Actions

Work Header

In The Middle Of

Summary:

Jimin propose to Seokjin at KBS's end year stage when Epiphany was played, happened in 2018.

Notes:

dibuat dalam rangka #SJHeartBlossom Day 2 [Love Confession] di twitter!

Work Text:

Seolah seperti sebuah kebiasaan, terlebih sebagai seorang idol, setiap harinya untuk bertemu dengan kamera, latihan, rehearsal, dan berdiri di atas panggung. Menjadi salah satu pegulat seni terkemuka di negeri Gingseng tersebut, membuat aktivitas ketujuh pria—yang sepertinya masih terlelap dalam mimpi—semakin menumpuk menjelang malam pergantian tahun tiba.

Pukul 7 pagi, di hari Jumat yang cerah, Seokjin mengawali kegiatan, bersiap-siap sebelum nantinya mereka menuju salah satu stasiun TV. Jadwal hari ini adalah salah satu ajang festival musik bergengsi yang diadakan KBS.

Kembali pada Seokjin, ia akan kembali menjadi salah satu MC yang memandu acara—sedikit berbeda dengan tahun lalu dimana ia hanya muncul pada part 1. Seokjin harus bergegas jauh lebih cepat sebelum rekan-rekan segrupnya karena ia tidak menjadi MC sendirian, melainkan dengan salah satu member Girlgroup, TWICE, Dahyun, dan salah satu member Boygroup yang selalu digadang-gadang menjadi saingan, EXO, Chanyeol.

Rencananya ia akan membuat kudapan singkat berupa sandwich yang bisa dibawanya di jalan. "Seokjin-ah, yang lain masih tidur?" panggil salah satu manajer mereka.

“Ehm, kurasa iya. Semalam kulihat Jimin belum tidur hingga jam 4.”

Tunggu, Jimin?

Kalau kalian bingung, Jimin dan Seokjin sudah menjalin hubungan sejak 2 tahun silam. Kepopuleran yang kian melesat berakibat kepada membuat hubungan keduanya sulit untuk diumumkan ke publik—awalnya. Beruntungnya, saat itu sempat Jimin tidak sengaja memposting salah satu video keduanya berkencan dengan objek Seokjin dan caption yang mengundang. Kalang kabut adalah satu kata yang menggambarkan situasi gedung agensi hari itu. Namun, ternyata cukup banyak orang yang mendukung pernyataan yang mengumumkan secara resmi bahwa keduanya resmi menjalin kasih. Kecuali, orang-orang yang menyatakan bahwa mereka tidak suka hingga sempat-sempatnya mengujar kebencian, meskipun akhirnya kalah dengan banyaknya cinta yang keduanya terima.

"Hyung?” Kembali pada keadaan saat ini, Yoongi menjadi member kedua yang bangun setelah Seokjin. Dengan segera ia menuju ke dapur untuk membantu Hyungnya menyiapkan makanan untuk member-member lain.

“Jin-ah, bisakah kau bangunkan yang lain?”

Seokjin mengangguk, menyanggupi permintaan sang manajer. Ia kemudian bergegas menuju kamar masing-masing member. Dimulai dari sang maknae, karena berdasarkan pengalaman, Jungkook adalah member yang paling sulit dibangunkan. Kemudian berlanjut ke kamar Hoseok, Namjoon, dan Taehyung. Kamar terakhir yang akan Seokjin datangi adalah kamar Jimin. Semalam ketika ia mengambil segelas air mineral di dapur, dirinya tidak sengaja mendengar suara dari kamar Jimin yang kemungkinan belum terlelap pukul 3 pagi.

 

xxx

 

Seperti backstage pada umumnya, suasana ruangan akan penuh dengan suara hair-dryer , staff yang berlalu lalang untuk memberi informasi, membantu artis-artis berganti pakaian, dan menyiapkan diri. Menjadi penampil terakhir, tentu saja BTS akan menampilkan yang terbaik.

Rencana pada set list yang tersebar, mereka akan membawakan masing-masing lagu solo member dan satu lagu grup, Fake Love. Awalnya, mereka mendapat giliran kedua dari terakhir, sebelum EXO. Namun karena suatu alasan tertentu, yang akhiri disetujui oleh kedua belah pihak, BTS mendapat giliran untuk tampil terakhir.

“Jimin-ssi, bisa tolong lebih tegak lagi?” 

Make up noona yang bertugas untuk merias Jimin kembali mengingatkan idol berkelahiran 1995 itu untuk duduk lebih tegap lagi. Pasalnya sedari tadi matanya memandang dengan tatapan kosong ke arah kaca. Bak boneka yang kehilangan dakron isiannya.

Ia hanya butuh touch up sedikit sebelum grupnya akan tampil di atas panggung. Kembali disaksikan ratusan orang di dalam hall dan ribuan, atau bahkan jutaan orang melalui tayangan live streaming youtube. 

Bohong kalau Jimin tidak gugup. Meski sudah berkancah di panggung dunia hiburan selama lima tahun, perasaan deg-degan akan selalu muncul. Terlebih dengan satu kejutan yang sudah ia rencanakan beserta seluruh staff dan karyawan agensi serta tayangan televisi, perasaan gugupnya jauh meningkat sangat pesat. Isi perutnya bahkan terasa seperti diaduk-aduk oleh mesin penggiling. 

Berulang kali Jimin berusaha menetralkan degup jantungnya. Mengingatkan diri untuk tetap berada pada batas kewarasannya. Ia takut.

“Oh, sudah siap semua? Tunggu, aku akan berganti baju secepat kilat.”

Suara Seokjin terdengar tergesa-gesa. Baru saja ia selesai giliran untuk menjadi MC untuk mengenalkan grup yang akan tampil. Jimin hanya bisa menatap punggung Seokjin yang semakin menjauh, dilahap dinding gedung, untuk berganti kostum.

Satu giliran lagi, lalu waktunya mereka naik. 

Tarik napas, lalu hembuskan. 

Satu tepukan pelan pada dari Namjoon pada punggung Jimin yang untuk kesekian kalinya berusaha menetralkan napasnya berulang kali. 

“Tenang, pasti berhasil. Cincinnya aman kan?”

Jimin tersenyum, mengangguk. Tak mampu menanggapi kalimat dari sang leader dengan kalimat lain . Lidahnya kelu, jantungnya berdetak tidak karuan, yang bisa ia lakukan adalah mengucapkan kata-kata penenang di dalam hati berkali-kali. 

 

xxx 

 

Satu persatu lagu solo member sudah selesai dibawakan. Terakhir adalah giliran Seokjin, dan semua member sepakat untuk naik ke atas panggung bersama karena setelah itu mereka akan membawakan lagu grup.

 

Cham isanghae

Bunmyeong na neoreul neo

Mu saranghaetneunde 

 

Melodi lagu Epiphany milik Seokjin terdengar nyaring dari sudut-sudut pada hall berkapasitas seribu delapan ratus orang itu. Dengan raut gurau bercanda, Hoseok dan Namjoon mengelilingi di sekitar Seokjin. Jimin yang berlutut dengan satu lutut ditekuk dan tangan kanannya menggenggam tangan kiri Seokjin. 

 Ia pikir mereka hanya bercanda, tetapi ketika Seokjin ingin melepaskan tangannya untuk bersiap berbaris. Namun, Jimin malah menggenggam tangannya lebih erat lagi dengan tatapan mata yang penuh serius. 

“Jin-Hyung…”

Jimin memulai. 

“Setelah ngelewatin ribuan tantangan. Bulanan bahkan tahunan kita ngelawan ketakutan buat berani maju di depan banyak orang. Bikin satu mimpiku yang lain jadi kenyataan lagi, to tell the world, to show the universe whom the one that I love." Tangannya mengelus-ngelus pelan, mencari kekuatan untuk melanjutkan kata. 

Suara Jimin sedikit bergetar, pasalnya seluruh mata fokus kepada satu objek, yaitu dirinya. Kalau detak jantungnya bisa didengar lewat stetoskop, mungkin akan yang keluar adalah suara sangat berisik karena pacuan detak jantungnya rasa-rasanya sudah tidak beraturan. Ia takut mengucapkan kata-kata yang sebenarnya sudah ia siapkan dalam dua malam sebelumnya.

"And here we are. Aku ngomong ini disaksikan sama member, staff, manager, dan ribuan orang yang nyaksiin ini live, belum lagi ratusan ribu atau bahkan jutaan orang yang nonton dari rumah. Orang-orang yang tahu tentang hubungan kita." 

Tangannya yang kosong mencoba mengorek bagian dalam jas putih yang dikenakannya. Mengeluarkan satu kotak beludru persegi berwarna hitam, yang isinya adalah satu cincin silver dengan ornamen simpel yang terkesan mewah. Anggota lain yang berada di sisi panggung mencoba mengirimkan semangat kepada rekan segrupnya yang sedang berjuang, disertai dengan bisikan 'ayo sedikit lagi', 'pasti berhasil'. 

Mata yang semula menunduk, perlahan dinaikkannya, fokusnya menatap pada satu keindahan yang menjadi pusat perhatiannya selama beberapa tahun belakangan. Didapatinya pandangan mata Seokjin yang berkaca-kaca dengan deg-degan, persis dengan yang ia rasakan. 

"Jin-hyung, Jimin mungkin bukan, atau belum jadi seseorang yang sempurna buat bersanding dengan orang seindah Hyung. Tapi kalau boleh, kasih satu kesempatan lagi, sebagai seseorang yang akan menjadi pembuka di pagi hari dan penutup di malam hari."

Tangannya mengelus pelan sekali lagi, sekaligus untuk memantapkan hatinya, bahwa setelah ini, satu tahapan kehidupan akan terlewati. 

"Will you marry me?" 

Seisi ruangan yang awalnya gegap gempita dengan teriakan dan napas yang tertahan, seketika langsung melepaskan sorak-sorai ketika tepat pada detik kelima Seokjin menganggukkan kepalanya berulang kali. 

Secepat mungkin Jimin bangkit berdiri dari posisi berlututnya dan memeluk erat Seokjinnya. Prianya, pacarnya, tunangannya, calon suaminya, dan miliknya.