Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandoms:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2022-11-18
Words:
518
Chapters:
1/1
Kudos:
4
Hits:
76

fly like a butterfly

Summary:

ia tidak menyukai kupu-kupu. hanya saja, semenjak perginya geonu, ia selalu berharap bahwa tiap kupu-kupu yang ia temui merupakan reinkarnasi darinya

Work Text:

Diantara sekian banyak manusia yang berada di sekitar, aku lebih ingin menghabiskan waktu lebih banyak bersamanya. Cara bicara tanpa ragu yang tak jarang membuatnya tertohok namun membawa bahagia setelahnya dan juga senyum tulus yang selalu menjadi ciri khas.

Ia menyukai kupu-kupu, yang begitu cantik dan menawan katanya.

Aku tidak mengerti dimana letak keindahan kupu-kupu selain warnanya yang beragam. Namun ia menjelaskan bagaimana mereka terbang dengan elegan, tidak terlalu tinggi sehingga mampu untuk menyapa setiap pribadi yang ada di muka bumi dengan keindahannya.

“Terbang seperti kupu-kupu pasti akan menyenangkan.” Begitu yang ia katakan padaku ketika kami mengunjungi taman kupu-kupu beberapa pekan lalu. Ia ingin menjadi seperti kupu-kupu. Tetapi hal yang kulontarkan sebagai jawabannya adalah, “Tidak. Aku rasa tidak.”

Ingin tahu apa yang membuatku berkata seperti itu meskipun aku tahu bagaimana ia sangat menyukai kupu-kupu?

Karena mereka tidak hidup dalam jangka waktu yang lama.

Aku ingin ia hidup lebih lama, jauh lebih lama dari yang ia bayangkan. Hari-hari mungkin akan terasa hampa tanpa kehadirannya di sisi tubuh yang ringkih ini. Sudah cukup rasa menderita yang kujalani dengan segala obat dan jarum. Tidak ingin lagi ada rasa sakit yang lebih mendalam, yang mampu meruntuhkan sisa-sisa harapan yang kumiliki untuk tetap bertahan hidup.

Tetapi aku terlambat.

Harapan yang kubangun dengan susah payah itu jatuh dan hancur berserakan di tanah dingin bersama dengan lutut yang kini sudah bertumpu pada lantai lantaran tidak mampu menopang bobot seluruh tubuh.

“Geonu-ya....”

Aku pikir aku akan melihatmu menangis di sampingku ketika aku tak lagi mampu untuk bertahan melawan penyakit yang tidak memiliki belas kasih ini. Rupanya aku salah menafsirkan segalanya. Justru ia lah yang pertama pergi dan aku yang menjatuhkan air mata untuknya.

“Heeseung, ayo berdiri. Kamu tidak seharusnya berada disini.”

Aku benci kupu-kupu.

Aku tidak pernah ingin kamu menjadi seperti mereka, karena aku tidak menyukainya.

Aku... tidak akan sanggup mengucapkan kata perpisahan padamu.

Tetapi sekarang, meskipun pahit adanya aku harus tetap mengucapkan kata selamat tinggal. Kecelakaan yang terjadi beberapa jam lalu telah merenggut nyawanya dengan begitu sadis. Sebuah truk pengangkut barang yang menjadi penyebab kecelakaan beruntun itu, telah merenggut senyummu kepada dunia. Beberapa kali aku berpikir, mungkin senyum itu terlalu indah untuk dunia sehingga kamu ditempatkan di surga.

Mungkin aku egois, tapi aku ingin kamu disini bersamaku. Hari-hariku sungguh hampa tanpa dirimu, Lee Geonu.

“Heeseung, aku mencarimu kemana-mana. Ini waktunya pemeriksaan.”

Tubuh ringkih ini enggan beranjak dari kursi yang berada di sisi taman meskipun matahari sudah berpamitan sejak lama. Netranya masih mengikuti setiap pergerakan dari satu-satunya kupu-kupu yang berada disana. Sayap berwarna indah itu mengepak dengan begitu indah membawa tubuh mungilnya menjelajahi taman.

“Aku masih mau disini.”

“Tapi disini dingin. Kembali lagi saat ada matahari ya.”

“Ketika matahari muncul, aku takut dia akan menghilang,” ucap Heeseung sembari menunjuk kupu-kupu yang terbang sendiri tanpa ada yang menemani.

Sedikit terbesit harapan kalau kupu-kupu itu adalah Geonu. Pandangku terpaku padanya, dan kupu-kupu itu terbang mendekatinya. Lebih tepatnya saat ini hinggap di bahunya.

Mungkin ini terdengar lucu ketika mendengarnya dari orang yang menolak keras keinginanmu menjadi seekor kupu-kupu, tetapi aku ingin terbang seperti kupu-kupu juga jika itu akan mengantarkanku padamu.

Seketika, pandanganku mengabur dan kemudian yang aku lihat hanyalah kegelapan.