Work Text:
Pada zaman dahulu kala, sebelum peradaban di bumi dengan berbagai macam bentuk teknologi modern seperti saat ini berkembang, manusia hidup dengan cara yang paling sederhana untuk bertahan. Iklim dan cuaca yang sulit ditebak terkadang menjadi faktor utama yang membunuh puluhan jiwa yang hidup di dalamnya. Segala macam bentuk bencana dari alam yang masih ganas selalu melanda seolah dirinya tidak ingin ada satu pun jenis mahkluk hidup yang tinggal di sana. Bagi manusia yang masih kurang berakal, alam selalu memiliki cara untuk membunuh dan memusnahkan mereka dengan segala bentuk kekejamannya.
Namun, bukan hanya alam yang menjadi musuh utama manusia untuk mempertahankan eksistensinya di dunia. Setiap mahkluk yang turut hidup di masa itu juga selalu merasa haus akan darah murni manusia. Mulai dari tumbuhan mematikan hingga hewan-hewan buas akan selalu siap untuk mengincar mereka kapan saja. Kabarnya, hal itu terjadi akibat ulah dari seorang penyihir yang serakah. Penyihir itu hanya memiliki satu tujuan, yaitu hidup abadi selamanya.
Penyihir itulah yang menciptakan kemurkaan alam dan berbagai macam mahkluk mengerikan untuk menukar jiwa-jiwa para manusia dengan miliknya. Para manusia percaya bahwa, penyihir itu akan memburu setiap manusia di muka bumi ini untuk menjaga keabadian hidupnya selamanya. Penyihir itu tidak akan berhenti sampai dirinya merasa puas hidup di dunia. Untuk itu, sampai saat ini penyihir itu masih terus berburu demi kekekalannya.
Entah itu kenyataan atau hanya mitos belaka, masih belum ada yang bisa membuktikan kebenarannya. Yang jelas, setiap manusia masih berusaha memperjuangkan hidup mereka dari hari ke hari sampai mati bersama bencana dan puluhan monster buas yang mengincar mereka. Hal ini membuat jumlah populasi manusia menjadi sangat langka bahkan hampir bisa dikatakan punah.
Benar, punah. Manusia yang diyakini sebagai mahkluk ciptaan Tuhan paling cerdas saat ini ternyata pernah dinyatakan nyaris punah. Sebelum mereka benar-benar dapat menggunakan otaknya untuk bertahan hidup, alam dan mahkluk buas di muka bumi ini nyaris membuat keberadaan manusia musnah dari permukaannya. Hanya manusia-manusia terkuat yang dapat bertahan hidup dan melanjutkan keturunannya untuk menciptakan peradaban baru seperti sekarang.
Untuk mempertahankan keberadaannya, para manusia biasa hidup dalam bentuk koloni-koloni kecil dan jarang sekali menetap di satu tempat dalam kurun waktu lama. Mereka biasa hidup berpindah-pindah, mencari tempat paling aman untuk singgah dan membesarkan keturunan—belum ada yang mengenal gagasan nyaman. Setiap koloni tersebut hidup bersembunyi di dalam hutan. Bahkan, mereka tidak saling mengetahui kehadiran satu sama lain. Jumlah di dalam koloni mereka harus selalu dijaga, sebab jika terlalu banyak akan mempersulit ruang gerak mereka. Namun, jika jumlah mereka terlalu sedikit akan membuat koloni mereka menjadi rentan untuk diserang.
Setiap koloni memiliki seorang pemimpin. Seseorang yang dianggap paling kuat, paling tangkas, dan paling bisa untuk diandalkan. Seseorang dengan pengalaman hidup paling lama atau dengan kata lain, seseorang yang tidak mati meski sudah hampir terbunuh berkali-kali.
Jeon Jeongguk merupakan seorang pemimpin di dalam koloninya saat ini. Usianya masih terbilang cukup muda, namun cukup tua sebab jarang sekali manusia yang dapat melewati batas usianya yang sekarang. Beberapa di antara manusia lain kebanyakan lebih dulu mati sebelum menginjak usia dua puluhan dan Jeongguk sekarang sudah melewati batas usia itu empat tahun yang lalu. Jadilah dirinya dipercaya untuk memimpin koloninya mencari tempat tinggal paling aman untuk disinggahi sementara waktu.
Ada beberapa alasan mengapa harapan hidup manusia di zaman ini sangat rendah. Selain dengan tantangan alam yang menguji ketangkasan dan keterampilan bertahan hidup yang tinggi, kebanyakan hewan buas dan tanaman liar mematikan sangat menyukai darah manusia murni yang masih muda. Itulah mengapa kebanyakan anak-anak tidak sampai berhasil tumbuh dewasa. Meski stamina mereka masih prima untuk berlindung dari bencana alam, nyatanya mereka tidak cukup tangkas untuk menghindar dari para pemangsa.
Adapun jika para manusia itu berhasil lolos hingga usia mereka cukup matang, tantangan selanjutnya adalah menjaga fisik tetap prima demi menghadapi bencana alam yang tiada hentinya.
“Hidup di zaman ini sungguh menyusahkan. Tenagaku sudah habis untuk berlari menghindari gigi-gigi tajam hewan buas sewaktu kecil. Kini aku sudah dewasa, rasanya bahkan masih sulit untuk memejamkan mata sebab tanah longsor atau badai bisa melenyapkan diriku kapan saja.” Keluh Jimin, salah satu anggota koloni Jeongguk. “Rasanya kaki-kakiku ini sudah hampir tidak bisa bertahan lagi. Lihat? Betapa kurusnya mereka. Seperti batang-batang pohon tebu.”
Jeongguk mendengus sembari tersenyum. Tangan-tangan tangkasnya yang kekar sibuk mengasah tombak selagi keduanya berjaga.
“Kau bahkan baru sekali melihat batang pohon tebu, Jimin.”
“Aku tahu. Tapi aku tidak akan pernah melupakan tanaman itu. Seandainya aku bisa hidup dengan dikelilingi batang-batang tebu yang manis itu—”
“Maka kau tidak akan lagi hidup. Semut-semut Bota akan memakanmu hidup-hidup.”
“Benar.” Jimin berdecak dan melenguh menyetujui pernyataan Jeongguk. Dirinya kembali terdiam sambil mengais debu halus di atas tanah berumput di bawah kakinya.
Denging serangga malam dan belalang kunang yang terbang menemani malam mereka. Sementara seluruh panca indera keduanya siap siaga kalau-kalau dengingnya tiba-tiba menghilang. Semakin berisik serangga hutan menandakan semakin aman keberadaan mereka. Tandanya, tidak ada pemangsa yang datang mengintai.
“Jeongguk, apa menurutmu semua ini bisa berakhir?
Pertanyaan Jimin yang tiba-tiba membuat sang pemimpin koloni mengalihkan perhatiannya dari tombak yang diasah.
“Apa maksudmu?”
“Apakah mungkin, di suatu hari nanti kita bisa hidup tanpa harus mencemaskan nyawa kita yang terancam setiap hari? Maksudku, tidak ada bencana lagi, tidak ada hewan-hewan buas dan tanaman mematikan lagi. Bagaimana menurutmu?”
Jeongguk mendengus sinis. “Apakah itu mungkin?”
“Jika mungkin?”
“Entahlah, aku tidak pernah memikirkannya. Aku sibuk memikirkan bagaimana caranya melewati satu hari tanpa membuat seseorang mati.”
“Bagaimana dengan kisah penyihir yang mengendalikan semua ini?”
“Jimin, apa yang kau harapkan dari pertanyaanmu itu? Apa kau pikir aku percaya dengan dongeng payah seperti itu?”
“Entahlah, bukankan dongeng seperti itu memberikan kita harapan?”
“Harapan apa?’
“Harapan untuk hidup, tentu saja. Selama ini hidup kita hanya dihabiskan untuk berlari dan berlari. Tidak ada tujuan yang ingin kita raih atau pun tujuan lain. Bagaimana jika kita mulai membentuk suatu tujuan mulai hari ini.”
Kedua alis tegas Jeongguk berkerut. “Menurutmu, apa tujuan itu?”
“Bagaimana jika kita mencari keberadaan penyihir itu dan memintanya untuk menghentikan semua ini? Minta kepadanya untuk membiarkan kita hidup dengan baik.”
Jeongguk terdiam. Dirinya terlalu terperangah dengan usulan Jimin yang menurutnya di luar nalar.
“Aku akan menganggap kau tidak pernah berbicara seperti itu. Aku menolak untuk memberikan komentar apa pun.”
“Kenapa?”
“Aku tidak ingin menyakiti perasaanmu.”
“Hng?”
Jimin masih menatap Jeongguk lurus-lurus. Sorot matanya menuntut pada laki-laki berwajah tegas yang kini kembali sibuk dengan tombak-tombak besarnya itu.
“Aku menunggu, Jeon Jeongguk.”
Sang pemimpin menyerah. “Aku berpikir bahwa usulanmu terdengar begitu konyol di telingaku. Tidak pernah terbayangkan oleh diriku untuk mempercayai dongeng sampah seperti itu. Satu-satunya tujuan kita adalah bertahan hidup. Apa lagi menurutmu yang lebih baik dari itu?"
Sisi rahang Jimin mengencang dan kedua mata indahnya meruncing tajam. Mulutnya siap membalas kata-kata Jeongguk, namun detik selanjutkan napas Jimin tertahan. Dirinya tahu pembicaraan ini tidak akan berakhir baik jika dilanjutkan. Sebagai yang merasa lebih dewasa, Jimin memilih untuk berdiri dan pergi meninggalkan sang pemimpin berjaga sendiri.
Jeongguk meraih tangan Jimin dan menahannya agar tidak pergi. “Aku minta maaf.” Ucapnya sungguh-sungguh. “Jangan pernah paksa aku untuk bicara jika aku tidak menginginkannya. Sudah kubilang aku tidak ingin menyakiti perasaanmu.”
“Setidaknya, jika kau memang sudah tahu bahwa kata-katamu sekasar itu, jangan dikatakan. Tapi pada akhirnya kau tetap mengatakannya.”
Suara Jeongguk semakin merendah. “Aku tahu. Aku minta maaf.”
“Terserah.” Pungkas Jimin yang terlanjur marah. Laki-laki itu menepis tangan Jeongguk dengan kasar dan meninggalkannya sendirian.
Esok paginya, seperti biasa, setiap anggota koloni akan berpencar untuk mencari bahan makanan dan obat-obatan di sekitar hutan. Mereka tidak pergi sendiri. Terlalu berbahaya untuk pergi sendiri. Sesedikitnya, mereka akan pergi berdua atau bertiga untuk tetap bisa saling menjaga satu sama lain.
Kali ini Jeongguk pergi dengan Namjoon dan Yoongi untuk mencari bahan obat-obatan. Seharusnya dia pergi bersama Jimin kali ini. Namun, laki-laki itu menolak dan memilih untuk pergi bersama yang lain. Sekuat apa pun Jeongguk, dia tetap tidak mungkin pergi sendiri. Jadilah dirinya bergabung dengan kedua anggota koloninya itu.
“Kalian bertengkar?” tanya Yoongi di tengah perjalanan.
“Ya. Aku salah bicara semalam.”
“Kau sudah minta maaf?”
“Tentu saja. Aku langsung minta maaf. Tapi dia masih marah.”
Yoongi dan Namjoon kini saling bertukar pandang. Jarang-jarang pemimpin koloni mereka mau berbagi cerita soal masalah pribadinya pada anggota.
“Memangnya, apa yang kalian ributkan?” tanya Namjoon penasaran.
“Dia tersinggung karena aku mengatakan bahwa dirinya konyol sudah percaya dengan dongeng penyihir abadi.”
“Ah, begitu rupanya.”
Mereka bertiga masih sibuk memunguti daun gondola ketika Yoongi mulai berbisik pada Namjoon kali ini. “Bukankan dongeng penyihir itu nyata?”
“Bukankan kau sebut kisah itu sebagai dongeng karena memang tidak nyata?” sahut Jeongguk sedikit berang. Dirinya tidak percaya masih ada orang-orang yang percaya pada kisah-kisah seperti itu saat ini. Atau mungkin hanya dirinya yang lain sendiri?
Yoongi berdeham—membersihkan tenggorokannya sebelum menjawab. “Entahlah. Maksudku, bukankah tidak ada yang bisa menjelaskan semua kejadian ini selain dongeng itu? Lagi pula, hanya itu yang kita tahu, memangnya salah jika kita percaya?”
“Tidakkah menurutmu dongeng itu tidak masuk akal?”
“Menurutku, kisahnya masih bisa kuterima. Keserakahan memang selalu membawa malapetaka.”
“Ya, nasihat yang bagus. Tapi tetap saja, dongeng itu diciptakan untuk memberikan pesan moral kepada anak-anak, bukan untuk dipercayai oleh orang dewasa, apalagi dijadikan sebagai acuan hidup!”
“Siapa yang menjadikan dongeng seperti itu sebagai acuan hidup?”
“Jimin mengatakan padaku untuk mencari keberadaan penyihir itu dan memintanya menghentikan semua ini. Dia bilang itu bisa menjadi tujuan hidup kita ketimbang berlari tanpa tau arah sampai mati.”
Lagi-lagi, Yoongi dan Namjoon saling bertukar pandangan.
“ Well, hal itu terdengar tidak terlalu buruk bagiku.” Ungkap Yoongi gamblang.
Namjoon mengangguk. “Benar. Setidaknya ada hal yang dapat kita coba. Sebelumnya tidak pernah terpikir olehku bahwa semua hal ini dapat dihentikan. Tapi kurasa, ide itu dapat memberikan kita sebuah harapan.”
Mulut Jeongguk terbuka lebar—merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Mungkin benar, ada baiknya manusia tidak dibiarkan untuk hidup dan menempati bumi. Mereka semua bodoh dengan semua pikiran tentang harapan dan upaya yang sia-sia. Bukankah, mempertahankan hidup mereka saja sudah sulit rasanya? Untuk apa repot-repot memikirkan juga tentang harapan ?
Jeongguk baru saja berniat untuk mendebat, namun jeritan seseorang dikejauhan membangunkan seluruh adrenalinnya seketika.
Jeritan itu melengking tajam dan begitu memekakan di telinga. Seluruh bulu kuduknya berdiri—merinding mendengarnya. Jeongguk mengenali suara jeritan itu dan segera berlari mendatangi sumbernya diikuti dengan Namjoon dan Yoongi yang sigap di belakang.
Dengan tangkas, tangan-tangan Jeongguk bergerak menyingkirkan semak belukar ketika kaki-kakinya berlari dan melompati batang-ranting hutan yang besar. Dirinya bergerak begitu cepat, seolah kaki-kaki itu tidak pernah sempat untuk menapak di tanah. Jeongguk terburu-buru karena tidak ingin menyesal seandainya kaki-kaki itu tidak sanggup berkejaran dengan waktu yang mencekam.
“Jeongguk!” Pekik Jimin ketika dirinya muncul dari arah yang Jeongguk tuju. “Lari!” Serunya sembari membopong seseorang yang Jeongguk kenali sebagai Hoseok, salah satu anggota koloni yang pergi bersama Jimin tadi.
Mata Jeongguk melebar ketika melihat hutan yang berada di belakang Jimin. Puluhan pohon-pohon itu roboh seolah ada sesuatu yang menggusur mereka sampai ke akar.
Dari tempatnya, Jeongguk melihat seekor harimau sebesar gajah meraung ganas. Jeongguk dapat melihat sepotong lengan manusia masih menyangkut di sela-sela gigi taringnya yang tajam. Jeongguk mengira, harimau itu baru saja menyantap makan siangnya dan sepertinya, porsi itu masih belum cukup untuk memenuhi kapasitas lambung di perutnya yang besar.
Jeongguk sudah siap dengan tombaknya, namun Jimin menolak. “Dia diciptakan bukan untuk di lawan. Lari!”
Mendengar pekikan Jimin, sang harimau raksasa kembali meraung dan mulai mengejar mereka. Yoongi dan Namjoon yang semula di belakang, kini memimpin jalan mereka untuk mencari perlindungan.
“Naik ke atas pohon!”
“Percuma! Dia bisa merobohkan kita dengan mudah!”
“Berlindung di gua!”
“Tidak ada gua!”
Mereka terus berlari dengan frustasi. Kaki-kaki mereka yang lelah membawa mereka semakin masuk ke dalam hutan yang lebat. Namun, sang harimau tetap tidak ingin menyerah pada makan siangnya. Badan besarnya menerobos puluhan pohon yang menghadang, tidak peduli seberapa besar pohon-pohonnya.
“Jeongguk! Bantu aku!” seru Jimin.
Dirinya kelelahan menggendong Hoseok yang terluka sejak tadi. Jeongguk bahkan tidak sadar sejak kapan Jimin menggendong laki-laki itu. Dia kira Jimin telah meninggalkannya di belakang, sebab laki-laki itu tetap bisa mengejar mereka yang di depan.
“Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja.”
Jeongguk tahu, dirinya juga tidak berpikir untuk meninggalkan anggota koloninya. Namun, keadaan mereka sangat mendesak. Harimau itu bisa mendapatkan makan besar jika terus dipaksakan.
“Kita harus berpencar.” Usul Jeongguk. “Namjoon dan Yoongi, alihkan perhatian harimau itu. Jimin, sembunyikan Hoseok untuk sementara. Kita berkumpul kembali bersama koloni setelah harimau itu pergi.”
Tidak ada yang membantah, mereka semua sigap berpencar. Namjoon dan Yoongi memperlambat larinya demi menarik perhatian sang harimau. Usaha mereka berhasil. Untuk beberapa saat, mereka mendapatkan waktu untuk mengistirahatkan Hoseok yang terluka.
“Aku tidak bisa menyelamatkan Seokjin.” Ungkap Jimin.
Nada suaranya pelan dan lirih. Napasnya masih berat, terlihat dari dadanya yang naik turun dengan cepat. Sisi rahangnya mengencang menandakan bahwa dia marah.
Jeongguk meraih tangannya dan berkata, “itu bukan salahmu.”
“Itu salahku. Seharusnya aku tidak mengajak mereka masuk ke dalam gua itu.”
“Kau tidak tahu apa-apa. Jika kau tahu, kau pasti tidak akan melakukannya.”
“Seharusnya aku lebih berhati-hati.”
“Itu bisa menjadi pelajaran lain kali.”
“Tidak akan ada lagi lain kali! Seharusnya mereka tidak pernah pergi bersamaku tadi.”
“Jimin, berhenti menyalahkan dirimu sendiri.”
“Dia berusaha melindungiku, Jeongguk!”
Suara raungan di kejauhan bergema menggetarkan hampir seluruh isi hutan. Suaranya cukup jauh sehingga Jeongguk merasa mereka masih cukup aman.
“Pelankan suaramu. Kau tidak ingin menarik perhatian hewan buas yang lain.”
Jimin melenguh dan berpaling. Dirinya mengepalkan tangan sekuat tenaga hingga buku-buku jarinya memutih pucat.
Jeongguk tahu apa yang Jimin lakukan. Laki-laki itu selalu menjaga dan merawat kuku-kuku tangannya agar tetap panjang dan tajam. Hal itu dia lakukan sebagai upaya membela diri seandainya tidak ada senjata yang dapat ia gunakan untuk melawan hewan buas. Namun, di saat seperti ini, kuku-kuku tajam itu dia gunakan untuk mengalihkan amarahnya pada rasa sakit yang dia ciptakan sendiri. Detik selanjutnya, Jeongguk melihat dari telapak tangan Jimin perlahan mengalir darah segar hingga menetes jatuh ke tanah.
“Hentikan!”
Jimin menepis tangan Jeongguk dengan kuat.
“Jimin, kubilang hentikan!”
“Aku tidak layak hidup saat ini!”
“Kubilang hentikan! Kau akan memancing seluruh hewan buas dengan aroma darahmu dan membuat kita semua terbunuh di sini!”
Kepalan tangan Jimin melonggar dan dia tidak lagi menepis tangan Jeongguk yang perlahan membuka telapak tangannya. Dengan cekatan, laki-laki itu merobek ujung pakaiannya dan membalut luka Jimin untuk menghentikan pendarahan.
Cara Jeongguk untuk menenangkan Jimin memang tidak bisa dikatakan lembut. Lebih tepatnya, laki-laki itu memang tidak pernah berkata-kata lembut. Dirinya hidup dengan keras tanpa kasih sayang orang tua. Seumur hidupnya, Jeongguk tidak pernah mengerti bagaimana cara menjaga hati seseorang. Yang dia tahu hanyalah bagaimana cara menjaga nyawa seseorang . Namun, meskipun begitu sikap Jeongguk tidak pernah gagal membuat hati Jimin menjadi hangat. Hampir semua hal yang dilakukan laki-laki itu selalu berhasil meluluhkan hatinya.
“Apa jadinya diriku tanpamu?” Rintih Jimin menggenggam balutan kain Jeongguk di tangannya.
Jeongguk balas merengkuh laki-laki itu ke dalam dekapannya. “Kumohon jangan pernah lakukan itu lagi.”
Hari semakin gelap. Mereka tidak akan aman jika tetap berada di sana. Jeongguk memperhatikan keadaan sekitar, sudah tidak ada tanda-tanda bahaya yang mengintai. Dirinya memutuskan untuk mengajak Jimin dan Hoseok kembali bersama koloni mereka.
Bersama-sama, Jeongguk dan Jimin membopong Hoseok yang sudah tersadar namun masih lemah. Mereka berusaha bergerak lebih senyap agar tidak membangunkan apa saja yang dapat mengancam keselamatan mereka. Namun, sayangnya malam itu di hutan begitu sunyi hingga membuat satu langkah hening rasanya sangat sulit.
Jeongguk merasa asing dengan hutan itu. Dirinya tidak merasa melewati tanaman berdaun lebar setinggi jerapah ketika berlari menghindari harimau raksasa tadi. Atau mungkin, dia hanya tidak sadar tadi karena sibuk berlari? Jeongguk juga tidak yakin.
“Apa kau mendengar sesuatu?” tanya Jimin di tengah perhatian Jeongguk yang awas mengamati keadaan sekitar.
“Aku tidak mendengar apa pun—”
“Tidak, coba kau dengarkan. Ada yang mendesis.”
Darah Jeongguk mulai berdesir cepat di bawah kulitnya, seiring dengan detak jantung yang perlahan kian bertalu tak keruan. Seluruh konsentrasinya dia pusatkan pada indera pendengaran—mencoba mencari sumber suara yang Jimin dengar.
Matanya tidak bisa banyak menangkap bayangan di sekitar ketika awan tebal menggantung di langit malam, menutupi sinar rembulan yang terang.
“Dengar?”
“Entahlah. Dari mana asal suaranya?”
Jimin menghentikan langkahnya dan menahan napas sejenak. Kepalanya mendongak dan mendapati sebuah kepala bunga dari tanaman raksasa yang tumbuh di sekitar mereka. Kepala bunga itu cenderung terlihat seperti gelembung balon besar yang menyimpan air di dalamnya.
“Asal suaranya dari sana.” Kata Jimin menunjuk ke atas.
Jeongguk mengikuti arah tangan Jimin dan menemukan satu objek yang sama. Matanya kemudian menemukan satu kepala bunga lagi dan kemudian dirinya menyadari bahwa setiap tanaman besar di sana memiliki kepala bunga yang sama.
“Mereka ada di semua tempat.” Ucap Hoseok yang ternyata ikut memperhatikan.
“Benar.”
“Aku berharap mereka tidak akan pecah karena sepertinya ada racun panas di dalamnya. Lihat, permukaan bunga itu hampir transparan.”
“Hati-hati dengan mulutmu, Jimin.” Tukas Jeongguk. “Ayo, cepat pergi dari sini.”
Langkah mereka bergerak lebih cepat. Kemudian sebuah gemuruh hujan tiba-tiba menggema di atas kepala mereka.
Ketiganya saling bertukar pandang—mengerti sebentar lagi akan terjadi bencana.
“Aku tidak bisa berlari lagi.” Ungkap Hoseok.
“Kupikir sebaiknya kita mencari tempat berteduh.”
“Aku tidak menyarankan untuk berteduh di sini. Kita harus pergi.”
Jimin melepaskan tangan Jungkook dari Hoseok dan menggendong laki-laki itu di atas punggungnya. Dia berlari sekuat tanaga menghindari hujan yang sudah menggantung di atas kepala. Jeongguk mengikuti di belakang.
Sambaran kilat dan petir cukup memudahkan mata mereka untuk mencari jalan. Mereka bertiga hanya berharap hujannya tidak akan turun sebelum mereka meninggalkan tempat yang penuh tanaman beracun itu. Namun sayangnya, harapan itu tidak terkabul.
Ketika Jeongguk menoleh, gemuruh hujan telah mengguyur seolah mengejar mereka dengan tumpahan air dari langit yang begitu deras. Jeongguk berseru meminta Jimin untuk mempercepat langkahnya tapi justru suaranya membuat laki-laki itu panik dan jatuh.
“Kakiku….”
Jimin merintih kesakitan ketika Jeongguk menyentuh untuk memeriksa kakinya.
“Kakimu terkilir.”
Hujan bergerak semakin dekat diikuti dengan angin kencang yang meniup awan-awan dari belakang.
“Aku tidak bisa membawa kalian berdua secara bersamaan.”
“Bawa dia bersamamu, aku akan mencoba untuk menyusul.”
“Bagaimana caranya?? Kau bahkan tidak bisa bergerak, Jimin!”
“Akan kucari cara lain.”
“Jimin!”
“Kau ingin membuat kita bertiga mati?”
“Aku tidak bisa meninggalkanmu!”
Jimin hendak menolak tapi Hoseok menghentikannya. “Kalian berdua, pergilah.”
“Jangan begitu—”
“Tidak ada gunanya lagi aku hidup. Aku tidak ingin tinggal di dunia ini tanpa Seokjin-ku.”
Air mata mengalir deras di wajah Hoseok yang semakin pucat. Dari sorot matanya, dia mengatakan bahwa sudah tidak ada lagi harapan.
“Terima kasih untuk semuanya.” Tutup laki-laki itu. Kemudian dia berusaha berdiri dengan kedua kakinya sendiri. Sekuat tenaga dirinya melangkah dan berjalan ke arah hujan yang bergemuruh kencang. Di atas kepalanya, sebuah gelembung bunga meletus terkena ranting pohon yang terbawa angin.
Begitu cairan racun di dalam kepala bunga itu mengenai kulitnya, Hoseok menjerit kencang. Racun itu membakar kulitnya sampai ke tulang. Tidak butuh waktu lama bagi laki-laki malang itu untuk mati. Tubuhnya jatuh bersimpuh kaku, meregang nyawa tak berdaya di bawah guyuran hujan bercampur racun.
Setelahnya, Jeongguk merasakan bumi berguncang di bawah kakinya. Seperti ada akar besar yang menjulur di bawah tanah. Tubuh Hoseok kemudian berubah tergulung akar-akar yang merambat. Seperti ada sihir yang mengutuknya, tubuh Hoseok seketika telah berubah menjadi salah satu tanaman dengan kepala bunga beracun di sana.
“Mereka semua pernah menjadi manusia.” Bisik Jimin terperangah.
“Jimin, ini bukan hutan. Ini pemakaman.” Sambung Jeongguk.
Menyadari keadaan di sekelilingnya, Jeongguk langsung meraih Jimin dan sekuat tenaga membawa mereka sejauh mungkin dari tempat terkutuk itu.
“Kita harus segera pergi dari sini.” Ucap Jeongguk kepada seluruh anggota koloninya.
Setelah dirinya berhasil membawa Jimin lolos dari maut semalam, beberapa anggota koloni yang lain banyak melaporkan bahwa ternyata kejadian yang serupa juga menimpa mereka kemarin. Beberapa hewan buas menyerang koloni hingga memakan banyak korban jiwa. Ini adalah serangan paling brutal yang pernah mereka alami sepanjang hidup mereka.
“Tapi beberapa anggota koloni kita masih belum kembali dan beberapa lagi belum sanggup bergerak saat ini.” Sanggah Taehyung—seorang tabib yang bertugas mengobati anggota koloni yang terluka.
“Tapi bertahan di sini hanya akan membuat koloni kita semakin terancam. Anggota kita sudah banyak yang mati dan hilang kemarin. Kita tidak bisa berlama-lama di sini. Kita harus pergi.”
“Jeongguk, Namjoon dan Yoongi juga masih belum kembali. Begitu juga beberapa anggota koloni yang lain. Bagaimana jika mereka mencari kita nanti?”
“Apa kau yakin mareka sanggup kembali, Jimin? Kau pikir mereka bisa lolos dari harimau raksasa itu dan dapat kembali bergabung bersama kita lagi? Aku tidak bisa membahayakan koloni dengan bertahan lebih lama di sini.”
“Setidaknya kita coba untuk menunggu satu malam lagi. Sambil menunggu anggota yang terluka untuk pulih. Kita tidak bisa memaksakan mereka untuk pergi dalam keadaan seperti ini. Resikonya akan lebih berbahaya.”
Beberapa anggota koloni yang lain mulai bergumam. Ada rasa khawatir dan panik di setiap wajah para anggota koloni itu. Jeongguk tidak bisa mengabaikan pendapat para anggotanya.
“Baiklah, kita tunggu sampai malam ini. Jika mereka tidak juga kembali, kita tetap harus pergi. Aku meminta kepada semua anggota yang sehat untuk merawat beberapa dari mereka yang terluka. Kita tidak bisa bertahan di sini lebih lama.”
Usulan Jeongguk disetujui oleh para anggota koloninya. Namun, usulan tersebut tidak dapat sepenuhnya menghapuskan rasa khawatir mereka. Jeongguk sendiri sebenarnya juga gelisah. Dia berharap kejadian ini tidak akan berakhir lebih buruk lagi.
“Jeongguk, bisa aku bicara denganmu?”
“Tentu saja. Ada apa?”
Taehyung menarik Jeongguk untuk menyingkir sedikit lebih jauh dari kerumunan. Dirinya berusaha menghindari siapa saja yang mungkin akan melihatnya berbicara dengan pemimpin koloni itu.
“Apa kau tidak merasakan sesuatu yang aneh dari Jimin?” tanya Taehyung berusaha menjaga suaranya serendah mungkin.
“Apa maksudmu? Apa yang anehnya?”
“Semalam, aku melihat dirinya seperti melakukan sebuah ritual. Aku juga tidak mengerti dan tidak begitu yakin dengan apa yang aku lihat, tapi aku dapat merasakan sesuatu yang berbeda dari laki-laki itu. Aku merasa, seolah yang ada di dalam sana bukanlah Jimin yang kita kenal.”
“Jangan bercanda. Kau mungkin hanya kelelahan merawat begitu banyak anggota yang terluka.”
“Entahlah. Firasatku mengatakan demikian.”
Jeongguk tidak dapat mengabaikan raut wajah Taehyung yang menggelap menelan kekhawatiran. Namun, prasangka Taehyung sungguh di luar nalarnya. Bagaimana mungkin seorang Jimin di sana menjadi bukan Jimin yang sesungguhnya?
Sepanjang malam Jeongguk memikirkan kalimat Taehyung. Dirinya kini tengah menjaga Jimin yang tidur nyenyak. Diam-diam laki-laki itu mencoba untuk mencari sedikit celah yang mungkin akan memberinya petunjuk akan kebenaran.
Merasa dirinya sedang di amati, Jimin perlahan membuka mata. Itu hanyalah efek dari kesiagaan tubuhnya yang sudah terlatih setelah bertahun-tahun berusaha untuk bertahan hidup dari pemangsa buas. Jimin akan segera terbangun jika merasakan dirinya sedang diamati. Namun, kali ini bukan pemangsa yang diam-diam mengamatinya. Jimin menemukan Jeon Jeongguk dengan mata hitam segelap jelaga tengah lekat menatapnya.
“Ada apa?”
“Aku mengkhawatirkanmu.”
Jimin tersenyum lembut kemudian beranjak dari sandarannya di ranjang . Sebenarnya itu bukan ranjang, melainkan hanya setumpuk rumput dan ranting lunak yang dilapisi kulit hewan kering.
“Kemarilah.” Ucap Jimin menawarkan pelukan yang kemudian disambut sepenuh hati oleh Jeongguk. “Aku baik-baik saja.”
“Aku tidak sanggup seandainya sesuatu yang buruk menimpamu.”
“Aku bisa menjaga diriku.”
“Berjanjilah untuk tetap di sisiku, Jimin.”
“Tentu saja.”
Jeongguk memeluk erat tubuh laki-laki itu. Dirinya ingin menghentikan waktu. Dia ingin selamanya begitu. Hidup di dalam dekapan Jimin yang hangat, tanpa perlu mengkhawatirkan hidup mereka yang singkat. Tidak perlu mengkhawatrikan teror hewan-hewan buas, ancaman bencana-bencana alam, dan bahaya tumbuhan aneh yang mematikan. Jeongguk ingin hidup lebih baik seperti harapan Jimin.
“Apa jadinya diriku tanpamu?”
Jimin meregangkan dekapannya agar bisa menatap wajah Jeongguk yang tampan. Jemarinya membelai garis wajah Jeongguk yang tegas, sementara laki-laki itu memejamkan mata. Merasakan lembutnya belaian Jimin di wajahnya. Jeongguk tidak ingin melepaskan laki-laki ini.
“Kau dan aku bisa hidup selamanya. Kita tidak membutuhkan yang lain. Hanya kau dan aku.”
Jeongguk tersenyum. “Tentu saja.”
“Kau mau?”
“Ya. Tapi itu tidak mungkin. Terlalu berbahaya hidup berdua, jauh dari koloni.”
“Aku bisa melindungimu.”
Jeongguk kembali tersenyum. Senyumannya tersungging seolah Jeongguk baru saja mendengar hal yang paling lucu di telinganya. Bukan dia meremehkan kekuatan Jimin. Jeongguk percaya laki-laki itu lebih dari sanggup untuk menjaganya. Itulah alasan Jeongguk menyukai Jimin karena dia bisa diandalkan. Namun, Jeongguk tetap menganggap bahwa gagasan untuk hidup hanya berdua adalah tidak mungkin. Terlalu beresiko. Sekalipun mereka berdua termasuk orang-orang terkuat di dalam koloni.
“Kita akan hidup berdua di dalam koloni.”
“Mereka bahkan bukan keluargamu.”
“Tentu mereka keluargaku. Dan keluargamu juga. Apa yang kau bicarakan, Jimin? Kita berdua lahir di dalam koloni ini.”
“Kita bisa hidup abadi berdua selamanya meski tanpa koloni-koloni ini.”
Sesuatu di dalam nada suara Jimin membuat bulu kuduk Jeongguk meremang berdiri. Suara itu terdengar sangat dingin dan mengusik. Seolah begitu banyak kebencian yang menyusup di dalam setiap kata pada kalimat itu. Seketika, Jeongguk merasa asing dengan kehadiran laki-laki dalam rengkuhannya saat ini.
Sekilas, Jeongguk melihat bola mata Jimin yang bening berkilat tajam. Kemudian wajahnya yang hangat berubah datar. Hanya sekilas, kemudian wajah itu kembali seperti semula. Namun Jimin masih menatapnya lekat-lakat. Raut wajahnya masih sulit untuk dibaca.
“Jimin—”
Suara jeritan dari luar menghentikan kalimat Jeongguk seketika. Tubuhnya serta-merta menegang di tempat menyadari ada bahaya di luar.
“Tunggu di sini. Jangan keluar.”
Jimin hendak mencegahnya namun gerakan Jeongguk selincah katak macan . Laki-laki itu keburu melompat mengambil tombaknya dan keluar menantang bahaya.
“Jeongguk, kita dikepung!” seru Taehyung menyusulnya di belakang. “Para binatang buas tiba-tiba datang bersamaan entah dari mana.”
“Apa pemicunya? Jumlah kita tidak cukup banyak untuk menarik perhatian mereka.”
“Entahlah. Mereka semua datang seolah ada seseorang yang sengaja memanggil mereka.”
“Mustahil.” Sangkal Jeongguk. Dirinya kembali gelisah dan terusik dengan ucapan Taehyung ketika tangannya sibuk menepis jerat monyet besar yang memiliki tentakel.
Di sisi lain, Taehyung tidak kalah sibuk menghadang sekumpulan ngengat hitam yang berkerumung menyengat tubuhnya.
“Jeongguk, tolong aku!”
Jeongguk menoleh dan meraih ranting besar yang terbakar untuk mengusir ngengat-ngengat itu.
“Kita harus meninggalkan tempat ini sekarang.”
Pandangan Jeongguk berkeliling melihat keadaan sekitar. Tempat itu kacau balau dan semua orang berpencar menyelamatkan diri masing-masing. Hewan-hewan buas itu terlalu banyak. Mereka semua tidak akan sanggup untuk melawan.
Tenda-tenda yang menjadi rumah mereka semua hancur dan terbakar. Salah satu singa api yang menyerang meraung keras dan membumi hanguskan tempat tinggal mereka dalam sekejap.
“Jimin.” Desis Jeongguk ketika salah satu singa api berlari membakar tenda tempat Jimin dirawat. Jeongguk berlari berniat untuk menghadang singa tersebut.
Namun, ketika Jeongguk hampir mencapai tempat Jimin berada, laki-laki itu muncul dengan tenang di balik api yang membara. Seolah api-api itu hanyalah tirai pertunjukan yang sama sekali tidak berbahaya.
Jimin menghentikan singa itu hanya dengan mengangkat sebelah tangannya. Singa itu melenguh tunduk kemudian beralih menyerang sisa anggota koloni yang lain. Jeongguk terperangah. Tidak bisa mempercayai apa yang baru saja dia lihat.
Apa mungkin itu hanya ilusi semata? Secara tidak sadar mungkin kepalanya terbentur batang pohon atau batu besar ketika bertarung dengan monyet bertentakel tadi. Atau bisa saja pikirannya kacau karena mengkhawatirkan Jimin di tengah malapetaka ini.
“Kau lihat itu?”
Jeongguk menoleh dan ternyata bukan hanya dirinya yang melihat kejadian barusan.
“Sudah kubilang, itu bukan dia!” seru Taehyung ketakutan.
Jimin menyadari kehadiran kedua manusia itu dan berjalan menghampiri mereka.
Sesungguhnya, Jeongguk tidak ingin percaya. Namun kedua tangan kekarnya tetap siaga menodongkan tombak besarnya pada Jimin yang mendekat.
“Jeongguk, ini aku.” Ucap Jimin. Wajahnya bingung namun sorot matanya berkabut seperti ada awan kelabu yang menutup.
“Siapa dirimu? Di mana Jimin?”
“Apa maksudmu? Ini aku. Aku Jimin. Jimin-mu .”
“Jeongguk, jangan percaya padanya. Itu hanya sihir!”
Jimin menoleh pada Taehyung yang ikut mengacungkan tombaknya di sebelah Jeongguk. Dengan raut wajah datar, Jimin menatap Taehyung tajam. Sebelah tangannya mengangkat seolah tengah mencekik seseorang. Dan ketika Jeongguk menoleh, tubuh Taehyung sudah melayang. Bola matanya berputar ke atas seolah menahan cengkeraman kuat di lehernya.
“Jimin, apa yang kau lakukan? Lepaskan dia!”
Jimin tidak menggubrisnya. Sorot matanya kosong dan mematikan. Dia tidak melepaskan tatapannya sedikit pun dari Taehyung yang sekarat.
“Jeongguk, itu bukan Jimin. Itu penyihir.” Rintih Taehyung yang semakin tercekat.
Jeongguk berseru mengancam. “Hentikan! Atau kubunuh kau sekarang juga!”
Jimin menoleh kembali pada Jeongguk. Tangan gaibnya berhenti mencekik Taehyung yang kini jatuh tersungkur lemah di atas tanah.
“Kau ingin membunuhku? Apa maksudmu? Kenapa kau ingin membunuhku?”
“Kau monster! Penyihir!”
“Jeongguk, apa maksud ucapanmu? Kukira kau tidak percaya pada dongeng itu? Ini, aku Jeongguk. Aku Jimin-mu .”
“Berhenti bicara seperti itu! Apa yang kau lakukan pada Jimin?”
Jimin mendengus remeh mendengar Jeongguk terus bertanya tentang keberadaannya.
Sedetik kemudian, kaki Jimin mengambang dari atas tanah dan secepat kilat menerjang Jeongguk dengan penuh amarah.
“Aku Jimin-mu! Berani-beraninya kau mempertanyakan diriku?”
“Kau bukan Jimin!”
“ Jimin itu pantas mati! Dia tidak pantas untuk hidup di muka bumi ini. Dia tidak pantas untuk hidup bersamamu. Aku yang akan hidup di dalam tubuhnya. Aku yang akan hidup menggantikan jiwanya yang lemah!”
Jeongguk menggeram melampiaskan amarahnya dan mendorong penyihir yang menyerupai Jimin itu sekuat tenaga. Mereka bertarung dengan hebat di tengah kekacauan yang terjadi di sana.
Jeongguk begitu marah. Dirinya murka ketika penyihir itu mengatakan bahwa Jimin lemah dan tidak pantas untuk hidup di dunia. Jeongguk tidak memberikan kesempatan bagi penyihir itu untuk melawan. Dirinya terus menghujam dan menghantam tubuh penyihir itu dengan seluruh sisa energinya.
Jeongguk sudah bertekad, jika dirinya harus mati sekarang, maka penyihir itu juga harus ikut pergi dengannya ke neraka.
“Kau tidak akan bisa mengalahkanku.”
“Aku bisa membunuhmu semudah diriku membunuh semut!”
Penyihir itu menyeringai jahat. Dirinya bahkan belum mengeluarkan setengah dari kekuatannya. Namun dia sama sekali tidak berniat untuk membunuh Jeongguk di sana.
“Apa yang kau harapkan? Aku bisa memberikan kehidupan abadi untukmu selamanya. Sudah kukatakan, hiduplah bersamaku, Jeongguk.”
“Aku tidak sudi hidup bersama penyihir sepertimu!”
“Kupikir kau mencintai Jimin? Akulah Jimin .”
Jeongguk kembali murka setiap kali penyihir itu mengaku sebagai kekasihnya. “Akan kubunuh kau!”
Sekuat tenaga Jeongguk berusaha menjatuhkan penyihir itu ke tanah. Amarahnya memberikan Jeongguk kekuatan berkali-kali lipat hingga akhirnya—ketika penyihir itu lengah—Jeongguk bisa mengunci musuhnya dengan tombak mengacung tepat di atas tenggorokan.
Penyihir itu kembali tersenyum menyeringai. “Apalagi yang kau tunggu? Bunuh aku.” Ucap sang penyihir.
Namun Jeongguk hanya diam mematung-memegang tombakknya yang membeku.
Meski dirinya tahu bahwa mahkluk itu bukan lagi Jimin, melainkan seorang penyihir, Jeongguk masih belum sanggup untuk membunuhnya dengan wujud itu. Penyihir itu masih memiliki wajah Jimin yang selalu membuat hatinya rindu. Dengan sorot mata yang sendu dan senyum yang teduh, Jeongguk tidak akan pernah sanggup membunuh penyihir itu. Seberapa pun dia mencoba, yang ada di hadapannya saat ini tetaplah wujud Jimin sesungguhnya.
“Lakukan!” lirih Jimin tiba-tiba.
Sorot mata itu kini berubah. Jeongguk mengenali sorot matanya. Jimin yang sesungguhnya kini telah kembali bersamanya.
Jeongguk ingin melemparkan tombaknya namun Jimin menolak. Laki-laki itu mencengkeram tombak Jeongguk sekuat tenaga untuk tetap berada di atas tenggorokannya.
“Jeongguk, sadarlah! Lakukan! Bunuh aku, cepat!”
Jeongguk masih tidak sanggup bergerak. Seluruh tubuhnya gemetar menahan segala keinginan untuk segera menghabisi nyawa iblis yang hidup di dalam tubuh Jimin.
Sambil terisak, Jimin berusaha untuk meyakinkan Jeongguk. Mereka berdua sama-sama tahu bahwa tidak akan ada akhir yang baik dari semua ini.
“Apa yang terjadi padamu? Mengapa kau menjadi seperti ini?” isak Jeongguk tidak sanggup lagi.
“Aku tidak tahu. Aku tidak mengerti. Aku juga tidak ingin kita berakhir seperti ini. Untuk itu, kumohon bunuh aku sekarang Jeongguk. Sebelum dia kembali.”
“Aku tidak sanggup.”
“Lakukan saja. Aku tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja. Percayalah.”
Jeongguk tahu itu semua adalah bohong. Siapa pun tahu bahwa tidak ada yang akan baik-baik saja setelah semua ini terjadi.
Kedua manusia itu hanya bisa terisak menangis dalam kepedihan yang lebih sakit dibandingkan luka bakar dan goresan taring beracun di sekujur tubuh mereka.
Jeongguk menatap Jimin dengan penuh kepedihan. Jimin mengerti arti tatapan itu. “Aku tahu. Aku juga mencintaimu. Tidak masalah. Bunuh aku.”
“Jimin—”
“Aku bukan Jimin!” teriak laki-laki itu putus asa. Air matanya mengalir deras seiring dengan raungannya yang memohon pada Jeongguk untuk menghunus tombaknya. “Aku bukan lagi Jimin yang kau kenal dulu! Bunuh aku! Aku mohon! Kau bisa mengakhiri semua ini, Jeongguk. Aku mohon.”
Nyatanya, keputusasaan Jimin menyulut amarah dan kembali menghadirkan jiwa penyihir tersebut di dalam dirinya.
Mental Jeongguk yang saat ini terguncang hebat memecah konsentrasi dan tenaganya sehingga laki-laki itu semakin lengah dan mudah diserang.
Penyihir yang telah kembali merasuki tubuh Jimin itu mulai menyerang Jeongguk yang berpasrah tanpa perlawanan. Hatinya pedih setiap kali menatap wajah Jimin yang dirasuki oleh sang penyihir.
“Jimin, kumohon. Hentikan.”
“Terlambat. Aku sudah memberikamu kesempatan. Mengapa kau tidak membunuhku saja?”
“Kupikir, akan jauh lebih mudah untuk membuatmu musnah jika aku sedikit membencimu. Namun ternyata, meskipun benciku sudah sebesar gunung, aku masih tidak sanggup menghunuskan tombakku ke jantungmu.”
Sang penyihir tertawa. “Dasar, laki-laki konyol!”
Penyihir itu terus menyerang Jeongguk seolah Jeongguk hanyalah sebuah maninan tak bernyawa. Jeongguk berusaha menghentikan penyihir itu namun usahanya sia-sia. Dirinya sudah hampir kalah telak. Tubuhnya semakin lemah dan kesulitan untuk bertahan setelah berkali-kali terpelanting di atas tanah. Dengan putus asa, Jeongguk berusaha memeluk tubuh Jimin itu untuk mengentikannya.
“Aku tahu masih ada dirimu di sana.” Ucap Jeongguk. “Aku mencintaimu, Jimin. Mari kita bertemu di kehidupan lain yang lebih baik seperti yang kau mau.”
Jeongguk mengecup bibir Jimin dengan lembut demi mengalihkan perhatian penyihir tersebut. Dengan cekatan, tubuhnya kemudian membanting mereka berdua dan meleburkannya ke dalam kobaran api panas yang membara.
Jeongguk mengorbankan dirinya untuk ikut terbakar bersama penyihir jahat yang kini tersulut tak berdaya di dalam api.
Puluhan hewan buas yang mengepung koloni mereka secara ajaib ikut terbakar dan seiring dengan hangusnya sang penyihir, api pun redam bersama derasnya air hujan yang seketika turun mengguyur hutan. Keadaan menjauh jauh lebih tenang, seolah semua kekacauan yang terjadi di sana tidak pernah terjadi sebelumnya.
Selepas kematian sang penyihir, lambat laun alam menjadi lebih stabil. Tidak ada lagi hewan buas dan tanaman beracun yang mengancam nyawa manusia setiap hari. Frekuensi serangan alam terhadap manusia juga semakin berkurang dan membuat jumlah manusia kian bertambah setiap tahun. Bagian dari koloni-koloni kecil yang terpisah kini mulai bertemu dan berkumpul membentuk komunitas kecil yang kemudian berkembang hingga menjadi peradaban besar seperti saat ini.
Sisa anggota yang selamat dari malapetaka itu menceritakan apa yang terjadi kepada yang lain. Namun, tidak ada satu orang pun yang mengungkit tentang Jimin. Mereka tidak ingin merusak nama baik seseorang sebaik Jimin. Laki-laki itu merupakan anggota keluarga mereka sebelum mati. Mereka lebih memilih untuk percaya bahwa laki-laki itu sial karena sudah terkena kutukan penyihir keji.
Setelahnya, pengorbanan Jeongguk yang melenyapkan penyihir dari dongeng anak kecil itu kini menjadi kisah abadi. Kisah keberanian dan cintanya pada Jimin mengingatkan para manusia untuk terus mensyukuri kehidupan yang kini sudah menjadi lebih baik.
T A M A T
