Chapter Text
Luo Binghe, seorang pangeran tampan dari Istana Huan Hua berjalan dengan arogan memasuki ruang aula kastilnya. Istana megah ini dan seluruh isinya adalah miliknya.
Para wanita cantik dengan gaun yang merekah indah menari-nari di aula tersebut dengan iringan musik klasik dan binar cahaya lampu yang megah.
Sudut bibir Luo Binghe terangkat melihat kecantikan-kecantikan yang menari dengan gembira, semua wanita di aula ini adalah miliknya. Dengan angkuh dia mendekati dua orang wanita dan meraih pinggang ramping mereka.
"Yang Mulia..." dengan manja kedua wanita itu membalas pelukan Luo Binghe. Dada besar kedua wanita itu menempel pada lengan Luo Binghe.
"Merindukanku?" Tanya Luo Binghe sambil mencium kedua wanita itu dan membawanya ke singgasananya.
Luo Binghe bersenang-senang dengan wanita-wanitanya, memakan buah anggur yang disuapi dengan manja oleh para wanita yang duduk di sampingnya. Tidak lupa wanita lainnya menyodorkan wine untuk dinikmati olehnya.
"Yang Mulia," suara seorang pria takut-takut menyita perhatian Luo Binghe, pemuda itu meliriknya tanpa mengatakan apa pun. Pria itu adalah Shang Qinghua, pelayan yang melayaninya sejak kecil. Paham akan tatapan tuanya, dengan sedikit takut-takut dia kembali melanjutkan. "Seorang nenek tua meminta ijin untuk berteduh dari hujan," ucapnya.
"Usir dia, aku tidak ingin istanaku kotor," ucap Luo Binghe dengan jijik.
"Tapi-"
"Kau berani melawanku?"
***
Suasana di luar kastil sangat berbeda dengan suasana di dalam kastil. Di luar hujan lebat beserta angin kencang. Seorang nenek tua tergopoh-gopoh berjalan dengan tongkatnya ke kastil. Dia ingin berteduh. Bibirnya membiru dan tubuhnya menggigil.
Para penjaga menghadang wanita tua itu dengan tombak yang tersilang. Melarang wanita itu untuk menginjak teras kastil.
"Tuan yang baik," wanita itu berbicara sambil menggigil, "Ijinkan saya berteduh sebentar saja," ucapnya.
Penjaga itu sebenarnya tidak tega, tapi mereka tahu betul bagaimana perangai tuan meraka. Sedikit saja mereka melakukan kesalahan, dia tidak akan segan-segan memenggal kepala mereka. Di saat itulah Mobei Jun lewat. Dia menyuruh Shang Qinghua meminta ijin pada Luo Binghe. Ketika pria kecil itu kembali dia dengan takut-takut menyampaikan jawaban Luo Binghe.
Hati nenek itu terasa sedih ketika pemilik kastil ini mengusirnya. Nenek tua itu hanyalah seorang seorang pedagang bunga keliling. Dia hanya ingin berteduh sebentar selama hujan turun, tapi pemilik kastil ini tidak mengijinkannya.
Dengan tangan gemetar, nenek itu meraih setangkai bunga mawar dari dalam keranjangnya. Dia menawarkan setangkai bunga mawar yang masih segar itu untuk pangeran, agar mengijinkannya untuk berteduh.
Mobei Jun kembali menghela nafas, di sampingnya ada pria mungil yang terus memegang bajunya dengan wajah yang hampir menangis. Dia tampak tidak tega dengan wanita tua itu.
"Aku akan menemui Yang Mulia," ucapnya sambil melepaskan genggaman pria mungil itu dengan lembut dan kembali masuk ke dalam kastil. Sejujurnya dia tak yakin Luo Binghe akan mendengarkannya.
Melihat Mobei Jun yang kali ini datang, bukan Shang Qinghua, Luo Binghe menaikan alisnya. "Orang kotor itu sudah pergi?" Tanyanya. Mobei Jun menceritakan permintaan nenek tua itu dengan bayaran setangkai mawar merah. Luo Binghe yang mendengarnya marah dan melempar gelas wine-nya ke lantai.
"Apa kau tidak mengerti apa yang aku katakan!?" Ucapnya marah. Dia langsung melepaskan dua wanita yang mengapitnya dan berjalan langsung dalam keadaan murka ke depan kastil.
Luo Binghe melihat nenek tua yang basah kuyup dengan sepatu kotor yang menginjak kastilnya. Melihat itu, wajahnya semakin memerah karena marah.
"Hey, orang tua! Jauhkan kaki kotormu dari kastilku!" Ucapnya kasar, tanpa pikir panjang dia langsung menendang nenek itu hingga jatuh ke tanah yang berlumpur.
Para pengawal hanya diam, mereka tidak berani membantu nenek tua itu. Dia tahu bagaimana tempramental pangeran Luo Binghe. Shang Qinghua bahkan langsung bersembunyi di punggung Mobei Jun
Nenek itu berusaha bangkit dengan tertatih, "Yang Mulia," ucapnya lemah, "Hamba hanya meminta untuk berteduh sebentar," ucapnya lemah.
"Aku sudah mengatakan kau tidak boleh mengotori kastilku, dasar nenek buruk rupa! Enyah!" Luo Binghe kembali menendang nenek tua itu.
Hujan semakin lebat, angin bertiup kencang dan dedaunan terbang kesana kemari. Suara petir bersahutan dengan intens.
Nenek tua itu terdiam sebentar sebelum kembali berucap, "Apa kau tidak ingin menarik kata-katamu? Aku memberimu kesempatan sekali lagi," ucapnya. Suara itu bukan suara rentan dan tua, suara itu terdengar seperti wanita muda.
"Enyah dari hadapanku, wanita buruk rupa!" Ucap Luo Binghe jijik.
Nenek tua itu menghela nafas, "Aku sudah memberimu kesempatan," ucapnya. Perlahan sebuah cahaya menyinari nenek tua itu. Wujud yang sebelumnya bungkuk dan tua, kini berubah menjadi wanita yang cantik.
Saat melihat nenek itu berubah menjadi wanita cantik, semua orang terperangah termasuk pangeran. Belum pernah dia melihat wanita secantik ini diantara haremnya. Penyihir tidak memperdulikan kekaguman orang-orang ini. Dia menatap tajam Luo Binghe. Dia sudah melihat sendiri keangkuhan, kesombongan dan kasarnya pangeran kepada dirirnya sendiri.
Nenek tua itu adalah jelmaan penyihir hutan, dia sering mendengar para binatang hutan membicarakan kekejaman, keangkuhan, kekasaran serta kesombongan pria ini. Tidak jarang pria itu memaksa untuk membawa wanita cantik dari keluarga miskin untuk menjadi budak sex-nya.
"Hatimu benar-benar busuk," ucapnya. Seketika istana itu diselimuti cahaya dan dalam sekejab semua orang jatuh pingsan.
Hanya Luo Binghe yang sadar. Dia melihat tangannya ditumbuhi bulu dan cakar. Tubuhnya menjadi lebih besar dan tinggi. Bahkan baju yang dia kenakan robek dengan mengerikan. Dia meraba-raba wajahnya.
"Apa yang kau lakukan wanita tua?" Tanya Luo Binghe tidak percaya.
Pengawal yang sebelumnya pingsan kini bangun. Mereka berteriak melihat wujud monster dihadapannya.
Penyihir itu memberikan cermin kapada Luo Binghe. Dia tidak mempedulikan teriakan para pengawal atau para wanita yang sebelumnya menyusul Luo Binghe.
Luo Binghe menatap pantulan gambar dari cermin dan langsung terkejut. Wajah buruk rupa menyerupai binatang buas terpantul dari cermin itu. Dia langsung melemparkan cermin itu ke tanah. Cermin itu sama sekali tidak rusak, karena itu merupakan cermin ajaib.
Luo Binghe dengan marah menatap wanita penyihir dihadapannya. Dia juga dengan kasar meminta wanita itu mengembalikan wujudnya. Dia sama sekali tidak merasa bersalah dan tidak ingin disalahkan.
Wanita penyihir itu melemparkan setangkai bunga mawar. "Kutukan itu hanya bisa dipatahkan oleh orang yang mencintaimu dengan tulus. Batas waktumu hanya sampai kelopak bunga terakhir. Jika kau tidak berhasil mendapatkan orang yang mencintaimu, kau akan berakhir senagai monster buruk rupa." ucapnya sebelum dia menghilang menyisakam petir yang menyambar.
Luo Binghe berteriak dengan murka.
Kemudian menatap para wanita di belakangnya. Dia memiliki 3000 wanita yang mencintainya. Saat dia menatap mereka, hanya ada tatapan takut dan jijik padanya. Dan itu membuat Luo Binghe sadar dari semua wanitanya, tidak satu orangpun yang mencintainya?
Luo Binghe samakin murka, tanpa pandang bulu dia menyerang para pengawal dan wanita tanpa ampun. Hingga kastil itu dipenuhi bau darah dan mayat.
Lambat laun, kastil itu terlupakan karena dianggap angker dan menjadi tempat tinggal monster buruk rupa. Kastil menjadi tidak terawat dan di tumbuhi tanaman merambat. Pepohonan tumbuh menjulang tinggi dan menjadikan kastil itu benar-benar terisolasi dari dunia luar.
Berpuluh-puluh tahun berlalu, Luo Binghe berdiri di depan jendela. Menatap seorang pria tua yang memasuki halaman kastilnya dan memetik bunga mawar merah yang tumbuh di sana.
> TBC <
