Actions

Work Header

GARLIC

Chapter Text

            "Laksana bunga dedap, sungguh merah berbau tidak."

Orangnya cantik dan gagah tetapi tak dipedulikan orang, sebab kelakuannya tidak pada tempatnya.

..........................................

Namanya Putee. Lengkapnya Putee Garlicio.

Aneh? Oh, jangan protes, tidak perlu kepo. Dia sudah punya nama ini sejak lahir. Orang-orang sering memanggilnya Pute. Hanya dengan satu huruf 'e'. Padahal kalau dua huruf 'e' harusnya berubah ejaan jadi huruf 'i'. Iya, memang itu panggilannya. Putee untuk Putih tanpa 'h'. Nama ini aneh karena bukan dia yang buat. Putee hanya terima jadi saja, dia tidak bisa protes. Ayah bilang nama ini mirip nama artis-artis Thailand blasteran Itali. Putee anti percaya, karena nyatanya nama itu tidak benar-benar ada. Itu hanya hiburan dari ayah agar dia mau menerima nama ini dengan lapang dada. Sudah terlanjur menempel cantik di akte kelahiran dan ijazah, kan?

Hidup Putee ini juga aneh. Dia jadi piatu sejak umur.... mungkin saat umurnya lima tahun. Atau lebih? Dia tidak bisa mengingatnya waktu itu, karena yang ada di pikirannya adalah... ibunya ditanam dalam tanah. Hanya itu. Dia kehilangan ibu waktu itu, lalu beberapa tahun setelahnya ayah menikah lagi dengan seorang janda beranak satu. Janda itu punya anak cowok yang usianya lebih tua setahun dari Putee. Tenang, tenang.. ini sama sekali bukan kisah incest. Lagipula Putee tidak minat dengan cowok aneh itu. Namanya Mir. Bukan Miranda. Bukan Mirna. Bukan... Bukan...

Mir. Itu namanya. Putee harus memanggilnya kak Mir. Atau bang Mir. Atau mas Mir. Putee sama sekali tidak peduli, karena nyatanya dia enggan memanggil Mir. Tidak penting juga. Mir ini sama jahatnya dengan Bawang merah. Dia culas. Suka iri. Biang gosip. Mulutnya itu tidak pernah dijaga, kerjaannya juga menghasut.

Pokoknya Mir dan ibunya itu sama saja!

Kerak neraka!

Sejak saat itu hidup Putee berubah. Semua berubah sejak negara tiri mulai menyerang. Hanya Putee sendiri yang sanggup bertahan hidup, sementara ayah jadi TKI di luar negeri. Ayah keren di sana, jadi kepala pabrik hingga tidak punya waktu untuk pulang. Dalam hati Putee selalu berdoa, semoga saja ayah punya pacar baru di sana. Selingkuh dari mami tiri jahat ini. Kalau bisa ayah cerai dari wanita rubah ini, sehingga Putee bisa bebas dari rumah. Dia bisa menghabiskan hidupnya dengan uang warisan dan mencari modal untuk usaha. Putee sudah bertekad akan hidup sendiri.

Putee Bawang putih elegan, bukan peran suka mewek menjijikkan begitu. Bawang putih itu tidak selalu diinjak, tidak selalu dihina. Baca baik-baik tulisan ini! Bawang putih juga bisa jadi jahat.

"Putee...!! Itu cucian numpuk segitu kapan mau dikerjain?"

Tuh! Tuh! Kalian sudah dengar itu, kan? Kalian pikir itu cucian miliknya? Putee disiksa, jadi babu, lalu dipukuli? Oh, kalian benar sekali! Tapi lompati ya untuk yang dipukuli itu. Mereka tidak akan pernah bisa memukulnya. Putee sudah belajar banyak hal untuk bertahan hidup. Mulai dari makan nasi aking, tidur di emperan pada musim hujan, tersesat di hutan ketika camping, sudah pernah semua. Bahkan akhir-akhir ini Putee punya cita-cita untuk mencoba kopi yang sudah dicampur dengan sianida. Untuk maminya tentu saja.

"Kalau sempat!" Putee berteriak kencang, mengabaikan gedoran yang makin menyiksa. Putee pasang wajah cuek. Tidak peduli. Memangnya dia hidup untuk memuaskan mereka? Putee memang ibarat Bawang putih di dongeng-dongeng, namun tingkahnya sama sekali berbeda dengan mbak-mbak tukang nangis itu. Putee cowok. Agak badung. Iseng. Suka bikin onar. Tukang bolos.

Mereka menggedor pintu kamarnya lagi, namun sesaat setelahnya mereka sudah berhasil masuk dalam kamar Putee. Mir menatapnya dengan wajah berang. Mami tirinya juga.

"Apaan?" Putee ngupil, mengabaikan mami dan Mir yang sedang melengos jahat. Mereka melotot, menampakkan wajah emosi yang sudah kian tinggi. Mami – Putee memanggilnya begitu, sekedar mengingatkannya kalau dia memang mirip dengan mucikari – menatap Putee berang. Mir juga berdiri di sampingnya dengan wajah marah. Mir sedang membela ibunya, mendukung ekspresi ibunya agar tampak lebih meyakinkan. Putee sadar, mereka pasti sedang syuting untuk film Babu-Babu Amnesia.

"Kamu jangan ngelunjak ya tinggal di sini!" Mami berteriak, bersiap mencubit Putee. Tapi Putee sama sekali tidak doyan dicubit, sehingga dia hempaskan tangan mami sebelum berhasil menggerayangi Putee lebih jauh lagi. Putee sama sekali tidak minat untuk jadi korban. Sama sekali tidak.

"Kalian jangan lupa, kalian yang numpang!" Putee menunjuk dengan wajah santai. Mereka melotot kejam, seolah sedang casting film baru lagi. Kali ini berjudul Beranak dalam Bak Mandi. Lagi-lagi Putee pasang wajah masa bodoh. Rumah ini masih rumah ayahnya, dan kalau mereka tidak lupa... ini warisan untuknya. Putee pemilik sah rumah ini. Meskipun kedua orang kejam ini selalu mencoba untuk merebut rumah ini, mereka selalu gagal. Jadi, mami dan Mir ini adalah korban sinetron di TV-TV tentang kekerasan ibu tiri dan perebutan kekuasaan. Film horror.

Putee sama sekali tak peduli. Bahkan Putee lebih kejam daripada Bawang merah versi dongeng sungguhan.

Hidupnya memang sudah aneh sejak dulu. Benar-benar aneh. Orang sibuk menghujat hidupnya. Mereka mengatai Putee bodoh, tidak punya otak, tidak bisa mikir. Putee punya otak, bisa mikir. Tapi mungkin dia lebih suka berpikir dengan caranya sendiri, meski agak aneh dan kurang masuk akal.

Terserah kalau mereka mengatainya bodoh. Ucapan mereka tidak akan bisa membuatnya kenyang, jadi abaikan saja!

"Cuci sekarang, atau nggak ada uang saku buat kamu!"

"Digaji kagak, mi?"

Ah, dia lupa! Uang yang selalu ayahnya kirim selalu masuk ke rekening mami mucikari ini. Apa Putee harus telepon ayah dan bilang kalau dia harus punya rekening pribadi, ya? Tapi ayah tidak mungkin mempercayainya. Ayah takut Putee jadi boros dan pakai uang itu untuk hal yang tidak berguna. Jadi... jadi... Putee sudah memutuskan kalau dia akan kerja sambilan. Dia juga punya cita-cita mulia untuk mendalami perannya sebagai seorang anak tiri.

"Uang saku dan gaji itu beda!" Putee balas berteriak. "Uang saku itu adalah kewajiban seorang ayah pada anaknya. Kalau gaji beda lagi!"

Mami mendelik dengan mata melotot garang. Eyeliner-nya mengganggu penglihatan Putee. Yang kanan agak panjang, yang kiri terlalu tebal. Sama sekali tidak sinkron dan simetris. Bikin Putee muak dan ingin segera memperbaikinya. Lho?

"Jangan ngelunjak!"

"Lah, kalian yang kejam. Coba aja pikir... gaji buat pembantu aja lebih banyak daripada gajiku di rumah ini."

"Dasar anak nggak tahu diri!" Mami siap-siap melayangkan gagang sapu ke arahnya, namun Putee lebih gesit. Dia menutup pintu kamar hingga berdebum manja. Setelahnya terdengar mami menjerit kesakitan lalu mengumpat garang. Rupanya hidung mancung hasil operasi plastik mami patah karena menghantam pintu kamar Putee. Mari berpesta!

***

Putee harus memutar otak. Harus berpikir jauh soal ini. Uang jajannya tidak cukup untuk membeli barang itu. Alat lukis yang baru. Senjatanya. Modal utamanya untuk mencari uang selain minta pada mami. HPnya saja masih HP jadul, tidak keren macam HP milik Mir. Ayo, pikir! Kalau harus kerja part time lalu mami tahu, bisa habis uang jajannya. Mami akan enggan memberinya asupan lagi. Apa dia telepon ayah saja lewat telepon umum? Lalu lapor macam-macam agar dia diizinkan bikin ATM sendiri?

Ide bagus.

Lalu kenapa tidak kepikiran ide itu sejak dulu? Putee mengangguk senang, bahagia. Ternyata otak yang mereka hina dengan nama IQ jongkok ini ada gunanya juga untuk mikir. IQ-nya tidak jongkok, kok! Terakhir kali Putee cek, sekitar... 130-an. Hanya saja dia tidak terlalu pusing dengan ukuran itu. Mir yang tukang fitnah itu bilang kalau IQ Putee hanya 15. Biar saja, Putee tidak peduli. IQ Mir kan tidak jauh beda dengan ikan mas.

"Good evening..." Suara ayah menyapa gendang telinganya. Putee nyengir.

"Yah, di sini siang."

"Putee??!" Ayah berteriak kaget, histeris.

"Yah, nggak bisa lama-lama nih! Pulsaku kritis, nih! Yah, aku boleh bikin rekening kan? Tapi jangan sampe mami dan Mir tahu. Mereka culas, yah!"

Ayah bungkam di sana.

"Kamu belum pernah cerita apapun sama ayah soal ini. Akhir-akhir ini ayah agak curiga, sih! Ayah pernah diberitahu teman ayah soal kalian."

Putee berjanji, kalau dia bertemu dengan teman ayah itu Putee akan segera memeluknya. Menciumnya. Berterima kasih padanya.

"Intinya, aku lagi jadi Bawang putih sekarang, yah! Ayah boleh percaya atau nggak, tapi aku nggak mau ayah balik sekarang. Ayah kudu cari duit yang banyak biar bisa beli pulau sendiri. Lalu kita bisa pindah ke sana berdua."

Ayah masih bungkam.

"Putee... ayah akan segera kembali. Kamu... harus bertahan."

Tut... tut.... tut....

Sialan! Putee mengumpat nista. Pasti pulsanya sudah habis untuk ini. Menelepon ke luar negeri mahal. Dulu dia tidak berani melapor pada ayah soal ini. Alasannya? Mami mucikari itu mengancam tidak akan memberinya uang lagi.

Putee menatap layar HP jadulnya. Pulsanya habis. Dia mendengus tak suka. Kenapa berakhir secepat ini? Harusnya kan drama dulu! Harusnya kan Putee nangis-nangis dulu, lalu menjerit nista. Lalu lapor apa yang sudah mucikari dan Mir itu lakukan selama beberapa tahun ini. Ayah juga ikut menangis lalu janji akan segera pulang. Setelah itu ayah akan kembali lalu mengusir kedua biang neraka itu dari rumah. Mereka jadi gembel dan tamat.

Tapi tidak, tidak...

Putee tidak akan biarkan itu jadi mudah. Tidak semudah itu. Putee harus menikmati lebih lama lagi. Apa yang hilang darinya, mereka juga harus kehilangan itu. Hidupnya sudah aneh sejak dulu. Ibu meninggal sejak Putee masih kecil, lalu ayah menikah lagi dengan pelacur beranak satu itu, lalu ayah jadi TKI elite, lalu Putee jadi pembantu di rumah sendiri.

Putee berharap akan ada ikan mas ajaib dari sungai yang akan membantunya. Atau sempak Mir hanyut di sungai, lalu Putee dipaksa mencarinya. Putee bertemu nenek-nenek, dan disuruh memilih labu. Itu kisah Bawang putih dan Bawang merah dengan versi yang berbeda. Ah, apa dia harus pura-pura begitu saja? Tidak, ah!

HPnya bergetar lagi dan menampilkan nama ayahnya. Putee terlonjak lalu segera mengangkat teleponnya.

"Iya, yah?" Putee enggan sebenarnya untuk mengadu. Dia bisa berjalan sendiri dengan mandiri. Anggap saja siksaan dari mami dan Mir adalah cobaan hidup yang harus dia jalani.

"Ayah harap kamu bertahan, ya nak! Kalau mereka macam-macam, kamu lapor saja pada gurumu atau polisi."

Ayahnya korban film-film action.

"Nggak usah, yah! Putee kuat, kok!" Putee mengangguk paham. Dia bisa kok menjalani hidup ini sendirian. Lagipula dia sudah terkenal di sekolahnya. Biang onar, tukang bolos, hobi tidur di kelas, preman, pembunuh... dia sudah pernah dapat julukan itu. Putee sama sekali tak pernah peduli tentang pandangan orang lain untuknya.

Putee kembali ke rumah dengan berjalan kaki. Dia harus hemat. Tidak perlu sok naik ojek kalau tidak penting. Intinya, uang yang dia kumpulkan hari demi hari akan dia tabung. Sekarang ayah pasti sedang kepikiran soal hidupnya di sini. Ah, dia malah jadi anak yang tidak tahu diri ya! Harusnya Putee membuat ayah tenang. Tapi tidak, tidak... ada saatnya Putee harus memberitahu semua hal pada ayah.

Apa ini terkesan buru-buru? Tidak usah bingung, kontrak kerja ayahnya masih lama kok! Jadi ayah belum bisa balik ke Indonesia secepat ini meski dia mengadu sedang disiksa. Ayah harus jadi super kaya dulu biar bisa balik ke Indonesia dan membeli pulau sendiri. Selama itu juga Putee harus menikmati omelan mucikari dan juga anak tiri menjijikkan itu.

Tapi yang paling utama adalah harus buat rekening dulu.

***

Putee dan Mir sekolah di tempat yang sama. Putee berada di kelas unggulan, sedangkan Mir berada di kelas biasa. Ketika mami tahu Putee berada di kelas yang penuh dengan anak-anak orang kaya dan cerdas, mami emosi. Mami menolak titah kepala sekolah waktu itu, dengan dalih Putee hanya beruntung bisa lolos seleksi kelas unggulan. Hanya kebetulan kata mami. Jelas saja mami marah, lah... yang mami inginkan anak tercintanya yang masuk kelas itu, tapi malah Putee yang lolos. Kepala sekolah yang juga tidak mau kehilangan murid kece badai seperti Putee akhirnya mati-matian membela, bahkan sanggul bu kepala sekolah itu sudah tergerai cantik dengan duri-duri tajam di sisinya. Tidak usah dibawa serius, hanya bercanda!

"Dia hanya anak tiri saya, yang bodoh dan juga sulit diatur." Itu yang mami ucapkan pada bu kepala sekolah. Bu kepala sekolah menatap mami dengan raut datar. Mungkin bu kepala sekolah sedang memperhatikan hidung plastik mami dan eyeliner-nya yang meluber kemana-mana. Mami lupa pakai yang waterproof.

"Anak tiri anda yang bodoh dan sulit diatur ini punya otak yang luar biasa," bela bu kepsek waktu itu. Putee terharu, hanya sanggup menonton adegan perdebatan antara dua orang wanita itu. Wanita pertama adalah peran antagonis, mucikari dengan mata besar, eyeliner tebal, hidung mancung mirip paruh burung, lalu bibir tebal yang sudah terpoles lipstick ungu mentereng. Jangan bayangkan, nanti kalian takut! Memang tampilannya sudah ghostable begitu. Mirip hantu. Belum lagi rambut keriting yang sudah dicat merah itu tidak menambah kesan elegan, tapi malah menjijikkan. Mari kita belajar tentang anatomi mucikari!

Lalu di sudut lain ada bu kepala sekolah sebagai peran protagonis. Wanita sederhana, bajunya juga ala bu kepsek biasa. Punya sanggul kecil di belakang rambutnya. Tampak elegan meski tidak dandan seheboh mami. Bu kepsek ini adalah nyawa tambahan untuk Putee. Bahkan bu kepseklah yang menemukan bakat melukisnya dulu.

"Saya tidak terima! Sudah jelas lebih pintar anak saya kemana-mana." Mami masih melengos. Bu kepsek tersenyum. Bukan senyum ramah seperti yang biasanya beliau tunjukkan pada Putee dan murid lain, tapi senyuman kali ini telihat sinis dan licik. Oh, Putee sudah bilang licik belum?

"Anak anda, Mir... memang lebih cerdas kemana-mana. Sampai-sampai saya harus mencari kemana kecerdasannya."

Putee ngakak spontan, berguling cantik di atas sofa ruang kepsek. Mami mendelik ke arahnya, sementara bu kepsek hanya tersenyum pias. Mami sudah sering melayangkan protes ke sekolah. Awalnya bu kepsek mendengarkan, dua kali mami datang bu kepsek hanya tersenyum, lalu tiga kali dan seterusnya... bu kepsek mulai sadar kalau ada yang kurang beres dengan otak mami. Jadi bu kepsek harus bisa menciptakan kata-kata luar biasa tajam yang sanggup menancap di hati mami.

"Anda..." Mami melongo, speechless karena tidak tahu harus bicara soal apa. Mami mati kutu. Iya, Mir memang di bawah rata-rata. Kalau Putee ingat, Mir itu bahkan tidak hafal Pancasila. Putee jadi yakin kalau dulu mami sengaja menyogok oknum tertentu agar anaknya lulus. Wah, ini mulai jelas sekarang!

"Terima kasih atas kehadiran anda." Bu kepsek masih tersenyum. Dari sudut manapun senyum bu kepsek itu jadi menyebalkan di mata mami. Putee nyengir puas. Lihat saja, sepulang sekolah nanti mami pasti akan menghukumnya. Mami pasti akan menguncinya dalam kamar. Tidak usah repot-repot, Putee juga bisa kabur dari atap. Ibarat pepatah "Maling lebih pintar daripada polisinya". Tapi tunggu, Putee bukan maling. Putee justru polisinya, kan?

Ah, untuk apa dia mikir ini?

Mami melangkah keluar dari ruang kepsek dengan kaki terhentak. Dalam tiga hentakan, hak sepatu lancip mami patah. Lalu... mami kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Mami terduduk cantik di lantai dengan mata melotot marah. Putee hanya sanggup nyengir, lalu melirik bu kepsek yang juga sibuk menahan tawa. Ketika mami pergi dengan raut malu, bu kepsek menghampiri Putee. Masih dengan senyuman geli karena ulah mami.

"Ibu tiri kamu itu masih sering hukum kamu?" Bu kepsek bertanya padanya. Putee tersenyum canggung. Mau cerita, tapi takut bu kepsek salah kaprah. Kisahnya Bawang putih sekali, namun dalam versi yang tidak tahu diri.

"Mami beraninya nyiksa saya secara psikologis aja, bu!" Putee menjawab dengan bahasa yang agak ruwet.

"Kalau kamu disiksa secara psikis, saya bisa laporkan mami kamu ke kantor polisi."

Putee manggut-manggut paham. Bu kepsek ini yang dulu pernah dia tolong saat kecopetan. Putee tidak perlu trik khusus semacam bertengkar seperti di sinetron, kok! Dia hanya mengadalkan jeritan, lalu orang-orang datang dan berbondong-bondong mengadili pencopet itu. Suaranya berjasa sekali.

"Mereka hanya menelantarkan saya saja."

"Apa perlu saya sewakan pengacara?" Bu kepsek baik sekali. Kalau saja ayahnya jomblo, mungkin Putee bisa mencomblangkan ayahnya dan bu kepsek. Bu kepsek sudah jadi janda. Suaminya meninggal karena sakit.

"Saya hanya perlu menunggu ayah saya pulang saja, bu! Terima kasih..."

Iya, Putee hanya perlu menunggu ayahnya. Setelah kontrak ayah habis, ayah akan pindah kerja di Indonesia dan mengambil lagi kekayaannya. Setelah itu bercerai dengan si mucikari, lalu mucikari itu pun jadi gembel. Tamat.

"Kalau ada apa-apa jangan sungkan menghubungi saya. Ibu akan selalu mendukung bakat kamu..."

Putee nyengir lagi. Sudah lama sekali dia tidak menyalurkan bakat. Ibu kepsek cinta sekali dengan dunia seni, terutama lukisan. Beliau pernah memberinya uang atas lukisan yang Putee buat untuk ruang keluarga. Namun sayang sekali, uang itu sudah Putee berikan pada om-om rentenir yang ingin menyita rumah kakek tetangga.

Hidupnya aneh, kan?

Hidupnya penuh drama. Penuh dengan hal-hal di luar batas nalar dan logika. Dia disiksa, tapi dalam waktu yang sama dia juga dicintai. Putee dihina, tapi dipuji. Aneh, kan? Putee tidak pernah punya semangat menjalani hidup. Dia hanya sibuk berbuat rusuh. Bahkan kemarin-kemarin dia ikut tawuran, padahal dia tidak tahu itu tawuran dalam bidang dan topik apa. Dia hanya ikut saja, memukul siapapun yang berlari ke arahnya. Entah lawan ataupun kawannya sendiri.

Bawang putih yang asli selalu disiksa. Dia punya teman-teman baik meski kesepian. Iya, karena Bawang putih juga baik. Sedangkan Putee? Ada poin plus hingga kalian anggap dia adalah tokoh protagonis. Mungkin karena dia selalu ditindas. Iya, itu poin plusnya. Kalau saja dia tidak ditindas, kalian akan menganggapnya cowok binal kurang ajar.

Mami dan Mir membencinya karena Putee lebih cantik daripada mereka. Nah! Mami selalu punya cita-cita kejam dalam tidurnya. Putee pernah menyelinap ke kamar maminya untuk minta lotion. Mami mengigau. Mami mengatakan sumpah serapahnya, mengatakan kalau dia ingin sekali menyeterika wajah Putee karena Putee lebih cantik darinya. Meskipun Putee cowok dan belum pernah operasi plastik. Wajahnya menurun dari mendiang ibunya dulu.

Putee tidak cantik. Putee hanya... disalahpahami.

Putee hanya terlahir sebagai cowok yang manis. Mata sipit, kulit putih, hidung mancung, bibir sensual, polos. Meski hatinya selalu protes. Harusnya tokoh protagonis juga punya wajah yang jelek sedikit saja, lah! Tapi nyatanya sisi jelek Putee hanya soal tingkah seenaknya ini.

Hidupnya aneh (sudah dicopy dan paste secara otomatis).

***

Bel masuk berbunyi. Putee menoleh sekilas ke kantin-kantin yang sudah mulai sepi. Para siswa sudah kembali ke kelasnya masing-masing. Putee melangkah pelan, mengambil sebuah potongan pensil yang tergeletak di dekat tempat sampah. Putee ingin menggambar. Bukan menggambar, tapi mencoret-coret tembok sekolah.

Otaknya selalu mengatakan kalau jiwanya harus bebas. Hatinya seorang pemberontak. Sama dengan suara jiwa yang menginginkan kebebasan, Putee ingin merusak aturan sebisa mungkin. Seperti saat ini.

Putee mencoret-coret tembok samping pintu kantin, menggambar sketsa karikatur ibu kantin di dalam. Putee nyengir begitu selesai dengan sketsanya. Besok lagi. Putee bisa meneruskannya lagi besok. Sekarang cukup sampai di sketsa saja. Putee melangkah cepat ke kelasnya, sebelum guru killer itu datang.

"Kamu telat masuk kelas. Nggak usah masuk sekalian!" Suara itu menginterupsi pendengaran Putee. Putee melirik pintu kelasnya, batal untuk mengetuk. Setelah itu pintu terbuka, lalu seorang cowok keluar dari kelasnya. Cowok itu menghela nafas, lalu menatap Putee dengan raut kecewa. Putee belum pernah lihat anak ini sebelumnya. Murid baru?

"Lo murid baru?" Putee memekik kaget. Cowok itu mengangguk pelan dengan raut tidak peduli.

Putee manggut-manggut sok paham. Sepertinya bolos seru juga. Apalagi sekarang dia punya teman baru. Putee mengulurkan tangannya dengan tidak tahu malu. Boleh, lah dia nakal sekali saja. Sekarang kan jam matematika. Putee sudah punya nilai yang lebih dari cukup untuk lulus di mata pelajaran itu.

"Nama lo?" Putee bertanya basa-basi. Cowok baru itu menatap Putee, lalu menjawab singkat dengan raut tak peduli.

"Prins."

Putee mengerutkan kening. Nama yang aneh. Ah, jangan bahas nama aneh! Namanya juga tidak jauh-jauh dari aneh, tau!

"Gue Putee."

Cowok cuek itu diam tak menjawab. Putee tidak suka berteman dengan banyak orang karena baginya itu sangat merepotkan. Tapi kalau harus punya satu atau dua orang teman, bolehlah...! Putee memindai penampakan teman barunya ini. Putee mengernyit, namun sedetik kemudian perasaan iri mulai merayap di hatinya.

Putee benci mengakui ini, tapi cowok di depannya ini keren sekali. Cowok ini punya tinggi yang bisa membuatnya iri, punya badan bagus, wajah tajam yang dibingkai alis tebal dan hidung mancung. Belum lagi mata itu seolah sedang menelanjangi Putee. Putee bungkam. Serba salah. Dalam beberapa hari saja mungkin cowok ini akan jadi trending topic di sekolahnya.

Apa berteman dengan anak ini adalah keputusan yang tepat?

Hidup Putee sudah aneh – ah dia akan selalu mengatakan ini – jadi mungkin dia akan punya masalah lain kali ini. Apa berteman dengan anak ini adalah keputusan yang tepat? Putee harus apa? Apa yang harus dia lakukan?

Tunggu, Putee! Lagipula, belum tentu anak ini mau berteman denganmu, kan? Putee manggut-manggut paham. Dia ingat sesuatu. Dia sedang bolos dan sendirian. Setidaknya dia bisa mengajak satu orang teman, meski orang ini tidak tertarik untuk berteman dengannya. Ini persamaan nasib, siapa tahu saja cowok ini mau menanggungnya bersama.

"Mau ikut?" Putee bertanya cepat. Dia enggan basa-basi lagi, karena nyatanya cowok ini juga tipikal orang yang tidak banyak omong.

"Kemana?"

"Nggak mungkin ke perpustakaan. Jam kedua masih ntar. Mau ikut bolos sampai jam kedua?"

Prins memalingkan wajahnya jengah. Putee tidak perlu bertanya pendapat cowok itu lagi, karena setelahnya ketika Putee melangkah, cowok itu mengikuti langkahnya. Tingginya melebihi tinggi Putee, badannya juga lebih besar dari Putee. Langkah kakinya bisa menyamai Putee dalam waktu singkat. Putee iri. Kesal. Dan juga cemburu dalam waktu singkat. Bagaimana bisa dia bertemu dengan cowok yang untuk pertama kalinya sanggup membuatnya iri? Putee sudah sering kagum dengan Lio, cowok kapten tim basket yang ganteng dan punya badan bagus. Sekedar kagum saja sebagai sesama cowok. Akan tetapi sekarang, Putee sudah benar-benar berada di ambang batas maklumnya. Dia merasa Tuhan itu tidak pernah adil padanya. Mungkin Putee memang ditakdirkan untuk jadi makhluk mini di antara kaum lain. Wajah yang selalu disalahpahami, punya ibu tiri dan saudara tiri yang jahat, ayah yang jadi TKI... apa ini adil, Tuhan?

Putee melangkah cepat, sementara cowok itu mengekorinya dengan setia meski tanpa kata. Putee sudah bosan melirik dan mengagumi Prins dalam jarak yang dekat. Hatinya sibuk menduga dan mengira bagaimana cara orang tua Prins mendesain wajah dan tubuh seperti ini. Putee benar-benar iri. Dan sedikit ingin tahu.

Mereka sampai di sebuah tempat. Tempat yang penuh pesona. Tempat rahasia Putee kalau bolos kelas. Prins menatapnya masih dengan raut tajam, namun perlahan bibirnya terbuka. Putee bungkam, memperhatikan apa yang bisa dia lihat saat ini. Tempat itu adalah sudut belakang sekolah. Putee suka tempat ini, jadi dia sering menghabiskan waktu untuk menggambar sesuatu di tembok lapuknya.

Meski cowok dingin dan cuek itu enggan bicara, namun Putee tahu kalau Prins terpesona. Mulut cowok itu kini melongo, dengan mata melotot karena kagum. Kagum pada lukisan random yang terlahir dari tangan Putee ketika dia sedang bosan. Terhampar di tembok lapuk itu sebuah gambaran abstrak, membentuk satu kesatuan seolah terangkai dan menciptakan sebuah cerita. Cerita tentang Bawang putih dan Bawang merah dalam sebuah versi ciptaan Putee sendiri.

"Ini.... ciptaan lo?" Prins melongo. Putee melangkah cuek. Membiarkan satu orang yang tak banyak bicara mengetahui rahasianya tidak akan ada pengaruh apapun, kan? Prins melangkah di sebelahnya, sementara tangan Prins mulai menggapai lukisan itu dengan wajah kagum.

Putee punya selera aneh soal seni. Orang seni mengatakan lukisannya abstrak. Tapi sekali lagi Putee tidak peduli namanya. Seni adalah seni. Seperti apa kamu melihatnya, seni adalah seni. Bebas. Dia bisa menjadi apapun yang dia inginkan.

"Jadi, apa judulnya?" Suara Prins membuyarkan lamunan Putee. Putee menoleh ke arah Prins. Prins masih tercengang, lalu menatap Putee dan mengubah ekspresinya kembali datar seperti sebelumnya. Putee tahu, Prins punya sesuatu yang berbeda dibanding cowok lain pada umumnya. Seperti aura. Sedikit mengintimidasi.

Sekali lagi, Putee sepertinya harus mikir efek berteman dengan cowok seperti ini. Bagaimana kalau hidupnya jadi makin aneh karena kehadiran cowok cuek nan tajam di sampingnya ini?

Ini kisah tentang Putee Garlicio, seorang Bawang Putih dengan nama aneh dan hidup yang sama anehnya..

TBC