Work Text:
Entah sudah berapa jam sejak Jack mengikat kedua tangan dan kaki naib lalu menghubungkannya dengan ujung kasur. Yang ia tahu tubuhnya sangat lemasz. Dirinya kedinginan tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya. Matanya terlalu lelah bahkan hanya untuk terbuka. Beberapa luka jahitan dan goresan masih terasa di beberapa bagian tubuhnya walaupun samar. Tubuhnya bersih dari kotoran, tapi tidak dari luka.
Suara klek terdengar, setelahnya suara derit pintu mengikuti. Dengan matanya yang tertutup Naib bisa merasakan kehadiran orang lain di kamar ini.
“Akh...” Naib kembali merintih saat ikatan di tangan dan kakinya di kencangkan oleh orang itu. Yang tak lain dan tak bukan adalah Jack. Kekasihnya sendiri. Tercetak jelas luka kemerahan disekitar pergelangannya.
“Maaf membuatmu menunggu lama sayang. Aku tadi ada urusan, mari kita mulai bersenang-senang~”
Setelah mencium pipi Naib, Jack berdiri dan membawa tas besar ke samping kasur. Tanpa menunggu respon Naib, Ia mengeluarkan pisau bedah kecil dan mulai menggoresnya ke permukaan abdomen naib dengan perlahan. Sementara di sisi lain, Naib mengatur napasnya agar tidak mengeluarkan suara aneh ataupun berteriak. Jari-jari Jack dengan lihai menari-nari diatas sana, seperti membuat pola tersendiri.
Makin lama goresan itu terasa semakin dalam. Membuat naib merintih tertahan.
“AAAAHHH” Naib, Matanya terbuka dan melebar.
Dirinya berteriak nyalang saat ia rasa pisau bedah itu mulai menembus kedalam perutnya dengan tiba-tiba. Naib langsung mengalihkan pandangannya ke arah perutnya dan melihat pisau itu tertancap cukup dalam disana. Ia menatap dengan takut pisau disana. Naib pun melirik kearah Jack yang sedang cemberut mem-pout kan bibirnya.
“Jangan memasang muka begitu dong, kita kan belum mulai.” Jack mulai mengeluarkan lilin batangan dari dalam tas itu. Ia menyalakan korek dan memanaskan lilin tersebut diatas dada Naib.
“AH!” Naib berteriak kaget saat ia rasakan sesuatu yang panas menetes ke dadanya, mengalir, lalu mengering di tempat.
“J-jack.. jangan-“ Naib memohon. Tetapi jack malah tertawa dan tertawa. Kegiatan semakin lancar dilakukan.
Semua teriakan, rintihan, dan isakan, seolah tidak terdengar oleh telinga Jack. Ia bersenandung senang sambil melanjutkan kegiatannya.
“AKH HENTIKAAN.” Naib semakin berteriak saat lilin itu meleleh hampir habis di satu tempat. Jack kembali mempersiapkan lilin lainnya.
“Hentikan? Padahal aku punya dua batang lilin lagi. Jangan membuatku membuang lilin ini dong.” Dan tetesan lilin baru segera jatuh ke dada Naib, bersatu dengan cairan lilin lain yang hampir mengering.
______
Tiga batang lilin sudah meleleh diatas dada Naib dengan indah. Cairannya bahkan menetes hingga ke leher, perut, beberapa juga jatuh ke kasur. Jangan lupakan pisau bedah tadi yang masih tertancap. Jack baru saja menariknya dengan cepat. Meninggalkan rasa sakit yang tak terkira saat darahnya juga keluar bersamaan dengan benda tajam itu dicabut.
“AAHGH! JACK!
Jack terkekeh sambil tersenyum manis,
“Iya sayang?” Tatapan itu, naib membencinya. Bagaimana netra darah itu menatapnya horror dengan penuh kasih sayang.
“Jangan khawatir, kau akan mendapatkan yang lain kok.”
Setelahnya jack langsung menguliti betis naib. Tenang saja, ia mengulitinya tidak berlebihan kok, kulitnya masih ada disana. Dia melakukannya dengan lapisan tipis. Terus berlanjut sedikit ke arah paha, lalu membuat pola pola aneh.
Jack juga menggunakan silet untuk menghias jari jari naib. “Cantiknya!~” Jack berseru setelah melihat hasil karyanya di jari sang terkasih.
Setelahnya Naib pingsan, entah karena rasa sakit berlebihan yang diterimanya atau karena kehabisan darah dari luka tusukan di perutnya.
Jack mengobatinya dan membalut semua lukanya dengan perban.
“Tenanglah, kita tunggu tubuhmu pulih lagi. Kita akan kembali bersenang senang.”
