Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2022-10-15
Words:
990
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
37
Bookmarks:
4
Hits:
1,533

MINE

Summary:

Sejak awal melihat tatapannya, aku langsung menaruh sebuah obsesi kepadanya. Bukan hanya obsesi biasa, namun ini lebih kepada hawa nafsu yang membuatku gelap mata untuk menariknya ke dalam duniaku. Aku ingin memilikinya.

Notes:

(!) Violence / Gunshot
(!) Obsession

Work Text:

Kelam.

Begitulah yang setiap saat menemani kehidupanku. Bagai tak bernyawa, semua berjalan begitu saja tanpa disadari. Selama ini aku tidak pernah memperdulikan itu semua, yang aku inginkan hanyalah dia.

Sesosok lelaki manis yang selalu berhasil membuatku terpana tiap kali melihatnya, yang selalu berbuat baik padaku hingga membuatku merasa lebih berarti ada di dunia ini. Sosoknya yang elok nan indah membuatku terobsesi untuk memilikinya.

Ya, aku pasti akan memilikinya. Lelaki itu tercipta untukku, ia hanyalah milikku, dan tidak akan ada yang kubiarkan untuk mengambilnya dariku. Bahkan jika hanya untuk menyentuhnya seujung kuku pun.

Senyuman tipis hadir di wajahku. Kini, sosok lelaki cantik itu berada tepat di hadapanku atau lebih tepatnya, di bawah kakiku. Ia berlutut dengan kedua tangan terikat di depan, aku sendiri yang melakukan itu padanya.

"Apa yang kau inginkan dariku?" tanyanya menatapku marah, tetapi dengan suara yang terdengar terbata dan ketakutan. Aku tertawa kecil melihatnya seperti itu, biasanya dia akan tersenyum setiap kali aku melihatnya. Suaranya yang indah berubah gemetar dan lirih.

"Menurutmu, apa mauku?" tanyaku balik padanya, tak menjawabnya sama sekali. Aku membiarkan lelaki itu berpikir dan menyimpulkan apapun semaunya.

Jaemin hanya menghentakkan giginya, menutup mulutnya rapat, tampaknya ia kesal dan juga marah kepadaku namun tetap saja dia tidak bisa melakukan apapun sekarang selain memohon.

Tentu saja dia marah, bagaimana pun, aku membawanya kemari dengan paksaan.

Keterdiamannya membuatku semakin menatapnya dengan tertarik, menantikan aksi apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Apa saja yang dilakukan olehnya selalu berhasil menarik perhatianku. Rasanya Jaemin seperti memaksaku untuk terus-menerus menatap ke arahnya tiada henti sepanjang waktu, bahkan sejak awal kami bertemu. Aku seperti gila.

Jaemin tidak mengatakan apapun dan langsung membuang muka dariku. Melihat itu membuatku reflek menaikkan sebelah alisku dan tersenyum kecil. Langkah kakiku pun pada akhirnya berjalan semakin mendekatinya yang sejak tadi terduduk di lantai beberapa centimeter di depanku, dan bisa kulihat gerak tubuhnya yang langsung mencoba mundur menjauhiku. Namun aku berhasil lebih dulu sampai di depannya dan langsung menarik tali yang mengikat kedua tangannya agar ia tak bisa kabur dariku.

"Apa yang kau mau dariku, Jeno?!" teriaknya begitu aku berhasil membuatnya tersungkur ke depan hingga wajahnya hampir menabrak kakiku saat aku menarik talinya. Mendengar suara lelaki itu meninggi, membuatku tersenyum semakin lebar pula.

"Aku ingin memberimu pilihan."

Jaemin tampak terdiam, kedua matanya menatapku dingin dan dalam, seakan mencari sesuatu di sana. "Pilihan apa?" tanyanya setelah cukup lama hanya memandangiku dengan raut wajah yang sulit. Senyumanku belum pudar.

"Kau lebih suka melihat keluargamu mati atau menjadi milikku?" tanyaku kemudian berlutut di depan Jaemin yang masih tersungkur di lantai, mensejajarkan wajahku dengan wajahnya. Maniknya yang indah menatapku membelalak, namun hanya seringai tipis yang kuberikan padanya.

"Kau ... gila?"

Sebelah alisku terangkat. "Ya? Kalau pun aku gila, memangnya apa masalahmu?" kataku membalas sambil menarik dagunya agar semakin mendekat ke arahku, membuat Jaemin mau tidak mau menatap wajahku dari jarak yang sangat dekat. Aku bisa melihat lebih jelas kulit putih bersihnya yang halus, bulu matanya yang panjang dan cantik, kedua bola matanya yang mengkilap bercahaya dilapisi air mata, serta bibirnya yang sedikit kemerahan karena terus ia gigiti beberapa waktu lalu.

Jaemin sangat indah.

Seakan mencoba terlepas dariku, Jaemin menggerakkan wajah dan juga tangannya ke sembarang arah. Namun tentu saja aku tidak akan membiarkannya semudah itu.

"Aku tidak akan membiarkanmu menyakiti keluargaku!"

Mendengar ucapannya membuatku semakin menunjukkan seringaianku di hadapannya. Persetan, siapa perduli, yang aku inginkan hanya dirinya, bukan keluarga ataupun teman-temannya. Aku akan memusnahkan mereka semua yang dekat dengannya apalagi mereka yang mencoba merebutnya dariku.

"Dengan kata lain kau setuju untuk menjadi milikku."

***

Satu pria paruh baya dengan istrinya, juga seorang gadis kecil tengah meringkuk merasakan sakit di sebuah bangunan kosong dengan lampu minim di ujung kota. Lolongan mereka bagaikan irama menenangkan di malam hari untukku.

Suara kencang kembali terdengar begitu aku melemparkan satu butir benda kecil berwana perak kepada mereka dengan pistol di tanganku, membuat mereka satu persatu tumbang dan jatuh bergeletakan di lantai bagai boneka yang sudah kehabisan daya. Kembali lolongan kesakitan mereka yang lama-lama meredup masuk ke indera pendengaranku. Namun bukan rasa iba yang menghampiriku, tetapi justru kepuasan yang mutlak.

Kulirik lelaki cantik yang sengaja aku bawa ke sini bersamaku, ia duduk diam di tempatnya terikat dan membeku. Jaemin melebarkan matanya dan menatap kosong kejadian di depan mata yang menimpa keluarganya tersebut. Kini seluruh keluarganya telah tiada dan hanya akulah satu-satunya orang yang akan merawat serta menemaninya sepanjang waku.

"K-Kenapa kau lakukan ini pada keluargaku?" Suara Jaemin terdengar serak bahkan hampir tidak keluar, wajahnya penuh dengan air mata yang sejak tadi terus mengalir deras bagaikan air terjun. Begitu tersadar dari syok ia pun mulai meraung dan menangis kencang. "Bukankah kau berjanji akan membiarkan mereka selagi aku menjadi milikmu?! KENAPA?!"

Aku membuang pistol yang sedari tadi berada di genggamanku ke sembarang arah, kini aku melangkah mendekati Jaemin yang sengaja aku ikat di sebuah kursi kayu.

"Aku tidak pernah berjanji apapun," kataku sangat datar menatapnya. "Dan aku tidak suka kau berteriak seperti itu kepadaku." Aku melepaskan ikatan tangan Jaemin dan langsung menarik dagunya paksa untuk mendaratkan ciuman kasar di bibirnya. Jaemin memberontak, mendorong bahkan memukulku sangat kuat, namun ikatan di kakinya membuat Jaemin masih tidak bisa bangkit dari kursi. Ia menangis dalam cumbuan yang kuberikan.

"Sejujurnya aku tidak pernah memberikanmu pilihan," ucapku begitu ciuman kami terlepas. Tatapanku tertuju pada bibir lembutnya yang terlihat mengeluarkan darah akibat gigitanku yang tak sengaja mengoyaknya.

"Kau milikku dan aku tetap akan membunuh semua orang yang berada di dekatmu." Kembali, aku mengecup bibir merahnya tersebut. Rasa manis dan anyir akibat darah yang keluar dari mulutnya bersatu, namun tetap terasa nikmat. Aku menyukainya.

"Aku mencintaimu, Jaemin."

"Aku m-membencimu, Jeno, hiks..."

"Satu hal yang tidak kauketahui, Jaemin," aku mendekat, menangkup wajahnya dan berbisik tepat di depan wajahnya. Jaemin memejamkan mata, menolak untuk menatapku. Sebegitu bencinya dirinya kepadaku. "Walau kau jauh dan tak tersentuh, aku akan tetap menggapai dan menyentuhmu. Walau setiap kali mendekatimu aku akan terluka, maka aku akan menyukai luka itu.

"Karna kau milikku, sejak dulu selalu menjadi milikku dan sampai kapan pun tetap menjadi milikku, Na Jaemin."

Tamat