Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2021-11-18
Words:
2,292
Chapters:
1/1
Comments:
27
Kudos:
176
Bookmarks:
9
Hits:
7,243

Suami-Suami Tidak Akrab

Summary:

“Dihamilin sama temen bukan berarti apa-apa. Temen biasa tuh, ya, tetep temen …. Aku sama mas Doyoung tetep gak akrab.” — Jaehyun, dalam keadaan bunting ketika ditanyai soal suaminya sendiri.

Work Text:

 

 

 

“Kamu udah dibikin tekdung, tapi masih googling ‘Kado yang Cocok untuk Suami’.”

“Hehe.”

“Sedih banget.”

“Yaaa, abisnya gimana?” Jaehyun pun mengambrukkan tubuhnya ke sofa, tangan refleks memegangi perut besarnya, insting untuk melindungi si dedek bayi. “Emang aku gak tahu kesukaan dia.”

“Aku pikir kalian udah makin deket?” Sicheng memberikan gestur pada perut besar temannya.

“Dihamilin bukan berarti apa-apa. Temen biasa tuh ya tetep temen …. Kita tetep gak akrab.” Jaehyun mengelus-elus perutnya kemudian melirik Doyoung—sang suami—yang sedang main badminton di halaman dengan mas Kun.

Sicheng mendekat, dia meraih tangan Jaehyun dan berbisik, “Jae, jujur sama aku.” Sicheng kedengaran begitu khawatir. “Mas Doyoung sebenernya baik sama kamu, gak …?”

Jaehyun menatap Sicheng untuk beberapa saat sebelum akhirnya menunduk malu, karena sebenarnya mas Doyoung super baik sama dia. Tapi hubungan mereka itu … cukup kompleks dan tidak biasa.

Yaaa, gimana gak biasa kalau ternyata Jaehyun harus menikahi partner FWB-nya sendiri?

Sebenarnya gak harus-harus amat, cuma Jaehyun pada saat itu bertekad bulat untuk merawat janin yang dikandungnya. Dan kebetulan juga, Jaehyun dihamili oleh seseorang yang penuh tanggung jawab seperti Kim Doyoung.

Kim Doyoung alias kating yang satu organisasi dengan Jaehyun di kampus, alias seorang kenalan yang gak kenal-kenal amat.

Dimulai dari pertemuan memalukan mereka dalam sebuah blind date khusus perjaka—di mana para partisipan akan dipasangkan untuk melakukan seks pertama mereka.

Kebetulan Doyoung dan Jaehyun dipasangkan karena katanya mereka cocok kalau disandingkan. Jadinya pada hari itu, mereka malu-malu pergi ke sebuah motel dan benar-benar melakukan hubungan seks untuk yang pertama kalinya.

Dan jujur saja … menurut Jaehyun, pengalaman pertamanya seperti membuka mata batin. Enaaaak banget! Doyoung juga sepertinya berpikir begitu. Padahal Jaehyun sempat khawatir setelah membaca cerita-cerita aneh dari orang lain mengenai pengalaman seks pertama mereka.

Makanya meski keduanya sadar bahwa mereka ini masih canggung, Doyoung dan Jaehyun sama-sama tidak malu untuk saling menghubungi kalau ada keperluan memuaskan hawa nafsu.

Mereka paling sering seks di kos-kosan Doyoung, pernah juga di mobil dan di toilet kampus. Pengalaman paling unik sih Jaehyun pernah memberikan Doyoung blowjob di dalam kabin bianglala.

Loh bianglala? Kalau gitu pernah ke taman hiburan bareng? Kayak nge-date?! Berarti sudah akrab …?

Kalau yang itu masih menjadi misteri untuk Jaehyun, karena Doyoung sendiri yang mengajak Jaehyun untuk menghabiskan malam minggu bersama di Dufan. Karena selain blowjob di bianglala, yang mereka lakukan hanyalah keliling-keliling, makan siang, lalu pulang.

Apa yang seperti itu bisa disebut sebuah kencan?

“Mas Doyoung baik kok sama aku …, ya, kita emang gak pernah ngobrol panjang-panjang sih. Tapi selain itu dia gak pernah jahat sama aku.” Kata Jaehyun. “Malah kayaknya dia ngelakuin hal-hal yang aneh deh sama aku? Secara kita kan gak akrab.”

“Hal-hal aneh gimana maksudnya?” Kening Sicheng mengerut.

“Kayak kalau lagi nonton TV bareng, dia suka pijitin kaki aku …, terus dia juga nyediain semua kalau aku lagi ngidam. Dan pas weekend dia suka bangun duluan kan, jadi dia yang bikinin aku sarapan ….”

“Hihhh! Itu mah bukan aneh! Itu namanya suami kamu sayang!”

Pada kata “sayang”, Jaehyun terkekeh sambil geleng-geleng. “Si mas nikahin aku kan karena kebetulan aja aku hamil anaknya. Dia cuma mau tanggung jawab … gak ada kayak cinta-cintaan gitu.”

“Jadi abis ‘tanggung jawab’-nya beres, kamu pikir mas Doyoung bakalan ninggalin kamu gitu? Emang kamu gak apa-apa ditinggal sama masmu itu?”

Ucapan Sicheng begitu kena di hati hingga membuat Jaehyun sulit berkata-kata, jadi ia hanya cengengesan sambil mengelus-elus perut besarnya untuk menyembunyikan ketakutannya. “Kan emang kita cuma temen biasa, hubungan kita gak ada perasaan kayak gitu ….”

Dan ketika Jaehyun kembali melirik suaminya di halaman, pria itu ternyata sudah menatapnya duluan, jadi pandangan mereka bertemu.

 

 

 

 

 

 

 

… co-parenting dapat membantu anak untuk tumbuh kembang dengan kehadiran peran kedua orang tuanya meski setelah melalui perceraian, sehingga …

 

Aduh, gimana ceritanya dari googling buat kado mas Doyoung jadi tentang co-parenting?

Obrolan bersama Sicheng tadi membuat Jaehyun banyak berpikir mengenai masa depannya. Doyoung memang pernah bilang kalau dia akan menikahi Jaehyun, tapi dinamika hubungan mereka membuat Jaehyun berpikir kalau mungkin si mas hanya merasa terpaksa meminangnya.

“Kok kamu belum tidur?”

“Aduh!” Pada suara Doyoung yang mengejutkan, tubuh Jaehyun tersentak dan tidak sengaja menjatuhkan ponselnya ke perutnya. Ow. Oke, cukup sakit.

“Eh, astaga,” Doyoung yang baru saja terbangun dari tidur pun segera bangkit untuk duduk di samping suaminya, si mas buru-buru memeriksa Jaehyun sambil mengelus-elus perutnya. “Sorry …. Masih sakit, gak?”

“Uhm, gak kok ….” Jaehyun jadi bisik-bisik, dia baru sadar kalau mungkin Internet-an malam-malam di samping suami yang sudah tidur itu bisa jadi mengganggu.

Dan mungkin apa yang dipikirkannya itu benar, karena Doyoung hanya mengembalikan ponsel Jaehyun ke tangannya, sebelum kemudian kembali tidur memunggunginya.

Ini mungkin hanya perasaan Jaehyun, mungkin pengaruh dari kehamilannya yang membuatnya lebih sensitif. Tapi ada yang berbeda dari mas Doyoung ….

Si doi jadi lebih … gimana, ya … seperti menghindari Jaehyun? Dan Jaehyun tidak berani cerita pada siapa pun mengenai hal ini, karena ia pasti hanya akan dikatai sensitif.

Jadi Jaehyun pendam kecemasannya ini sampai akhirnya suatu hari ia pun mengetes kekhawatirannya dengan bilang pada mas Doyoung bahwa, “Kaki aku kayaknya makin sakit deh, mas.”

Dan biasanya nih, si mas akan berhenti melakukan apa pun itu untuk duduk di samping Jaehyun dan memijat kakinya atau bahunya. Tapi kali ini Doyoung malah sibuk dengan ponselnya, keningnya sedikit mengernyit.

Doyoung seperti tidak mendengar ucapan sang suami, makanya Jaehyun sekali lagi memanggilnya, “Mas?”

“Uhm, ini—” masih sibuk dengan ponselnya, “ini aku lagi panggil tukang pijet di kantor buat ke sini. Gak apa-apa, kan? Atau kamu punya rekomendasi yang lain?”

Dan ketika mas Doyoung menghadap Jaehyun, pasangannya itu baru sadar kalau ini pertama kalinya si mas menatap wajahnya lagi setelah pria itu menghindarinya selama hampir dua minggu.

Jadi Jaehyun hanya bisa, “Iya, gak apa-apa kok, mas.” Sebelum akhirnya pura-pura teralihkan pada kakinya yang gak sakit-sakit amat, dan lagi-lagi memendam emosinya.

 

 

 

 

 

 

 

Meski ujung-ujungnya, yaaa, Jaehyun menangis sambil mengingat-ingat hal-hal kecil yang mendukung teorinya bahwa mas Doyoung akan membuangnya setelah bayi mereka lahir. Dan mungkin Jaehyun harus makin rajin mencari informasi mengenai co-parenting.

Jadi pada dasarnya, tadi mas Doyoung hanya bilang “terima kasih” setelah menerima kado ulang tahun dari Jaehyun, dan tidak repot-repot untuk membukanya. Pria itu langsung pergi mandi lalu tidur.

“Masih mau nangis, gak …?” Tanya Sicheng, dia kedengaran khawatir. Terakhir kali melihat Jaehyun menangis begini itu ketika anjing keluarga Jaehyun tiba-tiba saja menghilang dan tidak pernah kembali sampai sekarang. “Mau cerita kenapa kamu nangis kayak gini?”

Untuk beberapa saat, Jaehyun kelihatan seperti akan menangis lagi. Tapi dia menelan erangannya sebelum akhirnya pelan-pelan berkata, “Itu … mas Doyoung …,”

Sicheng dengarkan baik-baik hal yang diceritakan Jaehyun sampai habis, ia pun jadi ikut emosi meski sebenarnya ada hal lain di benak Sicheng, yakni, kan si Jaehyun emang naksir sama mas Doyoung!

Namun kini fokus Sicheng adalah melabrak Doyoung yang sudah bersikap kurang ajar pada pasangannya sendiri alias; tidak menghargai kado ulang tahun dari Jaehyun, merayakan ulang tahunnya dengan teman-teman tanpa mengundang Jaehyun, menghindari Jaehyun di akhir pekan dengan beribu alasan (meski masih suka dibuatkan sarapan), dan sedikit-sedikit mengalihkan tanggung jawabnya pada orang lain untuk mengurus Jaehyun yang sedang hamil besar.

Namun nyatanya Sicheng tidak sempat melabrak Doyoung karena saking seringnya pria itu menghindari Jaehyun dengan tidak berada di rumah.

Dan meski tidak boleh stres, Jaehyun tetap saja tidak bisa menahan cengeng.

Puncaknya ketika Jaehyun tidak sengaja menguping pembicaraan Doyoung dengan seseorang malam-malam. Pria itu ada di ruang kerjanya, sedang menelepon dengan nada yang agak bisik-bisik.

“Sekitar … 8 bulan lagi kayaknya …, habis lahiran mau tetep aku awasin langsung juga …, iya … ya, mau gimana lagi kalau itu memang keputusannya …,” kemudian terdengar Doyoung tertawa pilu, “kalau surat cerai sih belum diurus—”

Jaehyun tidak sempat mendengar kelanjutan obrolannya karena ia langsung pergi ke kamar, tidak jadi mengambil air minum, dan menangis sampai ketiduran.

Bangun-bangun dia disambut oleh Doyoung yang duduk di sampingnya, dan ketika Jaehyun sadar tangan dingin sang suami menyentuh keningnya, Jaehyun langsung mengernyit dan mencoba untuk menghindari sentuhan sang suami.

“Kepalanya pusing, gak?” Tanya Doyoung, tangan masih di kening Jaehyun.

Pada pertanyaan itu, Jaehyun menggeleng, dia berbaring diam di ranjang dan hanya menatap sang suami, tidak berusaha untuk menghindari sentuhan Doyoung lagi (karena jujur, meski Jaehyun kesal sama mas Doyoung, tapi kangen …).

“Aku suapin sarapan, ya. Mau duduk atau tiduran aja?”

Jaehyun baru sadar kalau ia sepertinya sedang sakit ketika menjawab sang suami dengan suara yang parau, “Gak usah, aku sendiri aja yang ambil sarapannya.”

“Mending kamu istirahat aja, jangan terlalu kecapekan. Nanti demamnya tinggi lagi. Takutnya kenapa-kenapa sama kamu dan anak kita.”

Bukannya merespon, bibir Jaehyun malah bergetar. Tidak sempat mengeluarkan sepatah kata pun, malah mewekkkk—iiiihhh! Cengeng banget sih!

Tapi sekarang Jaehyun menangis yang benar-benar sambil merengek jelek, ah, Doyoung pasti makin ingin meninggalkannya.

“Eh, eh! Yang mana yang sakit?”

Tadinya Jaehyun ingin menjauh dari Doyoung, namun suaminya menyalahartikan gerakannya dan membantunya untuk duduk.

“Kepalanya jadi pusing atau gimana?” Doyoung merapikan helaian rambut Jaehyun yang lepek karena keringat dan menghalangi matanya.

“Mas …, mas g-gak apa-apa ninggalin aku sekarang juga. Gak usah ngerawat aku …, aku usahain buat ngerawat sendiri yang bener biar bayinya sehat ….” Refleks Jaehyun menarik selimut yang menutupi tubuhnya untuk dipeluk. “Mas mending pergi sekarang juga dari sini.” Kata Jaehyun cukup tegas untuk mengusir si mas dari hidupnya—eh, tapi dia baru ingat kalau rumah yang mereka tinggali ini rumahnya mas Doyoung. “Eh, maksudnya aku yang pergi ….”

 “Bentar, bentar,” Doyoung meremas kedua bahu Jaehyun untuk menarik perhatiannya, kemudian menghapus air mata Jaehyun dan menangkup pipinya, “coba kamu lihatnya ke sini dulu.”

Dan ketika Jaehyun menatap Doyoung, dia agak menyesal. Karena meski si mas jadi kelihatan buram gara-gara air matanya, dia tetap ganteng sampai bikin deg-degan. “Aku emang orangnya kurang peka, tapi bisa kamu kasih tahu aku salahnya di mana sampe … uhm, sampe bikin kamu mau pergi dari aku?” Tutur Doyoung, sebenarnya kalau diperhatikan, ada kejengkelan dalam nada bicaranya, tapi ia berusaha untuk tetap kedengaran sabar. Yang tentu saja membuat Jaehyun bingung, karena kan yang ingin pergi tuh si mas Doyoung! Kok malah aku yang ditanyain kayak gitu?! “Kamu—Kamu ada yang lain, ya? Habis ini mau pisah dari aku—uhm, co-parenting …?”

“Hah ….” Kening Jaehyun mengernyit, ia mengerjapkan matanya. Bulir-bulir air mata berjatuhan makin banyak tapi sedihnya jadi terganti oleh kebingungan. “Ada yang lain gimana? Co-parenting? Kan emang harus co-parenting kalau kita mau pisah ….”

Kali ini giliran Doyoung yang kebingungan, bahunya jadi sedikit rileks. “Aku gak mungkin pernah bilang gitu.”

“Tapi mas jadi ngehindarin aku!”

Doyoung hendak meresponnya, namun ia langsung menutup mulutnya lagi. Pria itu kelihatan merenung sebentar sebelum akhirnya berkata, “Maaf, aku gak sengaja lihat HP kamu, dan kamu kayaknya lagi mempertimbangkan biar kita co-parenting? Jadi aku hindarin kamu, soalnya aku takut kalau kamu sebenernya gak suka deket-deket sama aku.”

Hidung Jaehyun ikut mengerut ketika ia kebingungan, dan Doyoung sempat-sempatnya berpikir kalau suaminya itu kelihatan menggemaskan sekarang. “Jadi … mas sebenernya gak mau pisah?” Tanya Jaehyun.

Doyoung menggeleng. “Kamu kenapa kepikiran buat co-parenting?”

“Ya … soalnya, kan,” Jaehyun belum melanjutkan ucapannya karena ia baru memproses ini semua dan sadar kalau—MAMPUS, memang ada kesalahpahaman di sini yang disebabkan oleh kebodohannya sendiri; alias Jaehyun kayaknya terlalu berburuk sangka sama mas Doyoung. Tapi ia tetap melanjutkan ucapannya dengan, “Kan … mas emang gak suka sama aku?” Euh. Dasar si gak mau kalah. “Mas sendiri yang bilang kalau mas nikahin aku karena pengen tanggung jawab, jadi ya, kalau tanggung jawabnya selesai pasti pernikahan kita juga selesai …, kan?”

Ucapan Jaehyun membuat Doyoung jadi kelihatan amat serius, dia dibuat tertegun untuk beberapa saat sebelum akhirnya pria itu menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan menghembuskan napas berat. “Aku gak mungkin ninggalin kamu, Jae.”

Jaehyun meringis, ia refleks memeluk perutnya. ”Kenapa bisa sampe seyakin itu?”

“Karena aku suami kamu.”

“Tapi gimana kalau kamu tertarik sama orang lain? Kan pasti kamu juga gak bakalan mau terus-terusan sama aku?”

“Jaehyun,” kata Doyoung, dia kedengaran sedikit makin serius dan cemas di saat yang sama. Pria itu ragu-ragu meraih tangan Jaehyun untuk digenggam erat (WALAAAAAAAHHHHHHHHHHHHHH), kemudian berkata, “Maaf aku sebelumnya gak bikin jelas buat kamu,” tuturnya, “aku tanggung jawab karena aku sayang sama kamu—dan anak kita.”

 

 

 

 

 

 

 

 

JIAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHH.

Ya, gitulah. Setelah peristiwa tersebut, kegilaan Jaehyun makin menjadi. Alias akhirnya dia bisa hidup tanpa harus memikirkan yang tidak-tidak soal hubungannya dengan mas Doyoung.

Memang benar, komunikasi adalah kunci dari segalanya. Ya, tapi agak susah kalau Doyoung dan Jaehyun sama-sama pemalu ….

Jaehyun jadi ingat, pada malam si mas mengutarakan perasaannya secara jelas, pria itu untuk pertama kalinya menangis di hadapan Jaehyun—gemes parah. Katanya karena dia pikir Jaehyun naksir pria lain dan siap untuk meninggalkan Doyoung kapan saja.

 

 

“Aku sempet mikir kamu naksir tetangga kita.”

“Siapa?”

“Johnny.”

Hah? Jaehyun terkekeh. “Ya, emang ganteng sih. Baik juga kan suka bantuin bawa keresek belanja ke dalem rumah.” Kata Jaehyun begitu santai, seperti ingin mengetes kondisi jantung Doyoung. “Tapi aku sukanya kan sama mas.”

 

 

Eh, iya. Mereka juga akhirnya seks lagi, hehehe.

Setelah sekian lama Jaehyun hanya dipuaskan oleh dildo favoritnya (yang serupa dengan punyanya mas Doyoung), akhirnya Jaehyun dicoblos lagi.

Awalnya dari sudah berani lagi untuk tidur peluk-pelukan, lalu mulai gesek-gesekan hingga ada yang menegang, sampai akhirnya dimasukkan.

Apalagi setelah tahu kalau dokter sendiri yang menganjurkan seks pada usia kehamilan tua itu berguna untuk mengurangi komplikasi dan menurunkan stres.

Dan sebagai pasangan yang dimabuk cinta serta hawa nafsu, Doyoung juga Jaehyun tentunya memanfaatkan hal tersebut sebaik mungkin; ditambah Jaehyun yang pernah bilang padanya bahwa, “Kenapa penis mas jadi kerasa lebih enak pas aku hamil?” yang membuat Doyoung berpikir kalau mungkin memiliki anak kedua setelah kelahiran yang pertama bukanlah ide yang buruk (meski harus tetap diskusi dulu sama si kesayangan sih).

Makanya ketika Jaehyun, Doyoung, beserta buah hati mereka yang masih mini mengunjungi rumah Sicheng dan Kun, teman mereka itu gak kaget-kaget amat ketika mengetahui kalau,

Betewe, aku lagi hamil anak yang kedua …, hehehe.” Jaehyun cengengesan dengan perut besarnya sambil nempel-nempel sama mas Doyoung yang sedang menimang-nimang buah hati pertama mereka.

Pemandangannya begitu mesra, sungguh berbeda dari biasanya, tapi Sicheng dan Kun tidak banyak berkomentar karena mereka tahu kalau pada akhirnya pasangan suami-suami yang sebelumnya tidak akrab itu akan pacaran dan saling sayang juga.