Actions

Work Header

GARLIC

Chapter Text

 "Jangan disusul gunung berlari, hilang kabut tampaklah dia."

Suatu harapan yang sudah diambang pintu, biarpun ada penghalang biasa sabar maka tercapailah juga.

..........................................

Putee sudah resmi kos di rumah Prins. Bukan kos biasa, namun namanya jadi nebeng. Sebagai seorang tebenger, Putee juga harus tahu diri. Dia juga terikat dengan peraturan. Susah maupun senang, sekarang Putee punya kamar yang jauh lebih layak. Maminya kepo soal ini, namun Putee beralasan kalau dia kos. Putee juga sudah menelpon ayahnya, mengatakan kalau mulai saat ini dia mau nebeng. Putee punya rekening sendiri. Ngomong-ngomong soal itu... Putee kan juga dapat kiriman dari ayahnya, kenapa dia harus repot-repot bekerja? Putee menggeleng kencang. Dia memang harus menabung lalu membeli rumah sendiri. Dia akan tinggal di rumah hasil kerjanya sendiri. Coret, Putee... hasil tabungan dari ayahnya. Jadi kamu sengaja bekerja untuk menghimpun uangmu untuk membeli rumah. Apa kamu perlu membeli saham?

Ini yang disebut kenaikan derajad.

Dia harus bersatu bersama Prins. Dia jadi teman rumahnya sekarang. Juga jadi koki dadakan tiap pagi. Putee sudah biasa memasak, kok! Masakannya jauh lebih enak daripada masakan mucikari di rumah kastilnya.

Putee masih bekerja di tempat waktu itu. Hidup Putee jauh lebih baik. Sangat baik. Meski Prins masih saja ketus dan tajam terhadap semua tingkahnya.

"Mau sarapan apa besok, Prins?" Putee bertanya cepat, sambil mengerjakan PR Fisikanya. Prins menoleh dari layar TV yang sedang ditontonnya. Putee baru saja pulang kerja dan mengerjakan tugas. Tadi pelanggannya banyak sekali, jadi belum sempat mengerjakan tugas di waktu luangnya.

"Gue pengen makanan yang ringan aja."

"Apa?"

"Telur mata sapi sama sosis goreng."

"Oke..."

Putee bersyukur karena Prins bukan orang yang suka makan macam-macam. Prins juga makan apapun yang Putee masak. Putee bersyukur soal itu, jadi dia nggak perlu merawat orang yang rewel. Prins bukan tipe orang yang merepotkan.

Sementara Prins masih sibuk berpikir soal ini. Bagaimana bisa dia hidup dengan makhluk lain sekarang? Apalagi makhluk yang tinggal bersamanya agak ajaib. Aneh. Alien. Abstrak. Kadang Prins dikejutkan oleh tingkah absurd anak itu. Putee pernah membangunkannya tengah malam hanya karena dia merasa kesepian. Anehnya Prins tidak pernah mengusirnya. Mereka malah tertidur bersama di atas kasur Prins hingga pagi menjelang.

Tingkah ajaib Putee juga bukan hanya itu. Anak itu sekarang punya pekerjaan aneh. Dia suka sekali menggambari tembok belakang rumah Prins. Putee mungkin butuh media untuk menyampaikan isi otaknya, karena itulah Prins membiarkannya begitu saja. Nyatanya, Prins bukan membenci anak itu... tapi malah mulai penasaran.

Seperti malam ini. Ketika Prins sudah terbaring di atas king size bed miliknya, sebuah tubuh menelusup di balik selimutnya. Prins tahu tubuh siapa itu. Putee sudah sering melakukannya. Ketika Prins mengusirnya, Putee beralasan kalau dia harus bangun pagi untuk membuat sarapan besok.

"Kan lo bisa pake alarm dari HP!" Prins mengomelinya. Putee menautkan alis, menghembuskan nafasnya.

"Masalahnya, bed kamar gue kan empuk. Gue tetep bakalan molor. Kalo di rumah gue sih pake kasur kapuk kempes, jadi tidurnya nggak nyenyak. Makanya, gue mau pindah ke sini.. lo bangunin ya besok..."

Prins melotot tak percaya.

"Tapi gue risih tidur berdua bareng cowok."

"Anggap aja gue cewek."

"Balik sana ke kamar lo, Garlic!"

Putee menggeleng, lalu mengambil guling di sebelahnya. Cowok itu kembali memejamkan mata dan memeluk gulingnya dengan penuh cinta. Prins batal mengomel, lalu mulai ikut memejamkan mata. Besok dia harus membangunkan cowok alien ini agar tidak kesiangan untuk menyiapkan sarapan.

"Hoi..." Prins memanggil Putee. Putee diam. "Lo udah tidur?"

"Belum..."

Prins tergagap kaget. Ternyata cowok di sampingnya ini belum tidur dan mendengar panggilannya tadi?

"Kenapa lo nggak jawab?"

"Gue nggak suka dipanggil hoi..." Putee berkata serak, masih dengan mata terpejam.

"Hidup lo kayaknya seneng banget gitu..."

Putee diam. Matanya perlahan terbuka. Kepalanya menoleh ke arah Prins yang ternyata juga sedang menatapnya. Mereka bertatapan lalu berdehem karena canggung. Posisi seperti ini benar-benar membuat orang salah paham.

Tapi Putee peduli apa, Putee sudah sialan dari awal. Dia malah melemparkan gulingnya ke belakang tubuh. Dia makin mendekat ke arah Prins lalu nyengir sempurna. Prins melotot tak terima.

"Kelihatannya gitu, ya?" Putee mendekat dan menyentuh hidungnya sendiri.

"Kenapa lo melarikan diri dari rumah?"

Putee berdehem.

"Karena kita udah jadi temen, gue pengen curhat sama lo..."

"Nggak jadi, deh! Nggak usah repot-repot!"

Putee menggeleng kencang.

"Udah terlanjur. Anggap aja ini sebagai salam perkenalan gue."

"Besok lo kudu bangun pagi buat nyiapin sarapan."

"Gue mau curhat sama lo. Anggap aja ini dongeng pengantar tidur..."

Prins diam. Dia siap mendengarkan apapun yang Putee katakan. Dia siap untuk itu. Prins sudah terlanjur ingin tahu soal kehidupan cowok aneh ini.

"Lo pernah tahu cerita bawang merah dan bawang putih?"

"Ya..."

"Gue bawang putih versi antagonis."

"Maksudnya?"

"Gue bawang putih yang bisa ngelawan dan sedang mencoba memperbaiki nasib gue sendiri."

Prins sudah tahu kemana arah pembicaraan Putee. Prins sebenarnya sudah bisa menduga kalau cowok di depannya ini tidak sebahagia itu dalam hidupnya. Putee terlalu pintar dan rapi untuk menutupi rasa sedih dan sepinya. Kalau dipikir-pikir... mereka berdua sama.

"Lo... hebat..." Prins memuji. Canggung. Sungkan. Malu. Gengsi juga. Namun Putee tidak menjawab pujiannya. Ketika Prins menoleh, didapatinya Putee sudah menutup mata. Cowok itu sudah tidur dengan damai. Bahkan dengkuran halus terdengar setelah itu.

***

Putee masih ada kemanapun Prins pergi. Putee masih setia mengekorinya, menyapanya, bahkan dia juga tidak segan-segan untuk mengajaknya ke kamar mandi. Untuk apa? Tentu saja Putee punya ide gila di kepalanya. Lomba kencing paling lama katanya. Semua orang tidak cukup gila untuk itu. Putee masih terlihat aneh di matanya meski dia sudah sering melihat Putee berotasi di sekitarnya.

Prins sudah terbiasa dengan kehadiran cowok itu di sekitarnya. Sudah biasa. Mulai terbiasa.

"Hoi, hoi.. lo mau kemana?" Sebuah suara terdengar di belakang Prins.

"Apa lagi?" Suara yang terdengar setelah itu mengusik pendengaran Prins. Dia berhasil melepaskan diri dari Putee yang mati-matian mengajaknya makan bareng di kantin, namun suara Putee lagi-lagi mengusiknya.

Duh, kenapa anak itu lagi, sih?

Prins menoleh cepat ke arah sumber suara dan mendapati Putee sedang dihadang oleh gerombolan.. atau geng? Salah satu dari mereka ada Mir, saudara tiri Putee. Cowok yang berdiri tepat di depan Putee sedang menatapnya dengan raut marah. Mir berdiri di samping cowok itu.

"Kita belum selesai ya..."

"Kapan kita mulai?" Putee mengibaskan tangannya. Cowok itu bahkan tidak punya rasa takut meski sedang dihadang oleh cowok-cowok yang lebih besar darinya.

"Lo...!"

"Apa lagi?" Putee mengulik hidungnya sendiri, lalu menyentil sesuatu dari sana. Upilnya. Jorok sekali kamu, Putee!

"Lo tinggal di mana?" Kali ini Mir juga ikut angkat suara.

"Kok lo kepo? Kenapa? Mau ngapain lo?" Putee mendongak, menantang.

"Bokap lo nanyain lo ke mami gue, tau!"

Putee terbahak dalam hati. Sepertinya ayahnya sedang sibuk mengorek keterangan dan informasi maminya. Ayah sedang sibuk akting sepertinya. Lagipula ayah kan sudah tahu.

"Bilang aja gue lagi dikurung di kandang tikus!"

Mir melotot tak terima.

"Lo!" Mir mencengkeram krah seragam Putee, namun seperti sebelumnya.. Putee hanya menanggapi dengan santai. Sangat santai.

Kalau mereka tidak tahu, Putee merupakan pentolan geng preman yang menguasai pasar sebelah selatan. Mereka dikenal sebagai monster menakutkan di medan pertempuran. Putee yang tampang manis itu salah satu dari lima orang yang sangat ditakuti. Meski wajahnya manis, namun Putee pernah menghajar satu kelompok geng sendirian. Tentu saja setelahnya Putee mulai dikenal banyak geng, bahkan tak segan-segan diajak bergabung. Putee menolak tentu saja. Dia hanya tertarik untuk sendiri, tidak perlu geng-geng aneh seperti itu.

"Mau apa? Pukul? Pukul, nih! Pukul... pukul!" Putee mendekatkan wajahnya ke arah Mir. Mir geram, namun sebelum cowok itu melayangkan tinjunya... Camo yang sejak tadi hanya menatap Putee dengan raut tajam segera menghentikan Mir.

"Jangan sentuh dia! Dia urusan gue, Mir!"

Mir nurut ketika mendengar perintah Camo. Putee memicing heran. Jadi seperti itu tingkah Mir terhadap cowok di depan ini? Mir ternyata pengecut juga, ya!

"Lo dari dulu kayaknya ada dendam dalem banget sama gue! Emang salah gue apa?" Putee menatap mereka dengan raut kesal. Camo melangkah ke arahnya, mendekat dengan rahang terkatup rapat.

Prins masih terpaku di tempatnya. Tangannya terkepal marah, namun dia tidak bisa melangkah dan ikut campur urusan mereka. Meski sekarang Prins benar-benar gemas setengah mati.

"Lo nggak ingat apa yang udah lo lakuin ke gue setahun yang lalu?!" Camo berteriak gusar ke arah Putee. Putee mengerutkan alisnya, mengerucutkan bibirnya. Putee, please.. berhenti bersikap sok unyu begitu! Kamu jadi manis, tidak ada seram-seramnya tau! Harusnya kamu sadar posisi dan lokasi sekarang. Ini bukan saatnya beramah-tamah begitu!

"Setahun yang lalu? Emangnya gue ngapain ya?" Putee masih berpikir. Matanya mulai merem-merem sok imut. Prins jadi panas melihatnya begitu. Benar-benar kesal.

Kalau dibiarkan lebih lama lagi mungkin cowok itu akan makin berbahaya!

"Lo!" Camo menunjuk-nunjuk dahi Putee dengan telunjuknya. Putee terjungkal ke belakang, namun masih bisa menahan keseimbangannya. Sabar, Putee! Sabar... Putee sedang mencoba menahan kesabarannya. Prins juga.. jangan marah, jangan marah! Itu bukan urusanmu!

"Lo nggak ingat? Apa perlu gue ingetin lo? Jadi otak lo dipake buat apa aja?!" Camo masih menunjuk-nunjuk dahi Putee. Cukup. Kesabaran Putee kurang charging semalam. Putee mengepalkan tangannya, menjatuhkan bogem mentahnya di rahang Camo. Cowok itu terhuyung dan terjatuh ke lantai. Bukan hanya itu saja, karena setelahnya dari lubang hidung Camo keluar darah. Mimisan. Cowok itu mimisan karena tonjokan Putee.

Prins melongo.

Seluruh cowok anggota geng Camo juga melongo. Shock.

Putee menundukkan tubuhnya, lalu berjongkok di depannya. Ekspresi Putee masih sama. Nyengir. Senyum jahil seperti biasa. Namun mata itu benar-benar menakutkan.

"Awalnya gue diem aja dengan segala macam hinaan lo. Lo tahu kenapa? Karena gue nggak mau ribut. Tapi lama-lama gue dengerin kok mulut lo bikin gue muak, ya! Ini salam perkenalan aja dari gue. Mau bales? Silakan! Gue siap buat itu!" Sekarang Putee yang menunjuk-nujuk dahi Camo. Cowok itu bahkan masih tersenyum geli. Masih dengan wajah manis itu.

Putee berdiri. Cowok-cowok di sana menghindar dengan wajah keder. Putee melangkah santai, mengabaikan tatapan murid lain yang kini berubah ketakutan. Putee melangkah cepat. Sudah lama sekali dia tidak melayangkan tinjunya pada orang lain. Sudah lama... terakhir kalinya mungkin sejak bertemu bu kepsek waktu itu.

Murid-murid lain mulai menghindarinya. Selamat datang kesepian tingkat akut! Sebentar lagi pasti akan ada gosip tentang dirinya. Gosip seperti apa? Terserah, Putee juga tak terlalu tertarik untuk mendengarkan mereka berceloteh soal dirinya. Tuhan lebih adil dalam memberi interpretasi, jadi Putee tidak akan terlalu tertarik terhadap apresiasi orang lain.

Mungkin... Prins juga akan menghindari... nya.

Nyatanya, Prins sedang berdiri di hadapannya sekarang. Dengan rahang mengatup rapat, dengan tatapan marah. Bukan hanya marah, karena murka sedang melanda cowok itu. Prins menarik lengan Putee dan menyeret Putee ke belakang sekolah. Ke basecamp tempat pertama kali mereka jadi akrab. Dinding lukisan itu.

"Lo ngapain tadi?" Prins bertanya tajam.

"Gue nonjok orang."

"Kenapa, Garlic? Lo mau jadi jagoan?"

Pertanyaan Prins seperti tengah menelanjangi prinsipnya. Prins sedang mengadilinya. Sedang mengatakan betapa hina dan salahnya perbuatan Putee tadi.

"Prins... Lo pernah tersinggung?" Tatapan Putee meredup. Prins terhenyak, lalu bungkam seketika. Tatapan itu bahkan baru pertama kali ini dia lihat dari seorang Putee yang dia sapa dengan sebutan Garlic itu. Kepala cowok itu bahkan sudah tertunduk begitu saja. Terlihat rapuh dari sudut pandang seorang Prins.

"Prins... lo pernah sakit hati?"

Prins bungkam. Melihat mata yang sedang mengerjap sedih ke arahnya itu membuat Prins jadi benar-benar kacau. Dia ingin merengkuh kepala itu dan mengatakan semuanya akan baik-baik saja.

"Gue paham gimana perasaan lo..." Prins mencoba menghibur, namun itu mungkin kurang berhasil. Putee sedang menunduk. Prins gelagapan. Mungkin anak itu akan menangis sekarang. Bagaimana bisa cowok preman itu menangis di sekolah seperti ini?

"Jangan nangis...!" Prins berteriak kacau. Dia panik. Putee mendongak, air mata sudah mengalir di sudut matanya.

"Gue kelilipan...!" Putee mengucek matanya. Prins melongo, menatap Putee dengan raut bengong. Ternyata... bagaimanapun dan apapun yang Prins ucapkan, Putee tetap saja alien. Absurd. Makhluk aneh. Langka!

***

Prins mengatakan pada dirinya sendiri kalau dia bukan masokis. Maksudnya dia tidak menikmati siksaan psikologis dari Putee seperti ini. Dia tidak mungkin menerima keanehan Putee atau Garlic itu. Atau mungkin dia mulai terbiasa. Tidak mungkin! Tidak!

Putee tetap saja aneh di matanya. Cowok itu sering sekali bertingkah absurd. Atau mungkin pada dasarnya Putee memang absurd.

"Sejak kita jadi teman satu rumah, kita harus bahu-membahu dan saling tolong menolong." Putee menjelaskan ide luar biasa di otaknya. Prins menatap Putee sekilas, lalu kembali fokus dengan majalah otomotif di tangannya.

Hari ini Putee libur kerja. Dia juga tidak ada minat untuk bermain-main. Tujuannya hanya satu: Dia ingin bersih-bersih. Jiwa babu dalam diri Putee benar-benar muncul saat ini. Bukan jiwa babu, mungkin karena sudah terbiasa bekerja di rumahnya. Prins awalnya cuek-cuek saja dengan pernyataan Putee, namun akhirnya Prins kembali tertarik. Belum lagi cowok alien itu juga menjelaskan tentang keuntungan bekerja sendiri tanpa bantuan pembantu ataupun home cleaner sewaan.

"Lo mau ngapain?"

Putee duduk tenang, menyelonjorkan kakinya dengan raut antusias.

"Gue mau bersih-bersih."

"Oke." Prins menjawab cuek. Terserah saja apa yang akan Putee lakukan, dia sudah tidak terlalu peduli lagi. Putee berdiri, melangkah cepat sambil melompat-lompat seperti kancil. Prins terusik dengan pemandangan itu. Putee seperti sedang menggodanya. Prins terlalu kepedean soal itu.

Tunggu, memangnya untuk apa Putee menggodamu, Prins?

Lalu di sinilah mereka sekarang!

Putee sedang mengepel, Prins juga sedang membersihkan kaca jendela ruang keluarga. Prins terpaksa menuruti permintaan Putee tadi, ketika Putee sedang sibuk bekerja sendirian, ketika Putee sedang asyik bernyanyi sambil mengepel. Itu suara sumbang yang benar-benar menyiksa Prins.

"Jangan nyanyi!" dengusnya waktu itu.

"Kalau gue nggak nyanyi, gue cepet bosen dan capek..."

Prins terpaksa bungkam. Namun ketika melihat Putee yang terlihat sangat lelah dan juga terjatuh berkali-kali, akhirnya Prins bangkit juga. Prins malah membantunya. Benar-benar terpengaruh oleh ucapan Putee.

"Kalau kita kerja sama kan cepet selesainya..." Putee manggut-manggut sok imut lagi. Putee tersenyum senang, lalu menepuk-nepuk bahu Prins. Cowok manis itu terkadang benar-benar membuat Prins jadi jengah. Putee bukan tipe orang yang tepat untuk diabaikan. Putee terlalu... menarik.

Prins menghela nafasnya. Rumahnya jadi kinclong sekarang. Matanya melirik Putee yang sedang sibuk dengan jemuran. Putee juga mencuci baju-baju Prins. Dengan tangannya, bukan dengan mesin cuci. Cowok itu sekarang sudah tersenyum puas dengan hasil kerjanya dan kembali nyengir ke arah Prins. Prins menelan ludahnya gugup.

"Kenapa lo mau susah-susah buat ngurusin rumah gue?"

Putee nyengir. Cowok itu sering sekali nyengir ke arahnya dengan tampang tak berdosa. Tingkahnya kadang membuat Prins gemas setengah mati. Dia terlalu santai dan juga menyepelekan masalahnya.

"Ini kan kosan gue." Putee mengangguk-angguk sok paham.

"Ingetin gue kalo lo belum bayar kos bulan ini!"

Putee ngakak nista. Prins sekarang jadi lebih hidup daripada sebelumnya. Prins jadi lebih peduli pada orang lain. Bahkan sekarang Prins juga mau mengobrol dengan teman-teman lain. Prins sendiri mulai heran dengan perubahannya. Dia tidak terlalu sadar, namun dia mulai paham kalau dia melangkah terlalu jauh. Harus dihentikan kalau memang dia tidak ingin kembali terpengaruh.

"Makasih ya udah mau nampung gue selama ini..."

Putee benar-benar tulus ketika mengatakannya, Prins tahu itu. Matanya menatap Putee lebih tajam lagi. Putee lagi-lagi membuatnya jadi berantakan seperti ini. Ada bagian dalam dirinya yang mulai tergelitik. Cara pandangnya berubah. Prins mulai merasa rasa iri itu berganti dengan rasa kagum.

"Lukisan di tembok belakang itu... judulnya apa?" Prins mencoba mencari obrolan lain yang lebih berguna. Putee mengerjap, mengingat lagi apa yang sudah dia lakukan ketika insomnia.

"Gue belum nemuin judulnya, Prins. Lo boleh beri judul kalo lo mau.." Putee mengunyah sesuatu lagi. Prins menoleh dan mendapati anak itu sedang mengunyah remahan biskuit.

"Lo nggak ada makanan lain, apa?" Entah sejak kapan Prins terusik dengan jiwa bebas anak ini. Bagaimana kalau biskuit itu sudah kadaluarsa? Bagaimana kalau Putee keracunan?

"Gue nemu ini doang di dapur." Putee hanya mengedikkan bahunya dan kembali fokus pada layar TV. Sesekali cowok itu tertawa lebar dan nyengir. Wajah manisnya kadang membuat Prins jadi tidak tega. Tidak rela kalau cowok tampang manis itu bekerja dengan keras. Prins baru sadar kalau sekarang ada tempat baru untuk Putee. Di hatinya. Sebagai teman. Mungkin adik.

Mungkin besok Prins harus membeli camilan dan mengisi kulkasnya lagi.

Ya....

Putee juga harus merasakan kehangatan saat tinggal di rumahnya. Lho? Sejak kapan kamu menganggap Putee bagian dari tujuan hidupmu, Prins?

***

Keanehan Putee itu menular.

Menular seperti penyakit yang sangat berbahaya untuk kelangsungan hidup Prins. Entah sejak kapan Putee selalu membuatnya menurut. Kemarin setelah acara bersih-bersih itu, Prins juga rajin mencuci piring setelah makan. Bukan hanya itu, Prins juga jadi rajin melipat baju keringnya dan menatanya di lemari. Pengaruh Putee benar-benar menakutkan.

Lebih menakutkannya lagi, Prins seperti menikmati siksaan secara psikologis itu.

"Katanya sekarang bahaya, lho! Banyak begal berkeliaran." Putee mengajaknya ngobrol ketika berangkat sekolah. Cowok itu sedang sibuk mengoceh sejak berangkat hingga sampai beberapa meter dari gerbang sekolah. Putee turun lebih dulu, tidak ikut ke parkiran. Dia tidak mau murid lain bergosip soal mereka.

"Lo hati-hati, ya bawa motornya!" Putee menepuk bahu Prins sekilas.

Prins menatapnya datar. Kenapa cowok ini repot-repot memberikan pesan seperti itu? Justru yang super ceroboh dan juga seenaknya adalah Putee, kan? Kenapa malah Putee yang memberikan saran tak berguna seperti ini?

Putee lebih dulu sampai di kelas dan mulai rusuh. Cowok tengil itu mulai iseng lagi, berkeliling sambil membawa bekal salah satu temannya. Cewek-cewek lain menjerit ke arah Putee, hingga Prins yang baru datang langsung menarik krah belakang seragamnya, merebut bekal cewek itu dan mengembalikan ke pemiliknya.

"Makasih, ya Prins..." Cewek itu malu-malu. Seisi kelas berisik. Putee menoleh ke arah Prins yang masih sibuk menarik krah belakang seragamnya.

"Kok lo balikin, sih?" Putee mendengus tak terima.

"Nggak usah iseng, masih pagi!"

Putee nurut dan kembali ke bangkunya. Akhir-akhir ini Prins lebih ramah daripada sebelumnya. Putee senang dengan kenyataan itu, namun dia takut. Takut kalau Prins meninggalkannya. Putee sudah sangat nyaman berteman dengan Prins. Sangat...

Putee jadi pemikir gara-gara ini. Bahkan ketika bel pulang berbunyi pun Putee seolah tidak sadar jam pelajaran sudah usai. Putee pergi bekerja seperti biasanya, namun kali ini berbeda. Putee enggan pulang ketika jam kerjanya sudah usai. Dia masih ingin di luar, menghindari Prins sementara, untuk menyegarkan pikirannya. Kenapa akhir-akhir ini dia terusik karena kehadiran Prins? Apa karena mereka sudah terbiasa sekarang?

Putee memutuskan untuk jalan-jalan sendirian.

Dia tidak menyadari kalau saat ini Prins sedang kelabakan. Mencarinya!

Awalnya Prins tidak peduli soal Putee. Maksudnya pulang jam berapa cowok itu. Prins tahu kalau cowok itu harusnya pulang jam sembilan malam. Ini sudah lebih dari jam sembilan. Prins memutuskan untuk menelponnya. Prins cemas, namun dia sudah menyiapkan alasan-alasan tertentu pada Putee nanti. Gerbang harus dikunci, lalu lampu harus dimatikan, dan lain-lain. Saat itu Prins lupa menyadari kalau Putee juga membawa kunci rumahnya. Lalalala....

Prins berkali-kali mencoba menghubungi Putee, namun nomor yang dia tuju selalu tidak aktif. Prins sudah kelabakan, lalu memutuskan untuk menjemput anak tengil itu. Ketika Prins sampai di tempat kerja Putee, tempat itu sudah tutup. Lalu kemana Putee pergi?

"Katanya sekarang bahaya, lho! Banyak begal berkeliaran."

Kalimat Putee tadi siang membuatnya kembali parno. Cemas. Khawatir. Prins kelabakan saat ini, mencoba mencari kepastian akan kabar Putee. Bagaimana kalau sampai anak itu dibegal? Memang, sih Putee itu mantan preman dan juga tukang tawuran. Tapi tetap saja kalau sampai berurusan dengan begal bersenjata, Putee pasti akan kalah.

Prins kacau. Dia mencari Putee, melajukan motornya ke gang-gang sempit di kawasan pertokoan. Hingga matanya terpaku pada seseorang yang sedang tertidur di salah satu sudut gazebo.

Prins tahu siapa itu hanya dengan melihatnya. Prins menghentikan motornya, lalu dengan wajah panik mulai mengguncang tubuh anak itu.

"Garlic! Bangun!" Prins mengguncangnya, menyentuh kedua pipi Putee yang terasa dingin. Ketika Prins ingin mengangkat tubuh Putee, anak itu membuka matanya. Mengerjap. Lalu menguap.

"Gue ketiduran..."

Hanya itu saja tanggapan anak itu! Hanya itu!

Prins mati-matian menahan kesal. Bagaimana bisa Putee santai-santai saja seperti itu? Prins sudah kelabakan, sementara Putee hanya menanggapi dengan santai. Prins mendengus tak terima, lalu mulai mengomeli Putee. Benar-benar mengomel. Hal pertama yang pernah dia lakukan pada orang lain.

"Lo nggak punya otak, hah?! Gimana kalo sampe lo kena begal? Lalu lo ditusuk, lo masuk rumah sakit?! Mikir kenapa, sih?! Abis kerja itu langsung pulang, bukannya malah keluyuran dan terdampar di emperan kayak gini! Lo ngapain susah-susah kos di rumah gue kalo masih aja mau tidur di luar?! Percuma, tau nggak?!"

Putee melongo. Itu kalimat terpanjang yang pernah Prins ucapkan padanya. Putee melebarkan bibirnya, tersenyum senang. Ini pertama kalinya ada orang yang mengomelinya karena cemas. Putee sama sekali tidak tersinggung, namun cowok preman tengil itu malah menangis! Benar-benar menangis! Menangis sambil tersenyum.

Prins melongo, lalu kelabakan karena membuat anak orang menangis. Dia sendiri juga baru sadar atas ucapannya sendiri. Bagaimana bisa dia jadi semarah ini? Ah, Prins juga pernah marah-marah begini ketika Putee terluka waktu itu!

Prins semakin tercekat ketika Putee memeluk tubuhnya. Putee memeluknya erat dan menenggelamkan wajahnya di ceruk bahu Prins. Putee mengucapkan terima kasih berkali-kali.

"Terima kasih... karena lo udah mencemaskan gue, Prins! Ini pertama kalinya ada orang yang ngomel karena dia cemas ke gue..."

Sumpah, saat itu hanya ada degub jantung yang makin menggila di hati Prins. Hatinya jadi menghangat, bahkan cowok ketus dan tajam itu tidak segan-segan membalas pelukan Putee. Lengannya merengkuh Putee dalam dekapannya.

Lagi-lagi....

Prins jatuh makin dalam pada dunia cowok preman tengil ini...

TBC