Chapter Text
Taehyung mengerjap pelan saat kulit wajahnya dibuai oleh sinar mentari yang masuk dari celah jendela. Fajar telah menyingsing, hari telah dimulai.
Berat. Lengannya tak bisa ia pindahkan.
Sensasi kebas mulai menggerayangi persarafan lengannya, akan tetapi figur manis di sampingnya masih belum menunjukkan tanda-tanda akan segera bangun. Efek demam tadi malam membuatnya sedikit oyong. Belum lagi Jimin yang terjaga hingga dini hari, bermain Nintendo switch-nya, dengan alasan belum mengantuk.
Senyumnya tertarik tipis di wajah bantal lelaki tampan itu, mengingat Jimin yang memeluk erat Taehyung dari belakang saat ia hampir terlelap. Sensasi hangat tiba-tiba menguar di relung dada.
Taehyung menggeleng pelan sambil menampar pipinya.
“Hei, bangun.” Dari semua intonasi yang pernah Taehyung gunakan pada Jimin, mungkin inilah yang paling lembut yang pernah ia lakukan.
“Jimin…,” yang dipanggil tak kunjung membuka matanya. Taehyung gemas, maka ia jepit hidung minimalis milik Jimin hingga tersumbat jalur napasnya. Berhasil, Jimin mengerang sambil berusaha meyingkirkan tangan Taehyung dari wajahnya.
Taehyung terkekeh, lucu juga si manis ini.
“Sesak, tolol!” umpat Jimin sembari mengerutkan hidungnya yang memerah. Matanya ia gosok kasar menggunakan punggung tangan, lalu duduk bersandar di kepala ranjang.
Waduh, gak jadi lucu. Mode senggol bacok begini, batin Taehyung.
“Mulutnya pagi-pagi ngomong yang manis coba. Bisa ga?”
“Ga.”
Taehyung mencolek dagu Jimin, “Galak banget sih, lo."
Desisan keluar dari bibir tebal milik Jimin. Bantal Taehyung menjadi pelampiasan, dilapkan pada dagunya berulang kali sambil mengerang jijik. Lebay, batin Taehyung sambil memutar bola matanya malas.
Yang lebih bongsor berdiri lalu membuka lemari bajunya. Dua set seragam sekolah miliknya ia lempar pelan tepat di samping kaki Jimin. Handuk biru muda tersampir di bahu telanjangnya. Jimin akui, postur tubuh lelaki itu tampak begitu indah, bak pahatan dewa dengan kulit sedikit kecoklatan eksotis. Walaupun memang tak sekekar Jungkook.
“Gue mandi duluan. Kabarin Hobi, lo berangkat bareng gue aja,” ujar Taehyung, kemudian berlalu ke dalam kamar mandi. Jimin mengangguk kaku lalu meraih ponsel Taehyung di nakas.
Taehyung Kimcil :
Bang, ini Jimin. Gausah jemput. Gue bareng Taehyung.
Setelah ditanya-tanyai Hoseok, oke pun ia dapatkan. Ponsel Taehyung ia hempaskan ke atas kasur, lalu memejamkan matanya kembali sembari menunggu Taehyung selesai mandi.
. . .
Keduanya kini telah berada di sekolah, duduk di dalam mobil yang terparkir apik di halaman sekolah. Memang pada dasarnya STM ini memang tempatnya anak-anak orang berada. Buktinya sepanjang mata memandang, banyak mobil dan motor yang terparkir. Belum lagi parkiran belakang yang diperuntukkan khusus untuk anak kelas satu. Iya, anak kelas satu dilarang parkir di halaman depan. Ini sudah menjadi tradisi yang berlangsung cukup lama. Mau tak mau anak kelas satu harus berjalan memutar untuk masuk ke dalam lobi utama sekolah menuju kelas masing-masing. Tradisi setan, indeed .
“Turun cepetan.”
“Iya sabar.”
Jimin membenarkan celananya—ralat, celana Taehyung yang ia pinjam—untuk kesekian kalinya. Padahal seragam yang Jimin kenakan adalah seragam miliknya sewaktu kelas satu. Postur tubuhnya sudah jauh lebih besar saat ini, tapi mengapa Jimin terlihat begitu kecil saat mengenakannya?
“Udahlah, mau lo kencengin gesper seratus kali juga itu celana emang kegedean di elo.”
Taehyung menyisir helai rambut hitamnya menggunakan jari. Matanya tak lepas dari kaca spion, menatap tampilan wajahnya yang cukup sembap karena terlalu banyak tidur.
“Kok bisa gede banget gini sih,” gumam Jimin frustasi.
“Iyalah, sesuai ukuran kon—,”
Jimin menoleh cepat ke arah Taehyung yang menarik senyum jahilnya.
“-ci. Konci mobil gue gede, mobil mahal soalnya. Jadi kantongnya harus gede.”
Tawa geli Taehyung membuat Jimin kesal. Pintu mobil mahal Taehyung ia banting sedikit keras, menimbulkan ringisan dari empunya mobil. Ekspresi syoknya sedikit menghibur Jimin.
Mampus lo, umpatnya dalam hati.
Jimin berjalan pelan menjauhi mobil Taehyung dengan hati yang sedikit berat. Semenjak kejadian di kamar mandi kemarin, ia merasa gusar. Akankah ia habiskan tiga tahun masa sekolah dalam keadaan seperti ini? Jimin tidak mau. Kepalanya yang menunduk terangkat ketika sebuah lengan tersampir di pundaknya, harum parfumnya sangat familiar.
“Kok melamun, Jim?” bisiknya di telinga Jimin.
Hembusan napas hangat Taehyung di cuping telinganya menunjukkan betapa dekatnya kepala lelaki itu pada telinganya. Jemarinya mengangkat dagu Jimin, hingga tegak pula lah wajahnya ke arah depan.
“Jangan mau diintimidasi, lo lagi bareng sama gue.”
Taehyung berjalan bersisian di samping Jimin, dengan tangan yang masih merangkul pundaknya—hingga sisi tubuh Jimin rapat padanya, mengikis spasi personal di antara mereka. Reputasi Taehyung sebagai komisi disiplin terasa mutlak, bahkan setelah masa MPLS berakhir. Eksistensinya membuat semua siswa baru menunduk tak berkutik di hadapannya. Seperti berada di puncak rantai makanan.
Benar saja, sepanjang perjalanan menuju kelas Jimin, tak satupun orang berani menatap mereka. Ekspresi dingin milik Taehyung berperan besar dalam hal ini. Demi tuhan, Jimin gemas sekali rasanya. Ingin ia meninju wajah sombong sang senior. Dan iya, Taehyung mengantar Jimin hingga masuk ke dalam kelas. Literally , sampai Jimin duduk di bangkunya, barulah ia beranjak pergi.
“Titip dia, ya. Jangan lecet,” pesan Taehyung pada teman sebangkunya yang terlihat sedikit terkejut—namun masih menyempatkan diri untuk mengangguk patuh. Sebuah ponsel ia letakkan di meja lalu mengedipkan sebelah matanya genit pada Jimin. Kacau. Bisik-bisik penghuni kelas semakin keras saat punggung Taehyung menghilang di balik pintu kelas.
“J-jim, jadi lo beneran homo ya…,” tanya Jeonghan tergagap-gagap. Sorot matanya tampak takut-takut menatap Jimin.
Jimin menghela napas kasar sambil menenggelamkan wajahnya pada kedua lipat lengannya. Berharap kelas segera dimulai.
“Gausah nyebar gosip macem-macem.”
“Tapi… itu nametag baju lo nama Bang Taehyung,” cicit Jeonghan pelan.
Jimin menepuk jidatnya keras, ia lupa. Pantas saja spekulasi yang tidak-tidak ini terus berlanjut. Memang Kim Taehyung-lah asal muasal perkara.
“Gue gatau lagi mau ngomong apa. Mending lo diem.”
Percakapan pun berakhir dalam kecanggungan. Lalu, kelas pertama hari ini dimulai.
. . .
Bel istirahat baru saja berbunyi sekitar lima menit yang lalu.
“Kamar mandi, yuk,” ajak Taehyung saat baru saja tiba di kelas Jimin.
Kelasnya saat ini lumayan lenggang, namun masih ada beberapa siswa yang berada di sana—menatap keduanya menjustifikasi. Tentu saja ketika Taehyung menoleh ke belakang, mereka semua langsung membuang wajah seolah tak tau apa-apa.
“Mau ngapain?”
“Pacaran kita di kamar mandi.”
Taehyung menggigit bibir bawahnya sambil menyatukan kedua tangannya yang menguncup, bak gestur orang ciuman.
"Njing," umpat Jimin frustasi.
Ia menatap sekelilinya cemas sambil menggeretakkan giginya. Sudah habis akal.
“Ibarat rumah orang lagi kebakaran malah lo siram minyak tanah, tolol.” bisik Jimin dengan penuh penekanan pada setiap katanya.
“Halah ikut aja lah cepet.”
Intonasi menitah Taehyung membuat Jimin mau tak mau bangkit dari duduknya. Percuma juga ia menolak, yang ada malah semakin menjadi Taehyung dalam ruang kelasnya ini.
Sepanjang perjalanan menuju kamar mandi, Jimin berada di belakang Taehyung. Mengekori sang senior dengan langkah yang dijaraki sekitar satu meter. Pintu kamar mandi berada di depan mata. Jimin menatap enggan. Masih sedikit trauma dengan kemarin.
“Duluan, gih.”
“Loh? ‘Kan elo yang ngajakin ke kamar mandi?”
“Iya lo aja duluan, gue ada urusan mendadak,” jawab Taehyung sambil melirik pergelangan tangannya, tempat smartwatch -nya terlilit.
Jimin gelisah, memang sih tiba-tiba tubuhnya merinding. Sensasi ingin berkemih muncul saat berada di kamar mandi. Jimin dilema, berkontemplasi apakah ia harus memenuhi kebutuhan jasmaninya atau menuruti firasatnya yang mengganjal.
Persetan, kencing dulu .
Lebih malu kalau dia mengompol di hari keduanya bersekolah, bukan?
Jimin mengangguk lalu melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Taehyung telah pergi entah kemana, ia tidak begitu peduli. Berulang kali pintu masuk kamar mandi ia lirik, takut-takut kejadian yang sama terjadi lagi. Namun nihil.
Kalau dipikir-pikir bodoh juga kalau mereka menyerang Jimin langsung, dua hari berturut-turut. Bukan bodoh sih, jahat namanya. Jimin menggigit pipi dalamnya menahan rasa perih yang tiba-tiba muncul di hati. Matanya sedikit berair, kesal. Harusnya hari-harinya ketika bersekolah di kota tidak seperti ini, tak sesuai dengan yang ia impikan tiap malam sembari menatap langit-langit kamar sempitnya.
Suara deritan pintu terbuka mengalihkan atensi Jimin yang sedang mencuci tangan. Awalnya ia kira itu Taehyung, namun ternyata wajah tiga orang teman sekelasnya terpampang di kaca depan wastafel. Ketiganya bertingkah aneh, Jimin bisa lihat dari pantulan kaca. Lalu tatapannya bertaut dengan yang paling pendek, senyum miringnya terulas sombong.
Dan sesuai dugaan, kedua temannya mengunci tangan Jimin dari belakang, lututnya dipaksa untuk menekuk hingga terjatuhlah ia di lantai. Jimin berusaha memberontak sambil memaki ketiga orang lain di sana. Sayangnya, kedua bajingan ini secara fisik lebih besar daripada Jimin.
“Hajar sampai waras, jijik gue. Kelainan.”
Kedua temannya menyeringai lalu berusaha melucuti pakaian Jimin. Jimin sendiri sudah menggeliat rusuh, berusaha melepaskan diri. Jambakan di rambutnya membuat kepalanya sedikit pusing, tiga kancing teratasnya sudah terlepas.
"Ada apa nih rame-rame, kok nggak ngajak?”
Jantung mereka bertabuh keras, suara familiar menyapa indra pedengaran mereka. Seorang Kim Taehyung berjalan santai sambil mengulas senyum psikotiknya. Melihat dari ekspresi terkejut mereka, Jimin rasa ketiga bajingan ini tidak menyangka Taehyung akan datang.
Jimin tertawa, the table has turned . Senior licik ini sengaja memancing rupanya.
Taehyung merangkul leher siswa—si otak dari perundungan—itu.
“Gue lihat-lihat kemarin lebar senyum lo pas gue ngasih tau Pak Seokjin kalau dia kuyup di kamar mandi,” ujar Taehyung, tanpa melepas pandangannya dari Jimin.
"Udah yang paling hebat lo?!”
Suara Taehyung meninggi, hampir mengeluarkan geramannya. Badan lelaki yang ia rangkul bergetar mendengar bentakan si nomor satu di sekolahnya itu. Entah kenapa kaki-kakinya terasa lemas. Kedua temannya yang masih memegangi Jimin mulai meragu. Mereka bertelepati melalui ekspresi. Jika kabur sekarang, Taehyung tidak mungkin melawan mereka bertiga sekaligus.
Kuncian di tangan Jimin mereka lepaskan lalu dengan cepat keduanya berjalan menuju pintu keluar. Taehyung masih bergeming, sekelebat rasa takut terkias pada bola mata siswa di rangkulannya.
“Paling nggak solid memang angkatan kalian. Kasihan gue. Iya ‘kan, Jae?”
Sungjae muncul dari balik bilik toilet terdekat, sambil mengotak-atik ponselnya. Walaupun tampak acuh, ia tetap mengangguk pelan. Sementara itu kedua siswa lain tengah dilanda ketakutan luar biasa. Pintu kamar mandi tak dapat mereka buka. Seperti ada yang menahan dari luar.
“B-bang… ampun, Bang,” lirih siswa di sampingnya.
Taehyung berdecih lalu menarik rambutnya kasar, mengarahkan wajahnya pada Jimin yang masih bersimpuh di lantai.
“Minta maaf sama dia dong. Gue kan gatau apa apa.”
“Iya, gimana sih lo. Kok malah ngemis-ngemis maaf kayak gini. Kan jadi jelek videonya.”
Sungjae menunjukkan layar ponselnya yang memutar ulang adegan perundungan tadi. Mata siswa itu melebar, pupilnya sampai bergetar. Begitu pula kedua siswa lain yang semakin ricuh, berusaha mendobrak pintu kamar mandi.
“ Shh … jangan berisik,” desis Taehyung sambil meletakkan telunjuknya di bibir, “kita kan mau seru-seruan di sini. Nanti ketahuan.”
Seringai terulas di wajah tampannya. Jimin sendiri sudah bergidik ngeri, tak bisa menjamin nasib ketiga teman sekelasnya karena tinjunya sendiri pun sudah gatal sejak tadi.
Tak lama kemudian, suara percikan air dalam jumlah banyak bergema dalam kamar mandi tersebut.
. . .
Beberapa menit setelahnya
“Eh, lagi penuh kamar mandinya. Nanti aja yak? Kalo ga itu di seberang ada pohon mangga— WOI UDIN LAGI PENUH GUE BILANGIN!” ucap Jungkook sambil memamerkan tinjunya pada temannnya yang ngotot ingin menggunakan kamar mandi.
Tak lama Taehyung keluar disusul oleh Jimin dan Sungjae secara berurutan. Siswa tadi langsung meringsek mundur dari posisinya, tentu saja. Taehyung gitu loh.
“Bandel sih lo!”
Jungkook merangkul Jimin sembari mengumpati temannya tadi. Sementara itu Taehyung masih berdiri lalu menyerahkan plastik hitam berisi segumpal kain pada siswa tadi.
“Gantung di tiang bendera. Jangan diturunin sampe sore.”
“I-iya Bang….”
Taehyung kemudian berlalu menuju ke kelasnya. Jungkook yang penasaran dengan isi plastik tersebut, menoleh ke arah Jimin.
“Emang itu apa isinya?
“Celana.”
Jungkook mengerutkan dahi. Tak lama, bola lampu imajiner muncul di samping kepala botaknya. Senyumannya merekah.
“Wah, parah sih. Malu sampai lulus ini mah.”
Jimin menggidikkan bahunya lalu tersenyum simpul. Sepanjang perjalanan menuju kelas, hanya Taehyung yang ada dalam pikirannya. Ternyata, Jimin berhutang budi lagi hari ini.
-To Be Continued...
