Work Text:
"Kamu nggak perlu sungkan buat pergi. Itu juga udah kewajibanmu. Aku bisa jaga diri, kok."
Kata-kata itu sontak menusuk dalam ulu hati Velma yang kini mencoba tersenyum. Seharusnya dia senang mendengar pernyataan yang menandai pasangannya sudah mau belajar mandiri itu. Namun, entah mengapa hatinya mencelos dan tak berharap hal yang sama.
Velma mendekati figur laki-laki dengan tinggi semampai sama dengannya, menyapukan ibu jari di depan bibir pucat itu, dan berniat mengecupnya sebentar. Tetapi, suasana sekarang hanya mampu membuatnya menempelkan dahi ke satu sama lain dan menutup mata perlahan. Semakin waktu berjalan, bunyi tangis kecil terdengar jelas. Velma mengeratkan pegangan di tengkuk sang suami, memberitahukan bahwa dia tak akan ke mana-mana dan akan menunggunya sampai selesai meluapkan emosi.
"Velma..." Baru saja Deka bersuara untuk memecah keheningan, bibirnya terbungkam oleh bibir lain yang hati-hati bergerak di sana, meminta tuntutan lebih. Sapuan telapak tangan di punggung satu sama lain menambah hawa panas di tempat saat ini. Sayangnya, aktivitas yang belum mencapai klimaks itu harus terpaksa berhenti karena pihak pasif merasakan ada yang tidak beres dengan pihak aktif. Sepasang mata itu tak ada bedanya dengan mata kucing yang haus perhatian dengan badannya terus menempel pada sang tuan. Deka tak dapat menahan senyumnya ketika Velma mulai menunjukkan sikap manja seperti ini. Sedapat mungkin jari-jarinya tidak menelusuri untaian rambut lembut berwarna hitam kebiruan dengan wangi khas apel hijau itu. Playing hard to get, katanya.
"A-ah... Heh. Aku kan udah bilang, aku nggak masalah harus sendirian. Aku udah dua puluh tiga tahun." Deka berusaha menyingkirkan tangan nakal Velma yang meremas pahanya. Barulah setelah gagal lima kali, dia menyerah. Semakin dilawan, Velma semakin kuat. Masalahnya, tangan itu kini tak sebatas di paha atas, melainkan mencuri celah ke paha dalam dan melewati bagian dalam celana.
"Ve-Velma, jangan sekarang. Kamu harus kerja." Deka benar-benar menahan untuk tidak mendesah atau pasangannya akan semakin gencar dan melupakan kewajibannya. Didorongnya agak keras badan itu agar menjauh. Tatapannya berusaha sedatar mungkin untuk membuat hati Velma menciut. Namun, suasananya menjadi terbalik. Bukan Velma yang menjadi takut melainkan Deka kini pelan-pelan mundur karena lelaki di depannya terus mencondongkan wajah sampai mata mereka tepat bertatapan.
"Kewajibanku nggak cuma kerja di kantor, Sayang. Buat kamu puas juga jadi salah satu tanggung jawab yang nggak boleh aku lewatkan." Velma menarik pinggang Deka dan memeluk tubuh yang berjarak empat kilogram lebih rendah darinya itu erat. "Aku nggak berangkat hari ini. Asistenku udah tahu apa yang harus dia lakukan kalo aku nggak dateng atau kasih kabar pasti," tambahnya sambil mencium berkali-kali leher pasangannya. Iseng-iseng berharap Deka akan membalas perbuatan tersebut.
"Kamu nggak percaya aku udah dewasa?" Playing hard to get masih diterapkan oleh Deka. Meskipun dia senang karena Velma tak jadi pergi, tetapi pikirannya yang secara langsung mengatakan bahwa Deka memang tak bisa ditinggal sendiri membuatnya merasa hanya menjadi beban bagi Velma. "A-ah! V-Vel... Jangan di- Ah! A-astaga ... j-jangan sembarangan...Ah! V-Velma... U-udah plis..."
Velma tersenyum licik melihat pasangannya bertindak tak sinkron dalam satu tubuh. Otak dan tangan lelaki itu berusaha menghentikan aktivitas ini, tetapi mulutnya terbuka dan anggota tubuh bagian bawahnya semakin jelas bentuknya dari luar celana karena sentuhan pelan nan menggairahkan.
"Apa aku harus masuk kerja? Males banget hari ini, sumpah," ucap Velma tanpa menghentikan pekerjaannya di tubuh Deka. Senyumnya melebar puas melihat tubuh manusia di depannya menggelinjang, berusaha tak mendesah, tetapi ingin melakukan lebih.
"Mungkin aku kerja di rumah aja sampai kamu bener-bener bisa ditinggal sendiri. Gimana? Setuju?" Velma beralih posisi, pelan-pelan mengungkung tubuh di bawahnya. Tangannya jauh dari pekerjaan yang dilakukan sebelumnya, digantikan oleh barang yang sama tepat di atas sasaran. Velma hanya perlu menurunkan badan sedikit dan lenguhan dari dua insan pun terdengar.
"Ah! Velma! P-punyamu ..." Deka tak ingin berkata-kata dan lebih menikmati sesi terapi dadakan oleh Velma. Lenguhan ringan dari pasangannya semakin menambah gairah di bagian bawahnya untuk bergerak mendekati milik pihak atas.
Velma dan Deka belum melepas pakaian satu sama lain. Mereka lebih senang pengeluaran pertama dari masing-masing pihak terjadi ketika mereka belum telanjang.
"Sayang, tadi aku tanya sesuatu. Jahat banget nggak dibales." Velma tetap dengan wajah manis dan kekuatan tersembunyinya. Kali ini, gesekan yang dia buat sedikit lebih cepat. Suara merdu tepat di samping telinga kirinya membuat gerakannya semakin cepat. Sang suami terlihat tak peduli dengan pertanyaannya. Ketika Deka akhirnya mengalami pelepasan pertama, tatapan Velma menggelap. Dia ingin segera menyatu dengan pasangannya dalam gairah kenikmatan.
"Aku mau pulang. Boleh, ya?" Velma benar-benar seperti anak kecil, meskipun di bawah sana, dia menarik semua bawahan miliknya dan Deka dengan tak sabar. Ah, sial. Pandangan pertamanya ketika melihat ke bawah langsung ke arah benda panjang dan lubang sempit yang menjadi target utamanya. Dia beralih menuju bibir merah terbuka Deka dan meraup dengan lembut. Semakin menuntut dan dalam, Velma melepas semua pakaiannya karena panas dan tak sabar untuk bertindak.
"Mau di atas? Aku capek hari ini." Kata-kata tersebut sukses membuat Deka mendorong Velma pelan untuk bangun dan duduk tegak di sana. Menyadari bagian bawahnya sudah terekspos sempurna, Deka mendekat dan memposisikan diri tepat di atas milik Velma. Napasnya sengaja dihembuskan berat di samping telinga Velma untuk menyalurkan gairahnya.
Satu, dua, dan tiga kali hentakan awal tidak terlalu mengesankan bagi keduanya. Desahan Deka belum semerdu yang Velma ingin dengar. Kegiatan itu sedikit terjeda ketika Velma menarik pinggang Deka lebih dekat dan menghentikan sementara aktivitasnya. "Kamu puas dengan hentakan segitu?"
Tentu saja Deka menggeleng. Velma tersenyum tipis sebelum membisikkan sesuatu agar pasangannya dapat lebih berani bertindak di atas. "Then, ride me roughly. Ride me as hard as you want. Please yourself."
Segera kamar tersebut dipenuhi desahan bersahutan dari kedua pihak, terutama Deka yang berusaha keras luar dalam. Cengkraman tangannya di bahu Velma menguat, begitu pula dengan gerakan naik turunnya semakin cepat karena bantuan dari bawah dengan memegang pinggangnya. Kepala Deka pusing seiring dirinya merasakan pelepasan keduanya semakin dekat.
"L-lagi ... Bentar lagi ..." Deka memelankan laju gerakannya. Dia memilih membenamkan dalam-dalam milik Velma di 'rumahnya' dengan sesekali bergerak sedikit ke sana ke mari untuk mempercepat penjemputan pelepasannya. Velma pun merasakan miliknya sebentar lagi meledak. Kehangatan di dalam Deka adalah salah satu hal yang didambakannya.
"Hngh! V-Velma!" Deka mendongak kuat-kuat sebagai respon tindakan Velma yang tiba-tiba mengecup puting kirinya dan mengocok miliknya bersamaan. Badannya terhentak-hentak menyambut tamu kedua yang akhirnya datang dan membasahi tangan Velma.
"A-ah! Ah! Lagi! Lagi! Di sana!" Seakan tak peduli dengan dirinya yang baru saja orgasme, Deka menuruti titah Velma untuk sedikit mengangkat tubuhnya dan turun begitu Velma mendorong miliknya masuk. Gelenyar nikmat terasa ke seluruh tubuh, seiring dengan gerakannya makin melemah. Deka disadarkan dengan fakta bahwa tubuhnya sudah mengalami dua orgasme hebat dalam satu waktu. Mengetahui pasangannya kelelahan, Velma menawarkan dua hal: telentang mengangkang atau menungging dengan pantat ditinggikan.
Sontak Deka langsung melepas penyatuan dan secepat mungkin mengubah posisi menjadi opsi kedua. Dibenamkannya wajah ke bantal dan kakinya dilebarkan agar akses Velma meluas. Refleks dirinya mengetatkan lubang karena merasakan sesuatu yang asing berusaha melesak masuk. Pipi pantatnya ditarik paksa berlawanan agar benda itu dapat semakin dalam menjelajah.
"Hah...hah... Faster, fast-- Ah!"
Velma berhasil membantu Deka menjemput orgasme ketiga dengan lidah bermain-main di dalam lubang dan tangan kanan meraba dan mengocok kepemilikan Deka hingga keluar cairan bening dari sana. Senyumnya mengembang lebar melihat pasangannya puas dengan servis yang diberikan. Tinggal dia menuntaskan satu lagi yang belum terjamah semenjak mereka berganti posisi: kebesaran Velma yang kembali memohon untuk 'pulang' dan melakukan tugas rumahnya.
"Ini terakhir, ya. Habis itu, kita mandi terus tidur."
Velma menerima anggukan lemah sebagai tanggapan. Dirinya baru akan bersiap-siap, tiba-tiba Deka mengubah posisi menjadi telentang dengan kaki ditekuk dan dilebarkan. Lubang hangatnya terlihat jelas masih berkedut dan meminta kembali dimasuki. Kedua tangannya di sisi kanan dan kiri tubuh meremas sprei, kepala sedikit mendongak dengan wajah penuh keringat, mulut menganga, dan napas berat dengan desahan di setiap hembusannya.
Sial. Velma bersyukur sekaligus merutuki pandangan erotis tepat di depan matanya. "Deka Kinrian, aku yakin kamu nggak nyesel ngundang aku kaya gini."
Segera Velma melesakkan masuk bendanya ke lubang yang otomatis mengetat kuat karena kemasukan barang dari luar. Jari-jari tangannya bertaut dengan jari-jari Deka. Rengkuhan oleh kedua kaki di pinggangnya membuat benda Velma semakin dalam tertanam. Untuk mendapat energi lebih, dilihatnya wajah cantik di bawahnya dengan mata berusaha membuka lebar. Ini terakhir kali sebelum hari esok dan mereka tak ingin melewatkan momen satu sama lain.
"A-ah... Rasanya aku mau keluar lagi, Vel. E-enak banget... P-penismu-- Hngh!" Deka refleks menutup mata ketika dorongan dari bawah naik ke level kecepatan selanjutnya. Velma mencium dalam bibirnya lalu beralih membenamkan wajah di dada bidangnya. Merasakan orgasme Velma semakin dekat karena gerakan yang perlahan melambat, Deka mengeratkan pelukan di pinggang dengan kakinya agar penis Velma tetap di dalam. Terdengar pasangannya mengucapkan beberapa kata kasar sebelum berkata bahwa dia akan keluar di luar.
"Vel, katanya mau punya anak laki-laki."
Velma mendongak, menatap paras cantik di sana yang berusaha menyunggingkan senyum. "Penting usaha dulu, sih. Urusan jadi atau nggaknya itu belakangan."
Tepat setelah Deka selesai berucap, geraman Velma dan desahan keras dirinya mengisi keheningan ruangan seiring cairan Velma memenuhi tempat 'pulangnya.' Hembusan napas yang berlarian masih terasa setelah aktivitas yang kali ini dilakukan lebih lama dari biasanya.
"Nggak jadi ngantor, kan. Dasar. Ngajarin nggak bener buat bawahannya."
"Nggak akan. Mereka itu lebih pinter dari bosnya. Malah beberapa kali aku dimarahin mereka gara-gara nggak tertib. Kebalik, kan?"
Deka tertawa kecil. Saking santainya pembawaan Velma, karyawan-karyawan di bawahnya tak sungkan memberikan aksi yang jarang ditemukan pada bawahan untuk atasannya. Meskipun sebenarnya, dengan hal tersebut dapat membuat karyawan meremehkan dan berpotensi tidak sopan bertindak kepada yang sebaiknya dihormati.
"Iya nggak juga. Nggak jarang juga kamu negur mereka dengan caramu sendiri dan mereka nganggep itu cukup ngeri."
"Mana ada ngeri. Tegas aja. Bukan galak."
"Justru itu."
Velma pindah dari atas Deka ke sisi kanan untuk merebahkan diri dengan leluasa. Senyumnya tersungging merasakan pelukan hangat dari pujaan hati dan dengkuran lembut setelahnya. Dia ingin menggoda pria cantik itu karena pasti belum benar-benar terjun ke alam mimpi. Tetapi, dirinya sendiri juga sama lelahnya dan memutuskan hanya mengelus rambut kecoklatan yang menggelitik lehernya.
"Velma, makasih dan maaf karena akhir-akhir ini aku semaunya sendiri."
Ucapan tersebut hanya ditanggapi dengan Velma mengubah posisi menghadap Deka, mengeratkan pelukan, dan mencium kening itu sekali lagi sambil melangkah ke mimpi dengan tangan masih sibuk mengelus lembut rambut basah di hadapannya.
