Actions

Work Header

Card: Ace

Summary:

“Taeyong, badan lo kenal sama gue,” kata Jaehyun dengan tawa yang menyelip usil, “Kayanya, lo bakal kaget kalo nanti tau badan lo doyannya diapain aja.”

Fucking— Jaehyun is indeed a fucking psycho.

Notes:

[disclaimer: no type of rape is acceptable unless it is cnc (consensual non-consent). this only be made to pour out the dirtiest brain-rots out so i hope i can somehow feeds your nasty fantasy too]

please read the tags and if you find any discomfort, feel free to leave the page.

made as commission for: anon

Chapter 1: one

Chapter Text

[INFO] #TAEYONG will be on the cover of NeoMagz Korea - July 2032 issue. Pictorials, interviews, and digital interviews can be found in the magazine, website, and on NeoMagz YouTube channel.

 

[INFO] Photographer #JAEHYUN will be featured to take the special edition of NeoMagz Korea with #TAEYONG. The Special Edition Magazine of NeoMagz Korea will be sold in limited quantity and only can be bought for those with the age up from 20. Please anticipate the collaboration of the two most iconic, talk of the town, in NeoMagz July 2032 Issue. Release date of the Magazine will be announced soon.

 

 

 

“Doy, uda gue bilang, gamau kalau Jaehyun fotografernya.”

 

“Mana bisa gitu, Taeyong? Lo udah teken kontrak duluan.”

 

“Gamau tau, cancel ga?”

 

“Lo mau habis ini sepi job? Lo gatau NeoMagz gandeng siapa aja? Lawan lo ga cuma satu-dua perusahaan nantinya.”

 

“Tapi ini Jaehyun!”

 

Taeyong tidak bisa menepis horor yang buat bulu kuduknya berdiri tegap, geli merambat sekujur tubuh rampingnya, dan dia hanya duduk penuh risau di pojok ruangan. Doyoung sampai perlu tarik tangannya dengan paksa karena dia tidak bisa berhenti untuk tidak gigit kuku-kukunya.

 

“Taeyong.”

 

Jantung Taeyong berdegup cepat, kian cepat kian detik berterbangan.

 

“You are Lee Taeyong.”

 

Justru, justru karena dia Taeyong.

 

“Yang lalu biarlah berlalu. Ok? Dia cuma rekan kerja. Lo gaperlu takutin yang gaperlu ditakutin. Sekarang, istirahat. Besok jadwal kita ketemu sama Jaehyun.”

 

 

 

 

Bisa dibilang, hubungan dia dan Jaehyun tidak akan pernah bisa membaik setelah kejadian hari itu.

 

Masih terpahat dengan terlampau jelas kala Taeyong duduk di antara teman-temannya. Sofa yang mereka duduki cukup luas, cukup untuk Johnny memainkan vagina—entah siapa—di sebelah kirinya, cukup untuk Yuta menyusu—juga, entah dengan siapa—di sebelah kanannya.

 

Di tengah, diantara dua lelaki paling bejat yang dia kenal, ada dirinya yang tengah memantik rokok dan menikmati malam. Tidak bisa dia pungkiri, desahan yang melantun dari gadis-gadis itu cukup mengirimkan kesenangan sendiri untuknya.

 

“Terus, Jaehyun. Udah sampe mana?”

 

Taeyong menghembuskan nafasnya, “Ga seru. Homo, ganteng, yaudah gitu doang.”

 

“Ga nusuk duluan?“ goda Johnny, “Kalo ga, gue rebut, nih.”

 

Mata Taeyong langsung mengerling tajam, “Kontol lo tahan dulu, doyan banget nyeruduk bool orang,” desisnya, “Ngentot gih sana sama cewe lo.”

 

“Dih, sensi.” Tapi, alih-alih merasa terancam, Johnny hanya terkekeh menanggapi si Ketua, “Masi ada enam bulan sebelum digilir ke gue, puas-puasin dulu, Yong. Paling ga, sepongin. Lo ga liat kontolnya bangun terus tiap jalan sama lo?”

 

Johnny selalu tahu bagaimana menyiram gas di api yang sudah nyala berkobar, tanpa melukai dirinya sendiri.

 

“Males gue, ga seru. Lempeng banget, anjing.”

 

“Baru minggu pertama, awas aja lo jadi suka beneran.”

 

Itu, barusan Yuta yang bicara dan apa yang Yuta katakan tadi adalah apa yang menabraknya.

 

Jaehyun penyayang.

 

Lelaki itu selalu ada untuk dia, selalu memeluknya dengan begitu hangat, selalu ada saat dia butuhkan, selalu di sana kala dia butuh pertolongan.

 

Jaehyun menghormati hadirnya, tidak pernah sedikitpun menjamah badannya semasa mereka pacaran, yang mana buat Taeyong juga jadi enggan untuk lancarkan serangan.

 

Tiap kali Taeyong ingin buat Jaehyun bangun sampai buah zakarnya membiru—tidak ada intensi lebih lanjut karena dia hanya ingin cari orang untuk bisa dia siksa—hanya berujung pada niat saja, yang kemudian lebur detik selanjutnya saat puncak kepalanya dicium ringan.

 

Taeyong— benar-benar jatuh cinta. Fantasi liarnya yang sakit, perlahan terobati dengan bagaimana lembutnya Jaehyun memperlakukannya.

 

Tiap kali Taeyong babak belur karena bertengkar, Jaehyun selalu datang ke uks dan bantu sembuhkan lukanya. Tiap kali Taeyong dapat skors, Jaehyun sebisa mungkin mencari alasan untuk dispensasi agar bisa menemaninya.

 

Jaehyun, anak teladan yang paling tidak banyak tingkah, siapa sangka akan memilih Taeyong sebagai pasangan masa mudanya? Anak nakal yang terlalu sering masuk ruang BK, kehadirannya ditakuti satu angkatan.

 

Kontras yang membungkus mereka membuat hubungan mereka terlalu murni untuk dia nodai.

 

Jadi, saat masuk bulan ke enam, saat Taeyong tengah siapkan makan malam, dia sangat terkejut menyapa Jaehyun dengan muka masam. Mata menyorot tajam dan sesuatu erat tergenggam.

 

“Jaehyun?”

 

Entah siapa dalang dibaliknya, antara Johnny atau Yuta yang berbohong dan menolak mengakui apa yang sudah mereka lakukan atau memang ada penyusup yang merekam percakapannya dengan Johnny dan Yuta di malam itu. Malam kala hubungannya dengan Jaehyun masih berumur satu minggu.

 

“Keluar.”

 

“Jaehyun.”

 

“Keluar. Lo mau gue geret atau mau jalan sendiri?”

 

Getir rasa hatinya saat dia dengar Jaehyun bicara dengan nada yang begitu rendah, begitu mematikan. Saat Taeyong memutuskan untuk diam, ternyata Jaehyun tidak segan untuk melakukan apa yang dia kata; Jaehyun benar-benar seret Taeyong ke luar rumahnya, sekalipun di luar sedang hujan badai.

 

“YOU CAN’T JUST KICK ME OUT LIKE THIS YOU FUCKING PATHETIC FUCKING LOSER.”

 

Dengan pintu kayu yang membatasi mereka, samar Taeyong dengar Jaehyun menyahut dari dalam.

 

“Kenapa?“

 

“I have fall for you, Jaehyun. Let me in.”

 

Senyap.

 

Sepi.

 

Kemudian tawa terdengar.

 

“Who’s the fucking pathetic now, Taeyong? Find some ass to fuck. I don’t date a slut.”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lulus, Taeyong memutuskan untuk berhenti menemui Yuta dan Johnny. Absennya Jaehyun dari hidupnya cukup menanamkan trauma. Dia mulai merasakan ketakutan lebih untuk ditinggal, hal yang jadi faktor mengapa dia putuskan untuk terus sendirian—entah sampai kapan. Karma masih bersiap di balik punggungnya untuk menampar dia kencang-kencang dengan realita kehidupan. Sukses yang dia terima, masih terasa horor di tangannya.

 

Hukum tanam tuai itu tetap ada dan Taeyong masih sangat menyesal dengan apa yang sudah dia lakukan kepada Jaehyun.

 

Dia tidak akan pernah siap untuk bertemu dengan Jaehyun.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jujur, melihat sukses yang Jaehyun tuai cukup buat dia terharu. Jaehyun pantas mendapatkan seluruh atensi dan pengakuan dari orang lain.

 

Mengenai dirinya— pantaskah dia untuk dapatkan apa yang hari ini dia miliki?

 

Jaehyun dan Taeyong terkenal di bidang mereka masing-masing. Setelah menang award sebagai The Most Influental Model of The Year selama dua tahun berturut-turut, meniup Taeyong terus mencapai pucuk.

 

Begitu juga Jaehyun. Pameran fotonya laku keras dan kini jadi fotografer dengan bayaran termahal—terhitung dari tahun lalu dan sampai sekarang belum ada yang bisa mengalahkan sinar pamornya.

 

Dua orang terhebat di masing-masing bidangnya, disatukan oleh NeoMagz. Tentu, semua orang antre menantikan kolaborasi mematikan antara keduanya.

 

Mematikan.

 

Sebagaimana Taeyong sebenarnya ingin mati di tempat kala dia duduk bersebrangan dengan Jaehyun untuk membicarakan lebih lanjut tentang konsep yang akan mereka usung.

 

“Sex Appeal, Pleasing, Pleasure. Pihak kami ingin menonjolkan poin-poin itu. Majalahnya akan disebarkan secara terbatas, seperti yang Jaehyun mau, menjadikan edisi ini sebagai jadi edisi teratas, gerakan pioner untuk majalah lainnya.”

 

Begitu penjelasan dari pihak NeoMagz.

 

“Oh, kami sudah atur jadwal juga, sudah dikoordinasikan dengan manajer kedua belah pihak. Sama- ini, Jaehyun. Atasan kami adalah salah satu penggemar kamu dan kalau boleh, dia mau minta untuk recreate salah satu foto kamu sebagai special cover.”

 

“Yang mana?” Jaehyun memicingkan sorotnya, dia benahi kaca matanya agar duduk di batang hidungnya dengan benar.

 

“Kartu As.”

 

Sementara Taeyong yang bergeming sejak awal hanya bisa setuju saja. Dia tidak punya alasan apapun yang bisa digunakan untuk menolak permintaan NeoMagz. Dia sudah tanda tangan kontrak lebih dahulu tanpa sadar kalau ada bagian ‘kolaborasi dengan tamu pilihan, akan diumukan lebih lanjut’. Siapa yang tahu kalau tamu itu adalah Jaehyun?

 

Jadi, dia hanya bisa telan pil terpahit dalam hidupnya dan menganggukkan kepala.

 

“Taeyong, tahu foto Jaehyun yang Kartu As, kan?”

 

Oh-

 

Siapa yang tidak tahu?

 

 

“Jadi, bisa dimulai besok, ya?”

 

 

Kartu As adalah foto yang meniup Jaehyun sampai menyapa langit ke tujuh. Jadi gerakan yang digunakan para feminis untuk meneriakan kesetaraan—yang masih mereka emis. Foto itu terus terpajang, memenangkan banyak penghargaan, dijadikan simbol pergerakan, propagada—yang jelas, begitu kuatnya kehadiran Kartu As, kekuatannya tidak lekang oleh waktu.

 

Foto seorang perempuan, dengan dua kartu as menutup dada, telanjang dengan ekspresi menggoda. Hamparan asap rokok yang dijadikan sebagai simbol maskulinitas, dipaksa turun dari tahta dan menjadikan keberanian adalah maskulin dan maskulin bukan hanya di tangan pria.

 

Percikan wine, jadi simbol darah yang harus keluar dari seorang perempuan untuk semata-mata bisa menang. Dasi yang tersampir, adalah pesan kalau lelaki tidak lebih hebat dari sebuah ikon, pajangan yang di elu-elukan, sebagai bentuk validitas ego yang fana.

 

Begitu menginspirasi dan Taeyong harus bisa menyampaikan pesan sekuat itu—rasanya, karir sudah di ujung, semakin disudutkan lagi.

 

Meski, tidak dengan bentuk yang sama. Recreate yang  NeoMagz maksud adalah meminta Jaehyun membuat foto se-iconic Kartu As dengan menggunakan Taeyong sebagai model, dengan poin-poin tadi yang diminta untuk disampaikan.

 

Tidak terlintas di kepala Taeyong apa yang harus dia lakukan untuk menjadikan tema itu nyata. Matanya enggan terpejam kala malam, otaknya bekerja kian lancar, dan dia terjaga sampai pagi menyapa.

 

 

 

 

 

Maka Americano satu-satunya sahabat yang memompa sadarnya. Sesekali, Taeyong sempatkan tidur kala kantuk menyerang, meski dalam posisi duduk dan dengan wajah yang tengah dirias sedemikian rupa.

 

“Eh, tuh, Jaehyun udah dateng.”

 

“Duh, ganteng banget ya.”

 

“Mana badannya bagus banget. Suka cewe ga si? Mau daftar.”

 

Taeyong berdecak. Kencang.

 

“Kalo mau gosip keluar kalian semua,” ucapnya ketus.

 

Masih pagi dan telinganya sudah panas dihantui para penggemar terselubung Jaehyun ini.

 

“Doyoung.”

 

Taeyong langsung menolehkan seluruh tubuhnya pada si Manajer, penanggung jawab secara menyeluruh atas jadwal yang terkesan begitu buru-buru. Padahal, masih banyak waktu sebelum deadline yang NeoMagz tentukan.

 

“Kenapa musti take dari sekarang si?” Taeyong merenggut kesal, alisnya yang sudah dipertegas nyaris bertaut pada satu sama lain.

 

“Nyocokin jadwalnya susah. Jaehyun sibuk banget.”

 

“Tapi kayanya tadi gue liat, engga juga,” decak Taeyong. Belum lagi, “Ada yang sampe seminggu full ketemu. Buat apa?”

 

“Katanya, dia orangnya musti sempurna. Jadi, make sure semuanya sesuai kriteria dia tuh ga gampang. Udah, lo nurut aja biar aman. Tinggal pose doang. Lo udah ganteng, diem doang juga bisa jadi foto cover majalah.”

 

Ternyata, dia masih Jaehyun yang dia kenal dahulu kala. Anti dengan salah, semua yang dilakukan penuh sungguh-sungguh dan hasil yang diberikan selalu melewati ekspektasi tiap orang.

 

Taeyong harap, ini bisa segera berlalu.

 

 

 

“All staff, kita brieffing dulu, yuk. Kak Taeyong, boleh langsung ke area wardrobe, ditemenin Jaehyun yang mau setting tempat, ya?

 

Setelah itu sarapan. Kita mulai jam sepuluh.”

 

 

 

Pagi buta Taeyong didandan hanya untuk membiarkan make-upnya kering sampai menyatu dengan wajah aslinya dan gambar molek dirinya baru diambil nanti jam 10.

 

Masih terlalu banyak waktu yang bisa dibuang, membawa otaknya menderingkan alarm awas. Tanpa sadar, dia meringkuk di kursinya, memeluk tubuhnya yang bergetar penuh cemas.

 

Namun, Taeyong harus tetap profesional. Sudah dari kemarin dia coba kesampingkan tentang siapa partner kerjanya, namun sulit untuk dia tetap tenang, apalagi harus berhadapan dengan mantan kekasihnya.

 

“You knew him so well, why would you still afraid of him?”

 

Oh, Doyoung. Justru, karena Taeyong terlampau kenal dengan Jaehyun.

 

Langkahnya jadi terasa begitu berat untuk menuju ruang ganti baju. Dia perlu melewati Jaehyun untuk sampai ke ruangan seberang, dimana properti dan pakaian pemotretan disimpan.

 

Dia putar otak, bagaimana caranya agar geraknya tidak terlihat. Namun, gagal dia dapatkan jawaban, sehingga dengan pasrah berjalan melintasi area pemotretan—dimana Jaehyun tengah mengatur kameranya—dimana dia usahakan langkahnya gontai, santai, tanpa kesan takut yang sebenarnya begitu penuh dalam dada.

 

Taeyong berhasil menuju ruang ganti tanpa memantik reaksi apapun dari Jaehyun. Lelaki itu terlihat masih terpaku pada kerjaannya, yang mana buat Taeyong langsung menghela nafas lega.

 

Jika boleh jujur, Taeyong bisa saja minta putus, kapan saja yang dia mau. Namun, dia terlanjur suka, dia terlanjur sayang, dan dia putuskan untuk habiskan enam bulan yang tersisa untuknya sampai puas, sebelum Jaehyun harus pindah dari tangannya.


Namun, seiring berjalannya waktu, Taeyong tidak bisa mengenyampingkan bahwa sangat banyak sisi baru yang sedikit-sedikit dia rasakan, samar-samar dia temui, dan tidak jarang dia bergidik merinding saat kepalanya membentuk satu kesimpulan dari tiap rempahan fakta yang matanya tangkap.

Jaehyun punya banyak buku yang tidak pernah Taeyong mengerti kenapa harus dibeli; kumpulan ekspresi pada wajah manusia, how to socialize 101, how to appear friendly without no one realizing . Is he not normal or is he just a nerd?

 

Jika orang lain lihat Taeyong dan Jaehyun berdampingan, maka kesan awal yang didapat pasti Taeyong dengan sorot tajamnya punya posisi yang lebih dominan daripada Jaehyun.

Taeyong juga percayanya begitu, saat awal dia jalin hubungan dengan Jaehyun. Namun, semakin lama, dia semakin sadar, bahwa meski dengan begitu lembut diutarakan, Taeyong akan berakhir patuh dengan apapun yang Jaehyun katakan.

 

Jaehyun adalah yang dominan diantara mereka.

 

Jaehyun—

 

“Nyobain baju, Yong?”

 

Suara Jaehyun terdengar dari luar ruang ganti baju dan jantung Taeyong nyaris lompat dari tempat. Dia dapati celananya tanggal di depan kaca, hendak mencoba satu pakaian yang kini tangannya genggam.

 

Namun, kala dia menoleh dan lihat kalau Jaehyun dengan santai membuka pintu ruang ganti baju tanpa peduli kalau tungkainya tengah telanjang, seluruh ototnya langsung tegang, ketakutan.

 

Dia hanya bisa mundur, maksudnya ingin lari dan bentengi diri dengan merentangkan jarak seluas mungkin, namun yang ada Jaehyun masuk mengisi ruang yang tersisa.

 

Ruang ganti baju itu kecil, ada satu kursi di dalamnya dan karena terisi dengan mereka berdua, nyaris tidak ada ruang lagi untuk Taeyong pergi agar mereka berdua punya jarak lebih dari satu meter.

 

Taeyong terduduk di kursi stool karena Jaehyun yang terus maju. Pintu ditutup, klik terdengar tanda mereka terkunci bersama.

 

“Sempit. Kalo perlu juga, gantian.”

 

Taeyong buang wajahnya ke samping, enggan dia lihat Jaehyun yang menjulang tinggi di hadapannya, begitu dekat sampai bisa dia cium aroma parfum yang sangat khas, sudah sangat lama tidak dia sapa.

 

Taeyong terkesiap, kaget. Dia dapati Jaehyun pindah ke sisi kiri selagi mukanya dia alihkan ke sebelah kanan, namun tidak dia sangka kalau Jaehyun pindah untuk menarik kursi yang dia duduki berada tepat di tengah ruangan.

 

Badannya diputar, dagunya diangkat agar dia tonton dirinya pada refleksi kaca.

 

Begitu jelas.

 

Jaehyun, bohong jika tidak ada rindu yang terasa, kala mereka adu pandang lewat cermin yang tinggi berdiri di depan mereka. Rasanya panas, badannya merinding merasakan hawa mencekam yang Jaehyun bawa, sampai gemetar saat dagunya diusap begitu lembut oleh jempol Jaehyun yang tebal, yang berat di atas kulitnya.

 

“Long time no see, Taeyong.”

 

“What the fuck do you want?” gemertuk gigi Taeyong terdengar, saat rahangnya diremat kuat oleh tangan Jaehyun.

 

“Galak,” kekeh Jaehyun singkat, “Have you find someone to fuck? To stick your cock in his ass? Was he Doyoung?”

 

“Funny, Jaehyun,” decih Taeyong, kelopaknya menyipit terganggu dengan apa yang Jaehyun katakan, “I don’t fuck my colleague.”

 

“Kenapa? Gue tebak- lo sayang sama dia? Kaya dulu lo sayang sama gue dan gaberani masukin kontol lo ke pantat gue?” Jaehyun berdecak, “Alasan lo gapernah masuk akal di telinga gue, Taeyong.”

 

“Gue gapernah tertarik buat ngentotin lo, Jaehyun.” Taeyong paksa bibirnya untuk menarik seringai, “Syukur akhirnya lo mutusin gue.”

 

“Said someone who was waiting in front of my door for days, asking for forgiveness?” nada bicara Jaehyun lembut, namun penuh ejekan yang buat Taeyong merasa rendahan, “Imut. Masi gemesin, kaya dulu.”

 

Taeyong gerakkan kepalanya dan berharap bisa lepas tangan Jaehyun dari wajahnya, “Fuck off, Jaehyun. I know you have no interest on me and neither I am.”

 

“Why would you think that way, Baby?”

 

Nada bicara itu— adalah bagaimana Jaehyun, dulu, saat masih menjadi pacarnya, menyapa dirinya. Terngiang, betapa manis terdengar, begitu lembut dan menenangkan. Namun, kini kental akan teror yang buat takutnya terus terpanjat.

 

“You have no idea how long I have been waiting for this. I missed you.”

 

“Don’t play games, Jaehyun. Gue tau, lo benci banget ngeliat gue di sini. Jadi, mending kita profesional aja. Kelar ini, lo gabakal perlu ketemu gue lagi.”

 

“Yah,” Jaehyun menghembuskan nafas panjang, “Padahal, gue pengen kita bisa main bareng lagi.”

 

Badan Taeyong langsung kaku, seluruh ototnya tegang, sendinya tidak mampu berbuat banyak, saat dia rasakan tangan Jaehyun landas di kedua pergelangan tangannya. Ditarik ke belakang dan seutas kain mengikat begitu erat.

 

“Jaehyun—“ Taeyong berontak, namun cepat cekikan menyapa lehernya. Tidak sampai memutus saluran nafasnya, tapi cukup membuat panik menyerang membabi buta. Dia gagal tutupi takut lewat sorot matanya.

 

Terutama, saat dia rasakan tangan Jaehyun menyapa paha telanjangnya.

 

“Lo bisa lama sama gue, karena gue ngasi kesempatan itu ke lo, Taeyong,” kata Jaehyun, “Lo ga mikir gue sebodoh itu untuk tetep sama lo, kan?”

 

Jaehyun mengernyitkan keningnya, wajah bingungnya jelas dia pamerkan di hadapan Taeyong.

 

“Besides, I did, really really in love with you, which is kind of sad knowing I was nothing but piala bergilir buat lo. But what’s the fun to only be with you for a month?”

 

Jaehyun— tahu?

 

“So, I played along for the remaining time. Lo juga enak dipake, jadi gue ga masalah buat ikutin permainan lo.”

 

Kali ini, Taeyong yang mengernyitkan kening, kebingungan. Alisnya nyaris bertaut, “Maksud lo?”

 

Jaehyun terkekeh, “You were a nice pet when you slept, Taeyong.”

 

Tangan Jaehyun yang bergerak ke pangkal kaki Taeyong, dimana Taeyong langsung mengempit kuat, menahan agar tangan Jaehyun tidak bergerak lebih dekat dengan kelaminnya.

 

“Oh come on,” tawa Jaehyun terdengar begitu lepas, “Kenapa disembunyiin memek cantiknya, hm?”

 

Mudah untuk Jaehyun buka dua kaki Taeyong lebar-lebar, dengan posisi tangan Taeyong terikat erat di belakang badan. Lelaki itu hanya bisa menunduk takut, saat kakinya dipaksa mengangkanh oleh Jaehyun, dimana mengintip celana dalam hitam di tengah tungkai jenjang Taeyong.

 

Jaehyun kesampingkan dalaman Taeyong dan dia bisa lihat vagina yang sudah lama tidak dia sapa adanya.

 

“Gue tau, lo ga bakal ngentotin gue. Lo takut rahasia lo bakal gue bocorin. Bayangin kalo Johnny sama Yuta tau, pasti memek lo uda longgar,” tutur Jaehyun begitu lugas, “Makasi uda jagain pepeknya biar tetep rapet, Sayang.”

 

Kecupan di puncak kepalanya buat dia menggigil hebat.

 

Taeyong menengadahkan kepala untuk temui wajah Jaehyun secara langsung, matanya sayu berkaca-kaca, “Let me go, Jaehyun. Please?” Dia memohon dengan begitu bersungguh-sungguh, tahu tidak ada lagi posisi menguntungkan yang tertinggal untuknya.

 

“I will.”

 

Jaehyun mengangguk ringan.

 

“After we have fun.”

 

Jari Jaehyun bergerak dengan mudah untuk kesampingkan celana dalam Taeyong, lalu memisahkan dua labia yang begitu lembut terasa di sidik jarinya.

 

Jaehyun gosok-gosok pelan dan nyatanya tubuh Taeyong langsung reaktif akan sentuhannya.

 

Tubuh Taeyong ingat, merekam semua yang pernah dia lakukan tiap kali Jaehyun buat Taeyong pingsan. Vagina Taeyong langsung basah, becek hanya dengan Jaehyun elus pelan-pelan.

 

“Lo—“ antara amarah dan nafsu yang tanpa dia sangka menggebu di dada, Taeyong tahan nafasnya agar tidak lolos desahan yang berontak di ujung kerongkongannya, “—ngapain badan gue, Anjing.”

 

Kepala Taeyong yang menengadah ke atas langsung dengan mudah Jaehyun lumat, seraya dia mainkan vagina Taeyong yang sepertinya sama rindunya dengan dirinya. Dia gosok labia Taeyong sampai suara basah menggema, dan kala dia tekan kuat-kuat, dia pijat klitoris Taeyong yang sudah dia hapal tempatnya, Taeyong memekik kaget dalam ciuman mereka dengan pinggang yang refleks terlontar ke atas.

 

Sebelah tangan Jaehyun bergerak menjambak rambut Taeyong, “Sabar. Kangen banget ya memeknya dimainin?”

 

Taeyong tarik nafasnya rakus, “Jaehyun—“ suaranya geram mengudara dan langsung Jaehyun sumpal dengan bibirnya.

 

Paha Taeyong langsung tegang saat Jaehyun tanpa pikir panjang masukkan satu jarinya yang masih kering kerontang ke dalam liang senggamanya. Rasa perih merambat sampai ujung kaki tatkala kering ruas Jaehyun hanya terbalur cairan yang keluar dari kelaminnya.

 

Hanya satu jari yang Jaehyun butuhkan untuk kocok vagina Taeyong sampai cairan dari dalam vaginanya keluar lebih deras. Taeyong sempit, mencengkram jari tengahnya begitu erat. Jaehyun aduk vagina Taeyong seraya dia tekan klitoris Taeyong dengan jempolnya, dan lewat pantulan kaca Jaehyun jadi bisa tonton memek cantik Taeyong yang mulai merah merona, dua paha Taeyong makin tegang, jemari Taeyong jadi menggulung kuat.

 

Jaehyun lepas ciuman mereka dan paksa Taeyong menunduk, menonton vagina yang sudah susah payah disembunyikan keberadaannya, kini dia mainkan sampai si pemilik bergetar keenakan.

 

“Relax, Taeyong,” bisik Jaehyun, “Lo gaboleh tegang, biar nanti hasil fotonya bagus.”

 

“Foto pantat gue, kontol.” Taeyong meracau marah, merasa tubuhnya mengkhianati apa yang akalnya katakan, “Jaehyun— Jaehyun, stop!”

 

“Mulutnya, kotor banget.” Jaehyun berdecak kecewa, “Padahal dulu diem aja. Patuh banget.”

 

Technically, Jaehyun, of course he was only silent when you fucked him. The drug did its job well.

 

“Jaehyun- udah—“

 

Taeyong masih dilanda bingung karena dia tidak suka bagaimana Jaehyun memperlakukan dirinya seperti sekarang, dia menolak dengan keras, namun pahanya terbuka makin lebar, pinggangnya terangkat, vaginanya berdenyut lapar. Air matanya mengalir, putus asa pada tubuhnya yang enggan patuh, namun menuruti jari Jaehyun yang bergerak kuat mengaduk liangnya.

 

Taeyong berjengit, namun badannya tidak sekaku itu, malahan mulai terlena dan meminta lebih, sehingga tidak terganggu saat jari Jaehyun yang kedua masuk mengisi liangnya.

 

Jari manis Jaehyun terasa benar untuk ada di sana. Matanya hanya bisa memandang penuh horor saat urat tangan Jaehyun menyembul lebih kontras dari balik kulitnya, lalu dia rasakan lubangnya diaduk kencang sampai terkocok kandung kemihnya.

 

Dia pejamkan matanya kuat menolak kenikmatan yang menyerangnya, sepuluh jari kakinya melingkar hebat, pahanya kaku namun membuka lebih luas, punggungnya kian bersandar pada badan Jaehyun agar bisa mudah pinggangnya naik, menerima colokkan Jaehyun yang begitu tajam.

 

Suara tersedak dari lubang kelaminnya, cairannya dikocok brutal, sweet spot-nya diadu tanpa jeda. Kepalanya ditarik kencang,  lalu mulutnya disumpal lumatan tanpa maaf.

 

Bibirnya digigit, klitorisnya dicubit begitu kencang sampai dia teriak diantara lumatan mereka, memacu gerakan tangan Jaehyun makin cepat.

 

Telinganya berdering nyaring, merasakan geli di ujung perutnya.

 

“HMPH-“

 

Lalu bisa Taeyong rasakan lubangnya  memuncratkan cairan.

 

Dia— squirting.

 

Matanya terbuka tidak percaya.


Bibirnya diemut manja, badannya layu menerima tamparan ringan dari tangan besar Jaehyun untuk vaginanya.

 

“Nurut, Taeyong.”

 

Kepala Taeyong kembali diarahkan untuk menghadap ke kaca, sehingga bisa dia lihat bekas main mereka—cairan orgasmenya yang mengotori lantai juga kaca, tubuhnya yang merah dari ujung kaki sampai kepala.

 

Jaehyun berbisik tepat di telinganya.

 

“Kalo ga, memeknya debut masuk majalah.”

 

Bisa apa Taeyong, selain telan salivanya bulat-bulat, terisak pasrah mendapati dirinya berada di ujung jurang.

 

Rambutnya ditarik kencang sampai badannya berdiri.

 

Giliran Jaehyun yang duduk di kursi yang tadi dia pakai.

 

Lalu lagi, surainya dijambak sampai badannya duduk tepat di atas pangkuan Jaehyun.

 

“Jaehyun—“

 

“Lo mau gue masukin sekarang atau nunggu waktu staff pada balik?”

 

Taeyong gelengkan kepalanya paksa, meski diminta diam oleh tangan Jaehyun yang mencengkram kian kuat.

 

“Gamau.”

 

Runtuh sudah topengnya, ekspresi sangar yang dari tadi coba dia pertahankan. Kini, hanya ada sorotan memelas penuh kekalahan.

 

“Jaehyun, jangan,” dia terisak, meski balasannya sesuai dugaan—Jaehyun tidak akan dengar apa yang dia minta, Jaehyun tidak akan peduli dengan apa yang dia kata.

 

Jaehyun tarik wajahnya, lalu bibirnya dicium, dilumat begitu kasar. Rahangnya ditahan dan Taeyong kalah kalau masalah aduh kuat.

 

Panik menabrak kepala saat dia rasakan sebelah tangan Jaehyun berada di punggungnya.

 

Suara resleting celana ditarik terdengar nyaring di telinga.

 

Taeyong hanya bisa pejamkan mata, pasrah, saat tidak lama berselang, dia rasakan sesuatu menabrak punggungnya.

 

Penis Jaehyun, terasa melintang begitu panjang di atas kulitnya.

 

Jaehyun hentikan ciuman mereka, wajahnya kembali diarahkan pada kaca.

 

“Buka matanya.”

 

Bisikan Jaehyun bersamaan dengan tangan yang mengangkat pinggangnya, sehingga kini badannya melayang nanggung di atas badan Jaehyun.

 

Lututnya yang lemas terasa ngilu, makin sirna tenaganya saat dia buka matanya pelan-pelan, dan bisa dia lihat sebesar apa Jaehyun di bawah sana.

 

Langsung menoleh kepalanya ke belakang, “Jangan. Jaehyun—“ dia telan salivanya kasar, “—ampun,” bisiknya menyedihkan. Lagi, matanya meram saat Jaehyun gosok kepala penisnya tepat di depan kemaluannya yang basah kuyup.

 

Bisa dia rasakan vaginanya berdenyut, kontras dengan dia yang takut.

 

Jaehyun besar. Jaehyun panjang. Kalau masuk, dia yakin nyawanya juga ikut melayang.

 

Tapi Jaehyun tuli. Sebelah tangan memaksa Taeyong untuk turunkan badan, sebelah lagi menahan penisnya agar masuk di lubang yang tepat.

 

Meski, sekeras apapun Taeyong tahan agar dirinya tetap berdiri, setelah orgasme tadi, dia tidak kuat untuk menahan diri agar tetap dalam posisi.

 

Kaki Taeyong yang kehilangan tenaga, membuat Jaehyun mudah untuk menarik pinggang langsing itu sampai turun dan ikut andil dalam proses memasukan kelaminnya ke dalam vagina Taeyong.

 

Mata Taeyong terbelalak kala dia sapa, kepala penis Jaehyun mencoba menerobos bibir lubang senggamanya penuh paksa, setelah tadi hanya dipersiapkan oleh kocokan dua ruas jari saja.

 

Nyeri, sakit, perih menyerang vaginanya yang masih sempit, masih rapat. Sepanjang hidupnya, Taeyong tidak pernah masukan apapun ke dalam vaginanya. Sejauh yang dia tahu dan sadari, dia masih perawan.

 

Teriakan lolos tanpa mampu dia tahan, dia mengaduh kesakitan tanpa bisa apa-apa. Kakinya gemetaran menahan perih, terasa dibuka secara penuh paksa, sampai perutnya mengempes hebat, refleks dia mengejan menolak Jaehyun untuk masuk lebih dalam.

 

Tapi, badannya terus ditarik Jaehyun agar turun menelan penis Jaehyun yang kian pangkal kian besar. Tanpa memikirkan betapa kuat cengkraman vagina Taeyong yang menyiratkan sejauh mana sakit yang Taeyong rasakan, tanpa peduli kalau Taeyong tengah berjengit mencoba mengalihkan sakit, Jaehyun tetap lanjutkan prosesnya. Meski, dia juga rasakan ngilu hebat karena diremat begitu kuat, namun nikmatnya tidak akan pernah tergantikan, membuat dia mendesah rendah, seraya terus menduduki badan Taeyong agar menduduki batangnya dengan sempurna.

 

Lagi, kepala Taeyong ditegakkan, dipaksa menoton pada kaca bagaimana memeknya lapar menelan batang panjang Jaehyun. Denyut vaginanya memijat Jaehyun dengan penuh nafsu, badan mereka berdua bergidik, bergetar merasakan penyatuan yang luar biasa.

 

Maka, Jaehyun pegang dua pinggang Taeyong, lalu dia adu kelamin mereka dengan naikkan pinggangnya kencang, menyodok vagina Taeyong kuat-kuat, sampai lubang itu terpaksa terbuka untuknya.

 

Derit dari penyatuan mereka samar-samar terdengar. Taeyong yang paling merasakan sakit saat lubang kelaminnya dikoyak paksa. Nyeri, perih mendera, namun tidak bisa dia pungkiri nikmat begitu mendominasi sampai vaginanya jadi makin basah.

 

“Bangsat, ternyata enak banget pepek lo.”

 

Jaehyun gigit pundak Taeyong, sehingga sakit yang Taeyong rasakan menyebar ke seluruh tubuh. Tungkai Taeyong masih tremor heboh, perutnya mengempis hebat, kakinya tersandung oleh cairan yang tadi dia semprotkan, sehingga badannya langsung ambruk dan telan penis berurat Jaehyun sampai masuk nyaris semuanya.

 

Badan Taeyong kaget, tegang. Kepalanya menengadah ke atas, matanya bergulir ke belakang, tangannya yang terhimpit antara perut berotot Jaehyun dan punggung mulusnya hanya bisa mengepal.

 

Entah apa yang sudah Jaehyun perbuat pada badannya, sampai muncrat lagi cairannya keluar dari vagina, meski tidak sebanyak sebelumnya.

 

“Ga, Taeyong. Gue selalu pake pantat lo buat gue ewe. Nyimpen memek lo buat sekarang, waktu lo sadar badan lo gue pake.”

 

Jaehyun seakan tau apa yang ada di kepala Taeyong. Dia belai surai si badan mungil yang ada di atas pangkuannya, yang masih menikmati sensasi perih di vaginanya.

 

“Save the best for last,” bisik Jaehyun, “Fucking finally.”

 

Taeyong masih berusaha bernafas normal. Mulutnya menganga, sakit yang menjalar sampai buat telinganya berdering nyaring. Dia mencoba berontak dengan gerakkan pinggangnya, minta di bebaskan, namun sepertinya dia bergerak mengirimkan sinyal yang salah—atau Jaehyun memang sengaja menyalahartikan—sehingga yang dia dapati adalah kecupan di pipi, dan suara Jaehyun yang berbisik, “Will do, Baby.”

 

Taeyong tidak mengerti.

 

Sampai akhirnya tangan Jaehyun berada di bawah dua pahanya, badannya diangkat sampai keluar penis Jaehyun nyaris seluruhnya, lalu tubuh Taeyong dijatuhkan dalam sekali hantam, membuat keduanya meraung dengan makna yang berbeda; Taeyong yang kesakitan sampai kepalanya pusing luar biasa dan Jaehyun merasakan kenikmatan yang tidak akan pernah ada gantinya.

 

Tangan Taeyong yang tadi mengepal, langsung melebar, mencoba menyari pegangan namun yang dia dapatkan adalah bersandar pada otot perut Jaehyun, yang mana kian buat isi kepalanya kalut.

 

Sodokan Jaehyun semakin kuat, semakin keras menusuk vaginanya, sampai matanya terbuka lebar, alaram awas bunyi kian kencang di telinganya, dan gelombang nyeri lagi-lagi merambat di badan, buat kakinya mencoba mengempit rapat. Namun, bisa apa dia kalau terhalang dua tungkai kuat Jaehyun?

 

Taeyong ingin teriak, namun suaranya sudah sirna, sehingga mulutnya hanya bisa membuka pasrah, dengan saliva yang mengalir di sudutnya.

 

Jaehyun rasakan pijatan vagina Taeyong yang ekstra kuat, dia melenguh rendah dan semakin semangat menggenjot lubang vagina Taeyong agar bisa terbuka lebih lebar, agar bisa lebih gampang menerima kehadiran penisnya.

 

Hanya horor yang mampu Taeyong pandang, menonton lubang vaginanya disodok liar, dipaksa mangap begitu lebar, dan saat penis panjang Jaehyun tengah keluar, lolos isak tangisnya saat dia lihat bercak darah perawannya menempel di batang terang kelamin Jaehyun, tercat begitu kontras dan menarik perhatian.

 

“Jaehyun—fUCKH—“ Taeyong memekik marah, kembali dia rasakan linu menjalar lebih hebat, saat penis Jaehyun lagi-lagi merojok masuk dengan kekuatan ekstra, sampai menabrak gumpalan keras di ujung sana, “Sakit!”

 

Sakit. Demi apapun, Taeyong merasakan kesakitan yang luar biasa dari vaginanya yang luka dan entah apa yang barusan Jaehyun tabrak. Namun, dia tidak mengerti mengapa badannya jadi senang, ketagihan, makin becek dan memudahkan akses Jaehyun keluar masuk di bawah sana. Seakan, dia sudah terprogram untuk menerima seluruh bentuk sentuhan Jaehyun, sekalipun itu menyiksa untuk alam sadarnya.

 

“Sakit?” Jaehyun bertanya balik, seraya dia lontarkan pinggangnya makin kencang, sampai badan Taeyong lompat di atas pangkuannya, “Kaya gini, sakit?“

 

Jaehyun tarik pinggang Taeyong agar menelan seperempat sisa penisnya, lalu dia dorong kuat-kuat pinggulnya, dia pijat penuh paksa buntalan empuk yang disundul kepala penisnya.

 

Badan Taeyong sekujurnya bergetar, orgasme—entah keberapa, dia tidak yakin dengan hitungannga— menderanya begitu hebat. Vaginanya mengapit Jaehyun kian erat, badannya jadi meringkuk menahan hasrat, sehingga kini lagi dia lihat dengan begitu jelas, bagaimana penuh vaginanya tersumpal penis Jaehyun.

 

“Diem, ya, Yong. Hadep kaca.”

 

Jaehyun keluarkan sebagian penisnya, lalu dia dorong lagi sekuat tenaga.

 

Taeyong kian gila dibuatnya, terutama saat dia lihat perutnya cembung tertusuk penis Jaehyun.

 

“G—ga- Jaehyun, jangan—“

 

Sebelah tangan Jaehyun kembali memutar klitorisnya, sebelah lagi menekan perut  bagian bawahnya, bagian yang tadi mempertontonkan posisi penis Jaehyun dengan begitu bar-bar.

 

Digempur lagi lubangnya, lebih kuat lagi dari sebelumnya.

 

Sekujur badannya merasakan geli yang tidak tertahankan, saat sakit ujung rahimnya dihantam, bersamaan dengan klitorisnya yang terus digosok begitu kasar. Perutnya ditekan sampai sesak, sampai Taeyong bisa rasakan kulit perutnya dipijat dari luar dan dalam, mendorong Taeyong untuk kembali menyemprotkan cairan kenikmatannya.

 

“Lo lebih sensitif kalo lagi sadar gini, ternyata.”

 

Taeyong terengah, energinya terkuras.

 

“Padahal, gue belum mulai apa-apa.”

 

Lalu, baru dia sadar—Jaehyun masih sekeras baja di dalam lubangnya.