Actions

Work Header

would you fix the heat please?

Work Text:

Di sinilah mereka berada. Ruang kamar Juyeon. Kedua anak adam, sepulang dari sekolah, sedang berusaha melawan cuaca yang sangat terik.

“Hah.. Ju, AC lo rusak apa gimana?” Omel Hyunjae sambil merebahkan badannya di karpet lantai.

“Kak, ini udah gue set sampe ke lowest temperature. Lagi panas2nya emang Jakarta.” Pembelaan Juyeon terhadap kakak kelasnya itu.

“Haa.. Ju ga tahan gue.” Dengan grutuan itu, Hyunjae mulai membuka kancing baju seragam sekolahnya, dan melemparkan daleman kaos putih tipis dari atas kepalanya. Juyeon yang masih menatap kakak kelasnya itu hanya terpana dengan pemandangannya saat ini.

 

Hyunjae sering nge-gym akhir-akhir ini— Dapat Juyeon tebak. Bicepsnya semakin terbentuk, otot abdominisnya juga terlihat kencang, dan Tuhan, Juyeon rela terbunuh di antara dua pectorals Hyunjae. Juyeon terlarut dalam lamunanya sampai ia menegak ludahnya sendiri, dan Hyunjae menangkap basah karena bunyi dari perpindahan ludah ke tenggorokkannya itu.

“Kenapa lo? Kok tertegun gitu?” Goda Hyunjae.

“Erm. Ngga ada, sama, gue juga panas kak.” Balas Juyeon berusaha menghindari tatapan Hyunjae dan sok sibuk dengan remote AC kembali.

“Hm? Katanya udah paling dingin ACnya? Atau.. karena gue ya?”

 

“Kak please..” Juyeon hanya bisa pasrah, sekarang tanpa alibi setelah kakak tingkatnya itu berhasil menyudutkannya.

Ketahuilah, Hyunjae tidak melakukan apa-apa kepada Juyeon selain dirinya bertelanjang dada, sudah dapat membuat Juyeon merona di sekujur tubuhnya. Lucu, pikir Hyunjae.

“Please apa, Ju? Anak pinter harus jelas”
Kembali, Hyunjae mengusik Juyeon. Dia tahu ini adalah kelemahan lelaki berambut legam itu.

“Kak Jae.. Gue..” Juyeon mencoba menyampaikan niatannya dengan perasaan masih malu-malu.

“It’s just me, Ju.” Gertakkan Hyunjae sambil perlahan memegang telapak tangan lawan bicaranya itu.

Hyunjae tahu, Juyeon sangat membutuhkannya. Juyeon hanya butuh satu kalimat sihir saja, dan dia akan mendapatkan semua itu.

“Boleh gue pegang?” Akhirnya Juyeon berbicara, dengan nada yang cepat. Karena dia emang sangat malu!

 

Hyunjae hanya terkekeh. Lalu dengan perlahan menuntut kedua genggaman tangan Juyeon tadi ke dada bidangnya. Merasakan otot-ototnya yang mengeras.

“Kak, eventho gue anak futsal. But you sure got the hell of the best body.”

“Ngawur. Karena lo aja emang suka sama gue.”

“Bisa ngga sih, terima aja pujian aku?”

“Hum. Makasih ya, udah ngehargai kakak. Then, good boy shall get his rewards eh?”

“Kak.. tapi ini masih siang..”

“Kamu malu? Cmon Ju, you’re so sticky too. It should be fun.”

“Hentai!”

Lalu, dengan cepat Hyunjae membawa kekasihnya itu kepangkuannya dan mencuri satu ciuman singkat dari bibir tipisnya.

“Tapi sayang kan? so it’s worth it.”

Kembali, Juyeon hanya tersipu malu meresponnya.

 

“Ju, baju kamu ngga kakak lepas ya. I want to make a mess with a diligent student.”

“Okay, aku juga mau ngemark tits kak Jae. Hehe.”

“Ouch? You kiss your mom with that mouth too? Whatever you want then, boy.”

And the rest is witnessed by the magic touch of strong heat in summer sky.