Actions

Work Header

Devil Kiss

Work Text:


 

"Ajarin gue ciuman."

"Lo sehat, Non?"

Padahal baru saja pintu berderit membuka, belum genap sosok di baliknya terlihat, Ohm sudah diserbu pernyataan (atau permintaan) tak terduga.

Masalahnya, Nanon tak ada niatan memberi konteks sedikit pun. Wajar saja lelaki di hadapan memandangnya seakan dia sedang demam tinggi.

Sekarang saja, punggung tangan Ohm sudah menempel di atas kening yang tertutup rambut kian panjang. "Normal kok?" komentarnya seperti bertanya, selagi membalikkan telapak dan menepuk dahi Nanon kilat.

Respon Nanon? Pasti berdecak kesal, dan tangannya yang menganggur otomatis menepis tangan Ohm supaya pergi dari wajahnya—saat ini terlihat serius. "Gue sehat dan waras ya anjir."

"Ya lo baru nongol langsung minta cipokan." Genap sudah alis-alis Ohm berkerut hingga keningnya.

Tanpa perlu dipersilahkan masuk karena si empu rumah meninggalkan begitu saja, Nanonlah yang menutupnya kemudian sepatu dilepas sebelum berjalan ikut menyusul. "Gue males basa-basi, dan lo tau itu."

Kali ini bergantian, Ohm yang berdecak sekarang. "Konteks, Non. Konteks."

"Menyenangkan hasrat kepo gue." Nanon sudah mendaratkan diri dan duduk di keempukan sofa warna biru.

"Cium tinggal cium, gak perlu gue ajarin." Jeda sejenak karena bergerak meletakkan koran-koran di atas meja pada tempatnya. "Kayak gak pernah ngendus pipi gue aja lo."

"Sialan, dikira anjing."

Kedua bahu Ohm terangkat, sudah duduk sejajar dengan Nanon. "Lo yang ngomong, bukan gue."

"Hash, gue serius dari tadi." Si tamu baru datang mengacak-acak rambutnya sendiri.

"Kenapa harus gue?"

"Lo udah jago."

"Tau dari mana? Lo sama gue gak pernah ciuman."

"Mangkanya, gue cari tau sekarang."

Benar-benar dunia ini maha membolak-balikkan karakter manusia. Ohm Pawat masih tak habis pikir dengan apa yang ada di pikiran Nanon Korapat. "Sinting, gak malu lo first kiss direbut sohib sendiri?"

"Ngapain? Justru karena lo sohib gue berarti gue percayain sama lo," Nanon menjawab dengan telapak tangan menepuk telak dada Ohm mantap. "Gimana?"

"Sekali lagi gue akan tanya." Ohm mulai berani mendekati sobatnya itu setelah ada persetujuan dengan mata sebelumnya. Dia duduk semakin dekat, dan berjarak sebatas setengah lengan panjang keduanya.

Si tamu dadakan masih menganggap semuanya adalah normal. "Apa?"

"Yakin kesucian bibir lo direlain ke gue?"

Dusta jika Nanon tak merasa apapun ketika jari telunjuk Ohm menyentuh kedua belah bibirnya. Hanya tekanan tipis, tapi lelaki itu tahu tak akan ada jalan keluar jika nanti memutuskan mundur di tengah-tengah.

Bukannya rasa malu yang didapat, melainkan sesuatu lain merasuki perut hingga tulang rusuk Nanon di dalam sana.

"Hm?"

Dua mata yang menatap Ohm sepersekian detik lantas berkedip, sempat terbawa oleh apa yang sedang dia rasakan sebenarnya pada saat-saat itu. 

Tapi tak perlu waktu lama untuk akhirnya Nanon menjawab tanpa keraguan. "Gue persembahkan spesial buat lo, setan duniawi."

Percayalah, si empu rumah dibuat tertawa hanya karena semua ini terasa seperti transaksi penjualan jiwa dengan setan-setan di neraka. "Gak ada jalan keluar ya, karena gue gak akan mundur."

"Gue hafal tabiat lo bahkan sebelum roh ditiup ke dalam perut Ibu lo sendiri."

"Ngaco, gue aja lahir duluan daripada lo." Satu per satu kedua tangan Nanon dikalungkan pada leher Ohm.

Dan tangan si empunya rumah sudah menempatkan diri di bawah dagu milik 'sohib'nya. "Hanya fakta yang berkata."

Ohm mendengus kemudian, sempat terdiam menatap manik cokelat milik lelaki di depannya. "Asal lo tau, Non."

Nanon menaikkan sebelah alis, seakan malah bertanya balik.

"Yang kita lakuin setelah ini, gak begitu beda sama apa yang lo biasa lakuin di pipi,"

"Cuma pindah tempat, mendaratnya di bibir gue. Gampang kan?"

Lagi-lagi, giliran yang diajak bicara kembali membalas. Wajah Nanon ikut pula mendekatkan diri pada sosok lelaki di hadapannya. "Asal lo tau ya, Wat."

"Hm?"

"Lo kebanyakan bacot."

Dan terjadilah titik temu pembuktian soal apakah Ohm memang jago dalam berciuman atau tidak. Karena nyatanya, bibir Nanon di awal tak ada pergerakan, hanya sekedar mengecup lawannya saja dengan lembut dan ringan.

Namun saat hendak ditarik lagi, kesempatan itu musnah karena Ohm tak membiarkan bibir manis milik sobatnya mudah terlepas begitu saja. Dia perdalam ciuman itu menjadi lumatan tanpa tuntutan. Simbolik mengajari Nanon untuk mengimbangi ritme kecepatan kecupnya.

Ada beberapa saat telah berjalan, sebuah rematan di leher belakang Ohm menjadi tanda mereka berhenti melakukan. Yaitu refleks Nanon karena jika tidak, dia bisa kehilangan napasnya yang sangat-sangat berharga. "Gila, lo mau gue pingsan?"

Melihat lawan kecupnya dengan napas tersenggal, Ohm melayangkan senyum tipis seraya mengusap sudut bibir kebasahan milik Nanon. "Padahal keliatan menikmati banget."

Kedua manik cokelat sang sohib membuka lebar. "Anjir, lo melek?!"

"Gak ada larangan saling ciuman mata harus ditutup." Sialnya, Ohm masih sempat-sempatnya mengirim kedipan sebelah kelopak mata pada Nanon. "Lo perlu belajar banyak."

"Cih, gue gak sepolos itu."

"Keliatan sih, sampe lo datengin gue minta ajarin cipokan." Kemudian menurunkan sedikit nada bicaranya. "Eh, pas praktek ... ternyata binal juga."

"Mulut lo anjing. Bermoral dikit kena—WAT!"

Tiba-tiba Ohm mengecup kembali bibir milik si tamu dadakan, dan tanpa merasa bersalah dia berkata dengan enggan mengurangi jarak di antara mereka. "Dilanjut gak pelajaran berbuat dosanya?"

". . ."

"Emang gue terlihat punya pilihan?"

Lantas mereka telah setuju untuk dihasut iblis-iblis di ruangan itu sendiri.

 


 

terpintal dengan cinta oleh daeyumbruh