Actions

Work Header

Pulang

Work Text:


 

DRRRTTT... DRRRTTT...

"Halo? Ada apa, Krist?"

". . ."

"Apa kau bilang?!"

". . ."

"Tidak mungkin. Kemarin saat kuperiksa folder itu masih lengkap isinya."

". . ."

"Kau masih di kantor, Krist?"

". . ."

"Oke, aku segera ke sana. Tunggu aku di ruangan penyimpanan data."

Sambungan telepon terputus.

“Ada apa, Te?” tanya New sesaat setelah ia melangkah turun dari kaki tangga terakhir rumah mereka. Baju yang dikenakan terlihat rapi namun santai, kemeja biru bergaris dengan celana jins biru gelap.

Tay dengan wajah yang tegang dan alis berkerut, terlihat ragu. “Umm, Hin...” ucapnya seraya berdiri dari duduknya di sofa.

New mendekati kekasihnya lalu menangkup wajah lelaki berkemeja putih itu dengan kedua telapak tangan. “Are you okay?

Tatapan Tay tak berani menangkap kedua manik cokelat milik New.

“Te, lihat aku."

Kedua mata mereka bertemu. Kali ini New dapat melihat beberapa ekspresi dalam matanya. Keraguan dan sedikit penyesalan.

“Hin, aku...”

It’s okay, tell me what's wrong.

Tay menghela napas kemudian berat hati ia berkata dengan suara pelan. “Aku harus kembali ke kantor sekarang.”

New terdiam sesaat, menatap balik kekasihnya yang sekarang kembali mengalihkan pandangannya.

Sebenarnya malam ini mereka akan pergi berkencan di suatu tempat yang hanya Tay saja yang tahu. Katanya, ia ingin membuat kejutan khusus untuk New.

Jika kalian bertanya apakah akan merayakan hari jadi mereka? Oh tidak, bukan itu. Hari ini sama dengan yang lain, tak ada yang spesial untuk keduanya.

Semua bermula dari pembicaraan larut malam mereka beberapa hari yang lalu. Entah siapa yang memulai, setelah beberapa topik mereka lewati, Tay dan New tiba-tiba saja membahas tentang cinta.

Iya, cinta. Kasih sayang. Semacamnya.

Tentang definisi cinta. Bagaimana bisa terjadi, siapa saja yang bisa merasakan, mengapa dan kenapa. Segalanya mereka bahas. Tak ada maksud sebenarnya dalam pembahasan itu. Hanyalah sebuah pemikiran acak dan abstrak malam hari.

Te.

Hmm?

Menurutmu, apa cinta itu butuh pembuktian?

Pembuktian seperti?

Ya... kau tau sendiri ‘kan di dunia ini juga ada orang-orang yang tak percaya bahwa cinta itu ada.

Hmm, aku tahu.

Misalnya ada dua insan yang sebenarnya telah ditakdirkan bersama namun salah satu dari mereka ada yang tak percaya dengan cinta,”

“. . .”

Dan pastinya salah satu dari mereka yang percaya, harus membuat yang lainnya untuk percaya juga bukan?

Tay mengangguk.

Suatu saat seseorang yang tak percaya cinta ini berkata bahwa ia butuh bukti bahwa hal yang tak dipercayainya itu merupakan sesuatu yang nyata,”

Nah, pertanyaannya adalah bagaimana dia membuktikannya? Sedangkan cinta ini sendiri merupakan hal abstrak yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata.

Seluruh hal yang dikatakan New tadi membuat pikiran Tay ikut berputar. Ia tak menyangka, ini sudah hampir jam 3 pagi namun ada saja sesuatu yang bisa membuat kekasihnya ini berpikir begitu dalam.

Tay hanya bisa menggelengkan kepalanya seraya tersenyum kecil, tanpa aba-aba ia mencubit pipi kekasihnya gemas. “Hin, kau berpikir terlalu jauh. Sungguh.”

Lelaki yang merebahkan kepalanya di atas paha Tay itu menggerutu, bibirnya mengerucut lucu. Tidak terima.

Sekali lagi, Tay tersenyum. “Kenapa sih? Kau sebegitunya ingin tahu ya?”

“Iya lah! Coba kau pikirkan, bagaimana caranya harus membuktikan eksistensi sesuatu yang abstrak?”

“Ya ... dengan merasakannya?”

“Maksudnya?”

“Sama seperti udara di sekitar kita, Hin. Kita mungkin tidak pernah bisa melihat wujud asli mereka, namun lihat kenyataannya? Masih bisa dirasakan bukan?”

New terdiam sebentar, kemudian mengangguk.

“Kalau kau bertanya apakah ada caranya hal itu bisa terbukti, ya tentu saja ada tapi jangan tanyakan padaku karena aku bukan pakarnya, Sayang,” ucap Tay kemudian tertawa renyah seraya mengusap lembut rambut New.

“Tentu saja kau bukan pakarnya.”

“Lalu, aku ini pakar apa?”

“Pakar cinta milikku.”

Tawa Tay semakin terdengar di seluruh penjuru kamar milik mereka berdua. New yang mendengarnya pun juga ikut tertawa kemudian menepuk beberapa kali paha kekasihnya karena teringat bahwa waktu sudah larut, ditakutkan tawa mereka berdua akan menganggu tetangga.

“Bagaimana kalau besok biar aku sendiri yang akan membuktikannya padamu?”

New menatapnya bingung. “Apa?”

“Membuktikan teori yang kau buat tadi.”

“Oh, cinta?”

“Yup.”

“Memang kau bisa?”

Yang ditanya hanya mengangkat kedua bahunya. “Aku tak tahu. Maka dari itu besok kita coba. Siapa tahu berhasil kan?”

“Te, kamu ada-ada saja.”

“Tapi sayang kan?”

“Ah sudahlah ayo tidur, Te!”

“Iya iya sayangku.”

“Hin? Sayang?”

“Eh?”

Tanpa sadar New melamun. Pikirannya kembali pada percakapan larut malam mereka beberapa hari yang lalu.

“Kau ... marah ya?”

“Hmm? Tidak, Te,” ucap New setengah jujur. Ya, setengah. Setengahnya lagi kesal.

New juga merasa kesal karena ini sudah kali ketiganya Tay menunda hal yang direncanakan kekasihnya itu. Namun, apa boleh buat?

Sejak lelaki berkemeja putih tadi menelepon, ia tahu ada sesuatu yang tidak beres di kantor. New menguping pembicaraan itu ketika berjalan turun dari tangga.

“Hmm, kau yakin?” tanya Tay. Nada suaranya masih meragukan. Matanya menatap wajah sang kekasih.

New mengangguk kemudian tersenyum kecil. “Aku yakin. It's okay, Te.”

Lelaki di hadapan New ini kembali mengecek waktu pada jam tangan miliknya. Gelagat Tay terlihat terburu-buru. Kedua tangannya meraih tangan New kemudian menggenggamnya erat. “Tunggu ya? Aku berusaha agar bisa selesai lebih cepat. Oke, Sayang?”

Anggukan kepala New membuat Tay akhirnya tak lagi merasa terlalu ragu. Ia mengecup singkat bibir ranum kekasihnya lalu berjalan dengan cepat keluar dari rumah, New mengekori dari belakang hingga ambang pintu.

New mendongak ke atas, langit berwarna semu. Percampuran antara biru, putih, dan abu-abu. Langit mendung, akan turun hujan. “Te, sepertinya akan hujan. Kau tidak membawa payung?”

Kepala Tay muncul dari ambang pintu mobil, ia mendongakkan kepalanya ke atas lalu menggeleng, “Aku hanya sebentar, lagi pula langit masih terlihat cerah kok!”

“Tapi—”

I'll be okay Hin, don't worry about me!

Lantas pintu mobil ditutup oleh Tay. Suara mesin mobil dinyalakan terdengar dan beberapa saat kemudian mobil tersebut telah melintas di jalan raya menyusuri kota.

New yang masih berada di ambang pintu hanya bisa menghela napas. Matanya juga menatap beberapa payung yang ada di dalam sebuah tabung kayu di sudut pintu masuk.

Ya sudahlah. Lebih baik aku menghabiskan stok es krim yang tersisa di kulkas!

 


 

Tay datang dengan napas tak beraturan, ia setengah berlari ketika memasuki gedung perkantoran tempat dirinya bekerja. Tepat mencapai lantai 30 di luar elevator, berdiri Krist yang membelakangi seraya melihat jam tangannya.

“Krist!”

Yang dipanggil menoleh, kemudian menghela napas lega namun tetap saja wajahnya terlihat panik. “Akhirnya kau datang juga! Ayo, kita harus cepat!”

Krist langsung berjalan cepat menuju ruangan penyimpanan data, membuat Tay mau tak mau mengikutinya dari belakang. Situasi kantor saat ini cukup sepi, hanya tinggal beberapa orang saja yang masih berkutat dengan komputer beserta satu atau dua cleaning service.

“Kenapa harus terburu-buru sih?” tanya Tay ketika mereka masih dalam perjalanan. Melihat temannya yang seperti itu, ia jadi ikut panik.

“Pak Direktur membutuhkan data itu besok pagi, Tay. Jika hari ini tak ditemukan...” ucap Krist seraya memelankan suaranya. Tiba-tiba ia bergidik ngeri. “Ah, kau bisa bayangkan sendiri bukan?!”

“Lagi pula bagaimana bisa hilang? Terakhir aku melihatnya sendiri masih berada di dalam folder hitam yang kau sebutkan tadi di telfon.”

I have no idea, Tay. Maka dari itu aku meminta bantuanmu untuk mencarinya di ruangan penyimpanan data.” Krist mengeluarkan kunci dari saku lalu membuka pintu. Mereka telah sampai.

Ruangan itu memiliki banyak rak penyimpanan terbuat dari besi dengan isi berbagai folder, dokumen penting, dan lain-lain. Krist dan Tay segera menelusuri seluruh bagian rak untuk menemukan folder yang mereka cari.

20 menit berlalu.

“Tay, kau menemukannya?” tanya Krist dari sisi kanan ruangan.

Tay menggeleng kemudian tersadar bahwa temannya itu tak dapat melihat. “Belum. Di sini tidak ada.”

“Sama, di bagian ini juga,” ucap Krist kemudian terduduk di lantai. Ia mengusap wajahnya cukup kasar lalu berdecak. “Ya Tuhan, kenapa jadi seperti ini sih?”

“Kau sudah coba tanya Arm tentang ini?” tanya Tay seraya berdiri lalu menoleh pada Krist.

Krist terdiam sebentar berpikir kemudian menepuk jidatnya. “Benar juga,” ucapnya lalu mengeluarkan ponsel, menelepon Arm. Ia adalah rekan kerja mereka di bagian sekretaris.

Rekan kerjanya itu izin keluar dari ruangan. Tay kembali mencari di beberapa tumpukan barang seperti dalam kardus atau hal lainnya.

Tak selang berapa lama, Krist kembali. Wajahnya masih masam, sepertinya tak ada kabar baik juga dari Arm. “Arm juga tak tahu. Jawabannya sama denganmu.”

Tay mengusap wajahnya lalu melihat jam tangan. Waktu sudah semakin larut, ia mengkhawatirkan kekasihnya di rumah. Masalahnya Tay sendiri sudah berjanji untuk tak berlama-lama di sini, namun ia juga tak tega meninggalkan Krist sendiri mengurus hal ini.

Hening menyelimuti ruangan tersebut.

Keduanya berpikir keras, bingung harus bagaimana lagi. Sampai pada akhirnya Tay membuka suara. “Apa sih sebenarnya isi data itu? Memangnya tak ada cadangan lain?”

“Tidak ada, Tay. Hanya itu satu-satunya,” ucap Krist kemudian terdiam. “Kecuali...”

“Hmm?”

Seperti ada bohlam yang tiba-tiba menyinari pikiran temannya. “Kecuali kalau dicari lagi di dalam perangkat yang membuat laporan data itu!”

“Siapa yang membuatnya?”

“Sebentar, biar kuingat-ingat...” Ucapan Krist menggantung beberapa saat. “Seingatku sih Singto?”

“Singto? Pacarmu itu?”

“Pacarku? Hell, no!” jawab Krist seraya melihat Tay dengan tatapan tak percaya. “Bisa-bisanya kau berkata seperti itu ya!”

Tay hanya mengangkat kedua bahunya santai. “Ya kalian terlihat dekat sih, jadi kusimpulkan saja begitu.”

Krist memutar bola matanya. “Dekat apanya? Bertengkar sih iya! Dia menyebalkan. Aku tak suka.”

“Terserah kau sajalah,” ucap Tay. “Ya sudah, kalau begitu kau cob—”

Bunyi ponsel seseorang terdengar. Ada yang menelepon. Krist sedikit terkejut, ponselnya lah yang berbunyi. Layar menunjukkan nama kakak kandungnya. “Kakak?” gumam Krist sebelum akhirnya mengangkat telepon. “Halo? Ada apa, Kak?”

“. . .”

“Hah?!”

Tay menoleh. Kali ini wajah Krist dipenuhi rasa khawatir yang sangat. Temannya itu sampai menggigit bibir.

“A-Aku akan segera ke sana, Kak. Love you.”

Sambungan telepon dimatikan.

“Krist? Ada apa?”

Krist menoleh, perasaan bersalah menyelimuti hatinya. “Ibuku masuk rumah sakit.”

“Ya Tuhan, barusan?”

“Iya, barusan. Kakak memintaku untuk segera menyusulnya,” ucap Krist kemudian mengalihkan pandangan ke arah sepatu pantofel hitamnya. “Tay, maaf—”

“Jangan. Tak apa, Krist. Lebih baik kau segera ke sana,” ucap Tay berempati. “Aku tidak masalah mengurusnya sendiri.”

Krist menghela napasnya lega lalu tersenyum tenang. “Terkadang, aku bersyukur sekali bisa berteman denganmu.”

“Terkadang? Jahat sekali.”

Terdengar suara kekehan keluar dari mulut Krist. Setelah berpamitan pada Tay, ia dengan langkah cepat segera meninggalkan ruangan. Tak lupa ia memberikan kunci yang ia pakai untuk membuka pintu ruangan.

Dan sekarang hanya ada Tay di sini. Mencoba membantu Krist sebisanya. Setelah rekan kerjanya pulang, ia segera menelepon Singto perihal data yang hilang tersebut.

Singto berkata jika ia masih menyimpan file cadangan yang ada di dalam komputer miliknya. Akhirnya Tay dengan cepat memeriksa perangkat tersebut kemudian mencetaknya kembali.

Seraya menunggu, Tay memperhatikan sekitar. Hanya tersisa dirinya saja di sini. Begitu ia menoleh ke arah jendela, terdapat rintik-rintik hujan memenuhi kacanya. Tay menghela napas, lalu melihat jam tangannya. Sudah satu setengah jam lebih ia berada di sini.

Semoga saja New tidak semakin kesal padaku. Ya Tuhan, tolong percepat pekerjaan ini agar segera selesai. Kumohon... batinnya berdoa.

Beberapa menit kemudian akhirnya data tersebut telah tercetak dengan sempurna. Ia mengumpulkannya jadi satu dalam sebuah folder baru yang ia temukan di meja tempat ia biasa bekerja lalu meletakkannya di atas meja milik Krist.

Setelah dirasa semuanya selesai, Tay kembali menghela napas entah untuk yang ke berapa kalinya. Ia segera berjalan cepat menuju elevator dan turun ke lobi.

Langkah kakinya terhenti tepat di depan pintu yang terbuka otomatis. Tay baru teringat kalau mobil yang dikendari olehnya terparkir di lapangan parkir depan gedung. Sialnya, ia tak membawa payung. Hal ini membuatnya berdecak.

“Ck! New benar. Seharusnya aku membawa payung. Lihat sekarang, bagaimana aku bisa pulang?” gumamnya pada diri sendiri.

Seorang satpam melihat Tay yang berdiri di depan pintu otomatis, menghampirinya. “Permisi, Pak.”

Tay menoleh. “Hmm? Iya?”

“Oh, Mr. Vihokratana. Maaf menganggu, Anda,” ucap satpam bertubuh tinggi itu, ia membungkukkan sedikit tubuhnya. Menghormati Tay. “Ada yang bisa saya bantu, Mr?”

“Oh, tidak apa-apa. Saya hanya bingung karena di luar hujan deras dan mobil terparkir di lapangan. Saya juga tidak membawa payung,” ucap Tay menjelaskan seraya tersenyum sopan.

Satpam tersebut menoleh ke arah sudut ruangan lobi tersebut. Di ujung dekat dengan resepsionis, ada sebuah tabung besi berwarna hitam yang biasanya terisi oleh payung. Namun tabung itu kosong saat ini. “Mohon maaf tapi payung yang disediakan sudah terpakai semua. Apa perlu saya bantu mencarikan payung untuk Anda?”

Tay sempat terdiam, ia ragu. Bingung harus apa. Kemudian setelah beberapa saat, ia menggeleng dan berkata bahwa ia baik-baik saja. Satpam tersebut mengangguk kemudian berlalu, meninggalkan dirinya sendiri.

Ia keluar dari lobi menuju pelataran di luar gedung. Tay menoleh ke kanan dan kiri seraya menggigit bibirnya. Udara dingin berhembus serta percikan air hujan yang mengenai wajahnya, membuat tubuh Tay sedikit menggigil.

Maklum, Tay hanya berkemeja putih dan bercelana kain berwarna hitam serta sepatu pantofel. Biasanya ketika bekerja ia akan mengenakan jas dengan warna yang serupa dengan sepatu.

Aku harus menelepon New, batin Tay. Lama-lama ada perasaan panik muncul di hatinya. Ia meraih dengan cepat ponselnya yang berada di saku celana kemudian menekan kontak kekasihnya.

“Permisi, Anda melupakan ini?”

Tay menoleh ke asal suara. Di belakangnya berdiri sosok lelaki yang ia cintai. Seseorang yang tak disangka olehnya untuk muncul di tengah hujan deras mengguyur seisi kota.

“Te, ayo kita pulang.”

New tersenyum manis seraya menatap kekasihnya yang hanya bisa diam di tempat dengan mulut sedikit terbuka, ponsel pun masih menempel di telinganya. Ia berdiri di sana dengan membawa payung berwarna merah. Tay terkejut bukan main.

“H-Hin? Kenapa kau bisa di sini?” ucap Tay setelah tersadar dari keterkejutannya. Ia menghampiri New.

Kekasihnya masih memakai pakaian yang sama, namun ditambah dengan luaran coat bewarna biru dongker. Ia mendekat kemudian menangkup salah satu sisi pipi Tay, mengelusnya lembut. “Aku mengkhawatirkanmu, Te. Sudah dua jam aku menunggumu pulang dan tak ada kabar darimu. Jadi kuputuskan untuk menjemputmu saja di sini. Dan lihat, kau sendiri tak bisa masuk ke dalam mobil ‘kan karena hujan?”

Tay tersenyum malu seraya menggaruk lehernya yang tidak gatal. “Seharusnya aku mendengarkanmu. Maaf ya?”

It’s okay, Honey,” ucap New kemudian menarik tangannya. “Oh, pipimu dingin sekali, Te. Kau kedinginan?”

“Hanya sedikit.”

“Pakai saja coat—” ucap New yang akan melepaskan coat miliknya. Namun gerakannya tertahan oleh tangan Tay.

“Tak perlu. Kau saja yang pakai. I'm good,” ucap Tay lembut seraya tersenyum kecil. “Ya sudah, kalau begitu. Ayo kita pulang?”

Tetapi sesuatu menghentikan Tay. Ia kemudian teringat tentang janji mereka tadi sore. Tay kembali terdiam. New yang melihat kekasihnya tiba-tiba hanya berdiri saja di tempat, kebingungan. “Te?”

“New, aku minta maaf,” ucap Tay, kepalanya menunduk, “karena aku, janji kita terbatalkan lagi.”

“Tay, Sayang. Lebih baik kita bicarakan di mobil ya? Dari pada hujannya semakin deras dan malah kita berdua yang terjebak di sini.”

Lelaki berkemeja putih itu menghembuskan napas pelan kemudian mengangguk. Sepasang kekasih itu lalu mulai menerobos hujan dengan berjalan berdekatan. Untung saja payung yang dibawa New cukup besar sehingga dapat melindungi mereka dari rintik hujan yang semakin deras.

Tay mengambil alih payung untuk membantu New masuk ke dalam mobil, setelah itu ia berjalan menuju sisi lain kendaraan beroda empat itu lalu masuk dan duduk di belakang kemudi. Tak lupa segera meletakkan payung yang masih basah tadi di kursi penumpang belakangnya.

“Te,” panggil New.

“Iya, Hin?” ucap Tay setelah menyalakan mesin mobil dan pendingin.

New terdiam. Pandangannya terarah pada kaca di samping kirinya. Melihat banyaknya bulir air yang melekat serta meluncur turun dari tempat asalnya. Terdengar juga suara pelan jatuhnya air di atas tubuh mobil. Suasana di dalam mobil terasa tenang bagi New. “Aku merasa ... deja vu,” ucapnya beberapa saat kemudian.

“Hmm? Deja vu?”

New menoleh kemudian mengangguk. “Saat-saat ketika aku datang menghampirimu tadi di depan lobi gedung. Mirip seperti pertama kali kita bertemu tidak sih?”

Kali ini Tay yang terdiam namun tak lama kemudian ia tersenyum lembut lalu tertawa kecil. “Ah ya, benar juga.”

“Tapi kali ini kebalikannya. Karena waktu itu, justru kau yang menawariku payung,” New ikut tersenyum. “Aku ingat saat itu lupa membawa payung. Waktu itu aku ada kelas malam.”

“Dan kebetulan aku melewati gedung fakultasmu dan tak sengaja melihatmu dari dalam mobil,” lanjut Tay. Ia menyandarkan tubuhnya pada kursi. “Entah dari mana, tiba-tiba saja aku dengan cepat keluar dari mobil dan menawarimu payung.”

New tertawa. “Aku jadi teringat ekspresimu sebelum benar-benar berdiri tepat di depanku. Kau hampir terpeleset ketika menaiki tangga.”

Tawa New membuat Tay menjadi ikut terkekeh. Kenangan ketika mereka pertama kali bertemu terputar di dalam otaknya. Hal itu membuatnya tersenyum ketika mengingatnya. Ada perasaan hangat datang menyelimuti hati yang sempat merasa panik. Kehadiran New membuat dirinya kembali tenang.

“Tahu tidak, Te?”

“Hmm?”

Mereka berdua saling menatap.

“Sebenarnya kau tak perlu repot-repot membuktikan teori yang kubuat waktu itu,”

Tay terdiam.

“Aku sebenarnya ...” ucap New mengambang. “Sudah tahu jawabannya.”

“Maksudnya?”

Senyuman lembut terukir di wajah New. Ia meraih tangan kiri Tay, menggenggamnya erat dengan kedua tangan. “Tay, apa yang kita miliki saat ini telah menjadi buktinya,”

“. . .”

“Tak perlu repot-repot kau menyiapkan kejutan untuk aku agar bisa membuktikannya,”

“Kehadiranmu sudah menimbulkan perasaan hangat di hatiku, Tay. Rasa sayang yang kau tunjukkan padaku lewat sentuhan, perkataan dan ucapan, telah membuatku percaya bahwa cinta itu memang ada,”

“Genggam selalu tanganku dengan erat ya, Sayang? Jangan pernah lepaskan.” New sempat terdiam kemudian berkata, “Aku mencintaimu, sungguh.”

Tay masih terdiam. Ia sungguh tak menyangka kata-kata tersebut keluar dari mulut sang kekasih. Dirinya bahkan tak bisa berkata apa-apa. Namun yang ia tahu, semua hal yang diucapkan New itu tulus. Tay bisa melihat dari bagaimana kekasihnya itu menyampaikan dengan lembut, kedua manik matanya berbinar, serta kedua tangan yang menggenggam erat tangannya.

Tanpa terasa wajah mereka semakin dekat. Hingga pada akhirnya Tay yang lebih dahulu mengikis jarak yang tersisa. Tay memagut bibir ranum kekasihnya lembut, seakan mencurahkan seluruh perasaan yang sedari tadi mengepul di hatinya. New sendiri juga membalas dengan tak kalah halus, salah satu tangan meraih pipi Tay.

Pagutan mereka berlangsung lembut, penuh perasaan. Cinta dan kasih sayang. Semua tersalurkan di dalamnya.

Ciuman itu tak berlangsung lama, keduanya mengakhiri bersamaan. Wajah mereka masih berdekatan, bahkan kening masih menyatu. Senyuman terukir jelas pada wajah mereka.

“New, aku tak akan melepaskan genggamanmu,” bisik Tay, “dan aku juga mencintaimu.”

“Tetaplah di sini bersamaku di masa lalu, saat ini, hingga masa depan nanti, ya?”

“Aku berjanji.”

Keduanya pun saling tersenyum. Hati mereka saling berdegup kencang, seperti saling menyahut satu sama lain. Satu hal bernama cinta bersemi di dalam hati Tay dan New. Membuat segalanya menjadi lebih indah.

 


 

terpintal dengan cinta oleh daeyumbruh