Work Text:
Siang itu aku duduk di perpustakaan.
Bukan, bukan. Aku bukan ingin meminjam atau membaca buku di perpustakaan. Aku hanya ingin bertemu—tidak, maksudku melihat—seseorang.
Namanya Jeon Wonwoo. Dia kakak kelasku.
Dia sedang duduk di pojok sana, sendirian, mendengarkan sesuatu lewat headphone-nya dengan mata yang tertumbuk pada buku. Aku tidak mengerti sebenarnya apa sih, yang dia lakukan? Mendengarkan musik sambil berpura-pura membaca buku atau membaca buku sambil berpura-pura mendengarkan musik?
Melihat tubuhnya yang bergerak-gerak kecil, aku simpulkan kalau ia memang mendengarkan musik sambil membaca (atau mungkin berpura-pura?). Sudahlah itu bukan urusanku.
Saat melihat Wonwoo sudah merapikan bukunya, mendadak aku panik—karena aku takut ketahuan sedang memerhatikannya. Mataku kualihkan pada buku di hadapanku, meskipun lewat ekor mata aku menatap kepergiannya yang menggenggam buku.
Setelah aku yakin dia sudah pergi, aku menghela napas panjang. Tanpa sadar senyumku mengembang karena melihat dia.
Namanya Jeon Wonwoo. Dia kakak kelasku.
–
Aku kembali ke kelas, menampilkan wajah berseri-seri saat Hansol hanya menatapku dengan pandangan menyebalkan. “Kau gila?”
“Ya,” jawabku tersenyum seraya menarik kursi dan mengambil duduk di sebelahnya. “Gila karena cinta.”
Hansol memutar bola matanya cepat. Ia membuka mulutnya seolah-olah ingin muntah mendengar ucapanku. “Sinting.” Ia kembali melanjutkan menulis sesuatu di bukunya.
Aku hanya tersenyum, tidak menanggapi ucapan Hansol yang menyakitkan. Ya, aku gila. Aku sinting. Aku mabuk. Karena siapa? Karena dia! Ah, menyebalkan.
Aku memandang berkeliling ruang kelas dan menyadari kelas yang sepi. Hanya ada beberapa siswa. “Kau tidak tahu isi hatiku, Hansol, jadi berhentilah menganggapku gila.” ujarku dengan senyum.
Hansol menghentikan aktivitas menulisnya. Ia menatapku lama, mengernyitkan dahi saat mengucapkan, “Karena kau memang gila. Mana ada orang normal yang sukarela mengaku gila?”
Aku mengerucutkan bibir, berpura-pura kesal seraya memukul lengannya yang kembali sibuk menulis. Tanganku terangkat untuk menjambak rambut Hansol. “Ya! Sudah kubilang aku gila karena cin—”
“Maaf.”
Tanganku yang belum sempat menjambak rambut Hansol, mendadak kaku dan menggantung di udara. Aku tak berkedip melihat siapa yang datang.
Jeon Wonwoo.
“Apa kau Lee Sun?” tanyanya.
Kalau saja Hansol tidak memukul lenganku, mungkin aku masih menggantungkan tanganku. “Ya… ya… apa?” tanyaku mendadak gagu. Aku hanya menyengir saat melihat Wonwoo menunjuk diriku dengan jarinya. “Apa kau Lee Sun?”
“A… aku?” Mataku membelalak, menoleh menatap Hansol, tapi ia malah tersenyum dengan menyebalkan, seolah-olah mengejekku yang mendadak menjadi gagu di hadapan Wonwoo.
“Kau Lee Sun, ‘kan?” tanya Wonwoo lagi.
“A… aku?” Tanyaku sekali lagi, memastikan. Demi Tuhan! Jeon Wonwoo, kakak kelas yang kukagumi itu mendadak datang dan mencariku. Apa ini mimpi? Ya, Tuhan! “Tolong, cubit aku, Hansol.” ujarku pelan.
Aku berdeham, mencoba menenangkan diri saat bertanya pelan, “Ada apa mencariku, Sunbae?”
“Besok kita akan ke Sunshine. Aku partner-mu.” ujar Wonwoo tanpa senyum.
Aku menelan ludah, tersenyum kaku saat mendengarnya. “Sun… sunbae partner-ku?”
Wonwoo mengangguk, menatapku tajam seolah-olah aku adalah mangsa yang tersudut di ujung kematian. “Kalau kau tidak ingin aku menjadi partner-mu, aku bisa meminta Guru Joo untuk merubah—”
Mendengar itu, aku langsung berteriak, “Tidak!” Aku berdiri dari duduk, menggelengkan kepala kuat-kuat. Melihat Wonwoo yang menatapku aneh, aku berdeham, “Aku mau menjadi partner Sunbae, kok!” Aku hanya menyengir, menahan malu dan menahan amarah karena Hansol terdengar menahan tawanya. Kalau saja di hadapanku ini bukan Wonwoo, mungkin aku sudah menendangnya. Sayangnya, di hadapanku ini Wonwoo.
“Baiklah,” Wonwoo mengangguk. “Besok, pulang sekolah, aku tunggu di depan sekolah.” ujarnya sebelum pergi mengangkat kaki dari hadapanku.
Aku yang diam terpaku menatap kepergiannya, mendadak menggerutu saat mendengar suara tawa yang menganggu telinga. Aku menoleh cepat, melihat Hansol yang sedang tertawa terbahak-bahak padahal tidak ada yang lucu.
“Lihat ekspresimu tadi!” ujarnya mengejekku. “Mendadak menjadi patung yang hanya bisa berdiam diri!”
“Berisik!” teriakku keras.
“Kau pasti grogi, iya, ‘kan?” Hansol tertawa, lantas mencubit lenganku keras.
“Aw! Sakit, bodoh!” teriakku seraya memukul pundaknya.
Hansol tertawa dan mencubit lenganku lagi, membuatku melayangkan pukulan sebagai balasannya. “Tadi kau memintaku untuk mencubitmu, bodoh. Sekarang aku mencubitmu supaya kau sadar.” ujar Hansol.
“Memangnya tadi kau mendengar bisikanku?” tanyaku tak percaya.
“Iya.” Hansol mengangguk.
Aku terperengah. “Kau mendengarku?”
“Sudah kubilang iya, bodoh!” Hansol berteriak kesal.
Aku terdiam, mendadak tak bisa mencerna kejadian tadi. Berarti tadi aku tidak berbisik, tapi memang mengucapkannya dengan cukup keras. Kalau Hansol saja bisa mendengarnya, bagaimana dengan Wonwoo Sunbae?
“Omong-omong, tadi kau tidak berbisik, tapi berbicara, bodoh.”
Ah, benar, bukan? Sial.
–
Besoknya, seperti yang diminta olehnya, aku menunggunya di depan sekolah. Hansol mengejekku berkali-kali dengan mengatakan, “Menunggu harapan yang tak kunjung datang.”
Kalau saja aku tidak mengusirnya, mungkin saat ini ia sudah tertawa terbahak-bahak mengejekku. Aku berdiri dengan gelisah. Berkali-kali aku melirik gerombolan siswa yang keluar gedung sekolah tapi tak menemukan sosoknya keluar dari sana.
Aku menghela napas panjang, mencoba mengusir kegugupanku dengan membaca catatan untuk project yang akan kuikuti—ehm, maksudku, bersama Wonwoo Sunbae.
Setiap tahun, sekolahku mengadakan social project yang mengharuskan siswa kelas satu untuk mengunjungi organisasi atau yayasan sosial. Hasil selama kunjungan yang kurang lebih seminggu, harus dilaporkan kepada sekolah. Sialnya (atau untungnya?) siswa kelas satu tidak bisa melakukannya sendiri atau bersama-sama dengan teman. Mereka harus menerima dengan pasrah siapa yang akan menjadi partner mereka. Mereka juga harus mau beramah-tamah pada partner—atau pendamping—yang akan mendampingi dan mengawasi social project ini. Biasanya, pendampingnya adalah kakak kelas.
Dulu, aku bingung sekali dengan kebijakan sekolah ini. Mengapa satu siswa didampingi oleh satu siswa pula? Setelah perdebatan yang cukup alot dengan Hansol, aku menyimpulkan bahwa kebijakan ini untuk membuat para siswa berbaur. Tidak ada jenjang kelas antara kakak kelas dan adik kelas. Dan mengapa setiap satu pendamping hanya ‘mengurusi’ satu siswa, mungkin saja itu untuk memberikan kesempatan bagi yang lain, kesempatan bagi siswa yang tidak atau kurang aktif berorganisasi agar mau berbaur dan peka terhadap masalah-masalah sosial.
Saat aku sudah selesai membaca catatanku, aku mengangkat wajah dan terkejut melihat Wonwoo yang berjalan terburu-buru ke arahku. “Lama menunggu, ya?” ujarnya.
Aku menggeleng perlahan, mecoba tersenyum senormal mungkin. “Tidak, kok.”
“Baguslah.” ujarnya seraya langsung berjalan meninggalkanku.
Aku yang melihatnya meninggalkanku hanya menganga. Aku memanggilnya, lantas saat ia berbalik dengan pandangan terganggu, aku bertanya dengan tampang bodoh, “Sunbae mau ke mana?”
Wonwoo mengernyitkan dahi saat mendengar pertanyaanku. Sudut bibirnya terangkat, seperti menertawakan pertanyaanku. Aku sendiri yang melihat ekspresinya hanya tertawa kecil, menahan malu karena pertanyaanku yang bodoh.
“Ah… ya, ya… kita akan ke Sunshine, bukan?” Aku tertawa kaku, lantas menghampiri Wonwoo yang masih berdiri dengan tatapan tajamnya itu.
Aku hanya tertawa terpakasa saat Wonwoo mengatakan tanpa ekspresi, “Kau pelupa atau bodoh?”
Ah, itu menyatikan, Sunbae.
–
Di Sunshine, aku kira kami akan diterima dengan canggung. Namun aku salah besar saat menemukan anak-anak panti asuhan itu bergantian menyambut kami. Mereka bahkan berebut ingin memeluk Wonwoo.
Aku yang baru pertama kali melihat senyum secerah itu di wajah Wonwoo hanya bisa menganga. Inikah Wonwoo yang terkenal dingin itu?
Semua anak lucu nan manis ini berebut perhatian Wonwoo dengan mengucapkan, “Wonwoo Oppa!” atau “Wonwoo Hyung!”
Mau tak mau, aku ikut tersenyum juga melihat tingkah mereka. Tapi, aku sakit hati karena mereka semua hanya sibuk dengan Wonwoo tanpa memedulikan kehadiranku yang senyumnya semakin memudar.
Aku menghela napas panjang, memutuskan untuk bertemu dengan ketua Sunshine saja—Kim Sara Eonni. Aku menyebutnya Eonni karena ia terlihat masih muda, padahal mungkin dia sudah berumur empat puluh lebih. Fisiknya yang terlihat bugar dan senyum yang sering menghias wajahnya membuatku ingin memanggilnya Eonni.
“Menyebalkan, Eonni,” ujarku seraya mengerucutkan bibir. “Anak-anak itu semua mengabaikanku.”
Sara Eonni tertawa melihatku. “Kau kesal pada anak-anak atau Wonwoo karena mengabaikanmu?” ejeknya.
Aku semakin mengerucutkan bibirku. “Eonni!”
Bahkan baru beberapa hari saja, Sara Eonni—yang baru kenal denganku—sudah menyimpulkan bahwa aku menyimpan rasa untuk Wonwoo Sunbae. Ah, apakah sejelas itu?
“Eonni, mengapa anak-anak di sini akrab dengan Wonwoo Sunbae?”
“Whoa!” Sara Eonni tertawa mendengar pertanyaanku. “Kau mencoba mengalihkan topik pembicaraan, ya?”
“Eonni!” Aku berteriak padanya.
–
Waktu berjalan tidak terasa sehingga social project di Sunshine terlaksana sudah hampir seminggu. Hanya tersisa satu hari lagi untukku meninggalkan Sunshine. Seminggu berada di Sunshine membuatku mencintai anak-anak yang penuh semangat ini. Dan juga, aku semakin mencintai Wonwoo Sunbae. Hahaha, menggelikan, ya?
Tapi, selama di sini aku melihat Wonwoo yang lain. Wonwoo yang tidak dingin lagi, Wonwoo yang esnya mencair hanya karena permintaan sederhana, “Oppa, bisa ajarkan aku memecahkan soal ini?” atau, “Hyung, ajarkan aku rap!”
Aku tak menyangka jika Wonwoo memiliki rahasia sebanyak itu. Dan aku terkejut saat mengetahui bagaimana esnya mencair. Dia tidak sedigin itu, dia tidak sependiam itu. Dia menarik. Sangat. Aku semakin mencintainya saat suatu sore di Sunshine, sehabis bermain dengan anak-anak, kami duduk di beranda, berbagi cerita.
“Aku selalu melihatmu di perpustakaan.”
Aku menganga, bertanya-tanya apakah Wonwoo Sunbae sudah tahu sejak lama dengan kegiatanku itu. Aku menelan ludah, takut jika setelah ini ia akan marah padaku. “Be… benarkah?”
Wonwoo mengangguk, tersenyum. “Kau selalu ke sana, meskipun kau ke perpustakaan tidak untuk membaca atau meminjam buku. Kau selalu ke sana hanya untuk menampilkan senyum di wajahmu.”
Aku menundukkan kepala, tak sanggup melihat Wonwoo yang saat ini sedang menatapku. “Ma… maaf, Sunbae, aku… aku tidak bermaksud menguntitmu atau bagaimana tapi aku hanya… hanya…” Aku menelan ludah, mendadak aku yang biasanya banyak bicara selalu bisa bungkam jika berada di depannya.
Wonwoo tertawa renyah, membuatku terlonjak kaget. “Tidak usah meminta maaf, Sun. Harusnya akulah yang meminta maaf padamu.”
Aku menoleh cepat. “Maksudnya?”
Wonwoo menghela napas panjang sebelum berujar, “Di hari yang sama saat aku mendatangimu, aku tahu sebelumnya kau juga di perpustakaan. Saat itu, aku tidak mendengarkan musik atau membaca buku. Aku menggunakan itu sebagai alat agar aku tidak gelisah karena ditatapi terus olehmu,” Wonwoo tertawa, menoleh ke arahku yang mungkin sekarang sudah berubah warna. “Kebetulan saat itu, Guru Joo bilang bahwa partner-ku untuk social project adalah Choi Hansol. Aku tahu dia sekelas denganmu karena aku sering melihatmu mengobrol dengannya. Jadi, saat itu, aku meminta pada Guru Joo apakah aku bisa mengubah partner-ku menjadi Lee Sun.”
“Untungnya, Guru Joo mengizinkan dan saat itulah aku baru berani mendatangimu. Jadi, seharusnya akulah yang meminta maaf padamu, Sun. Maaf karena selama ini tidak berani menyapamu.” Wonwoo tersenyum di akhir ucapannya.
Aku yang mendengar semua itu hanya terdiam, tidak berkedip, hanya menatap wajah Wonwoo yang terlihat luar biasa tampan. “Tidak,” ujarku, “Sunbae tidak perlu meminta maaf padaku. Sunbae tidak salah sama sekali.”
Wonwoo tersenyum. “Benarkah?”
Aku mengangguk, ikut tersenyum bersamanya.
“Sun,” ujar Wonwoo, membuatku gugup seketika. “Aku sering memerhatikanmu karena dirimu penuh dengan energi positif. Kau sangat ceria, seperti namamu, sun, matahari.”
Wonwoo tersenyum, lembut sekali, dan matanya menatapku dengan es yang mencair, es yang sedikit-sedikit terasa hangat di dalam hati. “Lee Sun, bolehkah aku mengenalmu lebih jauh?”
Tanpa perlu berpikir dua kali, aku mengangguk mengiyakan.
Hari itu, aku merasakan es yang hangat. Namanya Jeon Wonwoo. Dia kakak kelasku.
