Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandoms:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 25 of #DedicatedtoYou
Stats:
Published:
2021-11-04
Words:
1,278
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
7
Bookmarks:
1
Hits:
116

Polaroid

Summary:

Aku pergi ke manapun kau pergi.

[ OmiJu ]

Notes:

Work Text:

POLAROID

Omi Fushimi/Juza Hyodo


Beberapa lembar foto hasil cetak kamera polaroid berserak di atas ranjang, tersebar acak bersama selimut yang menggulung.

(Serta seseorang; lelaki jangkung dengan alis tebal khas—kedua alis itu kini saling bertaut, terganggu sinar matahari pagi yang mampir lewat jendela.)

Ia terbangun tatkala menyadari rasa sakit menjalari bokongnya. Juza meringis. Telapak tangan menutup sebagian wajah, matanya dipaksa terpejam. Ini pagi bukan pagi biasa, tidak dengan rasa ngilu itu, serta sumpah serapah (dan, jangan lupakan sesuatu; ingatan samar mengenai persanggamaan maha intim setelah sekian tahun kebersamaan mereka). Ini pagi malapetaka. Seharusnya. Tapi tirai jendela yang disibak rapi, aroma coklat panas serta panekuk menggagalkan malapetaka, pikir Juza sederhana.

Omi tidak pergi begitu saja setelah menganiaya bokongnya.

Ia mengenyahkan selimut (duh, berantakan sekali, ditambah sekian foto yang ikut membuat ranjang semakin terlihat kacau). Juza melangkah agak tertatih, ia belum terbiasa. Celana pendek dan kaos longgar dikenakannya. Omi tengah berada di dapur, memotret makanan. Pria itu senang memotret—bahkan foto-foto yang sengaja ditaburkan di ranjang itu merupakan ulahnya; sebagai bentuk penyatuan yang kompleks. Juza tidak paham bagian mana yang kompleks. Tidak ada kerumitan dalam hubungan mereka, ataupun bagaimana mereka menghabiskan malam. Segalanya mengalir saja, hingga kecupan-kecupan menjadi suatu hal biasa. Barangkali yang membuat sulit adalah proses menuju penyatuan. Proses amat panjang. Atau, entah.

“Oh, kau sudah bangun rupanya.”

Pipi Juza merona. Omi memotretnya. Hasil cetakan keluar sempurna. Pria itu mengibas-ngibaskannya, lalu menarik seulas senyum simpul. Dia memang penggoda ulung. Juza sampai terperangkap dan menyerah. Omi meminta untuk mendekat. Mari kita nikmati sarapan. Juza tentu saja memilih ke kamar mandi terlebih dahulu untuk menggosok gigi dan membasuh muka. Wajahnya tampak kuyu, ada kantung mata. Ia pucat sekali. Padahal sepasang matanya menyala—membara, seperti baru menemukan oasis. Bahkan ia menemukan paradoks di wajahnya sendiri. Aneh.

Mereka menikmati sarapan dalam keheningan. Bagaimana cara Omi membuat panekuk? Juza bertanya-tanya. Mungkin pria itu membelinya dari luar hotel. Bisa jadi. Rasanya tidak buruk. Juza suka, meski ia lebih suka bikinan Omi. Omi berkomentar rasa panekuknya agak hambar. Juza setuju, tetapi tetap menikmati. Semua makanan selalu nikmat baginya. Coklat disesap perlahan. Panas. Ujung lidahnya serasa terbakar. Ia tak sengaja menjulurkan lidah, Omi sengaja memotretnya. Lagi. Terus saja begitu setiap ada momen menarik.

Omi tertawa, merasa senang dengan hasil bidikannya. Juza salah. Sarapan kali ini tidak dikuasai keheningan—ah, setiap bersama Omi, segala yang hening seakan lenyap. Selalu ada suara, gerakan-gerakan tak perlu, gelak tawa, senyum di bibir. Juza sudah lama menyadarinya. Kehidupan yang semula monoton jadi lebih berwarna—menyenangkan. Bak anak kecil, ia menantikan apa yang akan mereka lakukan sehabis ini.

Coklat menghangat. Juza menyesap nikmat. Omi memandanginya seraya menopang dagu. Juza tidak merasa terganggu, tidak lagi. Ia sudah kebal menghadapi pria penggoda semacam ini. Dipandangi lama, diberi senyuman. Ia kenyang dengan semua itu. Jadi, terima kasih, Omi. Juza tidak akan lagi kikuk sambil merona karena dipandangi sedemikian lama. Omi justru tergelak dalam tawa. Suaranya renyah. Juza tidak mengerti kenapa Omi gemar sekali tertawa. Tapi tidak apa-apa. Ia suka—pada suara itu; tawa yang seakan meluruhkan dedaunan, daun-daun menari di udara, daun-daun menari terbawa suara. Renyah.

Juza tanpa sengaja mengulas senyum.

Satu bidikan diambil lagi. Oh, ayolah.

“Bukankah kita seperti pasangan baru menikah.” Omi berceletuk.

Juza nyaris batuk. “Kita memang baru menikah—baru kawin, semalam.”

Omi tersendak. “Astaga,” ucapnya, barangkali tidak mengira ia akan berkata semacam itu.

Mereka berakhir menghabiskan sarapan sambil bicara. Omi mengangkat topik mengenai hubungan keduanya; betapa proses terlalu lama untuk sampai pada tahap seintim ini. Juza berdalih itu karena Omi terlihat seperti tipikal pria hidung belang yang gemar berganti-ganti kekasih. Ia juga mengatakan bahwa sebetulnya ia tak pernah suka digoda. Omi mengatakan tapi godaannya ampuh. Juza tidak bisa lagi mengelak.

“Kau hanya terbiasa pada keberadaanku, Juza. Perlahan kau mulai menerimaku tanpa kau sendiri menyadarinya.”

Juza mengunyah potongan terakhir. Sekian tahun lalu ia pernah dikecewakan. Cerita lama. Membosankan. Dari dampak kekecewaan itu, ia mulai menutup diri dan menganggap semua manusia adalah pengganggu. Ia tidak keberatan hidup sendiri. Tetapi, kemudian Omi datang. Seperti tiba-tiba, pria itu memotretnya ketika ia tengah termenung di salah satu distrik Istana Buda, memandangi Budapest di malam hari ketika ia berlibur di sana. Bagaimana ia tidak terkejut. Seseorang memotretnya—orang asing pula.

Omi beralasan dia memotretnya karena terlihat indah dan menyatu dengan kerlap-kerlip lampu kota. Juza mengakui memang demikian kenyataannya. Kamera polaroid mencetak gambar, memperlihatkan bukti. Juza sendiri terpana melihat dirinya yang termenung kesepian. Omi ingin Juza menyimpan foto itu. Mereka lalu berkenalan; sama-sama berasal dari Jepang memudahkan komunikasi. Budapest mempertemukan mereka. Terdengar seperti cerita cinta picisan.

Omi mengikuti ke manapun Juza pergi, selayaknya penguntit. Juza senang menjelajahi kota-kota yang baginya menarik. Mereka pergi ke Roma, Berlin, Macau, Bali, Moskow. Mereka mengunjungi banyak sekali kota, menikmati keberagaman suku, pemandangan alam, apa saja. Juza membuat jurnal pada setiap perjalanannya untuk dipublikasi di blog pribadi. Omi mengoleksi hasil foto, baik secara digital maupun polaroid. Dua pekerja lepas yang saling berhubungan. Bahkan profesi kita berjodoh, begitu kalimat yang seringkali diucapkan Omi.

Mereka berciuman pertama kali pada suatu malam di taman Gulhane, tidak jauh dari keberadaan Istana Topkapi, Istanbul, tiga tahun setelah pertemuan pertama mereka di Budapest. Juza tidak mempertanyakan kenapa, ia juga tidak menolak. Omi benar. Juza terbiasa berada dekat dengan Omi, tanpa sadar ia mulai menerimanya. Mengalir dan sederhana. Ciuman-ciuman lain menyusul di berbagai tempat, hingga sampailah mereka pada satu klimaks; mari kembali ke pertemuan pertama kita.

Mereka kembali ke Budapest. Kembali menikmati keindahan kota dari ketinggian Fisherman’s Bastion, bagian dari distrik istana tempat pertama kali mereka berjumpa. Rasanya seperti kembali ke masa lalu, dengan keadaan yang sama sekali lain. Juza tidak lagi merasa sepi, ia tidak lagi membiarkan kekecewaan menumpuk di dadanya. Ia menerima Omi, sepenuhnya. Juza mengecup lembut bibir Omi untuk kali pertama (selama ini selalu Omi yang memulai). Mereka saling memandang, melempar senyum, diakhiri tawa, seperti menyadari bahwa; ah, ya, seharusnya memang begini. Tak perlu kata cinta, tak perlu rayuan-rayuan, mereka sepatutnya menjalani kehidupan berdua, bahagia bersama, seterusnya, selamanya.

Di hotel, akhirnya penyatuan terjadi, setelah lima tahun bersama; tiga tahun tanpa apa-apa, dua tahun dibumbui kecupan. Proses yang panjang. Juza salut pada kesabaran Omi.

Sarapan telah habis. Omi mencuci piring-piring. Juza membantu membasuh.

“Aku selalu penasaran. Kenapa Omi-san mengikutiku setelah pertemuan pertama kita?”

“Karena bokongmu seksi.”

Juza memasang tampang tak percaya. “Omi-san selalu memberiku alasan yang sama kalau aku tanya begitu. Padahal bokongku ini rata. Aku mana percaya.”

Omi terdiam. Matanya memandang piring-piring kotor yang kini bersih, tapi Juza tahu pikiran pria itu melayang jauh entah ke mana.

“Petugas hotel mungkin sebentar lagi datang untuk bersih-bersih.” Juza hendak melenggang pergi. Ia mau mandi. Bagaimanapun, saat ini ia hanya mengenakan celana pendek dan kaos longgar. Omi menahan dengan gerakan tangan (heh, bahkan tangan pria itu masih menggenggam spons penuh busa).

“Aku tidak sedang berusaha menggodamu, Juza.”

Juza tidak paham.

“Mengenai alasan kenapa aku mengikutimu … itu karena, eh, kepalaku seperti berpikir; aku harus mengikutinya, aku harus melenyapkan raut kesepian di mukanya, aku ingin membuatnya tersenyum. Lalu, tanpa aku sadari, aku terus mengikutimu. Aku pergi ke manapun kau pergi. Aku menggodamu. Aku senang kau merona karena godaanku. Dan aku menyadari satu hal paling krusial; aku ingin melenyapkan kesepianmu karena aku juga merasa kesepian—dan aku ingin melenyapkan kesepianku melalui kau.”

Uh, oh. Juza terpana. Bagaimana tidak, Omi mengatakan sesuatu yang seperti bukan Omi. Pria itu memandangnya. Sorot mata lurus tulus. Ada seulas senyum kecil. Juza melangkah. Tunggu … kakinya seperti melangkah sendiri. Tubuhnya bergerak sendiri. Ia merengkuh Omi, ia menenggelamkan diri dalam dekapan pria itu. Omi merusak suasana dengan mengatakan bahwa pakaian Juza akan basah dan berbusa karena terkena spons. Juza sudah tidak peduli lagi.

“Ah, andai ada seseorang yang memotret momen ini.”

Kamera polaroid tergeletak di atas meja makan. Omi melupakan sejenak dan menikmati saat-saat paling membahagiakan dalam hidupnya—dan Juza.[]

 

Series this work belongs to: