Actions

Work Header

Peluk

Summary:

Tidak perlu mengucap banyak kata, satu pelukan darimu sudah tersirat banyak makna.

Notes:

Haloo~

Diriku kembali lagi dengan fic TojiGo domestic fluff. Dunia/universe fic ini sama dengan fic sebelumnya, tapi timelinenya tidak dipastikan. Jadi, boleh baca fic ini duluan atau fic yang sebelumnya duluan yah.

Terima kasih sudah mampir dan selamat membaca!

Work Text:

Lemah, letih, lesu, lelah, lunglai. Kelima kata berawalan L tersebut sangat menggambarkan keadaan Toji sekarang. Gunungan dokumen di atas meja membuat rasa stress tak kepalang bersarang di dalam dirinya.

Rasanya, ia ingin cepat pulang ke rumah dan kembali ke dalam dekapan orang terkasihnya saja. Membayangkan dirinya yang sudah tak berdaya didekap dengan erat dan hangat oleh pemilik rambut seputih awan, oh, surga dunia. Namun, urusan dokumen sialan masih menahannya seolah berkata belum saatnya untuk bermesraan dengan pujaan hatinya.

Mata sehijau lumut melirik ke arah jam yang melilit pergelangan tangannya. Detik demi detik yang diharapkan berlari seperti kelinci, malah berjalan seperti kura-kura. Merasa tidak ada gunanya berharap waktu melaju lebih cepat, pemilik mata sehijau lumut tersebut menghela napas dan kembali bergelut dengan realita yang melelahkan.


Pada akhirnya, si rambut sehitam jelaga pulang saat warna langit menyaingi warna hitam rambutnya. Padahal, biasanya ia sudah berada di jalan pulang saat langit masih menampakkan warna kekuningan. Dengan masih memakai jas dan dasi yang sudah tak karuan, ia menginjak pedal gas dan berharap bisa berteleportasi ke rumahnya saat itu juga.

Saat pekarangan kediaman sederhana Fushiguro sudah terlihat, Toji cepat-cepat memarkirkan mobilnya di garasi. Saat keluar dari mobil, ia berusaha untuk berjalan dengan tegap agar tidak terlihat seperti orang yang tidak tidur selama 3 hari.

Pintu dibuka olehnya dengan kunci beraksesoris gantungan bentuk awan yang tersenyum lebar. Gantungan itu diberikan oleh si rambut seputih awan. Biar kamu selalu ingat kalau aku itu tempat kamu pulang, katanya. Perlakuan kecil tersebut selalu membuat hati Toji berdesir hangat walau hal itu sudah terjadi cukup lama.

Ketika daun pintu terbuka, tercium wangi bumbu yang dibayangkan saja sudah terasa enak. Toji jadi lebih sumringah saat memasuki rumah.

Saat melewati ruang keluarga, anak semata wayangnya terlihat asyik sendiri menonton film yang kelihatannya bergenre misteri—genre kesukaannya—di kanal netpliks.

“Ayah pulang,” ujar Toji sambil mengacak rambut hitam yang terlihat runcing milik anaknya.

“Hm, ya,” timpal Megumi—anaknya—yang lebih berminat untuk menikmati film yang disuguhkan di depan matanya.

Melihatnya, Toji hanya bisa mendengkus maklum. Kebiasaan fokus yang tidak dapat diganggu milik anaknya itu sangat mirip dengan Papanya. Ia memilih untuk berjalan ke arah dapur.

“Ayah pulang, Pa,” sapa si rambut sehitam jelaga ke pria jangkung yang sedang memasak.

“Iya, Ayah,” sambut si pria jangkung seadanya, “Jangan lupa mandi dulu, ya. Sebentar lagi mau makan bareng, kan,” tambahnya sambil lanjut memasak.

Lagi-lagi, Toji hanya mendengkus maklum dan tersenyum. Ia arahkan langkahnya ke tangga, bermaksud untuk mandi supaya lebih segar.


Makan malam berlangsung seperti biasa. Semua duduk berkumpul di meja makan dan menyantap makanannya masing-masing. Perbincangan kecil bertopik kegiatan apa saja yang sudah dilalui hari ini diiringi oleh denting khas sendok dan piring.

Megumi bilang, ia akan pergi bermain bersama Yuuji esok hari ke daerah kota. Kedua ayahnya tertawa sambil menggoda, sampai kapan Megumi akan seperti ini tanpa menyatakan perasaan yang sebenarnya ke pemuda manis berambut gulali itu. Yang digoda hanya lanjut mengunyah makannya seiring dengan munculnya semburat merah di daun telinganya.

Berbincang kecil dan tertawa bersama keluarga kecilnya seperti ini sudah menjadi pil penambah kebahagiaan milik si rambut sehitam jelaga. Rasa lelahnya perlahan-lahan terangkat.

Meskipun begitu, rasanya masih ada yang kurang dan belum tepat.


Seusai membantu Megumi mencuci piring, Toji langsung memasuki kamar untuk menyusul seseorang.

Terlihat seseorang itu duduk di kasur. Rambut seputih awannya terlihat berseri disinari cahaya lampu kamar. Mata sebiru langitnya berkilat-kilat saat jemari lentiknya memindahkan halaman demi halaman novel yang sedang dibacanya.

Esai beribu-ribu halaman tak cukup untuk menjelaskan keindahan seorang Fushiguro—dulunya Gojo—Satoru, Toji akui itu.

Toji pun merebahkan dirinya di sebelah Satoru. Ia bergerak-gerak mencari posisi yang nyaman.

Saat Toji sudah selesai menyamankan dirinya, Satoru menutup novelnya dan mengganti nyala lampu kamar menjadi lampu tidur yang lebih redup. Kilatan mata birunya masih terlihat indah, ucap Toji di dalam hatinya.

Satoru menghadapkan dirinya ke arah Toji, “Toji, tidurnya hadap sini, dong,” pinta Satoru. Toji tak bertanya-tanya, hanya menuruti permintaan kecil itu.

Saat posisi tidur si rambut sehitam jelaga sudah menghadap si rambut seputih awan, jemari lentik mengusap-usap helaian jelaga. Lalu, ia rengkuh kepala si rambut sehitam jelaga ke pelukannya. Diusapnya kembali helaian jelaga dengan lembut.

Toji merasakan kalau dirinya menghangat. Ah, rasanya sangat tepat dan aku menjadi lengkap, sebutnya di dalam hati.

Kekurangan yang sebelumnya ia rasakan ditambal dengan rasa sayang yang melimpah. Ketidakberdayaan yang sebelumnya ia derita langsung sirna dan menguap tanpa sisa.

Si rambut sehitam jelaga balas mendekap pinggang ramping si rambut seputih awan dengan erat, tidak mau ada jarak satu mili pun yang tersisa di antara mereka.

Toji tidak perlu mengatakan bahwa dirinya lelah karena Satoru sudah paham dan akan langsung menghujaninya dengan kenyamanan. Satoru tidak perlu mengucap kata-kata penenang apapun karena satu rengkuhan darinya tersirat banyak makna yang sungguh berarti bagi Toji.

Mereka pun terlelap dalam kenyamanan sambil terus berbagi kehangatan.

end.

Series this work belongs to: