Work Text:
Satu waktu Ajax menyamar sebagai manusia, dengan nama Tartaglia. Membantu satu di antara lainnya dengan kulit fana seperti mereka. Ia menyapa dengan logat Snezhnaya yang kental, sehingga tak satupun orang di sana yang mencurigainya.
Meskipun, mereka tidak akan saling mengenal satu sama lain di antara salju dan es di Snezhnaya.
Lalu ia, sang agung dan bijaksana seluruh Snezhnaya, menganggap bahwa negara tetangga mungkin berbeda dengan mereka. Lantas ia menyelinap pergi ke negeri penuh batu dan pegunungan tempat sang Geo Archon berada.
Dia bukanlah sosok seorang dewa pada umumnya. Wujud naganya telah tiada. Kini menjelma menjadi makhluk fana bernama Zhongli yang telah sedikit menua. Wajahnya sarat bijaksana namun tampak separuh baya. Garis-garis halus di sekitar matanya menunjuk arah dia telah hidup cukup lama, apalagi dihitung dalam umur manusia.
"Sejak kapan Geo Archon yang Mulia justru menyusup hidup di antara manusia dan menjadi seperti mereka?"
Sebab seingat Ajax, sang Penguasa Air yang Mengalir di Danau dan Sungai, Geo Archon adalah dewa tertua. Tentunya kekuatannya tak tertandingi. Dia bagai batu yang bersemayam di bumi terdalam. Jelmaan langit tertinggi. Anjungan dari gunung terkuat. Tak maulah dia bergabung bersama manusia bahkan sampai menjadi mereka.
"Malamku telah tiba," sahut sang Dewa, tanpa malu menyeruput teh panas buatan seorang manusia. Gadis muda yang orang tuanya memiliki restoran di kota. Ajax tercekat dan matanya mendelik tajam.
Setelah itu, Dewa Morax tak lagi berbicara. Dia hanya lanjut memakan pesanannya semula, daging babi panggang dengan sup rebung kaya bumbu.
Sayup-sayup, dia mendengar Penguasa Tanah membisik kepada koki muda yang melayaninya. "Gadis muda, maukah kau membagi untungmu kepada sang tua ini? Aku tidak membawa sepeserpun mora yang bisa kuberikan padamu hari ini."
Seperti air sungai yang mengalir tanpa jeda, Ajax membanting kantung berisi mora. Tak ayal membuat sang gadis mendelak kaget dan Morax yang tersenyum, seolah tahu semuanya. "Biar aku yang membayar semua yang telah orang tua itu masukkan ke perutnya."
Setelah itu keduanya berjalan-jalan. Pelabuhan Liyue tampak ramai dengan kapal-kapal yang berlabuh membawa pedagang. Anak-anak berlarian membawa layang-layang.
"Kaulah pencipta mora, mengapa tak kausisihkan sebagian untuk dirimu?"
Satu embusan napas mengiring suara burung-burung camar menghinggapi layar-layar kapal. Suara mendesis itu masih sama sejak ribuan tahun lalu. Ajax ingat sekali, air muka Dewa Morax sama sekali kontras dengan dirinya saat masih memakai jubah dewa.
"Aku tidak menciptakan sesuatu untuk diriku sendiri, Dewa Muda."
Dewa Liyue menjeda, baru disadari Ajax dia juga telah mengubah gaya bicaranya. Dahulu dia seperti batu gunung yang kokoh. Sosoknya bagai tebing tertinggi, dibungkus jubah putih layaknya gunung yang diselimuti kabut.
"Kuberikan mora kepada manusia, untuk kesejahteraan mereka. Agar mereka mampu mengatur kehidupan dan mengelolanya dengan baik di masa yang akan datang."
Namun demikian, Morax tetaplah Morax. Dialah agung tertinggi yang senantiasa memikirkan kebahagiaan semua yang berlindung di bawah namanya.
Senyum kebapakan itu masih menjadi hal yang paling Ajax sukai.
"Liyue tempat yang indah, bukan?"
.
