Chapter Text
Malam masih belum terlalu larut. Cahaya bulan malam itu masih di waktu yang harus bersaing dengan gemerlapnya lampu-lampu di sana. Jalanan Konoha pun masih hiruk-pikuk dengan banyaknya kegiatan yang dilakukan warganya.Termasuk keramaian yang disebabkan oleh obrolan serta canda dari Naruto dan teman-temannya.
“Satu botol lagi Paman!” Naruto berteriak memesan alkohol untuk kesekian kalinya yang disambut tepuk tangan oleh orang-orang di sana. Hinata yang duduk di sebelahnya menahan Naruto khawatir namun laki-laki itu masih tampak girang dan menuangkan minuman beralkohol yang dipegangnya ke gelas Kiba serta Kankuro.
Di sudut ruangan Gaara duduk bersidekap. Matanya mengamati teman-temannya yang tampak sudah mabuk. Perayaan ulang tahun Naruto diputuskan menjadi pesta minum yang membuat mereka berakhir di kedai ini. Sepasang netra hijau muda itu mengedar sampai berhenti pada sosok perempuan berambut merah muda yang duduk diam dengan wajah merah padam. Murid Hokage Kelima itu sudah sangat mabuk namun tangannya tidak berhenti menuangkan alkohol lagi dan lagi ke gelasnya.
“Oh Sakura...berhentilah, bodoh!” Yamanaka Ino berusaha menahan tangan sahabatnya yang ingin meraih botol sake lagi. “Kau sudah sangat mabuk. Cukup! Ayo Pulang!” ujarnya sembari berusaha menarik sahabatnya. Keduanya bergerak tak seimbang, nyaris terjatuh kalau saja tidak ada Sai di sebelah Ino untuk membantu.
Gaara berdiri. Kazekage muda itu berjalan dengan tenang menghampiri kekacauan di sana. “Aku akan membantu,” ucapnya tenang. Ia menarik Haruno Sakura ke sisinya, melingkarkan tangannya dengan canggung ke pinggang gadis itu.
“Oh, Gaara-sama, anda tidak perlu melakukan itu,” Ino berujar sembari berusaha menarik sahabatnya kembali ke sisinya namun gerakannya dicegah oleh Sai. Sai tersenyum penuh arti ke kekasihnya yang segera dimengerti oleh perempuan cantik berambut pirang itu. Segera ia mengoreksi kalimatnya sambil melempar senyum jahil. “Mohon bantuannya menjaga sahabatku ini ya, Kazekage-sama,” ucapnya diakhiri kekehan kecil. Tak lupa ia menyenggol Temari yang sibuk mengurusi Shikamaru, memberi tanda bahwa ada tontonan menarik yang harus teman dekatnya itu lihat.
Temari berdeham berusaha mengontrol ekspresinya. “Gaara, tolong antar Sakura pulang ya. Sepertinya di sini sangat kacau,” ucapnya. Gaara mengangguk tanpa menjawab. Ia mengangkat tubuh Sakura dengan hati-hati. Menggendongnya di depan kemudian berpamitan untuk pergi dari kedai itu. Meninggalkan sorakan tertahan dari Ino dan Temari yang menyadari ada sesuatu di antara Sakura dan Gaara.
Gaara berjalan perlahan, berusaha setenang mungkin agar gadis di gendongannya tetap nyaman. Sesekali ia mencuri pandang pada wajah Sakura yang bersandar di dadanya. Gaara menghela napas. Rasa heran dan khawatir menyerbu dadanya. Ia tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh Sakura sampai bisa semabuk ini. Gadis itu cantik, pintar, hebat dan pekerja keras. Terlalu banyak hal mengagumkan yang bisa Gaara sebutkan jika ia mendengar nama Haruno Sakura. Tetapi Sakura yang sekarang selalu terlihat gusar. Senyumnya tidak sejujur dulu dan puncaknya pada hari ini. Maka Gaara mengambil salah satu keputusan besar dalam hidupnya—mengantar Sakura pulang.
Langkahnya berhenti pada sebuah bangunan yang merupakan apartemen milik gadis itu. Ia pernah sekali ke sini, saat itu mengikuti Naruto yang menjemput Sakura untuk makan siang bersama. “Sakura,” panggilnya halus nyaris berbisik. Sakura menggeliat sebelum membuka mata. “Boleh aku tahu dimana kunci rumahmu? Aku tidak bisa membawamu masuk,”lanjutnya. Setengah sadar, Sakura merogoh sakunya. Dengan lemas ia menyerahkan ke Gaara.
“Terima kasih. Lanjutlah tidur.”
Gaara mengambil kunci itu dengan pasirnya, membuka kemudian menutup pintu apartemen itu dengan pasir yang ia gerakan.
Sakura digendongannya meggeliat. Matanya yang sayu terbuka lagi. “Kazekage-sama?” panggilnya parau. Gaara mengguman sebagai jawaban. Di bawanya Sakura ke kamarnya. “Ini pasti mimpi,” Sakura berujar lagi. Tangannya bergerak naik membelai pipi Gaara. Ada mantra tak masuk akal di sentuhan itu, cukup untuk membuat Gaara nyaris terkena serangan jantung. Langkahnya berhenti tepat di sebelah tempat tidur Sakura. Tubuhnya semakin kaku seiring dengan sentuhan-sentuhan gadis itu di wajahnya. “Seperti bukan mimpi tapi tidak masuk akal jika Gaara menggendongku.”
“Kenapa?” spontan Gaara bertanya. “Kenapa tidak masuk akal?” lanjutnya.
“Karena kami tidak begitu dekat dan dia seorang Kazekage. Dia pemimpin desa yang agung!” Sakura meracau.
“Statusku bukan alasan untuk hal ini menjadi tidak masuk akal, Sakura,” Gaara menyahuti. Direbahkannya Sakura di tempat tidur. Ia mendudukan diri di tepi, menangkap tangan Sakura yang menggantung setengah sadar—meraih wajah Gaara. “Aku ingin dekat denganmu,” ucap Gaara pelan, berbisik seperti doa. Tangannya menggenggam tangan Sakura erat-erat. “Bisakah?” lanjutnya.
“Kazekage-sama.”
“Iya, Sakura?” tangan mereka bertautan makin erat, Sakura membalas genggaman Gaara.
“Gaara-sama.”
“Iya. Aku di sini, Sakura,” Gaara menggeser posisinya lebih dekat. Membelai surai merah muda yang basah karena keringat, menyisirnya ke belakang telinga.
“Gaara-kun,” panggilnya lagi. Kali ini membuat Gaara tersenyum. “Aku ingin memanggilmu seperti bagaimana aku memanggilmu dulu,” lanjut Sakura. Suaranya parau dengan mata yang menatap Gaara sayu. Namun semua itu cukup untuk membuat dada Gaara merasa menghangat. Panggilan Sakura untuknya, pernyataan tak terduga yang didengarnya serta tangan mereka yang saling menggenggam. Gaara tidak pernah memimpikan hal ini. Ia bahkan tak berani.
Ibu jari Gaara bergerak mengelus milik Sakura. “Maka panggilah aku begitu, Sakura. Panggil aku sesukamu. Panggil aku kapanpun, dimanapun. Panggil aku. Tolong—” ada helaan napas di sana. Gaara merasa isi hatinya akan tumpah. Ia merasa tak sanggup menahan perasaan yang ditahannya selama ini. “—tolong sebut namaku.” dan Sakura sekali lagi memanggil namanya. Seperti memberi jawaban akan permintaan Gaara. Memanggil nama laki-laki itu berulang kali yang selalu juga dijawab oleh Gaara.
Malam itu belum terlalu larut, waktu belum menunjukan tengah malam. Mereka di sana saling menggenggam, memanggil nama satu sama lain seperti kicauan tak berujung. Seakan berlatih untuk menghapus kecanggungan, meniadakan jarak imajiner yang sebelumnya tercipta.
Pagi harinya Sakura membuka mata, merasa kepalanya sakit dan dunianya berputar. Hal pertama yang Sakura lihat adalah Gaara yang tertidur di sebelahnya. Ia mengerjap, berusaha mengembalikan kesadaran sepenuhnya. Satu hal yang ia sadari ini bukan mimpi. Mereka tidur bersama—bukan dalam konteks dewasa, Sakura yakin itu. Namun sesuatu yang membuatnya nyaris histeris adalah bahwa percakapan semalam itu nyata. Bahwa Gaara yang memohon padanya bukanlah mimpi saat mabuk. Kazekage itu benar-benar ada di sampingnya.
“Ka-Kazekage-sama?”
Gaara membuka mata perlahan. Dia tidak ingat kapan terakhir kali bisa tidur dengan nyenyak tapi panggilan dari suara yang dikenalnya memaksanya untuk segera sadar. Ia bangkit cepat dengan panik.
“Sa-Sakura... Aku bisa jelaskan jadi—”
“—Tidak apa-apa Kazekage-sama. Sepertinya saya ingat apa yang terjadi semalam walau tidak sepenuhnya.”
Keduanya diam menciptakan keheningan yang canggung sebelum Gaara memecah suasana itu. Ia mendudukan diri di tepi, menjaga jaraknya dengan Sakura. Ragu-ragu ia menggerakan tangan, menyentuh ujung jari Sakura di tempat tidur. Begitu canggung, begitu ragu-ragu, begitu perlahan. Namun sanggup membuat keduanya merasa ada sengatan yang menggelitik di tubuh mereka. Sakura memberanikan diri menoleh, menatap Gaara yang sudah menatapnya lebih dulu.
“Jika kau ingat, tolong panggil aku seperti kau memanggilku semalam.”
Ada rasa hangat tak biasa yang tidak mampu Sakura jelaskan setelah mendengar apa yang Gaara ucapkan. Sebuah rasa yang nyaman namun mendebarkan dimana jantungnya berdetak lebih cepat sebagai respon spontan. Sakura menggerakan telunjuknya, menyentuhkan kembali ujung-ujung jari mereka. Membuat lagi-lagi sengatan tak masuk akal itu menyambangi setiap inchi raga keduanya.
“Gaara-kun,” panggilnya pelan. Satu sentuhan kecil lagi pada ujung jari.
“Sakura.”
“Gaara-kun,” telunjuk mereka saling mengikat. Pelan dan malu-malu namun tidak ada keraguan.
Pagi itu mereka habiskan bersama. Duduk bercerita untuk saling mengenal lebih dalam. Membuka diri perlahan satu sama lain disetiap panggilan yang merajut perasaan. Baik Gaara maupun Sakura tidak pernah menduga bahwa hari dimana mereka menghabiskan waktu bersama dengan jari-jari yang bertaut akan pernah ada.
