Actions

Work Header

Summer Lake

Summary:

Percy Jackson!AU/ Musim panas di perkemahan, Eli mengajak Naib berkano di danau.

Notes:

identity v punya netis

PJO punya om Rick Riordan

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Hari masih pagi-pagi sekali Ketika Naib mengasah kukri di depan Kabin Lima. Dia membersihkannya dengan hati-hati, mengusap segala debu yang menempel, membenahi kilap, memaparkannya di bawah sinar matahari, untuk kemudian tersenyum puas karena karyanya tak memiliki kecacatan.

Dari Kabin Tujuh, gadis kecil berjalan pelan dengan tongkat. Dia ditemani saudara seayahnya yang berjalan bersama menuju meja makan. Keduanya berpapasan dengan Naib yang menyarungkan kukri ke pinggangnya.

“Hei, Naib! Mau makan bareng?” tanya anak Apollo, Eli Clark, yang berjalan bersama gadis tadi. Matanya tepat menatap Naib walau tertutup kain. Dia melambaikan tangan kepada anak Ares tertua yang hadir di Perkemahan Blasteran musim ini.

Naib tidak membalas, tetapi ibu jarinya menunjuk ke belakangnya. Sudah ada saudara seayahnya yang duduk duluan di meja makan. Mulutnya menggumam-gumam soal wine, yang langsung digaplok Naib karena peraturan tidak ada wine di pagi hari.

Para harpy membawakan mereka berbagai makanan. Naib mendapat sepiring daging steak dan jus melon. Dia mengernyit, tumben sekali harpy membawakan makanan semewah ini kepadanya. Nafsu makan Naib yang raksasa sering kali membuat para harpy kebingungan karena dia selalu minta tambah. Mereka memang senang kalau makanan yang mereka sediakan dimakan habis oleh para pekemah, tapi kalau setiap saat minta tambah, cukup meresahkan juga.

Musim panas seharusnya adalah musim tersibuk di Perkemahan Blasteran. Setiap kabin penuh sesak dengan para pekemah dan dewa-dewi yang berkunjung. Sebutlah Athena yang mengunjungi Kabin Enam, membuat semua pekemah kabin sangat bahagia karena dikunjungi ibu mereka.

Ares sendiri juga datang ke Kabin Lima, semua anak-anaknya bersukacita kecuali Naib. Ares yang datang berarti dia punya banyak sekali waktu luang untuk mengerjai anak-anaknya, terutama Naib. Karena hanya Naib yang diberikan berkah oleh Athena sekalipun dia adalah anak Ares.

“Anakku!” serunya saat melihat Naib. Tubuhnya kekar tinggi tidak sebanding dengan Naib yang merupakan anggota termungil di kabin itu. Darah Asia yang mengalir dari ibunya membuatnya bertubuh jauh lebih ramping daripada pekemah lainnya, bahkan dari anak-anak Aphrodite yang cantik.

Dewa Perang memeluk anak lelakinya, konselor kabin, petarung paling kuat dan lincah di antara semua pekemah. Dia tak kenal takut, selalu berkepala dingin dan sebisa mungkin menghindari peperangan sama sekali. Tidak seperti anak-anak Kabin Ares lainnya.

Naib tak begitu memikirkan mengapa sang Ayah datang, dia hanya membiarkan saudara-saudarinya berpesta sementara dia akan keluar dan mengunjungi Hestia kalau sempat. Seperti yang selama ini dia lakukan. Kalaupun tidak, berburu monster juga cukup menyenangkan.

Remaja itu mengikat rambutnya yang mulai panjang. Musim panas di sini ternyata juga terasa panas di pagi hari. Dia mengambil sebotol air dan meminumnya habis, hari ini sepertinya akan jadi sama dengan hari-hari sibuk lain di perkemahan.

Ketika dia membuka pintu kabin, ada seorang yang telah menunggu. Tangannya terkepal dan terangkat untuk mengetuk, yang tidak jadi dilakukan karena Naib keburu membuka pintunya. Seorang dengan tudung warna biru gelap dan penutup mata hitam, hanya ada satu di Perkemahan Blasteran.

Eli Clark, anak Apollo. Dia menggantikan kakaknya Emily Dyer sebagai konselor karena yang bersangkutan sedang mengikuti program koas di kampusnya. Seorang yang berbakat dalam meramal, dan selalu ditemani oleh burung hantu pemberian ibu angkatnya, Artemis.

Naib menggaruk tengkuk, sejujurnya tidak menduga Eli akan datang. “Oh, hai, Eli. Mau latihan bareng?”

Anak-anak Apollo biasanya akan berlatih bersama saudara-saudari mereka. Kemampuan mereka cukup berbeda dengan anak-anak dewa lainnya sehingga akan lebih efektif bagi mereka untuk berlatih bersama dengan saudara seayahnya.

Wajah Eli yang sebagian tertutup menunduk, sayap burung hantu kesayangannya menggaruk-garuk kepala. Burung hantu itu matanya menutup sebelah, tidak pernah sekalipun terlihat membuka kedua matanya sama sekali. Dia adalah burung hantu ajaib pemberian ibu angkatnya Artemis, yang menemukan Eli tertinggal sendirian di hutan setelah dibuang oleh ibu kandungnya karena mengetahui anak yang dilahirkannya tidak mampu melihat.

Remaja itu mengangguk antusias, sampai burung hantu di bahunya itu terombang-ambing. “Mau! Tentu saja mau! Sampai jumpa di lapangan panahan!”

Lalu dia berlari begitu saja, meninggalkan Naib yang tersenyum kebapakan. “Padahal aku tidak bilang kita akan latihan panahan…”


.


Badan Eli lebih tinggi daripada Naib, tapi dia tidak sekuat Naib. Saat anak Ares mampu berlari sepuluh putaran perkemahan, Eli sudah tak mau lanjut di putaran ketiga. Naib juga punya nafsu makan yang luar biasa. Hanya dia yang mau (dan mampu) menghabiskan berpiring-piring makanan yang disiapkan para harpy, seaneh apa pun makanan itu.

Dia juga memiliki keistimewaan anak-anak Ares, yaitu mampu menguasai setiap senjata yang dipegangnya. Termasuk panah yang adalah keahlian anak-anak Apollo.

Sayangnya Eli sama sekali tidak memiliki bakat untuk bersenjata. Keahliannya adalah meramal dan membaca bintang. Walaupun tidak begitu mahir untuk meramal jauh ke masa depan layaknya Oracle Delphi, para pekemah selalu menanyainya soal ramalan kecil seperti kehidupan asmara.

Dia juga sudah meramal akan hari ini, saat dirinya dan Naib berlatih bersama di lapangan panahan. Eli menganggapnya sebagai kencan, walaupun Naib pastinya berbeda pandangan.

Eli selalu mengagumi Naib akan ketangkasan dan kemahirannya membawa senjata, terutama kukri dari kampung halamannya. Rahangnya tegas seperti ciri khas anak-anak Ares, namun tatap hijaunya lembut dan bersahaja. Dari luar dia tampak seperti pembunuh bayaran mungil tak tersentuh, tapi sekalinya dapat diraih, Naib adalah orang paling berhati hangat sedunia.

“Kemarilah, biar kubenarkan posisimu. Anak panahmu tak akan sampai ke target kalau pinggangmu letoy begitu,” suara keras yang sarat kesantunan. Sejak awal bertemu, Eli paham Naib berbeda dari anak-anak Ares lainnya. Dia tidak bertubuh tinggi dan kekar, tidak juga selalu menantang siapa saja bertarung ketika lewat. Dia bijak dan juga cerdas, seperti veteran tentara dengan pengalaman seorang jenderal.

Maka Eli mengiya, membiarkan Naib mengatur apa yang salah. Lengannya yang tidak menarik busur dengan kuat, punggungnya yang membungkuk, dan sebagainya. Seumur hidup Eli bergantung kepada ibu angkatnya yang baik hati, kini ia ingin belajar hidup mandiri. Baginya, Naib adalah kunci.

"Ada sesuatu di wajahku?" Eli terperanjat, tidak menyadari dia memandangi wajah Naib yang berpipi bulat lekat-lekat. Banyak orang tak percaya Naib sudah memasuki usia dua puluhan. Wajah Asianya yang kelewat awet muda ternyata menipu semua orang.

Eli menggeleng-geleng sampai tudungnya berkibar-kibar. Helaian kecoklatan mengintip sebentar. Mukanya merah jambu, yang dia sama sekali tak ingin Naib melihat. Syukur penutup matanya mampu samarkan.


.


Selesai berlatih, Eli mengajak Naib makan siang di meja Kabin Apollo. Kabin Ares sedang ramai dengan ayah dan anak-anaknya yang sama-sama ribut. Naib, hidup dalam ketenangan militer Nepal yang senantiasa menjaga ketertiban, tidak begitu menyukai hal itu.

Apollo memang sempat hadir melihat putra-putrinya di Kabin Tujuh. Tetapi Eli tidak sempat bertemu. Dia selalu datang dan pergi secepat cahaya, padahal kereta mataharinya seharusnya tidak secepat itu.

Adik terkecil di Kabin Tujuh membawakannya keripik kentang. Dia duduk di samping Eli setelah menyandarkan tongkatnya di samping meja. "Sayang sekali, padahal Ayah ingin melihat Kakak."

Eli mengelus kepala Helena, adik seayahnya itu. "Aku tak tahu Ayah akan datang. Ramalanku tidak memberitahuku, padahal Ayah juga dewa ramalan."

"Itu karena kau selalu kencan, mana pernah mengunjungi keluarga," cibir Margaretha, saudari seayahnya yang lain. Berbeda dengan Helena yang sangat bagus dalam puisi dan siul ultrasonik, Margaretha piawai dalam musik dan tarian.

Di balik penutup mata, Eli memelototi Margaretha, tentu saja tidak ada satu pun yang bisa melihatnya. "Ayah menutupi kedatangannya dariku, itu bukan salahku!"

"Ayah melihatmu sangat bahagia bersama Naib, makanya dia tidak mau mengganggu," terang Helena, berusaha melerai kedua kakak. Kontan membuat pipi Eli jadi merona, Margaretha tertawa terbahak-bahak.

Naib, yang terlupakan di depan meja, menautkan alisnya. Helena jadi gelisah karena Eli dan Naib terdiam.

"A-apa aku salah bicara?"


.


Ketika sore hari tiba, Eli membawa Naib ke tepi Danau Kano. Mereka hendak mendorong perahu ke danau sebelum Vera Nair, anak Aphrodite menarik tangan Eli.

"Kau tak akan mau ke Danau Kano. Terlalu berbahaya, terutama untuk kalian," dia menekankan kata terakhir seperti itu tabu untuk diucapkan. Naib tak mengindahkan, dia pikir Vera hanya bercanda.

Adalah Grace, naiad paling pencemburu yang pernah ada. Dia bisu, tetapi suara menggeram yang dia keluarkan sangat menakutkan. Kemarin sore dia bahkan membalikkan perahu yang dinaiki Ada dan Emil, sepasang kekasih yang sedang kencan di Danau Kano karena cemburu.

“Kami laki-laki, dan juga bukan kekasih. Dia tak mungkin cemburu,” ujar Naib menjelaskan, Eli mengangguk-angguk antusias. Vera mendengus kesal.

“Duh, masalahnya bukan di situ! Ah, sudahlah! Aku tak mau tanggung jawab kalau Grace benar-benar menceburkan kalian ke danau,” dan dia pergi dari area tepi danau begitu saja sembari menepuk pundak Eli dan menggumamkan sesuatu.

Perahu terapung tanpa masalah, Naib yang duluan naik membantu Eli naik ke atas perahu tersebut seperti seorang pangeran yang membantu tuan putrinya. Dia mendayung perahu itu sampai ke tengah danau yang berkabut tipis, para naiad akan segera berkumpul sebentar lagi.

Naiad-naiad itu sebenarnya tidaklah jahat, mereka hanya usil dan iseng saja. Walaupun memang ada beberapa yang betul-betul ingin mencelakai pekemah seperti Grace, mereka tidak berniat mengambil nyawa seperti yang biasa didengar para manusia.

Karena itulah Eli berani membawa Naib ke sana untuk jalan-jalan. Pekemah yang lain juga sering mengajak teman-teman mereka berkano di sana. Biasanya, selama mereka bukan kekasih, naiad-naiad tidak akan mengganggu. Tetapi kadang ada juga yang usil membalik perahu para pekemah tanpa alasan.

Angin sepoi-sepoi dan kabut tipis menyelimuti permukaan danau. Naiad-naiad sudah muncul ke permukaan. Beberapa dari mereka terkikik-kikik, sengaja menabrakkan diri di perahu para pekemah. Selain perahu yang dinaiki Naib dan Eli, ada tiga perahu lain yang mengapung di permukaan danau.

Satu perahu dinaiki Helena, dia berkano bersama Andrew, anak Hades dan Luca, anak Athena. Victor, anak Iris yang biasanya menjadi bagian dari tim mereka diseret Aesop, Konselor Kabin Hades untuk naik perahu berdua. Naiad-naiad menertawai betapa aneh muka Victor saat menaiki perahu bersama Aesop.

Eli sedikit lega karena para naiad tidak mengganggu perahu adiknya. Mereka tentu tak sampai hati mengerjai gadis buta, namun tetap saja menciprati air ke muka Andrew dan Luca.

Perahu terakhir diisi Vera, yang ditarik Martha, salah seorang adik Naib dengan susah payah karena dia bersikeras tidak mau naik perahu ke danau. Dari sinilah keisengan para naiad bermula.

“Kubilang aku tidak mau naik perahu ke Danau Kano!” teriak Vera, tangannya sudah bersilang di depan dada. Dia memalingkan wajah dari Martha yang tampak sedih sambil mendayung kanonya. Tiga perahu tersisa memandang ke arah mereka. Naiad-naiad berhenti mencuci gratis muka Andrew dan Luca.

Martha berhenti mendayung, dia menghela napas. “Maaf, kupikir kau akan senang kalau kuajak ke sini. Aku selalu ingin berwisata seperti ini bersamamu.”

Ekspresi cemberut Vera segera berubah jadi terkejut. Dia jadi merasa bersalah, makin parah tatkala melihat wajah Martha yang sendu.

Anak Ares termuda kembali mendayung, namun ke arah berlawanan. “Ayo kita menepi kalau begitu.”

“T-tunggu!” Vera berseru, tangannya menghentikan dayung yang digenggam Martha. Gerakan tangan Martha terhenti, Vera menarik napas. “Baiklah, kali ini aku akan ikut. Tapi jangan salahkan aku kalau kita basah gara-gara diceburkan Grace.”

Seketika wajah Martha jadi ceria, dia tersenyum lega sambil berulang kali mengucapkan terima kasih. Eli melirik Naib yang ikut tersenyum, seperti seorang ayah yang turut berbahagia untuk kebahagiaan anaknya. Dua gadis muda tertawa riang bersama-sama, tetapi kebahagiaan itu tak lama, karena—

“AAAAA!”

—BYUR

Eli tertawa canggung, dan Naib menghela napas. Terdengar suara tawa cekikikan ramai di dalam danau. Grace yang cemburu membalik perahu Martha dan Vera begitu saja dibantu saudari-saudarinya.

Dua kepala menyembul keluar dari air. Kedua anak perempuan itu mengambil napas sebanyak-banyaknya. Riasan di wajah Vera sampai luntur kena kebasahan.

“Meresahkan!” teriak anak Aphrodite frustrasi sembari memukuli air. Dia menemukan sekumpulan naiad tertawa-tawa tak jauh dari perahu mereka yang sudah terbalik. Kesal, Vera menyiprati mereka dengan air menggunakan tangannya.

Puas bermain air dengan para naiad (terutama Grace yang menggeram, naiad muda itu menganggap Vera sedang mendeklarasikan peperangan padanya), Vera menepi ke pinggir danau bersama Martha. Mereka basah kuyup dari ujung kepala sampai ujung kaki. Syukurlah beberapa anak Aphrodite yang panik mendatangi mereka sambil membawakan handuk.

Naib menggerakkan dayung, membawa perahu lebih jauh ke tengah. Para naiad sepertinya sudah puas bermain, mereka bisa menikmati danau dengan tenang sekarang. Terdengar seperti mengorbankan Vera dan Martha, tapi apa boleh buat.

“Umm, Naib,” Eli memanggil, suaranya gemetaran, untungnya tak terdengar oleh Naib yang sedang fokus mendayung sambil memperhatikan kabut yang menghalangi pandangnya.

“Hmm, apa?” sahut anak Ares singkat. Perahu mereka sudah sampai jauh ke tengah, tak terdengar lagi suara Helena yang sedang berbincang seru bersama Andrew dan Luca, juga rengekan Victor yang minta ditepikan Aesop. Eli dan Naib tersingkir jauh sendirian di tengah danau.

Burung hantu di bahu Eli menggaruk-garuk kepala dengan sayapnya, setelah beberapa saat terlupakan. Matanya abu-abu menatap Naib dengan pandangan tak terbaca. Meskipun Eli diam tertunduk, Naib tahu mata mereka memandang kepadanya.

“Aku suka padamu… Naib…”

Lalu Eli sadar, entah sejak kapan dayungnya berhenti bergerak. Naib sudah memusatkan perhatian padanya bahkan sebelum dia berbicara. Seratus persen mendengarkan.

Tapi, tak ada jawaban.

Hijau keruh Naib melucuti Eli yang masih tertunduk, burung hantu kecil dengan mata badai mengantuk masih menaruh atensi. Peramal muda bagai mangsa kecil yang ditenggelamkan di rawa. Raut muka Naib yang tak berubah membuatnya gelisah.

“M-mungkin kau perlu alasan. Maksudku, aku senang berada di dekatmu. Aku senang berlatih bersamamu. Aku suka saat kau menepuk kepalaku. Atau memberiku potongan roti yang sedang kaumakan. Melindungiku, membuatku aman. Naib, aku—”

“—ssstt.”

Kabut yang tipis menyamari pandang, kepak sayap burung hantu kecil melompat dari bahu kawan. Eli buta sepenuhnya, yang ia rasa hanya sapuan lembut di bibirnya. Singkat nan kering, tapi hangat. Berbau seperti cokelat.

Putra dewa peramal tidak tahu bagaimana rupa Naib sekarang, pun tak mengerti seperti apa wajahnya saat ini. Tetapi jantungnya bertalu-talu layaknya gemuruh. Seluruh tubuhnya terasa panas sampai ke ujung kepala.

Anak Ares membuka tudung kepala Eli, pakaian yang selalu menutupi rambutnya itu tersingkap, pelihatkan helai coklat sewarna kusen jendela. Eli bergeming, rambutnya diacak-acak Naib dan dia merasakan panas luar biasa saat tangan kasar itu menyentuh kepalanya.

“Ayo menepi, setelah itu kita bicara.”

“Umm.”


End


.

.

.

.

.

.

.

.


Epilog


Kala perahu mereka berpapasan dengan perahu Helena, anak perempuan itu termenung. Luca yang menyadari itu segera menegur setelah menyapu mukanya dari air yang disemprot para naiad. “Helena, kau oke?”

Di balik kacamata, mata Helena mengerjap. Tangannya mengambil dayung sambil gelagapan. “Oh? Um! Aku oke. Tapi Kak Eli tidak terlihat baik-baik saja…”

Walau buta, Helena punya pendengaran yang bagus. Dia dapat mendengar suara napas Eli yang tak beraturan dari balik kabut, atau Naib yang terdengar gelisah. Begitu juga geraman aneh yang sejak perahu kakaknya lewat tadi, sangat mengganggu pikirannya.

“Grace! Dia—”

—BYUR

Perahu kakaknya terbalik bersama Naib dan Eli yang terlempar ke air tanpa ampun. Grace sama sekali tak punya belas kasih.

Notes:

lama ga nulis, maaf gaje. sebenarnya mau di-upload pas ultah Naib, tapi ya sudahlah //heh