Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandoms:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2023-09-01
Words:
380
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
40
Bookmarks:
1
Hits:
808

Lucu, Ness lucu.

Summary:

“Lucu,” Kata Mihya.

Ness cemberut. Apanya yang lucu, coba?

Ness sudah susah payah beli lingerie yang cantik nan aduhai demi membuat kekasihnya senang. Tapi alih-alih dipuji sexy, hot, atau semacamnya, Ness malah dikatai “lucu” oleh Mihya.

Work Text:

“Lucu,” Kata Mihya.

Ness cemberut. 

Apanya yang lucu, coba?

Ness sudah susah payah beli lingerie yang cantik nan aduhai demi membuat kekasihnya senang. Tapi alih-alih dipuji sexy, hot, atau semacamnya, Ness malah dikatai “lucu” oleh Mihya.

“…Mihya jahat.”

Michael Kaiser — Mihya, Ness senang memanggilnya begitu — hanya tersenyum geli. “Terus kamu mau dibilang apa, hmm?”

Ness tidak menjawab. Ia memilih untuk menunjukan kepada Mihya seberapa seksi dirinya itu melalui aksinya.

Perlahan, Ness menurunkan tali lingerie dari kedua bahunya yang mungil itu. Ekspresi Mihya masih belum berubah — tapi tak apa, ini masih permulaan.

Lanjut, Ness merangkak dengan tangan dan kakinya menuju Mihya, yang sembari tadi berbaring di atas bantal mewahnya itu, dengan kedua lengan terlipat di belakang kepalanya, menatap Ness lekat-lekat dengan tatapan yang sulit diartikan.

Ness tersenyum — Ness tahu, Mihya menyukai senyumannya. Dengan senyumannya yang menggoda itu Ness mendudukan pantatnya di paha Mihya. Ia merogoh boxer Mihya, mengeluarkan batang kejantanan kekasihnya itu yang kini telah setengah berdiri.

“Aku kulum, ya?”

Ness tidak menunggu jawaban Mihya. Ia langsung mulai menjilati batang Mihya yang berdenyut itu, memasukannya di antara belahan bibirnya, sebelum akhirnya mulai menghisapnya hingga batang Mihya berdiri seutuhnya.

Tidak hanya itu, bukan Ness namanya jika ia tidak pikir panjang. 

Selama mengulum batang Mihya di mulutnya, Ness menyibukkan jari-jemarinya guna menyiapkan lubangnya untuk Mihya. Tentu, Ness sudah pandai dan cekatan dalam hal ini. Tidak butuh waktu lama bagi dirinya yang berpengalaman untuk melonggarkan lubangnya yang semulanya sempit itu.

“Kalo Mihya gak mau gerak, ya udah, aku yang gerak,” tukas Ness, masih sedikit kesal dengan kekasihnya itu.

Mihya hanya mengangkat kedua alisnya yang elegan, menantang dalam diam.

Oh, gitu. Fine.

Ness pun mendudukan dirinya di atas kejantanan Mihya. Perlahan, namun pasti, ia menurunkan pantatnya.

Belum sampai setengah jalan, Ness sudah melenguh, hampir menangis. Ternyata belum cukup persiapannya. Lubangnya masih terlalu sempit.

Sial.

Sementara itu, Mihya justru tersenyum geli. “Ada apa? Susah ya, kalau sendiri?”

Ness menggigit bibirnya. Ia tidak ingin kehilangan harga dirinya. Tapi kalau untuk Mihya… Tapi…

“I-Iya, Mihya, tolong aku…”

Mihya terkekeh. “Tuh, kan? Apa kubilang juga…”

Dengan mudahnya, Mihya mendorong Ness dan membalik posisi mereka.

Kini, Mihya yang merangkak di atas Ness, tersenyum penuh kemenangan. Dan di bawahnya, Ness hanya bisa menggadah ke atas dengan pasrah.

“Lucu. Ness, kamu itu lucu.”

…Kali ini, Ness mengakuinya. Mungkin memang ia yang lucu.