Work Text:
Jika semesta memang bercanda; maka kali ini Jeongguk akan bilang bahwa semesta benar-benar memiliki nilai minus dalam kategori bercanda. Kategori humor yang tidak pernah masuk diakal, namun hanya mampu ditanggapi dengan tawa sumbang. Sebab cara semesta bercanda memang tidak pernah lucu; lebih mirip menggemparkan ketimbang lucu.
Sebab Jeongguk menemukan lembar data diri milik Jimin, tentu saja dengan setumpuk lembar penggenap lainnya bersamaan dengan berkas-berkas pelamar lain. Ya, Jeongguk menemukan lembar data diri Jimin—taksiran Jeongguk selama masa kuliah.
Jika kembali memutar waktu, di masa kuliah maka Jeongguk sanggup menyatakan diri sebagai pengecut. Sebab menghabiskan waktu sekian tahun hanya untuk memandang Jimin, mengaguminya dari kejauhan. Jimin si cantik; si primadona sedang Jeongguk si populer yang terlampau gemetar untuk sekedar menyapa, sebab itu ia lebih memilih bersikap dingin, berlagak cool alih-alih mencoba mendekati Jimin.
Berfikir bahwa kepopuleran akan memikat; setidaknya membuat Jimin mungkin tergerak untuk menyapa, atau mendekati. Berfikir bahwa telepati memang benar ada sebab Jeongguk acap kali memanggil Jimin dalam pandangan, yang dibalas senyum malu-malu. Hingga boom—nyatanya tidak berbuah apapun hingga ajang kelulusan. Lalu berpisah secara klise karena dunia perkuliahan berakhir.
Jeongguk dan nestapa perasaan-yang-terpendam kali ini menjadi obyek bercanda semesta; ketika Jimin secara tiba-tiba dikembalikan dalam orbit kehidupan Jeongguk. Melamar sebagai pekerja; tepatnya sekertaris.
Sekertaris tentu saja memiliki andil yang cukup porsinya dalam kehidupan Jeongguk sebagai pimpinan; CEO yang mana sekian banyak jadwalnya diruntutkan oleh sekertaris. Lucu sekali, jika Jeongguk membatin.
.
.
Jimin diterima; tidak dengan mudah namun dari rangkaian tes yang diberikan nyatanya nilai Jimin memang sama sempurnanya dengan Curiculum Vitae yang disajikan saat melamar. Serta merta Jeongguk memang tegas dalam profesionalitas bekerja; meskipun sempat gemetar karena gugup harus berhadapan empat mata dengan Jimin kala wawancara.
Jimin masih memesona; bertambah luar biasa malah. Terkadang Jeongguk merasa berhalusinasi ketika Jimin mengenakan kemeja putih, seolah rambut hitam yang terlihat halus itu dinaungi lingkaran halo. Jimin nampak seperti malaikat dalam imajinernya. Ia kerap membubuhkan makeup tipis, terlebih Jimin adalah pribadi yang hangat. Senyum sehangat mentari paginya sering menular kepada pegawai lainnya.
Jika pada akhirnya Jeongguk memutuskan untuk tidak lagi bersikap bodoh—bersikap cool tidak akan membuat taksiranmu mendekat; mungkin akan dimulai dengan sedikit memberi perhatian lebih kepada sang sekertaris. Menjadi sekertaris Jeongguk bukan hal yang mudah, tidak seperti cerita roman yang dijual penulis. Untungnya Jimin telah sedikit terbiasa bergelut dengan kesibukan. Sebab nyatanya benar-benar sibuk, dan Jeongguk merasa perlu memberikan sedikit perhatian sekaligus melancarkan aksi pendekatan.
Bisa jadi sekali langkah, dua tiga kota terlampaui.
Tapi hal pertama yang ditemukan bukanlah romansa, melainkan kecanggungan yang menggantung secara kental di udara. Bagaimana seorang teman semasa kuliah tiba-tiba bekerja; mengabdi menjadi bawahan bukanlah satu perkara mudah.
“Jadi, bapak.” Jimin tertawa canggung, mengucap pelafalan prefiks formal kepada Jeongguk terasa begitu aneh. Sekaligus menggelikan namun tidak mampu ditolak. “Bapak Jeongguk,”
Jeongguk tidak pernah nyaman dipanggil secara formal namun aturan terkadang mengikat sedemikian rupa; masih lebih menyenangkan dipanggil menggunakan sapaan bapak ketimbang om atau mas. Namun tetap saja, rasanya aneh dan canggung luar biasa—baik Jeongguk ataupun Jimin berfikir bahwa mungkin lebih baik bekerja pada orang yang asing.
“Jeongguk, cukup panggil Jeongguk seusai jam kerja.”
Dan Jimin tertawa, hanya saja kali ini dilantunkan dengan lebih rileks—bukan tawa dengan repetisi ucapan ‘haha’ yang canggung.
“Oke, Jeongguk sebagai teman kuliah setelah fingerprint. Dan Bapak Jeongguk sebelum fingerprint,”
Jika Jeongguk pernah bermimpi soal melakukan pendekatan semudah mengerlingkan tatapan secara flirty, maka kenyataan tidak seindah imajiner; egg muffin dan teh hangat yang diberikan Jeongguk kepada Jimin pada suatu pagi ditanggapi dengan kerutan dahi.
“Untukmu,” masih dengan usaha yang terlihat keren, seperti pada cerita roman yang Jeongguk baca dan pelajari.
“Terima kasih, Bapak Jeongguk.” Oh, Jimin memberikan penekanan prefiksnya. Dan dari intonasi kata yang ditekan Jeongguk pun tahu, apa yang menjadi imajinernya pagi ini tidak akan berjalan. Justru akan menambah kecanggungan.
“Jika berniat memberikan sarapan, kumohon lain kali berikan pula kepada pegawai yang lain. Agar tidak ada rumor mengenai perlakuan istimewa kepada sekertaris,”
Telak.
Cerita roman yang dibuat penulis nyatanya terkadang hanya cukup dijadikan bahan bacaan, bukanlah pedoman untuk melakukan suatu tindakan.
.
.
“Jeongguk,”
Suatu sore ketika selepas mengecap presensi dengan fingerprint, adalah tanda bahwa batasan tegas antara atasan dan sekertaris telah berakhir. Maka Jimin mungkin sedikit melunak usai mengecap presensi, menganggap bahwa ia dan Jeongguk kembali pada teman-semasa-kuliah.
“Maaf,” Jimin mengetuk-ngetuk jemarinya sedaang arah pandangnya terjun menyusuri lantai. “Maaf ya soal insiden sarapan,”
Mungkin butuh beberapa hari sebelum akhirnya Jimin tidak lagi mampu menanggung kecangguangan. Sebab sedikit banyak ia pun merasa bahwa sedikit kasar kala menorehkan garis. Semata karena ingin Jeongguk mengerti, batas tegas diantara mereka sewaktu jam kerja adalah setegas garis-garis kubikel. Relasi tentang atasan dan bawahan memang seribet dan secanggung itu untuk dijalani.
“Tidak masalah, Jimin,” Jeongguk pun tersenyum, sedikit canggung. “Harusnya aku lebih tahu jika mungkin akan meninggalkan kesan berbeda dari orang lain yang memandang,”
“Yap,”
Baik Jimin maupun Jeongguk tidak pula beranjak dari tempat mereka, seolah masih saling menunggu untuk berucap dalam percakapan. Jimin tertawa kecil secara tiba-tiba membuat Jeongguk sedikit heran. Ada sekelumit tekat yang mendentum dalam ruang hati Jimin, mereka tidak terlalu dekat di masa kuliah; hanya sering saling menggoda dengan tatapan mata dan senyum malu-malu. Saling sedikit mengenal pun lewat cerita dari mulut ke mulut.
“Yaampun masih canggung sekali, Gguk,” ‘tak ayal ucapan Jimin pun membuat Jeongguk tertawa.
“McDonald’s for makeup, Gguk?”
Dan Jeongguk mengiyakan. Seolah malam itu adalah sebuah gerbang, dimana mereka mengulang kembali memori semasa kuliah kemudian beralih dengan menjelajah cerita satu sama lain. Dari satu momentum itulah Jeongguk mengetahui bahwa Jimin tinggal dengan Taehyung—kawan semasa kuliah, Jimin lucu apabila sedang tertawa seba kejora netranya berubah menjadi bulan sabit dan Jeongguk yang semakin menemukan alasan untuk mengukuhkan diri atas perasaan suka kepada Jimin yang tidak mampu lagi disanggah.
.
.
Ada kala Jimin belum mengerti, ketika usai jam makan siang Jeongguk menghampiri meja kerjanya. Tentu saja tidak dengan tangan kosong elainkan dengan bertumpuk kertas yang mengantri untuk dituntaskan.
“Maaf Jimin,” kala itu Jeongguk masih memamerkan senyum rikeuh. “Laporan ini harus selesai esok hari, jadi lebihan jam kerjamu akan diperhitungkan sebagai tambahan upah.”
Oh.
Jimin mengerti; maknanya adalah harus bekerja lembur meski Jeongguk mengucapkannya dengan cara diperhalus. Maka Jimin hanya mampu tersenyum, mengiyakan—menelan sendiri ucapannya soal profesionalitas karena hal ini ia tidak mampu mengumpati atau merengek.
Kali kedua, Jimin masih lupa. Belum terbiasa rupanya, sebab kala Jeongguk menumpuk lembar-lembar di atas meja usai makan siang—Jimin masih mengangkat sebelah alis, bertanya.
“Lemburan. Laporannya harus selesai besok, Jimin.”
Bahkan lelaki itu tidak repot menggunakan basaha yang diperhalus, malah memberikan tawa usil. Membuat Jimin berderak, terbelah diantara terpesona sebab Jeongguk rupawan dalam tawa usilnya atau kesal sebab tumpukan kertas-kertas itu tidak akan selesai dalam hitungan menit.
“Atau mungkin kau memiliki preferensi mengerjakannya di rumah, jadi jam pulangmu tidak lewat batas. Tidak masalah kok,” usil Jeongguk. Sebab rasanya menggembirakan melihat Jimin mengerucutkan bibir—tertahan emosi dan memberikan senyuman lucu.
“Tidak, terima kasih. Koneksi internet di kantor jauh lebih luar biasa ketimbang di rumah,”
Alasan lainnya mungkin Taehyung akan memberikan kultum—kuliah tujuh menit mengenai aturan dilarang membawa pekerjaan ke rumah, sebab rumah adalah tempat pulang. Beristirahat.
Kali ketiga dan seterusnya pun Jimin telah hafal sepenuhnya, apabila Jeongguk menghampiri mejanya usai makan siang. Entah dengan membawa kertas maupun flashdisk, maka bisa dipastikan Jimin akan menambah waktu untuk bertemu dengan tempat tidurnya.
Ada kala dimana Jeongguk nyaris terselip maaf ketika memberikan pekerjaan tambahan pada Jimin. Namun soal maaf, Jeongguk cukup tahu diri. Ia tidak perlu sebab tahu posisi, teguran Jimin atas insiden sarapan setidaknya membuat Jeongguk menyadari garis tegas atas nama ‘profesionalisme’.
“Tenang,” Jeongguk mengangkat kedua tangan, menyaru tanda menyerah. “Aku sudah meneken presensi, Jimin.”
Ekspresi Jimin melunak, sebelum merenggangkan tulang-tulangnya dengan suara gemerutuk sebab pegal.
“Jangan lupakan soal makan malam,”
Lucu, bagaimana di umur yang nyaris menginjak kepala tiga Jimin masih bersemu malu-malu ketika Jeongguk membawa bungkusan makan malam dari restoran cepat saji. Pun Jeongguk menahan senyum, merasa malu.
“Terima kasih Jeongguk,”
Hal kedua yang terasa lucu adalah mereka selalu berjumpa dengan canggung sebab saling malu-malu. Seolah sama-sama tidak mampu menemukan muara untuk berhenti bersikap seperti remaja, atau bersembunyi di balik senyuman yang ditahan.
Dan esok pagi adalah hal yang diduga Jeongguk, sebab Jimin mencegatnya kala baru saja memasuki kantor. Lelaki itu membawa tas bekal berwarna kuning lucu, dengan pola bergambar bebek. Seolah mengukuhkan identitas miliknya; milik Jimin.
“Tukar tambah dengan makan malam kemarin, Gguk.”
Oh.
“Aku membuatnya sendiri kok. Dan semoga harimu menyenangkan,”
Nyatanya sandwich dan salad buah yang diracik Jimin untuk Jeongguk; memiliki efek yang lebih luar biasa ketimbang kafein. Bagaimana makanan itu bisa memicu debar dan semangat, serta senyuman malu-malu kala mereka berpapasan.
.
.
Ada kala perjalanan dinas; momentum lucu sebab ada singgah kecanggungan dalam ruang waktu yang digunakan. Bila masih dengan rombongan, sebenarnya tidak masalah. Namun bilamana hanya ada Jeongguk dan Jimin; si atasan dan sekertarisnya, maka kecanggungan itu mengudara. Bahkan lebih terasa kentalnya.
“Jangan membahas soal rapat, Ji,” Jeongguk mengucap dan hanya memberikan lirikan kala Jimin yang sedari tadi berdiam diri.
“Aneh,” pandangan Jimin jauh menyapu jalanan yang mulai padat merayap. “Aku bahkan beberapa kali kau antar pulang tapi jika perjalanan dinas seperti ini rasanya canggung,”
Jeongguk tertawa sedikit, mengiyakan. Barangkali sebab terkadang pekerjaan selesai sebelum waktunya sehingga mereka terbentur etika profesionalitas. “Biasakan saja, Ji.”
Lalu mereka sama-sama terdiam lagi. Pun Jeongguk merasa rikeuh, apabila hendak memutar lagu untuk mengusir sunyi. Padahal ini adalah mobilnya sendiri namun ia dikuasai rasa takut, rasa sungkan apabila Jimin kurang berkenan mendengar lagu-lagu dari daftar putarnya.
“Mau mampir untuk makan ayam?”
Dan Jeongguk pun tahu, ayam adalah solusi ketika mereka didera kecanggungan. Sebab Jimin menyukai makanan apapun soal ayam. Bahkan Jeongguk masih mengingat hangat debur dalam dada kala ia segaja membawakan satu kotak ayam goreng tepung untuk Jimin.
Yang tentu saja dibalas dengan bekal pada esok hari. Atau mungkin secangkir teh, dengan tulisan semangat yang ditenun oleh tangan serta emoji senyuman yang menulari Jeongguk secara otomatis untuk tersenyum sepanjang hari.
.
.
Jimin bukan bocah kemarin sore, terlebih dalam hal semacam ini. Sesungguhnya lelaki itu menyadari bagaimana cara Jeongguk mendaratkan pandangan, bagaimana cara Jeongguk memperlakukannya, bagaimana pribadi Jeongguk berubah dari seorang atasan menjadi teman; selepas jam kantor berakhir. jika ingatannya ditarik kembali ke masa kuliah—Jimin pun sebenarnya tahu hanya kepalang gengsi, hingga bermuara pada kata ‘saling tidak mengetahui’ ketika toga dilempar ke udara tatkala selebrasi akhir.
“Jeongguk menyukaimu,” Taehyung; teman sekamarnya berkata demikian pada suatu malam. “Sejak jaman kuliah tapi sekarang sedikit ada kemajuan sebab berani mendekatimu,”
Taehyung pun meragkap sebagai teman semasa kuliah pula. Jadi mungkin cukup mengerti. Namun kekeh tawa Jimin membuat alis Taehyung bertaut.
“Kau ini bertanya, atau memberi pernyataan?”
“Hanya orang yang acuh jika menganggap Jeongguk tidak menyukaimu,”
Jimin tertawa, sakartis. “Lucu sekali jika seorang CEO berakhir dengan klise jatuh cinta kepada sekertarisnya lalu boom, menjalin hubungan dan menjadi pembicaraan seluruh penjuru kantor.”
Jimin hanya saja tidak menginginkan pandangan miring, ah mungkin tidak sanggup membayangkan mengenai tanggapan miring ataupun komentar baik dari rekan sekantor maupun orang lain. Jimin pun tahu, bilamana dunia kerja selayaknya hutan rimba, toh tembok kantor bahkan mungkin bisa berbicara ataupun bergossip.
“Kau juga menyukai Jeongguk ‘kan?”
Jimin tidak mampu berbohong, Taehyung adalah kawannya. Yang bahkan selalu menghadiahi Jimin dengan sikutan atau dorongan sedikit brutal kala Jeongguk lewat di hadapan mereka.
“Ya, dan mungkin akan digunjingkan apabila diketahui orang banyak.”
“Orang boleh berkomentar. Mereka boleh berbicara, boleh berspekulasi, boleh salah menarik konklusi tapi Jimin, mereka tidak berhak menentukan sikap yang kau ambil.”
Benar. Jika Jimin masih dalam masa denial; menolak realita bahwa ia pun merasakan deburan kupu-kupu dalam perut kala bersama Jeongguk. Sesungguhnya hanya karena Jimin tidak ingin melekatkan diri pada stereiotip yang berkembang dalam masyarakat; hubungan antara atasan dan sekertaris yang terjalin lebih dari sekedar pekerjaan adalah tabu. Sedikit nakal dan terlarang.
“Aku pernah di titik yang sama, Jimin. Sebab itu aku berkata demikian,” Taehyung menghela nafas, menarik ingatan mengenai hubungannya dengan Yoongi. Beberapa orang bahkan terang-terangan mencibir, berkomentar dan Taehyung pernah sedikit percaya pada steriotip mengenai label ‘anak band’. Namun pada iringan waktu, semua yang dikatakan dan dilekatkan masyarakat pun tidak terbukti.
Taehyung masih bersama Yoongi; dan Yoongi jauh dari istilah yang dilekatkan masyarakat. Baik Yoongi maupun Taehyung pada akhirnya menulikan diri, memilih untuk mengukir cerita bahagia yang terkadang pun masih ditanggapi sinis oleh beberapa orang. Toh mereka tidak menjalani.
“Lalu kemudian aku masa bodoh. Mereka berhak berkomentar, sama seperti aku berhak untuk menjalani hubunganku. Tidak ada yang dirugikan pula, toh hidup adalah pilihan. Aku memilih untuk menjalani semua seperti yang kuinginkan atau memilih menjalani seperti yang orang-orang katakan.”
Taehyung membubuhkan sedikit usapan pada pipi kawannya, “your feelings are valid. Their opinions aren’t,”
.
.
Mungkin beriringan dengan waktu, sesungguhnya Jeongguk hanya menunggu satu momentum tepat. Dimana mungkin akan menjadi suatu waktu kala perasaannya yang menggebu diungkapkan melalui frasa. Bagi Jeongguk, tarik ulur serta godaan yang terselip dalam setiap tindakan pun butuh diucapkan secara gamblang—ia tidak ingin mengulang kesalahan sebab dahulu lebih banyak terdiam. Pun Jeongguk telah mempersiapkan diri, apabila Jimin bereaksi tidak sesuai ekspektasi.
Namun percayalah, sesungguhnya tidak seorang pun siap dengan patah hati, terlebih penolakan.
Maka mungkin semesta sedikit berbaik hati, sebab tidak lama berselang seolah telah digariskan bahwa ada satu pertemuan dengan vendor. Perjalanan bisnis keluar kota. Dan bukan sembarang kota, sebab Jeongguk akan mengarungi jarak bersama Jimin kembali ke kota dimana mereka mengenyam bangku kuliah.
“Kota kenangan, eh?”
Jimin menggodanya tatkala Jeongguk menyampaikan.
“Kembali pada masa kuliah, Jimin.”
“Waktu dimana kau tidak berani untuk menyapa hingga hari kelulusan ‘kan?”
Dan ocehan Jimin seolah menjadi sebuah kode untuk Jeongguk; lelaki itu menegaskan bahwa ia tahu.
Seperti biasa, mereka disambut oleh hujan tipis di penghujung hari. Pijar kejora Jimin menampakkan kerinduan, kala Jeongguk membawa Jimin menyusuri jalanan yang setiap jengkalnya mungkin membawa kenangan.
“Jimin, ada satu hal yang ingin kubicarakan padamu.”
Sebaik-baik Jimin apabila mendengar ucapan bernada serius dari Jeongguk, ia tetap menemukan debar. Sedikit digerogoti perasaan takut apakah ia telah melakukan kesalahan, sebab ada dua peran yang dilakoni—sebagai bawahan dan sebagai teman kuliah.
“Ya?”
Cara Jeongguk mencengkeram kemudi membuat Jimin sedikit tersirap, mungkin penafsiran akan pelarian kegugupan Jeongguk dielukan berbeda oleh perasaan Jimin.
“Maaf jika mungkin hal ini membuatmu tidak nyaman,” Jeongguk mengetuk-ngetuk kemudinya dengan jemari. Meghembus nafas sebelum mengucap syukur sebab mobil yang dikendarai terhenti oleh detik lampu lalu lintas.
“Akumenyukaimu,”
“Ha?”
Begitu cepat diucapkan hingga Jimin tidak menagkap jelas silabelnya. Sedang Jeongguk mengutuk dalam hati; mengapa begitu sulit mengucap dua kata sedang ia terbiasa bergulat kata dengan rekan kerja. Pun lampu lalu lintas telah berganti, hingga Jeongguk sedikit memecah fokus untuk kembali pada kemudi.
“Aku menyukaimu, Jimin,” sedikit berucap lebih keras sebab hujan yang mengetuk pun jatuh lebih rekat. “Sangat menyukaimu sejak zaman kuliah. Mungkin kau merasa bahwa ini kurang pantas diucapkan, namun aku hanya ingin mengatakan perasaanku yang sesungguhnya. Maaf Ji—“
“Aku tahu,” Jimin memotong ucapan Jeongguk begitu saja. Padahal pipi gembil Jimin telah dipoles rupa merona oleh rasa malu dan berdebar. “Aku tahu bahwa kau menyukaiku, Jeongguk. Aku tahu bahwa kau berusaha melakukan pendekatan setiap jam kerja berakhir.”
“Aku tahu, Jeongguk.”
Jika mungkin ada petir yang lebih menggelegar ketimbang yang bersliweran di langit, mungkin metafora yang tepat adalah Jimin yang mengetahui nyatanya lebih menggelegar ketimbang petir di langit. Jeongguk terburu menyalakan lampu, sebelum menepikan mobil. Mengantisipasi agar keterkejutannya tidak mencelakai.
“Aku juga menyukaimu, Jeongguk,” jika Jeongguk masih membeku karena terkejut, maka Jimin memilih untuk meloncat. Mengucapkan perasaannya begitu gamblang meski rona merah di pipinya membawa hawa terbakar.
“Jimin,” tangan Jeongguk terasa dingin tatkala meraih tangan Jimin. Membuat Jimin terkikik geli. Sebelum kekehan gelinya berhenti tatkala Jeongguk membawa tangan Jimin untuk dibubuhi satu kecupan halus. “Kau tidak masalah dengan hal ini?”
Jimin menjawabnya setelah memberanikan diri mengecup pipi kiri Jeongguk dengan malu-malu, gerakan cepat namun berefek menggilakan denyut jantung. “Tidak masalah, Jeongguk.”
“Selama terikat jam presensi, oke?”
“Kau memang benar-benar profesional ya,”
Sejenak baik Jeongguk maupun Jimin menyadari, mereka berada di jalan utama kota. Jalanan panjang yang dinaungi pohon-pohon rindang, serta merta dengan hujan yang membumi semakin deras. Tanpa permisi mereka pun sama-sama memutar ingatan; di jalanan inilah kali pertama mereka berjumpa tatap kala mahasiswa baru. Pun dengan rinai hujan yang sama derasnya.
.
.
“Lihatlah manusia-manusia yang tengah dibudaki cinta, Yoongi,” Taehyung kerap mengadu pada sang kekasih, atau mungkin sengaja mengejek Jimin kala mereka berkencan bersama. Double date, bila diistilahkan hanyalah suatu waktu kala Jimin dengan Jeongguk dan yoongi dengan Taehyung menghabiskan malam bersama.
Dengan makan malam.
Dan film yang akan segera terlupakan sebab sibuk berpacaran.
Selebihnya mungkin Jimin akan menghabiskan waktu dengan bergulat dengan Jeongguk dalam game. Atau mungkin menghabiskan makan malam mewah atau bioskop yang berakhir dengan percumbuan. Atau mungkin pula saling memeluk dan bermalasan di atas tempat tidur. Dinamika yang kadang dibumbui dengan persetubuhan.
Sesungguhnya tidak ada yang berubah dari rutinitas mereka, selain menjadi lebih intim kala jam kerja berakhir. Pun Jeongguk masih kerap memberikan bahan lemburan usai makan siang, yang dibalas dengan lirikan tajam. Atau Jimin yang bisa mengoceh begitu panjang lebar kala dinas luar kota dengan segala persiapan yang serba mendadak.
Berbicara soal itu; ciuman pertama mereka pun terkesan lugu. Seperti bocah belasan tahun yang malu-malu. Kala itu, sore hari di ruang parkir setelah meneken presensi. Jimin meraih kerah kemeja Jeongguk dengan sembrono; sesungguhnya hanya menuruti naluri. Nyatanya raihan sembrono itu hanya berakhir dengan kecupan singkat pada bibir, yang disambut dengan pipi yang merona serta Jeongguk yang membolakan mata.
Jika ditarik satu konklusi, mungkin beranggapan bahwa baik Jimin maupun Jeongguk terlalu malu-malu untuk melaju. Membawa laju perahu birahi untuk melepaskan dari dermaga moral. Namun ciuman pertama yang terkesan sembrono, lugu dan malu-malu nyatanya disambung dengan ciuman lain yang mengundang decak basah. Membawa pergulatan lidah hingga Jimin harus membawa diri membumi dengan menjenggut rambut Jeongguk.
“Ini oke?” Jeongguk bergerak dengan konsensus, kala malam itu membawa Jimin bergumul di ranjangnya.
“Oke,” jawaban Jimin pun diutarakan jelas, terlebih dengan aktifitas yang menandakan bahwa perahu berahi mereka telah melaju.
Di kala waktu lain, pun Jeongguk menemukan bahwa Jimin tidaklah sekalem, selugu persona yang ditampilkan. Keterkejutan itu bermula ketika kala jam kerja berakhir, Jimin dengan sengaja merapatkan diri ke arah sang lelaki. Mengukung lelakinya pada sudut ruangan yang sedikit luput dari kamera pengawas, sebelum tangannya turun menjelajah celana kain.
“J-Jimin—“
Segala kata yang terfikirkan Jeongguk hila begitu saja ketika tangan Jimin menemukan gunduka kelaminnya, memberikan satu usapan halus sebelum membubuhkan genggaman seperti memegang anak kucing.
“Mau ngisepin punya Jeongguk,” Jimin memberikan satu bisikan nakal, bersimpuh pada kedua lututnya dan menggosokan belah pipi pada kelamin Jeongguk yang menegang dengan sembrono. “Mau ngisepin Jeongguk, disini tapi Jeongguk gak boleh berisik.”
Jika mungkin manusia mengalami mati berkali-kali; mungkin Jeongguk menggunakan satu kali kematiannya di hari itu. dimana berusaha menyembunyikan desah suara sebab Jimin benar-benar luar biasa dengan mulut dan lidahnya; dan tidak banyak bergerak agar mereka tetap luput dari kamera pengawas.
Jeongguk adalah tipikal yang suka memanjakan, di lain waktu kala usai rapat dinas; Jeongguk dengan sengaja berbisik di tengah kerumunan.
“You did well today, Ji.”
Satu hal yang Jimin sadari bahwa Jeongguk selalu memberikan apresiasi terhadap apapun yang dikerjakan bawahannya. Baik itu dikerjakan dengan sempurna ataupun dengan sedikit berbenah. Jeongguk tidak pernah lupa, pun tidak pernah pula memaki atau mengkritik tajam atas ketidak sempurnaan.
Dan Jimin yang mengerling mengiyakan sebelum rona merah menghampiri kedua belah pipinya kala Jeongguk meneruskan pujiannya dengan bumbuan sedikit binal.
“Karena presentasinya bagus banget. You deserve to sit on my face, Ji. Mau gak?”
Di hari itu pula Jeongguk menyadari bahwa Jimin yang tengah mengalungi wajahnya dengan kedua paha sekal, menunggangi lidahnya yang sibuk mencabuli Jimin adalah salah satu bagian momentum yang disukai Jeongguk.
.
.
Tidak ada hubungan yang berjalan dengan mulus; terlebih jika melibatkan dua kepala yang kadang berbeda jalan serta kemauan dengan hati. Logika terkadang berubah menjadi dingin, bersekutu dengan ego untuk membayangi perasaan. Atau terkadang perasaan bersekutu dengan hal-hal lain; semisal keraguan yang kemudian beranak pinak menjadi rasa minder.
Sejujurnya Jimin merasa nyaman; ia merasa bahwa Jeongguk memperlakukannya dengan baik. Hubungan mereka di antara jam kerja pun masih terjalin sesuai dengan profesionalise, di luar jam tersebut Jeongguk adalah pasangan yang baik.
Sempurna.
Dan kesempurnaannya membuat hati Jimin terkadang berdenyut nyeri. Terkadang sebersit perasaan ragu; mempertanyakan apakah sungguh Jeongguk secara nyata mencurahkan segala perasaan, emosi serta cinta. Mempertanyakan apakah ia cukup pantas mendapatkan segala bahagia dan cinta yang ditumpahkan Jeongguk.
Mempertanyakan apakah ia cukup pantas bersama Jeongguk;
“Jeongguk menyukaimu seperti orang sinting sejak kuliah,” Taehyung mengatakan dengan lugas. Ketika menemukan bahu Jimin terkulai, pandangannya mengabur ke arah jus jeruk yang mulai menimbulkan embun pada gelas. “Aku bisa melihat bahwa jeonguk tidak main-main dengan komitmennya,”
Dan Jimin menimpali dengan tawa sumbang, “justru itulah masalahnya.”
Masalahnya adalah Jimin acap merasa minder; terlebih tatkala melihat Jeongguk dalam lingkar sesama pekerja kelas atas. Bergaul dengan orang-orang yang terasa jauh dari jangkauan orbit Jimin. Masalahnya Jimin pun kadang berfikir, bilamana Jeongguk meninggalkannya. Bilamana ujaran dari orang-orang yang mengetahui hubungan mereka akan menggoyahkan segalanya. Meski ada bagian dari Jimin yang percaya, probabilitas hal-hal kejam semacam itu sangatlah kecil—baik Jeongguk maupun Jimin telah saling jatuh cinta dari kepala hingga kepala.
“Masalahnya adalah kau menghabiskan banyak waktu untuk menyiksa diri dengan pikiran ketimbang mengutarakannya dengan Jeongguk,”
“Konyol sekali, Taehyung. Tapi aku tidak pernah bisa berhenti berfikir,”
Ketika Taehyung menepuk bahunya, ada segelintir keceasan yang terurai menjadi bening air mata.
“Jimin,” pelukan Taehyung tidak sehangat milik Jeongguk, namun kadang terasa begitu tepat untuk menenangkan pikiran Jimin yang menggila luar biasa. “Overthinking kills your happiness, sungguh Jeongguk mungkin akan mengerti jika kalian berbicara,”
.
.
Pada nyatanya Jeongguk merasakan perubahan; meski hanya sedikit. Jeongguk begitu berhati-hati hingga perubahan kecil pada sikap Jimin menjadinya begitu takut. Takut apabila ia telah melakukan sesuatu yang keliru—mungkin melakukan sesuatu yang mengecewakan. Sebab bagi Jeongguk, Jimin terlihat lebih banyak diam; memberikan senyuman.
Bukanlah senyuman hangat namun satu senyuman yang nampak dimunculkan dengan sedikit ketulsan. Serta pijar kejora Jimin yang tidak lagi berapi-api, ada padam yang kentara.
Maka Jeongguk mungkin tidak sanggup; ia bukan seseorang yang mampu menerka-nerka sebab akan mengacaukan harinya. Sebab Jimin memiliki peran penting dalam sirkuit kehidupan Jeongguk; roda penggerak semangat. Kekanakan; mungkin terlalu lebay untuk ukuran orang dewasa namun Jeongguk menyukai Jimin.
Sangat menyukai Jimin.
Perasaan yang begitu besar dan menggulung secara luar biasa; menjadikan seorang Jeongguk takluk. Ia siap menghamba apabila Jimin adalah dewa. Mengabdikan hidupnya untuk beribadah; apabila cintanya dapat diutarakan dengan menyembah.
“Jimin,”
Jeongguk telah terbiasa menghadapi pembicaraan serius dengan banyak orang, tapi pembicaraan dengan Jimin mungkin memiliki magis. Sebab Jeongguk merasa kembali seperti bocah belasan tahun yang gemetar ketika berbicara dengan seseorang yang ia sukai.
Jemari Jeongguk mengukir pola asbtrak pada tangan Jimin yang terlihat mungil, “adakah yang menganggu pikiranmu akhir-akhir ini?”
Dan jantung Jimin terasa diremas dalam rongga dada, menyadari bahwa Jeongguk pun mampu melihat pemikiran yang menggelanyuti pundak. Teringat bahwa segala pemikirannya mungkin akan membunuh bahagia, membunuh waktu-waktu yang harusnya ia gunakan dengan menyenangkan bersama Jeongguk.
“Maaf jika pemikiranku mengganggumu, Jeongguk.”
“Jimin, tidak. Tidak sama sekali,” Jeongguk menangkup kedua pipi, menyelami kejora Jimin yang tengah meredup. Ada bias perasaan yang berkecamuk, “mungkin kau jika tidak keberatan, aku sangat terbuka untuk berbagi.”
“Konyol, tapi sejujurnya aku banyak berfikir mengenai kita.”
“Apakah ada sikapku yang mengecewakanmu? Menyakitimu?”
Jimin tertawa pelan, tangannya menggenggam jemari Jeongguk dengan pijar kejora netra yang memenjarakan. Menghela nafas sebelum mengucap frasa demi frasa, pada awalnya terasa berbelit—berat, sebab ini kali pertama Jimin mengutarakan dengan jujur bola kusut pikirannya. Jeongguk nyatanya mendengarkan, sesekali memberi dukungan dengan usapan ibu jari pada kedua belah pipi.
“Jimin,” cara Jeongguk menyebut namanya tatkala Jimin usai bercerita terasa seperti magis, sebab ikatan pemikiran yang menghanyuti Jimin selama beberapa waktu terakhir seolah terlepas begitu saja.
“Perjuanganku buat dapetin kamu itu enggak mudah, Ji,” Jeongguk berucap sembari membubuhkan kecupan halus pada kening Jimin, disusul kedua kelopak mata Jimin yang sedikit basah sebab lelakinya sempat menangis. “Gimana bisa aku sia-siain kamu, Ji.”
“Jangan khawatir, Ji.” Jimin tersenyum, kala kecupan Jeongguk berakhir pada ujung hidungnya. Rasanya seperti dicintai dengan begitu benar, begitu luar biasa. Kecupan-kecupan yang dibubuhkan Jeongguk adalah cara meredakan segala hal yang membelenggu pikiran, sekaligus menjadi wadah dari perasaan Jimin yang nyatanya sama bergejolaknya.
“Aku sayang kamu, Ji. Sayang banget,”
Cara Jimin membalas kecupan Jeongguk pada belah bibirnya pun dikukuhan sebagai sebuah jawaban, bahwa mereka memang sama-sama benar mencintai.
.
.
“Selamat hari Valentine, Gguk,”
Jimin berucap, sengaja sedikit menggoda sebab ini adalah perayaan hari kasih sayangnya dengan Jeongguk. Sebagaimana malam mulai merangkak merajai semesta; pada waktu itulah segala ketegangan—atmosfer yang berselimut diantara mereka bermuara. Baik Jimin maupun Jeongguk tahu; mereka memegang kemudi diri yang akan membawa bahtera logika menyerah pada deburan laut nafsu. Terlebih setelah bibir mereka saling bertemu, mengucap rindu mendulang emosi serta bahagia pada satu ciuman singkat. Yang kemudian mengharu biru bersama nafsu.
Lengan Jimin mengalungi tengkuk, sedang lidah saling menjelajah. Menarik erat Jeongguk dalam rengkuhan sedang bibirnya mengelukan rintihan; dengan mudah, Jeongguk membawa Jimin—mencuri satu remasan gemas pada kedua bongkahan yang terasa tepat dalam genggaman. Langkah kaki yang tersaruk; baik Jimin ataupun Jeongguk sempat menyelip tawa dalam ciuman yang menggila.
Mereka menemukan diri bermuara di atas tilam; dengan proposi tubuh Jeongguk mengukung penuh Jimin. Tatkala jemari melucuti linen yang membungkus tubuh, Jimin mesti terhenti sebab Jeongguk mencekal pergelangan tangan.
“Tinggalkan kemejanya,” perintah itu ditutup dengan ciuman menuntut, serta pergelangan yang ditahan di atas kepala. Jimin hanya mampu menurut, meringkus nafas dalam ciuman penuh deru sebelum merintih sebab Jeongguk memulai perjalanan memetakan teroritori di sepanjang kulit. Jeongguk tidak akan pernah puas memeta kulit, secara berati-hati meninggalkan ruam ciuman sekaligus begitu memuja kulit halus yang dilewatinya jengkal demi jegkal.
Jika Jeongguk merasa menang sebab desau Jimin mulai bercucuran, sesungguhnya ia tengah menjadi lengah—sebab tangan Jimin yang menyusuri lekuk badan Jeongguk menemukan muara. Mengusap pada bagian selangkangan dengan perlahan, sengaja memberikan tekanan di sana-sini. Sebelum menggenggam kelamin Jeongguk yang terasa mengeras serta menghangat dalam genggaman.
Tawa kecil Jimin adalah ejekan, sebab jemarinya menekan satu titik sensitif dari luar celana. Mengusap-ngusap ujung kelamin Jeongguk dengan ibu jari, sebeum beralih posisi mendorong sang lelaki rebah.
Jeongguk kehilangan sedikit nalar, kala Jimin merayapi bagian selangkangan. Dengan erotis menarik turun resleting celana menggunakan gigi, berlanjut dengan melucuti menggunakan mulut.
“J-Jimin,”
Gila. Jika Jeongguk harus mendapatkan pegangan untuk menjaganya membumi, maka ruas jemari Jeongguk tersangkut pada helai rambut Jimin.
“Mmm,” Jimin menggumam, ‘tak jelas namun batang hidung menyusuri kelamin Jeongguk yang mengeras. Membubuhkan kecupan sebelum tanpa ampun mendorong mulut hangat mengakomodasi batang kelamin Jeongguk.
Bukan perkara sulit hingga menelan secara utuh, menyentuh pubis dengan ujung hidung; membubuhkan tatapan polos dengan rias bibir penuh yang terlihat merekah. Jimin dianugrahi tanpa reflek hingga rongga kerongkongannya sanggup mencekik kelamin Jeongguk. Membuat Jeongguk melontarkan ucapan kotor kala tubuhnya dirayapi kenikmatan. Jimin tidak mengenal tempo; sengaja menggunakan gerakan berantakan untuk menghabisi Jeongguk.
Memainkan lidah, menggoda Jeongguk kala menyisakan kepala penis Jeongguk untuk dihisap. Meninggalkan decak suara menggoda; sebelum Jeongguk meledak dalam rongga mulut, ia memutuskan menjenggut helai rambut Jimin.
Yang kemudian disambut dengan pemandangan sensual, bagaimana bibir penuh Jimin merekah; bernoda liur dan pre-ejakulasi. Ada benang basah antara kelamin Jeongguk yang lembab dan mulut Jimin yang terbuka kehilangan.
“Hebat sekali, Jimin.”
Jeongguk menggantinya dengan jemari. Membiarkan digit jemarinya memainkan lidah Jimin yang semakin menodai bibir penuh dengan ludah. “Hebat sekali mulut yang sering berkata lemah lembut ini ternyata juga hebat dalam meghisap kelamin,”
“Atau mungkin lubangmu yang lain juga memiliki kemampuan yang sama?”
Jimin mengangguk, antusias. Meneken pergelangan tangan Jeongguk untuk menggerakan jemari mencabuli lidahnya. Dengan derak yang sama seperti kala Jimin membasahi kelamin Jeongguk dengan lidah.
“Lubang analku jauh lebih hebat, Jeongguk.”
Ucapan sugestif Jimin dibarengi dengan cara lelaki cantik itu segera memposisikan diri secara nakal; wajah menyaruk ranjang dan bokong membusung, secara binal menggoyangkan pinggul dan memberikan wajah memohon, menggigit bibir—merayu Jeongguk untuk melakukan perbuatan cabul.
“Jeongguk,”
Nalar Jeongguk menyerpih menjadi debu, kala namanya dielukan sarat nafsu. Jemari yang sedari lembab menari di atas kulit pinggang, beralih menjadi satu tamparan ke arah bongkahan. Menyisakan jejak memerah sebelum membubuhi dengan remasan gemas. Jeongguk pun tidak absen dalam membubuhkan ciuman di sepanjang lengkungan punggung; mengucap pemujaan dalam selipan gigitan.
“J-Jeongguk—“ Jimin memanggilnya dengan rintihan; ketidaksabaran untuk segera diperlakukan secara cabul. Bahkan tidak sekalipun memprotes kala Jeongguk tidak menghangatkan jemari dengan pelumas, sebelum menggoda Jimin sedang menarikan ujung jemari pada lekuk yang merekah.
“Ayo bilang, Ji.” Satu digit jemari; memainkan tempo dengan sedikit tergesa sebelum bertambah menjadi dua. “Bilang gimana rasanya dilonggarin dengan jemari,”
“Mmm—Jeongguk,” Cara celah Jimin mencengkeram jemari menjadikan Jeongguk mendesis, sebelum tanpa ampun menekuk jemari. Menghajar telak pada satu titik yang membuat paha Jimin gemetar serta merta membuat celahnya merapat.
“Enak?” Dua digit menjadi tiga, “apa enak banget?”
Jika boleh dikatakan bahwa jemari Jeongguk mampu membuat Jimin kehilangan wicara; namun Jimin tidak pernah puas, tidak ada yang menandingi kepuasan kala digempur dengan kelamin. Jimin mengais nafas, mengacak sprei dalam genggaman sebelum kembali merintih karena Jeongguk tidak mengenal belas kasihan ketika memainkan diri.
“Enak. Ahh, ayo terus longgarin, Jeongguk—“
“Oh,” bagaimana Jeongguk menyeringai, mengubah tempo menjadi lebih perlahan namun menghujam telak. “Nakal banget.”
Kala Jimin merasa begitu terdorong hingga puncak, secara kejam Jeongguk menghentikan ministrasi. Merengguk rintih kecewa dan desau kacau Jimin sebab gagal meraih ekstasi. Pun kelamin Jimin berkedut, menetesnya caira pra secara mengenaskan ang membuat Jeongguk tertawa; ada perasaan superior tatkala membuat Jimin menjadi gelisah dikemudikan nafsu.
“Jeongguk,” Jimin merengek, lagi. Kali ini mencoba lebih provokatif dengan menarik dua bongkahan bokongnya sendiri. Memberikan Jeongguk pemandangan celahnya yang memerah, basah dengan pemulas dan bergerak mengundang untuk dicabuli.
“Minta yang bener, Jimin.”
Mungkin Jeongguk tersedak ludahnya sendiri kala mendengar Jimin berucap, “mau dibikin enak sama Jeongguk.”
Bahkan Jimin begitu hilai memainkan ekspresi, mengulang kalimatnya dengan wajah lebih cabul, “dibikin enak sama penis Jeongguk sampe tolol,”
Sekalipun dibutakan gairah pun Jimin masih mengetahui bagaimana cara mendorong Jeongguk menyerah pada nafsunya, untuk berhenti bermain-main dan segera menyetubuhi secara hewani sebab Jimin tidak sanggup untuk menunggu lagi.
Tergesa memasang pengaman sebelum menghadiahi bongkah kenyal Jimin dengan tepukan gemas, Jeongguk secara perlahan menarikan keras kelaminnya diantara belah bongkahan sebelum akhirnya memberikan pengampunan dengan menerobos celah Jimin. Perasaan penuh; sedikit rasa terbakar sebab mengakomodasi benda keras yang lebih besar daripada tiga digit jari.
“Enak?”
Cara Jeongguk memainkan intonasinya seolah meremehkan, membuat Jimin mendesah—secara reflek merapatkan celah untuk mencengkeram kelamin Jeongguk. “Enak ya dilonggarin sama penis gini? Enak mana sama jari?”
Jimin tidak mampu memjawab sebab wicaranya tercecer menjadi repetisi desau dan rintih. Sedang Jeongguk menggempur tanpa ampun, menajdikan pinggang Jimin sebagai pegangan yang menimbulkan bekas kemerahan kala esok hari. Ujung tumpul kelamin Jeongguk nyaris tidak pernah meleset kala menganiyaya titik nikmatnya, menjadikan bola mata Jimin bergulir dan mulutnya mendesau tanpa suara.
Enak sekali.
Cara Jeongguk menjenggut rambutnya, memaksa sebagian tubuh Jimin terangkat. Merasakan bahwa Jeongguk menusuknya telak, gerakan pinggul yang menggila sedang Jimin kacau dalam ekstasi nafsu. Mungkin benar adanya; jika Jimin yang cemerlang di atas segala prestasi mampu begitu tolol hanya dengan kelamin yang menyutubuhinya dengan menggila.
Namun bukan Jeongguk apabila ia tidak mengerjai tubuh Jimin, mengulangi lagi kesengajaannya melepas kontak kala celah Jimin meremasnya dengan erat—memberikan kode bahwa Jimin nyaris kembali mencapai puncak. Perasaan puas memenuhi rongga dada kala Jimin merintih, mengais pengampunan hingga air mata menitik pada pipi.
“Jeongguk,” Jimin mengalungi bahu sang lelaki ketika punggungnya dihempas bertemu ranjang. “Anjing—hh,” mengumpat begitu keras sedang lelakinya mengerjai pucuk dada. Merasakan betapa menyiksanya puncak yang tertahan sekaligus ledakan ekstasi dari ministrasi yang dilakukan Jeongguk.
“Hush,” jika jemari Jeongguk menyusur bibir Jimin yang basah dan menikmati raut wajahnya yang tersiksa. “Anak baik gak boleh ngomong jorok, Ji.”
Akhirnya Jeongguk memberi pengampunan dengan menautkan kembali kelaminnya pada celah Jimin, membiarkan paha sekal Jimin dijadikan tumpuan dorongan sedang bibirnya mengecupi seluruh wajah. Saling bertaut nafsu Jimin meledak tanpa perlu disentuh; meneriakkan melodi kosong sebab sekujur tubuh terlalu bereaksi dengan kenikmatan, mengotori bagian tubuh mereka dengan cairan lengket dan Jeongguk yang menggeram sebab celah Jimin meremas kelaminnya tanpa main-main.
“Keluar di muka aku, Jeongguk—“
Jimin yang meminta, sengaja mengetatkan celah sebelum memasang ekspresi ingin dinodai; mulut terbuka malu-malu dan lidah menjulur serta mata memohon membuat Jeongguk mengumpat. Menarik diri dan melepas pengaman secara sembarangan sebelum memberikan satu dua kocokan pada kelamin dan meledak; mengotori wajah Jimin—bibir penuhnya ‘tak luput pula dari mani.
Apabila seksi senggama yang menggila, pun dibalas dengan after sex yang luar biasa. Bagaimana Jeongguk selalu telaten membubuhkan ciuman dan ucapan cinta di sekujur wajah Jimin yang dibalas tawa gemas. Bagaimana akhirnya mereka menikmati sesi mandi bersama dengan air hangat yang kemudian berakhir dalam tautan pelukan domestik menjelang tidur.
“Sayang Jimin,” salah satu yang disukai Jeongguk adalah mengucapkan perasaan, kala mereka saling menautkan diri dalam pelukan, kala ia dan Jimin beraroma sama. Begitu pula mengenai Jimin yang merangsek, mengusap pipi gembil pada dada Jeongguk—mencari kenyamanan.
“Mau bilang,” Jimin tertawa kecil kala Jeongguk membubuhkan kecupan pada rambutnya. “Sayang Jeongguk juga,”
.
.
Dan raungan alarm yang ketiga kali tampaknya berhasil menarik Jimin dari alam mimpi; yang kemudian direaksikan dengan kekagetan luar biasa. Meski tubuh Jimin terasa remuk, namun dengung alarm yang bercampur kepanikan sebab hanya ada satu kata yang terlintas dalam benak.
Terlambat.
“Jeongguk, heh Jeongguk,” Jimin bersusah payah menggoayangkan Jeongguk yang masih melingkari selimut di sebelahnya. “Jeongguk, demi Tuhan ini terlambat.”
Bayang-bayang kepanikan; sekaligus ketakutan oleh rasa malu apabila terpergok terlambat berdua dengan Jeongguk merayapi kulit Jimin. Menjadikannya semakin brutal dalam membangunkan lelaki yang masih digeluti mimpi di sebelahnya.
“Jeongguk!”
Agaknya seruan yang dicampuri tepukan kencang pada bahu Jeongguk berhasil membuat lelaki itu menggeliat. Menggumam tidak jelas sebagai bentuk protes karena terganggu, agaknya kurang begitu peduli dengan Jimin yang panik.
“Hari libur, Jimin.” Jeongguk memilih melingkarkan sebelah tangan pada pinggang mungil, mengusak wajah mencari kehangatan pada perut halus Jimin. “Hari ini tanggal merah,”
Oh.
Dan Jimin tertawa. Justru menghadiahi bahu Jeongguk dengan tepukan lagi sebab ia malu, mengingat bahwa mereka berkomitmen untuk tidak bercinta kala hari kerja—pergumulan pasti dilakukan secara luar biasa dan tidak ingin menciderai profesionalisme dengan Jimin yang terpincang atau rona mesum yang masih tertiggal pada wajah Jeongguk.
Terlebih malu berkali lipat sebab semalam terlalu sibuk menunggangi nafu hingga terlewat mencegah alarm meraung merusak waktu istirahat.
“Jeongguk,” Jimin masih tertawa kecil namun membiarkan diri menjelajah helai rambut Jeongguk yang mengembang lucu sebab tidurnya. “Maaf ya,”
Jeongguk menggumam, mengeratkan pelukan.
“Aku akan membuat sarapan,”
Jika Jeongguk menolak dengan rengekan halus, maka Jimin tidak memiliki kuasa untuk menolak. “Masih ada beberapa jam lagi, Jimin.”
“Kepalang tanggung lho,”
Semuanya terasa begitu domestik selama beberapa saat, hingga Jeongguk menangkup tangan Jimin yang masih setia memainkan helai rambut. Membawanya untuk membubuhi buku jemarinya dengan ciuman.
“Jimin,” Jeongguk bahkan masih memejamkan mata namun agaknya bibirnya begitu hafal dengan setiap jengkal tubuh Jimin. Jeongguk mengecup pelan telapak tangan si lelaki mungil, sebelum berucap “menikah denganku, ya?”
Jimin tertawa kecil; meski jantungnya secara tiba-tiba jatuh ke arah lutut. Pertanyaan Jeongguk adalah retorik sebab keduanya sama-sama mengetahui satu hal yang pasti.
“Katakan dengan benar ya, Jeongguk? Mungkin akan kupertimbangkan jawabannya,”
Jika Jeongguk melempar tanya retorik dalam canda; racauan seorang yang belum genap nyawanya ketika bangun tidur maka Jimin pun menjawab dengan sama bercandanya.
.
.
Beberapa minggu kemudian Jeongguk bersungguh-sungguh menepati ujaran Jimin. Kala itu memang Jimin dibenarkan untuk mengambil lebihan waktu; mengerjakan laporan dengan tempo lembur. Seperti biasa jika Jimin memonopoli waktu pulang, Jeongguk akan mengirim kotak makanan. Atau mungkin kudapan.
Hanya saja kali ini Jimin sedikit dibumbui heran sebab kudapan Jeongguk datang terlambat, bahkan ketika jam lembrnya hampr usai.
“Jeongguk,” mengampiri dengan pelukan dan ciuman dikedua pipi. “Terima kasih. Demi Tuhan aku lapar sekali,”
Namun Jimin tiada memperhatikan bahwa ekspresi Jeongguk sesungguhnya dipenuhi debar gugup. Debar itu bahkan menggila kala Jimin membuka kotak donat dan menemukan kotak cincin di dalamnya, alih-alih donat yang begitu diidam-idamkan perutnya yang meraung kelaparan.
“Jimin,”
“Menikah denganku, ya?”
Manusia dan segala kerumitan emosinya yang lucu; bahwa Jimin menemukan diri tertawa kecil tatkala melihat kemilau cincin. Sekaligus kejora netranya membentuk sungai hangat yang mengaliri kedua pipi. Mungkin Jimin telah mengantisipasi, namun perasaan bahagia yang membanjir secara tiba-tiba tatkala mendengar; mengalami momentum dimana Jeongguk secara resmi meminta lembar kehidupan baru dengannya.
Ibu jari Jeongguk terasa begitu hangat, menyepuh air mata bahagia yang masih terus menerus turun. Bahkan semakin beriringan dengan tawa kecil Jimin yang merenyah kala Jeongguk menyematkan cincin berkilauan pada jari manisnya. Lalu membubuhkan satu ciuman hangat di atasnya.
“Apakah aku harus resign jika menerimanya?”
Dan Jeongguk tertawa. “Ya, Jimin.”
Jimin menjawab dengan tangkupan pada belah pipi Jeongguk, mengucapkan kata ‘iya, aku menerima’ secara perlahan di atas belah bibir lelakinya sebelum mengukuhkan ketersediaan Jimin dengan satu ciuman.
.
.
Bukan ciuman yang menggila, hanya dua belah bibir yang bertaut lembut. Dibumbui dengan kecupan tawa kecil sebelum kembali mengukuhkan bahagia dengan ciuman. Tidak ada frasa yang tepat untuk saling mengungkapkan ‘aku mencintaimu’.
Atau mungkin baik Jeongguk dan Jimin, memiliki satu bahasa yang dimaknai mereka sendiri dalam ciuman halus yang menghanyutkan. Atau mungkin ciuman adalah satu bentuk simbolis; pengkuhan rasa cinta, perasaan saling mengasihi diantara mereka.
Dan Jimin; tentu saja masih menagih makan malam sesudahnya. Jeongguk tentu saja, tidak keberatan.
