Chapter Text
Renjun berangkat ke kantor hari ini tanpa minum susu kedelai favoritnya. Memulai hari dengan buruk pikirnya. Perjalanan 15 menit dengan bus menuju kantornya tidak terasa karena Renjun sibuk melamun. Renjun melihat kearah luar jendela, namun tidak memperhatikan apapun. Hari ini hanya akan jadi hari biasa yang akan terlewati seperti biasanya, pikirnya. Hari-harinya monoton, tapi dia suka. Dia suka bekerja di kantornya. Menghabiskan waktu tanpa terasa. Makan siang dengan bekal buatannya, mengobrol dengan bos dan rekan kerjanya. Renjun suka. Hanya rasanya, hidupnya datar sekali. Seoul….membosankan baginya.
Renjun terbiasa berangkat kekantor 1jam sebelum jam kerja dimulai, sehingga saat sampai, gedung perkantoran 15 lantai tersebut masih sepi. Kantornya hanya menempati 3 lantai saja, sisanya berbagi dengan kantor lain. Ruangan Renjun sendiri berada di lantai 9. Sesampainya di kubikel miliknya, Renjun membereskan bawaannya, dan mengeluarkan ponselnya. Membuka aplikasi Instagram, dan melihat pembaharuan dari teman-temannya. Banyak yang sudah menikah dan punya anak. Umur Renjun baru menginjak 27 tahun minggu lalu. Masih muda dan tidak iri. Orang-orang punya pace hidup masing-masing. Tiba-tiba suara ketukan pada kubikelnya terdengar, membuat ia menaikkan kepala dari ponselnya.
“Jun, kontrak konstruksi biasanya lo ‘kan yang pegang?” Tanya Jaehyun, salah satu seniornya.
“Ng..Kak, masih belom jam 8. Boleh gak nanti aja ngomongin kerjaannya?” Jawab Renjun.
Suara tawa terdengar dari Jaehyun, kemudian Jaehyun berbalik pergi menuju ruangan nya.
Masih sisa 15 menit sebelum jam 8. Waktu itu cukup untuknya meletakkan kepalanya sejenak. Kontrak konstruksi……Renjun malas sekali kalau harus menangani klien dengan kontrak konstruksi. Nilai kontraknya besar sekali, sehingga pihak-pihaknya sangat peduli pada hal sekecil apapun. Negosiasinya akan sangat lama. Belum lagi harus melibatkan pemerintah sebagai pihak mitra klien nya. Pusing sekali. Renjun sudah pernah mengurus Kontrak Konstruksi pada tahun pertama ia bekerja di kantor ini. Setelahnya, setiap kali ada klien dengan kontrak konstruksi, pasti diserahkan padanya. Renjun menghela napasnya. Ketika memulai hari dengan buruk, Harinya pasti akan berakhir buruk pula.
****
“Nilai kontraknya 100T Jun, kalo deal. Terus nilai kontrak sama kita 20M.” Jelas Jaehyun.
Renjun menyerngit heran, “Serius kak? Segitu aja? Nilai kontraknya segitu gede loh? Minimal 0,1% persen gak sih?” Tanya Renjun.
Jaehyun tertawa. “Itu buat lo aja kok Jun. Bersih. Buat kantor, 2 kali punya lo.” Jawab Jaehyun santai.
“Kak, tetep kurang masihan! Itu nego nya bakal susah banget, masa segitu aja?” Tawar Renjun lagi.
“Heh! Segitu aja apanya? Itu nilai kontrak lo udah paling gede tahun ini. Coba deh lo tanyain anak-anak, ada gak yang dapet 20M satu transaksi? Lo doang, Jun. Dan, gak pake nego kok. Lo Cuma jadi konsultan aja. Format kontrak udah dari pemerintah, diskusi dikit paling.”
“Kak…”
“Udah, gak usah bingung. Klien nya cakep kok, mana tau jodoh lo.” Jaehyun tersenyum jahil dan pergi meninggalkan ruang rapat.
Renjun menjatuhkan kepalanya ke meja. Jaehyun bisa sangat jahil disaat-saat seperti ini. Memang benar, tidak ada rekan kerjanya yang akan memiliki penghasilan sebanyak dirinya. Alasannya, tentu saja tidak ingin mengerjakan proyek ini. Renjun menghela napas kasar. Ponselnya berbunyi, tanda pesan masuk.
Jun, ketemu klien nya belom ditentuin kapan. Soalnya, Project Managernya sibuk banget. Tapi uda gue kasih nomer lo, ntar bakal janjian sama lo katanya. Bahan dari mereka uda gue forward ke email lo. Semangat, 20M! Habis ini lo uda gak perlu kerja lagi hahaha.
****
“Lo berangkat sekarang, Jun?” Tanya Jaehyun melihat Renjun sedang membereskan tas dan barang bawaannya.
“Habis gini kak, aku nunggu konfirmasi PM-nya kalo jadi siang ini. PMnya slow respond banget kak.” Jawab Renjun.
“PMnya tuh Engineernya langsung, Jun. Dia terjun langsung design bangunan sama survey site. Makanya sibuk. Lo sekalian makan siang disana ‘kan?” Lanjut Jaehyun.
“Kok tau banget, kak?”
“Dulu pas kuliah kita sering main futsal barengan sih.” Jawab Jaehyun terkekeh.
“Loh? Sekampus sama kakak?”
“Enggak, dulu kampus kita sebelahan. Lapangan futsalnya ‘kan ditengah-tengah, jadi ya, sering ketemu. Jago tuh dia, popular juga pas kuliah. Sampe sekarang sih HAHAHA.”
“Oke, terus?” Ponsel Renjun berbunyi, tanda pesan masuk. Renjun melirik layarnya. Dari “PM 20M”
“Ya siapa tau lo doyan? Manatau jodoh kan?” Kata Jaehyun sambil menaikkan alisnya. Nyebelin banget.
“Bos, ini udah confirm. Aku berangkat ya?” ucap Renjun. Jaehyun hanya tersenyum, melambai dan berbalik keruangannya.
**
Renjun sampai di gedung perkantoran milik kliennya 15 menit sebelum waktu perjanjian. Setelah menemui resepsionis dan menyampaikan maksud kedatangannya, Renjun dipersilahkan menunggu disalah satu ruangan. Sembari menunggu, Renjun membuka laptop dan mulai membaca draft kontrak yang telah dikirimkan oleh Jeahyun kapan hari. Sampai lewat 5 menit dari waktu yang dijanjikan, tidak ada tanda-tanda kehadiran dari orang yang ditunggu olehnya.
Tau gitu makan siang di kantor aja ini. Pikirnya. Renjun telah mengabari klien nya bahwa ia telah sampai dan pesannya masih belum dibaca. Resepsionis yang mengantarnya pun telah mengonfirmasi kehadiran siang ini. Jadi kemana kah klien nya ini tanpa kabar? Kalau memang klien nya ini sesibuk yang diceritakan oleh Jaehyun, bukannya ia masih bias mengirim orang lain sebagai perwakilan? Tapi ini baru 5 menit, mengapa ia sudah kesal sekali? Padahal ia sudah terbiasa memakan janji palsu jadwal meeting dengan klien.
Ponselnya bunyi, tanda pesan masuk. Renjun merogoh sakunya untuk melihat pengirim pesan dan mendapatkan nama salah satu temannya pada pop-up messages. Bukan klien nya.
Jun, tanggal 20 April ada Reuni SMA, di hotel deket sekolah dulu. Ikut gak? Malam minggu kok. Lu berangkat gue ya, jumat sore. Ambil flight yang jam 6 aja. Sekalian kan lu udah lama gak pulang kan?
Renjun menghela napas membacanya. Membalas dengan cepat.
Gak. Sibuk.
Dibalas dengan cepat pula oleh temannya.
Serius lu? Lu dari dulu gak pernah ikut reuni. Udah 10 tahun, gak kangen emangnya?
Dijawab lagi oleh Renjun.
Temen ku kan kalian-kalian aja, gak perlu buang-buang waktu dan uang buat ketemu orang yang aku gak kenal kan. Masalah pulang, aku bisa pulang kapan-kapan.
Dijawab cepat oleh teman nya.
Oke, bebas.
Udah 10 tahun, gak kangen emangnya? Kalimat itu terngiang di kepalanya. Mau kangen pada siapa juga, dia dan teman dekatnya masih tinggal cukup dekat. Tidak sering komunikasi atau ketemu, namun saat dibutuhkan, mereka ada. Apalagi Renjun, lebih sering menghilang, teman-temannya cukup pengertian padanya. Dan juga Renjun, juga ada disana saat ia diminta bantuan. Saling menguntungkan-tidak memberatkan sesama teman.
Renjun menghela napas keras. Melirik jam pada ponselnya, lebih 30 menit dari jam janjian. Tiba-tiba, pintu terbuka dan muncul seorang laki-laki berkemeja biru, rambut berantakan dan basah karena keringat, dan nafas terengah-engah.
“Lawyer ‘Oneiroi Lawfirm’ kan, Pak? Maaf pak telat, kita masih rapat yang lain di atas dan kebetulan masih belum selesai. Kalo bapak, makan siang dulu gimana? Sekalian nungguin PM saya selesai rapat.” Jelas pria tadi, masih berdiri di pintu.
“Oke, gak papa. Santai aja.” Jawab Renjun sambil berdiri dan mengikuti pria tadi.
“Saya Jisung, Pak. Sekretaris proyek, bapak yang namanya Pak Jaehyun?” ucap Jisung sembari masuk lift.
“Oh bukan, Kak Jaehyun itu atasan saya. Saya yang dikasih kuasa-eh tugas saya kurang lebih kayak PM kamu di proyek ini. Saya Huang Renjun. Saya pikir kamu PMnya tadi.” Menanggapi Jisung.
Mereka keluar lift dan sampai di ruang makan karyawan.
“Ogah pak, jadi PM. Jadi PM disini tuh tumbal banget pak. Kalo ada yang salah, yang disalahin PM, tapi kalo proyek lancar PMnya bahkan gak diingat pak. Eh, pak. Ini makannya buffet kantoran biasa. Gak papa kah? Kalo keberatan saya pesan yang lain aja. Gimana pak?” Tanya Jisung agak panik.
Renjun tersenyum,”Gak papa, santai aja. Saya kayaknya bakal kelaparan kalo harus nungguin kamu pesan makanan dulu, deh.”
“Aduh Pak, maaf ya. Harusnya ini tadi kita emang pesan antar makanan, tapi meeting sama yang di atas ternyata overtime, dan saya reflek bawa bapak kesini….maaf banget pak.” Ucap Jisung bersalah.
Renjun tertawa kecil, “Santai aja. Saya makan apa aja kok.”
Mereka berdua mulai mengantri makanan, yang antrian nya hanya menyisakan beberapa orang. Ruang makan pun sepi, karena telah lewat jam makan siang. Renjun hanya menerima saja lauk pauk yang diberikan padanya sambil ia memperhatikan sekeliling. Beda sekali dengan kantornya. Kantor ini jelas kantor besar. Satu gedung 20 lantai,milik satu perusahaan. Tidak seperti kantornya yang hanya menyewa dan berbagi gedung dengan kantor lain.
“Pak Renjun kayaknya masih muda ya? Gak keberatan kan pak saya panggil begitu? Maksud saya biar formal dalam urusan kerja sih, pak. Tapi kalo bapak keberatan-“
“Santai aja sama saya. Saya baru 27 tahun sih, tapi gak papa. Urusan profesionalisme emang yang utama. Saya senyamannya kamu aja. Pas kerja atau gak kerja manggil nama aja saya gak masalah kok.” Potong Renjun gemas. Jisung dari tadi sibuk merasa bersalah padanya. Dia sempat kesal sih, namun pria di depannya kini yang merasa bersalah dan panik menghilangkan kekesalannya.
“Loh Pak Renjun masih 27 Tahun? Seumuran sama PM saya berarti. Saya pikir bapak tadi seumuran saya sih…”
“PM kamu seumuran saya? Saya pikir seumuran atasan saya, soalnya beliau bilang mereka berdua teman sih ke saya.”
“Saya pikir juga gitu, soalnya Kak Je-bentar pak, saya angkat telpon dulu.”
“Halo, gue di ruang makan. Udah selesai meetingnya?”
“………” Jisung melirik Renjun.
“Oke, habis ini naik. Bye.” Tutup Jisung.
“Disuruh balik keatas?” Tanya Renjun, Jisung menangguk.
“Ngg, kak? PM saya nyuruh saya nganterin kakak balik aja. Soalnya rapatnya masih belum selesai. Takutnya kakak nunggu lama banget. Eh bapak maksudnya. Ini udah sejam juga.” Kata Jisung lemas.
“Oke, gak masalah. Saya balik aja. Oh iya, Ji, kamu tipe yang fast atau slow respond?”
“Biasa aja sih kak,eh pak. Kenapa pak?”
“Bisa saya berhubungan sama kamu aja buat janjian re-schedule meetingnya? PM kamu agak slow respond sih.”
“Boleh kok pak.”
“Santai aja pake kak gapapa kok. Kalo gitu, kamu gak usah nganterin saya balik. Anterin saya keruangan tadi aja.
Mereka berdua berjalan bersisian dalam keadaan hening menuju ruangan dimana Renjun meninggalkan tas miliknya. Jisung hanya berjalan sambil agak menunduk, Renjun hanya diam melamun hingga tidak terasa telah kembali keruangan semula.
“Kalo mau kamu yang offer jadwal gak papa kok, saya sampe proyek ini selesai gak ngerjain proyek lain juga soalnya, jadi kemungkinan available terus.” Ucap Renjun sambil membereskan barang bawaan nya.
“Oke kak kalo gitu, nanti saya diskusikan sama PM dulu kapan. Saya kabarin kakak secepatnya.” Ucap Jisung, Renjun hanya menangguk menanggapi.
Jisung masih berjalan bersisian dengannya sampai di depan lift. Jisung pula yang menekan tombol turun untuknya. Raut bersalah masih terpasang di wajahnya.
Ding.
Pintu lift di hadapan mereka terbuka, muncul satu orang pria dari baliknya.
“Ji, udah balik-“ ucapan pria tersebut terpotong, Jisung mengangguk padanya.
Renjun terdiam, agak kaget.
Pria tersebut berdeham. Mengulurkan tangannya setelah keluar dari box lift. Renjun tidak jadi menggunakan lift dibelakang pria tersebut.
“Saya Lee Jeno, Project Manager yang menghubungi tadi pagi. Maaf untuk penundaan meetingnya, padahal saya sendiri yang mengusulkan waktunya.” Pria tersebut,membungkuk maaf padanya. Renjun masih diam memperhatikan.
“Gak masalah, waktu saya cukup longgar untuk menunggu.” Jawab Renjun.
“Kebetulan sekarang saya longgar, kalau meetingnya jadi sekarang apakah ganggu?”
“Gak masalah.” Dibalas anggukan oleh Jeno. Mereka bertiga kembali keruangan tadi.
Jisung dan Jeno berbincang dan sesekali meliriknya, sedangkan Renjun hanya diam. Memikirkan suatu kemungkinan yang sangat ingin ia tolak.
Tidak lama mereka kembali keruangan tersebut. Namanya disebut.
“Renjun, bener gak?” Tanya Jeno.
Renjun hanya diam. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun.
“Bener kok.” Jawabnya pendek.
Senyum Jeno mengembang, eskpresinya menunjukkan ketertarikan.
“Gila, udah lama gue masih-“
“Ng, Sorry? Kayaknya lebih baik bahas ini dulu. Biar saya balik kesini lagi gak sia-sia.” Potong Renjun.
Jeno agak gelagapan. “Oke-oke, duduk, Jun.”
Meeting yang tadinya akan tertunda tersebut akhirnya terlaksana juga, walaupun telat 1 setengah jam dari yang diperjanjikan.
**
“Ini bakal saya periksa dulu lagi, kalo emang ada detil-detil aneh, bakal saya konfirmasi dulu ke Pak Jeno, biar bisa kita diskusikan baiknya gimana sebelum deal. Mungkin sebulan lagi udah bisa tanda-tangan buat deal. Gimana?” ucap Renjun.
“Tepat kok. Ini sekalian rancangan dari kita kemungkinan baru selesai juga sebulan lagi.”
“Oke, kayaknya ini sampai disini aja-sebentar saya angkat telp dulu.” Jeno mempersilahkan.
“Halo kak, kenapa?”
“Belom selesai rapat lo?”
“Ini mau aku tutup. Kenapa?”
“Gue di bawah, Bawa Jeno sekalian turun.”
“Oke.” Renjun menutup telpon dan menghadap kearah Jeno yang sedang menatapnya.
“Meetingnya sampai sini saja. Nanti saya kabari lagi. Oh ya, Kak Jaehyun nungguin di bawah. Terimakasih sudah mau meluangkan waktu.” Ucap Renjun lalu menundukkan kepala, kebiasaan.
“Saya yang makasih sudah mau nunggu.” Renjun hanya mengangguk kecil.
Keduanya membereskan bawaan dan keluar dari ruangan tersebut. Jisung telah keluar ruangan sejak tadi menyisakan mereka berdua. Mereka berjalan beriringan menuju lift dalam diam.
“Gue agak kaget liat lo. Pas keluar lift tadi pas liat lo, gue mikir kok gue kayak gak asing. Terus pas di jalan Jisung nyebut nama lo, gue baru inget.” Ucap Jeno tiba-tiba saat keduanya sampai di depan lift.
Renjun hanya menatapnya. Bingung akan menjawab apa.
“Lo….lupa ya sama gue?” Tanya Jeno.
Ding.
Pintu lift terbuka, keduanya masuk. Jeno menekan tombol lantai. Mereka kembali berdiri bersisian dalam diam. Tiba-tiba Renjun bersuara.
“Enggak kok, Cuma kaget aja. Saya pikir kamu yang lupa sama saya.” Jeno menoleh padanya. Tersenyum kecil.
“Gak nyangka ya, ketemu disini. Terakhir ketemu kapan ya? Lulus SMA?” ucap Jeno. Gantian Renjun yang menoleh. Mereka saling pandang sebentar, sampai suara lift terbuka terdengar. Keduanya keluar dari lift. Masih berjalan bersisian, dan melihat kekanan dan kiri mencari Jaehyun.
“Jun!” Suara Jaehyun terdengar memanggil dari sofa di dekat pintu. Mereka berdua bergerak menghampiri Jaehyun.
“Kusut amat lu. Diapa-apain Jeno lu?” Tanya Jaehyun pada Renjun bercanda.
“Enak aja. Sembarangan lu kak. Ini masih lingkungan kantor jangan ngomong sembarangan kak.” Jawab jeno sambil tersenyum pula.
“Yaudah Jen, gue pamit ya nganterin ini bocah balik. Kasian, kayaknya capek.” Ujar Jaehyun.
“Eh, iya kak. Renjun, maaf ya sekali lagi gue udah bikin lo nunggu lama. Habis gini, gue janji gak begini lagi.” Renjun hanya mengangguk. Jeno tersenyum padanya.
“Lah cepet juga lo berdua udah akrab kayaknya?” Tanya Jaehyun.
“Kita teman satu SMA, kak. Baru ketemu lagi nih.”
**
“Lo kenapa? Capek banget?” Tanya Jaehyun dalam perjalanan menuju tempat tinggal Renjun. Perjalanan macet, mengingat jam kerja, dan juga lokasi kantor Jeno dan tempat tinggal Renjun yang jauh. Jaehyun butuh teman ngobrol sebelum ia mengantuk.
“Lumayan, nunggu satu setengah jam sih. Terus pas uda mau balik, anaknya datang, terus aku gak jadi pulang. Terus pas meeting dia nanya-nanya hal detil banyak banget sih. Lumayan bikin capek.”
“Tumben banget? Padahal temen lu sendiri?”
“Kita Cuma satu sekolah kok kak. Dia Cuma tau nama ku dan begitu juga sebaliknya.”
“Padahal gue pikir tadi pas tau lo berdua uda temenan, lebih gampang jodohinnya.”
“Emangnya dia into boy? Setauku dulu dia pacarnya cewek kak. Dan ya jangan aneh-aneh kak. Ini klien 20M.”
“Dia gak pemilih kok. Dia belom pernah pacaran sama cowok sih, tapi yang deketin lumayan.”
**
Jeno. Lee Jeno. Teman satu SMA dengannya. Rasanya Renjun malas sekali mengakui kalau mereka adalah teman. Karena mereka....
