Actions

Work Header

Meet Me at Our Spot

Work Text:

Yok mengenalnya sebagai orang yang sangat tertutup. Ia hanya tahu namanya Dan, ia tinggal di sebuah apartemen di utara kota dan mempunyai suara yang cukup berat.

 

Ia pernah melihat wajah Dan ketika teman-teman geng nya menunjukkan seorang foto yang pernah disebarkan oleh seorang anonim di internet mengenai wajah artis yang tengah menjadi perbincangan karena karyanya yang mengkritik para penguasa.

“Dan namanya,” kata Sean melihat Yok yang seperti disulap oleh foto Dan.

 

Meet me at our spot, Y . Yok memperhatikan baik-baik karya Dan yang selalu disebar di media sosial dengan nama samaran UNAR. Karyanya kali ini tidak ada hubungannya mengenai penguasa atau ketidakadilan. Karyanya berisi dua tangan yang menggenggam mawar. Kedua tangan tersebut berdarah terkena duri dari mawar tersebut, tetapi ia akan mewarnai mawar-mawar lainnya yang masih berwarna pucat. Begitu kalau dari persepsi Yok. 

 

Y? Siapa Y? Ia hanya beberapa kali datang ke tempat gambar dari UNAR dan melihat karyanya. Ia pada saat itu yakin pasti UNAR atau Dan atau siapa namanya sudah pulang. Tidak tahu kalau Yok yang datang dan memperhatikan karyanya. 

 

Lagipula mana mungkin Dan tahu siapa dirinya. 

 

 

“Yok?” ucap seseorang ketika Yok tengah duduk melihat karya UNAR yang lain. 

 

Yok hanya mengangkat alis dan memundurkan dirinya beberapa langkah sebagai langkah berjaga-jaga, “Siapa?”

 

“Ikut aku,” kata orang yang lebih tinggi dan anehnya …. 

 

Yok mengikutinya. 

 

“Kamu pernah ikut hal seperti ini?” tanya Dan di suatu malam kepada Yok. Mereka berdua memegang botol piloks dan mereka berdua sudah berdiri di depan dinding kosong.

 

“Hal seperti apa?” tanya Yok bingung. Ia tidak bisa berpikir ketika ia dekat dengan Dan. Semua hal di kepalanya hanya berisi Dan. 

 

“Hal seperti apa bagaimana?”

 

“Iya ada dua hal. Pertama, aku belum pernah gambar atau melukis di media sebesar ini. Kedua, aku baru pertama kali ikut orang yang baru aku kenal,” kata Yok setengah berbohong.

 

“Meskipun aku tahu kalau kamu sudah kenal aku lebih dari itu,” kata Dan membuat Yok sedikit tersipu.

 

“Kamu tahu dari mana?”

 

“Aku ajak kamu ke sini ya karena aku tahu kamu ada di sini lihat lukisan-lukisan itu. Menurut aku lebih baik kalau kita membuat lukisan yang baru. Berdua,” kata Dan sebelum memulai melukis, tidak memperhatikan Yok yang sudah seperti orang mendapatkan hadiah undian. 

 

 

“Aku boleh minta kontakmu?” kata Yok di suatu malam. Mereka baru saja menghela napas lega setelah aksi mereka dipergoki oleh beberapa orang petugas. Mereka berlari seperti kesetanan dan kini mereka duduk di balik sebuah pagar tinggi setelah sebelumnya memastikan diri tidak ada yang menyusul mereka. 

 

“Aku belum bisa,” kata Dan jujur yang membuat Yok menghela napas sedih. Ia ingin protes, tapi ia yakin hal itu berdasarkan sebuah alasan yang mungkin Yok belum tahu.

 

“Hei, jangan sedih,” kata Dan menarik pipi Yok pelan.

 

“Kenapa harus dicubit. Aku udah gede,”

 

“Iya, tau kok. Cuma senang aja lihat kamu marah,” kata Dan tertawa. Pertama kalinya Yok melihat Dan tertawa.

 

“Bikin marah aja terus,” kata Yok kesal. 

 

“Kamu kan tahu kalau aku lagi ke mana. Tanpa aku minta kamu juga tahu aku sedang ada di mana,” kata Dan 

 

 

Dua minggu ini Yok tidak mendapat info apapun terkait Dan ataupun UNAR. Akun media sosial miliknya kosong. Yok sangat rindu dengan orang tersebut. Tentang detail kecil dari Dan, ataupun ketika tangannya menutup Yok yang terlalu bawel ketika mereka tengah dikejar oleh pihak yang merasa dirugikan. 

 

D, meet me at our spot

 

Yok akhirnya sudah tidak tahan dan mengunggah gambar ke media sosial dengan takarir demikian. Ia tidak memberikan lokasi apapun pada gambar tersebut. Ia hanya memfoto kakinya yang tengah duduk. Kegiatannya sudah tertebak, pasti melihat hasil karya pertama milik Dan. Meskipun sempat dihapus, tetapi mereka berdua kembali menggambarnya kembali. Iya, Yok membantu Dan menggambar mural tersebut kembali. 

 

Malam semakin larut, hujan rintik turun perlahan-lahan dan sudah menjadi sangat deras. Yok meminggirkan dirinya ke bawah naungan atap. Ia melihat jam. Lima menit menuju tengah malam. Mungkin Dan sudah berhenti dari menggambar? Atau mungkin bisa jadi Dan tertangkap? Kemudian mungkin bisa jadi dirinya menyusul Dan di dalam jeruji. 

 

Atau mungkin …. Dan hanya khayalannya semata?

 

Yok akhirnya mengangkat bahu. Mungkin sudah saatnya ia kembali ke kegiatan rutinnya bersama teman-teman. Bukan hanya menunggu dan menunggu seseorang yang mencuri hati dia di sepersekian detik pertemuan pertama mereka. 

 

Sebuah tangan mencengkram tangan Yok di tengah hujan. Yok hanya bisa pasrah. Mungkin ini saatnya dia .

 

.

.

.

.

.

 

“Aku janji, Yok. Aku di sini. Seperti biasa,” suara yang familier di telinga Yok.

 

“Kamu tuh sialan ya! Aku tuh udah hampir gak bisa nunggu kamu!” kata Yok meninju lengan berotot milik lawan bicara.

 

“Aku minta maaf kemarin tiba-tiba hilang,” kata Dan sebaris saja.

 

“Kamu tuh!” kata Yok kembali meninju lengan Dan, kali ini di sebelah kiri.

 

“Aku kangen sama kamu,”

 

“Siapa yang bilang aku juga gak kangen?” kata Yok memeluk Dan, “Aku kangen banget sama kamu, bodoh,” 

 

“Aku boleh cium kamu?”

 

“Aku tuh nunggu kamu dua minggu, Dan,” kata Yok menjauhkan kepalanya dari bahu Dan, “Lalu kamu minta cium?”

 

“Ya kalau kamu tidak mau ya, gak apa-apa,” kata Dan datar.

 

Cup.

 

“Sisanya kalau kamu udah gak menghilang tanpa kabar lagi,” kata Yok sebelum lari meninggalkan Dan.

 

Dan hanya tersenyum lalu menyusul Yok, entah ke mana ia berlari. 

 

Finish.