangan Heni jatuh pada pria berbadan kekar— setidaknya berukuran nyaris 2 kali badannya sendiri, yang memandangnya dari dekat. Jelas dekat, wong mereka kini tengah terhimpit orang di belakang dan depan mereka. Tatapan sejuk milik sang pria membuat Heni terpana. Ketambahan, senyuman manis nan teduh yang meningkatkan kesan hangat pria itu sontak membuat otak si manis gagal beroperasi.
Pria berbadan besar itu tersenyum ke arah Heni selagi merentangkan tangan dan pasang badan agar orang-orang berhenti mendempet mereka, berhenti mendempet gadis mungil itu. "Maaf, njih," ulang pria itu. Heni mengangguk tipis. Tak sanggup bertatapan dengan pria dengan senyuma termanis sejagad raya, tatapan Heni memilih untuk turun ke arah tangannya sendiri. Memperhatikan setiap detail kedekatan mereka. Akibat desakan orang di sekeliling mereka, perut yang berbalutkan dengan beskap berwarna hitam dengan kancing paku emas milik pria itu jadi menempel tangan Heni yang mendekap erat sampur jambon dengan rumbai payet keemasan miliknya. Heni menggigit bibirnya— salah tingkah sendiri.
" Ndak papa to , kamu?" Pertanyaan pria di depannya entah kenapa membuat hangat menjalar di pipi Heni. Gadis lugu itu menggeleng. Memang tidak kenapa badan Heni. Sebab tubuh besar pria itu senantiasa melindungi yang lebih kecil dari gencetan orang di sekitarnya. Membuatnya merasa aman, dan nyaman. Tapi yang kenapa , malahan hati Heni. Sebab rasa hangat yang menguar dari tubuh sang pria agaknya menggetarkan hati sang Gadis.
Sayang, hawa hangat yang menggetarkan hati itu tak dapat Heni nikmati lama-lama lantaran sang pria bergerak menjauh. "Aku duluan yo , maaf sekali lagi," Pamit sang Pria. Pun gadis yang masih belum sepenuhnya sadar dengan sekitarnya, hanya bisa menatap punggung lebar yang perlahan berjalan menjauh.
Deg… deg… deg...
Gadis lugu itu menyentuh dadanya. Degup jantungnya berdetak sangat kuat hingga gadis itu rasa jantungnya mau copot, mungkin— sebentar lagi. Meski pria itu sudah berjalan cukup jauh hingga membuat tubuh besar itu nampak mengecil, hangatnya masih tertinggal dan memeluk Heni erat.
Rasa penasaran mampir di hati sang Gadis. Sebenarnya, siapa pria itu. Dan akankah semesta memperbolehkan mereka kembali bertemu?
Sesuatu dari diri pria itu seolah menarik Heni secara simbolis dan juga harfiah. Simbolis, dimana hati sang gadis tertarik untuk mencari tahu siapa pria tampan dan kekar itu. Harfiah, dimana tubuh sang gadis tertarik untuk berjalan mendekat sang pria. Eh! Sebentar— kenapa tubuh Heni jadi ikut ketarik tubuh pria yang menjauh itu?
Sang gadis lugu menoleh ke arah tarikan dirinya— sampur di tangannya. Gadis itu dapat melihat seutas benang tenun di sampur nya merantas, dan membuat sampur nya makin lama makin terurai. Saat mata Heni menyusur arah untaian benang itu, benang Heni ternyata nyangkut di tubuh pria yang berjalan menjauh!
"Eh, eh, Mas!" Gadis lugu itu berlari mendekati figur kekar yang telah berjalan cukup jauh meninggalkannya.
"Mas!" panggil Heni sekali lagi saat gadis itu sudah sampai di belakang sang pria.
"Mas?" ucapnya ragu sembari menyentuh pundak pria yang tidak menoleh ke arahnya usai dipanggil beberapa kali.
"Mas?"
" Dalem , Dek?" Senyum teduh yang kembali Heni lihat setelah pria yang ia panggil menoleh, lagi-lagi menghentikan kerja otaknya.
Heni berani bersumpah, Tuhan tidak sedang bercanda saat memahat karya ciptaan-Nya di hadapan Heni saat ini. Tuhan benar-benar mengerahkan seluruh waktu dan usaha-Nya saat menciptakan pria tampan nan kekar di hadapannya saat ini. " Sa-sampur— ," kata Heni dengan terbata.
Pun pria di hadapan Heni melirik ke arah tangan sang gadis. Pria itu terkejut setelah melihat untai payet pada sampur jambon yang dibawa gadis manis di depannya itu tersangkut pada benik beskapnya, dan rantas terbawa saat ia berjalan menjauh.
Pria yang jadi terikat dengan gadis perawan itu terkekeh, "Waduh, maaf yo , aku ndak sadar kalau sampur mu ternyata mau ikut aku," Jenaka yang terucap membuat sang gadis yang awalnya takut-takut menjadi tersenyum lebar, lalu terkekeh pelan. Mungkin sampur kesayangannya itu tahu isi hatinya, dan mencoba untuk mewakili si empunya 'ikut' pria tampan yang baru ia temui.
"Aku tahu toko sampur dekat sini. Boleh aku ganti sampur mu, Dek?"
Gadis itu mengangguk semangat. Memperbolehkan pria asing tampan yang baru ia temui itu menuntunnya menuju salah satu toko di pasar itu.
"Kamu penari?" pertanyaan yang terucap dari bibir pria yang baru Heni temui itu membuat sang gadis menoleh. "
Leres
, Mas,"
Di toko yang berisikan segala peralatan menari, Heni ditemani pria yang baru ia temui— juga seorang ajudan yang setia mengikuti. "Sudah berapa lama menari?"
"Sudah sejak kecil, Mas. Tapi aku selalu menari di desa. Baru kali ini datang ke Kawedanan," Gumaman paham sang pria menjadi reaksi akan ucapan Heni. Gadis lugu yang sedikit gugup itu kembali menoleh ke arah lain, menghindari tatapan si tampan. Heni takut, semisal ia semakin lama Heni bertatap dengan pria kawedanan itu, bisa-bisa Heni semakin jatuh hati.
Mata Heni memperhatikan gelang-gelang emas yang dipajang di meja toko itu selagi menyarukan rasa gugupnya. Gelang-gelang yang dipamerkan itu nampak elok. Semuanya memiliki ciri aksen ukiran masing-masing yang membuat gadis itu terkagum. Namun, hanya ada satu gelang yang menyita seluruh perhatian gadis itu.
Gelang emas itu terbuat dari dua setengah lingkar gilig emas dengan kembang sepatu di masing ujungnya.
Dua kembang sepatu itu terukir saling menjalar di masing-masing batangan emas gilig , lalu saling berkait di kedua ujung, membentuk satu gelang bundar. Di sekujur batangan emas itu tersebar beberapa kupu-kupu yang seolah menari di sekeliling masing kembang sepatu.
Heni suka kembang sepatu, Heni juga suka kupu-kupu. Maka paduan kembang sepatu dan kupu-kupu pada gelang emas itu, sukses membuat sang gadis lugu jatuh cinta. Tangan Heni menjulur untuk menyentuh gelang itu.
" Aia — kalau tidak berri , tidak boleh pegang-pegang!" seruan seorang pria cina totok pemilik toko mengejutkan sang perawan. "Ma-maaf," ujar Heni. Tangan sang perawan yang tadinya hendak menyentuh gelang taksirannya, akhirnya tertarik kembali mendekati tubuhnya sendiri.
"Ini, saya juarr banyak sampurr," aksen cina kental di percakapan Bahasa Indonesia itu membuat Heni geli. Pasalnya, baru kali ini ia melihat cina totok. Seumur-umur, desanya hanya pernah dihuni oleh pribumi dan londo. "Pirrih mana saja! Semuanya bagus, semuanya berrkuarritas! Semuanya saya bawa sendirri darri Tiongkok!"
Pria tampan di belakang Heni turut berjalan mendekati kotak kayu berisikan kain-kain sampur berwarna cerah yang tengah dipamerkan oleh sang pedagang. Gadis itu dengan takut-takut meletakkan tangannya di ujung kotak kayu itu. Takut, kalau lagi-lagi ia ditegur si pedagang karena menyentuhkan tangan kotornya di atas kain indah itu. Namun, meski takut, tatapannya bak terpaku pada kain sampur berwarna biru dan ungu di dalam kotak itu.
Berbeda dengan pria di sampingnya, pria tampan itu menyentuh kain itu dengan membelai halus, "Bahannya sutra?" tanya pria itu. "Ya! Ya! Benarr !" Antusiasme sang pedagang menggelegar di penjuru toko, "Anda pasti tahu banyak tentang kain! Anda bisa membedakan bahan-bahan kain dengan pandai!"
Heni termangu mendengar pembicaraan itu. Gadis itu nampaknya satu-satunya orang yang tidak tahu pokok bicaraan kedua pria itu. Pun, Si pedagang dengan cepat beralih ke meja lain untuk mengambil kotak kayu lain, dan menyejajarkannya dengan kotak kayu yang telah terbuka.
"Kalau ini, ini linen!" ujar pedagang toko itu sembari menunjukkan isi kotak kayu itu. Di dalam kotak itu, juga ada beberapa lembar sampur dengan berbagai warna yang tidak secerah lembar kain di kotak satunya. Pria tampan itu membawa tangannya menyentuh sampur berbahan linen itu, lalu mengangguk-angguk paham. " Eung ? Bagus benarr ? Jadi bagaimana? Anda mau beli yang mana? Linen atau sutrra ?"
Pria tampan di samping Heni menoleh ke arah gadis yang masih termangu bingung. "Pilih. Kamu mau yang mana?"
Gadis itu berdengung bingung. Pasalnya, pembicaraan si tampan dan pedagang itu seolah menunjukkan bahwa sampur yang tengah dipajang itu bernilai sangat mahal! Terlampau mahal untuk seorang penari desa. "Mas, maaf. Mas ndak perlu belikan aku sampur ," cicit Heni.
Pedagang cina itu mengerutkan dahinya bingung. Sebelum pedagang itu memarahi Heni yang membuang-buang waktu berharganya, si tampan terlebih dahulu menenangkan kegelisahan Heni. "Coba dipegang dulu sampur nya," bujuk si tampan.
Gadis lugu itu pelan-pelan mengarahkan tangannya kepada kain sampur berbahan sutra, lalu ke kain sampur berbahan linen. "Menurutmu lebih halus yang mana? Kamu lebih suka yang mana?" tanya pria itu. Jari heni pelan-pelan menunjuk ke arah kain sutra.
Setelah memberi satu anggukan, pria itu kembali menoleh ke arah si pedagang "Saya ambil yang kain sutra," ucap si tampan kepada sang pedagang. "Eh, Mas—,"
Tangan pria itu meraih sampur berwarna biru dan sampur berwarna ungu, lalu mengangkatnya di samping wajah Heni. "Ungu lebih cocok buat kamu," ujar si tampan, "Saya ambil yang ungu,"
"Mas, jangan. Sudah, ndak perlu. Ini kemahalan buat aku," protes Heni selagi pedagang itu mengepak kembali kain sampur yang tidak terpilih. "Jangan buang-buang uang Mas buat aku,"
Heni menundukkan kepalanya. Gadis desa macamnya mana pantas mendapat hadiah semahal itu dari bangsawan kawedanan. "Mas ndak buang-buang uang," ujar pria tampan itu. Heni memandang si tampan dengan bingung. "Mas mau jual sampur ini, buat dituker sama namamu,"
Heni gelagapan mendengar penuturan si tampan. Pun saat pedagang cina itu memberikan bingkisan berisi sampur yang telah disetujui untuk dibeli, pria itu mengangkat bingkisannya, "Jadi, boleh Mas jual sampur ini ke kamu?" Senyum teduh milik si pria lagi-lagi membuat Heni mematung.
Gadis itu tidak menjawab. Belum mampu menjawab lebih tepatnya. Otaknya ricuh dengan perintah-perintah agar jantung berdegup lebih pelan. "Boleh?"
Gadis itu mengangguk pelan. "Heni,"
Senyum di bibir pria tampan itu semakin lebar. "Ini sampur buat Dek Heni , biar bisa nari lagi. Mas minta maaf karena sudah ngerusak sampur kamu yo , Dek," ujar si pria sambil menyerahkan bingkisan itu kepada Heni. " Matur nuwun , Mas," jawab Heni sambil tersipu malu.
"Anda berri itu saja?" tanya si pedagang yang merebut perhatian pria tampan itu dari Heni. Pun sebelum menjawab, pria itu mengedarkan matanya ke arah meja di toko itu.
"Sekalian gelang ini," ujar si tampan sembari mengambil gelang kembang sepatu dan kupu-kupu yang tadi selalu menarik perhatian Heni. Belum sempat Heni melantunkan tanya, pria itu menyematkan gelang emas itu di tangan Heni. "Kalau ini, mau Mas jual ke kamu. Buat tuker supaya kamu ndak lupa sama nama Mas," ujar pria itu sembari tersenyum, "Nama Mas, Jeman. Diinget terus ya, Dek Heni ,"
Heni yang masih terbingung hanya mampu mengamati tangan besar Jeman yang mengaitkan gelang emas di tangan kanannya. Hangat kembali menjalar di pipi sang gadis. Ia tersipu malu dengan tindakan manis yang Jeman berikan.
Oh , mungkin kah ini saatnya semesta menebus segala dosa dan kesalahannya untuk gadis malang penari desa itu? Jika benar, Heni akan melantangkan puji syukur atas hadiah seorang pria santun di hidupnya.
Namun, lingkaran emas yang tersemat di jari manis tangan kiri Jeman tertangkap oleh netra Heni. Membuat segala angan sang gadis luluh lantak.
"
Weh! Nopo ndomblong wae ki lho
," Jono meletakkan pantatnya di lantai samping yang Heni melamun.
Gadis itu sejenak memandang ke arah sang teman, lalu kembali menatap ke pekarangan luar dengan tatapan kosong. Tidak menampilkan senyum, juga tidak menampilkan cemberut. Yang mana membuat temannya itu semakin bingung.
Sekarang ini, Heni dan Jono tengah berada di penginapan sederhana dekat alun-alun Kawedanan. Setelah sempat berpisah di pasar, gadis itu, dengan keberuntungan tipis yang ia punya, dapat dengan mudah menemukan Jono yang sedang menawar harga penginapan.
" Alesanku bawa kamu ke Kawedanan, ya salah satunya biar kamu seneng," ujar Jono mengangkat dan menaruh satu kakinya di atas kakinya yang lain, "Aku denger banyak cerita kamu dari Jamal. Maksudku bawa kamu kesini ya sekalian buat ngelupain hal ndak enak di hidup kamu. Eh, basan tak gowo mrene kok malah tambah njepupung ,"
" Ck !" Decak sebal Heni membalas perkataan Jono. Pun dorongan cukup keras di dada Jono diberikan juga sebagai penyaluran rasa sebal.
"Kenapa to kamu itu? Kangen desa? Dibawa jauh-jauh ke Kawedanan kok malah pengen pulang desa? Woo.. ndeso ," goda Jono. Tangan kanan Heni mengepal, mengangkat, lalu bersiap mendorong kembali pria jahil itu. Tapi sebelum sang gadis berhasil mendorong, kini Jono menyadari ada perbedaan di diri sang gadis. "Gelang dari mana itu Hen?!"
Pasalnya, seingat Jono— memang ingat betul, Heni tidak membawa barang satu persen, cent ataupun gulden , sejak mereka meninggalkan desa. Maka dari mana gelang emas yang memeluk tangan Heni saat ini? Mana gelang itu terlihat mahal, emas asli! " Kowe ra maling to ?!"
" Hush ! Jangan fitnah aku!" Sinis Heni. "Ya terus dari mana?! Ojo neko-neko lho Hen, Hen. Kamu yang berbuat, aku juga yang kena. Disini, kamu tanggung jawabku!"
"Aku ndak maling! Aku dikasih!"
Jawaban Heni lagi-lagi membuat dahi Jono makin mengkerut. "Dikasih siapa?! Kamu ndak kenal siapa siapa disini!"
"Dikasih Mas Jeman!" Mendengar nama yang sama sekali asing di telinga, Jono bersiap untuk membalas ucapan Heni. Namun, melihat mata bulat yang mulai berkaca-kaca akibat air mata itu, membuat Jono urung. "A-aku dikasih Mas Jeman, terus sekarang aku bingung,"
"Menurutmu, salah ndak aku, kalau... kalau aku mau jadi bojo kedua orang?" Lanjut gadis perawan itu dengan ragu.
"Hah— goblok !"
"Kan!" Mulut Heni mengerucut usai mendengar perkataan Jono yang seakan membela suara di dalam otaknya. Sedang matanya meneteskan air mata, mewakilkan suara di dalam hatinya yang tidak terima dikatai goblok sama pria di sampingnya hanya karena Heni jatuh cinta pada pria beristri.
Setelah berpisah dengan Jeman di pasar tadi, otak dan hati Heni memang tidak lagi sejalan. Otaknya dengan berisik berteriak agar si gadis itu mundur, dan jangan coba-coba merusak keindahan pernikahan orang lain. Namun, hatinya juga berisik memohon agar si gadis mengejar satu-satunya pujaan hati di hidupnya. Setelah berpisah dengan sang pria, yang Heni yakini sebagai Bangsawan Kawedanan — menilai dari harga barang yang dibelikan secara cuma-cuma untuknya, Heni jadi galau.
" Nek kamu jadi bojo kedua orang, itu artine kamu ndak bakalan dapet cinta bojo mu yang utuh. Emang kamu mau?" Melihat Heni menangis, agaknya Jono merasa prihatin. Jadi, pria itu memilih untuk menurunkan tegangan di pita suaranya.
Lagi-lagi Heni terdiam. Angannya berandai jika— jika dia menjadi istri kedua Jeman, jika dia harus berbagi cinta dengan istri pertamanya Jeman, dan jika dia harus menerima secuil kecil kasih Jeman. Emang Heni mau?
"Orang Kawedanan memang banyak yang punya bojo lebih dari satu. Kanggo mereka, nduweni akeh bojo mung perkoro bondo ," Heni menoleh ke arah Jono yang kini berganti menatap pekarangan dengan mata kosong. " Nek nduwe akeh bondo, yo sah-sah wae nduwe akeh bojo ,"
" Gampang kok, mereka golek bojo kedua. Apalagi gadis lugu dari desa. Mung dibayar ra sepiro wae langsung semrintil ," Nada sinis Jono entah mengapa terdengar sangat personal. "Jadi aku ndak heran, semisal kamu mau jadi bojo kedua bar dibayar,"
Raut wajah Heni menyalang marah usai mendengar ucapan Jono. "Aku ndak dibayar!"
"Ya terus menurutmu gelang sing mbok pakek itu apa? Hen, di Kawedanan ndak ada orang yang sebaik itu! Mau ngasih uang mereka buat orang yang ndak mereka kenal, apalagi ndak minta balesan," Jelas Jono. Raut wajah Jono kembali keras, seolah marah betul dengan tindakan Heni. Padahal, kalau dipikir-pikir, Jono dan Heni tidak sedekat itu sampai si pria boleh mengatur hidup Heni. " Saiki tak tekon, kowe kok gelem-geleme dituku wong ?"
Mendengar perkataan Jono membuat Heni geram. Gadis perawan itu bangkit berdiri, "Mas Jeman ndak beli aku! Dia orang baik-baik! Jangan samain dia sama laki-laki bejat di desaku!"
Tubuh Heni bergetar hebat. Secara tidak langsung dikatai murahan oleh Jono, dan ditambah gempuran ingatannya di masa lalu tentang tarian ronggeng di pekarangan rumah Mardi, menjadikan emosi Heni memuncak.
"Aku cuma nyadarin kamu!" Jono yang merasa tak mau kalah, ikut bangkit berdiri, " Kowe saiki ki lagi dituku mbek dee! Rego gelang ra sepiro, Hen. Ya, Gustii, " Jono terkekeh pahit, " Gelem kowe dituku rego gelang ?"
Sudah. Heni tak lagi bisa menahan amarahnya akan Jono. Maksud Heni bertanya dengan Jono, adalah hanya untuk meleramkan hatinya mengenai menjadi pilihan kedua, istri kedua. Bukan malah dikatai murahan oleh seseorang yang bahkan tidak lebih dari kenalan dekatnya!
Plakk…
Gadis manis yang tak lagi bisa membendung amarahnya menampar pipi kiri sang pria. "Cuma karena kamu kalah bondo sama orang Kawedanan, bukan berarti kamu bisa ngatain semua perempuan yang jatuh cinta sama orang Kawedanan murahan, gampang dibeli!" Gadis yang berurai air mata itu bergegas masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintunya. Heni terlalu marah untuk berbincang lagi dengan Jono.
Sudah lewat 3 hari Heni dan Jono tidak berbincang. Baik Heni maupun Jono tampaknya menyimpan amarah satu dengan yang lain. Terlihat jelas saat mereka berlatih bersama untuk menari di acara festival rembulan yang akan berlangsung malam ini. Tidak ada yang bertegur sapa, ataupun bahkan saling menegur saat satu dari mereka melakukan kesalahan waktu menari atau
mengendang
. Hanya dengan tatapan
mendelik
, lalu sudah, si pihak salah akan mengetahui bahwa telah berbuat salah, dan akan segera berbenah.
Bahkan saat mereka hendak bersiap menuju alun-alun Kawedanan, tidak satu pun mau berucap. Saling menyibukkan diri dengan persiapan masing-masing.
Heni yang tengah macak di kamarnya kini hanya bisa mengintip tipis-tipis ke arah kamar Jono. Berharap dengan itu, ia bisa tahu baju yang Jono kenakan berwarna apa tanpa repot-repot memulai pembicaraan. Agar dia bisa menyesuaikan pula dengan baju yang akan ia kenakan.
Dan saat netra gadis itu menangkap Jono mengambil sorban berwarna ungu, Heni menghembuskan nafas lega. Setidaknya, warna sorban Jono senada dengan warna sampur Heni.
Sampur Heni. Sampur baru yang dibelikan oleh Mas Jeman. Sampur yang Heni tukar dengan informasi namanya sendiri.
Sampur… dari Mas Jeman…
Oh, rindunya Heni tidak berjumpa dengan Jeman 3 hari penuh lamanya. Segala ingatannya tentang siang itu kala mereka pertama bertemu masih setia menemani tidurnya. Membuat gadis yang memimpikan cinta pertamanya itu selalu terbangun dengan rasa senang dan hangat di dadanya.
Lalu saat ia memoleskan dempul di pipinya, Heni tersipu malu. Pikiran nakalnya kembali mengingat pertama kali mereka bertemu.
Mas Jeman dengan senyuman teduhnya, hangat tubuhnya, serta lucu jenakanya lagi-lagi memenuhi pikiran sang penari.
Heni kembali tersipu malu. Tangannya tak sanggup lagi memoles kosmetik di wajahnya yang sudah berwarna merah merona.
Baru kali ini Heni jatuh cinta. Dan baru kali ini juga, Heni tidak ingin bangkit dari jatuhnya. Heni jatuh cinta dengan pria Kawedanan baik-baik yang ia temui tak lebih dari satu jam lamanya.
Menurut Heni, Mas Jeman itu pria baik. Dan maksud Jeman juga baik, tak lebih dari bertanggung jawab karena sudah merusak sampur yang tersangkut benik . Ya, meskipun ada maksud lebih agar saling mengenal. Tapi Heni yakin, Jeman itu baik, dan tidak serendah yang dikatakan Jono.
Jika Jeman memang serendah itu, yang seharusnya Heni rasakan saat bersama dengan Jeman, bukan lah rasa aman dan nyaman seperti apa yang gadis rasakan selama ini. Melainkan rasa cemas dan gelisah.
Heni mungkin gadis desa yang lugu. Tapi Heni bisa kok membedakan mana orang baik dan mana orang jahat.
Bagi Heni, Jeman itu orang baik, Mardi orang jahat.
Bagi Heni, Jamal itu sebenarnya orang baik, kalau Jono… jahat.
Jahat, karena sudah berburuk sangka dengan Jeman. Jahat, karena sudah merendahkan martabat Heni. Jahat, karena tidak mau memahami maksud hati Heni.
"Gek ndang, mengko telat," adalah kata dingin yang pertama terucap dari mulut Jono setelah sekian hari lamanya terkunci. Heni yang sadar bahwa dirinya sudah terlalu lama ndomblong memikirkan Mas Jeman— dan Jono, segera merampungkan macaknya, lalu bangkit berdiri dan mengikatkan sampur biru nan halus di lekuk pinggangnya.
Malam itu, Heni dan Jono berangkat menuju festival padang bulan.
Gemuruh antusias ricuh di dada Heni saat gadis manis itu menyaksikan kerlap kerlip lampion yang dipasang di sekujur jalan festival padang bulan. Jangankan menari, ikut hadir memeriahkan di acara megah seperti ini pun, Heni baru kali ini.
Heni baru tahu, kalau Alun-Alun Kawedanan bisa dihias sebagus ini. Ia juga baru tahu, kalau Alun-Alun Kawedanan bisa dipenuhi oleh orang sebanyak ini.
Banyak pedagang yang menggelar tikar dan dingklik untuk menjual makanan dan minuman. Tak sedikit pula pedagang yang menjual pernak-pernik perhiasan. Layaknya pasar yang dibuka di malam hari. Layaknya pasar yang ia datangi kapan hari.
Oh… lagi-lagi ingatan Heni tentang pasar tempat pertama kali bertemu dengan Jeman kembali memenuhi pikirannya.
Akankah ia bertemu kembali dengan Jeman malam ini? Mengingat ramai Alun-Alun serupa dengan Pasar kala itu? Akankan Jeman hadir dan melindunginya kembali dari desakan orang-orang seperti waktu itu?
Mungkin— mungkin kalau Heni memelankan jalannya… dan membaurkan dirinya di tengah ramainya orang…
Srett…
" Ojo mblandang dewe ,"
Heni menghelakan nafasnya dengan pasrah. Pun dengan patuh ia ikuti mau pria tinggi yang menyeret tubuhnya untuk tetap berada di dekatnya.
Semarak gambyong terdengar lantang dan bersemangat. Si penabuh gendang, dan si penari, dengan kompak mempertunjukkan hasil jerih payah latihan mereka. Tepuk tangan serta sorakan kagum menggaung memenuhi lapangan Alun-Alun Kawedanan. Semuanya memuji tarian elok si penari serta tabuhan
grapyak
si pengendang.
Hati Heni terasa bungah . Senyum manisnya merekah lebar.
Seperti inilah yang diimpikan oleh Heni. Seperti inilah yang dimau Heni!
Melenggang seiringan dengan musik merdu, menari di hadapan banyak orang yang terhibur. Senyum para penonton yang terlihat dari sisi Heni semuanya terlihat tulus. Tidak merendahkan martabat seperti kala itu. Pelan-pelan, ingatan buruk tentang tarian ronggeng malam itu terhapuskan dengan tarian gambyong malam ini.
Sang penari menari semakin semangat. Lantunan pujian dan sorakan kagum itu lah yang Heni suka.
Pun di tengah tarinya, Heni dikejutkan oleh pemandangan yang tak ia harapkan sebelumnya. Pemandangan manis yang membuat gadis itu tersipu malu di tengah tarinya. Netra Heni menangkap sesosok yang ia rindukan sejak terakhir berpisah di pasar. Sosok pria tampan bertubuh kekar yang mampu menguarkan hawa hangat setiap berdekatan sekaligus senyum teduh saat berpandangan.
Pandangan mereka kini beradu. Penari itu memberikan senyum termanisnya kepada Pria Kawedanan yang menyita pikir dan hatinya selama 3 hari ini. 'Dek Heni' ejaan sapa tanpa suara itu terbaca dari bibir Jeman, diikuti senyuman teduh yang Heni sukai!
Heni mencoba mati-matian untuk tidak menjawab sapaan itu, tidak menghentikan tarinya, lalu berlari menerjang ke pelukan pria itu. Heni mencoba mati-matian untuk tetap menari. Namun, agaknya mustahil jika matanya tetap terpaku pada Jeman!
Gadis itu menolehkan kepalanya, bermaksud untuk mencari penonton lain untuk bertukar pandang.
Sayang, usai tolehan kepala itu, alih menemukan penonton lain untuk bertukar pandang dan tersenyum bersama di tengah tariannya, Heni malah mendapati seorang Sinyo londo di tengah kerumunan penonton menatapnya dengan tatapan bengis dan benci.
Tubuh Heni seakan diguyur dengan air es.
Itu Mardi!
Geretan tangan Mardi membuat tangan kembang perawan itu perih dan nyeri. Nahas, seberapa payah perawan itu menangis histeris, suaranya terbungkam oleh tangan kotor milik komplotan Mardi lainnya.
Selayaknya sapi yang diarak menuju pejagalan. Gadis manis berkulit sawo matang itu diarak menuju pohon besar yang berjarak cukup jauh dari keramaian.
Air mata yang terus menerus mengalir menuruni pipinya mengusap dempul yang ia poles tadi sore. Meninggalkan jejak seperti sungai-sungai kecoklatan di pipi gembulnya.
Tolong! Tolong!
Nyatanya tak ada yang mampu mendengar jerit takut gadis itu. Tak ada yang mampu menangkap rintihan sakit yang terbendung oleh bekapan tangan kasar.
Merasa kalau Heni tidak kooperatif dengan tarikan tangan mereka. Pria-pria amoral itu menyentak tangan kanan Heni kuat-kuat.
Gadis yang selama ini mengenakan gelang emas pemberian Jeman meringis nyeri akibat hentakan kuat logam di tangannya. Mungkin, saking kuatnya hentakan itu, kaitan logam di tangannya menjadi lepas, hingga membuat gelang pemberian Jeman jatuh ke tanah.
Belum sempat meraung sedih akibat hilangnya benda berharga pemberian cinta pertamanya, tiba saatnya tubuh Heni dibenturkan ke pohon besar.
Sampur ungu— sampur pemberian Jeman untuk penari desa itu, dilucuti, lalu digunakan untuk menyumpal mulut Heni. Tak sampai disitu, sampur panjang itu dililitkan ke belakang kepala Heni, lalu diikat kuat agar sumpalannya tidak lepas. Sisa sampur kemudian digunakan untuk mengikat kedua tangan Heni bersamaan. Menjadikan Heni tak mampu untuk berucap juga bergerak.
Pening kepala Heni saat mendengar tawa juga ejekan senonoh dari bibir para pemuda yang ia benci setengah mati. Seberapa kuat Heni mencoba untuk melepaskan diri dari belenggu sutra, nyatanya tak cukup untuk merantaskan kain tenunan mahal asal cina itu.
" Menengo ," desis rendah yang keluar dari bibir manusia bejat itu membuat Heni merinding. " Menengo nek kowe ra pengen mati ,"
Wajah Heni kini menjadi basah. Leleran air mata yang turun semakin deras, juga liur yang merembes di sekitar sampur yang membelenggu, membuat wajahnya kuyup.
Hal menjijikkan selanjutnya yang Heni rasakan adalah lidah basah Mardi menjilat beberapa tetes air mata yang turun, menyapu pipi gembul berdempul milik sang gadis. Takut memenuhi rongga dada Heni tatkala gadis perawan itu mendengar kekehan mesum si Sinyo. "Kamu itu tak cari kemana-mana. Jebul ngelacur di Kawedanan. Ndak sia-sia aku nggoleki Rayi tekan desa sebelah!"
Mata Heni membelalak lebar. Rayi??? Bajingan itu ngapain Rayi?!
Teriakan benci sang gadis yang terbendung sampur itu melolong. Gimana nasib Rayi? Gimana nasib Juwita? Gimana nasib Mas Jamal?
Pikiran sang gadis malang terbelah memikirkan nasibnya sendiri, juga nasib sahabat beserta keluarganya. Memikirkan petaka yang Heni hadirkan untuk Rayi membuat gadis malang itu menangis histeris.
" Mulakno, dadi wong wadon ki sing manut! Diapake mbek wong lanang ki 'njih, Mas', 'ngersakke nopo, Mas?', 'kersa ngenthu pepek lacurku, Mas?' ," Ucapan merendahkan milik Mardi yang tercampur dengan tawa bejat terdengar nyaring di telinga Heni. Ia yang semakin terdesak dengan dengan rasa takut merasakan pening di kepalanya. Seakan kepalanya di benturkan berkali-kali ke benda keras!
Pun sekarang, itu yang Mardi lakukan! Sinyo bajingan itu membenturkan kepala gadis itu keras-keras ke batang pohon di belakangnya. Seakan membalas apa yang dilakukan Heni kepadanya kala itu. " Ngerti ra?! " Sentakan keras Mardi membuat nyali Heni makin menciut.
Benturan pada batag kayu di belakang sana mengundang dengung hebat di telinganya, serta pusing di kepalanya. Heni menjadi lemas. Ia tak lagi dapat meronta, atau bahkan berteriak saat Mardi menyobek kebaya tarinya. Ia hanya dapat pasrah mempertontonkan tubuh polosnya di hadapan para lelaki bejat. Ia hanya dapat pasrah saat Mardi meremas dua payudaranya dengan kuat. Ia juga hanya dapat pasrah saat Mardi mengenyot nenennya hingga terasa perih dan sakit.
Sakit… Takut… Tolong…
Tangan kotor Mardi tak henti-hentinya berkelana di tubuh sekal sang penari. Merobek kain apa saja yang menutupi tubuh telanjang si gadis, menyentuh bagian tubuh mana saja yang terlihat menggiurkan bagi si pria. Gadis itu merasa kotor.
Kotor…
Air mata Heni tak pernah berhenti mengalir turun.
Sebenci itukah Tuhan akan Heni? Serendah itukah Heni hingga ia mendapatkan nasib malang seperti ini?
Ya Tuhan… Bapak… Rayi… Jenar… Tolong Heni.
Di tengah tangis dan doanya, gadis itu menoleh lemah saat merasakan nyeri di tubuhnya sirna dengan cepat. Meski pandangannya buram, Heni dapat melihat beberapa orang berpenampilan seperti serdadu kaningratan menarik Mardi menjauhinya. Heni juga dapat melihat beberapa orang lainnya menyerbu komplotan jahanam milik Mardi. Menghabisi mereka dengan pukulan keji, serta torehan keris. Raungan ampun yang sebelumnya terucap dari bibir manis si gadis, kini ganti berasal dari mulut bengis para lelaki bejat.
Telinganya yang masih berdengung sayub-sayub mendengar pembicaraan pria yang tidak ia tahu. 'Sing kuwi ojo mbok pateni, ben aku dewe'
Entah itu halusinasinya, Heni menangkap sebuah suara yang terdengar familiar di kupingnya.
"—Heni, —Heni, Dek Heni?" Perlahan dengungan di kuping Heni menjinak. Mata sayu gadis itu pelan-pelan mengarah kepada pria yang melepaskan belenggu sampurnya dengan telaten, "Dek Heni," panggil pria itu sekali lagi.
"M-Mas Jeman," lirih Heni seusai belenggu itu terlepas darinya. Sang gadis tanpa berfikir panjang segera memeluk tubuh Jeman dengan erat. Tangis yang selama ini tertahan sampur akhirnya bisa pecah.
"Sudah, sudah, Dek. Kamu aman sama Mas," Jeman mengusap lembut punggung gadis yang menangis histeris itu.
Gadis malang itu merintih kesakitan di gendongan Jeman. Sang pria yang menggendongnya kini hanya sanggup meletakkan kepalanya di puncak kepala si gadis, sebagai penanda bahwa gadis itu tak lagi sendirian, serta penanda kalau pria itu turut menenangkannya, lantaran kedua tangannya penuh membawa tubuh ringkih sang gadis. Tak ada yang bersuara, selain hembusan nafas hangat si pria, juga isakan tangis si gadis.
Gadis di rengkuhan Jeman sudah tak lagi awas dengan apa yang sedang terjadi. Meski begitu, rasa percaya yang ia miliki akan Jeman membiarkan tubuhnya untuk ikut kemana saja pria itu melangkah.
Percaya, jika bersama dengan pria ini, maka ia akan aman.
Percaya, jika bersama dengan pria ini, tak akan ada yang berani melawan.
Tangan gemetar Heni perlahan naik menuju leher Jeman, memeluk hangat tubuh itu dengan erat.
Belum lama Heni memeluk leher Jeman, gadis itu dapat merasakan dirinya pelan-pelan ditaruh di atas kasur lembut. Gadis yang mengetahui bahwa sebentar lagi Jeman akan melepaskannya, buru-buru mengeratkan pelukan leher itu. Gelengan kuat kepala Heni menjadi tanda bahwa gadis itu enggan berpisah barang sejengkal dari rasa aman dan hangat yang hanya ia dapatkan dari Jeman secara cuma-cuma.
"Mas disini, Mas ndak akan kemana, Dek," bisik Jeman di telinga Heni. Gelengan frantik Heni semakin kuat saat Jeman pelan-pelan menaruhkan kaki Heni di atas kasur. "Dek Heni, Dek," panggil Jeman disela tangis histeris gadis itu, "Mas disini, Mas ndak akan tinggalin kamu,"
Tangis yang masih histeris itu menggerakkan Jeman untuk memeluk erat tubuh gadis setengah telanjang di hadapannya. "Sakit— sakit… aku— kotor ," isak Heni.
Pelan-pelan Jeman melepaskan pelukan Heni padanya. Tangan hangat pria itu menyentuh pipi gadis yang masih berlinangan air mata. "Hush… ndak kotor," tegur Jeman dengan lembut. Pria itu menempelkan dahinya pada dahi Heni, "Dek Heni ndak kotor,"
Bibir hangat sang pria menyentuh dahi Heni untuk waktu yang lama, sebelum beralih mengecup pipi gembul yang dipenuhi dengan garis kecoklatan akibat leleran air mata juga blentong akibat jilatan menjijikan milik Mardi. Kecup demi kecup Jeman hadiahkan pada pipi kanan juga kiri Heni, berharap dengan itu, gadis menangis di rengkuhannya menenang. "Dek Heni ndak kotor,"
"Maaf, Mas kurang cepat lindungi Dek Heni tadi," ucap Jeman dengan lembut. Tangan besar menyentuh tangan Heni. Warna merah lebam yang merusak keindahan tangan penari itu membuat Jeman menggertakkan giginya geram.
Tangan luka Heni kemudian dibawa Jeman ke depan bibirnya. Mata teduh Jeman menatap gadis malang di hadapannya. "Maaf, maaf," Lantunan maaf menjadi jeda antara setiap kecupan di per-jengkal tangan Heni.
"Bukan salah, Mas," lirih Heni. Pria Kawedanan itu menangkupkan kedua tangan Heni di pipinya, lalu mengamati sang perawan dengan tatapan sendunya. "Bukan salah, Mas," ulang Heni dengan nada bergetar, "Malah harusnya aku terima kasih sama, Mas," Jemari lentik Heni membelai paras tampan sang pria.
Jika hanya bersama Jeman Heni merasa nyaman. Jika hanya bersama Jeman Heni merasa aman. Maka tak ada lagi yang mau Heni lakukan selain menjadi bersama Jeman.
Kembang desa itu mengusapkan jemarinya di wajah Bangsawan Kawedanan itu. Berterima kasih, juga berhutang besar, itulah yang dirasakan Heni kepada Jeman. Pun seberapa besar harta— bahkan harga diri yang gadis desa itu miliki tidak akan cukup untuk membalas kebaikan hati Jeman.
Meski begitu, tubuhnya yang menjadi satu-satunya harta berharga yang ia miliki, tubuhnya yang sudah kotor terjamah manusia bejat, tubuhnya yang Heni rasa tidak cukup layak diberikan kepada siapapun, ingin ia persembahkan kepada sang penyelamat.
Tekatnya untuk memberikan segala yang ia miliki untuk Jeman seorang, membuat gadis itu mencondongkan tubuhnya, dan menempelkan bilah bibirnya pada bilah hangat sang Bangsawan.
Tak bergerak, tapi juga tak menjauh. Gadis dengan pengalaman nihil mengenai hubungan wanita dan pria dewasa itu hanya dapat memejamkan matanya selagi menempelkan bibirnya pada Jeman. Karena entah dari mana asalnya, hanya itu yang Heni tahu, yang dapat terhitung sebagai tindakan intim antara pria dan wanita.
"Dek?" panggil lembut Jeman sembari menjauhkan tempelan bibir Heni. Sang gadis masih dengan mata terpejam, terlalu malu untuk membuka mata dan menatap sang pria. "Kenapa nangis?" tanya Jeman seraya perlahan meletakkan tangan Heni, lalu mengusap air mata yang tanpa gadis itu sadari kembali menetes turun.
"Kenapa, hm ?" Lembutnya ucapan Jeman.
"A-adek mau sama Mas terus," isak Heni, "Mas boleh— boleh pakai adek sepuas Mas. Mas boleh— boleh—," Otak dangkal Heni nyatanya tak mampu mengungkapkan seluruh keinginan hati polosnya. Di hadapan pria yang menjadi cinta pertamanya, ia malah bersikap seperti wanita yang menjajakan dirinya dengan cuma-cuma.
Persetan!
Pada hakikatnya, Heni bukanlah orang yang pintar bicara. Gadis pemalu asal desa yang tidak pernah bisa menyuarakan isi hatinya— selain melewati teman-temannya, tidak pernah pandai bersuara. Ia yang tidak pandai berbicara mencoba kembali menyondongkan tubuhnya pada Bangsawan itu, mencoba mengecup bibir yang tadi mendorongnya menjauh. Ia tidak ingin kesempatan ini terlewat begitu saja. Ia ingin pria di hadapannya menjadi miliknya.
Kali kedua bibir itu bersentuhan, Jeman yang juga seorang lelaki, yang tengah disuguhi gadis perawan berbadan elok setengah telanjang, membalas kecupan polos itu dengan lumatan di bibirnya. Pria beristri yang memiliki pengalaman jauh lebih banyak dibandingkan perawan lugu itu mengambil alih permainan bibir keduanya.
Jeman melumat bibir Heni dengan pelan dan lembut. Memperlakukan sang gadis layaknya embun di pagi hari yang akan pecah jika terusik. Tentu ciuman lembut yang tak pernah Heni dapatkan seumur hidupnya itu terbuai akannya.
Roma tubuh Heni menjalar tatkala Jeman merengkuh pinggangnya dan menariknya mendekat. Hangat, nyaman— dan aman. Gadis itu manut dengan tarikan tubuh itu. Biarlah susu mengkalnya menjadi pembatas fisik yang menyebabkan kedua orang itu tak mampu merekat. Biarlah susu lembutnya menggesek beskap mewah dengan pin garuda yang tersemat. "Adek mau jadi milik Mas," ucap Heni tepat setelah Jeman menjauh kan bibirnya.
"Tapi, Mas sudah menikah, Dek ," Kecupan di pelupuk mata Heni itu menjadi kecupan terakhir sebelum Jeman benar-benar menarik diri dan menjauh dari sang gadis lugu.
Heni tahu. Lingkar emas yang memeluk erat jari manis tangan kiri Jeman sudah memberitahunya beratus kali banyaknya. Tapi bukannya mengambil ratusan langkah mundur, gadis itu tetap berada di tempat menanti sebuah harap yang tidak pasti. Menanti sebuah harap untuk hati itu terbuka kembali. "Mas sudah beristri,"
Nggak perlu diperjelas begitu pun Heni tahu! Mata yang baru saja dikecup hangat itu kini tak mampu menahan jatuhnya air mata dingin. Ia yang terlalu terlambat bertemu sang pujaan hati lalu bisa apa?
Bisa mengandai kalau dia bertemu lebih awal dari pujaan hati sang cinta pertama? atau mengalah dan memilih untuk jadi yang kedua?
"Adek ndak masalah jadi yang kedua," Gumaman terlampau tipis itu berani lolos dari mulut Heni yang tertutup rapat. Tatapan selidik si pria yang entah tidak terlalu mendengar, atau tidak terlalu sadar dengan ucapan Heni menilik wajah gadis manis itu dengan berhati-hati. "Kalau Mas mau, dan kalau istri Mas mengizinkan. A-adek… Adek ndak masalah jadi yang kedua,"
Dengan berani, tangan gemetaran Heni meraih tangan Jeman, menuntun jemari sang pria untuk melorotkan kebaya rusak yang tidak menutupi dirinya sedari tadi. "Adek ndak masalah," Kebaya rantas itu kemudian jatuh secara asal di atas kasur, "Adek mau jadi milik Mas,"
Tangan Jeman yang masih berada di genggaman si gadis, Heni tuntun menuju susu mengkal miliknya. Karena itu yang ia tahu, karena itu yang ia miliki yang mampu menarik perhatian seluruh pria di sekelilingnya. Berharap dengan itu, Jeman jadi tergoda.
Dan memang tergoda jadinya!
Tubuh polos bermandikan peluh milik Heni melonjak naik turun di pangkuan Jeman. Gadis baru lepas perawan itu dituntun untuk memanjakan kacuk pria gagah cinta pertamanya. "Mas, Mas~," desah merdu Heni terdengar nyari di seisi ruang penginapan Jeman.
Jika kata orang, ronggeng-ronggeng sangat handal dalam melekukan pinggul mereka saat menari, kini Jeman merasakan pinggul itu handal melekuk di atas tubuhnya sendiri. Padahal ini kali pertama Heni bersenggama, padahal Jeman tidak seniat itu mengajarkan gadis barunya bersenggama.
Toh tadi pagi istri pertamanya masih sempat menjalankan kewajibannya sebagai istri, melayani nafsu birasi sang suami. Tadinya Jeman bermaksud untuk memberikan Heni jeda setelah kejadian menyedihkan malam ini. Bagi Jeman, mereka juga tidak sedang diburu waktu. Jeman juga mau mengenal gadis manis itu secara pelan-pelan dan teratur. Agar saat ia menjadi pemimpin keluarga sang gadis, Jeman tahu segala kisah menyedihkan yang Heni simpan sendirian. Jeman juga mau jatuh cinta se dalam Heni jatuh cinta padanya. Secara baik-baik, dan pelan-pelan.
Tapi Heni benar-benar melebihi ekspektasi Jeman.
Gadis perawan baik-baik mana yang rela melemparkan diri kepada orang asing? ya... selain istri pertamanya juga...
Jeman terkekeh melihat gadis dipangkuannya. Katanya baru pertama bersenggama, tapi handalnya membuat kacuk Jeman dimanja.
Saking larutnya dalam nikmat yang ia usahakan sendiri, Heni memejamkan matanya. Kacuk tebal milik calon suaminya itu ia arahkan menuju titik-titik di dalam lubang kelaminnya. Heni tidak paham dengan lubang itu, yang pasti, gatal yang mengganggu menjadi mereda saat kacuk tebal itu menggesek titik tersebut. "Ahh— Ahh—, Mass~," desahnya sembari menengadahkan kepalanya.
"Enak, Dek?" tanya Jeman sembari tersenyum miring. Mengamati gadisnya mengejar nikmat dengan mandiri membuat Jeman terhibur. "En—ahh—akk,"
Jeman terkekeh. Bisa-bisanya gadis pemalu, irit bicara seperti Heni menjadi nyaring dan berisik saat lubang kelaminnya disumpal kacuk!
Melihat gadis itu semakin lelah dan melemah, Jeman membawa tangannya untuk menepuk kedua bongkah pantat mengkal milik Heni. Tangannya mengangkat pantat Heni, lalu menjejalkan kacuknya dengan cepat ke kelamin gadis perawan itu. Tindakan tiba-tiba Jeman otomatis membuat Heni limbung dan jatuh ke muka si pria. "Pintere Dek Heni ngawula Mas," geram Jeman di tengah nikmatnya merojokkan kacuk tebalnya pada pepek calon istri keduanya.
Lantunan pujian akan pintar dan handalnya Heni tak pernah berhenti Jeman ucapkan. Seharusnya, Heni cukup tersipu malu mendengarnya. Tapi nyatanya, semua pujian yang melantun membuat tubuh gadis itu kian panas. Belum lagi ketambahan lendir licin yang terasa meleleh hingga ke pahanya, lalu jatuh di paha Jeman. "Ouh— Mass~ pelan~," Tubuh gadis itu menggelinjang saat kacuk tebal itu tanpa permisi menyentuh titik terdalam lubang kelaminnya. Membuat susu besar Heni menimpa wajah Jeman.
Pria santun yang disodori dengan nenen besar pun tidak akan kuat menahan nafsu, apalagi Jeman. Pria yang jauh dari kata santun, pria yang sejujurnya memiliki obsesi dengan wanita.
Pria yang mendapatkan kesempatan emas itu segera melamot susu mengkal calon istri keduanya. Jeman menyusu layaknya bayi kelaparan selagi kacuknya bekerja cepat mengejar nikmat.
Sedotan mulut hangat Jeman membuat angan Heni melalangbuana. Ohh... Kalau saja ia bunting anak dari Jeman. Kalau saja susu besarnya membengkak berisi ASI yang mulanya untuk anak dari Jeman. Dan kalau begitu, maka kenyotan kuat Jeman pada susunya tidak berakhir sia-sia lantaran tak ada susu yang keluar. Namun, kenyotan itu akan merangsang keluarnya susu manis darinya. Ahh... kalau saja... Heni menggenggam erat rambut Jeman. Seraya melonjak naik turun di kacuk sang Bangsawan dengan bersemangat, menyaingi irama genjotan hebat kacuk Jeman pada liang kelaminnya.
Masak, macak, dan manak. Heni sudah pelajari 2 tugas utama perempuan. Kini setelah bersama Jeman, Heni mau mempelajari tugas utama terakhir yang belum ia ketahui sebelumnya, manak.
Gadis lugu itu berjalan patuh mengikuti sang suami. Langkahnya malu-malu, terlebih saat kacung-kacung kerajaan berjajar dan sujud di lorong kerajaan.
Heni tidak terbiasa dengan pemandangan seperti ini. Pemandangan akan Kacung-kacung kerajaan menanti dengan patuh hingga sang raja dan selir mereka sampai di depan kamar persemayaman sang Raja. Menanti dengan patuh hingga Heni melewati mereka.
Degup jantung Heni bertalu hebat. Ia yang baru saja diangkat menjadi selir kerajaan merasa kikuk dengan perubahan yang ia temui. Mendapatkan perhatian sebanyak ini membuat gadis manis asal desa itu malu. Malu sekali sampai-sampai mengangkat wajahnya saja, ia tidak mampu.
Gadis manis itu terus-terusan menatap gelang ukir kembang sepatu dan kupu-kupu pemberian sang suami, sembari beberapa kali melirik ke arah kemana kaki yang berjalan menuntunnya. Tanpa banyak bicara, tanpa banyak bertanya. Saat kaki Jeman berhenti, baru lah Heni mengangkat kepalanya, menatap sang suami yang kini membalikkan tubuhnya untuk memastikan keadaan istri barunya.
"Kenapa, Dek ? Ndak perlu takut, kamu aman disini," Tangan kasar penuh kapalan milik Jeman mengusap lengan Heni dengan lembut dan penuh keberhati-hatian. Seakan gadis manis di hadapannya akan pecah berlebur kalau sampai ia mengusap terlalu keras. Seakan gadis manis di hadapannya sangat rapuh. Atau mungkin memang rapuh di mata sang Paduka Raja.
Heni menggelengkan kepalanya, "Aku ndak akan takut. Selama ada Mas, aku memang selalu aman,"
Kekehan rendah Jeman menyambut penuturan panjang sang Pemalu. Jeman berjalan mendekati istrinya, lalu mengecup dahinya dalam-dalam. "Sejak kapan istri Mas ini pandai menggoda suaminya? Hmm ?"
Wajah Heni menghangat. Pun rasanya semakin panas saat kecupan Jeman yang mulanya di dahi, turun ke kelopak mata sebelah kiri, lalu sebelah kanan. "Bener. Istriku ini memang pandai. Mas akan selalu melindungi kamu. Mas akan selalu membuat kamu aman," ujar Jeman.
Lantunan janji yang terucap dari bibir sang Suami membuat Heni tenang. Ia memeluk tubuh Jeman erat-erat, "Terima kasih, Mas," ucap gadis itu. Pelukan hangat yang dibalas dengan pelukan tak kalah hangatnya itu membuat sepasang suami-istri terbalut dengan kemesraan. Tak satupun dari Heni dan Jeman malu meskipun kacung-kacung kerajaan masih setia sujud di dekat mereka. Tak satupun juga dari pasangan itu ambil pikir dengan tanggapan orang-orang atas kemesraan yang mereka tunjukkan dengan cuma-cuma di hadapan umum.
"Ayo, Mas kenalkan dengan istri pertama Mas," ujar Jeman melepaskan pelukan keduanya. Heni mengangguk patuh. Pikirannya ricuh, tapi bukan karena rasa cemburu, melainkan rasa cemas. Cemas akan apakah sang permaisuri mau menerimanya sebagai istri kedua sang Raja.
Heni meneguk ludahnya dengan kasar saat Jeman menggenggam tangannya, lalu menuntunnya menuju pintu kamar yang terbuat dari kayu jati yang penuh ukiran. Gadis lugu itu lagi-lagi menundukkan kepalanya saat ajudan istana membukakan pintu kamar untuk mereka. "Ayo," lagi-lagi ajakan sang Raja diikuti oleh sang Selir dengan patuh.
Kaki Heni dan Jeman dengan bersamaan melangkah memasuki kamar. Saat mereka sudah masuk kedalam tempat persemayaman Raja, pintu kamar itu kembali ditutup oleh sang Ajudan. Membuat mereka berdua— bertiga dengan sang Permaisuri, mendapatkan privasi di kotak mewah persemayaman Raja.
"Heni, kenalkan. Dia istri pertamaku, permaisuriku," ujar Jeman memperkenalkan.
Selir itu dengan berhati-hati mengangkat kepalanya, mengantisipasi reaksi apapun yang permaisuri itu berikan untuknya, istri kedua Raja.
Namun alih mendapati permaisuri cantik yang dirias ayu, memakai kebaya elok, juga perhiasan perlente, Heni malah melihat seorang perempuan telanjang bulat dan terlentang di atas kasur sang Raja.
Tak hanya bertelanjang bulat, perempuan itu juga dalam posisi yang terlampau vulgar di mata Heni. Kedua kakinya membuka lebar, memperlihatkan kelaminnya yang basah mengkilap dan meneteskan lendir kawin dengan deras. Pun Heni lagi-lagi dikejutkan oleh perempuan yang kepayahan mengangkat badannya dari ranjang Jeman. Wajah sayu yang terhiasi dengan bekas cairan berwarna putih mengering disana dan sini itu terlihat familiar di mata Heni. Meski terlihat berantakan, Heni mengenali perempuan itu.
" Je-Jenar ?!"
