Work Text:
Untuk anak seumuran Donghyuck yang duduk di bangku kelas dua SMA, Donghyuck termasuk anak yang cerdas. Donghyuck aktif dan termasuk anak laki-laki yang rajin, ia juga cerdas dan berprestasi di bidang non-akademik. Salah satunya futsal, meskipun ia termasuk anak laki-laki yang bertubuh ramping dan kurus, tapi ia memegang posisi sebagai kapten futsal di sekolahnya.
Meski begitu, ia termasuk salah satu anak yang pintar di kelas. Donghyuck gak pernah keluar dari ranking sepuluh di kelasnya. Yah, meskipun kebanyakan peringkat atas didominasi oleh teman-teman perempuannya, tapi Donghyuck setidaknya bisa memertahankan nilainya di batas yang aman.
Tetapi meski nilainya selalu bagus, ada satu mata pelajaran yang Donghyuck sangat buruk untuk mengikutinya. Yakni bahasa inggris. Entah kenapa tapi bahasa inggris itu susah sekali untuk ia pelajari meski Donghyuck tergolong anak yang cerdas. Mungkin kendala pelafalan selama ini masih menghambatnya belajar.
Hal ini gak lepas dari pengawasan ibu yang selalu ingin anaknya punya nilai sempurna. Ibu bilang kalau mau terus dibolehin main futsal, Donghyuck juga harus nurut ikut kelas bahasa inggris sesuai yang ibu sudah atur. Donghyuck sih oke-oke saja. Nah masalahnya, ternyata ibu meminta tolong untuk mengajarkan Donghyuck bahasa inggris secara privat dengan Pak Mark yang merupakan native speaker.
Pak Mark. PAK MARK. Iya, Pak Mark yang itu. Guru muda baru di sekolahnya yang sudah beberapa bulan ini mengajar di kelasnya. Aduh, bukannya gak mau, tapi Donghyuck malu betul kalau mesti dibantu naikin nilai sama Pak Mark. Meski begitu, tetap saja Donghyuck mesti nurut dan mengikuti kelas yang sudah diatur oleh ibu dan Pak Mark.
Jadilah sekarang ini, sesuai dengan jadwal privatnya, Donghyuck terjebak di apartemen Pak Mark seperti minggu-minggu kemarin. Membaca teks bahasa inggris sampai pusing dan mengerjakan soal. Donghyuck benar-benar ingin merasa muntah setiap memasuki apartemen Pak Mark yang minimalis dan rapih ini karena diingatannya hanya ada teks-teks dan soal-soal susah saja.
“Kamu kenapa?” Tanya Pak Mark menyadari pucatnya wajah Donghyuck yang sedang mengerjakan soal di sampingnya. Ia sendiri sehabis mengambil susu hangat di dapur “wajahmu lesu gitu, Donghyuck.”
Si remaja mengesah dramatis. Ia memegangi kepalanya dan meringis.
“Pusing pak, boleh istirahat sebentar gak siihhh?”
Pak Mark tersenyum. Ia meletakan gelas itu tepat di samping buku-buku Donghyuck dan kemudia duduk di samping remaja itu.
“Boleh. Minum gih, biar pusingnya redaan,” ucap Pak Mark dengan lembut “udahan dulu ngerjain soalnya.”
Mendengar jawaban itu Donghyuck tersenyum lebar. Ia mengambil gelas yang baru saja disodorkan ke arahnya.
“Makasih pak! Hehe. Ini juga, makasih susunya pak.”
Pak Mark cuma tersenyum. Dalam diam mengamati remaja lelaki di hadapannya ini.
Bukan hanya karena permintaan seorang ibu wali murid ia bersedia mengajarkan seorang remaja mata pelajaran yang ia ajar sebagai guru. Tetapi karena ia diminta untuk mengajar Donghyuck, murid yang menyita perhatiannya belakangan ini. Selama di kelas dan dilingkungan sekolah, Mark kerap menghabiskan waktunya dengan memerhatikan Donghyuck.
Ya, Mark rasa, ia menyukai anak ini.
Ia tau perasaan ini salah, ia tertarik dengan muridnya sendiri. Jelas sesuatu hal yang keliru. Bagaimana Mark selalu salah fokus untuk menatap betis mungil Donghyuck yang mengenakan celana seragam sebatas lutut, Mark yang senang memandang tubuh berkeringat Donghyuck tiap kali anak itu selesai eksul, dan Mark yang entah kenapa selalu ikut tersenyum tiap kali melihat Donghyuck tersenyum atau sekedar bengang-bengong pas pelajaran karena gak ngerti sama materi yang lagi disampaikan.
Mark tau ini salah. Bagaimana juga ia bisa jedag-jedug hatinya ngeliat seorang remaja bertubuh kurus dengan seragam yang selalu berantakan. Tapi, selama ngajarin Donghyuck di apartemennya sendiri, Mark juga gak kalah jedag-jedug ngeliat Donghyuck pakai baju main biasa. Donghyuck tambah kelihatan gemas, kelihatan cantik.
Dan bahkan tak hanya tertarik dalam konotasi menyukai saja, Mark sangat senang memandangi tubuh anak itu. Dan jelas ia juga tertarik untuk melakukan sesuatu hal lain terhadap Donghyuck.
“Senderan sini, Hyuck.”
Mark melancarkan aksi modusnya. Tarik lengan Donghyuck biar bersandar di bahunya. Dan Donghyuck yang masih asik minum susu, nurut aja begitu Pak Mark tarik tubuhnya ke sisi. Ia mengistirahatkan kepalanya di bahu Pak Mark.
Bukan canggung lagi dia melakukan hal itu. Selama main ke apart Pak Mark, guru itu menyuruhnya untuk bersikap lebih santai dan yang lebih tua pun juga bersikap bersahabat dan terbuka dengannya. Maka Donghyuck menurut saja dan mengikuti apapun yang Pak Mark perintahkan padanya.
Ibu bilang Donghyuck memang harus menurut pada Pak Mark supaya cepat dapat nilai bagus di mata pelajaran Bahasa Inggris. Supaya Pak Mark mau naikin sedikit nilai Bahasa Inggris Donghyuck yang kayaknya udah gak ketolong lagi meskipun dia belajar habis-habisan.
“Pusing banget tau pak, belajar bahasa inggris. Tapi ibu suruh saya belajar terus,” Donghyuck mulai mengeluh “saya heran kok bisa ya ada yang jago bahasa inggris.”
“Ya, itu karena mereka belajar giat, Donghyuck.”
“Ih, tapi saya juga belajar giat tau pak!” gelas diletakan Donghyuck di antara pahanya, ia meremat kencang pegangan gelas “saya belajar sampai malam, sampai mimisan. Tetep aja kemarin saya dapet C juga buat bahasa inggris.”
Mark hanya menanggapi dengan senyum atas keluhan Donghyuck. Tetapi matanya liar kemana-mana ngeliatin paha Donghyuck yang cuma pakai celana main pendek.
Bukan salah Donghyuck. Anak itu cuma pakai baju main biasa. Tapi dasarnya aja pikiran Mark yang udah melalang jauh. Pikirannya gak bisa tenang ngeliat paha mulus remaja itu.
Ngundang buat dielus. Mark membayangkan akankah paha itu selembut kelihatannya? Enak gak ya kalo gesek-gesek kontol kesitu? Kan, kontolnya cenat-cenut sendiri ngebayangin.
“Mungkin kamu harus kurang-kurangin main, Donghyuck. Biar fokus buat akselerasi kenaikan nilai pelajaran yang kamu kurang,” Mark berusaha mengalihkan pandangan dan menatap Donghyuck yang juga lagi ngeliat ke arah dia “contohnya di pelajaran bahasa inggris ini.”
Mark lihat ada bekas susu di bibir Donghyuck. Oh, sial. Bibir bentuk hatinya lucu banget. Tak tertutup rapat dan terbuka gemas. Yang lebih tua gak bisa menahan jarinya untuk mengelap bekas susu itu. Begitu menyeka susu di bibir Donghyuck, Mark mesti menggigit bibir bawahnya sendiri untuk menahan hasrat mencium bilah penuh sang remaja polos dihadapannya. Saat mengusapkan jari, Mark meringis merasakan begitu kenyal dan penuhnya bibir Donghyuck.
“Saya gak sering main kok, pak. Game udah saya kurangin, paling futsal doang.”
“Ya, itu. Futsal mungkin juga harus kamu kurangin.”
“Ih, kalo gitu terus saya happy darimana, dong?? Masa futsal dilarang juga?!”
Mark tertawa mendengar omelan Donghyuck. Ia memandangi remaja itu dari samping, bagaimana bibirnya mencebik dan pipinya tumpah-tumpah. Anak ini begitu lucu. Polos dan blak-blakan. Mark menyukainya. Ia sangat menyukainya.
Hingga ia gak bisa menahannya lagi.
“Memang kamu happy ya kalo main futsal begitu?”
Donghyuck mengangguk semangat. Mengabaikan tatapan lapar dari sang guru dan juga belaian dari rangkul di bahu.
“Dari kecil saya suka main bola, kalo lagi pusing pasti larinya ke bola.”
“Tapi kan capek,” mata Mark mulai menurun, mamandangi dada Donghyuck yang sedikit mengintip dari kaus tipis yang dikenakan “memangnya gak capek kalau main bola terus?”
“Nggak,” jawab Donghyuck yakin “umm.. tapi capek juga sih. Cuma kan happy,jadi gak terlalu dipikirin.”
Donghyuck akhirnya menghadap Pak Mark lagi. Kali ini ia baru sadar bahwa sang guru muda itu memandanginya dengan terlalu intens.
“Kenapa…. pak?”
“Kamu sadar gak kalau lagi main futsal,”
Donghyuck terdiam saat jemari Pak Mark terangkat, dan malah diletakan di dadanya.
Donghyuck membatu sesaat ketika merasakan ada sensasi aneh kala Pak Mark membelai dadaya dari luar. Menyinggung puting menyembul Donghyuck dari luar kaus. Membuat anak itu harus meremat ujung celana pendeknya untuk menahan gemetar saat beberapa saat Pak Mark masih saja tetap mengelus dadanya.
“puting kamu ini, suka ngintip-ngintip dari balik kaus?”
Reflek Donghyuck menyilangkan tangan di depan dada, tetapi Pak Mark belum juga menyingkirkan tangan dari dadanya dan tetap merangkulnya dekat.
“M-masa, pak?” Donghyuck mulai malu “tau darimana?? Saya gak tau.”
“Donghyuck, saya ini suka perhatiin kamu kalau di sekolah,” Pak Mark tersenyum tenang. Berbanding terbalik dengan aktifitas bejatnya yang masih terus-terusan menggeranyangi tubuh muridnya sendiri “jadi kamu gak sadar, ya? Saya pikir kamu sadar terus emang sengaja pamer nenen gitu kalau lagi main.”
“Nenen…” Donghyuck melirih. Merasa ada yang aneh saat Pak Mark membelainya seperti ini, Donghyuck mulai mendorong tubuh Pak Mark menjauh “Donghyuck gak ada nenen!”
“Loh, terus ini apa?” Jemari Pak Mark mulai meremat buah dada Donghyuck dengan kencang dan memilin ujungnya dari luar kaus main anak itu “montok kayak gini dadanya, namanya apa kalau bukan nen?”
Pak Mark malah terkekeh gemas ketika melihat tubuh Donghyuck menggelinjang. Ia juga sadar bahwa anak ini merapatkan pahanya ketika ia memainkan dadanya. Sepertinya selain punya dada yang berisi, Donghyuck juga sensitf di bagian tersebut.
“P-pak… Stop, ini aneh.”
“Aneh gimana?”
Donghyuck juga gak mengerti. Pak Mark sudah biasa mengelus kepalanya, bahunya, menyentuh pahanya, dan itu biasa saja baginya. Tetapi ketika Pak Mark mulai menyentuhnya di bagian dada, ada hal aneh yang ia rasakan di bagian selatan tubuh.
“Geli.”
Mark terkekeh mendengar lirihan Donghyuck. Kini remaja itu di matanya malah terlihat amat gemas. Menunduk malu-malu dengan tubuh gemetar. Tiap kali Pak Mark sengaja memelintir putingnya, Donghyuck terentak kaget.
Tak nyaman dengan tindakan sang guru, Donghyuck mulai berontak.
“Ssstt, nurut sama bapak, ya?”
Donghyuck memekik, pahanya semakin rapat. Pak Mark mencubit putingnya.
“U-udah, pak. Lepas.”
“Ssssstt, nurut sama bapak kalau kamu gak mau bapak adukan ke ibu kamu Hyuck.”
Donghyuck membuka matanya yang terpejam, ia mendorong dada Pak Mark dan menatapnya dengan mata berair “kenapa… diaduin?”
“Donghyuck nakal sama bapak, gak nurut sama bapak. Donghyuck anak bandel, ya kan? Bapak aduin aja ke ibu kamu kalo kamu ngelawan.”
Reflek anak itu menggeleng. Apapun yang ia lakukan, jadi jahil, terlalu banyak main, suka malas membantu ibu, apapun itu tapi dia gak pernah mau jadi anak nakal di mata ibunya.
“Bukan, pak…”
“Kalau gitu diam,” ucap Pak Mark, mulai gak sabar. Donghyuck sudah berada direngkuhannya, gak mungkin dia lepas lagi, kan? “diam dan ikutin aja.”
Donghyuck benar-benar diam, saat tangan Pak Mark menyelinap masuk ke dalam kausnya. Seketika nafasnya memberat, kasarnya jemari Pak Mark yang memainkan putingnya membuat kepalanya pusing.
“M-mm geliii.”
“Geli? Atau enak?”
Donghyuck gak tau. Dia ada di antara keduanya. Rasa asing yang baru ia kenal. Donghyuck belum pernah menyentuh dirinya sendiri seperti ini sebelumnya. Ia benar-benar awam.
“P-pak Mark…”
“Jawab, Donghyuck,” Pak Mark menjepit puting Donghyuck, lalu menggeseknya dengan lembut “enak atau sakit diginiin?”
“Ng… nggak sakit pak.”
“Jadi enak?”
Donghyuck cuma diam saja. Gak yakin akan jawabannya. Yang ia rasakan cuma jadi timbul rasa geli di perutnya, juga di titik dada itu. Dan senggamanya jadi terasa seakan mau pipis.
“Donghyuck, jawab. Ini enak gak? Jangan jadi anak bodoh yang gak bisa mikir tentang tubuh kamu sendiri, Donghyuck.”
“E-enak pak,” Donghyuck meremat kaus Pak Mark “rasanya..umh, geli tapi-enak.”
Pak Mark tersenyum. Rupanya Donghyuck memang harus dibentak dulu baru paham.
Mulai berani, Pak Mark menarik kaus Donghyuck dan berusaha melepaskannya membuat anak itu jadi panik.
Walaupun belum pernah diajarkan sebelumnya kalau jangan mau dipegang-pegang sama orang lain, tapi setidaknya Donghyuck punya rasa malu buat telanjang di hadapan orang. Jadi Donghyuck gak terima kalau Pak Mark mau buka kaus mainnya.
“Bapak! Jangan!!”
“Kenapa jangan?”
Setelah berhasil lepas kaus Donghyuck, sebab anak itu kalah saing kalau disuruh bandingkan tenaga dengannya, Pak Mark remat pergelangan tangan Donghyuck yang berusaha jauhkan dirinya. Pak Mark gak suka aksinya diperhambat, Donghyuck sadar akan hal itu dan dia mulai menciut.
“Malu pak,” bisik Donghyuck. Sebelah tangannya yang lain yang tidak ditahan Pak Mark berusaha menutupi tubuh bagian atasnya. Ia menunduk makin dalam, menghindari tatapan Pak Mark yang kelihatan marah “saya gak suka liatin badan di depan orang asing.”
“Orang asing?” Pak Mark memotong cepat. Tangannya ganti menarik dagu Donghyuck untuk mendongak menatapnya “jadi saya orang asing buat kamu, ya?”
“Bukan.. bukan gitu pak maksud saya-“
“Padahal dari awal saya sudah bilang. Kalau mau mulai belajar sama saya harus lebih terbuka, Donghyuck,” Pak Mark melebarkan paha Donghyuck yang disambut kikuk oleh anak itu. Ia terdiam ketika Pak Mark memutar duduk menghadapnya dan menarik kakinya untuk direnggangkan di atas pangkuannya “contohnya gini, jadi gak perlu malu lagi sama saya.”
Mark tau ini gila, ini salah. Tapi tatapan polos Donghyuck, dan tubuhnya yang secara cepat merespon positif tiap sentuhan Mark membuatnya hilang akal.
Mark sepenuhnya melawan moril yang ada di kepala dan statusnya.
Dan Donghyuck menghias itu semua dengan keelokan tubuh yang ia miliki.
“Lihat puting kamu, semenjak saya enakin tadi jadi bengkak gini,” Mark menyentil kedua pucuk dada Donghyuck membuat itu menegang sepenuhnya.
Yang lebih muda terhentak. Nafasnya kembali memberat terutama saat telapak kasar Pak Mark mulai memijat pahanya.
“Kalau yang tadi enak berarti kamu mau lagi, kan?”
Donghyuck bingung harus jawab apa. Sebab meskipun merasa enak, tapi perasaan itu begitu asing dan membuat ia merasa ingin buang air kecil. Dan itu tidak nyaman.
Tanpa Donghyuck sadari, tangan Pak Mark sudah mencapai pangkal pahanya dan menyelip masuk mengelus selangkangannya dari dalam celana main bocah itu.
“Tapi pak…” Donghyuck menahan tangan Pak Mark, baik yang berada di pahanya maupun yang merangkul bahunya “..saya gak nyaman soalnya mau pipis sekarang.”
Tanpa disadari, Mark tersenyum senang.
“Loh, kamu dimainin putingnya gitu aja langsung pengen pipis?” Ia tersenyum lebih lebar “such a sensitive little slut, aren’t you Donghyuckie?”
“Huh??” Donghyuck berusaha mencerna bahasa inggris Pak Mark yang begitu beraksen kental “apa…”
“Kalau mau pipis begitu artinya kamu senang, Donghyuck,” dengan perlahan Pak Mark elus bahu Donghyuk lagi dan tangannya yang lain turunkan celana Donghyuck “artinya badan kamu senang. Badan kamu suka kalau bapak enakin kayak tadi. Jadi, kamu jangan pura-pura menolak padahal kamu senang sama yang tadi.”
“E-eehh pak, jangan!”
“Hush, Donghyuck! Yang barusan saya bilang apa? Jangan pura-pura menolak.”
Entah kenapa tubuh Donghyuck langsung membatu ketika Pak Mark membentaknya dari jarak sedekat ini. Ia begitu gemetar sekarang dan hanya menatap nanar celananya yang sudah teronggok di lantai bawah sofa.
Kini ia telanjang bulat di rengkuhan Pak Mark, dan ia begitu clueless mengapa Pak Mark menginginkan hal ini.
“Dingin…”
“Saya angetin, ya?” ucapan dan tatapan Pak Mark mulai melembut lagi. Donghyuck terdiam saat Pak Mark membuka pahanya dan membuatnya menyender di lengan sofa “fuck, bermemek kamu rupanya? Jadi ini kenapa tetek kamu gede kayak gadis perawan, kamu punya memek juga rupanya.”
“Hngg… Pak Mark jangan diliatinn,” Donghyuck mulai merengek malu.
“Ssst, awasin tangan kamu. Kasih unjuk saya, Donghyuck. Wah, cantik sekali pepek kamu,” Pak Mark dengan lapar mengelus labia Donghyuck yang terasa gemuk di jarinya dan menyelipkan jempolnya di lipatan itu “Ssshh rapet banget. Udah becek aja ini?”
Donghyuck gak bisa tahan gemetar tubuhnya. Ia gak bisa tahan pipisnya lagi apalagi ketika jempol Pak Mark yang asik ngubek-ngubek memeknya itu berkali-kali nyenggol klitoris Donghyuck yang dari tadi kedutan.
“Loh, kok ini basah banget, ya?” Pak Mark perhatiin ada sedikit air bening yang ngalir di tangannya “kamu pipis ya, Donghyuck?”
Bocah itu meringis. Tangannya reflek genggam tangan besar Pak Mark yang bersarang di senggamanya. Ia gemetar hebat. Lubang kencingnya sekarang sengaja dimainin sama Pak Mark.
“Pak Mark… Aduduhh, maaf. Maaf saya ngompol.”
Bukannya kesal, Pak Mark malah merasa senang bukan main lihat Donghyuck sudah kacau seperti ini. Dengan permainannya yang bahkan belum sampai inti, sudah mampu rayu tubuh polos Donghyuck yang belum terjamah hingga seperti ini.
“Gapapa Donghyuck, saya maafin. Tapi coba kasih liat, mana tadi yang ngucurin pipisnya?”
Donghyuck menunduk. Sadar bahwa dirinya baru saja buang air dihadapan seorang guru. Ia malu, rasanya begitu salah dan tercela. Tapi ia tadi hilang kontrol, sentuhan Pak Mark bikin dirinya terasa lemas. Ia sudah tahan sekuat mungkin agar tidak mengeluarkannya tapi tubuhnya berkata lain.
“Donghyuck, mana? Kasih liat saya,” ucap Pak Mark gak sabar.
Melihat Donghyuck diam saja, Pak Mark melebarkan sendiri pipi pantat Donghyuck hingga labianya ikut terpamer renggang. Donghyuck terkesiap ketika Pak Mark mendekatkan wajahnya kesitu.
“Bapak… J-jangan.”
“Hmm wangi, bersih,” Pak Mark mulai colek lagi memek Donghyuck yang kini udah becek total sama cairan bening dan kental “gak nyangka cowok kayak kamu punya memek secantik ini, Donghyuck. Pasti sempit banget ya, kalo saya bobol?”
Reflek Donghyuck mengetatkan liang kawinnya, kemudian mengendurkannya lagi seiring hembus nafasnya memberat. Dan Pak Mark terkekeh gemas lihat memek Donghyuck megap-megap dihadapannya.
“Pak Mark, jangan dimasukin. Nanti saya pipis lagi.”
“Gapapa Donghyuck, pipisin aja,” ucap Pak Mark sembari memasukan telunjuknya ke liang kawin Donghyuck “saya suka liat kamu pipis kayak tadi. Lagipula enak, kan? Pipis yang tadi enak kan Donghyuck?”
Kepala Donghyuck terasa begitu ringan ketika Pak Mark mengeluar masukan telunjuk itu di vaginanya. Demi apapun, ternyata Donghyuck baru tau kalau rasanya begitu enak ketika ada sesuatu yang menggesek lubang memeknya. Ia mendesah halus, terlalu malu untuk membuat suara yang menurutnya aneh kencang-kencang.
“Enak ya, cantik?”
“Unggh, iya pak,” lirih Donghyuck hampir seperti bisikan “..enak.”
Mark terkekeh. Ia kungkung tubuh muridnya sepenuhnya. Dengan halus bubuhkan satu dua kecupan di pucuk rambut Donghyuck. Ternyata meskipun bocah ini begitu periang dan ceplas-ceplos dikesehariannya, Donghyuck merupakan tipe yang pemalu dan pendiam kalau sudah begini.
Mark tarik telunjuknya dan hisap begitu jarinya terlihat dilumuri oleh cairan senggama Donghyuck. Dan si remaja yang melihat hal itu hanya bergidik.
“Pak... Itu kan jorok, jangan diemut.”
“Kalo dari memek kamu yang bersih dan cantik itu gak jorok, Donghyuck,” Mark mulai terlihat seperti orang sinting. Ia tersenyum melihat Donghyuck yang menatapnya ngeri, dengan tatapan kosong yang lapar. Sensasi rapatnya tempik Donghyuck di jemarinya saja sudah bikin dia terbayang-bayang kalau nanti penisnya yang masuk kesitu “justru enak. Pengen saya lahap semua lendir kamu di memek kamu ini sampai habis. Boleh, ya?”
“Giman-ahnggh!”
Belum sempat diberi ijin, Mark udah gak bisa tahan diri untuk melahap tempik Donghyuck yang tersaji dihadapannya. Dengan gak sabar ia jilati labianya dan emut-emut itil Donghyuck yang sedari tadi mengacung. Bagai orang rakus, Mark sedot lendir Donghyuck yang terus mengalir dari lubang yang memerah itu. Lidahnya ngobok-ngobok memek Donghyuck sampai kacau.
“Mmnnn p-pakk…”
Donghyuck gak mampu tahan desahnya yang semakin tinggi. Pahanya kini menjepit kepala Pak Mark yang berada di selangkangannya, dengan rakus memakan tempik beceknya.
Saat Pak Mark mengangkat kepalanya dari situ, Donghyuck bisa lihat wajah sang guru sudah penuh belepotan sama lendirnya. Ia merinding.
Dikiranya sudah berakhir, tapi ia rasakan memeknya kembali dimasuki oleh sesuatu. Kali ini dua jari, dicelap-celup ke dalam liangnya dan jempol Pak Mark mengucek itilnya kencang.
“Aduh, aduh! Pak Mark… Stop, aaanghh.”
Bukannya berhenti seperti yang dibilang, Pak Mark begitu menikmati pemandangan Donghyuck yang meronta-ronta di bawahnya. Tubuh anak itu gemetaran, begitu lemah untuk sekedar menolak. Sementara pahanya untuk menutup saja tak kuat, dan kalau pun paha Donghyuck menutup maka hanya akan menahan tangan Pak Mark untuk terus mempermainkan vaginanya.
“Enak, kan? Donghyuck? You liking this so much. Your body reacting so nicely to me, Donghyuck. I know this from the first, time. You liking me too, eh? You want this from me too, sweetheart.”
Donghyuck tak mampu mencerna kata-kata dalam bahasa inggris itu satupun. Otaknya sudah tak mampu dibuat berpikir. Ia sudah sibuk mendesah dan menangis, kala pinggulnya gemetar merasakan begitu berlebihannya rangsangan yang Pak Mark berikan ketika menggaruk senggamanya yang sama sekali belum terjamah tadinya.
“Pak Mark, Pak Mark stop!! Ampun. Saya gak kuat, nggghhh.”
Donghyuck pipis lagi. Kali ini mengucur deras meski belum juga tangan Pak Mark meninggalkan senggamanya. Matanya berair, ia menangis di antara rasa malu dan kenikmatan yang tiada tara. Sensasi ini memberikannya rasa nikmat yang membuatnya candu. Baru sekali ini, dan tubuhnya merasakan suatu euphoria yang begitu berlebihan dan asing.
Semenjak saat itu, pandangan Donghyuck terhadap apartemen Pak Mark tak sama lagi. Bukan soal-soal susah dan vocabulary memuakan lagi yang ia ingat begitu memijakan kaki tiap kali privat dengan Pak Mark, melainkan pengalaman itu. Saat ia pertama kali merasakan apa itu cum dan dipaksa untuk menyerahkan kepolosannya hingga squirt di hadapan sang guru.
