Actions

Work Header

B.I.T.C.H.E.S : Your Best Slut

Summary:

Kompilasi cerita dewasa 18+ :
- Chapter #1 : Her Name is Lois
- Chapter #2 : That Overproud Student
- Chapter #3 : Literally Corrupted Angel
- Chapter #4 : Sabrina - The Public Facilities

Btw Please consider support me in Trakteer at https://trakteer.id/hannah.allanbecker/link
Or in my Karya Karsa at https://karyakarsa.com/sisterhood thanks ♡

Chapter 1: Her Name is Lois

Chapter Text

Perempuan berambut coklat itu berdiri di tengah peta jalan sebuah empat lajur jalan raya yang ramai, memakai flanel biru-merah, celana jeans pendek butut, dan memegang karton bertulisan "jasa seks perjam $10".

Kau percaya itu?

Awalnya akupun tak percaya. Tapi jalanan macet New York yang penuh kesialan itu entah bagaimana lama-lama membuatku jengkel juga. Dan stres.

Ketika akhirnya mobilku merambat maju menjejeri perempuan itu, aku benar-benar menganalisa wajahnya; dan aku cuma bisa bilang kalau dia itu cantik. Wajah ayu, rambut panjang, leher jenjang, tubuh semampai.

Country beauties, batinku. Mungkin datang ke NY untuk kuliah dan kehabisan uang. Kasus maklum anak jaman sekarang.

Sebuah hal mengherankan kenapa belum ada polisi yang menegurnya. Mungkin orang tak akan percaya dengan tawaran seks di siang bolong dan menganggapnya orang gila semata?

Kuturunkan kaca mobilku ketika perempuan yang mungkin berusia 20 tahunan itu melongok ke dalam mobil.

"Tiga jam dan $500?"

Hanya dengan kalimat itu, aku membawa perempuan tak dikenal ke apartemenku.

.
.

Aku bukan tipe orang yang suka buang-buang waktu dengan foreplay, dan waktu tiga jam itu tidak sebanyak kelihatannya. Jadi ketika pintu menutup dan kunci terpasang, tanganku segera menelanjangi perempuan itu.

Kabar buruknya, kami akan bersetubuh didepan pintu masuk.
Kabar baiknya, perempuan ini bahkan tak mengenakan bra dan celana dalam.

"Siapa namamu?" tanyaku masih berusaha memeloroti celana jeansnya.

"Lois," jawab perempuan itu terengah-engah. Tangannya segera mengalung di leherku dan kedua kakinya, masih dengan sandal, melingkar di kedua sisi pinggang.

Kesan pertama adalah bahwa dia cantik. Kesan kedua adalah dadanya besar tak main-main; mungkin cup D.
Kesan ketiganya, saat mulutku melahap puting kecoklatannya tanpa basa-basi, rintihan nikmat langsung menguar dari bibir tebalnya. Dan itu membuat penisku tegang seketika.

Kedua tanganku sibuk meremas, memilin, mencubit bahkan mencakar lembut payudara besar nan kenyal itu sebelum kurasakan sepasang tangan mencopot resletingku. Tangan Lois hanya perlu mengelus penis tegangku beberapa kali sebelum menuntunnya ke celah miliknya yang kusadari sudah basah.

Tak perlu menunggu lama lagi sehingga batang gemukku menelusup dan tenggelam seluruhnya ke dalam liang nikmat pelacur ini, diikuti oleh desah panjang.

"Aaanggh, besarnyaaa..." hela Lois merasakan aku langsung mengaduk isi vaginanya, tak meluangkan kesempatan sedikitpun untuknya menyesuaikan bagian organku yang kepalang tegang. Sodokan panjang dan kasar kuhujamkan berkali-kali sementara sebelah tanganku meremas gemas kedua payudara montoknya bergantian. Tanganku yang lain mencengkeram pinggulnya sehingga Lois hanya bisa meracau dan mendesah di bawahku. Tubuhnya menggeliat kenikmatan dan mulutnya tak bisa diam, menggumamkan suara erotis tanpa ditahan.

"Fuuck, terus hajar lebih-Aangh! Lebih kerass...!!"

"Kau suka permainan kasar, hmm? Mau kutunggangi seharian supaya lubangmu selonggar sumur, eh??"

"Mau penismu seharian-Anngh! Terus gagahi aku... Please hamili akuu... Aangggh!!"

Seketika dinding-dinding yang melingkupiku mengerat, pertanda orgasme pertamanya. Tubuh Lois tersentak-sentak beberapa kali sebelum ia melemas. Meski demikian aku melanjutkan lagi sodokanku pada selangkangannya.

Begitu terus posisi kami selama beberapa waktu. Tanganku tak henti mempermainkan kedua gundukan kenyal Lois. Sesekali kulumat bibir seksinya. Teriakan dan desahannya memenuhi ruang depanku dan lantai basah oleh air maninya.

Kulirik jam tanganku ketika tahu bahwa kami sebenarnya sudah melebihi jam yang kutawarkan; tentu saja, apalagi perjalanan menuju apartemenku saja sudah hampir sejam penuh. Tapi tidak ada tanda-tanda Lois menyadari.

Karenanya aku semakin liar saja menghajar isi liang becek Lois hingga ia kembali klimaks. Kali ini ditemani oleh air kencing. Punggung Lois membusur dan tubuhnya mengejan mengeluarkan mani dan kencing sebelum kembali melemas. Nafasnya tersengal-sengal, dan terlihat sekali ia sudah di ambang batas kesadaran.

Tapi sayangnya aku bukan gentleman yang akan membiarkan pelacur beristirahat di saat jam kerja. Kugendong tubuh berpeluh itu ke kasur besarku sebelum kembali menggagahinya. Lois seolah tak peduli lagi dengan kenikmatan yang kembali menyiksa. Kepalanya terangguk-angguk tiap kali aku menghujam G-spotnya. Dan meski desah masih keluar dari bibir, matanya sudah menutup separuh dan tubuhnya sudah lemas seluruhnya. Lima kali lagi orgasme menderanya dan lima kali itu pula air kencing keluar dari tubuhnya.

Sore hari baru datang ketika akhirnya aku memutuskan mengeluarkan spermaku dalam-dalam di rahim Lois yang sudah terlelap. Kusumpal celahnya dengan celana dalamku agar benihku tetap berada disana dan aku meninggalkannya untuk mandi.

Pelacur ini tidak akan meninggalkan rumahku untuk beberapa waktu sampai ia mengandung anakku; karena aku pria yang menepati janjinya.

.
.

Dua bulan aku menyetubuhi Lois dengan selingan mandi dan makan. Perempuan itu pun seolah santai-santai saja dengan penyekapannya. Mungkin sebenarnya pelacur ini salah satu dari sekian homeless yang menawarkan diri untuk selembar uang, dan flannel kucel yang kubuang di hari pertama itu saja sudah meyiratkan segalanya. Tentu saja aku membiarkan Lois memakai kaos dan sweater-ku. Tapi ia tetap tak mendapatkan baju dalam selembarpun, dan aku bebas menyetubuhinya dimanapun kumau. Di atas counter dapur, di meja makan, di kamar mandi, bahkan ketika Lois menjemur pakaianku di beranda.

Terkadang Lois sendiri yang mencariku dan menenggelamkan batang tegangku ke dalam vaginanya meski aku sedang bekerja didepan laptop. Aku tak keberatan, dan Lois menaik-turunkan tubuhnya dengan liar bagai binatang musim kawin.
Dan ia selalu menjaga spermaku di dalam rahimnya. Hanya membersihkannya di saat ia mandi atau butuh ke kamar kecil.

Di bulan ketiga, Lois muntah-muntah di kamar mandi saat aku sedang menonton TV, dan menuai seringai di wajahku.

Well, sudah kubilang bukan kalau aku adalah pria yang memenuhi janjinya?

 

End.