Work Text:
“Ibu.”
Ran langsung terkesiap, ia segera menyimpan kembali fotonya bersama pria yang paling dicintainya saat mereka bermain di Tropical Land. Baru setelahnya ia menghadapi sang putra dengan senyuman.
“Ada apa, Sayang?” tanya Ran, berusaha untuk menjaga suaranya agar tidak bergetar.
Di sisi lain, sang putra, Mouri Conan, ia tahu ibunya lagi-lagi teringat dengan pria itu. Pria yang fotonya selalu ia lihat dan peluk. Pria yang tidak Conan kenal selain nama dan pengaruhnya yang besar. Tidak hanya untuk ibunya, tetapi juga seluruh Jepang.
Namun saat ini Conan tidak ingin membahasnya. Ia tahu membahas pria itu akan membuat ibunya bersedih lagi. Ia tahu saat ia menanyakan bagaimana hubungan ibunya dengan pria itu dulu akan mengundang banyak air mata. Conan tidak ingin itu terjadi.
Alhasil, pria yang umurnya sudah tujuh belas tahun ini menjawab tanpa mengindahkan kegiatan yang baru saja ibunya lakukan. “Aku sudah membuat makan malam.”
Ran terdiam sebentar sebelum menganggukkan kepala. “Baik, Ibu akan segera ke sana. Tunggu sebentar ya.”
“Oke.”
Saat makan malam suasananya menjadi sedikit lebih hangat. Conan menceritakan hal-hal yang dilakukannya di sekolah sementara Ran menjadi pendengar yang baik. Sesekali ia akan menanggapinya dan memberinya pujian jika yang dilakukan putranya adalah hal baik.
“Kalo Ibu, apa saja yang Ibu lakukan hari ini?”
Ran terdiam sejenak. Yang ia lakukan hari ini?
Aku sibuk merindukan pria bodoh.
“Ibu mengunjungi studio Ibu lalu mampir sebentar ke rumah kakek-nenekmu,” jawab Ran singkat.
Bukan Conan namanya jika ia tidak peka dengan ketegangan di raut wajah ibunya. Conan juga sudah hapal jika ibunya hanya akan begitu ketika ia melakukan hal yang berhubungan dengan pria itu. Lagi-lagi pria itu.
Siapa sih sebenarnya dia?
Mengapa ibuku selalu terlihat seakan jiwanya melayang setiap kali memikirkannya?
Bohong jika Conan benar-benar tidak tahu tentang pria yang memiliki pengaruh besar pada ibunya ini. Bahkan ketika Conan bertemu dengan teman-teman ibunya, mereka kerap membicarakan pria itu. Conan juga pernah beberapa kali bertemu dengan orang tua dari pria itu karena mereka menganggap ibunya anak mereka.
Ia tahu, tetapi tidak pernah benar-benar “kenal” dengan sosok pria itu.
Conan juga tahu ibunya kerap didekati berbagai laki-laki, mulai dari yang biasa saja sampai yang berkelas. Namun tidak ada satu pun yang bisa menaklukan hatinya.
Jadi, sebenarnya pria macam apa dia ini, yang bisa membuat seorang Mouri Ran sangat-sangat kacau?
“Ibu…”
“Iya?”
Conan tidak langsung menjawab. Sebagai gantinya, ia menggenggam tangan ibunya, menariknya, lalu memberinya kecupan.
“Aku tidak tahu seberapa penting pria itu bagi ibu. Aku bahkan tidak pernah bertemu dengannya, tetapi aku harap ibu tidak terus-menerus bersedih karenanya,” ucapnya lembut. Ia mengulas senyum tipis. “Aku ingin ibu move on, aku ingin ibu bahagia.”
“Conan—”
“Aku akan mencuci piring. Ibu bisa langsung tidur saja. Jangan lupa mendoakanku yaa,” belum sempat Ran berbicara, anak berumur tujuh belas tahun itu telah meninggalkannya duluan dengan piring-piring di tangannya.
---
Jika ada suatu hal yang membuat Ran sangat berterima kasih, adalah kehadiran putranya, Conan.
Putra yang ia adopsi dari panti asuhan saat berumur satu tahun dan belum bisa melakukan apapun. Kontras sekali dengan sekarang yang sangat aktif di sekolah. Ia juga merupakan anak yang sangat cerdas dan pandai di bidang beladiri.
Penjaga panti asuhannya dulu mengatakan bayi ini ditaruh di panti asuhan karena tidak memiliki siapapun. Orang tua kandungnya mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Para tetangga juga tidak begitu tahu-menahu tentang kerabat dekat mereka. Kebanyakan juga merasa tidak mampu menjaga bayi tersebut, makanya mereka menitipkannya di panti asuhan.
Mendengar cerita tersebut Ran merasa kasihan dan entah bagaimana cara mendeskripsikannya, tetapi ia merasa seperti ingin menjaga bayi tersebut. Ingin melindunginya, ingin memberinya kasih sayang, kehidupan yang layak, dan semacamnya.
“Apakah ia sudah memiliki nama?”
“Sejauh ini belum ada. Lagipula ia baru datang dua hari lalu.”
“Ahh, baiklah.” Ran mengangguk paham. “Jika saya ingin mengadopsinya, bolehkah saya memilih nama?”
“Tentu saja.”
And that is how the “Mouri Conan” name was made.
Hari-hari Ran yang hampa mulai kembali berwarna dengan kehadiran Conan. Putra kesayangannya. Bagaimana ekspresi membuat penatnya lepas, bagaimana tingkah lucunya membuat kesedihannya menguap. Satu hal yang paling membuat Ran sangat-sangat bahagia sehingga ingin menangis adalah ketika Conan baru pertama kali belajar menulis, dan yang ia tulis adalah,
Aku sayang ibu…
…Semoga aku dan ibu bisa bahagia bersama-sama selamanya
Betapa lucunya, bagaimana Ran menamakan putranya dengan nama yang sama dengan anak kecil laki-laki yang tinggal di rumahnya selama berbulan-bulan. Seorang anak kecil yang meninggalkan ruang yang besar di hati Ran. Bahkan Ran tidak akan segan mengakui kehadiran Edogawa Conan setara dengan kehadiran Kudou Shinichi, ayahnya Mouri Kogoro, ibunya Kisaki Eri, dan Suzuki Sonoko. Orang-orang terpenting dalam hidup Mouri Ran.
Sekarang anak kecil itu sudah tiada…
Well, secara teknis, Edogawa Conan memang tidak ada. Ia adalah identitas buatan dari sahabat masa kecil sekaligus pria yang disukai Ran, Kudou Shinichi, pasca dirinya diminumkan sebuah obat aneh yang menyusutkan tubuhnya. Awalnya Ran sulit menerima kenyataan tetapi dengan banyaknya kesamaan di antara Shinichi dan Conan, perlahan Ran menerima.
Menerima bahwa hal-hal sekonyol obat bisa menyusutkan tubuh itu ada. Menerima bahwa dirinya tidak termasuk ke dalam orang-orang yang bisa Shinichi percayakan dengan identitas barunya. Menerima bahwa Kudou Shinichi dan Edogawa Conan adalah orang yang sama.
Menerima yang berarti Ran harus banyak diam dan mengikuti “permainan” Shinichi—for the lack of better word.
Namun, pada akhirnya, Ran ditelan oleh kenyataan pahit. Mengapa dulunya ia diam? Mengapa ia tidak bisa mengulik kebenaran lebih jauh? Mengapa ia tidak memperlakukan kedua orang itu dengan sama?
Ran rasanya mau gila. Berhari-hari, berbulan-bulan ia menangisi orang terpenting nomor satu di hidupnya, mengira ia pergi entah kemana hanya untuk berhadapan dengan kenyataan bahwa sebenarnya ia tidak pernah meninggalkannya.
Shinichi tidak pernah meninggalkannya.
Sampai datanglah sebuah hari, tepat di mana malamnya Shinichi mengirimkan pesan, “Semuanya akan berakhir sebentar lagi. Tunggu aku.”
Itulah yang Ran lakukan.
Cluelessly.
Tidak tahu bahwa sosok yang ia tunggu berhadapan dengan sekelompok pembunuh. Sekelompok orang-orang mengerikan yang hanya mengambil keuntungan. Mereka—atau lebih tepatnya pimpinan mereka—tidak peduli. Selama orang-orang di kelompok itu berguna, mereka akan hidup. Jika tidak, mereka mati.
Shinichi bertekad untuk menghabisi mereka pada malam itu. Pada malam sakral itu.
In the end, he succeeded, even though it came with a price.
His life.
Bayaran untuk keberhasilannya menumpas organisasi gelap yang telah menghancurkan hidupnya.
---
Bagaimana aku bisa move on?
Bohong jika Ran terus-menerus larut dalam kesedihannya.
Bohong jika Ran tidak pernah memikirkan cara untuk bangkit.
Bohong jika Ran selalu membiarkan masa lalunya memengaruhinya.
Namun, segala usaha yang Ran lakukan tidak pernah seratus persen membuatnya melupakan Shinichi. Mungkin melupakan bukanlah kata yang tepat, tetapi Ran berharap, setidaknya setelah sepuluh tahun lebih, ia bisa berdamai dengan kenyataan.
Entah sudah berapa kali ia mencoba membukakan hati kepada yang lain, tetapi semuanya tidak ada yang pernah berakhir di hatinya. Tidak ada yang berhasil mengisi ruang kehampaan di hatinya, di jiwanya. Bahkan sekelas pria tampan, cerdas, dan menawan seperti Araide Tomoaki.
Sebagian besar isi jiwa Ran masih sah, mutlak milik Shinichi dan kematiannya telah membawa sebagian besar isi jiwa perempuan itu.
“Aku harus apa?”
Sering Ran menanyakan hal itu kepada dirinya, kepada teman-temannya, kepada kedua orang tuanya, bahkan kepada kedua orang tua Shinichi.
However, no one can ever give her a solid answer.
“Yang tahu cara terbaiknya adalah kamu sendiri, Ran,” ucap Eri. Selalu itu yang ia ulang untuk putrinya. “Ibu tidak menuntut kamu harus jadi orang yang seperti dulu karena ibu tahu itu tidak mungkin. Ibu hanya berharap kamu bisa terus berjalan, melakukan hal-hal yang kamu inginkan.”
“Menurutku wajar jika kamu tidak bisa melupakan Shinichi. Lagipula, kamu juga tidak harus melupakannya. Kamu boleh bersedih, menangis, tetapi kamu tidak boleh putus asa dalam hidup. Jangan mengakhiri hidupmu karena hal ini.”
“Dan aku tahu kamu sudah melakukannya, Ran. Kamu kuat, kamu sudah berjalan sampai sejauh ini. Perjuanganmu berdamai dengan sakitnya ditinggalkan, susah payah merawat Conan sebagai single-parent yang bekerja, darah, keringat, dan air mata yang kamu tumpahkan dalam usaha membangun studio, aku melihat semua itu.”
“Karena itu lah aku yakin, seorang Mouri Ran akan baik-baik saja, bahkan tanpa kehadiran orang yang dicintainya.”
---
Mungkin benar yang Sonoko bilang
Aku kuat
Aku sudah sampai sejauh ini
Aku telah mencapai aktualisasi diri
Aku telah berusaha menjadi ibu yang baik
Aku telah mengerahkan semuanya supaya kehidupanku lebih baik
Kini saatnya aku menjalankan apa yang kuinginkan
---
“Ibu.”
“Iya, Sayang?”
“Ini aku membawa temanku, namanya Kaori.”
“Aahh, jadi kamu yang namanya Kaori.”
“Iya, Tante.”
“Conan sering banget nyeritain kamu.”
Kedua pipi remaja itu sontak memerah.
“Ibu, ih!”
“Lho, kan benar.”
Sementara kedua remaja itu saling menunjukkan rona merah di pipinya, Ran dalam hati bersyukur.
Tugasku sudah selesai.
---
Seiring bertambahnya usia kesehatan Ran mulai menurun. Ia kontan sering merasa sesak di dadanya. Ketika ia melakukan pemeriksaan di rumah sakit, dokter mengatakan bahwa itu berhubungan dengan kondisi psikisnya yang tidak baik-baik saja.
“Jadi, mustahil bagi saya untuk sembuh?”
“Tidak mustahil. Kemungkinan akan selalu ada. Tergantung Ibu Mouri kembali, apakah Ibu benar-benar ingin sembuh atau tidak?”
Saat itulah Ran berpikir,
Jika ia sembuh, maka apa yang akan terjadi? Ia tidak mempunyai orang untuk menemani hidupnya, untuk menjaganya. Anaknya sudah beranjak dewasa, sudah sibuk dengan dunia pekerjaan serta romansanya. Meskipun tetap ibunya, Ran tidak sampai hati merepotkan anak yang ia besarkan dengan ikhlas.
Kembali lagi ke orang tuanya pun sudah tidak mungkin lagi. Mouri Kogoro dan Kisaki Eri telah pindah dari kantor detektif menuju perdesaan di mana mereka akan menikmati hari tuanya di sana.
Mereka juga sudah mewanti-wanti Ran di awal.
“Jangan pernah temui kami lagi.”
“Apa? Kenapa ayah berbicara begitu?”
“Tidak. Pokoknya jangan pernah temui ayah dan ibumu lagi,” Kogoro sekali lagi mengulang perkataannya. “Seumur hidupmu, kamu sudah menjadi anak yang baik untuk ayah dan ibu, ahh tidak, mungkin baik bukanlah kata yang cukup.”
Ran masih diam.
Kogoro tersenyum tipis, sebelum mengusap kepala putrinya yang sangat-sangat ia cintai.
“Ayah dan ibu telah banyak merepotkanmu dengan masalah rumah tangga kita. Karena kami, kamu jadi terpaksa dewasa lebih awal, terpaksa mengurusi pekerjaan rumah, mengurusi ayahmu yang serampangan ini.”
“Kini saatnya kamu berhenti, Ran.”
Kogoro melepaskan pelukannya.
“Hiduplah sebagai dirimu mulai saat ini. Jangan hidup sebagai anak ayah dan ibu.”
Kudou Yusaku dan Fujimine Yukiko juga telah pindah dari rumah besarnya, mengikhlaskan tempat tinggalnya menjadi markas FBI di Jepang sementara mereka pergi dari negara tersebut. Mereka memutuskan kembali lagi ke Amerika. Tidak untuk bekerja, tetapi untuk menikmati hari tuanya juga.
Sahabatnya Suzuki Sonoko dan suaminya Kyogoku Makoto tengah sibuk mengadakan acara untuk pengangkatan pemimpin Suzuki Corp yang baru. Hattori Heiji dan Toyama Kazuha juga mungkin memiliki kesibukan lainnya di Osaka. Tidak mungkin juga kan Ran ujug-ujug datang untuk mengganggu mereka.
Walau Ran berani bertaruh orang-orang tersebut tidak akan keberatan, Ran sendirilah yang merasa tidak enak.
Alhasil, opsi untuk sembuh ia eleminasi.
Biarkan Ran menikmati apa-apa yang ingin dia lakukan.
Sampai Tuhan mengakhiri hidupnya.
Sampai malaikat datang menjemputnya.
Sampai ia bertemu dengan belahan jiwanya di alam sana.
---
Hal yang ingin Ran lakukan adalah kembali. Kembali ke tempat di mana banyak kenangannya dan Shinichi.
Ran mulai dari sekolah pertamanya, tempat di mana ia bertemu dengan Shinichi untuk pertama kalinya.
“Awalnya aku membencimu, Shinichi.”
“Dan lihatlah apa yang kulakukan sekarang.”
“Aku kembali ke tempat ini karena sangat merindukanmu.”
Air mata berkumpul memenuhi bola matanya. Namun, kali ini Ran tidak berusaha untuk mengusapnya. Biarlah ia menangis. Biarlah ia merasakan sensasi sakit di tubuhnya dengan khidmat.
---
Selanjutnya, Ran pergi menuju Tropical Land, tempat bersejarah, tempat ia merasa bahagia, sekaligus tempat semua penderitaan dan kesedihannya dimulai. Ran tidak menaiki semua wahana yang pernah ia naiki di waktu tersebut karena kondisi kesehatannya dan lebih banyak duduk dan merenungnya.
“Tante…”
Seseorang memanggilnya. Ia adalah anak kecil. Namun Ran tidak mengenalnya.
“Kamu memanggilku?”
“Iya…”
Ran menghela napas sejenak lalu menghadap bocah tersebut dengan tersenyum.
“Ada apa adik?”
“Aku ingin memberikan tante ini,” diulurkannya figure hamster ke arah Ran.
Figure yang sama dengan yang Shinichi ulurkan waktu itu.
“Ibuku membeli banyak mainan hamster ini dan karena aku lihat wajah tante murung dari tadi, makanya aku ingin memberikan tante ini.”
Dengan tangan bergetar Ran menerima figure mamalia kecil itu. Pipinya tertarik untuk mengulum senyuman manis. “Terima kasih.”
“Sama-sama!” balasnya. “Aku pergi dulu ya, tante!”
Anak kecil itu pun berlari meninggalkannya. Tatkala ia sudah menghilang dari pandangannya, Ran beralih menatap hamster di tangannya. Ada rasa hangat di hatinya meskipun ia teringat dengan Shinichi. Lagi-lagi.
“Ini adalah boneka yang sama persis dengan yang kamu belikan waktu itu,” lirihnya.
Ia berusaha tersenyum, sekuat yang ia bisa.
Namun, pada akhirnya, air matanya lah yang menang.
Air matanya selalu menang.
Selalu menjadi yang terkuat dari yang lainnya.
---
Hampir setahun Ran mengulangi rutinitas yang sama, sampai-sampai staf dari semua tempat yang ia kunjungi mengenalnya. Beberapa bahkan ada yang menawarinya fasilitas tertentu namun Ran dengan sopan selalu menolaknya.
“Tidak usah pedulikan aku, aku hanya ingin mengenang masa laluku di sini.”
Pada saat yang sama, kondisi kesehatannya bertambah buruk. Sesak di dadanya sekarang muncul setiap hari dan mau tidak mau, Ran harus mengonsumsi obat tertentu untuk menguranginya.
Tidak ada yang tahu tentang hal ini, bahkan putranya.
Ahh, berbicara tentang putranya… dia sudah bekerja di perusahaan mabel ternama di Beika. Ternyata hobi kecilnya yang suka sekali membuat sesuatu berguna juga. Ran jadi geli sekaligus takjub jika mengingatnya.
Untunglah sekarang anak itu bisa menghidupi dirinya. Jadi, meskipun Ran meninggalkannya suatu hari, ia bisa survive. Ditambah dengan keberadaan mbak pacar, membuatnya mendapat dukungan lebih secara emosionalnya.
He’ll be fine.
.
.
Or maybe not?
Conan tidak bisa berhenti merutuki kebodohannya sendiri. Ia terus-menerus memukul kepalanya dan mengumpat makian kepada dirinya sendiri.
Tidak. Dia tidak baik-baik saja seperti yang Ran kira.
Salah, ia tidak sebaik yang Ran harapkan.
Anak itu jauh dari kata baik-baik saja.
Conan jelas tahu rutinitas sang ibu selama beberapa bulan belakangan ini. Namun yang ia sesali adalah, mengapa ia tidak mencari tahu lebih jauh? Mengapa ia tidak memastikan ibunya benar-benar baik-baik saja? Mengapa ia membiarkan ibunya begitu saja tanpa bertanya-tanya?
Saat itu Conan sedang sibuk dengan “mainan” di hadapannya, ketika ia mendapat panggilan dari Jodie Starling—yang ia ketahui sebagai anggota FBI yang tinggal di rumah pria itu—bahwa ibunya masuk rumah sakit.
Tentu saja ia langsung bergegas.
Dan kenyataan pahit segera menggerogoti sekujur tubuhnya tatkala dokter mengatakan umur Ran tidak akan lama lagi.
Hal ini lah yang terkadang membuat Conan sangat mencintai sekaligus membenci ibunya. Ibunya itu terlalu baik, terlalu selfless, terlalu memikirkan banyak orang, terlalu memedulikan orang lain sampai tidak tersisa rasa itu untuk dirinya sendiri.
“Ibu…”
---
Ran membuka matanya.
Hal pertama yang ia lihat adalah sinar matahari yang menusuk pupil matanya.
Ran menyipitkan matanya sejenak dan beranjak bangun dari posisinya. Ternyata selama ini ia terbaring di atas rumput di sebuah taman.
Ran mengedarkan pandangannya, melihat sekelilingnya.
Then there he is.
The person she longs to see.
Her love.
Kudou Shinichi.
“Shinichi!”
“Ran!”
Ran pun langsung berlari ke arahnya dan memeluk sosok yang sangat-sangat ia rindukan. Shinichi juga membalas pelukannya.
“Aku sangat merindukanmu,” lirih Ran pelan.
Shinichi mengangguk, “Aku juga.”
Perlahan mereka melepaskan pelukannya. Mereka saling menatap satu sama lain dan tersenyum. Keduanya pun menghabiskan beberapa jam bermain di sekitar taman, sungai. Mereka juga berjalan-jalan sembari mengenang banyak hal.
“Shinichi.”
“Hmm?”
“Apakah semua ini nyata?”
Shinichi menganggukkan kepala.
“Kalau begitu, apakah ini artinya aku sudah mati?”
Kali ini Shinichi menggelengkan kepalanya.
“Lalu, tempat apa ini? Aku kira ini akhirat.”
“Ini adalah tempat penghubung dunia dan akhirat.”
Ran menganggukkan kepalanya.
“Jadi, kapan aku akan mati?”
“Itu terserah padamu,” jawab Shinichi. “Statusmu akan berubah jika sudah melewati jembatan yang ada di sana.”
Tangan Shinichi bergerak menunjuk jembatan besar berwarna putih.
“Kalau begitu ayo kita ke sana.” Ran baru akan menggandeng tangan Shinichi, berniat membawanya menuju jembatan itu, namun Shinichi malah diam di tempat. Ran menatapnya heran, “Kenapa diam?”
“Kamu benar-benar tidak ingin kembali?” Ran menggelengkan kepala. “Kenapa?”
“Aku lebih baik mati daripada menjalani hidup dengan penuh kesakitan.”
“Ran…”
Ran tersenyum sedih. “Kenapa? Kamu kecewa aku bukan orang yang dulu? Yang menganggap kehidupan sebagai sesuatu yang berharga?”
“Tidak,” balas Shinichi. “Aku yang justru kecewa pada diriku sendiri. Kamu harus menjalani kehidupan pahit itu karenaku.”
Ran tidak menjawab.
“Maafkan aku, Ran, karena aku tidak menepati janjiku.”
“Maafkan aku karena telah membuatmu begini.”
Untuk pertama kali, dalam hidupnya—atau setengah hidup—Ran melihat Shinichi menangis.
“Aku menghancurkan segalanya. Aku menghancurkan hidupmu. Aku menghancurkan—”
Shinichi langsung terdiam ketika Ran menariknya ke dalam pelukan.
“Ran…”
“Berhenti menyalahkan dirimu. Aku tidak suka melihatnya.”
“Tetapi ini salahku.”
Ran menggelengkan kepalanya.
“Ini bukan salah siapapun dan jika ada yang perlu disalahkan, yang salah adalah organisasi gelap itu,” ucap Ran. Ia pun melepaskan pelukan, sebelum menangkup wajah Shinichi kemudian mengusap air matanya dengan jemarinya.
Shinichi memejamkan matanya, berusaha merasakan kehangatan dari perempuan yang ia cintai.
Aku sangat mencintaimu.
Aku juga sangat mencintaimu.
---
Kedua kalinya Ran membuka mata, ia melihat banyak wajah khawatir di depannya. Mereka adalah sahabat-sahabat Ran. Kedua orang tuanya juga ada di sana.
Ran tersenyum tipis.
Padahal kemarin ia dilarang menemui mereka lagi.
Hatinya juga terasa hangat begitu tahu banyak orang datang mengunjunginya.
“Teman-teman…” lirihnya pelan.
“Bagaimana perasaanmu, Ran?”
“Perasaanku?” Ran bertanya kembali. “Aku bahagia.”
Ran tidak berbohong. Ia benar-benar bahagia kali ini, sebuah perasaan yang sudah lama tidak ia rasakan. Dan bagi orang-orang yang ada di sana, terlepas dari nasal cannula yang menghiasi wajahnya, mereka bisa melihat dari pancaran wajah Ran bahwa ia mengatakan yang sebenarnya.
“Kenapa ibu menyembunyikannya? Kenapa tidak pernah memberitahuku?”
Seseorang bertanya, yang tidak perlu dipertanyakan lagi siapa dia.
Ran tersenyum lagi, ia mengusap tangan Conan yang dari tadi tidak mau melepasnya.
“Maafkan ibu ya…”
“Ibu…”
“Maaf ya jika ibu banyak melakukan kesalahan, banyak menyakiti hatimu.”
“Ibu sangat menyayangimu.”
“Untuk yang lainnya, aku minta maaf dan terima kasih sebesar-besarnya. Tanpa dukungan kalian, aku tidak pernah sampai sejauh ini.”
“Untuk ayah dan ibu, meskipun kalian sering merasa bersalah padauk, aku tetap bersyukur memiliki kalian. Aku berterima kasih memiliki orang tua yang selalu menomorsatukan keselamatanku.”
“Aku menyayangi kalian.”
Mungkin Ran mengatakannya dengan suara yang bahagia
Namun, mereka yang ada di ruangan itu tahu
Kebahagiaan itu hanyalah kebahagiaan sesaat
Kebahagiaan sebelum semuanya berubah
Tenang sebelum badai
---
“Kamu siap?”
Ran menganggukkan kepalanya.
Ia menggenggam tangan Shinichi.
Mereka pun berjalan bersama melewati jembatan putih itu.
---
Seusai itu
Senja jadi sendu
Awan pun mengabu
Kepergianmu menyisakan luka dalam hidupku
Ku memintal rindu
Menyesali waktu
Mengapa dahulu
Tak kuucapkan aku mencintaimu sejuta kali sehari
Walau masih bisa senyum
Namun tak selepas dulu
Kini aku kesepian
Kamu dan segala kenangan
Menyatu dalam waktu yang berjalan
Dan aku kini sendirian
Menatap dirimu hanya bayangan
Tak ada yang lebih pedih
Daripada kehilangan dirimu
Cintaku tak mungkin beralih
Sampai mati hanya cinta padamu
—Maudy Ayunda (Kamu dan Kenangan)
