Work Text:
“Mau ke mana kamu pakai baju ketat dan terbuka kayak gitu?”
Meli menghela nafas, memutar bola matanya selayaknya anak remaja lepas ditegur. Menghadap kakaknya, tangan Meli sedikit mengepal, sambil memilin gagang tasnya yang terbuat dari bahan kanvas. “Mau jalan-jalan sama temen-temen aku, a.”
“Nggak ada baju lain?” Tanya kakaknya sekali lagi. “Kamu mau jalan sama pacar kamu itu, kan?”
“Ugh, kalau iya emangnya kenapa?”
Wajah kakaknya mengeras, dan dalam hitungan detik, ia berdiri di hadapan Meli – jarak yang tersisa kurang dari lima centimeter.
“Kamu ini masih kecil, Meli. Nggak takut kamu jalan-jalan pake baju minim dan ketat kayak gini?” Tanya kakaknya sambil mencolok dada Meli yang baru mulai membusung, “Pentil kamu keliatan ke mana-mana, paha kamu ke mana-mana, nggak takut? Nggak takut diperkosa sama pacar kamu?”
“A-apaan sih,” Meli mendorong tangan kakaknya, wajahnya bersemu merah. “Nggak usah lebay, deh. Aku tuh udah SMA, udah gede! Aku bisa jaga diriku sendiri – aaak!”
“Ganti. Baju. Kamu,” ucap kakaknya sekali lagi, tangan Meli kini erat dalam cengkeramannya. “Atau kamu maunya aa yang gantiin baju kamu? Iya?”
“A-apaan sih–”
“Iwan, nggak boleh galak-galak sama adeknya!”
Sontak, mereka berdua saling melepaskan diri, dan langsung menghadap ke ayah mereka sambil menunduk. Laki-laki lanjut usia tersebut hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan kedua anaknya. Padahal, yang pertama sudah masuk usia 35 tahun, sementara yang satunya masih 15 tahun – tapi masih saja bertengkar.
Meli mengepalkan kedua tangannya dengan wajah yang ia yakini merah padam, dan nafasnya ikut memburu. Ucapan aneh kakaknya masih terputar di kepalanya.
"Meli, kenapa kamu pakai baju minim? Aa juga, kenapa galak sama adeknya? Kan, aa bisa nasihatin adek secara baik-baik."
“Iya, maaf bah,” jawab kakaknya lebih dulu, kembali membuat Meli kesal. “Saya khawatir ngelihat si Meli pakai baju minim. Jaman sekarang makin banyak orang jahat, bah."
"Tapi–"
Meli hendak melawan, tapi wajah kakaknya yang kesal membuat Meli terdiam. Mengharapkan pembelaan dari Abah ternyata sama saja, Abah hanya diam dan tidak membela Meli sama sekali. Merajuk, Meli pun menitikkan air mata kesal dan menghentakkan kakinya, kembali ke kamar untuk berganti pakaian. Di kamar, Meli mengirimkan pesan singkat untuk pacarnya, Herman: Ak agak telat yh, si aa rese ak dsuruh pk baju lain🙄😡 Awas aja km cntil2 ke cwk lain!!!
"Meli."
Mendengar suara si kakak, Meli spontan memutar bola matanya. "Apa lagi, a…"
"Aa minta maaf udah kasar ke Meli," ucap kakaknya, menutup pintu di belakangnya sambil berjalan mendekat untuk mengusap lengan Meli yang tadi ia cengkeram. "Yang mana lagi yang sakit?"
Mendengar suara lembut sang kakak, Meli spontan mewek dan sesenggukan – berhamburan ke pelukan kakaknya. "Aa jahat ke Meli… Kenapa lengan Meli dicengkeram kayak tadi? K-kan sakit… Meli s-sakit hati…"
Punggung Meli diusap-usap, pucuk kepalanya dikecup oleh sang kakak berkali-kali. "Iya… maafin aa udah kasar, tapi maksud aa baik. Aa khawatir sama Meli, nggak mau Meli kenapa-kenapa."
"T-tapi kan Meli udah gede, a. Meli bisa jaga diri…"
Sang kakak melepas pelukannya untuk mengusap pipi Meli, lalu menggelengkan kepala. "Walaupun Meli udah gede, selama Meli belum nikah, aa harus jaga Meli. Itu tugasnya aa. Lagipula, Meli akan selamanya jadi gadis kesayangan aa. Sampe aa mati nanti Meli bakal selalu aa lindungin."
"Iiiiih, aa," rengek Meli, menangis lebih kencang, "jangan ngomong mati dulu. Meli sayang aa, nggak mau aa pergi!"
"Nggak," ucap kakaknya, menenangkan. Ia menciumi pipi dan kedua kelopak mata Meli. "Aa nggak akan ninggalin Meli…"
"J-janji?"
"Aa janji… Asal Meli juga janji akan selalu nurut sama aa, ya?"
Meli menggembungkan pipinya, tapi mengangguk, karena pikiran bahwa kakaknya akan pergi meninggalkannya lebih menyeramkan daripada kehilangan Herman atau teman-temannya yang lain.
"Pinter," ucap si kakak, kembali mencium pipi Meli – sampai hampir mengenai bibir Meli. "Aa temenin ganti bajunya, nanti aa yang antar."
"Yaudah, bantu bukain baju Meli, soalnya ketat banget." Ucap Meli sambil mengangkat kedua tangannya.
"Tuh kan, aa bilang juga apa," kakaknya menarik tank top yang dikenakan Meli, "ketat."
Saat pakaian Meli dibuka, wajah kakaknya langsung berubah merah padam, karena ternyata – Meli tidak memakai bra dan hanya memakai hansaplast untuk menutup pentilnya.
"Meli?!"
Meli buru-buru menutup dadanya, namun tangannya kembali ditarik oleh sang kakak sampai Meli mengaduh. "Aduh, a, pelan-pelan! Sakit!"
Sang kakak kembali melepaskan pegangannya, namun ia tetap melotot. "Kamu cuma pakai hansaplast?!"
Hansaplast yang menutup pentil Meli dicabut dengan kencang oleh sang kakak, membuat Meli melenguh karena pentilnya ikut tertarik. "P-pelan-pelan, a…"
"Berani banget kamu nggak pakai pakaian dalam? Kalau hansaplastnya lepas dan pentil kamu," kakaknya menoel pentil Meli, "kelihatan, gimana? Sengaja kamu biar bisa seks bebas sama Herman?"
Meli menggigit bibir, pentilnya terasa geli setelah ditoel-toel oleh kakaknya. "N-nggak…"
Pentil Meli dicubit oleh sang kakak, dan bukannya mengaduh, Meli malah melenguh. "E-eh, nnnngh, aduh, a… Geli…"
Sang kakak sempat terdiam melihat reaksi Meli, tapi tiba-tiba nafasnya sedikit terengah dan suaranya menjadi lebih berat.
"Bayangin kalau hansaplastnya lepas, Meli," ucap sang kakak, memilin pentil Meli dan memijat payudara kenyalnya yang masih masa pertumbuhan. "Kegesek-gesek baju kamu yang ketat, dan pentil kamu jadi nonjol kayak gini. Gimana, Meli?"
"Nnnnngh, n-nggak tau… ah, a…"
Tubuh Meli dituntun untuk duduk di atas kasur, dan Meli seperti tidak bisa melawan – tubuhnya terasa lemas dan melayang.
"Aa nggak terima kalau Meli mau nakal sama Herman," ucap kakaknya, menciumi wajah Meli yang masih terpana, kemudian bibir Meli diusap dengan ibu jarinya. "Meli pernah ciuman sama Herman?"
Sebetulnya, belum pernah, tapi entah mengapa Meli mengangguk. "Pernah, a."
Wajah kakaknya kembali memerah, dan tanpa basa-basi, bibir Meli dilumat sampai Meli setengah berbaring di kasurnya.
"Hmmmmh, aa–" Meli berusaha mendorong tubuh kakaknya karena ia merasa sesak.
Namun, raut wajah kakaknya berubah menjadi sedih. "Kenapa aa didorong? Meli nggak suka dicium sama aa? Meli cuma suka dicium sama Herman, ya?"
"N-nggak," Meli menahan tangan kakaknya. "Meli… Meli suka kok, dicium sama aa… tapi tadi Meli nggak bisa nafas."
Sang kakak mencermati wajah Meli, kemudian ia menantang Meli, "Kalau Meli suka dicium sama aa dan sayang sama aa, tunjukin."
Meli mengusap bibir kakaknya, kemudian mengalungkan kedua tangannya ke leher sang kakak sambil duduk di atas pangkuannya sebelum ia melumat bibir sang kakak. Spontan, kakaknya ikut memeluk tubuh Meli secara posesif – meremas pinggang Meli yang ramping dan terus naik sampai ke pentilnya yang mengacung tegak. Dimainkan pentilnya membuat Meli semangat dan secara insting menggesek-gesek selangkangannya ke paha si kakak.
Tidak berhenti di situ, sang kakak melepaskan lumatan bibir Meli dan mulai menciumi leher Meli yang jenjang – sedikit memberikan gigitan dan hisapan yang membuat Meli merasa perih tapi enak. Lalu, ciumannya turun ke dada Meli, dan pentil Meli menjadi sasaran utamanya. Pentil Meli dikulum, disedot-sedot, digigit-gigit pelan – Meli sampai menggelinjang dan celananya basah kuyup.
"Nnnnngh, s-sebentar, a… Ini celana Meli kok basah, ya?"
"Hmm…?" Sang kakak berhenti mengulum pentil Meli. "Mana, sini aa liatin, takut kenapa-kenapa."
Sang kakak meminta hal itu dengan wajah datar dan nafas yang terengah-engah, membuat Meli sedikit ragu – tapi tetap ia turuti karena ia tidak mau melawan kakaknya lagi. Mengikuti permintaan kakaknya, Meli pun duduk bersandar ke dipan dan membuka lebar kedua kakinya, menunjukkan celana dalamnya yang basah.
"Tuh, a… basah banget."
Celana dalam Meli disibak ke samping oleh sang kakak, dan Meli memekik pelan saat jempol kakaknya bersentuhan dengan lipatan vaginanya.
"Sakit…?"
"Nggak, a… k-kaget aja, soalnya tangan aa dingin, terus, hmm… geli…"
Kakaknya mengangguk, lalu lanjut menggosok-gosok area vagina Meli dengan jempolnya. Meli menggigit bibir, bingung harus bereaksi apa, apalagi selangkangannya terasa semakin basah.
"Aa isep, ya? Basah banget, nggak bisa diseka pake tangan ini mah."
"Oh, gitu ya… I-isep gimana, a?"
Kakaknya melepas kacamata yang ia kenakan – yang entah mengapa membuat Meli semakin deg-degan – lalu tidur tengkurap menghadap selangkangan Meli.
"Kayak gini," ucap si kakak sebelum menjilat klentit Meli dan menghisapnya, membuat Meli belingsatan karena malah jadi ingin pipis. "Yang lagi aa isep ini klentitnya Meli. Enak, kan?"
"Aaaahh astaga, aa… Mmmmh, aduh, jadi makin basah, a…"
"Nggak apa-apa, nanti aa telen semuanya."
Sang kakak lalu memijat klentit Meli, kemudian menusuk-nusukkan lidahnya ke dalam memek Meli yang spontan cengap-cengap ingin menahan lidah si kakak di dalam. Meli pun menarik rambut kakaknya, berpegangan karena perutnya terasa geli dan kencang.
"Aa, lepasin…! Meli mau pipis!"
Namun, kakaknya nampak tidak peduli, dan malah semakin asyik menusuk-nusuk liang kawin Meli dengan lidahnya yang panjang. Alhasil, Meli pun memekik dan menggelinjang – ia pipis di dalam mulut kakaknya sampai wajah kakaknya ikut basah kuyup. Melihat hal tersebut, Meli merasa malu dan rasanya ingin menangis lagi, ia pun menutup wajahnya dengan dua tangan.
"Meli, Meli, liat aa," ucap kakaknya, menarik kedua tangan Meli. "Meli jangan malu. Aa malah seneng Meli kencing di mulut aa."
"Iiiih, aa… Meli malu…"
Kedua tangan Meli dituntun ke area selangkangan sang kakak, dan Meli tersipu merasakan ada yang keras di balik celana kakaknya.
"Meli bisa ngebuat aa kayak gini," ucap sang kakak, menurunkan ritsleting celananya menggunakan tangan Meli – menunjukkan penisnya yang besar dan sekeras batu. "Liat, aa juga basah."
Sang kakak menuntun tangan Meli untuk menggosok kepala kontolnya, merasakan lendir pra-ejakulasi yang telah keluar dari sana, dan membuat Meli tertegun. Ini kali pertamanya melihat alat kelamin laki-laki.
"Coba jilat punya aa," perintah kakaknya.
Tanpa ragu, Meli menjilat kepala kontol sang kakak yang membuat kakaknya mendesis dan meremas tangan Meli – membuat Meli semakin berani untuk memasukkannya ke dalam mulut.
"Sssssh, aaah, Meli… coba masukin lagi lebih dalem…"
Meli pun memasukkan kontol kakaknya lebih dalam, matanya sampai berair karena menyodok tenggorokannya. Namun, desahan sang kakak berhasil mengalahkan rasa ingin muntahnya. Mengikuti tempo sang kakak, Meli membiarkan kakaknya bergerak maju mundur untuk memompa kontolnya di dalam mulut Meli.
"Mulut Meli enak banget," desah sang kakak, "rasanya beda kalo waktu Meli lagi tidur."
Meli tidak mengerti maksud pernyataan kakaknya, tapi Meli tidak mau ambil pusing. Ia asyik mendengarkan racauan kakaknya yang penuh nafsu.
"Ahh, lepas dulu Meli, aa nggak mau keluar di sini."
Meli ingin protes dan merajuk, tapi kakaknya lebih cepat menarik diri. Sang kakak mendesis, makin banyak cairan pra-ejakulasi yang menetes dari kontolnya.
"Meli, baring, abis itu sibak celana dalem kamu ke samping."
Entah ada sihir apa, Meli menuruti permintaan sang kakak dan memposisikan dirinya untuk berbaring – celana dalamnya pun disibak ke samping.
"Cantik, belum tersentuh," komentar si kakak, kemudian menggesek-gesek kepala kontolnya ke klentit Meli yang basah kuyup, dan mereka berdua sama-sama melenguh. Sesekali, si kakak akan mendorong kepala kontolnya ke dalam liang kawin Meli, dan Meli tidak akan sadar. Pertahanan diri sang kakak pun runtuh dan ia ingin nekat.
"Aa boleh masuk ujungnya aja, nggak? Aa nggak tahan…"
Meli menggigit bibir, ia tidak bisa banyak berpikir. "S-sakit nggak, a?"
"Nggak akan sakit," janji sang kakak, menekan-nekan kepala kontolnya ke dalam liang kawin Meli. "Nggak kerasa, kan? Ini gampang sih masuknya, Meli lagi basah banget juga."
"Y-yaudah…"
Meremas paha Meli, sang kakak pun mendorong kontolnya masuk ke dalam memek Meli – mati-matian menahan diri agar tidak bucat dalam satu dorongan. Memek Meli yang basah berlendir merenggang terbuka secara perlahan, mengakomodasikan ukuran kontol sang kakak yang di atas rata-rata. Melihatnya membuat sang kakak hampir gila.
"Tahan, ya… Aa masuk pelan-pelan biar Meli nggak kesakitan… Aa juga nahan biar nggak langsung crot, karena memek Meli seenak itu… Sssssh..."
Setelah semuanya masuk, si kakak mengambil nafas dalam-dalam sebelum menarik kontolnya keluar dan didorong masuk lagi. Efeknya pun instan, Meli langsung melenguh kencang dan sang kakak muncrat pra-ejakulasi di dalam.
"M-meli, enak banget sayang, aa nggak tahan." Sang kakak mulai mempercepat genjotannya, mendesis keenakan tiap kepala kontolnya menubruk mentok dinding vagina Meli.
"Aa… Enak… Perut Meli kerasa geli, Meli mau pipis…"
"Enak?" Tanya si kakak sambil menggenjot lebih cepat, deru nafasnya terdengar jelas dan kencang. Jepitan memek perawan Meli membuat kakaknya seperti ABG yang sedang puber. Cepat ejakulasi!
"Maaf, aa udah nggak tahan mau meledak di dalam. Aa nggak bisa lama-lama. Udah di ujung."
"I-iya nggak apa-apa, a…" Meli memejamkan matanya sambil menggigit bibir, merasakan kontol kakaknya yang sembarangan keluar-masuk mengawininya.
"Aaaah, ah, Meli, M-meli–"
Benar saja, tidak lama kemudian sang kakak bucat di dalam – dengan sembarangan mengisi memek Meli dengan pejunya yang kental dan banyak sampai meluber keluar. Meli hanya bisa pasrah, tergeletak di kasur karena sang kakak belum puas menggenjot.
⭐⭐⭐
Akhirnya, setelah orgasme sang kakak selesai, Meli pun bisa bersih-bersih dan mengganti pakaiannya menjadi pakaian yang lebih sopan sesuai keinginan si kakak. Si kakak pun mengantar sampai ke tempat nongkrong, dan sebelum Meli pergi, si kakak melumat bibir Meli sepuasnya di dalam mobil.
"Jangan pulang malam-malam, aa akan jemput jam 5 sore. Nggak ada protes."
"Iya, a…"
Meli pun dilepas untuk pergi setelah satu ciuman terakhir. Saat di jalan pulang, si kakak hampir dibuat jantungan saat menerima pesan singkat dari Meli: Meli syg aa…mlm ini mw lg ya a…ngk sabar plg ktemu aa ❣😍
