Work Text:
“yang lain kemana sih?” tanya haechan sambil berusaha membuka air mineral —yang ternyata membuatnya cukup kewalahan.
“jaem bukain.” jaemin, yang sedari tadi duduk memperhatikan haechan, berdecak pelan ketika disodori oleh botol air tersebut.
“lemah,” ejek jaemin yang membuat haechan meliriknya sebal.
sekarang haechan sedang berada di ruang latihan bersama dream, seharusnya . karena kini ia tidak melihat anggota timnya yang lain selain jaemin—yang baru haechan sadari sedari tadi lelaki itu menatapnya juga.
“gak usah ngeliatin gitu deh, daeman . ntar lu naksir gue!” goda haechan, selalu dan tak akan ada niat berhenti untuk mendapatkan reaksi sekecil apapun dari jaemin.
entah karena mood jaemin yang lagi bagus atau karena memang sedang tidak ada kamera yang merekam, lelaki itu tersenyum lebar, menarik tangan haechan hingga pria yang lebih kecil itu terduduk di sampingnya.
udara ac yang menerpa badannya, dinginnya lantai ruangan dan ditambah hembusan nafas jaemin yang terlalu dekat dengan lehernya membuat haechan merinding.
“udah naksir,” bisik jaemin, terlalu dekat dengan daun telinganya. haechan menggelinjang geli, berusaha melepaskan diri dari rangkulan jaemin.
“yang lain kemana sih?” tanya haechan ulang sambil meneguk air minumnya. jaemin sengaja mengguncang bahu lelaki itu yang membuatnya menumpahkan cairan ke leher hingga mengenai celana training putihnya.
“jaemin! basah njing!” ucapan kasar tak terelakkan keluar dari mulut pria itu, yang hanya ditanggapi oleh kekehan puas jaemin.
“renjun makan di luar tadi sama yangyang. yang lain kayaknya ngerokok dulu,” jawab jaemin akhirnya yang membuat haechan terbelak kaget.
“yang lain tuh chenle sama mark..?”
“gak tau sih kalo mark ikutan, tapi biasanya kalo kita latian berlima chenle sama jisung pasti ngerokok bareng dulu,” penjelasan lelaki itu yang terlampau santai membuat haechan membelak kaget.
“hah.. sejak kapan jisung ngerokok..?” dirinya benar-benar kaget. tidak munafik, haechan tau hampir seluruh anak nct merokok. ada yang sudah di tahap kecanduan ataupun hanya sebatas social smoker . tapi untuk jisung… mungkin dirinya memang sudah tertinggal banyak mengenai kehidupan adik kesayangannya itu.
“jisung udah ga sekecil yang lo kira kali,” jaemin yang menimpali pertanyaan haechan, “lo pasti kaget kalo tau jisung sekarang udah berani book room kalo gabut.” ada nada geli di ucapan jaemin yang membuat haechan kaget setengah mati.
bunyi pintu terbuka membuat segala pertanyaan haechan terhenti sesaat. pandangannya beralih ke arah mark yang datang sambil membawa plastik putih.
“udah?” tanya jaemin.
“iya udah.” jawab mark sambil mendekati mereka berdua.
“aman kan?”
“yang lain langsung pada balik kok,” mark memberikan plastik tersebut ke jaemin yang langsung diletakkan di samping kakinya.
kebingungan atas percakapan kedua temannya, haechan menyahuti, “udah apaan sih? aman kenapa? ini kita udahan latiannya?”
bukannya menjawab, mark melepas hoodie-nya—melemparnya asal.
“udah ngapain aja lo?” tanya mark lagi ke jaemin, menghiraukan pertanyaan beruntun haechan—seolah-olah lelaki itu tidak ada.
“belom gue apa-apain,” jawab jaemin singkat. mark berdeham. matanya berfokus pada haechan yang menatap keduanya bingung.
jaemin kini sibuk mengobrak-abrik isi plastik yang dibawa mark, mengeluarkan minuman bersoda yang sempat ia titipkan ke lelaki itu. haechan tidak sengaja melihat bungkus rokok yang keluar dari plastik tersebut.
“ngomong-ngomong soal rokok, jisung lo ajarin ya?!” sungut haechan. dirinya tau, jaemin adalah anggota paling bebas di dream. yang membuatnya mempunyai segala cara untuk menghilangkan rasa penatnya atas dunia kerja.
“gue cuma ngasih saran sih biar dia gak frustasi. lo harusnya sering-sering mampir ke dorm biar jisung ga perlu ribet nyari pelampiasan,” ucapan jaemin disambut dengusan tawa mark, berkebalikan dengan dirinya yang bingung dengan maksud perkataan temannya itu.
“hubungannya apa anjir?” kini, haechan sudah beneran kesal. merasa dirinya benar-benar tertinggal dengan apa yang terjadi dengan kehidupan anak-anak dream. merasa bodoh tidak mengetahui inside jokes yang dimiliki oleh teman-temannya itu.
“udah, gak usah dipikirin. habis ini lo juga ngerti kok,” tangan jaemin yang sedari tadi menegak kaleng minuman kini ia bawa ke bagian celana haechan yang tadi basah. menyadari hal itu, haechan bergeser menjauh—entah kenapa dirinya tidak nyaman dengan sentuhan jaemin kali ini.
sentuhan polos jaemin di pahanya semakin lama semakin naik. kedua temannya itu sedang mengobrol santai, kikuk bagi haechan untuk tiba-tiba protes atas sentuhan jaemin— karena sesungguhnya, ia terbiasa dengan hal ini.
memegang, memeluk, mencium… segala physical touch selalu membuatnya senang. tapi, entah kenapa perlakuan jaemin kali ini membuatnya tidak nyaman.
“jaem..,” panggil haechan akhirnya, membuat kedua lelaki itu langsung memindahkan fokus kepada dirinya.
“tangan lo…,” cicitnya pelan, sedikit merasa terintimidasi dengan tatapan mark—yang entah mengapa terasa berbeda kali ini .
“kenapa?” bukannya berhenti menyentuh haechan, jaemin bahkan membawa kedua tangannya ke pinggang haechan dan mengangkat badan haechan dengan mudahkan ke antara dua kakinya yang terbuka.
haechan memekik kaget. mark mendengus geli.
“eh apaan sih?!” segala pergerakan haechan terkunci ketika jaemin mengukungnya dari belakang. kedua tangannya terhalang dekapan jaemin, ia dapat merasakan irama detak jantung jaemin di punggungnya—karena memang sedekat itu mereka berdua.
mark kini ikutan mengganti posisinya. semula bersila, lelaki itu kini bertumpu pada salah satu dengkulnya, membuatnya terlihat lebih tinggi. membuat haechan harus sedikit mendongak untuk menatapnya.
haechan tidak ingat entah sejak kapan teman satu grupnya, teman masa kecilnya, kini berperawakan lebih besar, lebih lebar, lebih gagah dari dirinya. sekali dua kali dirinya membandingkan badannya dengan mereka, dengan mark dan jaemin.
sebut haechan iri, dirinya dulu yang selalu menjadi yang tertinggi, yang terbesar, yang terkuat. namun kini, rangkulan satu tangan jaemin di pinggangnya membuat tubuhnya terkunci telak. pandangannya pun juga menatap takut mark, seorang mark lee, seorang sosok kakak, teman, rekan yang selalu ia percaya tersenyum tipis ke arahnya.
“gimana mark? orang yang lo tunggu, yang lo jaga setengah mampus, malah dicicip duluan sama temen segeng lo?” ada nada menggoda dari pertanyaan jaemin yang membuat haechan menegang. ia dapat melihat rahang mark terkatup erat.
“yeonjun beruntung gak sih?” mendengar satu nama tersebut keluar dari mulut jaemin kini langsung membuat bulu kuduk haechan menegang. mulutnya terbuka namun kalimat yang hendak ia lontarkan entah kenapa sulit untuk dikeluarkan.
“gimana chan rasanya dipake sama yeonjun?” pandangan jaemin yang sedari tadi berfokus ke mark menjadi berbalik ke arahnya. haechan dapat merasakan tubuhnya sedikit bergetar, merasakan seluruh aliran darahnya menjalar dari kepala, telinga, pipi, hingga lehernya.
“...apa?” ujarnya pada akhirnya, berusaha bersikap bodoh mengenai pembicaraan ini.
bagaimana bisa…?
“ck..!” jaemin berdecak kesal. tangannya yang sedari tadi memeluk pinggang haechan kini mendekapnya makin erat, bibirnya ia dekatkan ke telinga lelaki itu, “since when you’re bottoming for someone?” bisik jaemin pelan. haechan merinding, tidak nyaman dengan situasi yang sedang ia alami ini.
they know each other’s preferences. from girls, to boys, or even both. so, knowing that haechan messed around with a boy —when he’s only been with girls before, making the two of them mad .
it should’ve been them. being haechan’s first time.
sebodoh-bodohnya mereka, ketiga lelaki itu menyadari bahwa their little own flirts on camera aren’t just for the audience.
haechan menyadarinya — in between the push and rej e ction, mark will always rub his back while they’re hugging and squeeze his ass when no one is looking
haechan juga lagi-lagi menyadarinya— with the shout and the boundaries, jaemin will always hover behind him, possessive arm secured on his waist.
dan haechan selalu menyadarinya— that the both of them always look at him like they want to eat him alive.
tapi mereka sama-sama tau, it’s just a silly little game , who will lose first and carve for the temptation .
and it was mark.
***
haechan menendang kedua kakinya ribut, berusaha melepaskan cengkraman mark dari kedua kakinya —yang kini sudah perlahan melepas celana trainingnya.
“mark.. please.. jangan..,” dirinya menangis. kakinya ia rapatkan, berusaha menutupi bagian terprivat dari tubuhnya. mark membiarkan haechan menangis beberapa saat, sebelum dirinya mendekat dan meraih wajah haechan penuh kelembutan.
“jangan nangis,” mark menghapus air mata haechan, “aku tau kamu sayang sama aku.” pernyataan mark bagai petir bagi haechan. kedua matanya yang sedari tadi memejam erat langsung terbuka, memandang mark panik.
“ it’s okay.. aku udah tau lama,” mark mengecup pipi haechan, “ let me have this.. let me have you.” mark membuka kedua kaki haechan lebar.
haechan yang masih mencerna kalimat mark tidak sadar ketika kedua kakinya ditekuk hingga tangan mark mendekat ke paha dalamnya—membuatnya memekik kaget.
lagi-lagi haechan memberontak panik. posisinya yang sudah hampir terlentang sepenuhnya, kepalanya yang kini berada di paha jaemin sedangkan kedua tangannya masih ditahan lelaki itu, membuatnya sedikit kesusahan untuk melepaskan diri.
“kak mark..,” air mata haechan kembali turun ketika mark mengecup pelan pergelangan kaki haechan. dirinya merasa ter-expose . merasa kotor. merasa tidak berdaya.
“ heard you moan my name instead of yeonjun ..,” kecupan mark semakin naik hingga ke paha haechan, membuat lelaki juni itu menggelinjang geli.
“mark, udah..,” lirih haechan.
mendengar permintaan haechan, mark menghentikan kegiatannya. ia mengangkat wajahnya, memperhatikan wajah memelas haechan—takut, sedih, bingung, panik bercampur jadi satu.
“kamu sayang aku, kan?” tanya mark pelan, menatap haechan dalam. “chan..?” desak mark lagi, menunggu jawaban haechan.
lelaki itu mengangguk pelan, pasrah mengetahui bahwa perasaannya yang ia kubur bertahun-tahun ketahuan begitu saja. mark tersenyum tipis, membuat haechan sedikit melupakan perasaan takutnya, “ me too .”
mata haechan membulat. tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
jaemin, yang sedari tadi membiarkan keduanya menikmati momen mereka, mengelus rambut haechan. ia tau ada history yang tidak akan bisa dipahami oleh siapapun di antara mark dan haechan. jaemin juga tau, dirinya tidak akan mungkin bisa berada di situasi dan kondisi seperti ini jika ia tidak memanfaatkan kesempatan yang ada.
jaemin tau, bahwa sekeras apapun dirinya berusaha, haechan tidak akan menatapnya seperti dia menatap mark. sekuat apapun dirinya mengambil celah di antara keduanya, jaemin masih belum bisa memposisikan dirinya di antara mark dan haechan .
tapi semesta masih mendukungnya. jadi, ketika dirinya diberi kesempatan mengambil celah saat mark sedang rapuh —saat mark mengetahui haechan malah bercumbu dengan teman segengnya, jaemin langsung memberi saran kepada mark.
“lagian udah tahunan lo ada kesempatan, tapi kenapa diem aja sih?”
“donghyuck… spesial jaem. gue gabisa gegabah nyatain perasaan gue sedangkan persahabatan kita taruhannya,”
“ya, tapi keraguan lo ini malah bikin dia tidur sama temen lo sendiri.”
saran jaemin—atau bisa disebut hasutannya , membuat mark akhirnya merobohkan pertahanannya sendiri. rasa dengki pun cemburu memenuhi dirinya ketika menyadari bahwa haechan, donghyuck -nya bermain dengan yang lain.
jaemin pun tak goyah berusaha menyelipkan dirinya di antara kedua insan ini. meminta dan meyakinkan mark jika kalau hanya dirinya saja yang memohon untuk berhubungan badan dengan haechan pasti akan serta merta ditolak oleh sang lelaki.
makanya, meskipun dirinya harus menelan mentah-mentah harga dirinya ketika hanya sebagai orang ketiga, as an outsider , jaemin harus bertahan karena dirinya juga tahu mark is just like him.
someone who is possessive over his object .
jadi, ketika mark membiarkannya berada di posisi ini, jaemin harus menerimanya .
pikirannya terputus ketika rintihan haechan mengencang. ia dapat melihat mark membuka lebar kedua kaki haechan.
“ sssst , gapapa haechan.” jaemin mengelus poni haechan, menenangkan lelaki itu layaknya bayi yang sedang merengek.
“jaemin, bantuin..,” entah apa yang ada di pikiran haechan sehingga pria itu menyimpulkan bahwa jaemin berada di sisinya—ketika dirinya lah yang mengunci pergerakan haechan agar semakin susah melepaskan diri.
“bukannya ini yang lo mau ya, chan?” jaemin menatap serius haechan, memaksa lelaki itu melihat wajahnya sebagai distraksi ketika mark mulai meraih botol lubrikasi yang baru saja ia beli tadi.
“lo pernah bilang ke gue kan, pengen dicoba sama mark?”
haechan menggeleng panik ketika mendengar ucapan jaemin sedangkan mark hanya mendengus geli. dirinya tau jaemin sedang berbohong, tapi melihat kondisi mental haechan yang semakin tidak sadar membuat lelaki itu lebih mudah dimanipulasi.
“ah, lupa kali lo. keseringan ngomong gitu ke banyak orang, ya?” tekan jaemin lagi, yang masih disangkal haechan terbata dengan “ gue — gue gak pernah!” .
tangan jaemin meraih rahang haechan, membuat lelaki itu mendongak ke atas menatapnya, sedangkan fokus jaemin kini beralih sebentar ke arah mark yang sudah menuangkan lube berlebih ke lubang haechan.
alisnya naik ketika melihat mark yang mengurut penisnya sendiri, “gak lo siapin dulu?” tanya jaemin.
mendengar hal itu membuat mark mendecak jengkel. ia mendekatkan penisnya ke anal haechan, menyodoknya perlahan, membiarkan ujung penisnya masuk. pinggang haechan naik—kaget ketika ada yang masuk secara paksa di lubangnya.
rintihannya terengah karena jaemin semakin mengeratkan cengkramannya pada rahang haechan, pandangannya masih menatap mark bingung.
“ini bocah lobangnya udah rileks,” implikasi dari jawaban mark membuat alis jaemin berkedut.
so his little doll has been preparing his hole for goddamn someone .
“lo mau dipake siapa hari ini?” nada jengkel jaemin dapat terdengar jelas di telinga kedua orang tersebut. haechan lagi-lagi menggeleng, air matanya menetes melewati pelipisnya.
“orang nanya tuh dijawab!” kini jaemin sedikit membentaknya, membuat haechan sedikit gemetar. nafasnya masih terengah, sebisa mungkin ia membuka mulutnya, “enggak ada,” lelaki itu menelan ludahnya ketika tatapan kesal jaemin masih memandangnya, “ i just.. I’ve been fingering myself ever since that day.. ,” cicit haechan malu.
kedua lelaki yang kini tengah mengerjai haechan malah dibuat makin kesal dengan jawaban jujur haechan. jaemin yang mendongakkan kepalanya, berusaha sekeras mungkin meredam amarahnya dan mark yang makin mencengkram paha haechan agar tidak langsung mendorong penisnya masuk.
“ketagihan lo?” tanya jaemin pada akhirnya yang hanya dibalas keheningan bisu. kekehan jaemin memenuhi ruangan latihan mereka tersebut.
“mulai aja deh mark, makin emosi gue kalo gini caranya.” ujar jaemin yang dibalas gelengan tipis dari mark.
lelaki itu mulai kembali mengurut penisnya, menambah lube sambil memperhatikan lubang pink haechan yang mulai berkedut.
“lo ga pake kondom?” tepat ketika mark mendorong masuk penisnya ke anal haechan, jaemin memastikan. mark menghela nafas panjang, “menurut lo?”
jaemin mengangkat kedua bahunya, tangannya kini mengelus pelan rambut haechan—berusaha menenangkan lelaki manis itu yang kini mulai hilang kesadarannya.
“I’ll fuck him raw jaemin.” mark menjawab sambil mendorong masuk penisnya, membuat ketiga orang tersebut mengerang bersamaan—dengan alasan yang berbeda-beda.
mark, karena merasakan hangat dan ketatnya lubang haechan.
haechan, yang kaget serta kesakitan ketika penis mark masuk tanpa aba-aba.
dan jaemin, dapat dengan jelas melihat ekspresi wajah haechan—yang bahkan jika dia ingin mendeskripsikannya pun tidak dapat ia jelaskan dengan kalimat.
kedua alis haechan yang bertaut, mulutnya yang sedikit terbuka mengeluarkan rintihan tertahan, air matanya yang kian mengalir dan rona pipinya yang semakin memerah.
such a perfect view for jaemin to jack off actually.
jaemin meraih tangan haechan, menautkan dengan tangannya ketika ia dapat merasakan kepala haechan terhentak maju karena dorongan brutal mark.
desahan ahh! ahh! pelan-pelan! dari mulut haechan tak diindahkan oleh kedua pria tersebut.
mark benar-benar merasa di atas . fokusnya tidak lepas dari persatuan penisnya dengan anal haechan. ibu jarinya terkadang mengelus dan menekan masuk ke lubang tersebut—membuat haechan refleks mengangkat pinggangnya.
tangan lelaki itu yang kini tidak digenggam jaemin sesekali berusaha meraih tangan mark yang mencengkram pahanya,, memberi isyarat untuk meminta ampun agar tidak terlalu kasar.
“mark.. kak mark.. udah..,” pinta haechan yang diabaikan mark. lelaki itu menarik penisnya hingga keluar lalu mendorong keras hingga kepala haechan tersentak di pangkuan jaemin.
“mark, i wanna fuck his face. ganti posisi bentar,” ujar jaemin pada akhirnya, setelah membiarkan mark menggunakan haechan.
menggerutu kesal, mark akhirnya mencabut penisnya, membalik haechan dengan paksa dan mengangkat pantat haechan tinggi. lelaki paling kecil tersebut mendelik kaget, berusaha menahan badannya dengan kedua tangannya sebagai tumpuan.
jaemin mendesah lega. penisnya yang sedari tadi tertekan kepala haechan kini bisa ia bebaskan. pria tersebut mengurut pelan penisnya yang sudah tegang, meludahinya, lalu mendekatkan ke mulut haechan.
“buka,” perintah jaemin singkat. haechan menggeleng, menundukkan kepalanya berusaha menghindari penis jaemin.
“lee haechan!” kesal, jaemin meraih wajah haechan, menekan kedua sisi pipi pria itu—memaksanya agar terbuka.
namun, haechan masih sekuat tenaga menutup mulutnya, membuat jaemin mengadu sebal ke arah mark. “bantuin kek!” gerutu lelaki itu, membuat mark terkekeh pelan.
ia kembali mengarahkan penisnya ke lubang haechan yang sudah megap, meludahinya sebelum kembali mendorong masuk—yang membuat haechan lagi-lagi berteriak kaget.
jaemin memanfaatkan momen ini untuk menahan mulut haechan yang terbuka dengan ibu jarinya. dirinya menekan lidah lelaki itu, berdecak pelan sebelum mendekatkan wajahnya ke wajah haechan, “kalo lo nurut sama kita semua bakal enak, lee haechan.”
bertepatan dengan kalimat itu diucapkan, air mata haechan kembali menetes. jaemin menghapusnya, mengecup kelopak mata haechan lalu tersenyum lebar menatap pria manisnya ini, “relax your throat baby.”
haechan, yang mau tak mau mendengarkan perintah jaemin, berusaha sekuat mungkin merilekskan kerongkongannya pun detak jantungnya. ini pertama kalinya ia melakukan blowjob, merasakan sesuatu masuk di mulutnya selain peralatan makan membuatnya ingin muntah.
“ god, anget banget mark!” desah jaemin ketika penisnya sudah sepenuhnya masuk ke mulut lelaki itu, mark memelankan irama hentakannya, grinding his dick slowly deep inside haechan’s ass .
“you should try his ass then,” jawab mark. jaemin mulai memaju mundurkan pinggulnya, menikmati kehangatan mulut haechan, “yaudah buruan keluar njing. gue ga kuat lama-lama,”
mark tertawa mendengar ucapan jaemin, ia mengelap keringatnya dengan lengannya, lalu menarik pantat haechan agar semakin menungging.
“you like sloppy second?”
“hm what? you’ll come inside him?”
mark mengalihkan pandangannya dari badan haechan, menatap jaemin tidak percaya, “kayaknya nanggung ya gue udah ngentotin dia tanpa kondom tapi keluar di luar.”
kini gantian jaemin tertawa mendengar ucapan mark, dirinya mengangguk paham.
“yaudah buruan,”
kedua melempar percakapan dan persetujuan seolah-olah hanya merekalah yang terlibat, seolah-olah haechan tidak ada disana, seolah-olah haechan is just their doll to fuck .
“hey baby, you feel good?” tanya mark sambil mengelus pinggang haechan, berusaha mencapai orgasmenya. “baby answer me .”
haechan, who has been gone for awhile, cuma bisa merengek pelan sambil secara tidak sadar mengejar pelepasannya juga dengan mengikuti ritme hentakan mark. pantatnya ikut mendorong ketika penis mark tepat mengenai titik tersensitifnya.
“good boy. my pretty baby, can you come just like this?” mark mempercepat hentakannya, kedua tangannya kini membuka lebar-lebar pipi pantat haechan.
haechan tidak bisa menjawab, dengan semakin kuat hentakan mark, semakin dalam juga penis jaemin masuk ke kerongkongannya. matanya menatap nanar jaemin yang sedari tadi tersenyum lebar ke arahnya, the same smile he shows every time haechan messing around with him .
jaemin menarik penisnya keluar, menyuruh mark agar menarik badan haechan ke atas.
kini, punggung haechan sepenuhnya menempel dengan dada mark. tangan jaemin ikutan menggerayangi tubuh itu. dari bahu, selangka, hingga kedua putingnya yang menegang.
mark menahan tubuh haechan agar tidak turun. lantai ruangan yang semakin licin karena keringat dan tetesan lube membuat mark sedikit kesusahan menahan tubuh haechan.
jaemin memutus jarak di antara keduanya, kedua tangannya menangkup wajah haechan, menolehkan kepala lelaki itu agar menatap cermin.
“lo cantik banget haechan,” puji jaemin. kini ketiganya menatap bayangan mereka di kaca yang mulai mengembun.
dengan haechan yang telanjang bulat sedangkan kedua lainnya masih mengenakan baju, membuat pemandangan yang mereka lihat sungguh kotor.
haechan membuang mukanya, tidak kuat melihat kegiatan kotor mereka. jaemin terkekeh, “mark gue mau ngewe dia sekarang.”
mark yang sedari tadi fokus mengejar lepasnya, tidak memperdulikan permintaan jaemin. dia semakin gencar menyodok lubang haechan, tangannya mencengkram leher haechan pelan, menggigit telinga haechan—berusaha menyalurkan nikmatnya.
“ah—mark! mark bentar! mau—mau keluar..!” tangan haechan meraih tangan mark yang kini mengocok penisnya. hentakan keras dari mark, membuat haechan mencapai orgasmenya. membuat spermanya jatuh ke lantai dan juga kaos jaemin.
merasakan ketatnya lubang haechan karena pelepasannya, mark akhirnya juga keluar. lelaki itu menggigit kuat bahu haechan, membuat si lelaki dalam pelukan merengek kesakitan.
jaemin, yang permintaannya diacuhkan oleh mark, semakin kesal.
“mark lo tuh!”
mendengar gertakan jaemin, membuat mark kembali ke sadarnya. ia memutar bola matanya jengah, “sabar njing.”
tanpa memperdulikan haechan yang masih terengah, mark memutar balik badan haechan—yang kini terkulai lemah di bahunya. penisnya yang masih menancap menahan spermanya keluar dari lubang tersebut.
“buruan masukin!”
“lo ga keluarin dulu itu titit lo?”
mark menggeram kesal mendengar pemilihan kata jaemin. sedangkan jaemin hanya tertawa ketika melihat wajah mark.
“serius. ga sakit apa ntar kontol lu?”
“udah sih buruan. kasian haechan kedingingan.”
mark merengkuh tubuh haechan yang terlihat mungil di pelukannya. dirinya mengelus punggung haechan, memberi kecup halus di bekas gigitan yang ia torehkan, sesekali bergumam pelan menenangkan haechan.
mark semakin mengeratkan pelukannya ketika penis jaemin perlahan-lahan makin masuk. dirinya menyaksikan semuanya dari cermin. bagaimana ekspresi keenakan jaemin ketika merasakan hangat anal haechan, bagaimana haechan yang menyembunyikan wajahnya di leher mark—mencari keamanan.
“it’s okay baby. you’re doing good. my pretty baby. so well-behaved ,” mark mencurahkan semua pujian kepada haechan ketika merasakan jaemin mulai bergerak mencapai pelepasannya. mark juga merasakan gumaman lirih haechan memanggil namanya kak mark.. kak mark.. Sayang..
“masih lama jaem?”
“ah bacotl lu!”
kesal karena konsentrasinya dibuyarkan oleh mark, ia memelankan gerakannya. mark tersenyum tipis. ia dapat merasakan penisnya bergesekan dengan milik jaemin pun hangat spermanya dalam lubang haechan tersebut.
“keburu yang lain balik bego,”
“iya bacot jangan ngajak ngobrol gue dulu!”
jaemin mencengkram pinggang haechan, kini semakin mempercepat hentakannya. lagi-lagi hanya desahan haechan yang terdengar di ruangan tersebut. kedua lelaki itu dapat melihat bahwa haechan sudah kembali tegang dan sampai pada pelepasan keduanya. kakinya melingkar di pinggang mark, merasa oversensitif ketika jaemin tetap mendorong penisnya mengejar orgasmenya sendiri,
“ jaemin… udaaah.. udah plis, ” rengek haechan. jaemin menggeleng, tidak kuat dengan ketatnya anal haechan yang sungguh terasa sempit .
“fuuuck!” mark yang mengerang pertama kali ketika jaemin mencapai pelepasannya. hangat sperma jaemin dapat ia rasakan sedangkan haechan, seluruh tubuhnya bergetar. tidak kuat menahan rangsangan yang bertubi-tubi ia terima.
jaemin masih mendorong pelan penisnya, berusaha menahan kenikmatan yang masih ia rasakan. mendekatkan wajahnya ke bahu haechan, ia mengecupnya pelan dan bersandar pada punggung pria tersebut.
“ you’re mine for us now, haechan .” bisiknya pelan.
