Actions

Work Header

Deep Beneath

Summary:

Bersama-sama, mereka mencari remedi terampuh di tengah kiamat dunia.

Chapter 1: Kwoon Combat Room

Notes:

Disclaimer:

 

Tokoh-tokoh bukan milik saya dan semua elemen di fiksi ini berasal dari Pacific Rim.

Film Pacific Rim disutradai oleh Guillermo del Toro, screenplay ditulis bersama Travis Beacham, dan novelization oleh Alex Irvine. Saya tidak mengambil keuntungan apapun kecuali kesenangan yang saya peroleh saat menulis fiksi ini.

Untuk istilah-istilah fandom, akan saya taruh di catatan bawah berdasarkan nomor yang saya sertakan. Jadi pastikan klik 'See the end of the work for notes', yah!

Chapter Text


 

GUMAM-GUMAM tak terima memenuhi ruang.

 

Sosok yang terkapar di atas alas kini menepi dengan kaki pincang. Tubuh dibanjiri keringat kepayahan. Wajah mengekspresikan kemarahan. Dalam kejengkelan kentara, ia membisikan sesuatu pada pria lain, kemudian mendorong punggungnya untuk mendekat ke tengah bidang.

Kubus beratap tinggi itu berisi belasan orang yang terdiri dari pria dan wanita. Semua berdiri di tepian dengan atensi ditujukan pada seorang pria yang berdiri di tengah-tengah.

Pandangannya tertuju pada satu-satunya pria yang masih dalam keadaan baik.

 

Satu yang belum tercoreng kekalahan.

 

Netra saling tubruk. Legam dan cokelat terang saling bidik dalam dominansi.

Menyambut penantang baru, dia memasang kuda-kuda dengan kaki kiri di depan. Tongkat digenggam horisontal di samping kanan tubuh. Alis nyaris bertaut. Garis-garis ekspresi mengumpul menunjukkan sikap waspada. Mata diatur setajam tombak.

Tak rela gentar, dagu sang rival terangkat angkuh. Senyumnya tipis tak simetris. Dieratkan genggamannya pada tongkat yang berdiri tegak di samping tubuh.

Pria berambut cokelat memasuki ruang laga. Tongkat di putar di atas kepala, kemudian menyimpannya di balik punggung. Ada maksud untuk pamer kemampuan sekaligus mengintimidasi. Sedikit demi sedikit jarak terpangkas. Dalam sekejap, tongkat sudah berpindah tangan untuk mengganti tumpuan.

Keduanya saling hadap, berdiri mengimitasi seolah refleksi satu sama lain.

 

Jari meremat senjata masing-masing.

 

 

 

“Santai saja, Sehun.” Si penantang berucap di antara belahan yang berhias bekas luka samar di bibir bawah. “Kau tahu benar ini soal kompatibilitas.”

 

“Bukan berarti aku harus menahan diri ‘kan, Luhan?”

 

Sehun menggertak dengan ayunan tongkat kilat di sela kedipan lawan. Teknik pembuka paling dasar. Kernyih merekah menemukan wajah lawan hanya selisih beberapa mili dengan senjatanya. Udara terkoyak di sekitar rambutnya yang berjuntai di dahi.

 

Iris cokelat itu mengerjap cepat. Napas tertahan sesaat.

 

“Satu-kosong.” Sehun menegaskan skor dengan nada meledek.

 

Ruang terhantam bisu. Riuh rendah dihentikan selubung tensi.

Luhan memutar tubuh seratus delapan puluh derajat. Ayunan tongkat membelah ruang kosong. Bergerak sigap, Sehun menahan serangan dalam tangkisan horisontal. Bukan peruntuh pertahanan rupanya.

 

 

Sehun merasa di atas angin.

 

 

“Sehun, tolong jangan mempersulit situasi.”

 

Sehun menarik tongkat ke belakang punggung. Tangan kiri membuat gestur untuk memprovokasi. “Katakan itu pada kedua bosmu.”

Serangan beruntun. Sehun bergerak agresif, ayunan tongkat dari kanan-kiri, bertubi-tubi sampai di titik Luhan tak bisa ambil bagian, tak sanggup menyerang, hanya bisa menangkis untuk bertahan.

Dalam jarak dekat, Luhan menangkap dengan netranya, otot-otot Sehun yang muncul ke permukaan, mewakili emosi yang seharusnya tak perlu disertakan. Didorongnya tongkat sekuat tenaga, melepas raungan sebagai pemompa, kemudian merobohkan keseimbangan lawan dengan menginvasi celah di antara kaki.

Tubuhnya roboh. Rebah telentang dengan ujung tongkat Luhan nyaris bertemu dengan wajah.

“Satu-satu.”

Laga itu berlangsung sengit. Saling geram, menyalak, dan menggeretukkan gigi. Sorak-sorai antusias tak lagi terkontrol, memantik ego dua orang di arena untuk saling hajar, sampai babak belur kalau perlu. Tujuan awal dari pertarungan ini seolah terabai. Kata ‘seru’ tiba-tiba jadi prioritas utama.

 

 

Dua-satu.

 

“Kontrol emosimu, Sehun!”

Sebuah teguran dari sisi memecah hening. Luhan melirik sekilas sosok laki-laki yang kini sibuk dengan clipboard, tampak menuliskan sesuatu. Garis-garis ekspresinya mengumpulkan sebuah kekecewaan.

 

“Kau dengar itu, kan?” bisik Luhan dengan tubuh tengkurap tak berdaya. Napas tersisa separuh. Bulir sebesar biji jagung meleleh dari pelipis. Sebilah tongkat melintang tepat di tengkuk seolah siap menghajar jika bergerak meski hanya satu mili. “Kita tak sedang bertarung.”

 

Tekanan di tubuhnya mengendur.

 

Luhan membalik tubuh. Ia mendapati Sehun memberi satu anggukan sembari mengulur tangan. Tanpa berpikir, Luhan menyambut. Sehun menarik tangannya untuk menipiskan spasi.

 

Jari-jari bersarang di tengkuk. Bibir berhadapan dengan daun telinga. Teror intimasi. Engah napas saling sahut. Sehun mengembus bisik, menyapu epidermis Luhan dengan gelitik. “Aku sungguh-sungguh tak menginginkan ini, Han. Tolong jangan gagalkan rencanaku.”

 

Dua raga itu terpisah.

Rambut Luhan kusut masai mencuat ke banyak arah. Dahinya berembun. Kulit lengannya memerah hasil dari kuncian sebelumnya. Dia kembali memasang kuda-kuda, mengabaikan Sehun yang memandangnya penuh persuasi.

 

Luhan menggeleng kecil. Sehun mengeraskan ekspresi. Darah di balik pembuluh mulai menggelegak. Hal yang mengubah tes hari ini bukan lagi soal kompatibilitas fisik.

 

 

Jari-jari Sehun memutar tongkat seirama dengan langkah. Tak butuh waktu lama, keduanya kembali saling gempur. Luhan tak repot menahan diri. Skor mereka tak pernah timpang. Saling susul hanya dalam beberapa satuan detik. Ia melukis kurva setengah lingkaran di udara dengan sabetan ke kaki lawan. Sehun sontak menghindari dengan satu lompatan. Cukup terlambat untuk mengambil sikap defensif. Luhan merunduk dan menyusup melalui ruang di antara kaki.

 

Suasana di dalam kubus semakin riuh.

 

Tongkat Sehun terlempar ke sisi ruang dan Luhan bersikap adil dengan membuang tongkat sendiri. Mereka berguling dan saling kungkung. Tak ada yang menghendaki untuk kalah lebih dulu. Bersamaan dengan sebuah teriakan, Luhan berhasil mengunci gerakan kaki kiri Sehun di bahunya.

 

“Tak sehebat mulutmu ternyata.”

 

Ada tremor di kedua siku yang menahan tubuh. Luhan  menekankan berat tubuh melalui tangan yang melintang di atas paha lawan, menciptakan nyeri luar biasa.

 

Sehun melolong bagai serigala terluka. Nyaris terdengar seperti pengakuan kekalahan.

 

 

 

Luhan menyeringai. “Masih mau melawanku?”

 

 

 

Mata mereka bertemu. Dan, Sehun tahu jika dirinya tak sanggup menjawab hal itu.

 

Dia tak punya pilihan lain.

 

Sang wasit, Kyungsoo, meniup peluit yang kemudian disambut gumam-gumam dalam atmosfer ganjil. “Empat-empat!”

 

Bass itu mengisi ruang dengan tawa bernada mencela. Sehun dan Luhan saling memisahkan diri dalam jarak beberapa langkah. Mata bulat sang wasit yang tak kunjung berkedip itu terkesan mengintimidasi seluruh makhluk bernapas di dalam sana. “Kalian sama kuat tapi kontrol emosi benar-benar payah. Lama sekali aku tak dapat hiburan begini. Konyol dengan cara yang mengesankan.”

Kyungsoo mencoret-coret kertas catatan di balik clipboard miliknya.

Belasan pasang mata tertuju pada bidang laga, memberikan pandangan yang terbagi di antara gairah dan sedikit cela. Di dalam kepala mereka muncul banyak tanya. 

“Aku tak setuju tapi bagaimanapun kalian seimbang dan secara teknis kalian lolos uji coba. Hasil kalian adalah yang paling baik dari yang lain." Wajahnya terpoles ketidakrelaan.  Dia mengedar pandang pada setiap titik mata yang menyapa. Saat sapuannya mencapai sudut ruang, tangan kanannya terulur ke udara.

 

 

"Baiklah! Sudah ditentukan, Crimson Alpha akan diawaki oleh Sehun dan Luhan!"

 

 

Luhan tersenyum puas.

 

Sementara wajah Sehun menegaskan sebuah permusuhan.