Work Text:
tidak pernah kusangka jika sampai saat ini, kamu masih ada bersamaku. kamu masih bertanya bagaimana kabarku, kamu bertanya apakah aku sudah makan atau belum, kamu juga bercerita kejadian konyol yang kau alami hari ini.
tidak pernah kusangka jika sampai hari ini aku masih membalas pesanmu, menjawab semua pertanyaan yang kau berikan padaku, dan terus merindukanmu.
hidup itu lucu, hari ini kamu membenci mereka, lalu besok kamu merindukan mereka. hidup itu lucu, selucu kamu yang tiba-tiba mendapatkan nilai A+ di mata pelajaran sejarah, padahal sebelumnya kamu selalu mendapatkan C+
hidupku juga lucu, selama aku mengenalmu, perasaanku dibuat naik dan turun olehmu. hidupku yang biasa-biasa saja, mulai berwarna secara perlahan akibat senyummu yang penuh keajaiban. dapatkah kamu memberitahuku mantranya? sepertinya aku juga bisa bahagia karena melihat senyummu setiap hari. namun sudah satu tahun aku tidak melihat wajahmu secara langsung, semangat hidupku semakin turun dari hari ke hari.
aku ingat bagaimana kesalnya diriku ketika kamu masuk ke ruang musik saat kita masih SMP. ketika aku sedang asyik bermain gitar dan bernyanyi, kamu tiba-tiba masuk dan bertepuk tangan. senyum polosmu itu mengembang dan kamu mengatakan, "suara kakak jelek, tapi aku suka lagunya" kalimat itu bahkan masih menggangguku sampai sekarang, aku memang tidak pandai bernyanyi, tapi apakah dirimu harus mengatakan hal itu secara langsung padaku? panahmu sungguh tepat sasaran, Jeon.
maaf ya, aku marah padamu saat itu, karena kau mengangguku. wajah sedihmu saat itu malah membuat hatiku sesak sekarang, namun apa yang bisa aku rasakan dulu? hanya emosi yang meluap sampai puncak kepala karena kau benar-benar membuatku kesal.
tapi kamu tidak berhenti disitu. kamu datang padaku, mengulurkan tangan sambil tersenyum, "halo Kak, aku Jeon Jungkook" sapamu di hari pertama perkenalan anggota club musik. kamu meminta maaf padaku atas apa yang kau katakan pertama kali ketika bertemu denganku. wajahmu terlihat sangat bersalah, jadi aku memaafkanmu. kamu juga pernah dengan bangganya berkata, "aku masuk club ini karena ingin berteman dengan Kak Namjoon"
yah, setidaknya keinginanmu untuk berkenalan denganku saat itu membuatmu jadi lebih mengerti dunia musik dan kini kau mahir dalam bernyanyi serta memainkan alat musik, aku bangga padamu.
aku juga ingat, ketika semua teman-teman seangkatanmu pergi ke kantin bersama, menghabiskan waktu istirahat bersama, kamu memilih pergi ke kelasku dan mengajakku makan denganmu. aku sempat bertanya, "kenapa kamu tidak pergi dengan teman-temanmu saja?" lalu kamu menjawab, "iya ini aku kan pergi dengan temanku. kak Namjoon kan temanku"
"maksudku, teman seangkatanmu, bukan aku" kamu menggeleng, "aku tidak punya teman"
sejak saat itu, aku mulai terbiasa dengan kehadiranmu. aku mulai tau banyak tentangmu, aku tau tentang ketakutanmu bertemu dengan orang baru, aku tau kau bisa bernyanyi, aku tau kamu menyukai pelajaran seni daripada Bahasa Korea, aku tau kamu pintar dalam bermain game.
aku tau semuanya. namun ketika kamu bertanya hal apa saja yang aku sukai, aku tidak bisa menjawab banyak. aku selalu menjawab, aku suka baca buku dan melihat pemandangan luar. aku tidak tau banyak tentang pribadiku sendiri, jika aku boleh jujur.
karena kamu hanya tau kalau aku menyukai buku dan alam, kamu pernah membelikanku buku cara merawat tanaman dengan baik dan benar sebagai hadiah ulang tahunku saat aku kelas 2 SMA. tentu saja aku tau bagaimana cara merawat tanaman dengan baik, entah apa yang ada dipikiranmu sampai kamu membelikanku buku itu, tapi aku tetap berterima kasih dan merasa senang. kamu tersenyum manis padaku saat kamu tau kalau aku senang menerima hadiahmu, walau sebenarnya yang membuatku senang adalah senyumanmu.
seperti yang aku katakan di awal, senyuman Jungkook itu seperti mantra yang bisa membuat siapapun bahagia sedetik setelah mereka melihat Jungkook tersenyum.
orangtuamu menyuruhmu untuk melanjutkan sekolah kejuruan, namun kamu menolak dan memaksa mereka untuk mendaftarkanmu di sekolah yang sama denganku. "aku tidak ingin sekolah jika aku tidak satu sekolah dengan Kak Namjoon" kamu sempat bercerita jika kamu mengatakan itu pada orangtuamu, lalu aku bercanda "apa kau segitu sukanya padaku?" tapi kamu tidak tertawa, ku pikir itu candaan yang lucu, namun ternyata tidak.
kamu diam dan pipimu perlahan memerah. disitu aku pun ikut diam, aku mulai berpikir apakah kamu menyukaiku? namun aku tidak mengatakan hal itu padamu. selama satu minggu kamu menjauhiku. ketika kita bertemu di waktu istirahat, kamu segera kembali ke kelas tanpa melihat wajahku. jujur saja, aku sangat sedih, baru pertama kalinya aku dijauhi olehmu, ternyata sehampa itu hidupku jika tidak ada kamu.
apa kamu ingat Seokjin? teman SMA ku, dia pernah menanyakan sesuatu tentangmu, "bagaimana tipe pacar idaman Jungkook?"
"kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu?" tanyaku pada Seokjin. kami berdua sedang berada di kantin, kami tengah memakan nasi dengan telur dan juga Kimchi. "sepertinya aku menyukai Jungkook. kau ingat saat dia bernyanyi di pentas seni bulan lalu? wah, auranya benar-benar bersinar terang, seperti aku sedang bertemu malaikat" sesaat setelah Seokjin menjelaskan itu, niat makanku turun drastis, aku tidak lanjut makan dan hendak meninggalkan Seokjin.
tapi Seokjin berbicara lagi, "ayolah, beritahu aku. katanya kau tau semua tentang Jungkook" apa kamu bisa tebak apa yang aku katakan pada Seokjin setelah itu? aku berkata, "iya aku tau, tapi aku tidak akan memberitahukannya padamu"
"kenapa?"
"karena dia milikku"
Jungkook, kau harus percaya jika aku benar berkata seperti itu. aku benar-benar kesal mendengar Seokjin berkata ia menyukaimu. selama ini, tidak ada yang pernah mengakui jika mereka menyukaimu, jadi hal itu sedikit menggangguku. semalaman aku memikirkan ucapan Seokjin, lalu aku memikirkanmu. bagaimana jika Seokjin benar-benar menyukaimu dan ia mendekatimu tanpa sepengetahuanku? bagaimana jika kamu pun lebih memilih untuk menghabiskan waktumu dengan Seokjin daripada aku?
disitu aku menyadari perasaanku. aku menyadari jika aku tidak lagi melihatmu sebagai adik kelasku yang menggemaskan, aku menyadari jika candaanku yang membuatmu menjauh telah berbalik padaku, aku menyadari jika aku tidak pernah ingin melepaskanmu dan membiarkanmu jatuh pada pelukan orang lain.
ingatkah kamu, saat aku sudah kelas 3 SMA, aku mengajakmu pergi ke Busan menggunakan kereta dan kita pergi ke pantai bersama?
aku sangat ingat setiap kejadian yang kita alami di hari itu. bahkan, moment di Busan adalah moment yang paling aku ingat.
aku ingat bagaimana hangatnya tanganmu saat aku menggandengnya untuk yang pertama kali. jari-jarimu pas dengan jari-jariku, tanganmu menggenggam nyaman tanganku. sinar matahari senja yang ada tepat di hadapan kita, membuat kulit putihmu terlihat menjadi lebih indah, sampai tanpa sadar, aku memandangi wajahmu lebih lama dari biasanya.
kamu menoleh, lalu tertawa pelan. "kenapa kakak lihat aku? katanya kakak ingin lihat sunset" aku tersenyum, "ternyata aku lebih senang melihat wajahmu daripada melihat matahari terbenam" jawabku saat itu. kamu merasa malu dan segera mengalihkan pandangan matamu. menurutku, kamu sangat menggemaskan, sehingga aku memberanikan diri untuk memegang dagumu, membuat dirimu menatap kembali mataku. saat itu, aku tidak mengatakan apa-apa, jika kamu saat itu berharap aku mengatakan kata-kata yang romantis, maka maafkan aku, karena hal itu tidak terjadi.
tapi yang ku lakukan adalah memandangi matamu lalu turun ke bibir merah mudamu. bibirmu lucu, hanya kupandangi saja namun aku tau rasanya akan sangat manis jika aku mencoba untuk melumatnya. tapi pemikiran itu langsung kubuang jauh-jauh, jadi aku hanya menempelkan bibirku dengan pelan, takut membuatmu tidak nyaman. bibir kita hanya menempel, aku tidak ingin melakukan hal yang lebih dari itu.
hari itu, aku berhasil mengambil ciuman pertamamu, aku juga berhasil menjadikanmu sebagai ciuman pertamaku.
kamu tersenyum, ketika aku menjauhi wajahku beberapa inci darimu. setelah itu kamu memberikan kecupan singkat di pipi kananku, lalu mengucapkan kata "terima kasih"
tahukah kamu jika aku juga sangat berterima kasih padamu? karena kamu yang selama ini menemaniku, kamu yang membuatku bahagia. wah, Jeon Jungkook, kamu tidak sadar atas apa yang sudah kamu lakukan terhadapku. kau membuatku jatuh hati lebih dalam dan lebih dalam lagi setiap harinya.
andai aku bisa mengatakan itu secara langsung, andai saja.
badanku saja yang besar, tapi ternyata nyaliku masih sekecil kacang polong. aku bahkan tidak bisa mengatakan "aku mencintaimu" sampai sekarang, tapi aku yakin kamu mengerti jika aku sangat mencintaimu, kan? ya, aku harap kau mengerti.
melihatmu di acara kelulusan SMAku, membuat aku bahagia. kamu berdiri di antara para anggota paduan suara, bernyanyi dengan indah untukku dan teman-teman satu angkatanku hari itu. Jungkook, aku berhasil, nilaiku memuaskan.
selesai acara, kamu berlari menghampiriku dan dengan segera membawaku ke dalam pelukanmu. aku hampir tidak bisa bernafas karena kamu memelukku terlalu erat, tapi tidak apa, aku suka setiap kali kamu memelukku. "selamat atas kelulusanmu, anak pintar. tunggu aku ya" ucapmu, ditengah-tengah pelukan kita. aku mengangguk, aku pasti menunggumu lulus dan setelah itu kita akan menjalani hidup kita berdua sebagai orang dewasa yang saling jatuh cinta.
begitu harapanku saat itu.
berharap kita bisa menikmati waktu kita sebagai pasangan. aku berencana untuk menyatakan perasaanku setelah kamu lulus SMA, tapi ternyata ketika aku baru menjalani beberapa bulan sebagai mahasiswa baru, aku mendapatkan pesan jika kamu diterima sebagai trainee di salah satu agensi besar. kenapa kamu tidak pernah cerita padaku jika kamu mengikuti audisi?
aku tau soal impianmu yang ingin menjadi penyanyi, tapi aku tidak berpikir kau akan mengambil keputusan secepat itu?
"aku ingin mengejutkan kakak, jadi aku tidak cerita apapun. aku harap kakak juga senang mendengar berita ini" kamu berbicara padaku lewat sambungan telefon di salah satu malam di bulan Agustus. "tentu aku senang. apapun yang buat Jeon Jungkook bahagia, Kim Namjoon juga pasti bahagia"
"Kakak, pokoknya setelah kakak lulus kuliah, kakak harus kerja di agensi ini ya? bekerjalah sebagai producer disini. kemampuanmu dalam membuat lagu itu luar biasa, aku ingin mendengar lagu-lagu buatan kakak lagi" kamu bahkan menawarkanku untuk bekerja di agensi yang sama denganmu. tentu saja aku mau, aku akan melakukan sebaik mungkin agar aku bisa diterima disana sebagai producer. aku juga selalu berharap dan meminta pertolongan pada Sang Maha Kuasa agar kamu bisa cepat debut.
walau aku tau, jika kamu debut maka tidak akan ada lagi waktu untuk kita bertemu seperti dulu, tapi aku lebih ingin melihat dirimu bahagia di atas panggung. aku tidak menahanmu, kamu bebas melakukan apapun, aku disini hanya bisa mendukungmu, Jungkook.
3 tahun, terlewati dengan mudah. tidak terasa, tahun ini adalah tahun ketiga kamu menjadi trainee. kamu mengatakan padaku jika 2 bulan lagi kamu akan debut menjadi seorang idol, jadi kamu tidak ada waktu untuk pergi kemanapun kecuali asrama dan kantor.
hari ini, aku memutuskan untuk memberimu kejutan. tidak secara langsung, aku hanya ingin memberimu bunga dan juga beberapa hadiah kecil yang mungkin kau akan suka.
siang ini aku sudah menyiapkan beberapa barang yang akan aku bawa ke kantormu. setelah itu, aku pergi hendak membeli bunga. kau mengatakan hari ini kamu akan pulang lebih cepat, jadi aku juga harus bergegas menitipkan hadiahku di resepsionis agensi itu agar kau bisa menerimanya sebelum pulang.
maka dari itu, hari ini aku bergegas keluar untuk membeli bunga. aku tidak tau bunga apa yang kau suka, jadi aku memilih bunga yang menurutku cantik, bunga yang sama indahnya dengan dirimu.
sepanjang jalan, aku melihat kendaraan berlalu-lalang di jalan raya. aku melihat beberapa siswa berseragam pulang bersama dengan teman-teman sekolahnya, mengingatkanku akan masa-masa ketika kita sekolah, kita juga selalu pulang bersama. tidak lupa, terkadang kita mampir ke game arcade dan menghabiskan uang jajan hanya untuk mengambil satu boneka di mesin pencapit.
bersamamu, aku jadi bisa membuat kenangan indah di masa remaja.
waktu ku tidak banyak, jadi aku melangkah lebih cepat, dan langsung menyeberang jalan ketika aku melihat bus berhenti di halte seberang. hal itu kulakukan karena aku tidak ingin tertinggal bus dan membuang waktu lebih lama, jadi aku tidak fokus pada kendaraan yang melaju dengan kecepatan yang lumayan cepat.
tubuhku dihantam olehnya, membuat aku terlempar tidak jauh dari zebra cross. aku bisa mendengar orang-orang terkejut dan segera menolongku, aku berpikir aku sudah mati, namun ternyata mataku masih mampu ku buka perlahan.
aku terkejut, badanku terasa remuk, namun aku masih punya energi untuk membuat tubuhku berdiri kembali. "anda tidak apa-apa?" begitulah yang ditanyakan oleh orang-orang disekitarku, aku hanya mengangguk lalu cepat menaiki bus sebelum kendaraan itu pergi.
jujur saja, kepalaku sangat pusing dan aku tidak bisa berdiri dengan seimbang. selama perjalanan, aku hanya bisa menutup mataku, terkadang mengecek notifikasi darimu.
aku tersenyum, melihat layar kunciku yang menunjukkan foto kita berdua saat terakhir kita bertemu. engkau tersenyum di foto itu dan menunjukkan gigi kelincimu yang membuat pesonamu meningkat. tidak heran ketika fotomu di posting di sosial media sebagai member dari sebuah idol group yang akan debut, kau mendapatkan banyak pujian karena parasmu yang sangat tampan.
bus ini berhenti beberapa menit setelah aku duduk disini. kami berhenti di gangnam, dan aku pun ikut turun karena kantor agensimu ada di daerah ini.
ketika aku turun dari Bus, aku hampir terjatuh. untung saja, ada orang baik yang menolongku dan bertanya apa aku baik-baik saja. aku mengatakan bahwa aku baik-baik saja, walau sebenarnya aku merasa sangat pusing saat ini. beberapa detik lelaki tersebut terdiam, lalu ia berbicara lagi, "Mas, ada darah mengalir dari hidungmu" mendengar itu aku mengusap lubang hidungku dan benar saja. darah keluar dari hidungku, padahal aku tidak pernah mengalami ini sebelumnya.
seseorang yang membantuku tadi segera memberiku tissue sebelum ia pamit pergi meninggalkanku. aku menahan lubang hidungku dengan tissue, mencegah darah itu keluar lagi.
tak perlu waktu lama untukku sampai di kantor ini, aku segera membuka pintu dan mengucapkan salam selamat siang. "apa anda punya janji, Tuan?" tanya resepsionis itu padaku, aku menggeleng "aku hanya ingin memberikan ini untuk Jeon Jungkook" aku memberinya satu tas karton berukuran sedang.
"tolong beri ini padanya, katakan pada Jungkook bahwa ini dari Namjoon" sang resepsionis mengangguk lalu menerima tas itu dari tanganku. setelah aku mengucapkan terima kasih, aku keluar dari kantor itu dengan segera.
aku tidak tau apa yang terjadi padaku, sampai saat ini, kepalaku masih terasa pusing, tubuhku lemas, dan darah tidak berhenti mengalir keluar dari hidungku. begitu aku sampai di apartemen, aku langsung pergi ke kamar mandi. aku mengecek seluruh tubuhku, tidak ada luka apapun. tanganku baik-baik saja, kaki juga.
namun ternyata, selain hidung, kepalaku sejak tadi sudah mengeluarkan darah. memang sih, kepalaku terbentur cukup keras tadi, tapi aku berpikir aku baik-baik saja.
aku mencari betadine atau obat lainnya yang dapat membuat darah ini berhenti mengalir, namun aku tidak memilikinya satu pun.
tanganku bergetar hebat, aku bahkan tidak bisa memegang gelasku yang kemudian mengakibatkan gelas tersebut jatuh dan pecah.
aku baik-baik saja.
aku pasti baik-baik saja.
aku terus berpikir bahwa aku baik-baik saja. aku hanya mengalami kecelakaan biasa, bahkan aku tidak mati, jadi aku pasti bisa pulih. aku kembali ke kamar, meringis kesakitan namun tetap memaksa untuk mengambil ponselku yang ku taruh diatas kasur, lalu menghubungi nomormu.
[halo? Kak Namjoon?]
mendengar suaramu yang lembut saat ini, membuat aku merasa tenang.
"hai, apa kau sudah menerima hadiahku?"
[hadiah? hadiah apa?]
"oh, kau belum menerima itu rupanya"
[kakak titipkan ke siapa? resepsionis?]
"iya, coba ambil darinya"
[oke, sebentar ya!]
aku tersenyum, menahan rasa sakit yang aku rasakan di kepalaku. aku bisa mendengar Jungkook berlari lalu ia berbicara dengan seseorang, menanyakan apakah ada barang yang dititipkan oleh lelaki bernama Kim Namjoon.
[Kakak, aku sudah menerimanya!]
[waaah, kau bahkan memberikan aku bunga. bunga ini sangat cantik]
"kau suka?"
[tentu saja]
"baguslah kalau kau suka. aku juga memberimu buku dan beberapa foto kita yang masih aku simpan di kameraku"
[kak, kenapa kakak tiba-tiba seperti ini? jangan membuatku menangis]
aku tertawa pelan mendengar ucapanmu. Jeon Jungkook, kenapa kau begitu menggemaskan?
"kamu akan debut dalam waktu dekat, aku takut aku tidak bisa sering-sering bertemu denganmu, jadi aku memberikan itu agar kamu bisa terus mengingatku"
[tentu aku akan mengingatmu, aku tidak bisa melupakanmu satu hari pun]
"iya aku percaya"
setelah itu, kita tidak berbicara lagi. kamu juga belum menutup sambungan telefon ini. tanganku terus bergetar, energiku seperti terkuras banyak, aku juga sudah mulai susah bernafas.
"Jungkook..."
[hm?]
"kau tau aku mencintaimu, kan? aku sungguh mencintaimu, Jeon. maaf aku tidak pernah mengucapkan kata itu sebelumnya, tapi aku ingin kamu ingat kalau aku hanya mencintai satu orang, dan itu dirimu"
"setelah ini, aku ingin kamu fokus pada pekerjaanmu. bila aku tidak membalas pesanmu, kamu jangan khawatir, mungkin aku sibuk. aku juga akan menunggu pesanmu, aku akan menunggu telefon darimu."
[kakak? kakak kenapa?]
"ada apa denganku, aku baik-baik saja"
[suaramu bergetar]
"suaramu juga bergetar"
[itu karena aku sedang menangis]
[aku akan fokus dengan debutku, kakak jangan khawatir ya. pikirkan saja kuliah kakak saat ini, kakak harus fokus dengan kuliahmu ya. janji padaku, kau akan bekerja disini kan?]
"aku janji"
aku tidak tau, Jungkook. aku tidak tau apa aku bisa memegang janji itu atau tidak. aku takut aku akan mengecewakanmu.
[maaf kita belum bisa menghabiskan waktu sebagai orang dewasa yang saling jatuh cinta, seperti yang kau harapkan dulu. tapi aku janji, aku juga akan menunggu waktu yang tepat untukku agar aku bisa menghabiskan waktu lagi denganmu]
[ayo kita ke Busan lagi lain kali, kita nikmati kembali matahari senja disana, Kak]
aku mengangguk, walau kamu tidak dapat melihatnya.
"ya sudah, ku matikan telefonnya ya, aku tidak ingin mengganggu jadwalmu"
[iya. nanti malam aku hubungi kakak lagi]
"Jungkook.."
[kenapa lagi, kakak?]
aku menghela nafas, kepalaku semakin terasa pusing, padanganku mulai terbelah dua.
"tidak apa-apa. aku mencintaimu, Jungkook"
[aku juga mencintaimu, Kak Namjoon]
aku menjauhkan ponsel dari telingaku, lalu mematikan sambungan telefonnya.
setelah mematikan telefon, aku membaringkan tubuhku, lalu menatap langit-langit kamar ini dan mulai memikirkan masa depanku dan juga dirimu.
Jungkook, tiada hari yang ku jalani tanpa memikirkanmu. setiap jam aku memikirkanmu, memikirkan hubungan kita, aku tidak yakin kita bisa melalui ini, namun aku percaya pada perasaanku dan juga aku percaya padamu.
katakan padaku jika ada seseorang yang menyakitmu, aku akan melakukan apapun untuk melindungimu, malaikatku.
kamu mengatakan jika kamu akan menghubungiku nanti malam, maka aku segera menutup mata agar waktu bisa berlalu dengan cepat.
namun, ketika aku menutup kedua mataku, aku tersadar jika tidak ada hari esok untukku di dunia ini. disini aku menyesal, seharusnya aku memilih untuk tetap membuka mataku dan setidaknya mengirimkan mu pesan selamat tinggal atau menitipkanmu pada Seokjin.
setidaknya, laki-laki itu bisa menjagamu saat aku tidak ada.
tapi aku terlambat.
aku terlalu bodoh untuk menyadari hal-hal seperti ini.
Jeon Jungkook, maafkan aku.
———
sudah 5 tahun berlalu sejak kakak pergi meninggalkanku.
kakak berjanji kakak akan bekerja disini, kakak berjanji kakak akan terus menemaniku disaat suka maupun duka.
kita memang sudah bersama sejak lama, tapi kenapa aku merasa waktu yang ku habiskan bersamamu itu sangat sebentar.
kakak bilang, jika kakak tidak membalas pesanku, aku tidak boleh khawatir.
hari itu, aku benar-benar tidak khawatir, bahkan saat aku menelfonmu di malam hari, kamu tidak menjawabnya. aku tidak berpikir apapun, karena kamu mengatakan kalau kamu sibuk kuliah. aku mengerti keadaan kakak, karena aku sendiri juga sibuk.
aku masih menjalankan hari-hariku dengan tenang, menunggu balasan darimu yang masih belum kakak kirim sejak hari itu. aku sungguh tenang, sampai akhirnya, Kak Seokjin menghubungiku.
aku berpikir dia akan bertanya dimana kakak, karena memang itu yang biasanya ia tanyakan padaku. tapi saat itu, aku mendengar suaranya yang memelas, membuat pikiranku memikirkan hal-hal yang tidak baik.
tubuhku lemas, kakiku tidak kuat lagi untuk berdiri. ponselku ku biarkan jatuh begitu saja, ketika aku mendengar Kak Seokjin berkata, "Namjoon sudah tidak ada, Jungkook. ia sudah pergi, sejak kemarin"
teman-temanku yang melihatku menangis ketika kami sedang istirahat di ruang tari, langsung menghampiriku dan bertanya apa aku baik-baik saja.
sambungan telefon Kak Seokjin sudah ia matikan, aku tidak melihat ponselku dan sibuk menangis. Kak Hoseok, member tertua di group ini, mengambil ponselku dan membaca pesan dari Kak Seokjin
"Jungkook, orang yang bernama Kak Seokjin ini ingin kamu datang ke rumah duka besok" aku masih menangis, aku tidak percaya jika kakak pergi secepat itu. bahkan kemarin aku masih mendengar kamu berkata kata Cinta. Kak Namjoon, apa kalimat itu adalah yang pertama dan yang terakhir aku dengar darimu? Kak, aku masih ingin mendengarmu mengatakan padaku jika kamu sangat mencintaiku.
aku ingin mendapat kabar kalau kamu lulus dengan nilaimu yang memuaskan, aku ingin mendapat kabar kalau kamu diterima kerja di suatu tempat, tidak apa jika itu bukan di agensiku, aku ingin mendapat kabar jika kamu berhasil menjadi seorang producer atau penulis lagu.
aku hanya ingin mendapat kabar seperti itu, bukan kabar jika kini kamu sudah beristirahat dengan tenang di atas sana.
sulit bagiku untuk melepaskanmu.
bahkan ketika aku sudah sukses debut, ketika penggemarku sudah mulai banyak dari dalam dan luar negara ini, aku masih memikirkanmu.
5 tahun, Kak.
bahkan sampai 5 tahun ini, aku masih bertahan dan menunggu kamu kembali walau aku tau itu tidak akan mungkin terjadi.
aku tidak tau penyebab kematianmu, namun Kak Seokjin mengatakan jika kamu mengalami pendarahan. ada bagian yang rusak di kepalamu, apa itu terjadi di hari yang sama kamu pergi ke kantor agensiku?
apa itu terjadi ketika kakak hendak pergi kesana dan mengalami kecelakaan? itu sebabnya suaramu bergetar dan terdengar lemas saat kakak menelfonku? Kak Seokjin bilang, andai saja kakak mengabarinya, mungkin Kak Seokjin akan menolong kakak sebelum terlambat. andai juga kakak mengatakan yang sebenarnya padaku, aku juga pasti akan menolongmu, namun kakak lebih memilih menghubungiku sambil menahan rasa sakit.
jika kakak tidak baik-baik saja, kenapa saat itu kakak katakan kakak baik-baik saja?
hidupku sudah seperti ini, sulit untukku kembali dan mengubah keadaan. aku sudah terperangkap, jika aku mencoba keluar, aku akan membuat seluruh anggota groupku masuk dalam permasalahanku.
kakak, apa kakak ingat saat kita SMA, kakak mengatakan padaku bahwa kakak akan membuatkanku sebuah lagu? aku selalu menunggu hasilnya, tapi sampai saat ini aku tidak pernah bisa mendapatkan hasilnya secara utuh.
tapi setidaknya, aku bisa mendapatkan sebagian dari lagu ini. Kak Seokjin menemukan flashdisk di meja mu dan itu bertuliskan bahwa flashdisk itu adalah milikku.
Kak Seokjin memberikan flashdisk itu padaku, dan isi flashdisk itu hanya satu file MP3 dengan judul "untuk Jungkook"
aku tidak mendengar suaramu di dalam musik ini. aku hanya bisa mendengar melodi yang kau buat, membuatku menangis ketika pertama kali aku mendegarnya. saat itu 6 hari setelah kepergianmu, aku menangis seharian di studioku dan teman-temanku semuanya mengkhawatirkanku.
kakak, berkat kakak, aku bisa belajar lebih banyak mengenai musik. berkat kakak, aku bisa membuat sebuah lagu juga. hasilnya tidak sebagus melodi yang kau buat, tapi setidaknya aku bisa merasa puas akan apa yang sudah aku ciptakan.
saat ini, lagu yang aku ciptakan sudah aku rilis di platform souncloud.
aku menerima banyak pesan positif dari para penggemarku, mereka bilang jika aku memiliki talenta yang luar biasa, suaraku lembut sehingga bisa membuat mereka masuk ke dalam dunia mimpi.
tak sedikit juga yang mulai berteori jika lagu ini ku tulis untuk seseorang. ya memang benar, lagu ini aku buat ketika aku sedang memikirkanmu.
berharap aku bisa mengulang waktu, dan jika aku punya kesempatan, aku akan memelukmu kembali. tahukah kamu jika berada dalam pelukanmu adalah sesuatu yang sangat aku sukai? aku selalu ingin merasakannya lagi dan lagi, namun sayang, sepertinya aku bodoh karena mengambil keputusan untuk menjadi idol dan membuat kita menjadi dibatasi oleh benteng yang tebal dan tinggi.
seperti yang kau katakan, aku akan fokus pada pekerjaanku. tapi mungkin, jika aku sudah tidak tahan lagi, aku akan menyusulmu. kakak tidak boleh tahan aku ya! aku juga punya hak untuk melakukan sesuatu, apalagi jika itu berhubungan denganmu.
ketika aku mengatakan aku tidak akan melupakanmu, maka aku benar-benar tidak akan melupakanmu. terima kasih sudah menjadi seseorang yang terus menemaniku, yang membuatku bahagia, dan menjadi seseorang yang menjadi semangatku untuk memulai hari baru. aku percaya saat ini kakak masih ada bersamaku, walau kita berbeda tempat. aku disini, dan kakak ada disana bersama dengan para bintang lainnya, sedang memperhatikanku dari atas.
aku akan selalu mencintaimu, Kim Namjoon.
