Work Text:
Benturan gagang telepon yang barusan dipegangnya jauh lebih keras dari yang ia duga. Tapi dia tidak punya waktu untuk mengernyit merasa bersalah karena dahinya sudah berkerut, dan tubuhnya membungkuk, karena sakit kepala berdentum-dentum di balik pelipisnya. Kenapa ya para pelanggan ini tidak bisa sedikit saja memahami kalau ia pun, juga sama dengan mereka. Sama-sama manusia, dan juga sama-sama sedang berusaha mencari penghasilan. Dia tahu, dia tahu menerima telepon berisi iklan memang menyebalkan bukan main, tapi tidak perlu menyumpahi dia, nenek moyang dan keturunannya sekaligus, ‘kan?
Damn.
“Xu Minghao!”
Mendengar bentakan yang walaupun familiar tapi tetap menakutkan itu, pundak kurusnya meringkuk semakin dalam.
Sial. Dia tidak lihat si boss besar ternyata sedang berdiri di dekat kubikelnya.
“Kalau kamu nggak becus masarin produk ke pelanggan, the very least you can do jangan rusakin inventaris kantor! Atau memang kamu rela gaji yang nggak seberapa itu dipake buat ngeganti barang yang rusak?”
Minghao bahkan tidak bisa menutup mata untuk paling tidak menenggelamkan omelan yang sama sekali tidak ingin ia dengar saat ini. Karena si banyak mau itu pasti tidak diterima kata-katanya didengarkan dengan mata terpejam. Jadi ia cuma bisa menatap kosong, berharap paling tidak topeng rasa bersalah masih terpasang di wajahnya meskipun ia tidak merasakannya sama sekali.
Cuma lelah. Dan benci.
Dan helpless.
Ludah yang ditelannya pahit seiring dengan kalimat-kalimat yang semakin melukai harga dirinya walaupun ia tidak sudi menunjukkannya di raut mukanya.
Kemana gerangan semua mimpi dan ambisi yang dia punya waktu kuliah dulu? Orang tuanya bilang selama dia bekerja keras pasti hasilnya akan memuaskan. Begitu juga dengan para motivator yang menguliahinya dengan mulut berbusa dan mata bercahaya padahal seumur hidup mereka tidak pernah tahu rasanya menghirup polusi di jalan raya.
Dulu Minghao sangat percaya. Karena seharusnya semesta bekerja seperti itu ‘kan? Memberikan hasil yang selaras dengan usahanya. Tapi nyatanya setelah semua perjuangan yang merenggut waktu dan masa remajanya, ia cuma berakhir di sini. Di industri yang turnover rate-nya paling tinggi dibandingkan apapun, setiap hari memegang telepon memasarkan barang yang tidak akan pernah ia beli karena terlalu mahal dan terlalu tidak berguna. Pada akhirnya ia terdampar di pekerjaan yang ia bahkan tidak bisa lakukan dengan baik karena dia tidak jago perihal persuasi dan beramah tamah tidak penting dengan orang asing. Pada akhirnya ia ada di sini, di pekerjaan yang tahu betul ada ribuan orang seperti Minghao, mahasiswa baru lulus yang desperate ingin punya pekerjaan dan belum punya apa-apa untuk minta bayaran lebih tinggi dari upah minimal.
Oh, setelah melamun cukup lama paling tidak si boss besar sudah selesai menceramahinya. Dan mungkin sebenarnya tidak jahat-jahat amat, karena kemudian dilihatnya layar ponselnya menyala, nama yang sangat familiar muncul di notifikasinya.
Mingyu
Hari ini masuk siang kan lu?
Malem temenin gua makan yuk?
Sekelebat senyum yang sempat hinggap di bibir Minghao perlahan runtuh.
Nggak bisa
Ada yang minta tuker shift soalnya mau pacaran
Mingyu:
Lu tuh emang nggak bisa banget ya nolak orang minta tolong?
Kalo gua minta tolong lu jadi pacar gua, nggak bakal bisa nolak juga kan lu pasti?
Ya udah gpp, kabarin dong lu luangnya kapan
Kangen
Minghao memutar bola mata. Right. Memang benar dia tidak akan bisa menolak kalau Mingyu bilang begitu, walaupun alasannya sama sekali berbeda dengan yang ada di pikiran si Casanova itu. Untung dia sudah kebal dengan segala jurus flirtatious Mingyu.
(That was a lie tapi tidak ada yang tahu selain Minghao dan Tuhan).
Pertemanannya dengan Mingyu … cukup unik, kalau menurutnya. Memang benar, mereka dekat semasa kuliah. Tapi Minghao rasa Mingyu sama sekali tidak punya alasan untuk tetap berteman dengannya, tetap memintanya untuk menemani makan padahal ada lebih dari selusin orang yang bersedia menyingkirkan semua urusannya demi Mingyu kalau ia yang meminta.
Belum lagi dengan kalimat-kalimatnya yang selalu flirty meskipun Minghao tidak pernah menanggapi. Bukan karena tidak ingin, ia cuma tidak tahu harus menanggapi bagaimana.
Hah. Kalau saja Mingyu tahu kalau Minghao suka diam-diam berharap apa yang dikatakannya bukan cuma pemanis di bibir saja. Tapi dengan Mingyu yang popularitasnya semakin tinggi, Minghao cuma bisa menenangkan diri pada fakta kalau paling tidak, Mingyu masih mau berteman dengannya.
Entah apapun alasannya.
Minghao menepuk dadanya pelan. Akhir-akhir ini entah kenapa ia sering merasa sesak. Mungkin udara kota ini semakin buruk? Cerita dengan siapapun dipastikan akan berakhir omelan untuknya periksa ke rumah sakit, tidak peduli kalau kondisi kantongnya saat ini tidak akan bisa membayar pemeriksaan paling sederhana sekalipun.
Mingyu:
Semangat ngoceh sama pelanggan, Haohao
Minghao berdehem pelan, membersihkan tenggorokannya walaupun sepertinya sia-sia. Nanti coba ia cari masker di kamarnya.
Oke mungkin memang ada yang salah dengan dia, ada yang salah dengan paru-parunya. Karena beberapa bulan berselang sesaknya bukannya mereda, justru semakin parah. Bahkan Mingyu sampai tahu, karena Minghao beberapa kali tidak bisa menahan batuk-batuknya ketika mereka sedang menghabiskan waktu bersama. Mingyu juga sudah berkali-kali membujuknya untuk periksa ke dokter pribadinya, yang tentu saja Minghao tolak.
Dia cuma bisa menggenggam lengan Mingyu yang tangannya mencengkeram pergelangan tangannya, mengabaikan rasa terbakar yang terasa semakin naik ke pangkal tenggorokan.
“Gua udah terlalu banyak lu kasih macem-macem. Ini aja makan elu yang bayarin.”
Di antara mereka berdua memang jelas-jelas Mingyu yang kantongnya lebih tebal. Sebelum lulus kuliah dia sudah merintis bisnisnya sendiri, dan dengan presensinya di media sosial, Mingyu sama sekali tidak asing dengan popularitas meskipun dia bukan selebriti.
Mingyu yang sekarang bukan lagi Mingyu yang dulu berlindung di balik tubuhnya agar ia bisa tidur di kelas waktu kuliah.
Tapi perasaan Minghao dari dulu tetap sama.
Dengan susah payah ditelannya batuk yang seperti memaksa untuk dikeluarkan. Dipasangnya senyum ke arah Mingyu yang masih menatapnya khawatir, genggaman lembut tidak beranjak dari pergelangan tangannya.
Tujuh tahun lalu Minghao menginjakkan kaki di tanah yang asing ini dengan satu koper besar berisi sedikit bagian dari dirinya di negara asalnya dan banyak mimpi-mimpi yang juga terefleksi di mata beningnya. Tujuh tahun yang lalu juga sesosok tubuh yang seharusnya lebih berhati-hati karena ukurannya berjalan mundur dan hampir membuatnya terlempar ke taman kampus.
Belasan kata maaf, senyum penuh rasa bersalah, bujukan untuk membelikan makan siang, dan nama yang dipertukarkan, Minghao pun punya teman pertamanya di tempat yang masih tidak familiar baginya ini.
Minghao sendiri tidak tahu apa gerangan kesamaan antara mereka berdua selain kesukaan terhadap hal-hal yang menarik untuk diperbincangkan dari segi estetika, walaupun itu saja selera mereka terlampau berbeda.
Tapi cuma dengan Mingyu Minghao bisa merasa lepas, bisa mengeluarkan kata-kata tajam yang selama ini selalu disimpan karena ia tahu tidak semua orang bisa menerimanya. Ini bukan berarti di matanya Mingyu adalah seseorang yang mudah, yang boleh ia perlakukan dengan tidak pantas. Tapi Mingyu punya hati yang selaras dengan lebar bahunya, dan dari hari pertama cuma dia yang mampu mengambil inti dari setiap afeksi yang dilempar Minghao meski selalu terbalut kalimat yang tidak sama lembut dengan maknanya.
Kemudian tahu-tahu, Minghao is helplessly in love. Bagaimana bisa tidak? Kalau setiap ia marah pada Mingyu dengan kening berkerut karena dia (lagi-lagi) tidak sempat tidur barang sedetikpun karena sibuk mengurusi bisnis yang sedang dirintisnya, selalu dijawab dengan gelendotan manja di lengannya.
Dan juga kepala yang kemudian tergeletak di atas pangkuannya.
“Iya, iya ini tidur nih. Yang ngantuk siapa yang ngambek siapa, Hao.”
Tidak peduli sama sekali kalau ini kantin Fakultas Seni Rupa dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis tempat Mingyu seharusnya berada ada di ujung kampus yang berbeda.
“Berat banget,” kata Minghao, selalu. Tapi tidak pernah bergerak walaupun paha kurusnya kesemutan tidak ada lima menit setelah Mingyu berbaring.
(Sebenarnya tiduran di paha Minghao sakit dan tidak enak sama sekali tapi entah kenapa, Mingyu suka).
Minghao selalu beranggapan kalau tidak semua perasaan harus diungkapkan. Begitu juga dengan perasaan seperti yang ia simpan untuk Mingyu. Karena tidak ada artinya. Buat apa?
Mingyu selalu jauh dari jangkauannya. Selalu. Bahkan sejak mereka awal berteman pun Minghao sudah tahu. Ia bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Mingyu berteman dan menarik perhatian orang lain dengan begitu effortless. Tingkahnya yang sering kekanakan pun juga jadi bagian dari daya tarik yang membuat banyak orang bergravitasi ke arahnya.
Atau Minghao cuma bias saja? Entahlah. Tapi sepertinya tidak.
Karena nyatanya tidak lama setelah Mingyu lulus dan semakin fokus dengan bisnisnya, ia langsung jadi idola. Beberapa kali tips-tips wirausahanya viral, dengan berbagai komentar yang memuji kepintaran sekaligus penampilannya.
Minghao sama sekali tidak menyesal sudah mengubur perasaannya dalam-dalam. Atau mungkin, ia justru bersyukur. Karena sekarang Mingyu sudah semakin tidak terjangkau, dan ia sudah bersiap diri kalau lama kelamaan ia cuma akan jadi satu di antara ribuan penggemar Mingyu yang terus bertambah jumlahnya.
Minghao menatap ponselnya bimbang. Dia sudah diteriaki si boss besar untuk yang keempat kalinya pekan ini, karena dia terus-terusan kehabisan napas karena batuk dan sesaknya yang semakin parah di tengah percakapannya di telepon dengan pelanggan.
Padahal ini baru hari Selasa.
Dia benar-benar tidak bisa kehilangan pekerjaan ini, seburuk apapun situasinya di sana. Karena dia harus menyambung hidup dan tidak banyak yang bisa ia lakukan karena skill-nya yang mediocre dalam hal apapun.
Tawa kecil meluncur dari bibirnya karena ingat kalau Mingyu pasti akan ngamuk kalau tahu dia punya pikiran seperti ini tentang dirinya sendiri.
Karena sebenarnya sudah lama Mingyu mengajak Minghao untuk bekerja sama dengannya, ingin mempercayakan berbagai urusan desain kepada teman dekatnya itu.
Tapi Minghao menolak. Mereka berdua sama-sama keras kepala tapi Minghao sedikit lebih keras kepala, karena itulah ia masih menang.
“Kalau tanpa koneksi kerjaan gua cuma kayak gini, berarti memang cuma sampai situ nilai skill yang gua punya,” begitu kata Minghao, waktu itu.
Yang tentu saja dibantah habis-habisan oleh Mingyu. Karena dia tahu, dia tahu betul seberapa kurangnya bakat yang dipunya Minghao diapresiasi orang lain. “Nggak akan gua hire kalo lu nggak mau lewat koneksi, Hao. Tapi please, lamar dulu. Gua percaya sama HR di tempat gua.”
Ah. Minghao kembali tertawa kalau teringat kembali bagaimana Mingyu bersikeras selama ini.
Tapi tawa itu dengan segera berubah menjadi batuk-batuk hebat yang tidak bisa ditahan, yang merenggut kemampuannya untuk menarik napas yang ia butuhkan.
Lalu ada yang terasa menggelitik di pangkal lidahnya. Seperti rambut yang pernah tidak sengaja masuk ke mulut. Ralat. Seperti segumpal rambut ada di dalam mulutnya.
Kebingungan, Minghao memasukkan dua jarinya, berusaha menarik apapun itu yang terasa menggelitik di sana.
Beberapa detik kemudian, satu kelopak besar berwarna oranye dengan beberapa bercak darah menghiasi, tergeletak di telapak tangannya.
Minghao mematung beberapa saat, perih dan gatal di tenggorokan sejenak terlupakan.
Dia tidak bodoh. Dia tahu apa itu. Bagaimanapun ini adalah tragedi yang menjadi favorit para masokis tentang perihnya cinta tidak terbalas. Hanya saja Minghao sama sekali tidak pernah menyangka kalau ini akan terjadi padanya, dia, yang ia kira terlalu sibuk untuk bertahan hidup sampai tidak punya waktu untuk punya cinta sedalam itu. Sampai punya cinta yang cukup kuat hingga mengakar dan bercokol di paru-paru pemiliknya dalam bentuk kelopak-kelopak yang merupakan manifestasi tujuan cintanya.
Dan tentu saja dia juga tahu siapa manusia berperangai hangat, kokoh, dan bersinar seperti kelopak amarilis yang masih ada di atas telapak tangannya itu.
Disambarnya ponsel yang barusan terlupakan, dan tanpa membiarkan dirinya berpikir panjang, dicarinya nomor Mingyu dari kontaknya.
Are you sure you want to block this number?
Yes.
Sudah cukup. Minghao tidak ingin semakin merepotkan Mingyu. Dalam hati ia ragu Mingyu tidak akan menyadari, tapi dia akan mengambil semua kesempatan yang bisa diambil untuk membebaskan Mingyu dari beban bernama Xu Minghao.
Lalu tawa sumbang mengudara. Hampir Minghao tidak kenal suara tawanya sendiri. Karena kali ini pahitnya melebihi yang selama ini ia tahu, juga karena beberapa kelopak lagi berebutan keluar dari mulutnya, mengubah tawanya menjadi sedak tangis yang merenggut satu per satu hembusan napasnya.
Kemudian hari itu datang.
Selama ini Minghao cukup bangga dengan dirinya sendiri yang hampir selalu bisa mengendalikan emosinya, tidak membiarkan dirinya sendiri hanyut ditelan amarah yang membutakan hati. Tapi hari ini saja, hari ini saja, ia ingin mendapatkan kepuasan karena meluapkan amarah dan … segalanya yang sudah beberapa hari ini dengan cepat menggerogoti batinnya.
Ditendangnya sepatu yang baru saja terlepas dari kakinya hingga membentur rak pendek di depan pintu yang tadi sudah dibantingnya sekeras mungkin.
Meskipun sebenarnya dua-duanya tidak begitu berarti karena badannya sudah terlalu lemah untuk sekedar meluapkan emosi.
Dia tahu cepat atau lambat hari ini akan datang. Hari di mana ia akhirnya dipecat juga dari pekerjaan keparat yang selama ini menyambung nyawanya itu. Sepertinya puluhan komplain yang masuk karena performanya, serta bercak-bercak darah yang tidak sengaja tidak tertampung dan mengenai peralatan di mejanya sudah cukup untuk membuatnya diperintahkan angkat kaki saat itu juga.
Posisinya sebagai pegawai asing dengan bekal sebatas visa E-9 setelah masa studinya habis tentu saja membuat perusahaan merasa sah-sah saja untuk tidak memperlakukannya seperti manusia biasa.
Kemudian Minghao terbaring di atas tempat tidur kecilnya, menatap langit-langit yang gelap karena ia tidak merasa perlu untuk menyalakan lampu malam ini. Dalam hati ia bertanya-tanya apakah ia perlu merasa bersalah kalau ia berakhir mati di sini dan membuat unit yang ia tinggali berhantu dan tidak lagi laku disewakan.
Minghao terbatuk sekali lagi. Kali ini ia biarkan kelopak-kelopak oranye itu berhamburan dari mulutnya tanpa bisa dicegah, dan juga tidak ia bersihkan.
Minghao … lelah. Barangkali memang sudah takdirnya untuknya mempertahankan hidup yang nyaris tidak ada harganya lagi ini sampai di sini saja.
Yang pertama kali dilihat Minghao ketika ia membuka mata adalah cahaya yang terang dan nyaris menusuk matanya.
Ah, sayang sekali surga walaupun begitu bercahaya tapi sebegini monoton dan membosankan. Tapi mungkin karena ia sudah menjadi penduduk di sini ia bisa mengusulkan untuk sedikit memberikan warna yang menarik dan estetik?
Kemudian yang ia lihat selanjutnya adalah wajah Mingyu.
Hm, ternyata benar ya, surga selalu memberikan apapun yang diinginkan? Meskipun ia tidak yakin malaikat yang menyamar jadi Mingyu akan sama dengan manusia Mingyu yang ia sayangi sewaktu di bumi.
“Hao? Syukurlah. Tunggu bentar ya, gua panggilin dokter.”
Huh, bukan cuma wajahnya, suaranya pun juga mirip. Tapi entah kenapa ia tidak bisa menjawab apapun. Apakah karena sewaktu di dunia ia sering memaki diam-diam jadi ini hukumannya di akhirat?
Lalu seorang pria berkacamata muncul di periferal pandangannya. Surga macam apa yang malaikatnya memakai jas berwarna putih seperti dokter —
“Saudara Xu Minghao.”
Minghao mengerjap pelan.
“Kami tidak bisa melakukan prosedur apapun tanpa persetujuan pasien jadi kami menunggu sampai Anda cukup stabil untuk memutuskan.”
Minghao kembali mengerjap, kali ini semakin pelan.
“Apakah Anda akan memutuskan untuk meminta kepada … target perasaan Anda atau apakah Anda ingin melakukan operasi bedah untuk membersihkan akar-akar di paru-paru Anda.”
“Please bilang siapa, nanti gua bantu ngomong ke orangnya.” Kali ini suara Mingyu yang terdengar.
Baru lah ia kemudian sadar kalau dari tadi sebelah tangannya ada di dalam genggaman hangat seseorang, yang semakin erat setelah kalimatnya selesai diucapkan.
Minghao membuka bibirnya, tapi rongga mulut dan lidahnya begitu kering hingga tidak ada suara yang mampu keluar.
“Min … gyu?”
Lalu entah kenapa di otaknya yang belum kembali sepenuhnya itu ada humor yang menyapa.
Heh. Siapa yang akan menduga ia mampu menjawab pertanyaan Mingyu dengan benar? Walaupun mungkin dia tidak sadar tentang betapa benarnya jawabannya barusan.
“Iya? Gua di sini, Haohao.”
Kan.
Minghao ingin tertawa tapi cuma bisa terbatuk lemah.
“Hao?”
Satu senyum lemah akhirnya berhasil tersungging di bibir Minghao sebelum pandangannya kembali menggelap.
Entah karena mukjizat apa Mingyu masih belum gila detik ini.
Punya bisnis sendiri yang perlahan-lahan terus berkembang seperti miliknya jelas butuh kemampuannya untuk tidak gampang takluk pada tekanan.
Tapi dari dulu dia juga tahu urusan yang menyangkut Minghao tidak sama dengan urusan bisnis. Urusan dengan Minghao tidak pernah sama dengan apapun. Karena instingnya dari dulu tentang Minghao adalah untuk melindungi, untuk membahagiakan, bukan menunjukkan yang terbaik seperti yang ia lakukan pada orang lain, pada hal lain.
Karena Minghao yang berani menegurnya kalau ia salah jalan, berani untuk berbeda pendapat dengannya meskipun sambil menunjukkan afeksi yang sepenuhnya Minghao.
Tapi Minghao tidak pernah terlihat tertarik dengan hal-hal berbau romantisme karena itulah ia tidak pernah mengorek, tidak pernah bertanya, dan sudah cukup puas dengan yang ia punya.
(Meskipun tentu saja kalau ia boleh minta satu hal saja, itu adalah agar Minghao lebih bersedia menerima bantuannya).
Awalnya ia tidak berpikir apa-apa ketika pesan dan panggilannya ke nomor telepon Minghao cuma disambut kebisuan. Sejujurnya bukan hal yang jarang terjadi temannya itu lupa atau malas mengisi baterai ponselnya.
Tapi ketika tiga hari masih saja senyap di ujung sambungan, Mingyu pun menyambar kunci mobil dan segera menuju ruangan satu petak yang disewa Minghao selama dia hidup di negara ini.
Pikirnya waktu itu, mungkin ponsel Minghao rusak, atau mungkin dia benar-benar tidak ada waktu untuk mengisi baterai ponselnya.
Bukan ini.
Bukan Minghao yang tergeletak di depan pintu kamarnya dengan darah dan kelopak oranye tersebar di atas tubuh dan juga di lantai sekitarnya.
Selama perjalanan menuju rumah sakit, Minghao di ambulans yang dipanggilnya, dan Mingyu di mobilnya sendiri, Mingyu mencengkeram roda kemudi kuat-kuat, meyakinkan dirinya kalau ia akan membantu Minghao terbalas cintanya.
Tidak peduli apa yang Mingyu sendiri rasakan.
Masih ada waktu untuk menunggu, kata dokter yang menangani Minghao. Karena pemuda yang terbaring di ranjang rumah sakit itu kembali tidak sadarkan diri sebelum memberikan jawabannya, dan karena untungnya kondisinya sedikit membaik setelah dibawa dan dirawat di sana.
Meskipun tentu saja cuma sementara. Minghao harus segera menentukan apa yang ia inginkan sebelum waktunya semakin habis.
Beberapa jam kemudian, Minghao kembali sadar. Dan kali ini, Mingyu menyingkir, memberikan ruang kepada dokter dan perawat untuk mendapatkan informasi dari Minghao. Karena bagaimanapun, sedekat apapun ia merasa dengan Minghao, belum tentu temannya itu juga merasakan yang sama. Belum tentu Minghao tidak keberatan untuk membuka rahasianya dengan Mingyu ada di ruangan yang sama.
Mingyu mengusap wajahnya frustasi, terduduk di lantai dekat kamar yang ditempati Minghao. Tidak dipedulikannya tatapan yang tertuju ke arahnya, yakin kalau mereka pasti sudah terbiasa dengan pemandangan yang sama di tempat bercampurnya harapan dan keputusasaan ini.
Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Sebentar lagi dokter akan keluar, dan memberi tahu siapa yang perlu dia cari untuk menyelamatkan nyama Minghao.
Minghao tersenyum lemah setelah mendengarkan penjelasan dari dokternya dengan lebih mendetail. Dia sudah tahu. Dia sudah tahu sejak pertama kali kelopak oranye itu terbaring di telapak tangannya.
Padahal dia sudah sengaja ingin membebaskan Mingyu darinya, eh? Tapi Mingyu tetap kembali, tetap mencarinya, tetap peduli padanya.
Sekeping harapan yang muncul di hatinya ia tekan kuat-kuat. Minghao sadar sepenuhnya harapan cuma akan semakin membuatnya merana.
Tapi memangnya apa artinya cinta tanpa dihiasi luka?
Karena itulah dalam situasi yang terlanjut seperti ini, dia sudah tahu apa yang akan dilakukannya.
Lagipula apa pilihan yang ia punya? Kalau ternyata cintanya sebegitu besar sampai tumbuh akar yang merontokkan sedikit demi sedikit hidupnya, bukankah itu artinya merenggut cinta itu dari dirinya tidak akan lebih baik dari kematian?
Rasanya sudah lama sekali Minghao tidak hidup seperti ini.
Go big or go home.
Tanpa terlalu banyak kata disampaikannya beberapa hal kepada dokter yang sudah menunggunya.
Minghao tidak tahu apa yang dia duga akan terjadi setelah Mingyu diberi tahu, tapi pintu yang terbanting terbuka dengan Mingyu yang tersandung kakinya sendiri bukan salah satunya.
(Walaupun seharusnya dia tahu, Mingyu tersandung apapun, di mana saja, dalam keadaan apapun).
Dan tentu saja dia tidak menduga tangannya yang tergeletak lemah di samping tubuhnya kemudian diangkat lembut.
This is it, pikir Minghao. Kabar buruk selalu diberikan dengan kelembutan untuk memperlunak hantamannya, ‘kan?
Lalu, Minghao bisa melihat, juga bisa merasakan, kecupan di buku-buku jarinya.
Tapi otaknya gagal memproses apa yang sedang terjadi sebenarnya.
“Mingyu?”
“Mingyu,” Mingyu menjawab, mengiyakan pertanyaan Minghao.
Mingyu tidak mengatakan apa-apa lagi, tapi tidak apa-apa, dari senyum perih di sudut-sudut bibirnya, tatapan mata yang jauh lembut dari semuanya yang pernah ia terima sebelumnya, usapan menenangkan di punggung tangannya, juga tentu saja kecupan-kecupan di sana yang dibarengi dengan uraian air mata, Minghao akhirnya mengerti kalau cintanya sudah terbalas.
“Syukurlah,” Minghao menggumam, kemudian kembali tidak sadarkan diri.
Sekali pandang ke arah dokter yang masih mengawasi mereka memberi tahu Mingyu kalau sudah tidak ada lagi yang perlu ia khawatirkan.
“Sampai ketemu nanti waktu kamu udah sadar, Haohao,” bisiknya dengan bibir menempel di kening Minghao.
Minghao bahkan tidak sadar kalau di ruangannya sudah tidak ada orang sama sekali ketika lengan kokoh melingkari pinggangnya.
“Ayo pulang,” suara itu terdengar dari sisi lehernya. Si pemilik suara berlutut di sebelah kursinya agar bisa merangkul tubuhnya dengan nyaman.
“Dibilang jangan mesra-mesra waktu di kantor,” protes Minghao, walaupun tangannya yang sedang tidak memegang pensil ia selipkan di sela-sela rambut Mingyu yang mulai memanjang.
“Biarin, kan kantornya punyaku juga.”
Mingyu akan protes kalau dibilang dia cemberut seperti batita tapi memang apa kata lain yang bisa menggambarkan manjanya dia saat ini?
“Ayo pulang,” ajak Mingyu sekali lagi.
“Tunggu bentar ini belum oke menurutku desainnya.”
“Kalo kita pulang sekarang, habis mandi sama makeout bentar aku bantuin,” Mingyu berkata dengan penuh keseriusan, yang justru membuat Minghao memutar bola mata.
“Kamu bosnya.”
“Ini gimana caranya sih biar kamu mau pulang? Aku pengen cuddling.”
Minghao yang sebenarnya sudah menyelesaikan pekerjaannya (untuk hari ini) akhirnya menoleh dengan senyum tipis di wajahnya. “Perasaan yang tumbuh bunga di paru-paru aku deh. Tapi kamu ya, yang clingy banget.”
Pelukan Mingyu mengerat, dia memang masih suka sedih karena peristiwa waktu itu, ketika nyawa Minghao hampir terenggut karena ia kira cintanya tidak terbalas.
Menyadari tubuh Mingyu yang menjadi kaku, Minghao melingkarkan tangannya ke bawah lengan dan menariknya agar ia kembali berdiri di samping kursinya. “ … Sorry,” gumamnya. Karena walaupun dia sendiri tidak keberatan untuk mengingat bagaimana cintanya kepada Mingyu sebegitu besar, tentu saja tunangannya itu akan merasakan hal yang berbeda. “Yuk pulang.”
Senyum cerah dan genggaman tangan erat Mingyu mengingatkan Minghao pada amarilis yang tidak lagi mengakar di paru-parunya, melainkan di halaman rumah kecil mereka.
