Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2021-09-26
Words:
880
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
7
Hits:
140

Orang waras can't relate

Summary:

hanya jisung dan hubungannya yang aneh.

Notes:

hyunsung hanya disebut dalam dialog:3

Work Text:

 

 

Changbin menghela napas, entah sudah keberapakalinya. Imajinasinya buntu. Punggungnya disandarkan pada kursi, matanya yang kecil melirik Chan yang asyik dengan keyboard di sisi lain ruangan.

“Nih!”

Changbin terhenyak sejenak, kaget Jisung tiba-tiba sudah ada di sampingnya. Lembar kertas lirik yang diberikan chan beberapa menit yang lalu diletakkannya di atas meja.

“Mas abin huf huf terus daritadi. Kerja dong mas, kerja!”

Nada menyebalkan jisung terdengar sepuluh kali lebih menyebalkan. Kursor di tangan kanan diambil alih. Dengan kesal dirampasnya kertas lirik yang lebih muda. Dibacanya ulang baris demi baris yang ditulis jisung, rapi seperti biasa.

“Gue buntu sung, bantuin dong.”

Manik si tupai melirik sekilas lalu kembali fokus pada layar. Tidak ambil pusing. Changbin kesal, digulungnya kertas lirik jisung dan dipukulnya anak nakal itu gemas.

“Heh bocil bantuin!”

“Apasih mas! Ini juga gue bantuin. Mas abin rapihin track aja dari tadi gak kelar-kelar.”

Jisung yang ikut kesal mendorong kursi changbin menjauh, menggelinding menabrak meja kopi.

“Agh!”

Changbin mengerang sakit. Kakinya membentur meja, tidak keras tapi cukup untuk membuatnya tersengat.

“Bisa diem nggak?”

Tanda tanya yang dipasang untuk kalimat chan barusan hanya sekadar tanda, karena faktanya changbin yang hendak berdiri menerjang jisung memilih mengurungkan niat.

“Iya abang, maaf.” Keduanya menjawab kompak.

“Jisung coba changbinnya bantuin beresin liriknya dulu, track yang itu nanti aja.”

Dengan malas jisung kembali duduk di sofa. Chan dalam mode studio adalah yang terseram, jadi menurut adalah jalan paling aman. Changbin yang merasa dibela segera mengayuh roda kursi ke sisi jisung, menatap anak itu antusias.

“Sekarang karena lagunya soal konfrontasi, ceritain kenapa semalem berantem!”

Yang lebih muda mengembus napas kesal. Bibirnya mencibir, matanya menatap sengit changbin.

“Udah lah mas, yang penting kan udah baikan.”

Enggan jelaskan, jisung menyamankan punggungnya pada sofa. Tapi changbin punya cara lain untuk merayu pacar hyunjin itu.

“Tapi gue perlu tau sung, biar liriknya mendalami.”

“Itu mah mas abin aja yang kepoan. Alesan doang cih.”

Tidak menyerah. Changbin mencoba cara lain. Tangannya dengan cepat meraih ponsel jisung di atas meja, jadikan benda pintar itu sandera agar jisung mau bicara.

“Cerita atau gue baca sendiri chat lo sama hyunjin!”

Tapi sialnya jisung hanya melirik tidak minat.

“Baca aja gih, orang berantemnya offline kok. Gak ada disitu ceritanya.”

Hup.

Changbin mulai kesal. Dilemparkannya ponsel jisung pada pemiliknya yang untungnya ditangkap dengan baik

“Kepo banget mas abin nih, mau nyaingin kak lino ya?”

“Gue nih mau tau biar bisa mencegah terjadinya kekerasan di masa depan sung, ngaca tuh sampe pipi lecet gitu.”

Changbin sebal, yang termuda hanya mengulas senyum simpul.

“Yaudah biar binnie gak pundung, gue ceritain intinya aja.” Nada jenaka jisung gunakan. Biasanya changbin tidak suka dipanggil begitu, tapi karena jisung mau cerita ia iya iya saja.

“Yaudah sok mulai ceritanya.”

Dua eksistensi yang sibuk sendiri terlonjak kaget. Chan tiba-tiba sudah duduk manis di sisi jisung siap mendengarkan.

“Abang yaampun, kaget gue.” Yang paling muda menyuarakan pendapat, tapi chan bodo amat.

“Cepetan ceritanya!”

Jisung menarik napas dalam. Jari-jarinya memaikan ponsel, diputar-putarnya benda persegi itu mengusir ragu.

“Semalem gue bilang hyunjin kalo gue mau lebih dominan. I mean badan gue emang kecil dan yah semua orang di dorm nganggep gue lucu dan gemes tapi kadang gue merasa gimanapun gue, gue tetep cowok ya kan? Gue juga mau dilihat macem abang atau lo mas.”

Jisung sempatkan pandang lurus pasang mata changbin. Lalu lagi-lagi ia menarik napas dalam. Changbin mengulum bibir, mencoba tidak menyela.

“Gue pengen dilihat jadi jisung yang keren. Bukan gue nggak bersyukur sama appearence gue yang gemesin, tapi gue juga mau dianggep keren kayak laki-laki lain di luar sana.”

Laki-laki itu menjeda kalimatnya, sekali lagi mengisi penuh paru-parunya.

“Gue yang semalem emang lagi sensitif malah jadi ngegas. Gue capek diomongin gini-gitu sama orang-orang. Gue mau dilihat jadi gentleman even its just a moment. Gue capek dilihat kemayu atau apalah itu namanya cuz i am not. Gue juga cowok, emangnya kalo gue pacaran sama hyunjin gue harus jadi cewek gitu? Gue kan tetep cowok. Iya kan mas?” Pertanyaan yang keluar dari bibir jisung mencubit hati changbin. Lalu Han mengerucutkan bibir.

“Tapi hyunjinnya malah marah. Gue nggak ngerti kenapa dia marah, gue cuma mau kelihatan lebih dominan dan dia cukup bilang iya but yeah you know kita malah berantem kaya anak kecil.”

Changbin menggigit bibir, chan menunduk meremas pergelangan tangan yang termuda.

“Tapi kita udah baikan kok. Kaya yang abang bilang semalem, kita udah ngobrolin ini pake kepala dingin.”

Seakan tahu suasana berubah muram, jisung kemudian tersenyum lebar. Tangannya meraih kepal dua kakaknya, menggenggam, meyakinkan semuanya sudah baik-baik saja.

“Terus kenapa pipinya sampe lecet gitu?”

Jisung tampak berpikir sebentar. Pertanyaan chan dicernanya dulu sebelum mengungkap jawab.

“Ya lo tau sendiri lah kita kalo berantem ya totalitas gitu bang. Tapi ini hasil kebentur dipan hyunjin sih hehe.”

Jisung terkikik. Seperti mengingat bagian memalukan dari baku hantamnya dengan hyunjin kemarin.

“Hyunjin itu bucin bang, sekesel-keselnya dia sama gue gak bakal dia mukul. Kita mah kalo berantem pake mulut tapi bukan yang itu loh ya.”

Lagi-lagi jisung terkekeh melihat dua kakaknya yang kini mengembus napas kesal.

“Dasar aneh.” Changbin menyeletuk.

“Nah!”

Si tengah terkaget. Hampir jatuh ia dari kursinya. Lalu memukul lengan yang paling muda kesal.

“Kaget gue njir!”

“Hehe maaf atuh mas. Gue sama hyunjin emang sepasang orang aneh yang punya hubungan yang aneh jadi kita ngatasin semuanya pake cara yang aneh juga.

 

Orang waras mah can't relate.”


published with write.as